Anda di halaman 1dari 12

ISOLASI KURKUMIN DARI RIMPANG KUNYIT

(Curcuma Domestica Valet)















DISUSUN OLEH:

FATHUR ROHMAN YUSUP 21111071
FIAN SHAIBIR RAHMAN 21111072
KHARINA SEPTI LESTARI 21111081
LINGGA PRANATA 21111082
MERIANI SIMANGUNSONG 21111086
NOVI NURAINY FAUZI 21111087
NUR OLIS 21111088
NURUL KHOIRIYAH LUTFI 21111089




PROGRAM SARJANA FARMASI
LABORATORIUM FITOKIMIA
SEKOLAH TINGGI FARMASI BANDUNG
2014
I. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Botani
a. Klasifikasi Daun Mangga
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Sapindales
Famili: Anacardiaceae
Genus: Mangifera
Spesies: Mangifera indica L.
b. Morfologi

Dilihat dari unsur botani dan habitatnya, tumbuhan mangga memiliki
pohon yang tinggi mencapai 10 meter - 30 meter atau lebih dan
umumnya dapat mencapai puluhan tahun. Batang mangga tegak,
bercabang agak kuat; dengan daun-daun lebat membentuk tajuk yang
indah berbentuk kubah, oval atau
memanjang, dengan diameter
sampai 10 m. Kulit batangnya tebal
dan kasar. Warna pepagan (kulit
batang) yang sudah tua biasanya
coklat kelabu tua sampai hampir
hitam. batang berbentuk silindris,
percabangan simpodial, arah
tumbuh batang tegak lurus dan
arah tumbuh cabang ada yang
condong ke atas dan ada pula
yang mendatar. Daun tunggal,
dengan letak tersebar, tanpa daun penumpu. Panjang tangkai daun
bervariasi dari 1,25-12,5 cm, bagian pangkalnya menebal. Daun
berbentuk memanjang, ujung daun dan pangkal daun runcing, daging
daun coriaceus, tepi daun rata.

c. Ekologi
Tumbuhan mangga (Mangifera indica L.) menurut perkiraan para ahli
berasal dari daerah sekitar Bombay dan daerah di sekitar kaki gunung
Himalaya, kemudian menyebar keluar daerah, diantaranya Amerika Latin,
benua Afrika, juga negara - negara di kawasan Asia
Tenggara, seperti Vietnam, Philipina, dan Indonesia. Untuk kondisi alam di
Indonesia, mangga dapat tumbuh baik pada tempat yang musim panasnya
kuat, di dataran rendah dengan volume curah hujan rendah sampai
sedang. Sebagai contoh : di pesisir utara pulau jawa, sebagaian besar
daerah jawa timur, sampai pesisir sebelah timur antara Pasuruan,
Situbondo dan Probolinggo, Kepulauan Sunda Kecil, daerah propinsi Riau,
tenggara pulau Sulawesi sampai pulau Buton dan sekitarnya.
Tumbuhan mangga dapat tumbuh dan diproduksi di daerah tropik maupun
sub tropik. Di daerah tropik Indonesia, mangga tumbuh baik di dataran
rendah sampai ketinggian maksimal 500 meter diatas permukan laut,
meskipun dapat hidup sampai pada ketinggian lebih kurang 1300 meter,
namun produksinya tidak begitu banyak dan kualitasnya pun tidak baik.
Unsur iklim yang penting bagi tumbuhan mangga adalah curah hujan, suhu
(temperatur) dan angin, suhu yang ideal adalah antara 270 C - 340 C dan
tidak ada angin kencang atau panas, serta membutuhkan penyinaran
antara 50 % - 80 %.

B. Tinjauan Kimia
a. Tinjauan Kimia dalam tanaman mangga
Pada daun megandung antosianin, mangiferin, kuarsetin, galloyl, hydroxy
benzoyl esters, dan epicatechin. Daun dan bunga menghasilkan minyak
esensial yang mengandung humulene, elemene, ocimene, linalool, nerol
dan banyak lainnya.
(K. A. Shah, M. B. Patel, dan P. K. Parmar. Review farmakognosi :
Magnifera Indica. 2010. Gujarat; India)
Kandungan kimia tumbuhan mangga antara lain : 2 - Octane,
Alanine, Alpha-phellandrene, Alpha - pinene, Ambolic - acid, Cembonic
- acid, Arginie, Ascorbic-acid, Beta - carotene beta pinene, Carotenoids,
Fulfural, Gaba, Gallic - acid, Mangiferic - acid, Mangiferine, Mangiferol,
Mangiferlic - acid, Myristic - acid, Neo-beta- carotene-b, Neo-beta-
carotene-u, Neoxantophyll, Nerol, Neryl - acetate, Oloic -acid, Oxalic-
acid, P-coumaric-acid, Palmitic-acid, Palmitoleic-acid, Pantothenic-acid,
Peroxidase, Phenylalanine, Phytin, Proline, Quercetin, Xanthophll.
Kandungan xanton jenis mangiferin pada mangga sebanyak 7 % - 15
%.
b. Tinjauan kimia Khusus
Kandungan terbesar dari ekstrak daun mangga adalah mangiferin yang
telah diteliti oleh beberapa peneliti memiliki fungsi antara lain sebagai
antioksidan, analgesik, antidiabetes, anti inflammatory, antitumor,
antimikrobia, dan peningkat stamina atau daya tahan tubuh
(Jutiviboonsuk and Sardsaengjun, 2010)
Di dalam daun mangga mengandung kristal kuning (xanton). Xanton
adalah senyawa sejenis flavonoid yang telah digunakan sebagai zat
warna selama beratus - ratus tahun. Xanton dari mangifera indica ini
adalah glukosida - C mangiferin. Mangiferin yang terdapat pada daun
batang mangga ini mempunyai gugus - gugus penting dalam
standar identifikasi senyawa tersebut antara lain :
Zat organik tak jenuh : Hidrokarbon Aromatik
Gugus kromofor : = C =O (karbonil) dan = C = C (etenil)
Gugus auksokrom : OH (golongan anion)

Gambar 2.4 Struktur Mangiferin







C. Sifat-sifat kestabilan kimia
Kurkuminoid dikenal sebagai zat warna kuning yang terkandung
dalam rimpang. Kenyataan menunjukkan bahwa kurkumin yang
diperoleh dari rimpang kunyit selalu tercampur dengan dengan
senyawa analognya yaitu demetoksi kurkumin dan BIS demetoksi
kurkumin. Campuran ketiga senyawa tersebut dikenal dengan
kurkuminoid.
Kurkumin mempunyai rumus molekul C
23
H
20
0
6
dengan BM 368,37 serta
titik lebur 183C, tidak larut dalam air dan eter, larut dalam etil asetat,
metanol, etanol, benzena, asam asetat glasial, aseton dan alkali
hidroksida (Kiko, 1983)
Kurkumin merupakan senyawa yang peka terhadap lingkungan
terutama karena pengaruh ph dan suhu, cahaya serta radikal-radikal.

D. Ph dan suhu
Sifat kurkumin yang menarik adalah perubahan warna akibat
perubahan ph lingkungan. Dalam suasana asam kurkumin berwarna
kuning atau kuning jingga sedangkan dalam suasana basa berwarna
merah. Hal terrsebut dapat terjadi karena adanya sistem tautomeri
pada molekulnya. Untuk mendapatkan stabilitas yang optimum dari
sediaan kurkumin maka pH nya dipertahankan kurang dari 7. Pada pH
lebih dari 7 kurkumin sangat tidak stabil dan mudah mengalami
disosiasi (Tonnesen dan Karlsen, 1985)

E. Cahaya
Sifat kurkumin yang penting adalan sensitivitasnya pada cahaya.
Kurkumin akan mengalami dekomposisi jika terkena cahaya. Produk
degradasinya yang utama adalah asam ferulat, aldehid ferulat,
dehidroksinaftalen, vinilquaikol, vanilin dan asam vanilat.


F. Radikal hidroksil
Kurkumin memperlihatkan kepekaan terhadap radikal bebas
sebagai contoh kurkumin dapat bereaksi selama atom H dilepas atom
radikal hidroksil ditambahkan pada molekul kurkumin. Pengurangan
sebuah atom H menghasilkan pembentukan radikal kurkumin yang
terdekomposisi atau menjadi stabil dengan sendirinya (Van der Good,
1995)

G. Tinjauan Farmakologi
Mangiferin bisa digunakan sebagai agen pencegah kanker, karena mampu
menghambat Benzo(a)Pyrene yang menginduksi timbulnya kanker paru
dengan memberikan perlindungan terhadap kerusakan protein dan juga
menekan proliferasi sel kanker.
Menurut penelitian Prabhu et al (2006) dari Department of Biochemistry,
University of Madras, India, mangiferin dapat melindungi terhadap kerusakan
jantung pada tikus dengan berpotensi sebagai antioksidan yang dapat
meregulasi sistem pertahanan jaringan (enzim jaringan jantung) seperti
superoxide dismutase, katalase, glutathione peroxidase, aktivitas glutathione
transferase dan glutathione reductase activities, antioksidan bukan enzim,
seperti cerruloplasmin, vitamin C, vitamin E, dan kadar glutathion.
Mangiferin menunjukkan aktivitas analgesik dan antioksidan (karena ada
gugus hidroksil bebas dan catechol) sebagaimana dilaporkan Dar et al, 2005
dari University of Karachi, Pakistan.


II. METODELOGI
a. Penapisan Fitokimia
Analisis fitokimia merupakan uji kualitatif untuk mengetahui
keberadaan golongan senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam
daun mangga muda. Analisis fitokimia dilakukan berdasarkan metode
Harbone (1987). Identifikasi yang dilakukan adalah uji alkaloid, uji tanin,
uji flavonoid, uji saponin, uji steroid, dan uji triterpenoid.
Uji alkaloid dilakukan dengan cara menggerus satu gram sampel dan
ditambahkan 1,5 mL kloroform dan 3 tetes amoniak. Fraksi kloroform
dipisahkan dan diasamkan dengan 5 tetes H2SO4 2M. Fraksi asam
dibagi menjadi 3 tabung kemudian masing-masing ditambahkan
pereaksi Dragendorf, Meyer dan Wagner. Adanya alkaloid ditandai
dengan terbentuknya endapan putih pada pereaksi Meyer, endapan
merah pada pereaksi Dragendorf, dan endapan coklat pada pereaksi
Wagner.
Uji flavonoid dilakukan dengan cara menambahkan 0,5 gram sampel
dengan metanol sampai terendam lalu dipanaskan. Filtrat
ditambahkan dengan 5 tetes H2SO4 terbentuknya warna merah
karena penambahan H2SO4 menunjukkan adanya senyawa
flavonoid.
Uji saponin dilakukan dengan cara mencampurkan 0,5 gram sampel
dengan air secukupnya dan dipanaskan selama lima menit. Larutan
tersebut didinginkan kemudian selama dikocok timbulnya busa
selama 10 menit menunjukkan adanya saponin.
Uji triterpenoid dan steroid dilakukan dengan cara menambahkan
satu gram sampel dengan 2 mL etanol lalu dipanaskan dan disaring.
Filtratnya diuapkan kemudian ditambahkan dengan eter. Lapisan eter
ditambahkan dengan pereaksi Liebermen Burchard (3 tetes asetat
anhidrat dan 1 tetes H2SO4 pekat). Warna merah atau ungu yang
terbentuk menunjukkan adanya triterpenoid dan warna hijau
menunjukkan adanya steroid.
Uji tanin dilakukan dengan cara menambahkan lima gram sampel
ditambahkan air kemudian dididihkan selama beberapa menit.
Disaring dan filtrat ditambahkan dengan 3 tetes FeCl3. Warna biru
tua atau hitam kehijauan yang terbentuk menunjukkan adanya tanin.

b. Ekstraksi (Metode 1) dan alasan
Metode : Maserasi
Pelarut : Etanol 96%
Waktu : 24 jam sebanyak 3x pengulangan
Proses ekstraksi digunakan metode maserasi dengan bantuan
pelarut etanol 96%, alasannya selain etanol 96% sebagai pelarut yang
cocok untuk melarutkan senyawa senyawa bahan alam termasuk
kurkumin, etanol juga merupakan pelarut universal yang banyak
digunakan pada proses ekstraksi, etanol 96% juga digunakan untuk
menghambat pertumbuhan bakteri selama proses maserasi, dan kenapa
digunakan yang 96% agar kandungan air nya sedikit, karena air
merupakan media pertumbuhan bakteri. Setelah didapat ekstrak etanol
kemudian di saring dan diuapkan dengan menggunakan evaporator
sampai pekat, untuk menghilangkan pelarut etanolnya.

c. Pemantauan Ekstrak
Metode : Kromatografi Lapis Tipis
Fase diam : Silika Gel
Fase Gerak : kloroform:heksan (4:6)
Pemantauan Ekstrak dilakukan dengan membandingkan nilai Rf
kurkumin dari ekstrak dengan pembandingnya yang berasal dari literatur
hasil penelitian. Metode pemantauannya dengan menggunakan KLT yang
menggunakan fase diam silica gel dan fase geraknya kloroform:heksan
(4:6).

d. Fraksinasi (Metode 1) dan alasan
Metode : ECC (Corong pisah)
Pelarut : Methanol : Etil asetat (1:1)
Waktu : 3x pengulangan
Pada fraksinasi pertama ini digunakan metode Ekstraksi Cair-cair
dengan bantuan pelarut campur methanol:etil asetat (1:1), sehingga
terbentuk 2 fase, fase pertama yang diatas adalah methanol kerana Bj
nya (0,791 g/ml) lebih kecil dari pada etil asetat (0.894 g/ml).
dari proses ini kurkumin berada pada fase etil asetat.

e. Pemantauan Fraksi
Metode : Kromatografi Lapis Tipis
Fase diam : Silika Gel
Fase Gerak : kloroform:heksan (4:6)
Pemantauan Ekstrak dilakukan dengan membandingkan nilai Rf
kurkumin dari ekstrak dengan pembandingnya yang berasal dari literatur
hasil penelitian. Metode pemantauannya dengan menggunakan KLT yang
menggunakan fase diam silica gel dan fase geraknya kloroform:heksan
(4:6).

f. Fraksinasi (Metode 2) dan alasan
Metode : Kromatografi Kolom
Fase diam : Silika Gel
Fase Gerak : kloroform:heksan (4:6)
Pada fraksinasi kedua ini digunakan metode kromatografi kolom
bertujuan untuk mengisolasi komponen kurkumin dari campurannya.
Pada kromatografi kolom digunakan kolom dengan adsorben silika gel
karna kolom yang dibentuk dengan silika gel memiliki tekstur dan struktur
yang lebih kompak dan teratur. Silika gel memadat dalam bentuk
tetrahedral raksasa, sehingga ikatannya kuat dan rapat. Dengan
demikian, adsorben silika gel mampu menghasilkan proses pemisahan
yang lebih optimal.
Silika gel ada 2 macam : GF245, dengan G melambangkan
gypsum (CaSO4), F melambangkan floroscene, dan angka 245
menunjukan besarnya panjang gelombang yaitu 245 nm. Silika jenis ini
sering digunakan pada kromatografi lapis tipis (TLC). Dengan tanpa
adanya gypsum dan floroscene. Silika jenis ini biasa figunakan pada
kromatografi kolom.
Silika gel dapat membentuk ikatan hidrogen di permukaannya,
karna pada permukaannya terikat gugus hidroksil. Oleh karnanya, silika
gel sifatnya sangat polar. Sementara itu, fasa gerak yang digunakan
(dalam percobaan ini, kloroform:heksan 4:6) sifatnya non polar. Maka
pada saat campuran dimasukan, senyawa-senyawa yang semakin polar
akan semakin lama tertahan difasa stasioner, dan senyawa-senyawa
yang semakin tidak kurang polar akan terbawa keluar kolom lebih cepat
Kromatografi kolom dilihat dari jenis fasa diam dan fasa geraknya
dapat dibedakan :
a. Kromatografi fase normal
Kromatografi dengan kolom konvesional dimana fase diamnya
normal bersifat polar, misalnya silica gel, sedangkan fasa geraknya
bersifat non polar.
b. Kromatografi fase terbalik
Kromatografi dengan kolom yang fase diamnya bersifat non polar,
sedangkan fase geraknya bersifat polar, kebalikannya dari fase
normal.
Dalam proses pemisahan dengan kromatografi kolom, adsorben silika
gel harus senantiasa basah karna, jika dibiarkan kering kolom yang
terbentuk dari silika gel bisa reta, sehinga proses pemisahan zat tidak
tidak berjalan optimal. Selain itu, kondisi yang senantiasa basah
berperan untuk memudahkan proses elusi (larutan melewati kolom)
dalam kolom.
Senyawa kurkumin dapat mengalami penurunan dengan lepasnya
gugus OCH3 dalam setiap penurunan. Kurkumin akan mengalami 2
kali penurunan, dimana turunan pertamanya adalah demetoksi
kurkumin dan turunan keduannya adalah bis-dimetoksi kurkumin.
Kurkumin akan terelusi paling akhir (berada paling bawah) karna
sifatnya yang polar. Perlu diingat bahwa penurunan ini tak mungkin
terjadi dengan hanya melakukan kromatografi, tapi ada perlakuan
khususnya. Ketika senyawa kurkumin telah mengalami degradasi,
akan menjadi senyawa demetoksi kurkumin (terdapat pada bagian
tengah) yang lebih polar dari kurkumin. Karna telah kehilangan
sebuah gugus OCH3. Senyawa inimerupakan turunan kedua dari
senyawa kurkumin. Karna tidak lagi mengandung gugus OCH3,
maka senyawa ini merupakan senyawa yang bersifat paling polar dari
antara ketiga jenis senyawa kurkumin. Dengan begitu, senyawa ini
akan terelusi terlebih dahulu (berada pada lapisan yang paling atas)
karna fasa diam yang digunakan (silika gel) bersifat polar.

g. Pemantauan Subfraksi
Metode : Kromatografi Lapis Tipis
Fase diam : Silika Gel
Fase Gerak : kloroform:heksan (4:6)
Pemantauan Ekstrak dilakukan dengan membandingkan nilai Rf
kurkumin dari ekstrak dengan pembandingnya yang berasal dari literatur
hasil penelitian. Metode pemantauannya dengan menggunakan KLT yang
menggunakan fase diam silica gel dan fase geraknya kloroform:heksan
(4:6).

h. Pemurnian dan Uji Kemurnian
Metode : Kromatografi Lapis Tipis
Fase diam : Silika Gel
Fase Gerak : kloroform:etanol:asam asetat (94:5:1)
Uji pemurnian dilakukan dengan cara KLT preparatif .Berdasarkan
Chearwae dkk.(2004),analisa KLT ekstrak kasar kurkumonid dengan
menggunakan fase gerak kloroform : etanol : asam asetat dengan
perbandingan 94: 5 : 1 (v/v/v) juga menghasilkan 3 spot utama berwarna
orange . Spot yang pertama kali terelusi ( paling non polar ) yaitu
kurkumin,kemudian demetoksikurkumin dan yang terakhir
bisdemetoksikurkumin.
Setelah itu dilanjutkan dengan di pantau dengan menggunakan alat
spektofotometer UV-Vis (400-700nm).


i. Karakterisasi dan Identifikasi
Kurkumin bersifat tidak stabil terhadap pH pada suasana asam pH
1-7,maka kurkumin akan berwarna kuning cerah akibat gugus
diferuloylmethanes berada dalam bentuk netral.pada pH basa (>7,5)
warnanya berubah menjadi warna orens hingga kemerahan. BM 368,37
serta titik lebur 183C.

III. DAFTAR PUSTAKA
Wahyuni.Hardjono,A.Yamrewav PH.2004. Ekstraksi Kurkumin dari
Kunyit .Prosiding Seminar Rekayasa Kimia dan Proses..1411- 4216.

Kusmiyati, dkk. 2011. ISOLASI DAN IDENTIFIKASI ZAT AKTIF
EKSTRAK METANOL RIMPANG KUNYIT PUTIH (Curcuma mangga
Val) FRAKSI ETIL ASETAT. Jurnal Ilmiah Kefarmasian, Vol. 1, No. 2,
2011 : 1 10

Elly Natalina, dkk. 2009. Fotoproteksi Kurkumin terhadap -Karoten
pada Berbagai Nisbah Molar serta Aktivitas Antioksidannya. Jurnal
Natur Indonesia 12(1), Oktober 2009: 1-8 ISSN 1410-9379,

Shishodia S, Sethi S, Aggarwal BB. 2005. Curcumin: Getting Back to the
Roots. Annals New York Academy of Sciences. 1056: 206-217.

Stankovic I. 2004. CURCUMIN. Chemical and Technical Assesment
61st JECFA. FAO

Sirait, Midian, Prof. DR. Apt. 2007, Penuntun fitokimia dalam farmasi,
penerbit ITB : Bandung