Anda di halaman 1dari 7

Notasi Bilangan Kompleks : Polar

dan Rectangular
Tidak seperti saat menganalisa tegangan DC, saat kita menganalisa tegangan AC, kita harus
menggunakan analisa matematis yang disebut vektor (bilangan kompleks). Ada dua bentuk dasar
notasi bilangan kompleks yaitu : polar dan planar
Untuk menghitung dengan menggunakan bilangan kompleks ini tanpa menggambar vektor, kita
membutuhkan suatu standar notasi matematika. Ada dua bentuk dasar untuk menyatakan notasi
bilangan kompleks yaitu polar dan rectangular.
Bentuk polar menyatakan bilangan kompleks dalam dua nilai yaitu panjang (atau juga dikenal
dengan sebutan magnitudo, nilai absolut, atau modulus) dan juga sudut dari vektornya (biasanya
dilambangkan dengan simbol ). Untuk memahami kedua bentuk ini ke dalam kasus jarak dan arah
antara dua kota, notasi polar untuk vektor dari kota New York menuju San Diego memiliki nilai jarak
dan arah 2400 mil barat daya. Ini adalah contoh vektor yang dinyatakan dalam bentuk polar seperti
ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar 1 Vektor dengan


notasi polar
Orientasi standar untuk sudut vektor dalam perhitungan rangkaian AC menggunakan 0o berada
disebelah kanan garis horisontal, nilai 90o ke arah atas, 180o ke arah kiri, dan 270o ke arah bawah.
Perhatikan bahwa sudut vektor yang mengarah ke bawah dapat dinyatakan dalam nilai positif atau
negatif (bila dinyatakan dalam nilai positif lebih dari 180o). Sebagai contoh, sudut vektor yang
bernilai 270o (lurus ke arah bawah) dapat juga dinyatakan dengan nilai -90o. Gambar vektor di
sebelah kanan atas (7.81 230.19o) dapat juga dinyatakan dalam sudut yang bernilai negatif yaitu
7.81 -129.81o.

Gambar 2 Kompas vektor


Sebaliknya untuk bentuk rectangular dimana bilangan kompleks dinyatakan nilainya terhadap
sumbu horisontal dan vertikal. Pada intinya, sudut vektor diambil dari garis miring pada segitiga sikusiku. Bentuk rectangular menyatakan seberapa jauh nilai bilangan kompleks ke arah kanan/kiri
(horisontal) dan seberapa jauh ke arah atas/bawah (vertikal).

Gambar 3 Dalam bentuk recatangular, panjang vektor dan arahnya disimbolkan seberapa jauh
jangkauannya terhadap sumbu horisontal dan vertikal, bilangan pertama menunjukkan bagian
horisontal (real) dan bilangan kedua (yang memiliki akhiran j) memnunjukkan bagian
vertikal (bilangan imajiner)
Gambar dua dimensi ini (horisontal dan vertikal) disimbolkan dengan dua angka numerik. Untuk
membedakan nilai pada sumbu horisontal dan sumbu vertikal, untuk nilai vertikal penulisan nilainya

diawali dengan huruf i (dalam matematika murni) atau huruf j (dalam elektronika). Dua huruf ini
tidak melambangkan variabel fisis (simbol i disini bukanlah menyatakan besaran arus), tetapi
simbol tersebut digunakan sebagai operator matematika untuk membedakan nilai vektor pada
sumbu horisontal dan vertikal. Sebuah bilangan kompleks yang lengkap, nilai sumbu horisontal dan
vertikalnya adalah dijumlahkan.

Gambar 4 Kompas vektor


menunjukkan sumbu real dan imajiner
Komponen pada sumbu horisontal merupakan komponen bilangan real karena nilainya memiliki
dimensi yang sama dengan bilangan skalar. Komponen pada sumbu vertikal merupakan komponen
bilangan imajiner, dimensinya berada dalam arah yang berbeda dengan bilangan real. (perhatikan
gambar 4).

Gambar 5 Kompas
vektor dengan garis bilangan real (horisontal) dan imajiner (vertikal)
Sumbu real dari grafik melambangkan nilai bilangan seperti pada garis bilangan yang telah di
bahas pada bagian sebelumnya, bila ke arah kanan maka nilainya positif, sedangkan ke arah kiri
nilainya negatif. Sumbu imajiner dari grafik melambangkan garis bilangan lainnya yang berada
pada kemiringan 90o dari sumbu real. Vektor dinyatakan ke dalam grafik dua dimensi, kita harus
memiliki peta dua dimensi untuk menyatakannya, dua nilai ini masing-masing digambarkan ke
dalam dua garis yang saling tegak lurus (perhatikan gambar 5).
Kedua notasi yang telah disebutkan di atas (bentuk polar dan rectangular) sama-sama bisa
digunakan untuk menyatakan bilangan kompleks. Alasan utama mengapa terdapat dua metode
notasi untuk menyatakan bilangan kompleks ini adalah untuk meringkas/menyederhanakan
perhitungan matematika yang sangat panjang, bentuk rectangular sangat praktis apabila digunakan
untuk operasi pengurangan dan penjumlahan, sedangkan bentuk polar sangat praktis apabila
digunakan untuk operasi perkalian dan pembagian.
Konversi antara dua bentuk notasi ini menggunkan metode trigonometri sederhana. Untuk merubah
bentuk polar ke dalam bentuk rectangular, nilai komponen real didapat dengan mengalikan
magnitudo polar dengan cosinus sudut polar. Hal ini diturunkan berdasarkan rumus trigonometri
sudut-sudut dalam segitiga siku-siku, hipotenusa (sisi miring) segitiga itu sendiri menunjukkan vektor

yang dimaksud (panjangnya dan sudutnya terhadap garis horisontal), sedangkan sumbu horisontal
dan vertikal menunjukkan bagian real dan imajiner dari komponen rectangular (lihat gambar).
Berikut ini dicontohkan cara mengkonversi suatu bilangan kompleks dari bentuk polar ke dalam
bentuk rectangular.

Gambar 6 Vektor ini memiliki nilai bagian real sebesar 4 dan


bagian imajiner sebesar j3
5 36.87o (bentuk polar)
(5) (cos 36.87o) = 4 (komponen real)
(5) (sin 36.87o) = (komponen imajiner)
4 + j3 (bentuk rectangular)
Untuk mengkonversi dari bentuk rectangular ke dalam polar, tentukan magnitudo polar dengan
menggunakan teorema Phytagoras (magnitudo polar adalah hipotenusa dari segitiga siku-siku, dan
komponen real serta imajinernya adalah sisi-sisi yang saling tegak lurus), sedangkan sudut polarnya
dihitung dengan rumus arcus tangent dari nilai imajiner dibagi dengan nilai real. Berikut ini contoh
perhitungan konversi dari bentuk rectangular ke dalam bentuk polar.
4 + j3 (bentuk rectangular)
c = (a2 + b2) (teorema phytagoras)
magnitudo polar = (42 + 32) = 5
sudut polar = arctan (3/4) = 36.87o
5 36.87o (bentuk polar)
Berikut ini contoh konversi notasi bilangan kompleks dari bentuk rectangular ke dalam bentuk polar.

Berdasarkan gambar di atas, maka keempat titik tersebut


Titik C: Bagian Real = 4; bagian imajiner = 3. Oleh karena itu, C = 4 + j3. Dalam bentuk polar,
C = (32 + 42) = 5 dan C = tan-1 (3/4) = 36.87o. Oleh karena itu, C = 5 36.87o.
Gambar vektor titik C ditunjukkan pada gambar berikut ini

Titik D : Dalam bentuk rectangular, D = 4 j4. Oleh karena itu, D = (42 + 42) = 5.66 dan D = tan-1 (4/4) = -45o. Oleh karena itu, D = 5.66 -45o. Gambar vektor titik D ditunjukkan pada gambar berikut

Titik V: Dalam bentuk rectangular, V = -j2. Dalam bentuk polar, V = 2 -90o


Titik W: Dalam bentuk rectangular, W = -4 + j4. Oleh karena itu, W = (42 + 42) = 5.66 dan W = tan1
(-4/4) = -45o. Tetapi nilai -45o ini adalah sudut yang bersuplementer. Sudut yang sebenarnya
(diukur dari sumbu horisontal) adalah 135o. Oleh karena itu, W = 5.66135o.