Anda di halaman 1dari 2

Kitab kitab Deuterokanonika

Written by Rm. Danang


Friday, 15 October 2010 22:51
Alkitab Gereja Katolik (dan juga Gereja Yunani Ortodoks) mempunyai perbedaan
dengan Alkitab gereja-gereja Kristen Protestan. Alkitab Gereja Katolik memuat juga
kitab-kitab yang disebut Deuterokanonika. Istilah Deuterokanonika dipakai untuk
menyebut tujuh kitab dan tiga tulisan tambahan yang tidak terdapat dalam daftar
Kitab Suci Ibrani, tetapi terdapat dalam daftar Kitab Suci Yunani (Septuaginta),
yakni: Tobit, Yudit, Barukh, 1-2 Makabe, Kebijaksanaan Salomo, Yesus bin Sirakh,
Surat Nabi Yeremia (Barukh 6), Tambahan pada Kitab Ester (Est. 10:4-16:24), dan Tambahan
pada Kitab Daniel (Dan. 13-14).
1. Kitab Tobit
Berkisah tentang seorang bernama Tobit yang tertimpa kemalangan, tetapi anaknya yang
bernama Tobia dapat menyembuhkannya. Dan Tobia kemudian menikah dengan Sara. Lalu
seluruh keluarga itu berbahagia kembali. Tuhan memang melindungi orang yang takwa.
2. Kitab Yudit
Berkisah tentang seorang perempuan Israel di negeri Kanaan. Ia berhasil menyelamatkan
umat Israel dan kota Yerusalem dari serangan musuh yang dahsyat. Yudit menandaskan
bahwa umat kecil yang tidak berdaya tetapi setia kepada Tuhan, dapat bertahan dan bahkan
dapat memusnahkan kuasa jahat yang mengancam.
3. Kitab 1 Makabe
Berkisah tentang perang kemerdekaan umat Israel melawan penjajah. Tokoh utamanya adalah
Yudas yang bergelar Makabe. Mereka mendapatkan kemerdekaan politik dan agama. Umat
percaya bahwa hanya dengan iman dan kepercayaan mereka mendapat kekuatan hingga
berhasil mengalahkan musuh.
4. Kitab 2 Makabe
Berkisah tentang perang kemerdekaan yang sama. Kisah lebih pendek karena hanya berkisah
tentang Yudas Makabe saja.
5. Kitab Kebijaksanaan Salomo
Berupa wejangan dan renungan tentang berbagai masalah, khususnya soal kematian orang
baik dan nasibnya di alam baka nanti. Juga ada renungan tentang sejarah umat Israel yang
dipimpin oleh Hikmat Allah.
6. Kitab Yesus bin Sirakh
Berupa sekumpulan wejangan, renungan, petuah dan pepatah Yesus bin Sirakh.
7. Kitab Barukh
Melukiskan semangat orang-orang Yahudi di perantauan menjelang zaman Perjanjian Baru.
Pada kitab ini ditambahkan sebuah tulisan lain, yaitu surat dari Nabi Yeremia.

Gereja-gereja Kristen Protestan menyebut kitab-kitab Deuterokanonika sebagai tulisan-tulisan


Apokrif.[1] Kata Apokrif berasal dari bahasa Yunani yang artinya tersembunyi, terselubung,
rahasia.[2] Gereja Katolik menyebutnya sebagai Deuterokanonika (artinya: kanon kedua).
Sedangkan kitab-kitab yang tidak pernah diragukan kedudukannya sebagai bagian dari Kitab
Suci disebut Protokanonika (artinya: kanon pertama).
Bagaimana sejarah munculnya perbedaan?
Perbedaan ini terkait dengan sejarah agama Yahudi dan terbentuknya Kitab Suci. Sejak zaman
pembuangan Babel (abad 6 SM) tidak semua orang Yahudi tinggal di Palestina. Banyak di antara
mereka yang tinggal di luar Palestina, seperti di Mesir, Yunani, Roma, Babel dan sebagainya.
Orang Yahudi di Palestina memiliki daftar kitab yang disebut sebagai Kitab Suci, demikian pula
orang Yahudi di luar Palestina memiliki daftar mereka sendiri. Sekitar tahun 100 Masehi, para
rabbi (imam Yahudi) berkumpul di Jamnia (Palestina) dan menetapkan daftar kitab-kitab yang
diterima sebagai Kitab Suci.
Daftar Kitab Suci yang dipakai oleh orang Yahudi di luar Palestina lebih luas dari yang dipakai
di Palestina, karena mencakup juga kitab-kitab yang sekarang digolongkan sebagai kitab-kitab
Deuterokanonika. Umat kristiani mengikuti daftar Kitab Suci yang berlaku di kalangan orang
Yahudi di luar Palestina itu. Mereka tetap mengakui kitab-kitab yang tidak lagi diterima oleh
orang-orang Yahudi. Gereja-gereja Protestan, yang kemudian memisahkan diri dari Gereja
Katolik, menyesuaikan diri dengan daftar Kitab Suci orang Yahudi di Palestina, sehingga
muncullah perbedaan antara Katolik dan Protestan mengenai daftar Kitab Suci.

[1] Disini harus membedakan kata "apokrif" menurut paham protestan dan menurut paham
katolik. Apa yang oleh orang protestan disebut "apokrif"
oleh katolik disebut "deuterokanonika." Sedangkan apa yang disebut
apokrif oleh orang katolik, oleh orang protestan disebut "pseudepigrapha"
(tulisan tiruan).
[2] Maka, kitab-kitab apokrif adalah kitab-kitab yang ditulis dan beredar, tetapi tidak diterima
sebagai tulisan yang terinspirasi dari roh kudus dan tidak termasuk dalam kanon.