Anda di halaman 1dari 42

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PENGAIRAN
MALANG

LAPORAN TUGAS KELOMPOK


SEMESTER 4 (GENAP)
Disusun oleh:
ACHMAD FADILAH (125060401111002)
ALIEF NUR AFRIZAL (125060400111080)
ANDHITA WIDYANINGTYAS (125060400111072)
DITA CAHYA KURNIAWAN (125060400111075)
M. REZA FAHLEVI KHALAWI (125060400111084)
KELAS D

TAHUN AJARAN : 2013/2014

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Soal Tugas Kelompok


Mata Kuliah Teknik Pondasi

Jawablah dengan singkat dan jelas. Lengkapi dengan gambar, diagram atau skema bila
diperlukan.
1. Sebutkan beberapa jenis pengujian tanah di lapangan yang Anda ketahui beserta
tujuannya (minimum 3 jenis).
2. Dalam menentukan daya dukung pondasi dangkal, parameter tanah apa saja yang
diperlukan?
3. Berikan beberapa contoh kegagalan pondasi atau daya dukung tanah pada bangunan
sipil keairan (minimum 3 contoh).
4. Berikan uraian dan penjelasan tentang:
a. Pondasi Cakar Ayam (Prof. Sedijatmo)
b. Pondasi Sarang Laba-laba (Ir. Soetjipto dan Ir. Ryantori)
5. Jelaskan beberapa definisi berikut ini:
a. Lapisan tanah lensa
b. Daya dukung ultimit dan daya dukung ijin tanah
c. Faktor keamanan (factor of safety)
d. Tanah ekspansif

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Uraian jawaban

BEBERAPA JENIS PENGUJIAN TANAH DI LAPANGAN BESERTA TUJUANNYA

Pengujian lapangan dibagi menjadi 2:


1. Pengujian lapangan sederhana dan umum
a. Uji penetrasi standar (Standard Penetration Test/SPT)
Uji SPT dilaksanakan bersamaan dengan pengambilan benda uji tanah
dengan teknik pemukulan/penumbukan tabung split sampler ke dalam tanah.
Tinggi jatuh = 75 cm dengan berat palu 63.5 kg.

Pemukulan untuk memasukkan tabung ke dalam tanah dibagi dalam 3


tahap, yaitu berturut-turut sedalam 150 mm (15 cm) untuk setiap tahap. Tahap
pertama dicatat sebagai dudukan, sedangkan jumlah pukulan untuk tahap kedua
dan ketiga dijumlahkan untuk memperoleh nilai pukulan N atau N-SPT
(dinyatakan dalam jumlah pukulan/30 cm).
Contoh: tahap pertama = 5 pukulan, tahap ke-2 = 7 pukulan, tahap ke-3 = 6
pukulan. Nilai N-SPT adalah = 7 + 6 = 13 pukulan/30 cm.

Keunggulan uji SPT, yaitu:


Dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis tanah secara visual
Dapat digunakan untuk mendapatkan parameter tanah secara kualitatif
melalui korelasi empiris.

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Gambar 1 Prosedur Uji SPT

Gambar 2 Peralatan Uji SPT

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Gambar 3 Peralatan Uji SPT

Gambar 4 Tabung Uji SPT

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Hasil uji SPT sangat dipengaruhi oleh jenis alat. Hal lain yang juga
berpengaruh adalah efisiensi tenaga alat dan operator pelaksana uji.
Menurut SNI 4153 2008, hasil uji SPT perlu dikoreksi untuk hal-hal berikut ini:
CN: faktor koreksi terhadap tegangan vertikal efektif
CE: faktor koreksi terhadap rasio tenaga hammer
CB: faktor koreksi terhadap diameter bor
CR: faktor koreksi untuk panjang batang SPT
CS: faktor koreksi terhadap tabung sampler

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Interpretasi Hasil Uji SPT

Nilai N-SPT dapat dihubungkan secara empiris dengan beberapa parameter


tanah lainnya seperti: relative density (Dr), nilai perlawanan ujung qc yang

didapat dari sondir, dan lain-lain.


Hasil uji SPT sebaiknya diasumsikan sebagai perkiraan kasar saja, dan
perlu dicek-ulang dengan hasil lainnya, misalnya dari uji sondir dan

pengeboran tanah.
Umumnya hasil percobaan penetrasi statis seperti sondir lebih dapat
dipercaya daripada hasil percobaan penetrasi dinamis seperti SPT.

Korelasi Empiris Data SPT


Pada tanah berpasir
Nilai N
0-4
4 - 10
10 - 30
30 - 50
> 50

Kepadatan (Relative Density)


Sangat lepas (very loose)
Lepas (loose)
Sedang (medium)
Padat (dense)
Sangat padat (very dense)

Pada tanah lempung atau lanau


Nilai N

Kekerasan (Consistency)

0-2
2-4
4-8

Sangat lunak (very soft)


Lunak (soft)
Sedang (medium stiff)

8 - 15
15 30

Kaku (stiff)
Sangat kaku (very stiff)

> 30

Keras (hard)

b. Uji Sondir (Cone Penetration Test/CPT)


Sangat cocok untuk keadaan di Indonesia, karena terdapat banyak lapisan
lempung lunak yang dalam, sehingga cukup mudah ditembus oleh alat sondir.
Suatu batang baja berujung kerucut/konis (conus) ditekan ke dalam tanah
dengan kecepatan tertentu, dan gaya perlawanannya diukur (dalam satuan
tegangan, mis: kg/cm2).

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Pada jenis bikonis (konus ganda), nilai perlawanan ujung konis/cone


resistance qc dan nilai perlawanan geser/friction sleeve fs dapat diukur bersamasama.
Keunggulan CPT

Profil kekuatan tanah menerus


memberikan gambaran tanah secara cepat
lebih sederhana

Batasan

Tanah berbatu/berkerikil hasilnya tidak akurat


Sondir mekanis kurang sensitif pada tanah liat yang sangat lunak.

Gambar 5 Alat Uji CPT dan Alat Uji CPT D 3441

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Gambar 7 Alat Uji CPT

Gambar 9 Ukuran Konus Elektrik

Karakteristik Ujung Sondir

Gambar 10 Ujung Sondir 1948

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Hanya dapat mengukur nilai perlawanan ujung

Gambar 11 Ujung Sondir1953

Dikenal sebagai tipe Begemann yang dapat mengukur nilai perlawanan ujung
geser.

Gambar 12 Ujung Sondir Keadaan Tertekan

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Gambar 13 Ujung Sondir Keadaan Terbentang

Gambar 14 Hasil Uji Sondir

Interpretasi Hasil Uji Sondir


Uji sondir tidak dapat secara langsung mengetahui jenis tanah yang diuji.
Namun berdasarkan pengalaman, dapat disimpulkan sebagai berikut:

Untuk nilai perlawanan ujung: tinggi pada pasir, rendah pada lempung.
Untuk nilai perlawanan geser/selimut: rendah pada pasir, tinggi pada
lempung

10

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Hasil uji sondir yang ditampilkan bersama-sama dengan hasil pengujian


pengeboran dapat menghasilkan kesimpulan stratifikasi dan karakteristik tanah
yang lebih baik.

2. Uji Lapangan yang langsung memberikan sifat mekanis tanah


a. Uji baling-baling (field vane shear test): sifat kekuatan tanah

Mengukur kuat geser tanah undrained

Prinsip kerja : Baling-baling ditekan dan diputar

Sesuai untuk tanah liat sangat lunak sedang

Perhitungan kuat geser baling-baling persegi:

Korelasi kuat geser baling-baling dengan kuat geser tanah

Gambar 16 Field Vane Shear Test (FVT)

b. Uji tekan lateral silinder (Pressuremeter test/lateral load test(LLT)): sifat


deformasi tanah

Mengukur kekuatan dan deformasi tanah

11

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Dianjurkan digunakan pada tanah yang membutuhkan prediksi penurunan


elastis
Prinsip kerja : mengembangkan silinder karet yang berisi air dengan memberi
tekanan gas

Gambar 17 Pressuremeter Test (PMT)

12

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Gambar 18 Pressuremeter Test (PMT)

c. Uji tekan lateral pipih (flat dilatometer test): sifat deformasi tanah

Kegunaan dan prinsip kerja sama dengan Pressuremeter


Perbedaan pada arah penekanan DMT (satu arah) dan PMT (radial)

13

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Gambar 19 Dilatometer Test (DMT)

14

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Gambar 20 Dilatometer Test (DMT)

d. Uji tekan pelat (plate bearing test): sifat deformasi

Mengukur kekuatan dan deformasi tanah

untuk pondasi dangkal

beban 2-3x beban rencana hingga tanah runtuh

Digunakan untuk mengetahui daya dukung tanah dan penurunannya terutama

Prinsip kerja : menekan pelat bundar/persegi pada kedalaman tertentu dengan

Pengaruh pembebanan 1,5-2x lebar pelat


Hubungan dengan kuat geser undrained:

Sumber:
Bahan Ajar Mata Kuliah Teknik Pondasi Dr. Eng. Andre Primantyo, ST., MT. Jurusan
Teknik Pengairan Universitas Brawijaya. 2014.
http://adhimuhtadi.dosen.narotama.ac.id/files/2011/04/11_sondir_boring.pdf

15

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

PARAMETER TANAH YANG DIPERLUKAN DALAM MENENTUKAN DAYA


DUKUNG PONDASI DANGKAL

qu = daya dukung ultimit


C = kohesi tanah

= berat volume tanah timbunan

B = lebar dasar pondasi; pada pondasi lingkaran, B merupakan diameter pondasi.


q = . Df = tegangan akibat timbunan

Nc, Nq dan N = faktor daya dukung sebagai fungsi dari sudut geser dalam () tanah; dapat
dihitung atau ditentukan dari tabel atau grafik.

Nc, Nq dan N = faktor daya dukung (bearing capacity factors) bila diasumsikan terjadi
keruntuhan geser keseluruhan (general shear failure).
Nc, Nq dan N = faktor daya dukung bila diasumsikan terjadi keruntuhan geser lokal (local
shear failure).

Pondasi Menerus menggunakan rumus:


qu = c Nc + q Nq + 0.5 B N

Untuk pondasi bujur sangkar (B = L):

qu = 1.3 c Nc + q Nq + 0.4 B N

Untuk pondasi lingkaran:

qu = 1.3 c Nc + q Nq + 0.3 B N

16

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Pengaruh Muka Air Tanah

Bila m.a.t terletak pada 0 D1 Df maka harga q dari perumusan sebelumnya dihitung dengan:
q = effective surcharge = D1 + D2 (sat - w)
= D1 + D2

Dimana: sat = saturated unit weight tanah


w = unit weight air = 1 ton/m3

Juga harga (pada suku terakhir perumusan sebelumnya) harus diganti dengan harga :
= sat - w

Sumber:
Bahan Ajar Mata Kuliah Teknik Pondasi Dr. Eng. Andre Primantyo, ST., MT. Jurusan
Teknik Pengairan Universitas Brawijaya. 2014.

17

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

CONTOH KEGAGALAN PONDASI ATAU DAYA DUKUNG TANAH PADA


BANGUNAN SIPIL KEAIRAN

Proyek Pembangunan Jembatan Sungai Liong


Pada Proyek Pembangunan Jembatan Sungai Liong Bengkalis, kontraktor sebagai
pelaksana tidak memperhatikan kondisi tanah yang berada di bawah konstruksi penopang
jembatan.

Gambar Tampak Bentang Jembatan yang melengkung

Proyek Pembangunan Jembatan Sungai Liong bernilai Milyaran Rupiah di Kabupaten


Bengkalis amburadul. Pihak Kontraktorpun kewalahan melihat kondisi gelagar Jembatan
melengkung dan retak-retak. Padahal kontraktor pelaksana merupakan perusahaan BUMN
yang jelas sudah punya banyak pengalaman mengerjaan perkerjaan tersebut. Kontraktor
sebagai pelaksana tidak memperhitungkan/mengantispasi kondisi tanah dasar sungai yang
dijadikan dasar untuk mendirikan stelling/begisting jembatan tersebut, sehingga begisting
tersebut tidak mampu menahan berat beton sebelum beton tersebut mampu menahan beban
dirinya sendiri.

Sumber:
http://matakuliahteknik.blogspot.com/2010/04/struktur-bawah-bangunan.html

Bendungan Leuwi Biuk

18

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Menurut Oman (54) dan Rafli (53) warga sekitar bendungan mengungkapkan
jebolanya bagian sayap bendungan terjadi pada hari Minggu (26/4) sekitar pukul 21.00 WIB.
Saat runtuh warga juga mendengar suara gemeretak yang sangat keras disertai dengan tanah
yang bergetar. Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa kuat dukung tanah di bawah
pondasi bendungan mempunyai kohesifitas yang rendah.

Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/node/88767

Bendungan Karanglo
Pada saluran irigasi Karanglo terdapat sebuah dam yang keberadaanya sudah tidak
bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini dikarenakan pondasinya sudah rusak (bocor)
sehingga tidak membendung air dengan baik.

Sumber:
http://glagahombo.blogspot.com/2013/02/fenomena-mistis-bendungan-dusun-karanglo.html

19

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

PONDASI CAKAR AYAM DAN PONDASI SARANG LABA-LABA

Konstruksi cakar ayam


Konstruksi cakar ayam adalah salah satu metode rekayasa teknik dalam pembuatan
pondasi bangunan. Metode ini ditemukan oleh Prof. Dr. Ir. Sedijatmo.

Sejarah
Prof Dr Ir Sedijatmo tahun 1961 ketika sebagai pejabat PLN harus mendirikan 7 menara
listrik tegangan tinggi di daerah rawa-rawa Ancol Jakarta. Dengan susah payah, 2 menara
berhasil didirikan dengan sistem pondasi konvensional, sedangkan sisa yang 5 lagi masih
terbengkelai. Menara ini untuk menyalurkan listrik dan pusat tenaga listrik di Tanjung Priok
ke Gelanggang Olah Raga Senayan dimana akan diselenggarakan pesta olah raga Asian Games
1962.
Karena waktunya sangat mendesak, sedangkan sistem pondasi konvensional sangat
sukar diterapkan di rawa-rawa tersebut, maka dicarilah sistem baru ,Lahirlah ide Ir Sedijatmo
untuk mendirikan menara di atas pondasi yang terdiri dari plat beton yang didukung oleh pipapipa beton di bawahnya. Pipa dan plat itu melekat secara monolit (bersatu), dan mencengkeram
tanah lembek secara meyakinkan.
Oleh Sedijatmo, hasil temuannya itu diberi nama sistem pondasi cakar ayam. Menara
tersebut dapat diselesaikan tepat pada waktunya, dan tetap kokoh berdiri di daerah Ancol yang
sekarang sudah menjadi ka wasan industri. Bagi daerah yang bertanah lembek, pondasi cakar
ayam tidak hanya cocok untuk mendirikan gedung, tapi juga untuk membuat jalan dan
landasan. Satu keuntungan lagi, sistem ini tidak memerlukan sistem drainase dan sambungan
kembang susut.

Struktur
Pondasi cakar ayam terdiri dari plat beton bertulang yang relatif tipis yang didukung
oleh buis-buis beton bertulang yang dipasang vertikal dan disatukan secara monolit dengan plat
beton pada jarak 200-250 cm. Tebal pelat beton berkisar antara 10-20 cm, sedang pipa-buis
beton bertulang berdiameter 120 cm, tebal 8 cm dan panjang berkisar 150-250 cm. Buis-buis
beton ini gunanya untuk pengaku pelat. Dalam mendukung beban bangunan, pelat buis beton
dan tanah yang terkurung di dalam pondasi bekerjasama, sehingga menciptakan suatu siatem

20

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

komposit yang di dalam cara bekerjanya secara keseluruhan akan identik dengan pondasi rakit
(raft foundation).

Sumber: http://1.bp.blogspot.com

Mekanisme sistem podasi cakar alam dalam memikul beban dari hasil pengamatan
adalah sebagai berikut: Bila diatas pelat bekerja beban titik, maka beban tersebut membuat
pelat melendut. Lendutan ini menyebabkan buis-buis cakar ayam berotasi. Hasil pengamatan
pada model menunjukkan rotasi cakar terbesar adalah pada cakar yang terletak di dekat beban.
Rotasi cakar memobilisasi tekanan tanah lateral di belakang cakar-ayam dan merupakan
momen yang melawan lendutan pelat. Dengan demikian, cara mengurangi lendutan pelat,
semakin besar momen lawan cakar untuk melawan lendutan maka semakin besar reduksi
lendutan. Momen lawan cakar dipengaruhi oleh dimensi cakar dan kondisi kepadatan (kuat
geser) tanah disekitar cakar,yaitu semakin panjang (dan juga lebar) cakar, maka semakin besar
momen lawan terhadap lendutan pelat yang dapat diperoleh.

21

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Banyak bangunan yang telah menggunakan sistem yang di ciptakan oleh Prof.
Sedijatmo ini, antara lain: ratusan menara PLN tegangan tinggi, hangar pesawat terbang dengan
bentangan 64 m di Jakarta dan Surabaya, antara runway dan taxi way serta apron di Bandara
Sukarno-Hatta Jakarta, jalan akses Pluit-Cengkareng, pabrik pupuk di Surabaya, kolam renang
dan tribune di Samarinda, dan ratusan bangunan gedung bertingkat di berbagai kota.

Sumber: http://satriamadangkara.com/wp-content/uploads/2011/10/Pemasangan-danPengecoran-Pondasi-Cakar-Ayam.jpg

Sistem pondasi cakar ayam ini telah pula dikenal di banyak negara, bahkan telah
mendapat pengakuan paten internasional di 11 negara, yaitu: Indonesia, Jerman Timur, Inggris,
Prancis, Italia, Belgia, Kanada, Amerika Serikat, Jerman Barat, Belanda; dan Denmark.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Konstruksi_cakar_ayam

Pondasi Sarang Laba-Laba

22

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Konstruksi sarang laba-laba (KSLL) ini ditemukan pada tahun 1976 oleh Ir. Ryantori
dan Ir. Sutjipto dan di dalam pengembangan, pemasaran dan pelaksanaannya dipegang oleh
PT. KATAMA SURYABUMI yang telah mematenkannya pada Departemen Hukum dan Ham
RI/ HAKI dengan sertifikat paten No.ID. 0 018808.

Sumber : http://cdn.kaskus.com/images/2013/08/27/2491353_20130827072211.jpg

KSSL yang merupakan karya putra bangsa memiliki teknologi pembangunan yang
dirancang terdiri dari plat tipis yang diperkaku dengan rib-rib tipis dan tinggi yang saling
berhubungan membentuk segitiga-segitiga yang diisi dengan perbaikan tanah sehingga
menjadi satu kesatuan komposit konstruksi beton bertulang dan tanah yang kokoh atau kuat,
kaku dan mampu menyebarkan semua gaya secara merata ke tanah pemikul serta mampu
menerima gaya lateral akibat gempa.

Sumber: http://4.bp.blogspot.com

23

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Pondasi ini memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan pondasi konvensional yang
lain diantaranya yaitu KSSL memiliki kekuatan lebih baik dengan penggunaan bahan bangunan
yang hemat dibandingkan dengan pondasi rakit (full plate) lainnya, mampu memperkecil
penurunan bangunan karena dapat membagi rata kekuatan pada seluruh pondasi dan mampu
membuat tanah menjadi bagian dari struktur pondasi, berpotensi digunakan sebagai pondasi
untuk tanah lunak dengan mempertimbangkan penurunan yang mungkin terjadi dan tanah
dengan sifat kembang susut yang tinggi, menggunakan lebih sedikit alat-alat berat dan bersifat
padat karya, waktu pelaksanaan yang relatif cepat dan dapat dilaksanakan secara industri
(pracetak), lebih ekonomis karena terdiri dari 80% tanah dan 20% beton bertulang dan yang
paling penting adalah ramah lingkungan karena dalam pelaksanaan hanya menggunakan
sedikit menggunakan kayu dan tidak menimbulkan kerusakan bangunan serta tidak
menimbulkan kebisingan disekitarnya.

Sumber: http://4.bp.blogspot.com

Selain digunakan sebagai pondasi bangunan bertingkat tanggung (12 lantai), KSSL
juga telah diaplikasikan untuk pembangunan infrastruktur seperti bandara khususnya untuk
konstruksi Runway, Taxiway dan Apron, seperti yang saat ini sedang dikerjakan di bandara
Juwata dan pembangunan Apron untuk pangkalan TNI AU di Tarakan, Kalimantan Timur.
Penghargaan sebagai Pemenang Lomba Karya Konstruksi Tahun 2007 untuk Kategori
Teknologi Konstruksi yang diselenggarakan oleh Departemen Pekerjaan Umum tahun lalu
akan lebih memiliki arti lagi bila adanya kesadaran dari pihak praktisi bisnis di bidang
konstruksi Indonesia untuk mengaplikasikannya sebagai wujud kebanggaan akan karya cipta
Bangsa Indonesia dan juga berusaha untuk mensosialisasikannya di tingkat international untuk
menjadikan Pondasi KSSL sebagai Prestasi Dunia Dari Indonesia, akan tetapi untuk

24

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

mewujudkan itu semua memerlukan dukungan dari berbagai pihak khususnya dalam hal ini
pemerintah.

Sumber:
http://nanasuryanacenter.wordpress.com/teknik-sipil/pondasi-sarang-laba-laba/

25

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

URAIAN MENGENAI LAPISAN TANAH LENSA; DAYA DUKUNG ULTIMIT DAN


DAYA DUKUNG IJIN TANAH; FAKTOR KEAMANAN (FACTOR OF SAFETY);
DAN TANAH EKSPANSIF

Lapisan Tanah Lensa


Lapisan lensa tanah yaitu suatu lapisan tanah keras yang relatif tipis yang berada di
antara lapisan tanah lunak. Perlu diperhatikan bahwa lapisan lensa tanah ini dapat bersifat
setempat (lokal) maupun meluas. Kedalaman lapisan lensa tidak dapat dipastikan, karena
sangat beragam. Contohnya seperti kondisi tanah di Pekanbaru kerap kali dijumpai lapisan
tanah keras yang tipis (sekitar 1 meter). lapisan ini dijumpai pada kedalaman sekitar belasan
meter dari top soil, sedangkan tanah keras terletak 20 m di bawah top soil.
Kondisi tanah tersebut dapat menimbulkan bahaya bagi bangunan di atasnya apabila
berat bangunan lebih besar dari kekuatan lapisan lensa, karena lapisan lensa bukanlah lapisan
tanah keras yang sebenarnya. Namun apabila berat bangunan masih di bawah kekuatan lensa
maka hal tersebut masih dianggap aman.
Kondisi tanah yang terdapat lapisan lensa di bawahnya dapat diketahui dengan
melakukan penyelidikan tanah. Penyelidikan yang dapat dilakukan untuk mengetahui lapisan
tanah lensa yaitu dengan uji SPT (Standard Penetration Test) dan boring. Tidak dianjurkan
memakai sondir karena untuk daerah-daerah tertentu dimana lapisan tanah berupa pasir maka
alat ini kurang representatif dan tidak dapat menembus lensa gravel/pasir yang cukup tebal dan
padat, sehingga bila dibawah lensa pasir terdapat tanah lunak maka sulit untuk terdeteksi.
Terkadang dalam pengerjaan proyek terdapat suatu kondisi yang terjadi di luar
perencanaan. Seperti misalnya ketika pengerjaan pondasi tiang pancang. Pada saat proses
pemancangan dilakukan dapat diperhatikan jumlah pukulan yang dibutuhkan sebenarnya
berkorelasi atau mempunyai hubungan dengan kekerasan tanah. Semakin keras lapisan tanah
pada ujung tiang, semakin banyak jumlah pukulan yang dibutuhkan untuk memasukkan tiang.
Hal ini tentu juga berarti bahwa PDR (Pile Diving Report) yang didapatkan secara garis besar
akan mirip dengan laporan stratigrafi tanah yang didapatkan melalui penyelidikan tanah (uji
SPT, dan sondir).
Hal ini juga berarti bahwa jumlah pukulan yang dibutuhkan biasanya semakin dalam
akan semakin meningkat/bertambah. Apabila terjadi peningkatan jumlah pukulan secara

26

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

mendadak, maka terdapat kemungkinan bahwa terdapat lensa (lapisan tipis) tanah keras pada
daerah tersebut.

Sumber:
Muhrozi. 2001. Soil Test, Masalah dan Aplikasinya pada Tanah Lunak. Universitas
Diponegoro.
http://wiryanto.wordpress.com/2007/12/19/memilih-sistem-pondasi/#comment-41188
http://irawanfirmansyah.wordpress.com/about-me/#comment-80
http://prasetyotheocean.wordpress.com/2013/05/23/daya-dukung-tanah/
http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000014767913/mengenai-pondasi-dan-uji-ujipondasi-testing/

Daya dukung ultimit dan daya dukung ijin tanah


Menurut Terzaghi, daya dukung ultimit didefinisikan sebagai beban maksimum per
satuan luas dimana tanah masih dapat menopang beban tanpa mengalami keruntuhan.
Pemikiran Terzaghi ini dinyatakan dengan persamaan:

Dimana :
qu

= daya dukung ultimit

Pu

= beban ultimit

= luas pondasi

Kapasitas/daya dukung tanah (bearing capacity) adalah kekuatan tanah untuk menahan
suatu beban yang bekerja padanya yang biasanya disalurkan melalui pondasi. Kapasitas/daya
dukung tanah batas (qu = qult = ultimate bearing capacity) adalah tekanan maksimum yang
dapat diterima oleh tanah akibat beban yang bekerja tanpa menimbulkan kelongsoran geser
pada tanah pendukung tepat di bawah dan sekeliling pondasi.
Konsep perhitungan daya dukung batas tanah dan bentuk keruntuhan geser dalam tanah
dapat dilihat dalam model pondasi menerus dengan lebar (B) yang diletakkan pada permukaan
lapisan tanah pasir padat (tanah yang kaku) seperti pada Gambar 1.3a. Apabila beban terbagi
rata (q) tersebut ditambah, maka penurunan pondasi akan bertambah pula. Bila besar beban
terbagi rata q = qu (qu = daya dukung tanah batas) telah dicapai, maka keruntuhan daya dukung

27

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

akan terjadi, yang berarti pondasi akan mengalami penurunan yang sangat besar tanpa
penambahan beban q lebih lanjut seperti Gambar 1.3b. Hubungan antara beban dan penurunan
ditunjukkan pada kurva I pada Gambar 1.3b. Untuk keadaan ini, qu didefinisikan sebagai daya
dukung batas dari tanah.

qu

Beban per
satuan luas

q
I

II
B
Keruntuhan
geser
setempat
(a)

Keruntuhan
geser
menyeluruh
(b)

Gambar 1.3 Daya dukung batas tanah untuk kondisi dangkal.


(a) Model pondasi
(b) Grafik hubungan antara beban dan penurunan

Terdapat 3 kemungkinan pola keruntuhan kapasitas dukung tanah, yaitu :


1. Keruntuhan geser umum (General Shear Failure), Gambar 1.4.
1) Kondisi kesetimbangan plastis terjadi penuh diatas failure plane
2) Muka tanah di sekitarnya mengembang (naik)
3) Keruntuhan terjadi di satu sisi sehingga pondasi miring
4) Terjadi pada tanah dengan kompresibilitas rendah (padat dan kaku)
5) Kapasitas dukung batas (qu) bisa diamati dengan baik.

28

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Gambar 1.4. Pola keruntuhan geser umum (General Shear Failure).

2. Keruntuhan geser setempat (Local Shear Failure), Gambar 1.5.


1) Muka tanah disekitar pondasi tidak terlalu mengembang, karena dorongan kebawah
dasar pondasi lebih besar
2) Kondisi kesetimbangan plastis hanya terjadi pada sebagian tanah saja
3) Miring yang terjadi pada pondasi tidak terlalu besar terjadi
4) Terjadi pada tanah dengan kompresibilitas tinggi yang ditunjukkan dengan penurunan
yang relatif besar
5) Kapasitas dukung batas (qu) sulit dipastikan sulit dianalisis, hanya bisa diamati
penurunannya saja.

29

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Gambar 1.5. Pola keruntuhan geser setempat (Local Shear Failure).

3. Keruntuhan geser baji/penetrasi (Punching Shear Failure), Gambar 1.6.


1) Terjadi desakan di bawah dasar pondasi disertai pergeseran arah vertikal sepanjang tepi
2) Tidak terjadi kemiringan pondasi dan pengangkatan di permukaan tanah
3) Penurunan yang terjadi cukup besar
4) Terjadi pada tanah dengan kompresibilitas tinggi dan kompresibilitas rendah jika
kedalaman pondasi agak dalam

Gambar 1.6. Pola Keruntuhan geser baji (Punching Shear Failure)

Kapasitas Daya Dukung Menurut Terzaghi


Analisis kapasitas dukung didasarkan kondisi general shear failure, yang dikemukakan
Terzaghi (1943) dengan anggapan-anggapan sebagai berikut:

Tahanan geser yang melewati bidang horisontal di bawah pondasi diabaikan


Tahanan geser tersebut digantikan oleh beban sebesar q = . Df

Membagi distribusi tegangan di bawah pondasi menjadi tiga bagian

Tanah adalah material yang homogen, isotropis dengan kekuatan gesernya yang mengikuti
hukum Coulumb.

= c + . tan

(1.1)

dimana :

= tegangan geser

30

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

c = kohesi tanah

= tegangan normal

= sudut geser dalam tanah

Untuk pondasi menerus penyelesaian masalah seperti pada analisa dua dimensi
Analisa distribusi tegangan di bawah dasar pondasi menurut teori Terzaghi seperti
ditunjukkan pada Gambar 1.7, dimana bidang keruntuhan dibagi menjadi 3 (tiga) zona
keruntuhan yaitu:

Gambar 1.7 Analisa distribusi tegangan di bawah pondasi menurut teori Terzaghi (1943)
Zona I
Bagian ACD adalah bagian yang tertekan ke bawah dan menghasilkan suatu keseimbangan
plastis dalam bentuk zona segitiga di bawah pondasi dengan sudut ACD = CAD = = 45o
+ /2. Gerakan bagian tanah ACD ke bawah mendorong tanah disampingnya ke samping.

Zona II
Bagian ADF dan CDE disebut radial shear zone (daerah geser radial) dengan curve DE
dan DF yang bekerja pada busur spiral logaritma dengan pusat ujung pondasi.
Zona III
Bagian AFH dan CEG dinamakan zona pasif Rankine dimana bidang tegangannya
merupakan bidang longsor yang mengakibatkan bidang geser di atas bidang horisontal
tidak ada dan digantikan dengan beban sebesar

q = . Df

Terzaghi (1943), memberikan beberapa rumus sesuai dengan bentuk geometri pondasi
tersebut. Rumus-rumus yang dimaksud antara lain:
Untuk tanah dengan keruntuhan geser umum (general shear failure)

31

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

1. Kapasitas daya dukung pondasi menerus dengan lebar B


qu = c Nc + Df Nq + 1/2 B N

(1.2)

2. Kapasitas daya dukung pondasi lingkaran dengan jari-jari R


qu = 1,3 c Nc + Df Nq + 0,6 R N

(1.3)

3. Kapasitas daya dukung pondasi bujur sangkar dengan sisi B


qu = 1,3 c Nc + Df Nq + 0,4 B N

(1.4)

4. Kapasitas daya dukung pondasi segi empat (B x L)

qu = c Nc (1 + 0,3 B/L) + Df Nq + 1/2 B N (1-0,2 . B/L)

(1.5)

dimana:
qu = daya dukung maksimum
c

= kohesi tanah

= berat isi tanah

= lebar pondasi (= diameter untuk pondasi lingkaran )

= panjang pondasi

Df = kedalaman pondasi
Nc; Nq; N adalah faktor daya dukung yang besarnya dapat ditentukan dengan memakai
Tabel 1.1 atau Gambar 1.8 atau dengan memakai rumus-rumus sebagai berikut:

e 2(3/4/)tan

1 cot (N q 1)
N c cot


2
2cos 4 2

e 2(3/4/)tan
Nq

2cos 2 45
2

1 K py
1 tan
2 cos 2

(1.6)

(1.7)

(1.8)

Kpy = koefisien tekanan tanah pasif

Untuk tanah dengan keruntuhan geser setempat (local shear failure)

32

Tugas Kelompok Teknik Pondasi


Untuk harga c diganti c = 2/3 c dan harga diganti = tan-1 (2/3 tan ). Dari nilai c dan
didapatkan faktor-faktor daya dukung untuk kondisi keruntuhan lokal: Nc; Nq; N
(Table 1.2 atau Gambar 1.8).
1. Kapasitas daya dukung pondasi menerus dengan lebar B
qu = c Nc + Df Nq + 1/2 B . N

(1.9)

2. Kapasitas daya dukung pondasi lingkaran dengan jari-jari R


qu = 1,3 c Nc + Df Nq + 0,6 R N

(1.10)

3. Kapasitas daya dukung pondasi bujur sangkar dengan sisi B


qu = 1,3 c Nc + Df Nq + 0,4 B N

(1.11)

4. Kapasitas daya dukung pondasi persegi empat (BxL)

qu = c Nc (1 + 0,3 B/L) + Df Nq + 1/2 B Ny (1-0,2.BL)

(1.12)

Tabel 1.1 Faktor Daya Dukung Terzaghi untuk Kondisi Keruntuhan Geser Umum (general
shear failure)

33

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Nc
5,70
6,00
6,30
6,62
6,97
7,34
7,73
8,15
8,60
9,09
9,61
10,16
10,76
11,41
12,11
12,86
13,68
14,60
15,12
16,56
17,69
18,92
20,27
21,75
23,36
25,13

Nq
1,00
1,10
1,22
1,35
1,49
1,64
1,81
2,00
2,21
2,44
2,69
2,98
3,29
3,63
4,02
4,45
4,92
5,45
6,04
6,70
7,44
8,26
9,19
10,23
11,40
12,72

N
0,00
0,01
0,04
0,06
0,10
0,14
0,20
0,27
0,35
0,44
0,56
0,69
0,85
1,04
1,26
1,52
1,82
2,18
2,59
3,07
3,64
4,31
5,09
6,00
7,08
8,34

26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

Nc
27,09
29,24
31,61
34,24
37,16
40,41
44,04
48,09
52,64
57,75
63,53
70,01
77,50
85,97
95,66
106,81
119,67
134,58
151,95
172,28
196,22
224,55
258,28
298,71
347,50

Nq
14,21
15,90
17,81
19,98
22,46
25,28
28,52
32,23
36,50
41,44
47,16
53,80
61,55
70,61
81,27
93,85
108,75
126,50
147,74
173,28
204,19
241,80
287,85
344,63
415,14

N
9,84
11,60
13,70
16,18
19,13
22,65
26,87
31,94
38,04
45,41
54,36
65,27
78,61
95,03
115,31
140,51
171,99
211,56
261,60
325,34
407,11
512,84
650,67
831,99
1072,80

* Kumbhojkar (1993)

Tabel 1.2 Faktor-faktor daya dukung Terzaghi modifikasi untuk kondisi keruntuhan geser
setempat (locall shear failure)

34

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Nc

Nq

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

5,70
5,90
6,10
6,30
6,51
6,74
6,97
7,22
7,47
7,74
8,02
8,32
8,63
8,96
9,31
9,67
10,06
10,47
10,90
11,36
11,85
12,37
12,92
13,51
14,14
14,80

1,00
1,07
1,14
1,2
1,30
1,39
1,49
1,59
1,70
1,82
1,94
2,08
2,22
2,38
2,55
2,73
2,92
3,13
3,36
3,61
3,88
4,17
4,48
4,82
5,20
5,60

N
0,00
0,005
0,02
0,04
0,055
0,074
0,10
0,128
0,16
0,20
0,24
0,30
0,35
0,42
0,48
0,57
0,67
0,76
0,88
1,03
1,12
1,35
1,55
1,74
1,97
2.25

Nc

Nq

26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

15,53
16,30
17,13
18,03
18,99
20,03
21,16
22,39
23,72
25,18
26,77
28,51
30,43
32,53
34,87
37,45
40,33
43,54
47,13
51,17
55,73
60,91
66,80
73,55
81,31

6,05
6,54
7,07
7,66
8,31
9,03
9,82
10,69
11,67
12,75
13,97
15,32
16,85
18,56
20,50
22,70
25,21
28,06
31,34
35,11
39,48
44,54
50,46
57,41
65,60

N
2,59
2,88
3,29
3,76
4,39
4,83
5,51
6,32
7,22
8,35
9,41
10,90
12,75
14,71
17,22
19,75
22,50
26,25
30,40
36,00
41,70
49,30
59,25
71,45
85,75

* Kumbhojkar (1993)

Gambar 1.8 Grafik Faktor Daya Dukung Terzaghi

Pengaruh Permukaan Air Tanah Terhadap Kapasitas Dukung


Terdapat tiga keadaan pengaruh muka air tanah (ground water table) terhadap kapasitas
dukung, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.9.

35

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Gambar 1.9. Perubahan kapasitas dukung adanya beda tinggi muka air tanah
a. Kasus I : jika letak muka air tanah, 0 < D1 Df :
q = D1. + D2(sat - w) dan

nilai dibawah pondasi menjadi : = sat w

b. Kasus II : jika letak muka air tanah, 0 < d B :


q = .Df dan nilai dibawah pondasi menjadi :

c. Kasus III : jika letak muka air tanah, d B :

(1.13)

d
( )
B

(1.14)

Muka air tanah tidak berpengaruh terhadap kapasitas dukung tanah.

Rumus Kapasitas Dukung Secara Umum


Meyerhof (1963) telah mengembangkan rumus-rumus perhitungan kapasitas daya
dukung dengan mempertimbangkan faktor: kedalaman, bentuk dan kemiringan beban. Rumus
daya dukung secara umum dari Meyerhof adalah:
qu = c.Nc.Fcs.Fcd.Fci + .Df.Nq.Fqs.Fqd.Fqi + ..B.N.Fs.Fd.Fi

(1.15)

Dimana :
qu = daya dukung maksimum
c = kohesi tanah
B = lebar pondasi (= diameter untuk pondasi lingkaran )
= berat isi tanah

Df = kedalaman pondasi
Fcs, Fqs, Fs = faktor bentuk

36

Tugas Kelompok Teknik Pondasi


Fcd, Fqd, Fd = faktor kedalaman
Fci, Fqi, Fi

= faktor kemiringan beban

Nc; Nq; N

= faktor daya dukung, sesuai Tabel 1.3 atau dengan rumus faktor daya

dukung diberikan oleh Meyerhof sebagai berikut :

N q tan 2 45 e .tan
2

(1.16)

Nc (Nq 1).cot

(1.17)

N 2.(Nq 1).tan

(1.18)

Tabel 1.3 Faktor daya dukung Meyerhof (1963)

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Nc
5,14
5,38
5,63
5,90
6,19
6,49
6,81
7,16
7,53
7,92
8,35
8,80
9,28
9,81
10,37
10,98
11,63
12,34
13,10
13,93
14,63
15,82
16,88
18,05
19,32
20,72

Nq
1,00
1,09
1,20
1,31
1,43
1,57
1,72
1,88
2,06
2,25
2,47
2,71
2,97
3,26
3,59
3,94
4,34
4,77
5,26
5,80
6,40
7,07
7,82
8,66
9,60
10,66

N
Nq/Nc
0,00
0,20
0,07
0,20
0,15
0,21
0,24
0,22
0,34
0,23
0,45
0,24
0,57
0,25
0,71
0,26
0,86
0,27
1,03
0,28
1,22
0,30
1,44
0,31
1,69
0,32
1,97
0,33
2,29
0,35
2,65
0,36
3,06
0,37
3,53
0,39
4,07
0,40
4,68
0,42
5,39
0,43
6,20
0,45
7,13
0,46
8,20
0,48
9,44
0,50
10,88 0,51

tan
0,00
0,02
0,03
0,05
0,07
0,09
0,11
0,12
0,14
0,16
0,18
0,19
0,21
0,23
0,25
0,27
0,29
0,31
0,32
0,34
0,36
0,38
0,40
0,42
0,45
0,47

26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

Nc
22,25
23,94
25,80
27,86
30,14
32,67
35,49
38,64
42,16
46,12
50,59
55,63
61,35
67,87
75,31
83,86
93,71
105,11
118,37
133,88
152,10
173,64
199,26
229,93
266,89

Nq
11,85
13,20
14,72
16,44
18,40
20,63
23,18
26,09
29,44
33,30
37,75
42,92
48,93
55,96
64,20
73,90
85,38
99,02
115,31
134,88
158,51
187,21
222,31
265,51
319,07

N
Nq/Nc
12,54
0,53
14,47
0,55
16,72
0,57
19,34
0,59
22,40
0,61
25,99
0,63
30,22
0,65
35,19
0,68
41,06
0,70
48,03
0,72
56,31
0,75
66,19
0,77
78,03
0,80
92,25
0,82
109,41 0,85
130,22 0,88
155,55 0,91
186,54 0,94
224,64 0,97
271,76 1,01
330,35 1,04
403,67 1,08
496,01 1,12
613,16 1,15
762,89 1,20

tan
0,49
0,51
0,53
0,55
0,58
0,60
0,62
0,65
0,67
0,70
0,73
0,75
0,78
0,81
0,84
0,87
0,90
0,93
0,97
1,00
1,04
1,07
1,11
1,15
1,19

* Vesic (1973)

Rumus umum yang digunakan untuk menentukan faktor pengaruh bentuk, kedalaman dan
kemiringan beban dapat digunakan seperti dalam Tabel 1.4

37

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Tabel 1.4 Faktor bentuk, kedalaman dan kemiringan yang rekomendasikan:


Faktor
Bentuk

Rumus

Fcs 1

Sumber
De Beer (1970)

B Nq

L Nc

B
tan
L
B
F s 1 0,4
L
Fqs 1

Kedalaman

Untuk = 0

a. Bila Df/B 1

Fcd 1 0,4

Fqd 1

Hansen (1970)

Df
B

Fd 1

Untuk > 0

Fcd Fqd -

1 - Fqd

N c tan

Fqd 1 2 tan 1 sin

Fd 1

Untuk = 0

Df
B

b. Bila Df/B > 1

D
Fcd 1 0,4 tan 1 f
B

Fqd 1

Fd 1

Untuk > 0

Fcd Fqd -

1 - Fqd

N c tan

D
Fqd 1 2 tan 1 sin tan 1 f
B

F d 1

...lanjutan Tabel 1.4


Faktor

Rumus

Sumber

38

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Kemiringan

Fci Fqi 1

90

F i 1

Mayerhof (1963);
Hanna dan Mayerhof
(1981)

Df

Gambar 1.10 Kemiringan beban pada pondasi

Sumber:
http://www.slideshare.net/ayufatimahzahra/daya-dukung-pondasi-dengan-analisis-terzaghi
http://www.rahmadsigit.files.wordpress.com/2013/04/daya-dukung.doc

Faktor keamanan (factor of safety)


Nilai faktor keamanan (F.S) tidak ada batasannya, namun karena banyak ketidakpastian
nilai dan c, maka secara umum F.S diambil minimum = 3 dengan pertimbangan tanah tidak
homogen, dan tidak isotropis.

Sumber:
http://muchtar.dosen.narotama.ac.id/files/2011/05/M2-Rekayasa-pondasi-2011.pdf

Tanah ekspansif
Tanah ekspansif merupakan istilah yang mengacu pada tanah atau batuan yang memliki
potensi untuk mengembang dan menyusut akibat perubahan kondisi airnya. Secara teknis,
tanah ini biasanya mengandung mineral montmorillonite bermuatan negatif besar yang
menyerap air dengan mengisi rongga pori, sehingga tanahnya mengembang, dan kekuatannya
berkurang drastis.
Walaupun definisi ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya fenomena kembang susut
dari tanah ekspansif memiliki kinerja yang rumit dan kompleks. Dari beberapa studi yang telah

39

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

dilakukan, didapati kenyataan bahwa fenomena kembang susut (shrink-swell phenomena)


dalam tanah tergantung banyak faktor, termasuk kondisi hubungan makro-mikro yang
tergantung di dalam suatu mineral lempung. Segala perubahan bentuk yang terjadi di
permukaan tanah, terbukti berasal dari perubahan mikroorganisasi di dalam suatu partikel
lempung.

Sumber: http://konstruksimania.blogspot.com/2012/06/hati-hati-dengan-tanah-ekspansif.html

Secara umum, sifat-sifat yang menonjol dari tanah ekspansif adalah berdaya dukung
sangat rendah pada kondisi basah. Kemudian, kembang susutnya sangat tinggi, sehingga
berakibat sangat buruk bilamana mengalami perubahan kadar air (timbul retak-retak pada
kondisi kering dan mengembang pada kondisi basah).
Beberapa parameter umum dapat digunakan sebagai indikator tanah ekspansif, antara
lain :
1. Dari hasil laboratorium tanah, didapati : PI > 25 ; LL > 40 ; dan SL < 11
2. Alluvium berwarna gelap, seperti hitam, biru, atau coklat tua (kadang-kadang ada
bintik-bintik putihnya)
3. Sangat peka terhadap perubahan kadar air (potensi retak dan mengembang)
Tanah ekspansif memiliki karakteristik yang berbeda dengan jenis tanah pada
umumnya yaitu:
1. Mineral Lempung

40

Tugas Kelompok Teknik Pondasi

Mineral lempung yang menyebabkan perubahan volume umumnya mengandung


montmorillonite atau vermiculite, sedangkan illite dan kaolinite dapat bersifat ekspansif
bila ukuran partikelnya sangat halus.
2. Kimia Tanah
Meningkatnya konsentrasi kation dan bertambahnya tinggi valensi kation dapat
menghambat pengembangan tanah.
3. Plastisitas
Tanah dengan indeks plastisitas dan batas cair yang tinggi mempunyai potensi untuk
mengembang yang lebih besar.
4. Struktur Tanah
Tanah lempung yang berflokulasi cenderung bersifat lebih ekspansif dibandingkan
denganyang terdispersi.
5. Berat Isi Kering
Tanah yang mempunyai berat isi kering yang tinggi menunjukkan jarak antar partikel
yang kecil, hal ini berarti gaya tolak yang besar dan potensi pengembangan yang tinggi.
Berdasarkan penelitian Pusat Litbang Prasarana Transportasi, Balitbang Kimpraswil
(1992), distribusi tanah ekspansif di pulau Jawa meliputi:
1. Daerah pantai utara, yaitu pada ruas jalan Jakarta - Cikampek (Jawa Barat), Demak Kudus, Dempet - Godong, dan Semarang - Purwodadi (Jawa Tengah). Juga di
sepanjang ruas jalan Lamongan - Gersik, dan Surabaya - Gersik (Jawa Timur).
2. Pada daerah perbukitan rendah, terdapat pada ruas jalan Bojonegoro - Babat (Jawa
Tengah) dan Ngawi - Caruban (Jawa Timur).
3. Sementara pada daerah endapan vulkanik, tanah ekspansif menyebar antara ruas jalan
Yogya - Wates.

Sumber:
http://id.shvoong.com/exact-sciences/earth-sciences/2253731-definisi-tanah-ekspansif/
http://aryapersada.com/teknik-konstruksi-di-atas-tanah-ekspansif.html
http://konstruksimania.blogspot.com/2012/06/hati-hati-dengan-tanah-ekspansif.html

41