Anda di halaman 1dari 26

PENELITIAN KUANTITATIF

Kelompok 3:
1.
2.
3.
4.
5.

Linda Devi Fitriana


Dinah Dessy Sukmawati
Ari Sandi Setiawan
Inayatul Istifak
Jatu Sinta Dewi

(113174060)
(113174067)
(113174068)
(113174069)
(113174205)

2011 C
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

PENELITIAN KUANTITATIF
A. Pengertian Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif menggunakan pola pikir kuantitatif yang terukur dan
teramati, kerangka teori dirumuskan secara spesifik dan bertujuan menyusun
generalisasi.Penelitian

kuantitatif

bertujuan

untuk

mendeskripsikan

dan

memverifikasi atau menguji suatu gejala. Penelitian ini mengikuti paradigma


empirisme dalam menjelaskan suatu gejala.
Langkah-langkah penelitian:
Penelitian tersebut dimulai dengan penetapan objek studi yang spesifik, kerangka
teori sesuai dengan objek studi, dimunculkan hipotesis, instrumentasi pengumpulan
data, teknik sampling, dan teknik analisis.
Penelitian kuantitatif meliputi penelitian yang bersifat non eksperimen dan
eksperimen. Penelitian non eksperimen dilakukan tanpa memberikan perlakuan atau
intervensi terhadap variabel-variabel yang diteliti sedangkan pada penelitian
eksperimen dilakukan intervensi terhadap suatu variabel penelitian.
Penelitian kuantitatif non eksperimen termasuk juga dalam penelitian
deskriptif, yaitu penelitian yang mendeskripsikan suatu gejala secara kuantitatif
(memakai statistik) atau mendeskripsikan secara konseptual (kualitatif). Penelitian
eksperimen meliputi eksperimen sebenarnya, eksperimen semu (quasi-experimental),
dan pra-eksperimen.
B. Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen didasarkan pada pemikiran John Stuart Mill (1872)
yang mengatakan bahwa jika kedua situasi serba sama dalam segala hal, kemudian
ditambah suatu elemen pada salah satu situasi tadi (situasi yang lain dibiarkan tetap),
maka perbedaan yang berkembang diantara kedua situasi merupakan akibat elemen
tambahan tadi.
Pada penelitian eksperimen, peneliti memanipulasi suatu stimulus, perlakuan,
atau kondisi-kondisi eksperimental, kemudian mengamati pengaruh atau perubahan
yang diakibatkan dari manipulasi secara sengaja dan sistematis. Untuk mendapatkan
pengaruh yang sebenar-benarnya dari faktor-faktor yang dimanipulasi, maka peneliti
melakukan kontrol yang cermat terhadap kemungkinan masuknya pengaruh faktor
lain.

Penelitian ini dilakukan untuk menguji hipotesis. Oleh karena itu, setelah
masalah dibatasi dengan tegas dan operasional, peneliti perlu mengembangkan
hipotesis yang akan diujinya.
Pada penelitian eksperimen, karena tujuannya melakukan perbandingan suatu
akibat perlakuan tertentu dengan suatu perlakuan lain yang berbeda atau dengan tanpa
perlakuan, maka dikenai dua kelompok perbandingan yaitu kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol. Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebisa mungkin
sama atau mendekati ciri-ciri yang sama. Kelompok eksperimen diberikan suatu
perlakuan atau kondisi tertentu sedangkan pada kelompok kontrol tidak diberikan.
Kemudian kedua kelompok tersebut diamati untuk melihat perbedaan atau perubahan
pada kelompok eksperimen dengan membandingkannya dengankelompok kontrol.
Hasilnya dibandingkan secara statistik.
Pada penelitian eksperimen tidak harus perbandingan dari dua kelompok
tersebut, dapat saja semua kelompok merupakan kelompok eksperimen yang diujikan.
Contoh pada pendidikan matematika untuk melihat efektivitas frekuensi pemberian
tes atau latihan, satu kelompok dirancang satu sampai dua kali tes tiap pokok bahasan,
kelompok kedua dirancang tiga sampai empat kali, sedangkan kelompok ketiga lebih
dari empat kali tes tiap pokok bahasan.
-

Penelitian eksperimen sebenarnya


Penelitian eksperimen sebenarnya dilakukan peneliti dengan mengontrol variabelvariabel secara ketat, melakukan sampel secara acak (random), dan data terukur
secara cermat (precise). Penelitian ini biasa dilakukan di laboratorium seperti
penelitian kimia, biologi atau fisika.

Penelitian eksperimen semu


Penelitian eksperimen semu merupakan penelitian eksperimen yang kontrolnya
tidak dapat dilakukan secara ketat, derajat keacakan sampel lebih rendah
dibandingkan dengan derajat keacakan pada penelitian eksperimen sebenarnya
dan kecermatan pengukuran data lebih rendah dibandingkan dengan kecermatan
pengukuran data pada penelitian eksperimen yang di laboratorium. Penelitian ini
sering diterapkan pada bidang sosial termasuk pendidikan matematika.

Penelitian pra-eksperimen
Penelitian pra-eksperimen merupakan penelitian awal yang dilakukan untuk
menggali atau mendalami suatu masalah yang dapat dikembangkan untuk
penelitian selanjutnya.

C. Variabel Penelitian
Variabel adalah kondisi, karakteristik atau atribut yang dimanipulasi,
dikontrol, diamati atau menjadi pusat perhatian peneliti. Umumnya dalam
eksperimen, variabel dibedakan menjadi dua kelompok yaitu variabel bebas
(independent variable) dan variabel terikat(dependent variable).
-

Variabel bebas
Variabel bebas adalah suatu kondisi atau karakteristik yang merupakan

manipulasi atau perlakuan yang diberikan pada suatu kelompok untuk menerangkan
hubungan dengan fenomena yang diobservasi.
-

Variabel terikat
Variabel terikat adalah suatu kondisi atau kerakteristik yang berubah atau

muncul/tidak muncul ketika peneliti memberikan manipulasi atau perlakuan. Dengan


kata lain variabel terikat adalah suatu kondisi yang muncul sebagai akibat dari
variabel bebas. Variabel bebas contohnya adalah metode, strategi, atau model
pembelajaran tertentu, bahan belajar dengan model tertentu, atau model penilaian
tertentu. Variabel terikat misalkan hasil belajar, kesalahan-kesalahan konsep,
frekuensi pertanyaan, atau aktivitas tertentu.
Variabel lain yang perlu diperhatikan antara lain, variabel organismik atau
atribut, variabel intervensi (intervening), dan variabel imbuhan (extraneous).
-

Variabel organismik
Variabel organismik atau atribut mengacu pada karakteristik yang tidak dapat

diubah peneliti. Variabel bebas seperti umur, jenis kelamin, suku atau lainnya yang
serupa, semua sudah demikian adanya tidak berubah. Contoh itu dinamakan variabel
organismik yang dapat digunakan untuk studi eksperimen.
-

Variabel intervensi
Variabel intervensi adalah suatu variabel yang tak dapat dikontrol atau diukur

secara langsung, tetapi dapat memberi akibat atau pengaruh terhadap hubungan
variabel bebas dan variabel terikat. Variabel ini mengintervensi hubungan sebabdan
akibat dari variabel bebas dengan variabel terikat. Misalkan seorang peneliti ingin
meninjau pengaruh penggunaan media belajar kartu tanya terhadap kemampuan
memecahkan masalah matematika. Dalam hubungan ini variabel intervensi misalkan
kecemasan, motivasi, minat, keletihan, atau perhatian yang sulit didefinisikan dalam
istilah operasional tetapi sangat mungkin memberi pengaruh. Variabel itu tidak dapat

diabaikan, tapi harus harus diperhatikan atau menjadi bahan diskusi pembahasan hasil
penelitian. Dalam penelitian eksperimen, jika memungkinkan variabel

itu

dipertimbangkan atau dikendalikan.


-

Variabel imbuhan
Variabel imbuhan adalah variabel yang tidak dapat dikontrol atau

dimanipulasi oleh peneliti yang mungkin mempunyai pengaruh berarti pada variabel
terikat. Contoh variabel imbuhan seperti kompetensi guru, antusias, usia, tingkat
social ekonomi, atau kesanggupan akademik siswa. Ketika meneliti tentang efektivitas
model pembelajaran tertentu, sangat sulit (bahkan tidak mungkin) mengeliminir
keseluruhan variabel imbuhan, terutama di ruang kelas. Cara yang mungkin adalah
menetralisir pengaruh variabel tersebut. Caranya adalah dengan meniadakan variabel,
penjodohan kasus, penyeimbangan kasus, dan analisis kovarian.
Meniadakan variabel imbuhan dilakukan dengan jalan menyamakan
karakteristik dari variabel tersebut, contoh hanya memilih subjek yang laku-laki,
sehingga veriabel jenis kelamin dieliminir. Tapi harus diingat bahwa tidak semua lakilaki mempunyai keseragaman karakteristik. Cara berikutnya dengan memilih
pasangan individu yang sama atau mendekati sama karakteristiknya, kemudian
dikelompokkan sebagai kelompok kontrol. Kesulitannya mencari individu yang
berkesamaan dalam lebih satu variabel. Beberapa individu mungkin dikeluarkan dari
eksperimen, karena tidak memenuhi persyaratan perjodohan. Kelemahan lain karena
syarat acak dalam pemilihan kelompok eksperimen dapat tidak memuaskan.
Penyeimbangan kasus terkait dengan pemilihan subjek pada kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol yang dilakukan sedemikian rupa mendekati sama
nilai rata-rata (mean) dan varians diantara kedua kelompok itu. Karena
penyeimbangan itu tidak identik benar, maka peneliti harus menentukan seberapa
besar penyimpangan yang dapat ditolerir sehingga tidak menghilangkan pengontrolan
yang relatif memuaskan. Kesulitan dari cara ini adalah ketika menyamakan basis
kelompok pada variabel itu. Cara terakhir dengan analisis kovarian merupakan cara
dengan menggunakan metode statistik, caranya dengan menggunakan pretes sebagai
kovarian.

D. Validitas
Suatu penelitian eksperimen akan memberi kontribusi yang berarti bagi
pengetahuan, jika memenuhi validitas internal dan validitas eksternal. Suatu
eksperimen akan memenuhi validitas internal, jika faktor yang dimanipulasi melalui
variabel bebas akan member efek pada fenomena yang terjadi pada variabel terikat.
Bila suatu penelitian hanya memenuhi validitas internal, maka nilai praktis
penemuannya akan rendah. Sehingga diperlukan hasil yang lebih luas, di luar latar
eksperimentasi yang disebut validitas eksternal. Validitas eksternal artinya bahwa
hubungan antara dua atau lebih variabel dapat digeneralisasikan pada situasi non
eksperimen atau digeneralisasikan pada latar lain atau populasi lain.
Pada pendidikan terdapat kendala untuk memenuhi keduanya secara tepat atau
pasti. Validitas internal sulit untuk dicapai, karena banyaknya variabel imbuhan yang
harus dikontrol dan bila dilakukan pengontrolan belum tentu sempurna. Bila
diterapkan pengontrolan secara ketat, keadaannya menjadi tidak realistiktidak lazim,
sehingga mengurangi validitas eksternal eksperimen itu sendiri. Untuk mengatasi hal
tersebut diperlukan kompromi bagaimana menyeimbangkan kedua validitas tersebut.
Faktor yang mengganggu validitas internal antara lain kematangan, peristiwa
yang tiba-tiba, proses ujian, instrument pengumpulan data yang tak stabil, regresi
statistic, pemilihan sampel yang berbeda(tidak homogen), hilangnya/kadaluarsa
sampel. Peristiwa yang tiba-tiba seperti suatu kelompok mungkin sakit atau ada
bencana dapat mengurangi validitas internal. Proses ujian seperti memberi tes awal
akan mempengaruhi subjek bahwa ada suatu penelitian sehingga perilaku subjeknya
berubah atau menjadikan subjek lebih siapdan terampil menyelesaikan tugas yang
merupakan perlakuan penelitian. Pengukuran dengan instrument yang tidak reliabel
maupun tidak akurat akan mengancam validitas internal penelitian. Regresi statistic
merupakan gejala yang terjadi pada pola pretes-postes. Subjek yang nilainya tinggi
pada

pretes,

umumnya

pada

postes

mendapat

nilai

tinggi

pula,sehingga

pencapaiannya(berupa selisih pretes-postes) menjadi rendah. Sebaliknya subjek pretes


rendah, umumnya setelah perlakuan mendapat nilai tinggi pada postes, sehingga
pencapaiannya tinggi. Pada situasi pretes-postes terdapat suatu regresi normal kea rah
nilai rata-rata yang pada ulanya nilai tertinggi atau terendah bukanlah yang
mendapatkan pencapaian tertinggi atau terendah, tetapi yang tertinggi atau terendah
pada pretes. Bila hal ini tidak disadari akan menjadi kesalahan peneliti yang
menyesatkan.

Pemilihan sampel yang bias dan ekuivalen/homogeny akan berpengaruh


terhadap validitas internal. Biasanya karena pemilihan kelompok eksperimen
dilakukan berdasar kesadaran, sedang kelompok kontrol tidak demikian, maka
ekuivalensinya tidak terjaga. Hal ini terjadi karena selama proses penelitian
banyaknya subjek berkurang karena suatu hal, seperti kematian atau ditugaskan pihak
sekolah. Padahal pemilihan subjeknya sudah acak dan ekuivalen. Bila kondisi
berubah, maka akan mengubah kondisi kedua kelompok penelitian.
Validitas penelitian lain adalah validitas eksternal, yaitu validitas yang
bekaitan dengan kekuatan suatu eksperimen untuk digeneralisasikan penemuanpenemuannya atau hubungannya pada populasi yang lebih luas. Validitas eksternal
mempunyai beberapa ancaman yaitu latar eksperimen yang buatan, efek placebhawthorne, kontaminasi, campur tangan perlakuan sebelumnya, pengujian, pilihan
sampel atau kelompok kontrol-eksperimen yang bias. Karena penelitian eksperimen
menjaga pengaruh variabel imbuhan, maka dilakukan kontrol yang cermat dan ketat
untuk mengeliminirnya, sehingga kondisi di lapangan atau kelas. Kondisi ini
mengancam validitas eksternal.
Pengaruh placebo-hawthorne menunjukkan ancaman psikologi terhadap
subjek. Subjek sampel yang tahu bahwa mereka dalam kondisi diteliti(eksperimen)
akan mengikuti kondisi yang diharapkan dari penelitian. Placebo adalah istilah obat
yang digunakan untuk pengganti obat yang sama warna dan bentuknya dengan obat
yang igunakan untuk eksperimen. Hawthorne adalah suatu penelitian perusahaan
listrik di Chicago yang melihat pengaruh kualitas penerangan listrik dengan
efektivitas kerja para pekerja. Pada penelitian itu, suatu kelompok pekerja yang
peerangannya akin lama makin ditingkatkan menunjukkan peningkatan hasil kerja
perkerjanya. Berikutnya intensitasnya dikurangi, tetapi hasilnya ternyata pekerja tidak
mengalami

penurunan.

Hasil

ini

menunjukkan

adanya

faktor

lain

yang

mempengaruhi. Kesimpulannya karena pekerja mengetahui dirinya diperhatikan dan


dikenai eksperimen.
Bila penelitian sebelumnya mengetahui subjek-subjek yang masuk sebagai
sampel eksperimen, maka akan terjadi bias yang disebut kontaminasi. Bila peneliti
memberikan keputusan yang tidak objektif, maka akan menghalangi validitas
eksternal. Pada penelitian eksperimen, pengaruh perlakuan sebelumnya dapat
berpengaruh terhadap perlakuan berikutnya. Terutama pada ekperimen kelompok
tunggal, subjek sebagai kelompok kontrol juga sebagai kelompok eksperimen

penelitian pendiikan umumnya tidak bisa menghilangkan efek perlakuan penelitian


sebelumnya, sehingga terjadi campur tangan perlakuan sebelumnya (interference of
priortreatmen).
Pengujian dengan pola pretes selain mempengaruhi valiitas internal, juga
mempengaruhi validitas eksternal. Pemilihan subjek yang bias, sampel yang tidak
reperesentatif, pemilihannya tidak acak akan member dampak terhadap kesimpulan
yang dihasilkan, sehingga penemuannya tidak meyakinkan untuk digeneralisasi.

E. Penentuan Sampel Penelitian Eksperimen


Penelitian eksperimen simpulannya didasarkan pada suatu analisis statistik
terhadap bagian kecil data, yang dinamakan sampel . Sampel adalah kelompok kecil
yang diamati, sedang populasi adalah kelompok besar yang menjadi sasaran
generalisasi. Populasi dirumuskan sebagai semua kelompok orang, kejadian, atau
objek yang telah dirumuskan dengan jelas. Sampel adalah sebagian dari populasi.
Contoh populasi adalah sisiwa kelas VII SMP Negeri Sidoarjo, sedang sampelnya
siswa kelas VII SMP Negeri Sidoarjo.
Penentuan suatu sampel dalam populasi tidaklah sembarangan, harus
dilakukan penelitian yang sistematis sehingga sampel yang terambil benar benar
mewakili kondisi populasi atau representatif. Langkah dalam penarikan/penentuan
sampel, pertama adalah penetapan ciri-ciri populasi yang menjadi sasaran dan akan
diwakili oleh sampel penelitian. Contoh jika ingin meneliti tentang guru-guru
matematika yang mengajar disekolah Jawa Timur maka semua guru matematika yang
ada di situ menjadi populasi sasaran (target population). Biasanya peneliti
menetapkan ciri-ciri bagian populasi yang dapat dijangkau (accessible population).
Dari populasi yang dapat dijangkau itu, peneliti menetapkan sampel. Misalkan pada
cotoh sebelumnya, sasarannya guru-guru matematika yang hanya berada pada wilayah
atau kabupaten-kabupaten tertentu.
Penarikan sampel yang paling banyak dikenal adalah sampel acak (random
sampling). Langkah penentuan sampel acak adalah :
a. Merumuskan populasi
b. Membuat daftar semua anggota populasi
c. Memilih sampel dengan prosedur bahwa hanya faktor kebetulan saja yang
menentukan anggota sampel.

Penarikan secara acak kadang tidak representatif untuk penentuan sampel dan
tidak mesti menggambarkan karakteristik populasi. Teknik penarikan sampel adalah :
a. Penarikan sampel berlapis (stratified sampling)
b. Penarikan sampel berkelompok (cluster sampling)
c. Penarikan sampel secara sistematis (systematic sampling)
Penarikan sampel berlapis dilakukan apabila populasi terdiri dari sejumlah subkelompok atau lapisan (strata) yang mungkin mempunyai ciri berbeda. Cara
penentuan sampel berlapis adalah ditetapkan dulu lapisan yang diinginkan, kemudian
dari tiap-tiap lapisan ditarik sejumlah subjek. Keuntungan penarikan ini
memungkinkan peneliti menetapkan seberapa jauh setiap lapisan dalam populasi
terwakili dalam sampel.
Penarikan sampel berkelompok dilakukan bila anggota populasi bukanlah subjeksubjek langsung tetapi berupa tingkat sekolah atau kelompok tertentu. Penarikan ini
dilakukan karena satuan yang dipilih bukan individu-individu, tetapi sekelompok
individu yang secara alami berada bersama-sama dalam tempat itu. Individu-individu
ini mempunyai persamaan cirri yang ada hubungannya dengan variable penelitian.
Penarikan sampel secara sistematik dilakukan dengan cara mengambil setiap
kasus yang kesekian dari daftar populasi. Caranya, pertama ditetapkan dahulu banyak
sampel yang diinginkan. Anggota sampel pertama dipilih secara acak dari interval
pertama, kemudian secara sistematis setiap anggota ke-k dari populasi itu diambil
sebagai sampel. Teknik penarikan sampel ini tidak berdiri sendiri, tetapi dapat
dikombinasikan.
Besar sampel tergantung pada ketetapan yang diinginkan. Semakin banyak
sampel akan lebih besar peluang menduga parameter populasi dan data yang
digunakan lebih akurat dan tepat. Dengan kata lain semakin besar sampel, semakin
kecil kesalahan baku sampel itu (standart error). Banyaknya sampel tidak menjamin
keakuratan penelitian. Pertimbangan yang paling penting adalah kepresentatifan
sampel menggambarkan populasi.
Dalam penarikan kesimpulan kadang terdapat kesalahan tentang populasi
berdasarkan sampel, karena sampel acak dapat diduga mengalami perbedaan satu
dengan lainnya. Kesalahan penarikan kesimpulan dirumuskan sebagai perbedaan
antara parameter populasi dan statistik sampel. Penarikan kesimpulan dipengaruhi dua
hal, yaitu besarnya sampel dan simpangan baku pada populasi.

Rumus simpangan baku kesalahan penarikan kesimpulan adalah :

F. Hipotesis
Hipotesis memiliki peran yang sangat besar dalam penelitian ilmiah. Hipotesis
memungkinkan menghubungkan teori dan pengamatan. Hipotesi digunakan sebagai
upaya membangun pengetahuan, yang dilakukan dengan induktif melalui pengamatan
dan deduktif dengan penalaran logis. Hipotesis yang diperoleh secara induktif dari
mengamati tingkah laku individu dinamakan hipotesi induktif. Hipotesis yang
diperoleh dari hasil teori atau dari hasil penelitian sebelumnya dinamakan hipotesis
deduktif.
Sesudah menemukan masalah yang sesuai seorang peneliti kuantitatif, akan
merumuskan masalah dan memeriksa bahan pustaka yang berkaitan dan menyusun
suatu hipotesis. Hipotesis merupakan suatu pernyataan sementara yang diajukan untuk
memecahkan

masalah

atau

untuk

menerangkan

suatu

gejala.

Hipotesis

mengemukakan pernyataan tentang harapan peneliti menegenai hubungan antara


variabel-variabel didalam suatu masalah. Berikutnya hipotesis ini diuji dalam
penelitian sehingga diketahui apakah hipotesis diterima atau ditolak.
Sebagai contoh, seorang peneliti mengajukan masalah apa peran persepsi
anak tentang dirinya sendiri dalam proses belajar menghitung ?. Setelah mengenali
informasi dan kajian pustaka dirumuskan hipotesis ada hubungan positif persepsi
anak tentang diri mereka sendiri tentang hasil belajar menghitung. Pernyataan orang
lain, seperti apa pengaruh latihan terstruktur dirumah terhadap hasil belajar siswa
inklusif. Hipotesis yang mungkin siswa yang inklusif dan mendapat latihan
terstruktur dirumah akan mendapat nilai hasil belajar yang tinggi dibandingkan
dengan anak-anak inklusif yang tidak menerima latihan terstruktur. Dari dua contoh
terlihat bahwa hipotesis memuat hubungan antara dua variable.

Hipotesis harus dibuat karena memberi dasar yang kuat bahwa peneliti telah
mempunyai cukup pengetahuan untuk melakukan penelitian dibidangnya, dan
memveri ara prngumpulan dan penafsiran data. Hipotesis memberikan petunjuk
tentang prosedur apa yang harus digunakan dan jenis apa datanya. Dengan kegunaan
hipotesis tersebut adalah :
1. Memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan
perluasan pengetahuan dalam suatu bidang
2. Memberikan suat pernyataan hubungan langsung yang dapat diuji dalam penelitian
3. Memberikan arah pada penelitian
4. Meberikan kerangka untuk melaporkan simpulan suatu penelitian.
Ciri hipotesis yang baik adalah:
1. Hipotesis harus mempunyai daya pembeda yang jelas
2. Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada diantara variablevariabel
3. Hipotesis dapat diuji (testability)
4. Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada
5. Hipotesis hendaknya dinyatakan sederhana dan seringkas mungkin.
Setelah hipotesis dirumuskan dengan baik, maka dilakukan perancangan penelitian
yang didalamnya terdapat pengujiannya secara empirik.
G. Rancangan Penelitian Eksperimen
Rancangan
pelaksanaan

penelitian

eksperimen.

eksperimen

Rancangan

merupakan

penelitian

kerangka

eksperimen

konseptual

menggambarkan

prosedur-prosedur yang memungkinkan peneliti menguji hipotesis penelitiannya


untuk mencapai kesimpulan yang sevalid mungkin mengenai hubungan suatu variabel
bebas dan variabel terikat.
Rancangan penelitian eksperimen terdiri dari dua kelompok yaitu, kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen, variabel bebasnya
dimanipulasi, sedangkan pada kelompok kontrol variabel terikatnya yang diukur jadi
tidak ada perubahan yang dibuat pada variabel bebasnya. Pemilihan suatu jenis
eksperimen

didasarkan

pada

tujuan

eksperimen,

tipe-tipe

variabel

yang

dimanipulasikan, dan faktor-faktor atau kondisi-kondisi yang membatasi penanganan


suatu eksperimen itu sendiri.
Secara umum, ciri-ciri rancangan penelitian eksperimen yang baik adalah:
a. Subjek secara acak dipilih ke dalam kelompok-kelompok
b. Peneliti merancang manipulasi yang akan diberikan pada variabel eksperimen dan
dilakukan kontrol yang ketat
c. Terdapat setidak-tidaknya dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kontrol
yang satu sama lain sebagai pembanding
d. Selalu digunakan analisis varians untuk meminimalkan varians dan error dan
memaksimumkan varians dari variable yang diteliti dan berkaitan dengan hipotesis
yang ditetapkan.
Ada tiga prinsip dasar dalam pelaksanaan rancangan eksperimen yaitu:
a. Replikasi, pengulangan dari eksperimen dasar. Hal ini berguna untuk memberikan
estimasi yang lebih tepat terhadap error eksperimen dan memperoleh estimasi yang
lebih baik terhadap rata-rata pengaruh yang ditimbulkan dan perlakuan.
b. Randomisasi, bermanfaat untuk meningkatkan validitas dan mengurangi bias
utamanya dalam hal pembagian kelompok dan perlakuan.
c. Kontrol internal, melakukan penimbangan. bloking. dan pengelompokan dan unitunit percobaan yang digunakan. Hal ini bermanfaat untuk membuat prosedur yang
lebih akurat, efisien, dan sensitif.
Rancangan penelitian eksperimen dikelompokkan menjadi rancangan pra-eksperimen,
rancangan eksperimen semu,dan rancangan eksperimen sebenarnya.
A. Rancangan pra-eksperimen
Rancangan pra-eksperimen adalah rancangan yang kurang memadai, karena
tidak adanya suatu kelompok kontrol, atau tidak ekuivalen antara kelompok kontrol
dan kelompok eksperimen. Pada rancangan ini, masih terdapat variabel luar yang ikut
berpengaruh terhadap terbentuknya variabel terikat. Jadi hasil eksperimen yang
merupakan variabel terikat itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel bebas.

Rancangan yang termasuk pada kelompok ini adalah :


1. Studi kasus bentuk tunggal (the one shot case study).
X

Keterangan :
X = Manipulasi/perlakuan/treatment variabel eksperimen
T = Tes atau observasi
Pada rancangan ini, terdapat suatu kelompok yang diberi treatment (perlakuan)
dan selanjutnya diobservasi hasilnya (treatment sebagai variabel bebas dan hasil
adalah sebagai variabel terikat). Dalam eksperimen ini, subjek disajikan dengan
beberapa jenis perlakuan lalu diukur hasilnya. Bentuk ini sangat lemah kekuatannya
untuk generalisasi, dan variabel luar dapat membahayakan validitas internal dan
eksternal.
2. Rancangan Pretes-Postes Kelompok Tunggal (the one group, pretest-posttest
design).
T1

T2

Keterangan :
X = Manipulasi/perlakuan/treatment variabel eksperimen
T1 = Prates ; T2 = Pascates
Pada rancangan ini, terdapat pretest sebelum diberi perlakuan. Rancangan ini
lebih baik daripada yang pertama, karena dampak suatu perlakuan didasarkan pada
perbedaan antara prates dan pascates. Dengan demikian hasil perlakuan dapat
diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi
perlakuan. Tetapi pada rancangan ini, masih belum ada perbandingan dengan
kelompok kontrol.

3. Rancangan Perbandingan Kelompok Statik (the static group comparison design).


X

T1

--

T2

Keterangan :
X = Manipulasi/perlakuan/treatment variabel eksperimen
T1 = Tes pada kelompok eksperimen
T2 = Tes pada kelompok kontrol
Pada rancangan ini, terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian, tetapi
kelompok tersebut dibagi menjadi dua yaitu kelompok yang menerima perlakuan
(kelompok eksperimen) dengan kelompok yang tidak mendapat perlakuan (kelompok
kontrol). Kemudian kita bandingkan kelompok yang menerima perlakuan (kelompok
eksperimen) dengan kelompok yang tidak mendapat perlakuan (kelompok kontrol).
B. Rancangan eksperimen semu.
Tujuan rancangan eksperimen semu adalah untuk memperoleh informasi yang
merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang
sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan
memanipulasikan semua variabel yang relevan. Rancangan ini lebih baik daripada
kelompok yang pertama, karena dilakukan kontrol. Tetapi, terdapat kelemahan karena
umumnya ekuivalensi antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak ada,
karena ada pemilihan kelompok tidak dipilih secara acak.
Ciri-ciri rancangan eksperimen semu adalah:
a. Manipulasi eksperimen hanya pada variabel bebas.
b. Tidak ada pemilihan secara acak untuk kelompok
c. Tidak ada kelompok kontrol.

Rancangan yang termasuk pada kelompok ini adalah :


1. Rancangan Prates-Pascates yang Tidak Ekuivalen (the non ekuivalen, pretest-posttest
design).
T1X

T2X

T1

T2

Keterangan :
X = Manipulasi/perlakuan/treatment variabel eksperimen
T1X = Prates pada kelompok eksperimen
T2X = Pascates pada kelompok eksperimen
T1 = Prates pada kelompok kontrol
T2 = Pascates pada kelompok kontrol
Pada rancangan ini, kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak
dipilih secara acak, tetapi diperkirakan yang kondisi/keadaannya sama. Rancangan ini
biasanya menggunakan kelas-kelas yang sudah ada sebagai kelompok kontrol maupun
kelompok eksperimen. Dalam rancangan ini, baik kelompok kontrol maupun
kelompok eksperimen dibandingkan, meskipun kelompok tersebut tidak dipilih secara
acak. Dua kelompok yang ada diberi pretes, kemudian diberikan perlakuan, dan
terakhir diberikan postes.
2. Rancangan Prates-Pascates pada Kelompok Tunggal yang materinya Ekuivalen
(the equivalent material, single group, pretest-postest design).
Pa

T1X

PB

T1

--

T2X

T2

Keterangan :
X = Manipulasi/perlakuan/treatment variabel eksperimen

T1X = Prates pada kelompok eksperimen


T2X = Pascates pada kelompok eksperimen
T1 = Prates pada kelompok kontrol
T2 = Pascates pada kelompok kontrol
Pada rancangan ini, dipilih kelompok/kelas yang sama baik untuk eksperimen
maupun kontrol. Semua kelompok menerima semua perlakuan, hanya dalam urutan
perlakuan yang berbeda-beda, dan dilakukan secara acak. Pada putaran pertama
digunakan sebagai kelompok eksperimen (Pa) dan pada putaran kedua digunakan
sebagai kelompok kontrol (Pb), atau sebaliknya. Rancangan ini dapat mengurangi
pengaruh dari luar.
Rancangan ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain :
a. Sering sulit mendapatkan materi pelajaran yang benar-benar setara dalam berbagai
segi daya tarik, tingkat kesulitan, atau prasyarat materi sebelumnya
b. Pada putaran kedua, sebenarnya siswa sudah lebih matang daripada putaran
sebelumnya
c. Kejadian-kejadian khusus (eksternal) belum tentu sama baik jenis maupun
jumlahnya pada putaran satu maupun dua
d. Bisa terjadi pengaruh perlakuan pertama ikut bercampur pada perlakuan kedua
e. Prosedur tes pada putaran satu dapat mempengaruhi pencapaian pada putaran
kedua, karena pengalaman sebelumnya
f. Bila dilakukan cukup lama, subjek penelitian dapat saja berkurang pada putaran
kedua
g. Ada bahaya kontaminasi penilaian karena pengetahuan hasil putaran pertama dapat
mempengaruhi objektivitas penilaian di putaran kedua.
Untuk mengurangi keterbatasan ini dapat dilakukan replikasi dengan putarannya
menjadi 4 putaran.
P1

T1X

P2

T1

--

T2X

T2

P3

T1X

P4

T1

--

T2X

T2

Keterangan :
X = Manipulasi/perlakuan/treatment variabel eksperimen
T1X = Prates pada kelompok eksperimen
T2X = Pascates pada kelompok eksperimen
T1 = Prates pada kelompok kontrol
T2 = Pascates pada kelompok kontrol
P1, P2, P3, P4 = Putaran ke 1,2,3, dan 4 pada kelas yang sama.
Kelebihan rancangan eksperimen semu adalah :
Pada penelitian ekperimen semu tidak mempunyai batasan yang ketat terhadap
randomisasi dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancama-ancaman validitas.
Kelemahan rancangan eksperimen semu adalah :
Tidak adanya randomisasi, yang berarti pengelompokan anggota sampel pada
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak dilakukan dengan random atau
acak.
Kontrol terhadap variabel-variabel yang berpengaruh terhadap eksperimen tidak
dilakukan, karena eksperimen ini biasanya dilakukan di masyarakat.
C. Rancangan eksperimen sebenarnya.
Dikatakan rancangan eksperimen sebenarnya, karena dalam rancangan ini
peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya
eksperimen. Dengan demikian validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan
penelitian) dapat menjadi tinggi. Ciri utama dari eksperimen sebenarnya adalah
sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil

secara acak dari populasi tertentu.Tujuan penelitian eksperimental sungguhan adalah


untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan cara memberikam
kepada satu atau lebih kelompok eksperimental satu atau lebih kondisi perlakuan dan
membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai
kondisi perlakuan.
Eksperimen yang sebenarnya dalam pendidikan cukup sulit dilakukan karena
berhadapan dengan manusia yang bukan benda mati seperti di laboratorium.
Rancangan yang termasuk pada kelompok ini adalah:
1. Rancangan hanya pascates pada kelompok ekuivalen
X

T1

--

T2

Pada rancangan ini, kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol


mempunyai kesamaan kondisi-kondisi dan dipilih secara acak. Selanjutnya kelompok
eksperimen diberikan perlakuan. Setelah perlakuan diberikan dalam jangka waktu
tertentu, maka setelah itu dilakukan pengukuran variabel terikat pada kedua kelompok
tersebut, dan hasilnya dibandingkan perbedaannya.Perbedaan rata-rata hasil tes
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diuji signifikannya melalui tes statistik
tertentu, misal tes analisis varian. Asumsinya, kalau sampel diambil secara acak dari
popoulasi yang sama, maka nilai rata-ratanya akan sama. Kalau ada perbedaan,
biasanya karena kesalahan pengambilan sampel dan pengaruh variabel perlakuan.
2. Rancangan Prates-Pascates pada Kelompok-kelompok Ekuivalen
T1X

T2X

T1

--

T2

Rancangan ini mirip dengan sebelumnya hanya digunakan prates pada kedua
kelompok. Rancangan ini lebih baik daripada rancangan eksperimen tanpa pre tes,
karena akan lebih akurat dalam memperoleh akibat dari suatu perlakuan dengan

perbandingan keadaan dari variabel terikat pada kelompok eksperimen setelah dikenai
perlakuan dan variabel kontrol yang tidak dikenai oleh perlakuan. Pencapaian yang
merupakan perbedaan atau selisih dari pascates dan prates antara nilai rata-rata
kelompok eksperimen dan kontrol diuji menggunakan analisis varian. Bila
diguanakan analisis kovarian dengan nilai prates sebagai kovariatnya, rancangan ini
akan lebih efektif dan cukup kuat validitas eksperimennya.
3. Rancangan Empat Kelompok Soloman
T1X

T2X

T1

--

T2

T3X

--

T3

Rancangan ini sebenarnya perpaduan dari rancangan dua kelompok ekuivalen


hanya pascates dan rancangan prates-pascates. Dalam rancangan ini, dimana salah
satu dari empat kelompok dipilih secara random. Dua kelompok diberi pratest dan dua
kelompok tidak. Kemudian satu dari kelompok pratest dan satu dari kelompok
nonpratest diberi perlakuan eksperimen, setelah itu keempat kelompok ini diberi
posttest.Rancangan ini memungkinkan untuk mengevaluasi efek utama variabel
eksperimental dan juga mengetahui efek faktor-faktor yang mengancam validitas
eksperimen.Rancangan ini memiliki keunggulan untuk mengurangi pengaruh pre-test
terhadap unit percobaan dan mengurangi error interaksi antara pre-test dengan
perlakuan.
4.

Rancangan Faktorial
Rancangan faktorial digunakan untuk mengetahui dua atau lebih variabel yang

dimanipulasi secara simultan memberi efek pada variabel terikat, disamping pengaruh
yang disebabkan interaksi antara variabel-variabel tersebut.

Variabel

Variabel Eksperimen (X1)

Atribut (X2)

Perlakuan A

Perlakuan B

Tingkatan 1

Kotak 1

Kotak 3

Tingkatan 2

Kotak 2

Kotak 4

Variabel bebas yang dimanipulasi dinamakan variabel eksperimen, sedang


variabel bebas kedua yang dibagi menjadi beberapa tingkatan disebut variabel atribut.
Pengaruh perlakuan eksperimental pokok terhadap variabel terikat dinilai pada setiap
tingkatan variabel yang lain.
Pada rancangan ini, peneliti tertarik pada pengaruh satu variabel bebas saja,
tetapi mempertimbangkan variabel-variabel lain yang mungkin berpengaruh pada
variabel trikat.
Kelebihan rancangan ini adalah :
a. Dapat menyelesaikan dalam satu kali eksperimen, mungkin desain lain bisa lebih
dari dua studi yang terpisah.
b. Memberikan kesempatan untuk menyelidiki interaksi yang begitu penting dalam
penelitian pendidikan.
c. Memberikan pengujian yang lebih kuat terhadap hipotesis.

H. Pengujian Statistik
Dalam melakukan penelitian eksperimen, setelah rancangan dibuat dan
dilakukan pengambilan data yang sesuai, maka hasil tersebut akan diuji menggunakan
uji statistik. Ilmu yang diterapkan adalah Statistika Inferensial, yaitu ilmu untuk
membuat keputusan yang masuk akal dengan menggunakan keterangan yang terbatas.
Alat utamanya sering dikenal dengan istilah hipotesis nol (null hypothesis).
Misalkan kita akan meneliti tentang pengaruh perbedaan model pembelajaran
terhadap penguasaan konsep bilangan pada siswa kelas IV SD. Siswa akan dibagi ke
dalam kelompok A dan kelompok B. Perbedaan antara kelompok A dan kelompok B
hanya terletak pada model yang digunakan. Untuk memastikan perbedaan tersebut
bukan karena faktor kebetulan, maka peneliti melakukan uji statistik dengan
merumuskan hipotesis nolnya. Hipotesis nol adalah suatu pernyataan bahwa tidak ada
hubungan antara variabel-variabel yang dibicarakan dan setiap hubungan-hubungan

yang tampak hanyalah faktor kebetulan saja. Dari contoh di atas, hipotesis nolnya
adalah tidak ada hubungan antara model pembelajaran dan penguasaan konsep
bilangan pada siswa kelas IV SD.
Secara simbolik dapat ditulis H0:A=B
A=Mean semua siswa kelas IV SD yang diajarkan dengan model A
B=Mean semua siswa kelas IV SD yang diajarkan dengan model B
Peneliti dalam mengambil

kesimpulan bisa saja menerima atau menolak

hipotesis nol. Jika hipotesis nol benar, maka peneliti benar bila menerimanya dan
salah kalau ia menolaknya. Penolakan hipotesis nol yang benar dinamakan kesalahan
jenis pertama. Jika hipotesis nol salah, peneliti salah kalau menerimanya dan benar
kalau menolaknya. Penerimaan hipotesis nol yang salah dinamakan kesalahan jenis
kedua.Kesalahan kedua jenis ini akan memberikan pengaruh yang merugikan, jika
hasil penelitian tersebut digunakan untuk pengambilan keputusan, seperti terbuangnya
dana yang besar, waktu, atau kerugian materi lainnya.
Untuk menghindari kesalahan jenis pertama dan kedua, peneliti sebelum
eksperimen perlu menetapkan ukuran seberapa kuat bukti itu sebelum menolak
hipotesis nol. Ukuran itu dinamakan taraf signifikan (level of significance). Taraf
signifikanadalah resiko terjadinya kesalahan jenis pertama yang siap diambil oleh
peniliti dalam penolakan hipotesis nol. MIsalkan, peneliti menetapkan taraf
signifikannya 0,01 berarti bahwa hipotesis nol itu akan ditolak apabila kemungkinan
hubungan yang disebabkan oleh faktor kebetulan saja adalah satu dalam seratus. Taraf
signifikansi yang lazim pada penelitian pendidikan adalah 0,01 dan 0,05.
I. Penelitian Ex Post Facto
Istilah ex post facto berasal dari bahasa Latin yang berarti sesudah fakta.
Ardhana (1987:130) menyampaikan pendapatnya tentang penelitian ex post facto.
Dalam penelitian ex post facto, peneliti mencoba memberikan penjelasan terhadap
fakta-fakta yang sudah terjadi. Furchan (1982:382) menyatakan bahwa penelitian
tersebut dilakukan sesudah perbedaan-perbedaan dalam variabel bebas itu terjadi
karena perkembangan kejadian tersebut secara alami. Lebih lanjut, Kerlinger (dalam
Furchan, 1982:382) memberikan batasan tentang penelitian ex post facto.
Menurutnya, penelitian ex post facto adalah penyelidikan empiris yang sistematis di

mana peneliti tidak mengendalikan variabel bebas secara lengsung karena perwujudan
variabel tersebut telah terjadi atau karena variabel tersebut pada dasarnya memang
tidak dapat dimanipulasi.
Penelitian pada hakikatnya mencari jawaban atas masalah yang menuntut
jawaban yang benar, setidak-tidaknya mendekati kebenaran yang logis menurut
penalaran manusia dan didukung oleh fakta empiris. Ex post Facto secara sederhana
yaitu penelitian yang dilakukan setelah suatu kejadian itu terjadi. Disebut juga sebagai
restropective study karena penelitian ini merupakan penelitian penelusuran kembali
terhadap suatu peristiwa atau suatu kejadian dan kemudian merunut ke belakang
untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut. Ex post
Facto sebagai metode penelitian menunjuk kepada perlakuan atau manipulasi variabel
bebas X telah terjadi sebelumnya sehingga peneliti tidak perlu memberikan perlakuan
lagi, tinggal melihat efeknya pada variabel terikat.
Pada eksperimen, peneliti dituntut memberikan perlakuan variabel bebas,
sedangkan pada penelitian ex post facto peneliti tidak dituntut memberikan perlakuan
variabel bebas, namun pengukuran efek dari variabel bebas pada variabel terikat dari
eksperimen maupun ex post facto tetap dilakukan.
Metode ex post facto dapat dilakukan apabila peneliti telah yakin bahwa perlakuan
variabel bebas telah terjadi sebelumnya. Metode ini banyak dilakukan dalam bidang
pendidikan, sebab tidak semua masalah pendidikan dapat diteliti dengan metode
eksperimen. Dalam banyak variabel bebas dalam pendidikan tidak dapat
dimanipulasikan oleh peneliti secara langsung (eksperimen).
Dengan demikian penelitian ex post facto dapat mengkaji hubungan dua variabel
bebas atau lebih dalam waktu yang bersamaan untuk menentukan efek variabel bebas
tersebut pada variabel terikat.
Perbedaan Ex post Facto dan Eksperimen
Dalam uraian di atas telah disinggung beberapa kesamaan dan perbedaan ex
post facto dan ekperimen. Kedua penelitian ini sama-sama berusaha menemukan dan
mengungkapkan atau menentukan hubungan antara variabel-variabel dalam data hasil
penelitian. Oleh sebab itu persamaan logika dasar dari kedua penelitian tersebut
terutama dalam menetapkan masalah dan variabel serta kaitan antara variabel satu
dengan variabel lainnya seperti variabel bebas dengan variabel terikat.
Logika

lain

adalah

kesamaan

dalam

pendekatan

penelitian,

yakni

membandingkan dua kelompok yang serupa dalam semua karakteristik kecuali satu,

agar dapat mengukur efek dan karakteristik tersebut. Dengan demikian banyak
informasi yang ditemukan dalam eksperimen terdapat atau ditemukan juga dalam ex
post facto. Kedua penelitian juga dapat menguji hipotesis mengenai hubungan
variabel bebas dengan vaiabel terikat.
Beberapa perbedaan dari kedua penelitian tersebut nampak dalam hal teknik
perolehan data atau informasi dan kesahihan temuan penelitian. Dengan eksperimen,
peneliti dapat memperoleh informasi yang lebih meyakinkan dan akurat untuk
hubungan kausal atau fungsional antara variabel-variabel daripada penelitian ex post
facto. Pengaruh variabel ekstra dalam eksperimen dikontrol oleh kondisi eksperimen
dan variabel dimanipulasi oleh peneliti secara langsung untuk menyakinkan atau
memanipulasi oleh peneliti secara variabel terikat.
Kelemahan temuan ex post facto, peneliti tidak dapat menyimpulkan secara
sahih, penyebab perbedaan presentasi belajar dari siswa dengan motivasi tinggi dan
motivasi rendah, sebab kedua kelompok tersebut mungkin telah dipengaruhi oleh
faktor ketiga, misalnya inteligensi, prestasi sebelumnya, dan lain-lain. Berbeda halnya
dengan temuan eksperimen, kesimpulan akal lebih sahih sebab peneliti dapat
mengontrol kondisi kelas melalui randomasi dan melalui manipulasi peneliti secara
langsung dalam hal pemberian motivasi.
Prosedur Ex post Facto
Untuk menjelaskan bagaimana prosedur penelitian ex post facto dilaksanakan,
berikut ini akan dikemukakan sebuah contoh :
Peneliti ingin melihat pengaruh atau hubungan motivasi belajar terhadap atau dengan
prestasi belajar berdasarkan jenis kelamin siswa. Variabel motivasi belajar siswa telah
ada pada diri siswa itu sendiri hanya tinggal mengukurnya. Artinya, telah terjadi
sebelumnya tanpa harus dilakukan manipulasi oleh peneliti. Jenis kelamin siswa telah
jelas, tinggal memilih dan mengelompokkan menjadi dua kategori yakni pria dan
wanita. Prestasi belajar siswa bisa dilakukan pengukuran dan bisa pula menggunakan
data prestasi yang telah ada di sekolah, mislanya nilai ulangan atau nilai rapor, dan
sebagainya. Siswa dipilih untuk kelas tertentu sebanyak yang diperlukan dengan
jumlah yang sama antara siswa pria dan siswa wanita.
Motivasi belajar dapat ditempatkan sebagai variabel bebas utama, jenis kelamin
ditempat fungsinya sebagai variabel kontrol, dan presentasi belajar sebagai variabel
terikat.

Variabel Bebas (X)

Motivasi Belajar (X)

Variabel Kontrol
Pria (X1)
(Jenis Kelamin)

Wanita
(X2)

Variabel terikat (Y)


Y1

Y2

Prestasi belajar

Analisis hubungan dapat dilakukan anatar skor rata-rata hasil pengukuran


motivasi belajar X dengan rata-rata skor hasil pengukuran prestasi belajar Y. Lebih
dari itu dapat pula dilakukan analisis hubungan antara skor rata-rata hasil pengukuran
motivasi belajar siswa pria (X1) dengan skor rata-rata hasil pengukuran presentasi
belajar siswa pria (Y1). Hal yang sama juga terhadap siswa wanita, yakni hubungan
antara X2 dan Y2. Disamping itu peneliti dapat juga membandingkan motivasi belajar
siswa pria dan wanita (X1 dengan X2) dan perbedaan prestasi belajar siswa pria
dengan wanita (Y1 dengan Y2).
Langkah-langkah di atas hanya sekedar contoh, yang pengembangannya lebih
lanjut tentu saja sesuai dengan langkah dan prosedur penelitian sebagaimana mestinya
seperti perumusan masalah dan tujuan penelitian, telaahan pustaka dan kerangka
pemikiran untuk menyusun hipotesis, verifikasi data (metode dan instrumen sampel,
teknik analisis data), menguji hipotesis, menarik kesimpulan penelitian.
Penelitian ex post facto lebih rendah daripada eksperimen, oleh sebab itu
beberapa ilmuwan ada yang mengatakan bahwa metode ini tidak layak digunakan
karena hasilnya bisa menyesatkan. Keterbatasan ex post facto terletak dalam
metodologinya, mengingat tidak ada kontrol dan tanpa perlakuan secara langsung
pada variabel terikat.
Di lain pihak banyak pula ilmuwan yang menyatakan bahwa penelitian ex post
facto justru lebih layak digunakan dalam penelitian Ilmu Sosial dan Pendidikan,
mengingat tidak semua variabel penelitian dapat dilakukan melalui eksperimen,
bahkan sedikit sekali kemungkinan pengguna metode eksperimen.

Variabel-variabel intelegensi, sosial, ekonomi, peranan orang tua dalam


pendidikan, sikap dan motivasi belajar, latar belakang keluarga, kepribadian guru,
suasanan sekolah, tidak dapat dimanipulasi secara langsung melalui eksperimen.
Masalah-masalah pendidikan seperti penyimpangan ekstrim dalam tingkah
laku kelompok dan efeknya terhadap prestasi belajar, keputusan administrasi upaya
meningkatkan jumlah kualitas guru dan efeknya terhadap kualitas pendidikan, dan
masalah lain yang serupa hanya bisa dilakukan melalui ex post facto. Menghindari
penggunaan penelitian ex post facto dalam penelitian pendidikan nampaknya tidak
dapat dilakukan. Sebaliknya penelitian ekperimen murni dalam pendidikan semakin
terbatas.

Daftar Pustaka