Anda di halaman 1dari 8

NAMA : MOCHAMAD SYAIFUL

KELAS : 7 SMX-1 (+)


NPM : 1210205433

LETTER OF CREDIT
1. Pengertian
Letter of credit, atau sering disingkat menjadi L/C, LC, atau LOC, adalah sebuah cara
pembayaran internasional yang memungkinkan eksportir menerima pembayaran tanpa
menunggu berita dari luar negeri setelah barang dan berkas dokumen dikirimkan keluar
negeri (kepada pemesan).

2. Pihakpihak Yang Terlibat
Ada beberapa pihak yang secara langsung terlibat dalam transaksi menggunakan letter of
credit. Pihak-pihak tersebut, yaitu:
1) Importir (Pembeli)
Importir, atau pihak pembeli, merupakan pihak yang mengeluarkan letter of credit,
maksudnya, mengeluarkan perjanjian untuk membayar sejumlah uang kepada pihak
eksportir (penjual), ketika seluruh tanggung jawabnya telah dipenuhi. Umumnya, harus
ada jaminan terhadap kredibilitas pihak importir, untuk menghindari kaburnya pembeli
dari tanggung jawab.
2) Eksportir (Penjual)
Eksportir, atau pihak penjual, adalah tujuan dari terbitnya letter of credit, maksudnya,
pihak eksportir akan menerima pembayaran melalui letter of credit tersebut ketika
seluruh tanggung jawabnya telah diselesaikan. Ketika akan mengklaim pembayaran




melalui letter of credit tersebut, pihak eksportir harus mampu menunjukkan semua
dokumen yang dipersyaratkan.
3) Bank penerbit (Bank pembuka/opening bank/issuing bank/importers bank)
Bank ini terdapat di negara importir, dan menerbitkan letter of kredit, yang akan
menjadi perjanjian bayar kepada bank penerima.
4) Bank penerus (Advising bank/sellers bank/correspondent bank)
Bank ini melakukan penegasan (confirming), terhadap keaslian dan kelengkapan
dokumen letter of credit. Bank ini secara umum bertugas menginformasikan kepada
pihak penjual bahwa ada letter of credit yang ditunjukkan pada pihak penjual, dan telah
diperiksa keasliannya.
5) Bank pembayar (paying bank)
Bank ini terdapat di negara eksportir, di mana disebutkan dalam letter of credit sebagai
pihak yang akan melakukan pembayaran kepada pihak eksportir (sering disebut
beneficiary), jika persyaratannya telah dipenuhi seluruhnya.
6) Bank negosiasi (negotiating bank)
Bank yang menyetujui pembelian wesel draft dari eksportir.
7) Bank pengganti (reimbursing bank)
Suatu bank yang sifatnya netral jika antara bank eksportir dan bank importir tidak
memiliki hubungan rekening untuk menyelesaikan proses pembayaran.

3. Asas-asas Dalam Pembayaran Menggunakan Letter Of Credit
Terdapat sejumlah asas dalam pembayaran menggunakan letter of credit. Berikut akan secara
singkat dijelaskan asas-asas tersebut.






The Rule of Strict Compliance (Aturan Kesesuaian)
Aturan ini mengatur bahwa segala dokumen perdagangan yang ada harus betul-betul
sama dengan keterangan yang ada di dalam letter of credit, termasuk bill of lading,
invoice, insurance policy, dan seluruh dokumen yang diminta. Sedikit saja perbedaan
dapat membuat bank menolak mengakui otentisitas dokumen-dokumen tersebut.
Misal: dalam kasus Courtaulds North America, Inc. v. North Carolina National Bank
(1975), tergugat menuliskan dalam letter of credit keterangan barang yang diperjualkan
sebagai 100% Acrylic Yarn, sementara pada invoice tertulis Cartons marked: 100%
Acrylic (kehilangan Yarn). Bank dengan demikian menolak karena terjadinya
perbedaan antara dua berkas tersebut.

Principle of Separation (Asas Pemisahan)
Aturan ini mengatur bahwa pembuatan letter of credit berbeda dengan perjanjian
dagang (contract) antara kedua pihak. Dengan demikian, bank hanya berurusan dengan
dokumen letter of credit (dan dokumen penyertanya, sebagai bentuk verifikasi), bukan
berurusan dengan barang-barang yang diperdagangkan.

Contoh Kasus Letter Of credit
Kasus Bank BNI
A. Profil Singkat Bank BNI
Bank BNI didirikan pada tahun 1946. Perusahaan publik ini mayoritas sahamnya dimiliki
oleh Pemerintah Republik Indonesia. Bank BNI merupakan bank terbesar nomor 3 di
Indonesia setelah Bank Mandiri dan BCA dengan total aset pada tahun 2003 sebesar IDR.
131,49 triliun.




Visi : Menjadi Bank kebanggaan nasional yang unggul dalam layanan dan kinerja
Misi : Memaksimalkan stakeholder value dengan menyediakan solusi keuangan yang fokus
pada segmen pasar korporasi, komersial dan konsumer.

Budaya Perusahaan
1. BNI adalah bank umum berstatus perusahaan publik.
2. BNI berorientasi kepada pasar dan pembangunan nasional.
3. BNI secara terus menerus membina hubungan yang saling menguntungkan dengan nasabah
dan mitra usaha.
4. BNI mengakui peranan dan menghargai kepentingan pegawai.
5. BNI mengupayakan terciptanya semangat kebersamaan agar pegawai melaksanakan tugas
dan kewajiban secara profesional.

B. Ringkasan Kasus
Awal terbongkarnya kasus menghebohkan ini tatkala BNI melakukan audit internal pada
bulan Agustus 2003. Dari audit itu diketahui bahwa ada posisi euro yang gila-gilaa besarnya,
senilai 52 juta euro. Pergerakan posisi euro dalam jumlah besar mencurigakan karena
peredaran euro di Indonesia terbatas dan kinerja euro yang sedang baik pada saat itu. Dari
audit akhirnya diketahui ada pembukaan L/C yang amat besar dan negara bakal rugi lebih
satu triliun rupiah.
Penjelasan mengenai L/C fiktif BNI tersebut adalah sebagai berikut :
Waktu kejadian : Juli 2002 s/d Agustus 2003
Opening Bank : Rosbank Switzerland, Dubai Bank Kenya Ltd, The Wall Street
Banking Corp, dan Middle East Bank Kenya Ltd.
Total Nilai L/C : USD.166,79 juta & EUR 56,77 juta atau sekitar Rp. 1,7 trilyun




Beneficiary/Penerima L/C : 11 perusahaan dibawah Gramarindo Group dan
2 perusahaan dibawah Petindo Group
Barang Ekspor : Pasir Kuarsa dan Minyak Residu
Tujuan Ekspor : Congo dan Kenya
Skim : Usance L/C

C. Kronologi
1. Bank BNI Cabang Kebayoran Baru menerima 156 buah L/C dengan Issuing Bank :
Rosbank Switzerland, Dubai Bank Kenya Ltd, The Wall Street Banking Corp, dan Middle
East Bank Kenya Ltd. Oleh karena BNI belum mempunyai hubungan koresponden langsung
dengan sebagian bank tersebut di atas, mereka memakai bank mediator yaitu American
Express Bank dan Standard Chartered Bank.
2. Beneficiary mengajukan permohonan diskonto wesel ekspor berjangka (kredit ekspor) atas
L/C-L/C tersebut di atas kepada BNI dan disetujui oleh pihak BNI. Gramarindo Group
menerima Rp 1,6 trilyun dan Petindo Group menerima Rp 105 milyar.
3. Setelah beberapa tagihan tersebut jatuh tempo, Opening Bank tidak bisa membayar kepada
BNI dan nasabahpun tidak bisa mengembalikan hasil ekspor yang sudah dicairkan
sebelumnya.
4. Setelah diusut pihak kepolisian, ternyata kegiatan ekspor tersebut tidak pernah terjadi.
5. Gramarindo Group telah mengembalikan sebesar Rp 542 milyar, sisanya (Rp 1.2 trilyun)
merupakan potensi kerugian BNI.
Dalam menanggapi kasus ini manajemen Bank BNI mengatakan bahwa tidak ada ekspor
fiktif dan belum ada kerugian, tetapi yang ada hanya potensi kerugian (potential losses).
Pertanyaannya adalah apakah mungkin kerugian sebesar itu terjadi tanpa ekspor fiktif ?
Minimnya informasi mengenai sistem pembayaran perdagangan internasional melalui letter




of credit (L/C) menimbulkan semakin banyaknya pertanyaan mengenai kasus pembobolan
Bank BNI.

D. Solusi
Sistem dan prosedur pengamanan transaksi L/C, khususnya di bank-bank BUMN, termasuk
Bank BNI, cukup baik karena telah dibangun dan disempurnakan selama bertahun-tahun,
antara lain berdasarkan pengalaman- pengalaman pahit masa lampau.
Akan tetapi, sistem pengamanan yang baik saja tidak cukup. Masih diperlukan sikap dari para
petugasnya. Sekalipun sistem pengamanan sudah demikian baik, tetapi apabila para petugas
bank sengaja melanggar sistem dan prosedur dengan tujuan yang tidak baik, bank akan
kebobolan juga. Bank selalu dihadapkan pada pilihan dilematis antara pengamanan dan
pelayanan kepada nasabah. Pengamanan yang terlalu ketat akan menghasilkan pelayanan
yang mengecewakan nasabah.
Sebaliknya, pelayanan yang dirasakan sangat memuaskan nasabah akan mengorbankan
sistem pengamanan. Menghadapi dilema ini, bank harus bijak dan mampu membangun
prosedur kerja yang tetap dapat menjamin keamanan, namun pelayanan bank memuaskan
bagi nasabah. Dari penelitian, ternyata transaksi dalam kasus Bank BNI ini merupakan
transaksi bermasalah dengan indikasi transaksi tersebut dilakukan tanpa mengikuti ketentuan
intern Bank BNI. Transaksi L/C kedua grup usaha yang menjadi beneficiary telah
dinegosiasikan oleh Bank BNI Kebayoran Baru dengan diskonto tanpa didahului adanya
akseptasi dari bank penerbit. Di samping itu, dokumen-dokumen L/C mengandung
penyimpangan dan negosiasi L/C dilakukan tanpa kelengkapan dokumen.
Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh kantor besar Bank BNI, para eksportir,
yaitu perusahaan-perusahaan yang termasuk Gramarindo Group dan Petindo Group ternyata
telah melakukan ekspor fiktif. Hal ini terungkap antara lain dari hasil verifikasi kepada




Pejabat Bea Cukai cabang Belitung menyangkut Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)
Gramarindo Group, Pejabat Bea Cukai cabang Belitung menyatakan bahwa PEB tersebut
palsu.
Sementara itu pula, penyelesaian pembayaran hasil transaksi ekspor (proceed) dari beberapa
slip L/C tersebut yang telah dinegosiasikan dilakukan bukan oleh bank pembuka L/C (issuing
bank), melainkan dilakukan oleh para eksportir sendiri dengan cara melakukan penyetoran
atau melalui pendebetan rekening para eksportir tersebut.
Sebagaimana diketahui, atas laporan kantor besar Bank BNI pada tanggal 30 September
2003, pihak kepolisian telah menahan pegawai Bank BNI Kebayoran Baru yang terlibat,
yaitu Koesadiyuwono (mantan pemimpin cabang Bank BNI Kebayoran Baru) dan Edi
Santoso (mantan Customer Service Manager Luar Negeri cabang Bank BNI Kebayoran
Baru).

Kasus 2
A. Ringkasan Kasus
Sebelum pecahnya Perang Teluk Kedua, Perusahaan Naijing dijual 2000 ton plastik ethotic
(senilai 2,18 juta USD) untuk sebuah perusahaan Singapura. Setelah kontrak itu disegel,
penjual menerima letter of credit dari pembeli dan kemudian membuat pengiriman menurut
artikel kontrak. Apa yang tak terduga adalah bahwa Perang Teluk tidak mengatur harga dari
produk minyak melonjak, sebaliknya, harga anjlok. Setelah menerima barang, pembeli
mengklaim bahwa barang rusak, karena itu, meminta pemotongan harga 200 dolar. Jika tidak,
mereka akan menolak untuk membayar. Namun, bila pembeli mengajukan surat tersebut ke
bank, tidak ada konsistensi dalam surat kredit. Dan bank tidak menolak dokumen atau
menolak membayar hingga 11 hari kemudian. Dan menurut situasi di atas, pembeli memilih




untuk menuntut bank, dan sebagai hasilnya, Mahkamah Agung aturan Singapura mendukung
penjual

B. Solusi
Dalam hal ini, kontrak ditetapkan bahwa pembayaran akan dilakukan berdasarkan surat
penglihatan yang tidak dapat dibatalkan kredit. Sesuai dengan ketentuan Bea Cukai Uniform
dan Praktek Kredit Dokumenter ", dalam surat bisnis kredit, bank memproses dokumen saja,
barang tidak terkait dan dokumen. Oleh karena itu, sehingga selama dokumen konsisten,
bank harus melakukan pembayaran sesuai dengan voucher. Dalam hal ini, ketika penjual
menyerahkan dokumen ke bank, tidak ada perbedaan sama sekali, oleh karena itu, bank tidak
memiliki alasan untuk menolak untuk membayar harga pembelian.
Menurut praktik umum, ketika dokumen tidak konsisten satu sama lain, bank harus
memberitahu pelanggan secepat mungkin. Menurut jurisprudenc Singapura, bank harus
menolak dokumen dalam 3-4 hari pemberitahuan kepada pelanggan. Dalam hal ini, bank
menolak untuk menerima dokumen dan membayar harga pembelian 11 hari setelah menerima
dokumen, yang jelas tidak konsisten dengan praktek umum dan preseden lokal.
Perlu dicatat bahwa dalam kasus ini pembeli menuntut harga yang lebih rendah dengan
alasan kualitas barang lebih rendah, dan menegaskan bahwa ia akan menolak untuk
melakukan pembayaran jika penjual tidak akan menurunkan harga, di bawah ini keadaan,
penjual belum membawa gugatan dengan pembeli, melainkan memilih untuk menuntut bank.
Dan seperti klaimnya ini juga dibenarkan, hasilnya adalah mendukung penjual. Ini adalah
bukti bahwa keputusannya adalah bijaksana dan pendekatan yang efektif.