Anda di halaman 1dari 10

TEORI ABERASI

ABBERATION THEORY
Noprianti1, Muhammad Anggi2, Sri Rahmasari3, Hikma Pujiati4, Mirna Julaika.A5,
Amalia Ratnasari7
Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Sriwijaya, Inderalaya
ABSTRACT
The lens is a tool to gather or scatter light. Be gathered light will produce a shadow.
However, there are times when shadows are formed by the reflection and refraction of
light will experience a disability, so it will produce defective shadow anyway. If all the rays
from an object point is not focused on a single shadow point, resulting opaque shadow is
called aberration (Tippler, 2001). There are many types of aberration that can occur,
including Spherical aberration (coma, distortion, astigmatism), chromatic aberration,
monochromatic aberrations (defokus aberration, aberration curve terrain). Aberration
theory can be used to test the perfection of a lens by lens perfection abberation. Degree
of properties do not depend on the size of the focal length, but depending on the degree
of curvature of the lens surface due to the curvature of the lens surface is used the less
will further reduce spherical aberration of lens properties.
Keywords : Aberration theory, defective lenses, the types of aberration, applications
ABSTRAK
Lensa adalah sebuah alat untuk mengumpulkan atau menyebarkan cahaya.
Cahaya yang dikumpulkan tersebut akan menghasilkan bayangan. Namun, ada kalanya
bayangan yang terbentuk dari proses pemantulan maupun pembiasan cahaya tersebut
akan mengalami kecacatan, sehingga akan menghasilkan bayangan yang cacat pula.
Jika semua sinar dari sebuah objek titik tidak difokuskan pada sebuah titik bayangan
tunggal, bayangan buram yang dihasilkan inilah yang disebut aberasi (Tippler, 2001). Ada
banyak jenis aberasi yang bisa terjadi, diantaranya aberasi speris (koma, distorsi,
astigmatisme), aberasi kromatik, aberasi monokromatik(aberasi defokus, aberasi kurva
medan). Teori aberasi dapat dimanfaatkan untuk menguji kesempurnaan suatu lensa
berdasarkan sifat aberasinya.Tingkat kesempurnaan lensa tidak bergantung pada besar
kecilnya panjang fokusnya tetapi bergantung pada tingkat kelengkungan permukaan
lensa tersebut karena dengan kelengkungan permukaan lensa yang digunakan semakin
kecil akan semakin mengurangi sifat aberasi sferis dari lensa.
Katakunci : Teori Aberasi, cacat lensa, jenis-jenis aberasi, aplikasi

1 PENDAHULUAN
Lensa adalah sebuah alat untuk mengumpulkan atau menyebarkan cahaya,
biasanya terbentuk dari sepotong gelas yang dibentuk (Giancoli, 2001). Pada proses
terbentuknya bayangan pada lensa, ada kalanya cahaya yang datang setelah dibiaskan
oleh lensa, tidak berpotongan pada satu titik. Akibatnya, bayangan yang dibentuk tidak
hanya sebuah. Hal ini dikarenakan jarak titik api lensa tergantung pada index bias lensa,

sedang index bias tersebut berbeda-beda untuk panjang gelombang yang berbeda.
Sehingga jika sinar tidak monokhromatik (polikhromatik), lensa akan membentuk
sejumlah bayangan yang berbeda-beda posisinya dan juga ukurannya, meskipun
sinarnya itu paraxial. Sinar paraxial adalah sinar datang yang membentuk sudut terkecil
dengan sumbu utama. Adanya kenyataan bahwa bayangan yang dibentuk tidak sesuai
dengan perkiraan yang didasarkan pada persamaan Gauss inilah yang disebut Aberasi.

2 LANDASAN TEORI
Pengertian Aberasi
Aberasi disebut juga kesesatan atau kecacatan lensa. Aberasi adalah kelainan
bentuk bayangan yang dihasilkan oleh lensa atau cermin. Suatu kesalahan dalam system
optis sehingga bayangan yang terjadi tidak sama dengan bendanya. Pada lensa atau
cermin, kadang-kadang terbentuk bayangan yang tidak dikehendaki. Misalnya timbulnya
jumbai-jumbai berwarna di sekitar bayangan. Hal ini terjadi jika semua sinar dari sebuah
objek titik tidak difokuskan pada sebuah titik bayangan tunggal,sehingga muncul
bayangan yang tidak hanya satu atau munculnya bayangan buram yang dihasilkan inilah
yang disebut aberasi (Tippler, 2001).
Aberasi optik adalah degradasi kinerja suatu sistem optik dari standar pendekatan
paraksialoptika geometris. Degradasi yang terjadi dapat disebabkan sifat-sifat optik dari
cahaya maupun dari sifat-sifat optik sistem kanta sebagai medium terakhir yang dilalui
sinar sebelum mencapai mata pengamatnya.
Jenis Aberasi
1.

Aberasi Sferis
Aberasi sferis adalah gejala kesalahan terbentuknya bayangan yang diakibatkan

pengaruh kelengkungan lensa atau cermin. Aberasi semacam ini akan menghasilkan
bayangan yang tidak memenuhi hukum-hukum pemantulan atau pembiasan.
Pembentukan bayangan pada lensa tipis sejauh ini adalah pembentukan
bayangan oleh sinar-sinar paraksial atau sinar-sinar yang dekat dengan sumbu utama
lensa sehingga bayangan yang terbentuk terkesan sangat jelas dan tajam. Pada
kenyataannya, bayangan yang dibentuk oleh lensa tidak selalu tajam, bahkan bisa saja
terlihat kabur (buram). Cacat bayangan seperti ini disebabkan oleh berkas sinar yang jauh
dari sumbu utama tidak dibiaskan sebagaimana yang diharapkan. Berkas sinar sejajar
yang jauh dari sumbu utama dibiaskan lensa tidak tepat di fokus utama, tetapi cenderung
untuk mendekati pusat optik (Gambar). Semakin jauh dari sumbu utama, berkas sinar
sejajar ini akan semakin mendekati pusat optik lensa. Cacat inilah yang disebut aberasi

sferis. Aberasi ini dapat dihilangkan dengan mempergunakan diafragma yang diletakkan
di depan lensa atau dengan lensa gabungan aplanatis yang terdiri dari dua lensa yang
jenis kacanya berlainan
Ada dua jenis aberasi Sferis :
a. Aberasi Sferis Aksial
Aberasi sferis aksial menimbulkan ketidakpastian letak bayangan sepanjang arah
sumbu optic.

Gambar 2.1 Aberasi sferis


b. Aberasi Sferis Lateral
Aberasi lateral menyebabkan kekaburan bayangan titik sumber sinar berupa bundaran
kekaburan pada arah tegak lurus sumbu optic.
c. Koma
Pada dasarnya, koma sama dengan aberasi sferik yakni sebagai akibat dari kegagalan
lensa dalam membentuk gambar dari sinar pusat dan sinar-sinar yang melalui daerah
yang lebih ke pinggir lensa pada satu titik. Hanya saja, pada koma sebuah titik benda
akan terbentuk bayangan seperti bintang berekor, gejala koma ini tidak dapat
diperbaiki dengan diafragma.

Gambar 2.2 Koma


d. Astigmatisme
Sementara Astigmatisma itu sama dengan koma dalam hal bahwa koma itu terbentuk
akibat penyebaran gambar dari suatu titik pada suatu bidang yang tegak lurus pada
sumbu lensa sedangkan asigmatisma terbentuk sebagai penyebaran gambar dalam
suatu arah sepanjang sumbu lensa. Dalam ketiga hal tersebut, gambarnya akan
menjadi kabur. Adapun distorsi timbul akibat dari pembesaran yang berbeda dalam

arah yang menjauhi sumbu lensa; sehingga suatu benda yang tadinya berbentuk garis
lurus akan berubah bentuknya menjadi melengkung.

Gambar 2.3 Astigmatisme


2. Aberasi Kromatik
Aberasi kromatik adalah pembiasan cahaya yang berbeda panjang gelombang pada
titik fokus yang berbeda. Prinsip dasar terjadinya aberasi kromatis oleh karena fokus
lensa berbeda-beda untuk tiap-tiap warna. Akibatnya bayangan yang terbentuk akan
tampak berbagai jarak dari lensa. Aberasi kromatik timbul akibat perbedaan indeks
bias lensa untuk panjang gelombang cahaya yang berbeda; cahaya yang terdiri dari
berbagai panjang gelombang akan mengalami distorsi atau penguraian warna bila
melalui lensa tersebut, dan fokus pun akan berbeda-beda menurut warna dan panjang
gelombang tersebut sehingga terbentuklah gambar sesuai dengan masing-masing
panjang gelombang itu.
Ada dua macam aberasi kromatik :
a.

Aberasi kromatik aksial/longitudinal


Perubahan jarak bayangan sesuai dengan indeks bias.

b.

Aberasi kromatik lateral


Perubahan aberasi dalam ukuran bayangan.

Untuk menghilangkan terjadinya

aberasi kromatis dipakai lensa flinta dan kaca krown; lensa kembar ini disebut
Achromatic double lens.

3. Aberasi Monokromatik
Aberasi monokromatik sering juga disebut aberasi tingkat ketiga adalah aberasi yang
terjadi walaupun sistem optik mempunyai lensa dengan bidang speris yang telah
sempurna dan tidak terjadi dispersi cahaya.

Gambar 2.5 Aberasi Monokromatik


Muka gelombang sinar yang datar, setelah melewati kanta akan berinterferensi dengan
muka gelombang sinar di sekitarnya dan menjadi muka gelombang aberasi yang
berbentuk speris.
Abersi monokromarik terbagi menjadi dua :

a. Aberasi defocus
Aberasi defocus adalah aberasi yang disebabkan karena titik api (en:focal point,
foci) tidak terletak pada titik fokus paraksial sperisnya, disebut juga titik santir
Gauss (en:Gaussian image point). Defokus, disebut juga wavefront aberration,
dimodelkan dengan kesalahan longitudinal gelombang cahaya yang terjadi karena
pergeseran titik api ideal pada bidang fokal menuju titik api pengamatan pada
sumbu optis, berikut beserta sperisnya (en:radius of curvature) masing-masing
yang bersinggungan pada pusat optis kanta. Sinar yang tidak terfokus pada titik
api ideal akan merambat menuju bidang fokal secara transversal dan membentuk
lingkaran gamang yang kita kenal dengan istilah blur.
Aberasi defokus dapat dikurangi dengan membuat sinar insiden terkolimasi
(en:collimated light) dan jarak hiperfokal. Cahaya kurang terkolimasi pada nilai
bukaan kecil memperbesar interferensi longitudinal gelombang cahaya yang
membias menuju ke titik api, interferensi tersebut akan menimbulkan gelombang
cahaya resultan yang dapat jatuh di luar titik api.
b. Aberasi kurva medan
Aberasi kurva medan adalah sebuah aberasi pada sistem optik yang mempunyai
bidang fokal menyerupai lingkaran/kurva. Bayangan yang dibentuk oleh lensa
pada layer letaknya tidak dalam satu bidang datar melainkan pada bidang
lengkung. Peristiwa ini disebut lengkungan medan atau lengkungan bidang
bayangan.

Gambar 2.6 Aberasi kurva medan


Penerapan Aberasi
Contoh sifat aberasi dalam kehidupan sehari-hari
1. Visus Mata
Visus adalah kemampuan seseorang untuk dapat melihat suatau objek dengan
jelas tanpa akomodasi. Dengan kata lain visus adalah suatu bilangan yang
menunjukkan ketajaman penglihatan.
Misal :
Visus A

: 6/40

Artinya

: si A dapat mengenal huruf tersebut pada jarak 6 m

sedangkan orang normal dapat mengenal huruf tersebut pada jarak 40 m.

Untuk menghasilkan detail penglihatan, sistem optik mata harus memproyeksikan


gambaran yang fokus pada fovea, sebuah daerah di dalam makula yang memiliki
densitas tertinggi akan fotoreseptor konus/kerucut sehingga memiliki resolusi
tertinggi dan penglihatan warna terbaik. Ketajaman dan penglihatan warna
sekalipun dilakukan oleh sel yang sama, memiliki fungsi fisiologis yang berbeda dan
tidak tumpang tindih kecuali dalam hal posisi. Ketajaman dan penglihatan warna
dipengaruhi secara bebas oleh masing-masing unsur.

Seperti pada lensa fotografi, ketajaman visus dipengaruhi oleh diameter pupil.
Aberasi optik pada mata yang menurunkan tajam penglihatan ada pada titik
maksimal jika ukuran pupil berada pada ukuran terbesar (sekitar 8 mm) yang terjadi
pada keadaan kurang cahaya. Jika pupil kecil (1-2 mm), ketajaman bayangan akan
terbatas pada difraksi cahaya oleh pupil. Antara kedua keadaan ekstrim, diameter
pupil yang secara umum terbaik untuk tajam penglihatan normal dan mata yang
sehat ada pada kisaran 3 atau 4 mm. Korteks penglihatan adalah bagian dari
korteks serebri yang terdapat pada bagian posterior (oksipital) dari otak yang

bertanggung-jawab dalam memproses stimuli visual. Bagian tengah 100 dari lapang
pandang (sekitar pelebaran dari makula), ditampilkan oleh sedikitnya 60% dari
korteks visual/penglihatan. Banyak dari neuron-neuron ini dipercaya terlibat dalam
pemrosesan tajam penglihatan.

2. Kamera yang memanfaatkan sifat aberasi


Lensa fokus halus (soft focus lens) adalah lensa yang memanfaatkan sifat aberasi
speris. Soft focus adalah sebuah efek pada fotografi yang disebabkan oleh blur
akibat aberasi speris lensa. Sebuah lensa fokus halus didesain untuk menimbulkan
efek blur tersebut namun tetap menjaga ketajaman setiap garis dari subyeknya.
Efek soft focus yang ditimbulkan oleh lensa ini tidak sama dengan efek out of focus
yang disebabkan posisi subyek di luar bidang fokus.
Contoh lensa fokus lunak adalah Canon EF 135mm f/2,8 with Softfocus dan Pentax
SMC 28mm f/2,8 FA Soft Lens. Keduanya dilengkapi dengan sistem pengaturan
aberasi speris, jika aberasi speris tersebut dimatikan, lensa akan menghasilkan citra
dengan fokus yang tajam seperti lensa lain pada umumnya.

Gambar 2.7 Canon EF 135mm f/2,8 with Softfocus

Gambar 2.8 Pentax SMC 28mm f/2,8 FA Soft Lens

Aplikasi Pemanfaatan Sifat Aberasi


1. Menguji kesempurnaan lensa berdasarkan sifat aberasi
Telah dilakukan penelitian tentang perubahan pola frinji akibat ketidaksempurnaan
lensa berdasarkan sifat aberasi lensa dengan menggunakan metode interferometer
Twyan-Green. Lensa akan dikatakan sempurna jika tidak terjadi aberasi, hal ini
diperlihatkan dengan adanya pola frinji yang dihasilkan tidak mengalami perubahan
bentuk maupun penyimpangan posisi (Hecht, 1990).

Sumber cahaya yang digunakan adalah sinar laser He-Ne dengan panjang gelombang
= 632,8 nm dan laser dioda dengan panjang gelombang = 645 nm. Bahan yang
digunakan adalah 4 buah lensa cembung yang masing masing mempunyai panjang
fokus lensa 18 mm, 48 mm, 50 mm dan 100 mm. Tingkat kesempurnaan lensa dapat
dilihat dari penyimpangan pola frinji yang dihasilkan, penyimpangan ini bisa dalam
bentuk pola frinji yang dihasilkan maupun dari posisi pola frinji terhadap titik pusat dari
berkas sinar.

Dari pengujian yang telah dilakukan terhadap empat lensa cembung diperoleh bahwa
semakin besar panjang fokusnya, tingkat kesempurnaannya semakin bagus. Tetapi
tingkat kesempurnaan ini tidak bergantung terhadap panjang fokusnya akan tetapi
bergantung tingkat kelengkungan dari permukaan lensa karena dengan kelengkungan
permukaan lensa yang semakin kecil sifat aberasi sferis lensa semakin kecil pula.

Cara Kerja :
Lensa yang akan diuji diletakkan diantara beam spliter (cermin pembagi sinar) dan
movable mirror (cermin yang dapat digeser). Berdasarkan pola frinji yang dihasilkan
dari interferensi sinar yang berasal dari adjustable mirror (cermin yang dapat diatur
kedudukannya) dan movable mirror akan dapat diketahui tingkat aberasi lensa
sehingga tingkat kesempurnaan suatu lensa dapat diketahui. Penelitian ini dibatasi
hanya pada pengamatan pola frinji yang dihasilkan sebelum dan sesudah memakai
bahan (lensa cembung) menggunakan metode interferometer Twyman-Green. Bahan
atau lensa cembung yang digunakan dalam penelitian ini diasumsikan sebagai lensa
tipis.

Pengujian pada Lensa Cembung dengan Panjang Fokus 18 mm

(a)

(b)

(c)

Gambar 2.9 Pola frinji pada lensa cembung dengan f = 18m


Lensa pertama yang diuji adalah lensa cembung dengan panjang fokus sebesar 18
mm dan diameter 20 mm. Pola frinji yang terbentuk adalah sama seperti pada saat
kalibrasi yakni berbentuk cincin, hanya ukurannya lebih kecil dan pola frinjinya tampak
seperti sebuah sorotan lampu diatas berkas sinar dan jika dilihat dari posisinya maka ia
mengalami penyimpangan kearah kanan atas yang dilihat dari titik fokus berkas sinar,
hal ini dapat dilihat pada gambar 2.9(a). Penyimpangan ini terjadi karena lensa
mengalami aberasi yang jika dilihat dari gambar yang dihasilkan terjadi pengkaburan
dari setiap pola cincin yang ada, aberasi yang terjadi dalam hal ini adalah aberasi
sferis (Spherical aberation) yaitu aberasi yang terjadi karena permukaan yang dilalui
sinar berbentuk sferis.

Gambar 2.9(c) menunjukkan ukuran lebar cincin dari pola frinji yang dihasilkan. Jika
pada saat kalibrasi menggunakan laser He-Ne menghasilkan pola frinji yang
mempunyai lebar cincin untuk terang pertama sekitar 2,7 cm dan gelap pertama sekitar
0,3 cm maka kali ini menghasilkan pola frinji yang mempunyai lebar cincin terang
pertama sekitar 0,3 cm dan cincin gelap pertama sekitar 0,1 cm dan diameter
keseluruhan pola frinji yang teramati sekitar 1,0 cm. Jadi jika dibandingkan dengan
pola frinji pada saat kalibrasi pola frinji ini sangatlah kecil sekali, padahal keduanya
diambil pada jarak layar yang sama yaitu 80 cm.

(a)

(b)

(c)

Gambar 2.10 Pola frinji yang dihasilkan dari pengujian pada lensa cembung dengan
f = 18m menggunakan laser dioda
Gambar 2.10 menunjukkan bentuk pola frinji yang dihasilkan dari pengujian yang
dilakukan terhadap lensa cembung dengan panjang fokus sebesar 18 mm
menggunakan laser dioda. Pola frinji yang dihasilkan tidak jauh beda dengan pengujian
menggunakan laser He-Ne yaitu berbentuk cincin kecil yang timbul diatas berkas sinar
terlihat pada gambar 2.10(a). Dari gambar tersebut terlihat pula terjadi penyimpangan
posisi pola frinji yang timbul, jika pengujian sebelumnya penyimpangan terjadi pada
bagian kanan atas berkas maka pada pengujian kali ini terdapat pada bagian kanan
dari berkas. Hal ini karena aberasi sferis (penyimpangan sinar akibat permukaan
melengkung) yang terjadi berbeda untuk sinar yang berbeda, aberasi ini juga tampak
terjadi jika dilihat dari gambar 2.10(b) yaitu pola frinji yang terjadi mengalami
pengikisan pada setiap pola cincin yang dihasilkan.

Pengujian lensa menggunakan laser dioda maupun laser He-Ne, ternyata jika dilihat
dari ukuran besar kecilnya pola frinji yang dihasilkan akan menghasilkan pola dengan
ukuran yang sama yaitu terang pertama mempunyai diameter cincin sebesar 0,3 cm
dan lebar cincin gelap pertama sekitar 0,1 cm, akan tetapi keseluruhan pola frinji yang
teramati dengan menggunakan laser dioda mempunyai lebar diameter yang lebih
besar jika dibandingkan dengan pengujian menggunakan laser He-Ne walaupun
pengamatan dilakukan pada jarak yang sama.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Sarojo, Ganijanti Aby.2011.Gelombang dan Optika.Jakarta : Salemba Teknika.
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Lensa_fotografi
[3] http://www.the-digital-picture.com/Reviews/Canon-EF-135mm-f-2.8-with-SoftfocusLens-Review.aspx
[4] http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2105079-pengertianaberasi/#ixzz2NOAsq6Jv

[5] http://201232040resty.student.esaunggul.ac.id/?tag=aberasi-kromatis

[6] https://id.wikipedia.org/wiki/Aberasi_optik#Aberasi_kromatik