Anda di halaman 1dari 7

Bentuk Kelembagaan untuk Perumusan dan Implementasi Kebijaksanaan UKM

A. Arah Kebijaksanaan UKM


Pada masa lampau, selama tahun 1970an hingga pertengahan dekade 1980an,
perhatian pemerintah Indonesia ditujukan hanya kepada perkembangan UK (termasuk usaha
mikro), tidak ada perhatian secara eksplisit diberikan kepada perkembangan UM. Pada waktu
itu, kebijaksanaan UK dianggap sebagai satu bagian penting dari kebijaksanaan
kebijaksanaan

yang

menyangkut

penciptaan

kesempatan

kerja

dan

pendapatan,

penanggulangan kemiskman dan pembangunan ekonomi pedesaan. Akan tetapi, akhir akhir
ini, khususnya dalam menghadapi era perdagangan bebas yang mengharuskan adanya upaya
upaya peningkatan daya saing dan perekonomian nasional dan pemerintah menyadari
bahwa di Indonesia jumlah UB tidak banyak. Sedangkan jumlah UK sangat besar tetapi tidak
ada UM dalam yang besar dan kuat yang secara potensial dapat berfungsi sebagai
penghubung antara UK dan UB (misalnya lewat subcontracting), pemerintah muiai punya
kebijaksanaan UKM. Pernah sekali, seorang mantan Menteri Koperasi mengalakan sebagai
berikut: "Kita harus punya suatu kebijaksanaan UKM yang bagus untuk memberdayakan
UKM di dalam negeri yang secara potensial dapat memberi suatu kontribusi yang besar
terhadap pembangunan dan pertumbuhan eskpor kita. Di antara UK, perhatian kita harus
difokuskan kepada unit unit usaha yang modern, sedangkan usaha usaha mikro menjadi
tanggung jawab dari Departemen Sosial yang dikaitkan dengan kebijaksanaan pengurangan
kemiskman di tanah air". Menurut mantan Menteri tersebut, tujuan utama dan kebijaksanaan
UKM adalah untuk menciptakan suatu lingkungan usaha yang kondusif untuk pembangunan
dan peningkatan daya saing UKM dengan cara menghilangkan semua distorsi distorsi pasar
melalui deregulasi deregulasi dan pengurangan beban beban birokrasi.
Arab kebijaksanaan pengembangan UKM di Indonesia dinyatakan secara eksplisit di
dalam Garis garis Besar Haluan Negara (GBHN) Tahun 1999 2004. Pedoman
kebijaksanaan negara ini menggaris bawahi 28 butir mengenai arah kebijaksanaan
pembangunan ekonomi nasional untuk periode tahun 1999 2004. Kerangka kerja
kebijaksanaan terdiri dari tiga kebijaksanaan utama (Menegkop & UKM, 2000), yaitu:
1) Sistem ekonomi kerakyatan yang didasarkan pada mekanisme pasar dengan suatu
persaingan yang adil dan memperhatikan pertumbuhan ekonomi, keadilan, prioritas pada
sosial), kualitas hidup, lingkkungan dan pembangunan berkelanjutan. Sistem ini
menjamin kesempatan kesempatan bisnis dan kesempatan kerja yang sama, perlindungan
konsumen dan perlakuan yang adil terhadap masyarakat. Di bawah kerangka kerja

kebijaksanaan ini, memberdayakan KUKM rneniadi prioritas utama dalam pembangunan


ekonomi nasional. Usaha usaha mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan dapat
ditunjukkan dengan : (a) adanya suatu sistern persaingan yang adil yang menjamin
kesempatan bisnis dan kerja yang sama, (b) peranan pemerintah yang efektif dalam
menyempurnakan sistem pasar termasuk pengurangan pajak, (c) kebijaksanaan ekonomi yang
menciptakan kesempatan berusaha bagi KUKM, (d) suatu pertumbuhan kemitraan usaha
antar pengusaha UKM, dan (e) meningkatkan penerimaan positif dari masyarakat dalam
bisnis dan peningkatan dalam penerimaan dari masyarakat.
(2)

Penciptaan

sehingga

iklim

menjadi

bisnis

efisien,

yang
produktif

kondusif
dan

untuk

memberdayakan

kompetitif.

KUKM

Kebijaksanaan

ini

bertujuan untuk menciptakan suatu mekanisme yang adil di mana KUKM bias mendapat
keuntungan secara proporsional dan dapat bersaing secara adil dengan pemain pemain
bisnis lainnya. Pada dasarnya kebijaksanaan ini sejalan dengan kebijaksanaan
kebijaksanaan lainnya dari ekonomi makro, sekoral, dan pembangunan daerah, local yang
secara bersama sama memberikan dukungan komplementer untuk meningkatkan bisnis
KUKM.
(3) Kebijaksanaan peningkatan kapasitas KUKM yang bertujuan untuk membuat KUKM
mampu bersaing di pasar bebas dengan pelaku pelaku bisnis lainnya. Pada dasarnya,
kebijaksanaan ini bertujuan untuk menghilangkan segala kendala yang dihadapi KUKM,
seperti keterbatasan modal pasar dan input input untuk berproduksi, kekurangan dalam
kapabilitas manajemen, kekurangan pekerja dengan keahlian keahlian teknis, bisnis,
teknologi, dan keterbatasan akses ke informasi dan mitra usaha. GBHN tahun 1999
menekankan bahwa dukungan dari pemerintah terhadap penguatan KUKM harus
dilaksanakan secara selektif dalam bentuk perlindungan terhadap persaingan yang tidak adil,
peagembaagan DM lewat pendidikan dan pelatihan, diseminasi informasi mengenai bisnis
dan teknologi, penyediaan finansial, lokasi usaha dan kemitraan usaha dengan BUMN dan
perusahaan perusahaan besar swasta, penyediaan fasilitas fasilitas untuk agribisnis, IK
dan IRT (handicrafts), penyempurnaan dan pembangunan kapasitas dari lembaga lembaga
lokal dan utilisasi SDA.

Namun demikian, dalam realitas, kebijaksanaan UKM (terutama UK masih lebih


berorientasi kepada sosial daripada pasar atau persaingan. Kebijaksanaan UKM belum
sepenuhnya terintegrasi dalam kebijaksanaan ekonomi umum / makro di Indonesia.
Konsekuensinya, kebijaksanaan UKM di Indonesia tidak (belum) berfungsi sebagai elemen

elemen komplemen dan sektoral dari kebijaksanaan ekonomi seperti yang diharapkan. Oleh
sebab itu, tidak mengherankan apabila sampai saat ini masih saja terjadi tumpang tindih
antara kerja, pembangunan ekonomi dan masyarakat pedesaan, pemberdayaan perempuan
dan pengurangan kemiskinan. Bahkan, di dalam Strategi Industri Nasional yang dirumuskan
oleh Depperindag semasa pemerintahan Presiden Gus Dur, pentingnya dan peranan dari IKM
dalam pembangunan atau usaha usaha penyempurnaan daya saing dari industri nasional
tidak dinyatakan secara eksplisit, tidak ada peranan spesifik yang diberikan kepada IKM,
misalnya sebagai industri industri pendukung yang memproduksi komponen komponen,
spare parts, mesin mesin atau input input lainnya untuk IB.

Walaupun dalam GHBN 1999, dinyatakan bahwa sistem ekonomi kerakyatan


didasarkan pada mekanisme pasar dengan suatu persaingan yang adil dan memperhatikan
pertumbuhan ekonomi, sistem ini masih lebih terfokus pada isu isu seperti untuk
menjamin kesempatan bisnis dan kerja yang sama, perlindungan konsumen, dan suatu
perlakuan yang adil terhadap masyarakat". Tidak dikatakan secara eksplisit di dalam GBHN
tersebut misalnya seperti ini : "dalam menghadapi era perdagangan bebas dan globalisasi,
ekonomi nasional harus diberdayakan atau daya saing dari ekonomi Indonesia harus
ditingkatkan, dan untuk mencapai tujuan tersebut, UKM di dalam negeri harus diberdayakan
atau dimodernisasikan dan produktivitas, efisiensi dan daya saingnya harus ditingkatkan".
Oleh karena itu, penekanan utamanya harus pada pertanyaan bagaimana menyiapkan UKM di
Indonesia dalam menghadapi era perdagangan bebas, dan sebagai sumber utama
pertumbuhan ekonomi, bukan hanya sebagai sumber utama kesempatan berusaha bagi
masyarakat.

B. Struktur Pemerintahan
Pada tingkat nasional
Di bawah Konstitusi 1945, Indonesia dipimpin oieh seorang presiden yang dipilih
sekali lima tahun oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), yang termasuk parlemen
dan otoritas tertinggi negara. Presiden dapat menunjuk anggota anggota MPR dan
membentuk kabinet dan sejumlah menteri yang terdiri dan beberapa menteri Negara (non
departemen) dan menteri menteri yang mengepalai departemen departemen. Pelaksana
pemerintah adalah Presiden dan kabinetnya sedangkan kekuasaan legislatif di Indonesia
adalah di tangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Berdasarkan undang undang yang berlaku, fungsi fungsi utama dari MPR adalah

memilih presides dan wakilnya, dan menetapkan konstitusi dan garis garis besar dari
kebijaksanaan pemerintah dan negara. Sedangkan fungsi fungsi utama dari badan legislatif
(DPR) adalah membuat, merubah, menyempurnakan atau menyetujui usulan peraturan
peraturan atau undang undang, termasuk UU APBN berdasarkan usulan RAPBN dari
Menteri Keuangan yang berkoordinasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
(BAPPENAS) lewat Presiden dan membantu pelaksanaan dari undang undang dan realisasi
dari APBN dam kebijaksanaan pemerintah (lihat gambar .1) untuk memperlancar tugas
tugas tersebut, DPR membentuk 9 komisi adalah termasuk persiapaan, diskusi, dan
penyempurnaan dari undang undang yang diusulkan dalam bidangnya masing masing,
diskusi dan penyempumaan rencana APBN (RAPBN) yang diusulkan oleh pemerintah
(kabinet), dan melakukan monitor dan evaluasi. Komisi komisi ini secara rutin melakukan
dengar pendapat / dialog dengan departemen departemen maupun organisasi organisasi
non pemerintah seperti Kamar Dagang dan Industri (KADIN), asosiasi asosiasi bisnis dan
lain Iain mengenai berbagai macam isu isu aktual.
Kesembilan komisi komisi tersebut, masing masing dengan bidang / sektornya
adalah sebagai berikut :
Komisi 1

: Pertahanan dan keamanan, hubungan luar negeri dan informasi

Komisi 2

: Hukum, hak asasi manusia (HAM), dan masalah masalah dalam negeri.

Komisi 3

: Pertanian, kehutanan, dan kelautan (termasuk perikanan)

Komisi 4

: Transportasi, pemukiman dan infrastruktur daerah

Komisi 5

: Industri, perdagangan, koperasi, turisme

Komisi 6

: Agama dan pendidikan

Komisi 7

: Kesehatan dan kesejahteraan sosial

Komisi 8

: Energi, sumber daya mineral, penelitian dan teknologi, dan lingkungan

Komisi 9

: Keuangan, perbankan, perencanaan pembangunan

Dalam hal eksekutif, struktur pemerintah secara garis besar dapat dibagi ke dalam tiga
elemen utama : pembuatan kebijaksanaan dan koordinasi, manajemen dan pelaksanaan fungsi
fungsi oleh departemen departemen perwakilan perwakilan kunci yang bertanggung
jawab untuk setiap elemen adalah sebagai berikut :
a. Pembuat kebijaksanaan dan koordinasi
Kabinet terdiri dari sejumlah menteri yang memiliki kontrol secara keseluruhan dari
pemerintah, memimpin dan mengkoordinasi departemen departemen dan badan badan
dan menentukan kebijaksanaan kebijaksaan pemerintah.

b.Manajemen
Menten keuangan adalah manajemen kunci dari pemerintah dan bertanggung jawab atas
perumusan strategi ekonomi, kebijaksanaan fiskal (pendapatan pemerintah), anggaran
nasionanl (APBN), manajemen BUMN. dan pengembangan lembaga lembaga keuangan.
Seperti di Negara Negara lain. Kekuasaan atas sumber daya finansial yang dimiliki oleh
Menteri Keuangan membuatnya sebagai menteri yang paling berkuasa di Indonesia. Pada
tahun 1997, bank sentral dari Indonesia (Bank Indonesia, BI) dibuat independen dari
pemerintah, jadi posisi BI adalah di luar kabinet. BI mempunyai tanggung jawab terhadap
kebijaksanaan moneter, termasuk kebijaksanaan nilai tukar rupiah, dan pencapaian target
target inflasi yang ditetapkan oleh BI sendiri.
c. Departemen departemen
Departemen departemen pemerintah (umum disebut departemen teknis) secara tradisional
adalah motor utama untuk membuat menjalankan dan mengefektifkan kebijaksanaan
pemerintah dan dibiayai oleh Menteri Keuangan, atas persetujuan oleh Parlemen (DPR).
Departemen departemen biasanya punya satu hierarki pimpinan, dan dikepalai oleh seorang
menteri yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.
d. Menteri menteri Negara
Kementrian kementrian non departemen yang dikenal dengan sebutan Menteri Negara tidak
mengepalai suatu departemen. Mereka adalah asisten asisten dari Presiden yang berada di
bawah dan bertanggung jawab kepada presiden. Tugas utama mereka adalah untuk membantu
Presiden dalam merumuskan kebijaksanaan kebijaksanaan di bidang bidang tertentu
kegiatan kegiatan pemerintahan negara.
e. Badan badan pelaksana
Seperti di banyak Negara Negara lain, badan badan pelaksana dibentuk untuk
mematahkan struktur pemerintah yang kaku, yang susah digunakan, ke dalam unit unit
yang berdiri bebas dan lebih fleksibel, dan untuk memisahkan pemberian layanan dan
implementasi fungsi fungsi dari departemen departemen dan tanggung jawab tanggung
jawab utama dari pembuatan kebijaksanaan dan strategi. Badan badan tersebut adalah
seperti BAPPENAS, BPS (Biro Pusat Statistik), BKPM (Badan Koordinasi Penanaman
Modal), dan LAN (Lembaga Administrasi Negara).

Pada Tingkat Regional


Indonesia dibagi dalam lebih dari 30 propinsi, dan setiap propinsi dikelola oleh
seorang Gubernur dan suatu badan pembuat undang undang di tingkat regional, yaitu

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), yang mana anggota anggotanya dipilih melalui
pemilihan umum, yang memilih gubernur atas persetujuan presiden. Di antara propinsi
propinsi, ada lebih dan 200 kabupaten dan lebih dari 55 kotamadya atau kota, dikepalai
masing masing oleh Bupati. Dan walikota. Pada tingkat lebih rendah, ada banyak
kecamatan dan desa. Setiap pemerintah pemerintah propinsi, kabupaten dan kota mengatur
dan mengelola urusan urusan keperintahan mereka sesuai prinsip prinsip dari otonomi.
Gubernur, Bupati, dan Walikota dipilih secara demokrasi.
Dalam hal legislatif, berdasarkan UU No. 22/1999, Bupati / Walikota ditentukan oleh
DPRD Kabupaten / kota dan harus disetujui oleh Presiden, Bupati / Walikota bertanggung
jawab kepada DPRD : Setiap macam kebijaksanaan daerah yang dikeluarkan oleh Bupati /
walikota harus disetujui oleh DPRD. Oleh karena itu, peranan DPRD adalah untuk
mengawasi pelaksanaan dari undang undang / peraturan peraturan daerah yang
disetujuinya.

Tugas Hukum Koperasi Dan UKM

Bentuk Kelembagaan untuk Perumusan dan Implementasi


Kebijaksanaan UKM

Oleh
Nama: Ahmad Fajri
No.BP: 0810113433

Fakultas Hukum
Universitas Andalas
Padang
2014