Anda di halaman 1dari 1

PATOFISIOLOGI JARINGAN PULPA DAN PERIAPIKAL

Patogenesis penyakit jaringan pulpa dan periapikal gigi merupakan kelanjutan dari poses
karies gigi. Jika gigi dengan karies superfisialis tidak dirawat, maka kerusakan akan terus
berlanjur dari enamel ke dentin. Seseorang yang mempunyai karies pada gigi biasanya baru
menyadari adanya kerusakan pada giginya apabila suda timbul rasa nyeri. Nyeri akan timbul
apabila rangsangan atau jejas mengenai ujung sel odontoblas di batas Antara dentin dan enamel
yang merupakan garis depan pertahanan jaringan pulpa. Apabila kerusakan sudah mencapai
pulpa, nyeri dentin dapat berlanjut menjadi nyeri pulpa. Kemudian terjadi reaksi pada sistem
aliran darah mikro dan sistem seluler jaringan pulpa. Proses ini menyebabkan udema pada pulpa
karena terganggunya keseimbangan antara aliran darah yang masuk dengan yang keluar. Udema
pada pulpa yang terletak di dalam rongga pulpa yang sempit mengakibatkan sistem persarafan
terjepit, sehingga menimbulkan rasa nyeri hebat. Persarafan pulpa gigi adalah serat saraf cabang
sensorik ganglion trigeminal dan cabang otonomik ganglion servikal superior. Fungsi saraf
sensorik (saraf afferent atau sensory neuron, diantaranya yaitu A-delta dan C-fibers) adalah
untuk mendeteksi rangsangan dan melanjutkan ke sistem saraf pusat, sedangkan fungsi sistem
otonomik untuk menjaga keseimbangan jaringan pulpa dan menjaga sistem homeostatis. Sistem
pada organ pulpa gigi yang mengatur proses pemulihan reaksi jaringan pulpa terhadap cedera
(Rukmo, 2011).
Bila jaringan pulpa dapat menahan jejas yang masuk akan menimbulkan kerusakan
jaringan yang sedikit dan dapat pulih kembali, sehingga keradangan pulpa ini diklasifikasikan
sebagai pulpitis reversible. Namun apabila kerusakan jaringan pulpa tambah meluas sehingga
pemulihannya tidak tercapai, keradangan ini disebut pulpitis irreversible. Jaringan pulpa yang
telah meradang tersebut mudah mengalami kerusakan secara menyeluruh dan mengakibatkan
pulpa menjadi nekrosis atau mati. Pulpa yang nekrosis menjadi tempat kuman berkembang yang
akhirnya menjadi sumber infeksi. Infeksi ini mudah menyebar ke jaringan sekitarnya. Bila
menyebar ke apical dapat menjadi periodontitis apikal (Rukmo, 2011)

Rukmo, Mandojo. 2011. Perkembangan Metode Penilaian Kesembuhan Penyakit
Periapikal Setelah Perawatan Endodontik. Kongres IKORGI ke IX dan Seminar Ilmiah Nasional
Recent Advances in Conservative Dentistry. Surabaya, Indonesia.