Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fluida adalah zat yang bisa mengalir, yang mempunyai partikel yang
mudah bergerak dan berubah bentuk tanpa pemisahan massa. Tahanan fluida
tanpa perubahan bentuk sangat kecil, sehingga fluida dapat dengan mudah
mengikuti bentuk ruangan / tempat yang membatasinya. Semua fluida nyata (gas
dan zat cair) memiliki sifat-sifat khusus yang dapat diketahui, antara lain: rapat
massa, berat jenis,rapat relatif, kekentalan, kemampatan, tegangan permukaan
(surface tension), dan kapilaritas (capillarity). Beberapa sifat fluida pada
kenyataannya merupakan kombinasi dari sifat-sifat fluida lainnya. Sebagai contoh
kekentalan kinematik melibatkan kekentalan dinamik dan rapat massa.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari makalah ini adalah agar mahasiswa/i memahami
permasalahan sifat-sifat zat cair dan juga dapat menghitung nilai rapat massa,
berat jenis, rapat relatif, viscositas, kapilaritas dan tegangan permukaan untuk
suatu studi kasus.
1.3 Pembatasan Masalah
Pada makalah ini yang menjadi pokok pembahasan masalahnya adalah
rapat massa, berat jenis rapat relative,viscositas,dan kapilaritas.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Dimensi dan Satuan
Dimensi adalah ukuran untuk menyatakan peubah fisika secara kuantitatif.
Satuan adalah suatu cara khusus untuk mengaitkan sebuah bilangan
dengan dimensi kuantitatif. Jadi, panjang adalah suatu dimensi yang dapat
dikaitkan dengan peubah-peubah seperti jarak, pergeseran, lebar, simpangan, dan
ketinggian. Meter atau inci keduanya merupakan satuan numeris untuk
menyatakan panjang. Sistem satuan senantiasa berbeda-beda dari satu negara ke
negara lain, walaupun kesepakatan internasional telah dicapai. Pada mulanya
banyak dipakai satuan Inggris, karena terlalu banyak menggunakan faktor
konversi, maka dianggap rumit dan tidak praktis. Pada tahun 1872 suatu
pertemuan internasional di Perancis mengusulkan suatu perjanjian yang disebut
Konvensi Metrik, yang ditandatangani oleh 17 negara. Konvensi Metrik
merupakan perbaikan atas system Inggris, yaitu dengan memperkenalkan sistem
desimal. Masalah tetap ada, sebab beberapa negara yang sudah menggunakan
sistem metrik pun masih menggunakan sistem Inggris untuk satuan-satuan
tertentu, contohnya kalori padahal seharusnya joule, kilopond padahal seharusnya
newton, dan sebagainya. Konferensi umum tentang timbangan dan ukuran
diselenggarakan pada tahun 1960 untuk membakukan sistem metrik. Konferensi
ini mengusulkan Sistem Satuan Internasional (SI), seperti yang selama ini kita
pakai. Di dalam mekanika fluida hanya ada empat dimensi pokok. Semua dimensi
lainnya dapat diturunkan dari keempat dimensi pokok ini. Dimensi pokok itu ialah
massa, panjang, waktu dan suhu.
Tabel 1.1. Dimensi-dimensi pokok dalam sistem SI
Dimensi pokok Satuan
Massa

Kilogram (kg)

Panjang

Meter (m)

Waktu

Sekon (s)

Suhu

Kelvin (K)

Tabel 1.2. Dimensi-dimensi turunan dalam mekanika fluida dalam sistem SI


Dimensi pokok Satuan
Luas (L2)

m2

Volume (L3)

m3

Kecepatan (LT-1)

m/s

Percepatan (LT-2)

m/s2

Tekanan (ML-1T-2)

Pa=N/m2

Kecepatan sudut (T-1)

s-1

Energi, kalor, usaha (ML2T-2)

J=N.m

Daya (ML2T-3)

W=J/s

Kerapatan (ML-3)

kg/m3

Kekentalan (ML-1T-1)

kg/(m.s)

Kalor spesifik (L2T-2Q-1)

m2/(s2.K)

2.2 Rapat Massa, Berat Jenis, Rapat relatif


Rapat massa () adalah ukuran konsentrasi massa zat cair dan dinyatakan
dalam bentuk massa (m) persatuan volume (V).

=
dimana :
m = massa
V = volume
= rapat massa
Rapat massa air (air) pada suhu 40C dan pada tekanan atmosfer (atm) adalah 1000
kg/m3.
Berat jenis () adalah berat benda persatuan volume pada temperatur dan
tekanan tertentu, dan berat suatu benda adalahhasil kali antara rapat massa () dan
percepatan gravitasi (g).
=.g
Rapat relative (s) adalah perbandingan rapat massa suatu zat () dan rapat
massa air (air), atau perbandingan antara berat jenis suatu zat ( )dan berat jenis
air (air).
s=

atau s =

karena pengaruh temperature dan tekanan pada rapat massa zat cair sangat kecil,
maka dapat diabaikan sehingga rapat massa zat cair dapat dianggap tetap.
Fluida

kg

Massa jenis

Raksa
Air (pada suhu 4 C)
Air Laut
Alkohol
Bensin
Udara (0 C, 1 atm)

m3

13.6 x 10 3
1 x 10 3
1.025 x 10 3
0.79 x 10 3
0.68 x 10 3
1.29
4

Helium (0 C, 1 atm)
Karbondioksida (0 C, 1 atm)
Uap air (100 C)

0.179
1.98
0.598

Berikut terdapat suatu contoh kasus didalam kehidupan kita sehari-hari,yaitu :


Massa sebuah gelas ukur kosong adalah 100 g. Kedalam gelas ukur tersebut
dimasukkan fluida hingga permukaan fluida berada pada level 150 ml. Massa
gelas ukur yang berisi fluida adalah 200 g. Tentukan Rapat Massa, Rapat Jenis
dan Rapat Relatif fluida tersebut. Dan perkirakan jenis fluida yamg diukur !
Jawaban:
Diketahui :
V = 150 ml = 0.00015 m 3
m = 100 g = 0.1 kg
Ditanyakan :

Berat jenis () ... ?

Rapat massa () ... ?

Rapat relatif (S) ... ?

Jenis fluida ... ?

= 667
=.g
= 667

. 9,81

= 6543.27

= 6543.27

s=

kg
=

kg

m3
m3

= 0.667
Berdasarkan data pada tabel, massa jenis ini sangat dekat dengan massa jenis
bensin. Jadi fluida yang diukur kemungkinan besar adalah bensin.

2.2 Kekentalan/Viskositas () Dinamik


Kekentalan adalah sifat dari zat cair untuk melawan tegangan geser ()
pada waktu bergerak atau mengalir. Kekentalan disebabkan adanya kohesi antara
partikel zat cair sehingga menyebabkan adanya tegangan geser antara molekulmolekul yang bergerak. Zat cair ideal tidak memiliki kekentalan. Kekentalan zat
cair dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kekentalan dinamik () atau kekentalan
absolute dan kekentalan kinematis ().
Gambar 2.1 menunjukkan zat cair yang terletak diantara dua plat sejajar
yang berjarak sangat kecil (Y). Plat bagian bawah adalah diam sedang plat atas
bergerak dengan kecepatan (U). Partikel zat cair yang bersinggungan dengan plat
yang bergerak mempunyai kecepatan yang sama dengan plat tersebut. Tegangan
geser antara dua lapis zat cair adalah sebanding dengan gradient kecepatan dalam
arah tegak lurus dengan gerak (du/dy).

=
Dengan :
(mu) = kekentalan dinamik (Nd/m2)
(tau) = tegangan geser (N/m2)
Dalam beberapa masalah mengenai gerak zat cair, kekentalan dinamik dapat
dihubungkan dengan kekentalan kinematik sebagai berikut :

=
Dengan :
(nu) = Kekentalan kinematik (m2/d).
Pada zat cair ideal, tegangan geser adalah nol dan kurvanya berimpit dengan
absis. Untuk zat cair bukan newton, tegangan geser tidak berbanding lurus dengan
gradient kecepatan. Seperti grafik yang digambarkan dibawah ini:

Gambar 2.2 Hubungan antara tegangan geser dan gradient kecepatan

Dibawah ini akan diberikan sebuah contoh kasus yaitu:


Misalkan fluida yang diberi geseran oleh pelat adalah oli pada suhu 20 C.
Hitunglah viskositas oli tersebut jika diketahui = 43 N

m2

, V = 3 m/det dan Y =

2 cm.
Penyelesaian :
Diketahui Y = 2 cm =0.02 m
V = 3 m/det
= 43 N/m2
Ditanya

Jawab :
=

= 43 (N/m2)

m
0.02
m
3

det

= 0.29 Ndet/m2
2.3 Kapilaritas
Kapilaritas terjadi akibat adanya gaya kohesi dan adhesi antar molekul, jika
kohesi lebih kecil daripada adhesi maka zat cair akan naik dan sebaliknya jika
lebih besar maka zat cair akan turun. Contoh kapilaritas akan membuat air naik
pada tabung gelas, sementara air raksa akan turun seperti gambar dibawah ini :

Gambar 2.3 Kapilaritas


Kenaikan atau penurunan zat cair didalam suatu tabung dapat dihitung dengan
menyamakan gaya angkat yang dibentuk oleh tegangan permukaan dengan gaya
berat.
p. cos = A.h.
(2..r). cos = (.r2).h.

h=
Dengan : P = Keliling tabung
A = Luas Tabung
= Tegangan Permukaan
= Berat jenis zat cair
r = Jari-jari tabung
h = Kenaikan kapiler

Catatan : Bila kondisi tabung bersih


= 0o untuk air
= 140o untuk air raksa.
9

Dibawah ini akan diberikan sebuah contoh kasus yaitu:


Tegangan permukaan untuk air raksa adalah 0.465 N/m dan = 140 . Sebuah
pipa kapiler dari gelas berdiameter 6 mm ditempatkan dalam mangkuk air raksa.
Berapa ketinggian air raksa dalam pipa relatif terhadap permukaan dalam
mangkuk ?
Penyelesaian:
Diketahui : d = 6 mm = 0.006 m
r = 3 mm = 0.003 m
= 465 x10-3 N/m
= 140 o
Ditanya h? jika rapat relative (s) = 13.6
Jawab
Rapat relatif (s) =

13.6 =

= 13.6x103
=.g
= 13.6x103(kg/m3)x9.81(m/det2)
= 133416 N/m3

h=

2 x 0.465 x cos140
(
0.003 x133416

=m
10

= - 0.00178 m
= - 1.78 mm
Air raksa di pipa kapiler ditekan 1.78 mm dibawah permukaan air raksa
dimangkuk.

BAB III
KESIMPULAN

Fluida adalah suatu zat yang mempunyai kemampuan berubah secara


kontinyu apabila mengalami geseran, atau mempunyai reaksi terhadap tegangan
geser sekecil apapun. Dalam keadaan diam atau dalam keadaan keseimbangan,
fluida tidak mampu menahan gaya geser yang bekerja padanya, dan oleh sebab itu
fluida mudah berubah bentuk tanpa pemisahan massa. Pada zat cair mempunyai
sifat-sifat antara lain yaitu mempunyai rapat massa,berat jenis,dan rapat relative,
dan juga mempunyai viskositas (kekentalan) dan mempunyai kohesi,adhesi serta

11

tegangan permukaan. Dari sifat-sifat yang sudah disebutkan, satu sama lain saling
berkaitan.

DAFTAR PUSTAKA

Bambang Triatmodjo, Hidraulika II, BETA OFFSET, Yogyakarta 1995


Www.google.com/search/ perencanaan saluran air,pdf file,2010
Chow ven. te, Hidrolika Saluran Terbuka, Erlangga

12