Anda di halaman 1dari 10

TUGAS LAPORAN INSTRUMENTASI ALAT INVESTIGASI GEOTEKNIK

FLAT DILATOMETER

Disusun oleh:
Marsetya Putra Pradipta

1106070306

Dosen Pengajar
Dr. Ir. Damrizal Damoerin, M.Sc

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
DESEMBER, 2014

PENDAHULUAN

Kegiatan konstruksi dibidang geoteknik memerlukan suatu penyelidikan sebagai


langkah awal untuk meninjau kesesuaian syarat terhadap kondisi dilapangan
sehingga dibutuhkan penyelidikan tanah berkaitan dengan data teknis tanah secara
langsung atau yang dikenal dengan istilah pengujian lapangan (in-situ). Kegiatan
ini bertujuan untuk menganalisis masalah stabilitas tanah seperti daya dukung,
kekuatan geser, stabilitas lereng dan lain-lain sehingga diperlukan alat atau
intrumentasi untuk kegiatan penyelidikan tanah. Salah satu alat instrumentasi
yang dapat digunakan yaitu Flat Plate Dilatometer(DTM). Flat Plate Dilatometer
(DTM) merupakan salah satu alat instrumentasi di bidang geoteknik yang
bertujuan untuk mengetahui nilai modulus geser yang dimiliki tanah in-situ. Flat
Dilatometer Test (DMT) dibuat dan dikembangkan di Itali oleh Silvano Marchetti
pada tahun 1975. Pada awalnya diperkenalkan di Amerika Utara dan Eropa pada
tahun 1980 dan saat ini telah digunakan di lebih dari 40 negara sebagai alat uji
penetrasi in-situ dalam bidang investigasi geoteknik. Peralatan DMT, metode
pengujian dan korelasi awal disajikan dan digambarkan oleh Marchetti pada tahun
1980 dalam In-situ Test by Flat Dilatometer, dan selanjutnya DMT telah secara
luas digunakan dan dikalibrasi terhadap endapan tanah yang diuji di seluruh
dunia. Uji dilatometer (Marchetti 1980, Schmertmann, 1988) merupakan uji
sederhana untuk mengukur modulus tanah. Alat ini berupa suatu blade dengan
lebar 95 mm dan tebal 15 mm. Ditengahnya terdapat suatu plat lingkaran yang
dapat bergerak keluar jika dikembangkan.

SPESIFIKASI ALAT
Alat Flat Dilatometer Test memiliki komponen-komponen sebagai berikut :
1.

Dilatometer Blade
Bagian ini memiliki fungsi seperti pisau untuk membuat suatu lubang
ketika dilatometer diinjeksi ke dalam tanah dan dapat berputar dengan
sudut putar antara 240 sampai dengan 320 dengan panjang bagian ujung
pisau ke bagian bawah pisau 50 mm. Blade ini dapat menembus ke dalam
tanah dengan aman tanpa menyebabkan failure pada tanah dengan tahanan
ujung 250 kN. Pada bagian tengah terdapat membran dengan diameter 60
mm yang berfungsi untuk mengukur ketahanan geser tanah yaitu dengan
diberikan tekanan udara dan dapat berkembang hingga mencapai 1,1 mm
ke dalam tanah.

Gambar 1 Dilatometer Blate


(Sumber: Report of the ISSMGE Technica1n Committee 16 On Ground Property
Characterisation from In-situ Testing 2001)

2.

Control Unit
Pada bagian ini sebagai pengukur tekanan gas yang diberikan kedalam
Dilatometer Blade setelah diinjeksi ke dalam tanah. Bagian ini akan
dihubungkan dengan menggunakan kabel pneumatik listrik yang berfungsi
untuk mengatur katup yang mengalirkan gas dan ventilasi dari sistem alat
Dilatometer. Control Unit memiliki dua bagian yang dihubungkan secara
paralel, yaitu pengukur tekanan dengan skala rendah (skala terbesar
1Mpa), dan pengukur dengan skala tinggi (skala terbesar 6 Mpa).

Gambar 2 Control Unit


(Sumber: Report of the ISSMGE Technica1n Committee 16 On Ground Property
Characterisation from In-situ Testing 2001)
3.

Pneumatic Electical Cable


Bagian ini memiliki fungsi sebagai penghubung Control Unit dengan
Dilatometer Blade yang akan mengalirkan listrik untuk menghasilkan gas
serta membuat membran mengembang sehingga dapat diketahui besarnya
tegangan geser yang dimiliki tanah akibat pengaliran gas ke dalam sistem
dilatometer. Pneumatic kabel terbuat kawat stainless steel tertutup dalam
nilon tabung dengan konektor logam khusus di kedua ujung. Pneumatic
cable terdapat dua jenis, yaitu pneumatic yang dapat di sambung

(Extended Cable) dan pneumatic yang tidak dapat disambung (NonExtended Cable).

Gambar 3 Pneumatic Cable


(Sumber: Report of the ISSMGE Technica1n Committee 16 On Ground Property
Characterisation from In-situ Testing 2001)
4.

5.

Sumber Tekanan Gas


Sumber tekanan gas yang dibutuhkan yaitu dapat menghasilkan output
pada kiasaran 7-8 Mpa. Dalam praktiknya di lapangan tekanan gas diatur
menghasilkan output pada kisaran 3-4 Mpa pada tanah keras untuk
menghindari kerusakan alat ataupun keruntuhan pada tanah.
Penetrometer Truck
Peralatan yang digunakan dapat berupa peralatan yang sama dengan tes
CPT yaitu Penetrometer Truck yang mampu mempenetrasi batang konus
dengan diameter 44 mm hingga 50 mm yang memiliki tahanan ujung
konus 15 cm2.

Gambar 4 Penetrometer Truck

(Sumber: Report of the ISSMGE Technica1n Committee 16 On Ground Property


Characterisation from In-situ Testing 2001)

PROSEDUR PENGUJIAN
Prosedur percobaan yang dilakukan untuk melakukan pengujian dengan
menggunakan alat Flat Dilatometer yaitu sebagai berikut :
1.

Dilatometer dimasukkan kedalam lubang galian, lakukan pembacaan


setelah dikoreksi (p1).

2.

Membran dikembangkan dan tekanan dibaca saat mencapai 1.1. mm (p2).

3.

Tekanan diturunkan dan saat membran kembali keposisi semula, kembali


dibaca (p3).

4.

Dilatometer diturunkan ke titik berikutnya dan langkah 1 s/d 3 diulang


kembali.

Setiap pengujian hanya membutuhkan waktu 1-2 menit. Keuntungan utama dari
dilatometer adalah bahwa alat ini dapat memperkirakan tekanan at rest di
lapangan dan modulus geser dari suatu tanah.

PARAMETER PENGUJIAN
Parameter-parameter perencanaan yang diperoleh bedasarkan Guidlines for
Using The CPT, CPTU and Marchetti DMT for Geotechnical Design Vol. III
oleh Dr. John H. Schmertmann, 1988 dan dari Flat Dilatometer oleh Silviano
Marchetti dan David K. Crapps, 1981) antara lain :
1.

Indeks material Id (jenis tanah)


Indeks material dihitung dengan persamaan sebagai
berikut :
Id = (p1 po)/(po uo)
uo : tekanan air pori in-situ pada saat pisau DMT belum ditusukkan
Definisi Id di atas diperoleh dan ditetapkan melalui pengamatan bahwa
profil po dan p1 secara sistematik serupa dan berdekatan satu sama lain
untuk tanah lempung dan berjarak atau menjauh untuk tanah
pasir.Menurut Marchetti (1980) jenis tanah (soil type) dapat diidentifikasi
sebagai berikut :
Lempung : 0,1 < Id < 0,6
Lanau : 0,6 < Id < 1,8

2.

Pasir : 1,8 < Id < (10)


Indeks tekanan horisontal Kd
Indeks tekanan horisontal (horizontal stress index) Kd didefinisikan
sebagai berikut :
Kd = (po uo)/(v0) (4)
Dimana v0 adalah tekanan overburden efektif sebelum pisau DMT
ditusukkan atau sebelum dilakukan pengujian DMT. Besaran Kd
merupakan dasar dari beberapa korelasi parameter tanah, dan nilai Kd
adalah hasil kunci yang terpenting dari pengujian dilatometer (DMT).
3. Modulus dilatometer (Dilatometer Modulus) Ed
Modulus dilatometer (Dilatometer Modulus) Eddiperoleh dari nilai po dan
p1 berdasarkan teori elastisitas, dengan konfigurasi diameter membran 60
mm dan pergerakan/perubahan (displacement) sebesar 1,1 mm. Nilai
modulus dilatometer dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
Ed = 34,70 (p1 po)
Besaran Ed pada umumnya tidak digunakan sebagaimana adanya,
khususnya karena terdapat kehilangan informasi dalam stress history, oleh
karenanya nilai Ed harus digunakan dengan kombinasi Kd dan Id.

4.

Tekanan Ekses Air Pori (ue)


ue = up x v = p2-uo
dimana :
up = Indeks Tekanan Air Pori = (p2-uo)/v
p2 = C + A = Bacaan tekanan C terkoreksi
C = Pembacaan Dilatometer saat membran kembali ke posisi semula
v = Tegangan efektif tanah
ue biasanya besar untuk tanah lempung dengan ID < 1.8 dan mendekati
nilai uo untuk tanah berpasir dengan ID > 1.8

5.

Kekuatan Gesek Jangka Pendek (undrained shear strength (su) untuk


tanah liat/tanah kohesif)
su = 0.22 v (0.5 kD)1.25

(Marchetti, 1980)

Rumus tersebut cocok untuk ID 1.2 sesuai yang ditulis oleh Marchetti
(1980). Hal ini berbeda dengan yang dikatakan denga Schmertmann
(1988) mengatakan bahwa rumus tersebut baik juga untuk ID 0.6 dan

sangat tepat untuk ID < 0.35. Rumus tersebut tidak cocok untuk tanah
sementasi dimana kondisi over konsolidasi tercapai bukan karena
verkurangnya tekanan overburden. Bentuk korelasi lain untuk lempung
terkonsolidasi normal dan lempung sedikit over konsolidasi adalah sebagai
berikut
su = (p2-uo)/ (8 sampai 10) untuk lempung dengan OCR dari 1.53.3
Berdasarkan parameter tersebut, maka jenis tanah, modulus, dan kekuatan
gesernya dapat diperkirakan.

Gambar 5. Korelasi Antara Jenis Tanah dengan Indeks Material dan Modulus
Dilatometer
(Sumber : Lacasse & Lunne. 1986)

ANALISIS HASIL PENGUJIAN


Setelah melakukan pengujian Flat Dilatometer maka dapat dihasilkan beberapa
analisis mengenai hasil pengujian sebagai berikut :
1.

Data Id dan Ed yang digunakan adalah data yang mempunyai kedalaman


yang sama dengan kedalaman uji SPT dan Undisturbed sampling agar
dapat dibandingkan dengan hasil pengujian laboratorium yang dilakukan
terhadap contoh tanah dari SPT dan Undisturbed tersebut.

2.

Perbandingan nilai OCR dengan menggunakan metode pengujian Flat


Dilatometer bersifat Reproducibility yang berarti memiliki hasil yang
mirip dan sama walaupun dilakukan pengujian pada lokasi pengujian yang
berbeda. Hal ini juga memiliki kecenderungan yang sama pada pencarian
nilai koefisien tekanan tanah lateral at rest (ko).

3.

secara umum kuat geser cu meningkat sampai dengan kedalaman tertentu


kemudian mengecil dan selanjutnya perubahan besaran cu tidak terlalu
besar dan cenderung tetap. Pada beberapa kedalaman terjadi perbedaan
nilai yang cukup besar antara kedua lokasi penelitian dan ini disebabkan
adanya perbedaan kandungan butiran kasar dan tingkat sementasi pada
lapisan lempung. Nilai kuat geser dari pengujian DMT (cu) relatif sama
dengan nilai kuat geser hasil pengujian kuat tekan bebas (Su-uct), namun
lebih kecil bila dibandingkan dengan nilai kuat tekan hasil pengujian
triaxial (Su-tx). Namun demikian nilai kuat geser yang diperoleh baik dari
pengujian DMT maupun dari pengujian laboratorium masih memberikan
nilai yang relatif wajar, dan pengujian kuat tekan bebas selain sederhana
ternyata memberikan nilai yang relatif sama dengan hasil yang diperoleh
dari pengujian dilatometer (DMT).

4.

Nilai sudut geser hasil pengujian DMT jauh lebih besar dari nilai sudut
geser hasil pengujian triaxial. Kemungkinan yang paling logis adalah
karena pengaruh disturbansi pada benda uji pengujian triaxial, dimana
terjadi perubahan sistem tegangan dalam benda uji sejak dari pemboran-

sampling-transportasi-extruding- pembuatan benda uji. (trimming) yang


mengakibatkan perubahan terhadap kekuatan geser tanah.

KESIMPULAN
Setelah mengetahui berbagai parameter serta analisis tentang hasil pengujian alat
Flat Dilatometer maka dapat disimpulkan :
1.

Dari hasil pengujian Dilatometer (DMT) diperoleh banyak parameter


geoteknik sepanjang kedalaman pengujian melalui persamaan-persamaaan
korelasi empiris yang dibuat oleh Marchetti, di mana parameter geoteknik
yang dapat diprediksi melalui data hasil uji DMT antara lain klasifikasi
tanah, Gs, m, Ko, OCR, cu,safe, M, E, dan Go.

2.

Untuk tanah sedimen jelas pengujian Flat Dilatometer sudah sangat teruji
keunggulan dan manfaatnya, karena hampir seluruh parameter tanah yang
dominan dapat diprediksi dalam keadaan asli tanpa gangguan keasliannya,
mengingat penelitian dengan Flat Dilatometer sudah lebih dari 30 tahun
dilakukan pada tanah sedimen.

3.

Apabila dilakukan korelasi nilai hasil parameter uji Flat Dilatometer akan
menghasilkan nilai yang relatif sama dengan hasil pengujian lapangan
yang lainnya (SPT,CPT,Pressuremeter)

4.

Keunggulan lain dari pengujian ini adalah menghemat waktu dan biaya,
karena tidak diperlukan lagi pekerjaan pemboran, pengambilan contoh
tanah dan pengujian laboratorium, untuk mendapatkan parameter
geoteknik yang diperlukan.