Anda di halaman 1dari 3

LO 1

Perawatan Periodontal
Perawatan periodontal terdiri dari fase bedah dan non bedah .Untuk perawatan non bedah sendiri
yang disebut sebagai perawatan terapi fase I atau terapi inisial dimana ditahap perawatan
periodontal pada fase ini diarahkan pada penyingkiran semua iritan lokal yang dapat
menyebabkan inflamasi jaringan periodontal serta pemberian instruksi dan memotivasi pasien
untuk melaksanakan kontrol plak. Perawatan ini dapat dikatakan fase etiotropik (etiotropic
treatment phase), karena sasarannya adalah penyingkiran factor etiologi penyakit periodontal
(Carranza Edisi 9)

Fase 1

Reevaluasi

Fase 4

Fase 2

Fase 3

Pada aplikasinya perawatan periodontal menjadi sebuah korelasi dalam tahapannya dan tidak
bisa dipisahkan tersendiri.Pada bagan dapat terlihat bahwa fase 4 atau yang disebut fase
pemeliharaan terletak di tengah bagan,karena setiap fase akan dilakukan reevaluasi jaringan dan
dilakukan fase pemeliharaan yang berkaitan untuk perlunya dilakukan pada fase selanjutnya atau
cukup hanya dilakukan pada fase pertama periodontal.Pada fase pertama periodontalpun sangat
menentukan untuk perubahan perbaikan pada reevaluasi jaringan yang dapat menentukan apakah
penyakit oasien perlu berlanjut pada tindakan fase 2 atau dengan adanya fase pertama pasien
sudah telihat lebih baik pada jaringan periodontalnya sehingga hanya dilakukan fase
pemeliharaan seperti control plak agar tidak terjadi kembali factor iritan ytang mampu
menyebabkan reinfeksi dan inflamasi.Sehingga penting diperhatikan pula tahapan dan tindakan
yang efektif pada fase pertama periodontal.
Klasifikasi Perawatan Periodontal dapat dibagi menjadi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Gingival disease: penyebab plak dan non plak


Periodontitis kronis: local dan general
Periodontitis agresif: local dan general
Periodontitis manifestasi penyakit sistemik
Necrptizing periodontal disease abses periodontal
Periodontitis yang diasosiasikan dengan penyakit endodontic
Kerusakan dan trauma oklusal

Perawatan periodontal bukanlah suatu perawatan dental yang berdiri sendiri. Agar perawatan
periodontal berhasil dengan baik, terapi periodontal haruslah mencakup. Faktor utama penyebab
penyakit periodontal ada 2 macam atau kombinasi keduanya, yaitu faktor local dan faktor
sistemik. Faktor local yang utama adalah plak.
Perawatan periodontal meliputi beberapa fase :
1. Fase preliminary yang meliputi perawatan kasus darurat seperti adanya kasus gigi dengan
prognosis untuk pencabutan dan juga tidak diindikasikan untuk dibuatkan gigi tiruan.
2. Fase I atau fase etiotropik yaitu fase yang dilakukan dengan menghilangkan beberapa
faktor etiologi yang terjadi dan dilakukan tanpa tindakan bedah.
Scalling dan root planning : tindakan pengambilan plak dan kalkulus dari
permukaan gigi sampai daerah junctional epithelium. Scalling dan root planning
ini merupakan suatu kesatuan dimana setelah dilakukan scalling maka dilanjutkan

root planning yang merupakan suatu tindakan membersihkan sisa kalkulus dan
jaringan yang nekrotik di bawah junctional epithelium untuk mendapatkan

permukaan yang halus dan licin.


Splinting : tindakan mengembalikan kondisi gigi yang goyang dengan

melingkarkan alat seperti kawat 0.2mm


3. Fase II yaitu kelanjutan dari evaluasi respon terapi fase I dan disertai dengan tindakan
bedah.
Kuretase

proses

membuang

dinding

poket

yang

mengalami

granulasi/fibroblastic/angiblastik dan inflamasi. Tindakan ini bertujuan untuk

mempercepat proses penyembuhan.


Gingivektomi : tindakan memotong jaringan gingival yang mengalami

enlargement yang bertujuan untuk menghilangkan psedo poket.


Frenektomi : tindakan pengambilan frenulum.
Operkulektomi : tindakan pembuangan operculum secara bedah.
4. Fase III yaitu bisa disebut juga fase restorative. Pada fase ini tindakan yang dilakukan
antara lain : pembuatan restorasi tetap dan alat prostetik yang ideal untuk gigi yang
hilang.
5. Fase IV yaitu fase pemeliharaan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kekambuhan
pada penyakit periodontal sehingga perlu dilakukan control secara periodic.

Sumber :
Bakar Abu. 2014. Kedokteran Gigi Klinis Ed.2. Yogyakarta: Quantum