Anda di halaman 1dari 9

Anggaran Belanja Seimbang

Oleh :
Reny Permata Sari
1210205428
SMX-1

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia


(STIESIA)
Surabaya
Untuk mencapai tingkat stabilitas kegiatan perekonomian, mencegah
terjadinya infasi dan pengangguran serta menciptakan pertumbuhan eonomi
yang pesat, dapat ditempuh dengan berbagai kebijakan anggaran. Adapun
macam-macam kebijakan anggaran yang dapat dilakukan adalah sebagai
berikut :
1. Kebijakan Anggaran Seimbang
Ahli ekonomi klasik berpendapat untuk mencapai tingkat ekonomi yang dikehendai,
pemerintah harus melakukankebijakan anggara keseimbangan. Artinya, anggaran belanja
negara harus sama dengan pendapatan negara. bila pemerintah ingin menaikan anggaran
belanja maka pemerintah harus menaikan pendapatan negara sesuai kenaikan belanja
tersebut. Sebaliknya, bila pendapatan negara turun maka anggaran belanja negara juga
harus diturunkan agar APBN berlangsung seimbang.
Kebijakan anggran memiliki kekurangn yait :

Pada masa deflasi uang yang beredar lebih sedikit dari pada kebutuhan masyarakat,
harga-harga turun, produksi dan investasi turun sehingga kegiatan ekonomi turun.
Sehingga pendapatan negara yang utama berasal dari pajak akan menurun, anggaran
belanja menurun menyebabkan kegiatan akonomi menurun, memperburuk
pertumbuhan ekonomi.
Pada masa inflasi uang yang beredar melampaui batas kebutuhan masyarakat.

mengakibatkan naiknya harga-harga secara umumdan pendapatan negara meningkat.


Bila kenaikan tersebut diimbangi dengan anggaran belanja yang miningkat maka
permintaan barang dan jasa akan meningkat. Keadaan tersebut memperburuk
perekonomian , karena mendorong kelebihan permintaan yang lebih banyak dan
menaikan tingkat inflasi.

Kebijakan Anggaran Seimbang dan Dinamis


Pengertian APBN seimbang, keadaan dimana pendapatan pemerinta dan pengeluaran
pemerintah adalah sama. adapun arti dari dinamis bahwa keadaan dimana pendapatan dan
belanja negara terus meningkat, sehingga mendorong laju pembangunan.
Meningkatkan penerimaan dilaksanakan oleh pemirintah dengan meningkatkan semua
unsur seperti pajak dan sektor penerimaan lainnya. Indonesia sangat sulit mencapai
kebijakan APBN seimbang dan dinamis. Namun, bila ada kemauan polotik yang kuat dan
kerja keras, tujuan tersebut bisa saja tercapai secara bertahap. Dengan meningatkan
pendapatan negara, menutup kebocran pembelanjaan dan menghukum para koruptor
dengan hukuman maksimal.

Anggaran Berimbang (Balanced Budgeting)


Anggaran berimbang disusun sedemikian rupa sehingga setiap pengeluaran
pemerintah dapat dibiayai oleh penerimaan dari sektor pajakatau sejenisnya,
yaitu suatu kondisi dimana penerimaan pemerintah sama dengan
pengeluaran pemerintah.
Fungsi APBN
Secara umum berfungsi sebagai alat control terhadap
pengeluaran maupun pendapatan dimasa yang akan dating.
Fungsi utama:
Fungsi alokasi yaitu untuk mengatur pengeluaran pemerintah
dalam memenuhi kepentingan masyarakat.
Fungsi distribusi yaitu penerimaan pajak yang masuk

menjadi pendapatan pada APBN dapat didistribusikan dalam


bentuk dana subsidi dan dana pensiun. Pengeluaran tersebut
dinamakan transfer payment.
Fungsi stabilisasi yaitu penetapan APBN yang sesuai dengan
alokasi, akan dapat menjaga stabilitas arus uang dan
barang sehingga menghindari terjadinya inflasi atau
deflasi.
Fungsi otorisasi yaitu anggaran Negara atau daerah yang
menjadi dasar untuk melaksanakan pendaptsn dan belanja
pada tahun yang bersangkutan.

Fungsi pengawasan yaitu anggran yang harus menjadi pedoman


untk menilai apakah tindakan pemerintah sudah sesuai
dengan ketentuan yang sudah ditetapkan.
Fungsi perencanaan yaitu anggaran negara yang menjadi
pedoman yang merencanakan kegiatan pada tahun anggaran.
Sumber Penerimaan :
Berdasarkan asalnya, sumber pendapan Negara secara umum dapat
dikelmpokkan menjadi dua yaitu penerimaan dalam negeri dan
penerimaan luar negeri.
Penerimaan dalam negeri : berasal dari penerimaan migas
dan penerimaan non migas.
Penerimaan luar negeri : penerimaan yang berasal dari luar
negeri dalam bentu bantuan program dan bantuan proye
Cara yang dilakukan dalam anggaran belanja adalah anggaran
yang disesuaikan dengan keadaan (manager budget). Tujuannya
adalah tercapainya anggaran berimbang dalam jangka panjang.
Beberapa kebijakan anggaran yang dapat ditetapkan pemerintah
dalam mencapai manfaat tertinggi dalam mengelola anggaran
adalah:

a. Kebijakan anggaran berimbang,yaitu suatu anggaran yang


dinyatakan bahwa pendapatan dan pengeluaran berimbang dalam
jangka waktu tertentu.
b.Kebijakan anggaran surplus,yaitu suatu anggaran dimana

jumlah pengeluaran atau


pendapatan yang tersedia.

belanja

lebih

kecil

daripada

c. Kebijakan anggaran deficit,yaitu suatu anggaran yang


biasanya
jumlah
pengeluaran
lebih
tinggi
daripada
pendapatan. Kebijakan anggaran deficit disebut juga dengan
anggaran belanja dinamis.

APBN sebagai alat Stabilisasi Ekonomi : .


Pemerintah menentukan beberapa kebijaksanaan di bidang anggaran
belanja dengan tujuan mempertahankan stabilitas proses pertumbuhan
dan pembangunan ekonomi. Anggaran belanja dipertahankan agar
seimbang dalam arti bahwa pengeluaran total tidak melebihi penerimaan
total .
Tabungan pemerintah diusahakan meningkat dari waktu ke waktu
dengan tujuan agar mampu menghilangkan ketergantungan terhadap
bantuan luar negeri sebagai sumber pembiayaan pembangunan .
Basis perpajakan diusahakan diperluas secara berangsur-angsur dengan
cara mengintensifkan penaksiran pajak dan prosedur pengumpulannya .
Prioritas harus diberikan kepada pengeluaran-pengeluaran produktif
pembangunan, sedang pengeluaran-pengeluaran rutin dibatasi. Subsidi
kepada perusahaan-perusahaan negara dibatasi.
Kebijaksanaan anggaran diarahkan pada sasaran untuk mendorong
pemanfaatan secara maksimal sumber-sumber dalam negeri
Cara Penyusunan APBN
Proses penyusunan APBN dapat dikelompokkan dua tahap sebagai berikut:
Proses pembicaraan pendahuluan antara pemerintah dan DPR dari bulan
Februari sampai dengan pertengahan Agustus .

Pengajuan, pembahasan dan penetapan APBN, dimulai pertengahan


Agustus sampai bulan Desember .

Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara saat ini adalah:


Belanja Negara
Belanja terdiri atas dua jenis:
Belanja Pemerintah Pusat, adalah belanja yang digunakan untuk
membiayai kegiatan pembangunan Pemerintah Pusat, baik yang
dilaksanakan di pusat maupun di daerah (dekonsentrasi dan tugas
pembantuan). Belanja Pemerintah Pusat dapat dikelompokkan menjadi:
Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Modal, Pembiayaan Bunga
Utang, Subsidi BBM dan Subsidi Non-BBM, Belanja Hibah, Belanja
Sosial (termasuk Penanggulangan Bencana), dan Belanja Lainnya.
Belanja Daerah, adalah belanja yang dibagi-bagi ke Pemerintah
Daerah, untuk kemudian masuk dalam pendapatan APBD daerah yang
bersangkutan. Belanja Daerah meliputi:

Dana Bagi Hasil

Dana Alokasi Umum

Dana Alokasi Khusus

Pembiayaan
Pembiayaan meliputi:

Pembiayaan Dalam Negeri, meliputi


Pembiayaan Perbankan, Privatisasi, Surat Utang Negara, serta
penyertaan modal negara.
Pembiayaan Luar Negeri, meliputi:
Penarikan Pinjaman Luar Negeri, terdiri atas Pinjaman Program
dan Pinjaman Proyek. Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar
Negeri, terdiri atas Jatuh Tempo dan Moratorium.

Dalam penyusunannya Pemerintah


perekonomian makro, yaitu:

menggunakan

Indikator

Produk Domestik Bruto (PDB) dalam rupiah


Pertumbuhan ekonomi tahunan (%)
Inflasi (%)
Nilai tukar rupiah per USD
Suku bunga SBI 3 bulan (%)
Harga minyak indonesia (USD/barel)
Produksi minyak Indonesia (barel/hari)
Prinsip penyusunan APBN
Berdasarkan aspek pendapatan, prinsip penyusunan APBN ada tiga, yaitu:
Intensifikasi penerimaan anggaran dalam jumlah dan kecepatan
penyetoran.
Intensifikasi penagihan dan pemungutan piutang negara.
Penuntutan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara dan
penuntutan denda

Sementara berdasarkan aspek pengeluaran, prinsip penyusunan APBN


adalah:

Hemat, efesien, dan sesuai dengan kebutuhan.


Terarah, terkendali, sesuai dengan rencana program atau kegiatan.
Semaksimah mungkin menggunakan hasil produksi dalam negeri
dengan memperhatikan kemampuan atau potensi nasional.

Azas penyusunan APBN


APBN disusun dengan berdasarkan azas-azas:

Kemandirian, yaitu meningkatkan sumber penerimaan dalam negeri.


Penghematan atau peningkatan efesiensi dan produktivitas.
Penajaman prioritas pembangunan
Menitik beratkan pada azas-azas dan undang-undang Negara

Penggunaan kebijakan anggaran berimbang dan dinamis merupakan


system kebijakan fiscal yang pertama kali digunakan oleh
cabinet ampere pada awal pemerintah orde baru dibawah
pimpinan presiden soekarno. Pada tahun 1967 APBN berimbang
dan dinamis dirancang dalam rangka penertiban keuangan
Negara, terutama untuk mengatasi deficit pada pertengahan
1966 yang hiperinflasi (650%) sebagai akibat pembiayaan
anggaran deficit pencetaan uang.
Dalam system anggaran yang berimbang dan dinamis tersebut
pinjaman luar negeri dimasukan sebagai salah satu dari sumber
penerimaan Negara. APBN berimbang dan dinamis dalam satu sisi
pemerintah bermaksut untuk melakukan penertiban terhadap
deficit walaupun disisi lainya memungkinkan adanya deficit,
yang dibiayai melalui pinjaman luar negeri, yang diberlakukan
secara intra-budgeter . APBN berimbang dan dinamis dibuat
dalam rangka penertiban keuangan Negara dan usaha memupuk
dana Negara secara sehat guna membiayai pembangunan.

Kesimpulan Dan Saran


Kesimpulan
Anggaran berimbang disusun sedemikian rupa sehingga setiap pengeluaran
pemerintah dapat dibiayai oleh penerimaan dari sektor pajakatau sejenisnya,
yaitu suatu kondisi dimana penerimaan pemerintah sama dengan
pengeluaran pemerintah.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam APBN (anggara
pendapatan belanja Negara), adalah hasil dari perencanaan yang berupa
daftar mengenai bermacam-macam kegiatan terpadu,baik yang menyakut
penerimaan maupun pengeluarannya yang dinyatakan dalam satuan uang
dalam jangkah waktu tertentu,biasanya adalah satu tahun.

Saran
Sebaiknya Negara Indonesia membatasi impor masuk dan mengenakan
pajak lebih tinggi agar para importir tidak menjual barang ke Indonesia
dengan banyak.Maka produk lokal di Indonesia dapat bersaing apabila
kebijakan tersebut di lakukan oleh pemerintah.