Anda di halaman 1dari 5

Keseimbangan dan koordinasi (bagian 1)

Posted on 26 Januari, 2008 by binhasyim

By:Setiawan, M. Physio

Koordinasi meliputi semua aspek dari gerak termasuk keseimbangan, yang


memungkinkan gerakan terjadi dengan bebas, bertujuan, akurat, dengan
kecepatan, irama dan ketegangan otot yang terarah/terkontrol
Terminologi Balance dan equilibrium sering dipakai untuk makna yang sama
yaitu keseimbangan
Keseimbangan juga bisa diartikan sebagai kemampuan relatif untuk mengontrol
pusat massa tubuh (center of mass) atau pusat gravitasi (center of gravity)
terhadap bidang tumpu (base of support) baca selengkapnya
Keseimbangan merupakan suatu proses dimana tubuh berusaha mempertahankan
posisinya saat melakukan berbagai kegiatan (Kreighbaum, 1985)
Menurut Ghez (1991) keseimbangan dikatakan sebagai satu keluarga
penyesuaian yang bertujuan untuk:
1. mempertahankan kepala dan tubuh terhadap gravitasi dan kekuatan dari
luar lainnya

2. mempertahankan tegak dan seimbangnya pusat massa tubuh (center of


bodys mass) terhadap bidang tumpu.
3. menstabilkan bagian tubuh tertentu sementara bagian tubuh yang lain
bergerak
Keseimbangan merupakan interaksi yang kompleks dari integrasi/interaksi sistem
sensorik (vestibular, visual, dan somatosensorik termasuk proprioceptor) dan
muskuloskeletal (otot, sendi, dan jar lunak lain) yang dimodifikasi/diatur dalam
otak (kontrol motorik, sensorik, basal ganglia, cerebellum, area asosiasi) sebagai
respon terhadap perubahan kondisi internal dan eksternal.
Dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti, usia, motivasi, kognisi, lingkungan,
kelelahan, pengaruh obat dan pengalaman terdahulu dll.
Strategi keseimbangan
Postural adjusment:
1. Ankle strategy
2. Hip strategy
3. Stepping strategy
Strategy postural adjusment yang lain:
1. Counter activity
2. Counter weight
3. Stepping
Pemeriksaan Koordinasi & Keseimbangan

Tujuan

mengidentifikasi masalah pasien/ menegakkan diagnosis fisioterapi


mengidentifikasi perubahan yang terjadi pada pasien dari
waktu/evaluasi motivasi, efektivitas terapi
sebagai alat ukur untuk menentukan biaya atau efisiensi terapi
Perlu dipertimbangkan:
Sensitivitas atau responsivitas dari alat ukur
Validitas dan reliabilitas alat ukur
Ceiling effect dan floor effect dari alat ukur.
Pemeriksaan Koordinasi

Finger to nose
Finger to therapists finger
Finger to finger
Alternate nose to finger
Finger opposition
Mass grasp
Pronation/supination
Rebound test
Tapping (hand & foot)
Pointing and past pointing
Alternate heel to knee; heel to toe
Toe to examiners finger
Heel on shin
Drawing a circle
Fixation or position holding

Pemeriksaan Keseimbangan

waktu

ke

Berdiri normal
Berdiri kaki rapat
Berdiri tandem
Berdiri satu kaki
Berbagai posisi lengan pada tes di atas
Berbagai ggn keseimbangan pada tes di atas
Berdiri fleksi neutral ekstensi trunk
Berdiri side fleksi
Berjalan memposisikan kaki tandem
Berjalan sepanjang garis atau tanda tertentu
Berjalan ke samping, berjalan mundur
Berjalan di tempat
Berjalan dgn berbagai kecepatan
Berjalan dan berhenti dengan mendadak
Berjalan membentuk lingkaran
Berjalan pada tumit atau jari-jari kaki
Berdiri mata terbuka mata tertutup (Romberg test)

Outcome measure keseimbangan


1.

Tes Keseimbangan duduk

2.

Tes Keseimbangan berdiri

Statis

- Clinical Test of Sensory Interaction of Balance (CTSIB)


- Functional reach test

- Tes Pastor/ tes Marsden


- Step test
Dinamis

- Timed Up and Go test


Kompleks

Skala keseimbangan dari Berg (Berg Balance Scale)

Pemeriksaan koordinasi tangan (fungsi tangan)

Action research arm test


Purdue Peg Board test

http://binhasyim.wordpress.com/2008/01/26/keseimbangan-dan-koordinasi/
TES KESEIMBANGAN DAN FUNGSI KOORDINASI
B. TEST KESEIMBANGAN
1.

TEST

ROMBERG

1.
Pemeriksa
berdiri
dalam
jarak
dekat
untuk
menjaga
bila
pasien
jatuh.
2. Mintalah pasien berdiri dengan kaki berhimpitan dan ke 2 lengan disisi tubuh
3.
Kedua
mata
pasien
terbuka
dan
kemudian
mintalah
matanya
dipejamkan.
4.
Normal
adanya
gerakan
tubuh
dengan
sedikit
bergoyang
5. bila pasien jatuh kesamping karena hilangnya keseimbangan ( test romberg positip )

2.

TEST

SATU

KAKI

1.
Mintalah
pasien
berdiri
pada
satu
kaki
dengan
mata
tertutup
2.
Kedua
lengan
lurus
dan
tetap
disisi
tubuh.
3.
Ulangi
prosedur
ini
pada
kaki
satunya.
4.
Normal
keseimbangan
berkisar
5
detik
dengan
sedikit
goyangan
tubuh
5. Penyimpangan apabila pasien menggerakan badan dan mengayunkan kakinya untuk mencegah
agar
tidak
jatuh
C.

PEMERIKSAAN

1.

FUNGSI

TEST

KOORDINASI

MENYENTUH

HIDUNG

1. Demonstrasikan setiap manuver ini terhadap pasien dan minta pasien mengulanginya.
2. Perhatikan kehalusan dan keseimbangan gerakan tersebut untuk memeriksa fungsi motor halus.
3. Mintalah pasien mengekstensikan lengan keluar sisi tubuh dan sentuhkan setiap jari ke hidung.
4. Mintalah pasien melakukan dengan mata terbuka dan kemudian dengan mata terpejam.
5.
Normal
pasien
dapat
menyentuh
hidung
secara
bergantian.
6. Penyimpangan terjadi apabila pasien tidak mempunyai kemampuan menyentuh hidung, gerakan
tidak
terkordinasi,
tampak
kaku,
lambat
dan
tidak
teratur.
2.

TEST

MENEMPATKAN

TUMIT

KAKI

1.
Posisi
pasien
terlentang/duduk
dengan
mata
tertutup.
2. Mintalah pasien untuk menempatkan tumit salah satu kaki keatas tulang kering atau tibia kaki
satunya.
3.
Turunkan
tumit
tersebut
dari
tulang
kering
ke
ujung
kaki
lainnya.
4. Normal pasien dapat menggerakan tumit kakinya keatas atau kebawah pada bagian atas tulang
tibia
kaki
yang
lainnya
dalam
satu
garis
lurus
dengan
teratur.
5. Penyimpangan terjadi apabila pasien sulit melakukan gerakan keatas atau kebawah, gerakan
tampak
tidak
teratur,
kaku,
sering
menyimpang
kesamping
dan
tidak
lurus.
3.

TEST

MENEPUK

LUTUT

1.
Posisi
pasien
duduk.
2.
Mintalah
pasien
untuk
menepuk
lututnya
dengan
kedua
tangan.
3. Kemudian mintalah pasien menepuk lututnya dengan telapak dan punggung tangan secara
bergantian
dengan
gerakan
yang
cepat
dan
bergantian.
4.
Mintalah
pasien
untuk
meningkatkan
kecepatan
secara
bertahap.
5. Normal tangan yang dominan pasien tampak lebih terkordinasi dalam gerakan, irama teratur,
dapat
dihentikan
dengan
halus
dan
cepat.
4.

TEST

TANGAN

1.
Posisi
pasien
duduk,
berdiri
atau
tidur
terlentang.
2. Mintalah pasien menyentuh masing-masing jari dengan ibu jari dari tangan yang sama.
3. Mintalah pasien malakukan dalam rangkaian gerak yang cepat, dimulai dari jari telunjuk sampai
jari
kelinking.
4. Normal pasien dapat menyentuh masing- masing dari jari pada tangan yang sama dengan teratur,
cepat
dan
halus.

5.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

TEST

KAKI

Posisi
pasien
berbaring
telentang.
Letakkan
tangan
pemeriksa
pada
pusat
kaki
pasien.
Mintalah pasien untuk mengetuk tangan pemeriksa dengan kaki secepat mungkin.
Amatilah
masing-masing
kaki
mengenai
kecepatan
dan
kehalusannya.
Normal
gerakan
kaki
tidak
secepat
dan
serapi
tangan.
TEST

GAYA

BERJALAN

1.
Mintalah
pasien
berjalan
tanpa
alas
kaki
mengelilingi
ruang
periksa.
2. Mintalah pasien berjalan dengan mata terbuka dan kemudian dengan mata tertutup.
3. Amatilah rangkaian gaya berjalan dan gerakan dari lengan, adanya kaki terseret, berjalan dengan
ibu
jari
kaki,
telapak
kaki
terangkat
dengan
lemah.
keterlambatan/ kelainan pertumbuhan tungkai, terjadinya gaya berjalan yang limbung/tidak
seimbang.
4. Normal tumit yang pertama menyentuh lantai, kemudian seluruh bagian kaki
5.
Tumit
kedua
menekan
dan
melayang
dari
lantai
6.
Berat
badan
berpindah
dari
tumit
pertama
ke
pusat
kaki
7. Ayunan tungkai meningkatkan kecepatan saat berat badan pindah dari kaki kedua
8. Kaki kedua mengangkat dan melangkah mendahului kaki pertama yang masih menahan berat
badan
dan
mengayun
9. Kaki kedua menurun kecepatannya dalam mempersiapkan sentuhan tumit selanjutnya
10. Tidak normal bila panggul dan lutut terangkat terlalu tinggi untuk menaikan kaki dan plantar
fleksi
dari
tanah
(Steppage)
11.
Gerakan
seperti
kejang
dan
tidak
terarah
(Distonik)
12. Tungkai jauh terpisah dengan berat badan berpindah dari sisi satu kelainnya seperti gerak bebek
(Distropik).

http://anam56.blogspot.com/2009/01/tes-keseimbangan-dan-fungsikoordinasi.html