Anda di halaman 1dari 21

TUGAS KELOMPOK

TEKNOLOGI PENGOLAHAN PAKAN

PENGOLAHAN LIMBAH KULIT BUAH KAKAO


KELOMPOK 6
Oleh:
I11112253
I11112257
I11112259
I11112261
I11112265
I11112267
I11112271
I11112273
I11112275

NURHAMDAYANI
ERICK DONDATU
MUH.RIFAL HIDAYAT
FATMAWATI KHALIFAH
NUR KAMAL AKBAR H
RHIZA ACHMAD.O.S
YULIA IRWINA BONEWATI
NUR ICHWAN HUSAIN
ANDI SUKMA INDAH

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar di dunia hingga
saat ini. Pesatnya perkembangan perkebunan kakao di Indonesia juga diikuti oleh
beberapa permasalahan, diantaranya meningkatnya limbah yang dihasilkan
sebagai akibat meningkatnya produksi kakao. Buah kakao mengandung 74% kulit
buah, 2,0% plasenta, dan 24,2% biji. Mengingat besarnya kandungan kulit buah
kakao, maka perlu diusahakan pemanfaatannya.
Kulit buah kakao merupakan salah satu hasil samping kakao yang belum
dimanfaatkan secara maksimal. Kulit buah kakao umumnya langsung dibuang
sebagai limbah, padahal kulit buah kakao ini dapat diolah menjadi sesuatu yang
lebih bermanfaat. Beberapa penelitian tentang pemanfaatkan kulit buah kakao
antara lain sebagai pakan ternak, pembuatan tepung, dan pembuatan ekstrak
pektin. Selain itu, kulit buah kakao kaya akan nutrisi dan dapat digunakan sebagai
media tumbuh tanaman sehingga dapat dimanfaatkan sebagai kompos.
Penggunaan kulit buah kakao sebagai pakan ternak telah banyak
dilakukan peneliti kulit buah kakao dapat diberikan pada broiler sampai level
10% karena terbatasnya penggunaan kulit buah kakao sebagai pakan ternak
unggas disebabkan tingginya kandungan serat kasar karena unggas tidak mampu
menghasilkan enzim selulase yang dapat mendegradasi selulosa menjadi glukosa.
Selanjutnya dijelaskan bahwa faktor pembatas pemberian kulit buah kakao
sebagai pakan ternak adalah terdapatnya anti nutrisi theobromin pada kulit buah
kakao. Theobromin merupakan alkaloid tidak berbahaya yang dapat dirusak

dengan pemanasan atau pengeringan, tetapi pemberian pakan yang mengandung


theobromin secara terus menerus dapat menurunkan pertumbuhan. Oleh karena
itu untuk memaksimalkan penggunaan kulit buah kakao baik bagi ternak maka
perlu ditingkatkan kualitasnya
B. Tujuan
1. Peternak mampu memenuhi gizi ternak mereka untuk meningkatkan kualitas
perternakan .
2. Peternak mampu memanfaatan pucuk tebu limbah hasil panen tanaman tebu
untuk pakan ternak ruminansia.
3. Mampu memberi nilai guna pada limbah putuk tebu di lingkungan setempat.
4. Solusi saat terjadi kelulitan pengadaan pakan ternak saat musim
kemarau/kering.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Jumlah produksi kakao di kabupaten Pohuwato tahun 2009 sebanyak
3.478,86 ton. Dengan jumlah kulit kakaonya sekitar 70 %, masih kurang
dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Penggunaan kulit kakao untuk ternak
sapi bisa 3040% dari kebutuhan pakan, dengan demikian pemanfaatan kulit
buah kakao dapat mengantisipasi masalah kekurangan pakan ternak serta
menghemat tenaga kerja dalam penyediaan pakan hijauan. Fermentasi kulit kakao
dapat mempertinggi daya cerna, menurunkan kandungan lignin, meningkatkan
kadar protein, menekan efek buruk racun theobromine dan meningkatkan
produktivitas ternak sapi. Pemberian kulit kakao fermentasi dapat dilakukan
dalam bentuk segar dan tepung menyatakan bahwa kulit buah kakao mengandung
lignin dan teobromin tinggi, selain juga mengandung serat kasar yang tinggi
(40,03%) dan protein yang rendah (9,71 %). Kulit kakao mengandung selulosa
36,23%, hemiselulosa 1,14% dan lignin 20%-27,95 %. Lignin yang berikatan
dengan selulosa menyebabkan selulosa tidak bisa dimanfaatkan oleh ternak.
Upaya meningkatkan kualitas dan nilai gizi pakan serat hasil ikutan perkebunan
yang berkualitas rendah merupakan upaya strategis dalam meningkatkan
ketersediaan pakan (Anas, 2011).
Tanaman Kakao di Sumatera Utara memiliki peran penting sebagai
komoditas sosial karena 50% dari luas arealnya merupakan perkebunan rakyat,
disamping komoditi ekspor. Sampai tahun 2005 kakao yang telah ditanam di
wilayah Indonesia seluas 668.919 Ha dan 57.930,82 Ha (7,25%) berada di

Sumatera Utara dengan produksi buah segar 160.015,29 ton/tahun. Dari buah
segar akan dihasilkan limbah kulit buah Kakao sebesar 75% (Muzakki, 2012).
Kulit buah Kakao terdiri dari 10 alur (5 dalam dan 5 dangkal) berselang
seling. Permukaan buah ada yang halus dan ada yang kasar, warna buah beragam
ada yang merah hijau, merah muda dan merah tua (Muzakki, 2012).
Hasil ikutan pertanian dan perkebunan pada umumnya mempunyai
kualitas yang rendah kerena berserat kasar tinggi. Selain mengandung serat kasar
tinggi (40,03%) dan protein yan rendah (9,71%), kulit Kakao mengandung
selulosa 36,23%, hemiselulosa 1,14% dan lignin 20%-27,95%. Lignin yang
berikatan dengan selulosa menyebabkan sellosa tidak bisa dimanfaatkan oleh
ternak. Upaya meningkatkan kualitas dan nilai gizi ransum serat hasil ikutan
perkebunan yang berkualitas rendah merupakan upaya strategis dalam
meningkatkan ketersediaan ransum (Muzakki, 2012).
Perbandingan kandungan nutrisi kulit buah Kakao tanpa fermentasi dan
kulit buah Kakao yang difermentasi dengan Aspergillus niger dapat dilihat pada
tabel 1 (Muzakki, 2012).
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Kulit Buah Kakao Tanpa Fermentasi Dan Kulit Buah
Kakao Yang Difermentasi Dengan Aspergillus niger.
Nurisi
Kulit Buah Kakao Kulit
Buah
Kakao
Fermentasi
Bahan Kering (%)
89,40
83,70
Energi metabolis (Kkal/kg) 1767,864
Protein Kasar (%)
7,35
12,89
Lemak Kasar (%)
1,42
2,96
Serat Kasar (%)
33,10
21,50
Abu
9,89
9,05
Sumber: Muzakki, 2012.

Kulit buah kakao merupakan limbah perkebunan yang dihasilkan tanaman


kakao (Theobroma cacao. L). Buah kakao terdiri dari 74 % kulit buah, 2 %
plasenta dan 24 % biji. Kulit buah kakao dapat menggantikan sumber-sumber
energi dalam ransum tanpa mempengaruhi kondisi ternak. Berdasarkan data yang
didapat, produksi kakao secara Nasional berkisar 712.000 ton dari 1,67 juta
hektare lahan perkebunan. Kabupaten Bireuen memiliki beberapa komoditas
unggulan di antaranya adalah kakao, tercatat pada tahun 2010 produksi kakao
sebanyak 202 ton dengan rata-rata produksi 1,247 kg/ha. Produksi kakao yang
tinggi tentu akan menghasilkan limbah kulit buah yang banyak pula, di mana
limbah yang ditinggalkan akan menjadi permasalahan baru bagi lingkungan
perkebunan, oleh sebab itu perlu alternative untuk memecahkan persoalan ini
dengan cara mengubah limbah ini menjadi lebih bermanfaat salah satunya adalah
sebagai pakan yang potensial bagi ternak (Merdekawani dan Kaswiran, 2013).
Pemanfataan kulit buah kakao sebagai pakan ternak dapat diberikan
dalam bentuk segar maupun dalam bentuk tepung setelah diolah dalam
Merdekawani dan Kaswiran (2013). Kandungan gizi kulit buah kakao yaitu
Bahan Kering 88%, Protein Kasar 8%, Serat Kasar 40,1%, Total Degrestible
Nutrient (TDN) 50,8% dan Lemak 0,90%, Sedangkan Menurut Laconi et al.
(1998) dalam Merdekawani dan Kaswiran (2013) kandungan gizi kulit buah
kakao yaitu Bahan Kering 17,0%, Protein Kasar 7,17%, Serat Kasar 32,5%, Abu
12,2%, Total Degrestible Nutrient (TDN) 53,0%, Lemak 0,80% , Kalsium 0,12%,
Protein 0,05%, dan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) 32,1%. Kemudian
Guntoro (2004) dalam Merdekawani dan Kaswiran (2013) menambahkan

kandungan nutrisi gizi kulit buah kakao yaitu Protein Kasar 7,17%, Serat Kasar
22,42%, Lemak 2,02%, Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) 32,1%
(Merdekawani dan Kaswiran, 2013).

BAB III
PEMBAHASAN
A. Fermentasi Kulit Buah Kakao Menggunakan Neurospora crassa
Teknologi fermentasi menggunakan kapang Neurospora crassa yang
berwarna orange cukup sederhana, mudah untuk diterapkan di lapangan dan
dapat disosialisasikan ke masyarakat terutama peternak. Bahan makanan yang
telah mengalami fermentasi mempunyai kandungan dan kualitas gizi yang lebih
baik dari bahan asalnya karena mikroba bersifat katabolik atau memecah
komponen- komponen komplek menjadi zat zat yang lebih sederhana sehingga
lebih mudah dicerna disamping itu mikroba dapat pula menghasilkan asam amino
dan beberapa vitamin seperti riboflavin, vitamin B12, provitamin A, dapat
menghasilkan flavour yang lebih disukai dan dapat mengurangi racun/anti nutrisi
yang terdapat pada bahan (Nuraini dan Mahata, 2009).
Pada waktu survei ke lapangan sebelum pelaksanaan kegiatan ini, para
petani ternak di nagari ini sedang menghadapi kesulitan dalam pengadaan
makanan terutama jagung dan konsentrat yang harganya mahal. Para peternak
ayam sebelumnya memberikan campuran pakan dengan perbandingan yaitu 2
konsentrat, 3 jagung dan 5 dedak halus, tetapi pada saat sekarang ini karena
mahalnya harga jagung dan konsentrat maka peternak lebih banyak memberikan
campuran dedak padi dibandingkan jagung dan konsentrat dan sering hanya
dedak padi saja yang diberikan kepada ternak. Akibatnya pertumbuhan dan
produksi ternak tidak sesuai dengan umur pemeliharaannya dan produksi telur
menurun karena makanan yang dikonsumsi oleh ternak tidak memenuhi standar

gizi yang dibutuhkan oleh ternak tersebut sehingga produktifitas ternak rendah,
akibatnya biaya produksi tetap lebih tinggi dari hasil yang diperoleh atau dengan
kata lain usaha yang dilakukan kurang menguntungkan (Nuraini dan Mahata,
2009).
Pemanfaataan secara efektif dan efisien bahan-bahan makanan yang
berasal dari limbah pertanian yang terbuang begitu saja dan banyak tersedia di
lokasi seperti kulit buah coklat, ampas tahu dan dedak merupakan salah satu
strategi dalam menjawab dan mengatasi permasalahan pakan ternak pengganti
jagung dan konsentrat. Berdasarkan hasil wawancara, tampak bahwa para
peternak tidak mengetahui bahwa campuran kulit buah kakao sebagai sumber
energi dan ampas tahu sebagai sumber protein dapat dijadikan sebagai substrat
untuk pertumbuhan Neurospora crassasehingga dihasilkan pakan fermentasi kaya
karoten. Produksi kulit buah kakao, ampas tahu dan dedak di daerah ini cukup
banyak untuk dijadikan sebagai pakan ternak, karena di lokasi ini banyak terdapat
tanaman kakao dan 2 tempat penggilingan padi dan 3 tempat pembuatan tahu
(Nuraini dan Mahata, 2009).
Teknologi fermentasi yang diberikan cukup sederhana, mudah untuk
diterapkan dilapangan dan dapat disosialisasikan ke masyarakat terutama
peternak. Fermentasi dapat meningkatkan kandungan dan kualitas gizi bahan,
menghasilkan aroma dan rasa/flavour yang disukai sehingga palatabilitas
meningkat dan dapat meningkatkan daya cerna. Campuran kulit buah kakao dan
ampas tahu yang telah difermentasi dengan Neurospora crassa dapat
memproduksi pakan kaya karoten (235.08 g/g) dan dapat meningkatkan

protein dari 11.71 % menjadi 20.78 % pada substratcampuran 60 % kulit buah


kakao dengan 40% ampas tahu. Senyawa karoten adalah senyawa karotenoid
yang berfungsi sebagai provitamin A, sebagai pemberi warna kuning pada kuning
telur dan dapat menurunkan kolesterol telur. Penggunaan produk pakan kaya
karoten sebanyak 20 % dalam ransum broiler dan 30-40% dalam ransum itik dan
ayam petelur, dapat mengurangi sebanyak 30 - 40% penggunaan jagung dan 3035 % konsentrat tanpa menurunkan pertambahan bobot badan broiler dan
produksi serta bobot telur bahkan dapat menurunkan 30-40% kolesterol telur dan
meningkatkan 30 -35% warna kuning telur (Nuraini dan Mahata, 2009).
Pada waktu kegiatan pengabdian masyarakatdi daerah Pakandangan ini
dilakukan maka program kegiatan yang telah diberikan adalah penyuluhan
tentang cara pemeliharaan ternak unggas yang sesuai dengan Panca Usaha
Ternak, pemanfaatan limbah-limbah hasil pertanian yang banyak tersedia di
sekitar daerah ini untuk dijadikan sebagai pakan ternak, peningkatan kualitas
limbah secara biologi melalui fermentasi, penyusunan ransum ternak unggas
dengan menggunakan limbah-limbah hasil pertanian fermentasi tersebut dan
pemberiannya pada ternak. Disamping itu juga dilakukan demonstrasi/peragaan
cara melakukan fermentasi limbah hasil pertanian dengan menggunakan
inokulum Neurospora crassa (Nuraini dan Mahata, 2009).
Hasil pengamatan dilapangan, menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian
ini disenangi oleh peserta karena para peternak selain mendapatkan materi cara
pemeliharaan ternak unggas yang sesuai dengan Panca Usaha Ternak
(managemen pemeliharaan, makanan, kandang, penyakit), peningkatan kualitas

10

limbah secara biologi yaitu fermentasi; teknik memformulasi ransum dengan


menggunakan bahan pakan lokal, mereka juga ingin mengetahui cara peningkatan
kualitas limbah dengan cara lainnya yaitu secara fisik dan secara kimia seperti
amoniasi jerami padi dan pembuatan silase (Nuraini dan Mahata, 2009).

Gambar 1. Prosedur Pembuatan Produk Kakao Fermentasi


Setelah kegiatan penyuluhan dan demonstrasi serta evaluasi dilakukan
ternyata beberapa peternak sudah bisa melakukan fermentasi sendiri dan telah
mencoba memberikannya pada ternak unggas yang dipelihara. Hasil evaluasi

11

dilapangan setelah kegiatan penyuluhan dan demonstrasi dilakukan ternyata


beberapa peternak sudah bisa melakukan fermentasi sendiri dan telah mencoba
memberikannya pada ternak unggas yang dipelihara. Para peserta menyadari
bahwa dengan pembuatan produk fermentasi akan didapatkan dua keuntungan
yaitu produk fermentasi kaya karoten dapat digunakan sebagai makanan ternak
yang mengurangi penggunaan sebagian jagung dan konsentrat sehingga biaya
berkurang dan kedua dengan memberikan produk fermentasi pada ternak akan
menghasilkan telur rendah kolesterol (Nuraini dan Mahata, 2009).
Pemberian produk kakao fermentasi dalam ransum ayam buras grower
sampai 20 %, dengan pengurangan penggunaan jagung sebanyak 20% dan
pengurangan konsentrat 10% ternyata masih memberikan performa yang sama
terhadap ayam buras dan demikian pula dengan pemberian 30% kakao fermentasi
dalam ransum pengurangan 30% jagung dan 20 % konsentrat tidak menurunkan
produksi telur ayam (Nuraini dan Mahata, 2009).
B. Fermentasi kulit buah kakao Menggunakan Aspergillus niger
Fermentasi kulit buah kakao dapat dilakukan dengan menggunakan
mikroorganisme yang bersifat selulolitik antara lain Jamur Aspergillus niger.
Mikroorganisme penghasil enzim selulase secara ekstraseluler tersebar pada
jamur dan bakteri, tetapi yang umum digunakan adalah Jamur Aspergillus niger.
Jamur Aspergillus niger adalah mikroorganisme dari salah satu jenis jamur yang
dipandang aman dan oleh Lembaga Food and Drug Administration (FDA)di

12

Amerika, jamur ini digolongkan sebagai mikroba Generally Recognized as


Safe(GRAS) (Hardana dkk., 2013).
Hasil penelitian tersebut jauh lebih rendah dari hasil penelitian yang
dilakukan oleh Afrijon (2011), yaitu pada kulit buah kakao yang tanpa diberikan
perlakuan urea menghasilkan persentase kecernaan bahan kering sebesar 46,37%
serta kulit buah kakao yang diberikan perlakuan amoniasi urea 6% yaitu sebesar
52,80% dan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil penelitian yang
menggunakan substrat berbeda yaitu tongkol jagung yang diberi perlakuan
menggunakan urea, Aspergillus niger dan Aspergillus niger + 0,5 urea
menghasilkan KBK yang lebih tinggi secara berurutan yaitu 59,7; 47,2 dan 50,9.
Penggunaan Aspergillus niger dengan level yang berbeda, urea dan mineral mix
menyebabkan perbedaan hasil kecernaan yang diperoleh pada fermentasi tepung
kulit buah kakao dan tongkol jagung. Hal ini berkaitan dengan degradasi lignin
pada substrat yang difermentasi.
Hasil analisis variansi menunjukan bahwa ada pengaruh perlakuan
terhadap KBK. Uji Orthogonal Polinomial menunjukkan bahwa fermentasi
menggunakan Aspergillus niger pada kulit buah kakao berpengaruh secara
kuadrater bahwa kecernaan bahan kering pakan dipengaruhi oleh Aspergillus
niger sebesar 43%. (Hardana dkk., 2013).
Level Aspergillus niger paling optimal 0,31% dengan KBK sebesar
24,39%. Penurunan KBK yang terjadi pada level Aspergillus niger yang lebih
tinggi dari 0,31%, kemungkinan disebabkan oleh produksi enzim dan
pertumbuhan jamur yang tidak optimal dan kandungan anti nutrisi dan lignin

13

yang seharusnya dapat didegradasi oleh Aspergillus nigertidak optimal yang


menyebabkan rendahnya tingkat KBK kulit buah kakao. Hasil kerja enzim yang
dihasilkan mikroba menyebabkanperubahan yang terjadi pada proses fermentasi
(baik dalam keadaan aerob maupun anaerob). Diperkuat bahwa kandungan nutrisi
yang terdapat dalam substrat mempengaruhi tingkat kecernaan bahan kering
(Hardana dkk., 2013).
Kecernaan adalah indikasi awal ketersediaan berbagai nutrisi yang
terkandung dalam bahan pakan tertentu bagi ternak yang mengkonsumsinya.
Kecernaan yang tinggi mencerminkan besarnya sumbangan nutrient tertentu pada
ternak, sementara itu pakan yang mempunyai kecernaan rendah menunjukkan
bahwa pakan tersebut kurang mampu mensuplay nutrien untuk hidup pokok
maupun untuk tujuan produksi ternak. Semakin tinggi KBK, semakin meningkat
KBO dan semakin tinggi peluang nutrisi yang dapat dimanfaatkan ternak untuk
produksi dan begitu juga sebaliknya jika semakin rendah KBK, semakin rendah
KBO serta semakin rendah peluang nutrisi yang dapat dimanfaatkan ternak. Kulit
buah kakao yang difermentasi menggunakan Aspergillus niger menghasilkan
nilai KBK dan KBO yang rendah hal tersebut berarti kulit buah kakao kurang
dapat dimanfaatkan oleh ternak. Kecernaan nutrien merupakan salah satu ukuran
dalam menentukan kualitas pakan.Semakin tinggi kecernaan bahan kering maka
semakin tinggi juga peluang nutrisi yang dapat dimanfaatkan ternak untuk
pertumbuhannya (Hardana dkk., 2013).
Anti nutrisi yang terkandung didalam kulit buah kakao adalah tanin. Jenis
tanin yang terdapat dalam kulit buah kakao merupakan tanin kondensasi yaitu

14

anthocyanidin, catekin, dan leukoanthocyanidin. Keberadaan tanin dalam kakao


dapat mengurangi manfaatnya sebagai pakan karena kemampuannya dalam
mengendapkan protein. Terdapat dua kelompok dari tanin yang berpengaruh
terhadap nutrisi ternak.Kedua kelompok tersebut ialah kelompok tanin hidrolisis
dan tanin kondensasi yang biasa disebut Proanthocyanidin. Anti nutrisi lain yang
belum dapat didegradasi oleh Aspergillus niger pada proses fermentasi kulit buah
kakao sehingga menyebabkan nilai kecernaan pakan rendah yaitu thebromine.
Theobromine merupakan senyawa tidak berwarna dan tidak berbau yang secara
alami ada pada semua bagian tanaman kakao.Theobromine merupakan senyawa
yang memiliki peran dalam mekanisme pertahanan diri tanaman kakao (Hardana
dkk., 2013).
Tanin berkorelasi negatif dengan KBK. Kandungan zat anti nutrisi yang
terdapat pada bahan pakan akan menurunkan kecernaan pakan. Tanin dapat
membentuk ikatan kompleks dengan protein dan karbohidrat sehingga
mengakibatkan aktivitas mikroba rumen dalam mendegradasi bahan kering
menjadi berkurang. Kandungan lignin menentukan tingkat kecernaan zat
makanan dalam pakan. Faktor yang diduga ikut mempengaruhi nilai kecernaan
pakan adalah tingkat proporsi bahan pakan, komposisi kimia, tingkat protein
ransum, persentase lemak dan mineral. Semakin seimbang nilai nutrisi dalam
ransum, maka akan meningkatkan nilai kecernaannya (Hardana dkk., 2013).
Semakin tinggi level pemberian Aspergillus niger persentase nilai KBO
semakin menurun. Hal ini sejalan dengan penurunan kecernaan bahan kering.
Nilai KBK akan sesuai nilai KBO karena sebagian bahan kering dalam ransum

15

terdiri dari bahan organik seperti halnya kecernaan bahan kering, kecernaan
bahan organik (KBO) juga dapat dijadikan tolok ukur dalam menilai kualitas
ransum. Hal ini karena pada bahan kering masih mengandung abu, sedangkan
bahan organik tidak mengandung abu, sehingga bahan tanpa kandungan abu
relatif lebih mudah dicerna. Kandungan abu dapat memperlambat atau
menghambat tercernanya bahan kering bahan pakan. Komposisi bahan organik
yaitu terdiri atas karbohidrat, protein, lemak dan vitamin. Karbohidrat merupakan
bagian dari bahan organik yang utama serta mempunyai komposisi yang tertinggi
(50-70%) dari jumlah bahan kering (Hardana dkk., 2013).
Nilai kecernaan bahan organik suatu pakan dapat menentukan kualitas
pakan. Hasil menunjukkan bahwa kualitas pakan yang difermentasi Aspergillus
niger masih rendah tingkat kecernaannya oleh karena itu perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut menggunakan perbandingan level Aspergillus niger
ataupun menggunakan jamur yang lain. Kegunaan penentuan kecernaan adalah
untuk mendapatkan nilai bahan makanan secara kasar, sebab hanya bahan
makanan yang dapat dicerna yang dapat diserap oleh tubuh. Tinggi rendahnya
nilai manfaat dari bahan pakan menjadi tolak ukur kecernaan suatu bahan pakan
dan merupakan pencerminan dari bahan pakan tersebut. Apabila kecernaannya
rendah, maka nilai manfaatnya rendah pula. Sebaliknya, apabila kecernaannya
tinggi, maka nilai manfaatnya tinggi pula (Hardana dkk., 2013).
C. Fermentasi Kulit
chrysosporum

Buah

Kakao

16

Menggunakan

Phaenerochaete

Kulit buah kakao segar dicacah lalu dijemur hingga kering agar tidak
membusuk. Sebelum difermentasi kulit buah kakao ditambah air hingga kadar air
menjadi 60-65 %, lalu dikukus selama 5 jam. Selanjutnya kulit buah kakao
ditunggu hingga dingin lalu diinokulasi dengan kapang P. chrysosporium.
Fermentasi berlangsung secara anaerob selama 20 hari, kemudian produk
fermentasi dijemur di bawah sinar matahri hingga kering lalu digiing sampai
halus dan siap digunakan sebagai komponen pakan konsentrat (Murni dkk.,
2012).
Penggunaan kulit buah kakao yang difermentasi dengan kapang P.
chrysosporium dapat digunakan sebagai pakan alternative pengganti rumput
gajah bagi ternak kambing tanpa memperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap
konsumsi bahan organic dan pertambahan bobot (Murni dkk., 2012).
D. Manfaat Pada Ternak
Pada babi tumbuh, bobot organ internal, yaitu, saluran pencernaan, hati,
dan ginjal, tersebut berkorelasi positif dengan produksi panas endogen. Selama
musim panas, bobot organ menurun dalam rangka memberikan kontribusi untuk
mengurangi produksi panas endogen. Pada babi tumbuh, penurunan berat badan
adalah tertinggi di jantung dan hati. Yang terakhir telah terbukti menjadi
kontributor utama pengeluaran energi dan produksi panas di antara organ-organ.
Penggunaan kering kakao sekam dalam nutrisi babi diuji oleh beberapa penulis.
Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan efek sekam kakao makan pada
komposisi hati finishing babi berat dalam rangka untuk mengevaluasi apakah

17

polifenol kakao konsumsi dapat mempengaruhi metabolisme hepatik, yang sangat


dipengaruhi oleh suhu lingkungan (Magistrelli et al., 2014).
Bila dibandingkandengan hewan lain, bahwa ada beberapa respon yang
berbeda sesuai dengan ruminansia atau hewan spesies. Fermentasi kulit buah
kakao yang melaporkan pada kambing bahwa penggunaan fermentasi kulit buah
kakao pada tingkat 30% memiliki lebih tinggi konsumsi pakan, pertambahan
bobot badan, dan konversi pakan dibandingkan dengan kontrol perlakuan dengan
pakan yang normal (Ali, 2014).
Kecernaan bahan kering, protein kasar, serat kasar, bahan organik dan
kecernaan energi kotor yang seara signifikan lebih tinggi pada kambing pada
kontrol diet. Sebaliknya, dalam studi tingkat pertumbuhan domba, asupan bahan
kering secara signifikan meningkat sebagai proporsi CPH meningkat, namun
pertumbuhan harga (mulai 37-55 g per hari) dan efisiensi konversi pakan yang
tidak signifikan dipengaruhi oleh perlakuan. Penelitian hasil dalam pakan ayam
broiler ayam menunjukkan bahwa peningkatan diperlakukan kakao tingkat sekam
hingga 100 g kg-1 tidak secara signifikan mengurangi kinerja pertumbuhan dan
jelas kecernaan nutrisi (Ali, 2014).
Pembatasan dalam pemanfaatan kulit buah kakao sebagai pakan pada
dasarnya disebabkan oleh theobromine itu, senyawa ini dikenal sebagai
antintritionnel faktor yang membatasi penggunaan mereka pada ternak. Namun,
penelitian kami menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam
merespon antara CPH-T dan perawatan lainnya terutama untuk hewan kontrol.
Awal investigasi pada kambing dengan CPH difermentasi muncul berpengaruh

18

signifikan terhadap gain tubuh rata-rata dan mendapatkan meningkatkan positif


dengan tingkat CPH dalam pakan. Pertumbuhan badan harian adalah indikator
untuk efisiensi pakan yang pakan disimpan fisiologis dalam tubuh (Ali, 2014).

19

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada makalah ini maka dapat disimpulkan
bahwa:
1. Pembuatan produk kakao fermentasi dengan Neurospora crassa untuk
diberikan sebagai makanan ternak ayam dapat mengurangi penggunaan
jagung dan konsentrat yang diberikan pada ternak dan kualitas telur
meningkat karena dengan pemberian produk fermentasi kaya karoten dalam
ransum unggas petelur akan menghasilkan telur yang rendah kolesterol tanpa
menurunkan produksi telur.
2. Fermentasi kulit buah kakao menggunakan Aspergillus niger pada level
0,31% menghasilkan KBK sebesar 24,39% (meningkat 10%) sedangkan
semakin tinggi level pemberian Aspergillus niger semakin rendah persentase
nilai KBO.
3. Penggunaan kulit buah kakao yang difermentasi dengan kapang P.
chrysosporium dapat digunakan sebagai pakan alternative bagi ternak
kambing tanpa memperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap konsumsi
bahan organic dan pertambahan bobot
B. Saran
Karena kulit buah kakao memilki kandungan antinutrisi theobromine,
maka sebaiknya dalam pengolahan dan pemberian pada ternak perlu diperhatikan.

20

DAFTAR PUSTAKA
Ali, H. M. 2014. Average Daily Gain, AST and Blood Nitrogen Urea (BUN)
Responses of Bali Beef on Cocoa Waste Extract Supplement. Journal of
Advanced Agricultural Technologies Vol. 1, No. 1, June 2014.
Anas, S., A. Zubair dan D. Rohmadi. 2011. Kajian Pemberian Pakan Kulit
Kakao Fermentasi Terhadap Pertumbuhan Sapi Bali Study Of Gift Of
Cocoa Husk Fermented Feed On Bali Cow Growth. Jurnal Agrisistem,
Desember 2011, Vol. 7 No. 2 ISSN 1858-4330.
Hardana, N. E., Suparwi dan F. M. Suhartati. 2013. Fermentasi Kulit Buah
Kakao (Theobroma cacao L.) MenggunakAN Aspergillus niger
Pengaruhnya Terhadap Kecernaan Bahan Kering (Kbk) Dan Kecernaan
Bahan Organik (Kbo) Secara In Vitro. Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3):
781-788, September 2013.
Magistrelli, D., L.Malagutti, G. Galassi dan F. Rosi. 2014. Cocoa Husks In Diets
Of Italian Heavy Pigs. Journal Of Animal Sciencedoi:
10.2527/jas.53970 2012, 90:230-232.
Merdekawani, S. dan A. Kaswiran. 2013. Fermentasi Limbah Kulit Buah Kakao
(Theobroma cacao L) Dengan Aspergillus niger Terhadap Kandungan
Bahan Kering Dan Abu. LENTERA: Vol.13 No.2 Juni 2013
Murni, R., Akmal dan Y. Okrisandi. 2012. Pemanfaatan Kulit Buah Kakao Yang
Difermentasi Dengan Kapang Phaenerochaete chrysosporum Sebagai
Pengganti Hijauan Dalam Ransum Ternak Kambing. AGRINAK. Vol.
02 No. 1 Maret 2012:6-10.
Muzakki, A. 2012. Tinjauan Pustaka. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Nuraini dan M. E. Mahata. 2009. Pemanfaatan Kulit Buah Kakao Fermentasi
Sebagai Pakan Alternatif Ternak Di Daerah Sentra Kakao Padang
Pariaman. DPPM Dikti Depdiknas Program Ipteks, 2009.

21