Anda di halaman 1dari 15

BAB III

LARUTAN
Pengetahuan tentang larutan sangat penting, karena sebagian besar reaksi kimia
dan biologis terjadi dalam bentuk cairan, terutama dalam bentuk larutan dengan pelarut
air. Larutan didefinisikan sebagai suatu sistem campuran homogen yang terdiri dari dua
komponen atau lebih. Campuran yang terjadi ada tiga kemungkinan:
a). campuran kasar, contoh campuran tanah dan pasir, gula dan garam, dsb
b). dispersi koloid, contoh larutan tanah liat dan air, Fe(OH)3, dsb
c). larutan sejati, contoh: larutan gula dalam air, garam dalam air dsb
Larutan terdiri dari zat yang dilarutkan (solute) dan pelarut (solvent). Untuk gula
dalam air, gula merupakan zat terlarut dan air sebagai pelarutnya. Larutan seperti ini
disebut aqueous solution. Bagaimana untuk alkohol dalam air?.
Larutan ada yang jenuh, tidak jenuh dan lewat jenuh. Larutan disebut jenuh pada
temperatur tertentu, bila larutan tidak dapat melarutkan lebih banyak zat terlarut. Bila
jumlah zat terlarut kurang dari ini, disebut tidak jenuh dan bila lebih disebut lewat jenuh.
3.1.

Faktor yang mempengaruhi daya larut


Daya larut suatu zat dalam zat lain dipengaruhi oleh: jenis zat pelarut, jenis zat
terlarut, temperatur dan tekanan. Zat-zat dengan struktur kimia yang mirip, umumnya
dapat bercampur baik, sedang yang tidak biasanya sukar bercampur (like dissolves like).
Air dan alkohol bercampur sempurna (completely miscible), air dan eter bercampur
sebagian (partially miscibel), sedang air dalam minyak sama sekali tidak bercampur
(completley immiscible). Pengaruh temperatur tergantung daripada panas pelarutan. Bila
panas pelarutan (H) negatif, daya larut turun dengan naiknya temperatur. Bila H
positif, daya larut naik dengan naiknya temperatur. Tekanan tidak begitu berpengaruh
terhadap daya larut zat padat dan zat cair, tetapi berpengaruh pada daya larut gas.
3.2.

Cara menyatakan Konsentrasi Larutan


Konsentrasi dari larutan dapat dinyatakan dengan bermacam-macam cara:
a). Persen berat : bagian berat zat terlarut tiap 100 bagian berat larutan. Larutan 25%
asam cuka artinya larutan 25 gram asam cuka dalam 100 gram larutan atau dalam 75
gram air.
b). Persen volume : bagian volume zat terlarut tiap 100 bagian volume larutan
c). Molalitas (m) : jumlah mol zat terlarut tiap 1000 gram pelarut. Larutan 0,1 m glukosa
artinya 0,1 mol glukosa tiap 1000 gram air
f). Molaritas (M): jumlah mole zat terlarut tiap liter larutan. Larutan 0,1 M H2SO4 artinya
0,1 mol H2SO4/liter larutan.
g). Normalitas (N): jumlah gram ekuivalen (grek) zat terlarut tiap liter larutan. Larutan
0,1 N H2SO4 artinya 0,1 grek H2SO4/liter larutan.
h). Fraksi mole (X) : jumlah mole zat terlarut dibagi jumlah mole larutan.
Misal: zat A = nA mole dan zat B = nB mole

XA

nA

nA nB WA

WA
MA

MA
W
B

(1.1)

MB

Dimana ni , WI , MI adalah jumlah mole, massa dan berat molekul masing-masing zat.
Contoh
KF I - SFR

III -1

Larutan asam asetat dibuat dengan melarutkan 164,2 gram asam ke dalam air dan
volumenya dibuat 800 ml pada 200C. Rapat (densitas) larutan pada suhu tersebut 1,026
g/ml. Hitunglah:
a). molaritas, b) molalitas, c) fraksimol, d) persen mol dan e) persen berat asam sulfat
Jawab
a. Molaritas (M):

mole asam asetat = 164,2/60 = 2,737 mol


M = 2,737/0,8 = 3,421 mol/l
b. Molalitas (m):
berat larutan = 800 x 1,026
= 820,8 gram
berat asam asetat
= 164,2 gram
berat pelarut (air)
= 656,6 gram
m = 2,737/0,6566 = 4,168 mol/1000 gram
c. fraksi mol: mole air = 656,6/18 = 36,44 mol
fraksi mole asam asetat (XAS) = 2,737/(2,737 + 36,44) = 0,0699
fraksi mole air (XA) = 1- 0,0699 = 0,9301
d. Persen mole
persen mole asam = 0,0699 x 100% = 6,99 %
persen mole air = 0,9301 x 100% = 93,01 %
e. Persen berat
persen berat asam = 164,2/820,8 x 100% = 20 %
3.3.

Jenis Larutan
Kemungkinan larutan banyak sekali, tetapi yang penting ialah larutan biner, ada 9
kemungkinan yaitu:
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Pelarut
Gas
Gas
gas
Cair
Cair
Cair
Padat
Padat
Padat

Zat terlarut
Gas
Cair
Padat
Gas
Cair
Padat
Gas
Cair
Padat

Contoh
Udara (O2 dalam N2)
Uap air dalam udara
I2 dalam udara
CO2 dalam air
Alkohol dalam air
Garam dalam air
H2 dalam Pd
H2O dalam CuSO4
C dalam Fe (baja)

Kelarutan gas dalam cairan tergantung jenis gas, jenis pelarut, tekanan dan temperatur.
Daya larut menjadi besar bila gas bereaksi dengan pelarutnya, seperti amoniak dan HCl
dalam air.
Menurut Henry (1804) daya larut gas dalam zat cair berbanding lurus degan tekanan gas
di atas zat cair (pelarut) pada kesetimbangan. Secara matematik ditulis,
C = k. P
dimana C = konsentrasi, P = tekanan gas dan k = tetapan Henry

(1.2)

Hukum ini juga berlaku untuk campuran gas, di sini P adalah tekanan parsiel gas. Bila
gas bereaksi dengan pelarut seperti NH3 dalam air, hukum di atas hanya berlaku untuk
NH3 yang tidak bereaksi dalam air. Pengaruh temperatur cukup besar, bila temperatur
KF I - SFR

III -2

naik daya larut gas berkurang. Koefisien kelarutan yaitu perbandingan antara volume gas
terlarut pada keadaan percobaan dengan volume pelarut. Harga makin turun bila
temperatur naik.
3.4.

Distribusi Zat Terlarut diantara Dua Pelarut yang Tidak Bercampur


Bila suatu zat dapat terlarut dalam dua pelarut yang tidak bercampur, dan
ketiganya ada bersama-sama, maka zat tersebut akan terbagi ke dalam dua pelarut
tersebut. Pada keadaan setimbang, perbandingan fraksi mol dari zat terlarut dalam ke dua
pelarut berharga tetap, pada temperatur yang tetap. Pernyataan ini dikenal sebagai hukum
distribusi. Hukum ini hanya berlaku bila larutannya encer dan zat terlarut mempunyai
struktur molekul yang sama dalam kedua pelarut. Untuk larutan encer perbandingan
fraksi mole dapat diganti dengan perbandingan konsentrasi. Untuk campuran I 2 dalam air
dan CCl4 diperoleh:
[ I ]dalamCCl4
Kd 2
85
(1.3)
[ I 2 ]dalamH 2O

I2 dalam air
--------- - - -Zat terlarut
Iodium
Iodium
Brom

I2 dalam CCl4
Nilai Kd pada 25 0C
Pelarut
A
B
CCl4
H2O
CHCl3
H2O
CCL4
H2O

Kd

C.dalam. A
C.dalam.B

85
131
30

Pengetahuan tentang koefisien distribusi sangat penting pada proses ekstraksi, yaitu
pengambilan zat terlarut dalam suatu larutan dengan pelarut lain.
Contoh 1.
100 ml larutan dalam air berisi 0,01 g Iodium. Larutan ini digojok dengan 10 ml CCl 4
pada 250C. berapa I2 terekstrak?
Jawab.
Misal x gram terekstrak, maka I2 dalam air = (0,01 x) gram
[ I ]dalamCCl4
x / 10
Kd 2

85
[ I 2 ]dalamair
(0,01 x) / 100
x = 0,009 gram
Jadi I2 terekstrak = 0,009 gram dan I2 sisa dalam air = 0,001 gram

KF I - SFR

III -3

Bila ekstraksi diulang beberapa kali dengan cairan pengekstrak dan volumenya tiap kali
sama, maka tiap kali jumlah zat terlarut berkurang. Jumlah zat terlarut sisa dapat
dihitung:
n
K v
x w
(1.4)

K v v
dimana: v = volume larutan asal, v = volume cairan pengekstrak, n = jumlah tahap
ektraksi, w = jumlah zat pelarut mula-mula ada, dan x = jumlah zat terlarut sisa setelah n
kali ektraksi. K = (C dalam pelarut awal) / (C dalam cairan pengekstrak).

Soal-soal untuk latihan:


1. Sebutkan definisi dari: larutan, pelarut, kelarutan, larutan jenuh, fraksi mole,
molalitas, molaritas, normalitas dan persen mol.
2. Bagaimana membuat konsentrasi larutan NaOH 0,2 N bila tersedia larutan NaOH 1
M?
3. Suatu larutan dibuat dengan melarutkan 64,92 g MgCl2 dan volume dijadikan 600 ml.
Densitas larutan 1,082 g/ml. Hitunglah molalitas, molaritas, normalitas dan fraksi
mole?
4. Jika 100 ml larutan dalam air berisi 0,01 g I 2 digojok dengan 10 ml CHCl3, berapa
iodium tertinggal dalam air?. Dan bila dilakukan dua kali, masing-masing dengan 5
ml CHCl3, berapa iodium sisa dalam air?

3.5.

Sifat-sifat Larutan Non-Elektrolit

Larutan nonelektrolit mempunyai sifat-sifat tertentu yang berhubungan erat


dengan konsentrasi dari tiap komponen dalam larutan, sifat tersebut antara lain tekanan
uap dan sifat-sifat koligatif larutan. Sifat-sifat yang berupa penurunan tekanan uap,
penurunan titik beku, tekanan osmosa dan kenauikan titik didih yang hanya tergantung
banyaknya molekul zat terlarut dan tidak tergantung jenis zat, disebut sifat-sifat koligatif.
3.5.1. Larutan Ideal
Pengertian larutan ideal diadakan untuk perbandingan dengan larutan-larutan
yang biasa didapat, yaitu larutan non-ideal. Larutan ideal adalah larutan yang gaya tarik
menarik molekul-molekul komponennya sama dengan gaya tarik menarik antara molekul
dari masing-masing komponennya. Larutan ideal mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
pada pengenceran komponennya tidak mengalami perubahan sifat, tidak terjadi
perubahan panas pada pembuatan atau pengenceran, volume totalnya adalah jumlah
volume komponennya, mengikuti hukum Raoult tentang tekanan uap, dan sifat fisikanya
adalah rata-rata sifat fisika penyusunnya. Larutan ideal semacam ini hanya didekati oleh
dua zat dengan struktur kimia yang hampir sama, seperti metanol-etanol, benzen-toluen,
dsb.
3.5.2. Hukum Raoult
Definisi larutan ideal dapat diambil sebagai pernyataan hukum Raoult: Tekanan
uap parsiel dari tiap komponen dalam larutan, sama dengan tekanan uap murni

KF I - SFR

III -4

komponen tersebut kali fraksi mol dalam larutan. Untuk larutan dengan dua komponen A
dan B,maka:
nA
PA0 atau XA = PA/P0A
PA = XA PoA =
(1.5a)
n A nB
nB
PB0 atau XB = PB/P0B
PB = XB PoB =
(1.5b)
n A nB
Dimana Pi, P0i, Xi dan ni adalah tekanan uap parsiel, tekanan uap murni, fraksi mol dan
n

jumlah mol masing-masing komponen. Jumlah fraksi mol dalam larutan

1.

Ptotal = PA + PB = P0A XA + P0B XB


= P0A (1 - XB) + P0B XB
= P0A + (P0B P0A) XB
(1.6)
persamaan di atas adalah persamaan garis lurus (liner). Untuk toluen pada 200C P0A = 22
mm, benzen P0B = 74,7 mmHg., bila digambarkan:
Toluen
Benzen
74,7 mmHg (P0B)

PT
Ptotal
(P0A) 22

PB
PA

mmHg

PB
PA
0
A

0,2

0,4
0,6
fraksi mole B

0,8

1,0
B

Misalnya pada fraksi mol benzen 0,6, maka tekanan totalnya 53,62 mmHg (coba
hitung????).
Hubungan antara tekanan total dengan fraksi mol dalam keadaan uap, dapat dicari
bila YB fraksi mole B dalam keadaan uap, maka:
PB = YB PT
(1.7)
PB
PB0 X B

YB =
PT
Ptotal

atau

penurunan tekanan uap P = P0A-PA = P0A XB

(1.8)
Dalam keadaan uap selalu terdapat lebih banyak uap yang tekanan uapnya tinggi atau
lebih mudah menguap. (save SFR)
cairan

L
uap

V
22
mmHg

KF I - SFR

III -5

74,7 mmHg

X
0

0,2

0,4

0,6

0,8

Toluen

1,0
Benzen

Contoh:
Pada 300C P0benzen = 119,6 mmHg dan P0 toluen = 36,7 mmHg,
a). bila benzen dan toluen dicampur dengan perbandingan berat yang sama, berapa
tekanan uap masing-masing dan tekanan totalnya.
b) bagaimana susunan uap yang setimbang dengan larutan ini?
Jawab.
BM toluen = 92,06, BM benzena = 78,05. Bila toluen 92,06 gr = 1 mol, maka
benzena = 92,06/78,05 mol = 1,18 mol
Dalam larutan:

Dalam fase uap:

Xtoluen =

1/(1+1,18)

= 0,459

Xbenzena =

1,18/(1+1,18) = 0,541

Ptoluen = (0,459) (36,7)

= 16,9 mmHg

Pbenzena = (0,541) (119,6)

= 64,7 mmHg

Ptotal

= 81,6 mmHg

= (16,9 + 64,7)

Pbenzena = Ybenzena x Ptotal


Ybenzana = 64,7 / 81,6 = 0,793
Ytoluen = 0,207

Soal-soal latihan:
1. 40 g cairan A dan 70 g cairan B dicampur, jika keduanya merupakan larutan ideal, hitung
komposisi uapnya. P0A = 200 mm, P0B = 700 mm, MA dan MB = 56 dan 90 g mol-1
2. Jika tekanan uap cairan murni A dan B adlah 300 dan 800 mmHg pada 75 0C, hitung
komposisi campuran tersebut sehingga ia mendidih pada 75 0C dan komposisi fase uap.
3. Jika kita menganggap udara mengandung 80% N 2 dan 20% O2, hitung perbandingan N2 dan
O2 dalam air, bila konstanta Henry untuk N2 dan O2 dalam H2O adalah 6,51x107 mmHg dan
3,30x107 mmHg.
4. Hitung kelarutan metana dalam benzen pada 25 0C dengan menggunakan hukum Henry, bila
tekanan parsiel metana 760 mmHg dan k = 4,27 x 105 mmHg.
5. 80 g cairan A dengan BMA = 120 g mol-1 dilarutkan dalam 1000 g cairan B (BM B=160 g mol1
). Tekanan uap cairan B = 400 kPa. Hitung konstanta Henry dan tekanan uap murni zat A,
bila tekanan uap total = 475 kPa.
6. 80 g etanol dicampur dengan 50 g senyawa A, dan keduanya membentuk larutan ideal. Jika
P0etanol dan PA pada 250C adalah 45 mm dan 88,7 mmHg, Petanol dan PA adalah 23,45 dan 41,96
mm. Hitung berat molekul senyawa A.

(jawaban ada dalam buku Dogra dan Dogra, 1992)


3.5.3. Tekanan uap dan Titik Didih Pasangan Cairan
Bila dua cairan yang tidak dapat dapat larut satu sama lainnya dicampur, tekanan
uap totalnya
PTotal = P0A + P0B
(1.9)

KF I - SFR

III -6

Karena titik didih adalah temperatur pada saat Ptotal = P luar = 1 atm. Bila uap dialirkan
pada distilasi zat cair yang tidak bercampur disebut distilasi uap, gunanya untuk
menguraikan zat-zat organik yang pada titik didihnya mudah mengurai. Bila digunakan
distilasi uap, kita dapat menentukan perbandingan berat air (WA ) dan zat yang didestilasi
(WB)

WA
P0M
A0 A
WB
PB M B
(1.10)
WA/WB adalah perbandingan berat zat A dan zat B yang keluar sebagai destilat.
Pengertian tentang larutan ideal bersifat teoritis, pasangan cairan yang bercampur
sempurna, juga tidak ada yang bersifat ideal. Larutan yang biasa kita dapati selalu
bersifat non ideal. Sistem-sistem ini dibagi menjadi 3 jenis.
1). sistem dengan tekanan total antara komponen-komponen murninya, seperti CCL4siklo hexana, CCl4-benzena, benzena-toluen dan air-metil alkohol. Larutan ini sedikit
menyimpang dari sifat-sifat ideal.
2). Sistem dengan tekanan total membentuk maksimal, seperti CS 2-metilasi, CS2-aseton,
benzena-siklo hexana, khlorofrom-etil alkohol. Di sini terjadi penyimpangan positif
dari hukum Raoult, karena gaya tarik molekul A-B < A-A atau B-B. maka PA > PA
(Raoult). Bila penyimpangan positif sangat besar, tekanan uapnya membentuk suatu
maksimal.
3). Sistem dengan tekanan total membentuk minimum, seperti CHCl 3-aseton, metil eterHCl. Di sini terjadi penyimpangan negatif dari hukum Raoult, karena gaya tarik
molekul A-B > A-A atau B-B, maka PA < PA (Raoult).
Diagram tekanan uap dari ketiga pasangan cairan yg bercampur sempurna tersebut
adalah:
L

P0

P0

P0

T tetap
0,0

XB
1,0

T tetap
YB

T tetap

1,0

0,0

1,0 0,0

B
(a)

(b)

(c)

Telah diketahui bahwa fraksi uap selalu berisi cairan yang titik didihnya rendah
dan larutan (residu) berisi fraksi yang titik didihnya tinggi, biasanya dilakukan pada P
konstan. Suatu cairan akan mendidih bila tekanan totalnya sama dengan tekanan

KF I - SFR

III -7

atmosfer. Untuk pasangan cairan A dan B, zat ini akan mendidih bila Ptotal = Patm = PA +
PB.
Jadi untuk cairan yang tekanan uapnya rendah, titik didihnya tinggi. Demikian
pula sebaliknya. Atas dasar ini dapat digambarkan diagram titik didih ketiga pasangan
cairan tsb.
C L
0

T tetap
0

PB

PB PA

P0B
V

PA

0,0

XB

1,0

0,0

XB

P tetap

1,0

0,0

P tetap

XB

1,0

B
P tetap
D
V

TdA
TdA

P0A

T tetap

TdB
V

TdB

L
TdB

TdA
0,0

XB

1,0

0,0

XB

1,0

0,0

XB

1,0

Konsentrasi pada titik C dan D pada diagram tekanan uap dan diagram titik didih
biasanya tidak identik. Dengan berubah temperatur, susunan akan berubah mendekati A
atau B. Campuran biner jenis (1) pada pemanasan secara terus menerus sehingga
diperoleh A murni sebagai residu dan B murni sebagai destilat. Pada jenis (2) dengan
distilasi bertingkat tidak menghasilkan A dan B murni. bIla campuran terletak antara A
dan C diperoleh A murni sebagai residu dan C sebagai distilat. Bila campuran terletak
antara B dan C, diperoleh B sebagai residu dan C sebagai destilat. Misalnya campuran
air-alkohol, C mempunyai susunan 95,5% dengan titik didih 78,13 0C. Bagaimana untuk
jenis (3)?. Campuran dengan titik didih minimum atau maksimum seperti diatas disebut
campuran azeotrop.
3.5.4. Larutan dari Zat Terlarut yang Sukar Menguap
Dengan adanya zat terlarut, tekanan uap dari pelarut akan berkurang dan ini
mengakibatkan kenaikan titik didih, penurunan titik beku dan terjadinya tekanan osmosa.
Keempat sifat ini hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut dan tidak ditentukan oleh
jenis zat terlarut. Sifat-sifat ini disebut sifat koligatif larutan.

KF I - SFR

III -8

1). Penurunan tekanan uap


Untuk larutan ideal berlaku rumus dari Raoult, rumus ini juga berlaku bagi
larutan non-ideal, tetapi sangat encer, karena sifat-sifat larutan yang sangat encer hampir
sama dengan sifat-sifat pelarut murni. Bila zat terlarut sukar menguap maka PPelarut =
PLarutan.
n1
PTotal P X 1P 0
P0
(1.11)
n1 n2
dimana P = tekanan uap larutan, P0 = tek. uap pelarut, n1 = jumlah mole palarut, n2 =
jumlah mole zat terlarut, X1 = fraksi mole pelarut dan X2 = fraksi mole zat terlarut.
Turunnya tekanan uap larutan P adalah:
P = P0 P = P0 X1P0 = (1 X1)P0
P = X2P0

atau

P/P0 = X2

(1.12)

Jadi turunya tekanan uap larutan hanya tergantung dari fraksi mole zat terlarut dan
tekanan uap murni. Besarnya penurunan tekanan uap relatif P/P0 hanya tergantung
fraksi mole zat terlarut. Penurunan tekanan uap larutan dapat dipakai untuk menentukan
berat molekul dari zat terlarut:
760
P
P0
peningkatan konsentrasi zat
terlarut
mmHg

P1
P2
T 0C

T1

P P P
n2

2
P0
P0
n1 n2 W2
0

W2
M2

M2
W
1

(1.13)

M1

untuk larutan yang sangat encer, maka n2 < n1 rumus disederhanakan menjadi
P n2 W2 M 1

x
P0
n1 M 2 W1

(1.14)

Contoh 2.
Berapa konsentrasi zat terlarut dari larutan dalam air yang tekanan uapnya pada 20 0C
adalah 17 mmHg? Tekanan uap air pada 200C adalah 17,4 mmHg.
Jawab:
Diambil pelarutnya = 1000 gram air, maka n1 = 1000/18 = 55,5 mol

KF I - SFR

III -9

P0 P
n2

0
P
n2 n1

17,4 17
n2

diperoleh
17,4
n2 55,5

dan

n2 = 1,3 mol

(kons.larutan)
Contoh 3.
Berapa tekanan uap larutan yang berisi 30 g urea pada 15 0C dalam 450 g air?. Tekanan
uap air pada 150C 12,7 mmHg dan BM urea = 60,1
Jawab:
450 / 18

P = X1 P0 = 450 / 18 30 / 60,1 x12,7


P = 12,5 mmHg
Soal latihan: suatu larutan terdiri dari 8,5 g urea dalam 100 ml air. Bila pada suhu 50 0C
tekanan uap larutan adalah 89,2 mmHg dan tekanan uap jenuh air 91,5
mmH. Berapa berat molekul ura?.
2). Kenaikan titik didih larutan
Suatu larutan mendidih pada temperatur lebih tinggi dari pelarutnya, selisihnya
disebut kenaikan titik didih larutan. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dalam diagram PT
ini.
P
B
D
P0
F
T0 = titik didh pelarut murni
P
T = titik didih larutan
P
P0 = tekanan uap pelarut
mmHg pelarut
E
P = tekanan uap larutan
konsentrasi larutan
AB = kurva tek. uap pelarut
A
CD = kurva tek uap larutan
C larutan
T0

T 0C

Tekanan uap larutan lebih kecil daripada tekanan uap pelarut. Karena P < P0
maka titik didih larutan T > T0. Selisih keduanya merupakan kenaikan titih didih (Tb) =
T T0.
Menurut Clausius-Clapeyron, karena titik E dan F terletak dalam satu garis, maka
dP Hv
RT 2 dP

P
dT

atau
dT
RT 2
Hv P
(1.15)
untuk larutan encer pada titik didihnya AB dan CD dianggap sejajar (berdekatan),
sehingga
Tb

KF I - SFR

RT02 P RT02 n2

Hv P 0
Hv n2 n1

III -10

Bila larutannya sangat encer, n2 << n1, hingga n2 dapat diabaikan dan T T0
RT 2 n2
Tb
Hv n1

Tb

n2
m2

n1 1000 / M 1

dimana

RT02
RT02
.m2
.m2
1000Hv / M 1
1000hv

dimana Hv/M1 = hv yaitu panas penguapan per gram.


Tb K b .m2

sehingga

dimana Kb = kenaikan titik didih molal

(1.16)

W2 1000
x
M 2 W1

(1.17)

Kb

RT02
1000hv

Tb

1000 W2
x
xK b
W1 M 2

dan

m2

(1.18)
Contoh 4.
Suatu larutan berisi 0,5126 g naftalena dengan berat molekul 128,16 dalam 50 g CCl4
mempunyai Tb = 0,402 0C. sedang larutan 0,6216 g dari zat tak dikenal dalam larutan
yang sama mempunyai Tb = 0,647 0C. berapakah berat molekul zat tersebut.
Jawab:

W1 = 50 g, W2 = 0,5126 g, , Tb =0,402 0C dan M2 = 128,16


Tb .W1.M 2
0,402 x50 x128,16
Kb

5,030 C
1000.W2
1000 x0,5126
Harga Kb ini dipakai untuk larutan kedua:
W1 = 50 g, W2 = 0,6216 g, , Tb =0,647 0C dan Kb = 5,03
100.W2 .K b 1000 x0,6216 x5,03
M2

96,7 g mol-1
W1.Tb
50 x0,647

3). Penurunan titik beku


Titik beku larutan ialah temperatur pada saat larutan setimbang dengan
pelarutnya. Larutan akan membeku pada temperatur lebih rendah dari pelarutnya. Hal ini
dapat dilihat dalam diagram PT berikut.
Pelarut
Larutan 1
Larutan 2

P
mmHg

Titik beku larutan murni (pelarut)

T2 T1
T 0C
Pada setiap saat tekanan uap larutan selalu lebih rendah daripada pelarut murni. Dengan
menggunakan penurunan rumus yang sama dengan yang digunakan dalam kenaikan titik

KF I - SFR

III -11

didih larutan, diperoleh bahwa penurunan titik beku juga sebanding dengan konsentrasi
zat terlarut (molalitas). Sehingga dapat diperoleh:
T f

RT02
.m2 K f .m2
1000h f

dimana

Kf = penurunan titik beku

molal
m2

w2 1000
x
M2
w1

T f

(1.19)

1000 w2
x
xK f
w1 M 2

(1.20)

Dengan jalan mengukur Tb larutan, maka dapat ditentukan berat molekul zat terlarut,
cara ini disebut cara ebulioskopis. Demikian juga dengan mengukur besarnya Tf dapat
ditentukan berat molekul, cara ini disebut cara krioskopis.
Contoh 5.
Suatu senyawa menurut analisa berisi 40% C, 6,6% H dan 53,33% O. bila 3 g zat
tersebut dilarutkan dalm 100 g air, maka larutan ini membeku pada suhu 0,372 0C, Kf air
= 1,86. a) Bagaimana rumus molekul zat tersebu, b) bila larutan diencerkan hingga suhu
25 0C, tekanan uap menjadi 17,488 mm. Tekanan uap air pada suhu ini 17,535 mmg.
Berapa % air telah ditambah.
Jawab:
a.
Berat
atom

C : H : O = 40 : 6,67 : 53,33
C : H : O = 40/12 : 6,67/1 : 53,33/16 = 1 : 2 : 1

Rumus perbandingan : (CH2O)n


Tf = Kf . m = Kf (3/M2) (1000/100)
M2 = (Kf / Tf) . 30 = (1,86/0,372) x 30 = 150
(12 + 2 + 16)n = 150 ,

maka n = 5

Rumus molekul : C5H10O5


b. Misalkan berat air yang ditambahkan x gram
17,535 17,488
n2
P0 P
n2

dan
0
17,535
3 / 150 x / 18
P
n2 n1

diperoleh x = 134
Air yang ditambahkan = 134 100 = 34 gram
Atau

= 34/100 x 100% = 34%

(save

SFR)
Soal latihan: 100 gram urea dilarutkan dalam 200 g air. Hitung a) kenaikan titik didih
(Hv= 40,67 kJ mol-1) dan b) penurunan titik beku larutan ((Hf = 6 kJ
mol-1).
KF I - SFR

III -12

4) Tekanan Osmosa
Bila suatu pelarut dipisahkan dengan membran semi permeabel dengan
larutannya, maka terjadi aliran pelarut murni ke dalam larutan. Peristiwa ini disebut
osmosa. Membran disebut semi-permeabel, bila hanya dilalui oleh molekul-molekul
pelarut dan menahan molekul-molekul zat terlarut.
Tekanan osmosa suatu larutan
didefinisih

kan sebagai tekanan luar yang harus

dikenakan pada larutan untuk mencegah


mengalirnya molekul-molekul pelarut
murni
pelarut murni

larutan

apabila dipisahkan oleh membran

semipermeabel.
membran semipermeabel
Larutan-larutan isotonik adalah larutan-larutan yang mempunyai tekanan osmosis yang
sama.
Membram semipermeabel dapat berupa kertas perkamen, kolodion, membran selofan,
lapisan Cu2Fe(CN)6 yang dibuat dengan pengendapan CuSO4 dan K4Fe(CN)6,
Pada gambar, apabila osmosis telah mencapai keseimbangan, maka tinggi larutan
di sebelah kanan lebih besar daripada sebelah kiri setinggi h cm. Hubungan h dengan
tekanan osmosis adalah:
Tekanan osmosis = = gh
(1.21)
Hukum tekanan osmosa dapat dideduksi dari percobaan atau secara
termodinamika. Hasil dari percobaan dapat ditunjukkan bahwa:
a) /T = konstanta (tekanan osmosa suatu larutan berbanding lurus dengan suhu absolut)
b) /M2 = konstanta (tekanan osmosis suatu larutan berbanding lurus dgn konsentrasi
(molar))
c) larutan nonelektrolit encer pada konsentrasi yang sama mempunyai yang sama pd T
tetap

kontanta, konstanta ini mempunyai nilai


Bila digabungkan diperoleh:
MT

yang sama dengan konstanta gas umum (R) yaitu 0,0821 liter atm mol -1 K-1. Sehingga
diperoleh:
V = n2 RT

atau = (c/M2) RT

dimana c = konsentrasi larutan (g liter -1)

(1.22)

KF I - SFR

III -13

Hal ini berarti tekanan osmosa larutan encer sama dengan tekanan yang disebabkan oleh
gas. Bila gas mempunyai volume dan temperatur yang sama dengan larutan. (grafik /c
vs c).
Pengukuruan tekanan osmosa juga dapat dipakai untuk menentukan berat molekul
zat terlarut (M2), hal ini sukar dilakukan kecuali untuk zat dengan berat molekul yang
besar. Pelarut yang digunakan selain air juga pelarut organik seperti benzen.
V = w2/M2 RT
M2 = w2 RT/V

(1.23)

Contoh: Berapa tekanan osmosa larutan yang berisi 80 g sukrosa (M=342) dalam 500 ml
larutan pada suhu 20 0C
Jawab:
= n2 RT/V = (80/342 x 0,0821 x 298) / (0,500) = 11,3 atm
Contoh 6.
Berapa gram urea (M=60) harus ada dalam 800 ml larutan, agar = 15 atm pd 100C.
Jawab:
n = V/(RT) = (15 x 0,800)/(0,0821 x 283) = 0,52 mol
berat urea = 0,52 x 60 = 31 gram
3.6

Sifat-sifat Larutan Elektrolit

Berdasarkan Arrhenius (1887) dengan teori ion atau disosiasi elektrolit, yaitu:
a) larutan elektrolit dalam air terurai menjadi ion-ion (misal: HCl
H+ +
Cl )
b) ion adalah gugus atom yang bermuatan listrik, ion + (kation) dan ion (anion).
Muatan ion sama dengan valensinya
c) karena elektrolit bersifat netral, maka jumlah muatan ion dalam larutan selalu sama
d) ionisasi elektrolit merupakan reaksi kesetimbangan antara ion-ion yang terjadi dan
molekul-molekul yang tidak terurai.
Larutan elektrolit dapat menghantarkan aliran listrik oleh elektron-elektron yang
dibawa oleh ion positif dan negatif, reaksi redoks disebut elektrolisis. Larutan elektrolit
menunjukkan sifat kologatif lebih besar daripada larutan nonelektrolit. Karena masingmasing molekul elektrolit dalam larutan terurai menjadi ion-ion. Reaksi larutan elektrolit
berjalan cepat.
Elektrolit-elektrolit yang dalam air terion sempurna disebut
elektrolit kuat, sedangkan yang terion sebagian disebut elektrolit lemah. Untuk elektrolit
kuat derajat ionisasi yaitu bagian elektrolit yang terion, harganya mendekati satu.
Konsentrasi efektif dari ion disebut aktivitas ion yang diberi simbol a. Dalam tabel
berikut nilai rata-rata pada 25 0C.
a=m
m
NaCl
KCl
HCl

KF I - SFR

0,00
1,0
1,0
1,0

dan/atau
0,01
0,903
0,901
0,905

a=c
0,05
0,823
0,816
0,830

III -14

(1.24)
0,10
0,778
0,770
0,796

0,50
0,680
0,650
0,758

1,0
0,656
0,607
0,810

Dimana = koefisien aktifitas ( 1), m = molalitas larutan. Pengertian aktifitas dan


koefisien aktifitas mula-mula diberikan oleh G.N Lewis (Univ. California). Tahun 1923
Debye dan Hckel menjelaskan secara teori yang dikenal teori gaya tarik antar ion dan
pembatasan D-H
log = - Kz2
di mana = ci z2I
(1.25)
+
atau
log = - 0,5091(z )(z )
(1.26)
dimana K = konstanta (0,05091), z = muatan ion, = kekuatan ion dan c = konsentrasi.
Contoh7.
Hitunglah aktivitas ion dalam 0,5 m larutan NaCl pada 25 0C. hitung tekanan osmosanya.
Jawab: a).
aNa+ = aNa- = 0,5 x 0,68 = 0,340
Konsentrasi efektif = 2 x 0,340 = 0,680
b).
= c RT = (0,680) (0,0821) (298) = 16,63 atm
Contoh:
hitung kekuatan ion larutan yang berisi 0,001 M NaCl dan 0,002 M BaCl2
a)
hitung aktivitas Na+ dan Ba+ pada 25 0C bila K = 0,509
b)
Jawab:
a).
= CNa+ . (1)2 + CCl- . (1)2 + CBa++ . (2)2 + CCl- . (1)2
= (0,001) (1)2 + (0,001)(1)2 + (0,002)(2)2 + (0,004)(1)2
= 0,007
b).
log Na+ = - 0,509 x 12 x 0,007
log a++ = - 0,509 x 22 x 0,007 =
0,68
Na+ = 0,91
aBa++ = 0,68 x 0,002 = 0,0014 M
aNa+ = 0,91 x 0,001 = 0,0009 M
dalam hal ini c = m
Tetapan dielektrikum (D) dapat melemahkan gaya tarik antar ion (F). Besarnya
gaya tarik antar ion dinyatakan:

z1.z2
D.r 2

r = jarak antar ion.

(1.27)

Makin besar harga D, makin kecil harga F hingga ionisasi makin baik. Air merupakan
pelarut yang baik karena D nya besar hingga gaya pengionanya besar.
Pada tahun 1923 T.M. Lowry dan J.N. Bronsted memberikan teori untuk: asam
adalah zat yang dapat memberikan proton (donor proton) dan basa zat yang menerima
proton (proton akseptor). Kalau Arrhenius, asam adalah zat yang larutannya dalam air
menghasilkan ion H+ dan basa yang larutannya dalam air menghasilkan ion OH-.
Reference:
1. Daniel dan alberty (terjemahan), 1980, Kimia Fisika, Jilid 1 dan 2,
Penerbit Airlangga
4. Sukardjo, 1985, Kimia Fisika, Penerbit Bina Aksara, Jakarta
5. Dogra dan Dogra (1992), Soal-soal dan Penyelesaian Kimia Fisika, UI-Press,
Jakarta.
4. Tony Bird (1993), Kimia Fisika untuk Universitas, UI-Press, Jakarta

KF I - SFR

III -15