Anda di halaman 1dari 118

Program Pengembangan Rumput Laut

kerjasama antara
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur
dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan

Kantor Perwakilan Bank Indonesia


Provinsi Kalimantan Timur
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia
Prov. Kalimantan Timur
Ameriza M. Moesa
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia
Prov. Kalimantan Timur
Teguh Setiadi
Manajer Unit Pemberdayaan Sektor Riil dan UMKM
Kantor Perwakilan Bank Indonesia
Prov. Kalimantan Timur
Sunarso
Asisten Manajer
Taufik Ariesta Ardhiawan
Konsultan Pengembang UMKM Kantor Perwakilan
Bank Indonesia Prov. Kalimantan Timur
Yusuf Arif Setiawan
ISBN 978-602-96071-9-2

Cetakan 1, Oktober 2013


Hak cipta 2013

Kantor Perwakilan Bank Indonesia


Provinsi Kalimantan Timur
Jl. Gajah Mada No. 1 Samarinda

Buku ini kami dedikasikan untuk


pengembangan, pemberdayaan
dan kemajuan Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah.

iv

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Kata Pengantar

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya


penyusunan buku ini dapat selesai tepat waktu sesuai rencana. Buku yang
diberi judul Membangun Daerah Perbatasan Dengan Rumput Laut ini
menceritakan dan mendokumentasikan proses pelaksanaan program
pengembangan rumput laut di Kabupaten Nunukan, yang merupakan
hasil kolaborasi yang sangat apik berbagai pemangku kepentingan khu
susnya antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan
Timur, Pemerintah Kabupaten Nunukan dan kelompok usaha nelayan
rumput laut. Keterlibatan Bank Indonesia (BI) dalam program pengem
bangan rumput laut tersebut sejalan dengan salah satu tugas pokok BI
khususnya yang terkait dengan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM).
Penulisan buku ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan ber
bagi informasi mengenai proses dan kisah sukses dari upaya pemberda
yaan sebuah kelompok nelayan rumput laut di Kabupaten Nunukan,
yang berbatasan dengan Sabah, Malaysia. Melalui penerbitan buku ini
juga diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi pembaca dan refe
rensi bagi pemangku kepentingan dalam rangka pemberdayaan ma
syarakat pada umumnya dan kelompok usaha budidaya rumput laut
pada khususnya.
Cakupan dalam buku ini antara lain meliputi proses perjalanan budi
daya rumput laut oleh sekelompok masyarakat di Kabupaten Nunukan
yang dimulai sejak inisiasi program, tantangan yang dihadapi, kiprah dan
peran local champion, peran pemerintah daerah dan kolaborasi Bank
Indonesia dengan stakeholders, serta strategi pemberdayaannya. Se
lain itu, kisah petani rumput laut dalam meningkatkan posisi tawar dan
peran penyuluh/LSM lokal sebagai pembina sentra rumput laut turut

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

mewarnai buku ini. Selanjutnya analisis mengenai potensi dan strategi


pengembangan rumput laut ke depan diuraikan secara umum pada bab
terakhir.
Keberhasilan budidaya rumput laut di Kabupaten Nunukan meru
pakan prestasi yang patut dibanggakan. Pada saat ini Kabupaten Nunu
kan telah menjelma menjadi kabupaten penghasil rumput laut terbesar
di Indonesia, walaupun pengembangannya baru dimulai sejak tiga tahun
terakhir dan secara teoritis karakteristik perairannya tidak cocok untuk
budidaya rumput laut. Kunci sukses program tersebut terutama berkat
adanya kesadaran petani rumput laut, penerapan pola pendampingan
dan pelatihan yang tepat sasaran, terbentuknya sinergisitas dari berbagai
pemangku kepentingan, serta diterapkannya strategi penguatan value
chain yang lebih berorientasi pasar.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada pihakpihak yang membantu dan mendukung terlaksananya program tersebut,
terutama Bupati Nunukan beserta jajarannya, Dinas Kelautan dan Per
ikanan Kabupaten Nunukan, Badan Ketahanan Pangan dan Petugas Pe
nyuluh Lapangan, IPKANI dan Gapokan (Gabungan Kelompok Perikanan)
Harapan Mandiri, dan pihak lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per
satu. Terima kasih juga kami sampaikan kepada Bisnis Indonesia yang
telah membantu proses penulisan dan penerbitan buku ini. Secara khu
sus, terima kasih dan apresiasi juga kami sampaikan kepada Gubernur
Kalimantan Timur yang telah memberikan dukungan dan bimbingan
nya kepada kami khususnya dalam pelaksanaan program pemberdayaan
UMKM di Provinsi Kalimantan Timur, termasuk di Kabupaten Nunukan
yang saat ini berada dalam Provinsi Kalimantan Utara.

Samarinda, Oktober 2013


Kantor Perwakilan Bank Indonesia
Provinsi Kalimantan Timur
Ameriza M. Moesa
Kepala Perwakilan

vi

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Sambutan Bupati Nunukan

esuai dengan salah satu Misi, Visi dan Tujuan Pembangunan


Kabupaten Nunukan tahun 2011-2016 adalah meningkatkan
pemerataan dan pertumbuhan ekonomi daerah yang berbasis
ekonomi dan keunggulan kompetitif melalui Gerakan Pembangunan
Ekonomi Mandiri Aman dan Sejahtera (GERBANG EMAS). Hal tersebut
ditunjukkan dengan pencapaian Kabupaten Nunukan sebagai salah
satu kabupaten produsen rumput laut kering terbesar di Indonesia
yang merupakan perwujudan dari pemberdayaan ekonomi masyarakat
berbasis komoditas unggulan daerah dan menjadi daerah perbatasan
yang maju serta mandiri seperti yang dicita-citakan. Keberhasilan ini
tentunya merupakan hasil kerja keras dan kerjasama antara Pemkab
Nunukan, SKPD terkait, PPL, LSM dan pihak-pihak yang concern
terhadap pengembangan ekonomi, terutama atas dukungan yang
luar biasa dari Bank Indonesia dalam melakukan pendampingan para
petani rumput laut. Bila dibandingkan dengan daerah lain yang telah
lama mengembangkan rumput laut, Nunukan baru 3 tahun berjalan,
tentunya kemajuan ini patut kita syukuri.
Buku berjudul: Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput
Laut, ini saya kira merupakan salah satu dokumentasi dan potret
sinergitas yang nyata antara Pemkab. Nunukan dan Kantor Perwakilan
Bank Indonesia Provinsi Kaltim dalam mengembangkan komoditas
rumput laut secara utuh. Pemaparan gambaran umum Nunukan,
potensi rumput laut, bentuk sinergitas antar lembaga, peran PPL,
maupun respon pembudidaya rumput laut dalam buku ini diharapkan
dapat memberikan inspirasi kepada pembaca. Sinergisitas yang sangat
solid tersebut, harapannya dapat dijadikan model-model kerjasama
dimasa mendatang.

vii

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Kerjasama pengembangan rumput laut di Kabupaten Nunukan


antara Pemkab Nunukan dan Bank Indonesia telah menunjukkan
hasil yang sangat menggembirakan, oleh karena itu harapan kami,
kerjasama yang telah terjalin tidak berhenti disini, dan sinergisitas ini
dapat dan semakin ditingkatkan baik dimasa kini maupun dimasa
mendatang. Semoga Bank Indonesia dapat senantiasa berkiprah dalam
mendukung kemajuan dan berkembangnya sektor riil dan UMKM untuk
meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Nunukan, Oktober 2013

viii

Daftar Isi
Kata Pengantar..................................................................................................................... iii
Sambutan Bupati Nunukan............................................................................................. v
Menyemai Rumput Laut di Pesisir Nunukan............................................................. 1
Buah dari Jerih Payah Si Habir.......................................................................................27

Memberdayakan
Rumput Laut,
Memberdayakan
Masyarakat Nunukan

11

Peran Pamong di
Perbatasan Negara

35

ix

47

Bank Indonesia
Peduli Rumput Laut
Peran Penyuluh dan
LSM Lokal

77

89

Mengubah Rumput
Laut Jadi Emas
Seberkas Asa Bank Indonesia........................................................................................53
Kisah Gapokan Melawan Tengkulak...........................................................................61
Peran Penyuluh dan LSM Lokal....................................................................................77
Menguatkan Peran, Merangkai Masa Depan.........................................................97
Daftar Istilah...................................................................................................................... 105
Lensa Foto.......................................................................................................................... 106

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

SUASANA disepanjang pesisir pantai Nunukan terlihat sibuk dengan


aktivitas para nelayan. Kali ini mereka tidak sedang menangkap
ikan. Nelayan di Nunukan lebih banyak yang membudidayakan
rumput laut (Euchema Cottoni). Mereka memasang bibit rumput laut
dengan perahu yang tidak jauh dari pantai. Setelah 45 hari, tibalah
waktu memanen. Rumput laut yang siap untuk dipanen dibawa
dengan perahu ke tepian untuk dijemur terlebih dahulu, kemudian
membungkusnya dengan karung. Sesudah dirapikan, rumput laut
yang telah siap dipasarkan itu akan dijual. Begitulah kesibukan
sehari-hari di Nunukan.
Menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan
tahun 2011, budidaya rumput laut dimulai dari Pulau Sebatik tepatnya
di Desa Setabu sekitar tahun 2008. Selanjutnya tahun 2009 menyebar
ke daerah pesisir pulau Nunukan dan pulau Sebatik, melibatkan 1.401
rumah tangga perikanan. Potensi perairan yang dapat ditanami rumput
1

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Suasana Pemasangan Bibit Rumput Laut


oleh ibu-ibu nelayan di Desa Mamolo
Tanjung Harapan

laut seluas 20.000 ha. Namun yang baru termanfaatkan sekitar 700 Ha.
Hal ini menjadi peluang tersendiri bagi bisnis rumput laut di Nunukan.
Budidaya rumput laut di Nunukan tidak terlepas dari prospek ekonomi
yang secara perlahan meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir
Nunukan. Menurut Heru, koordinator Petugas Penyuluh Lapangan
(PPL) Kabupaten Nunukan, harga rumput laut itu memberikan dampak
signifikan bagi perekonomian masyarakat.
Menurut Pak Eddy Afrios, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang
menjadi pembina nelayan di Kampung Tanjung Harapan, Nunukan,
dengan adanya rumput laut, masyarakat mendapatkan penghasilan
yang bertambah. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang sudah bisa
membeli barang mewah seperti motor, laptop, tablet, atau kamera
digital. Dengan nilai jual rumput laut yang tinggi di pasar, masyarakat

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Perairan diperbatasan Negara.


Perairan Nunukan Sebatik disore hari.

dapat terus memproduksi agar dapat


meningkatkan taraf ekonomi mereka. Boleh
dibilang, saat itu masyarakat Nunukan boleh
berbangga hati dengan adanya rumput laut.
Pak Eddy bilang ini merupakan berkah bagi
Nunukan!.
Keberhasilan budidaya rumput laut
di Nunukan tidak terlepas dari peran
Bank Indonesia (BI). Pada 8 September
2011, BI secara resmi ikut berpartisipasi
mem
bangun rumput laut Nunukan,
me
lalui
penandatanganan
kerjasama
Pengembangan Rumput Laut di Kabupaten
Nunukan dengan Pemkab. Nunukan. Nota
kesepahaman itu bernomor 13/3A/DKBU/
Smr dan No. 180/15/523.36/HK/VIII/ 2011,
ditandatangani Kepala Perwakilan Bank
Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Bapak

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Selama rentang tahun 2011


sampai dengan tahun 2013,
BI bekerjasama dengan DKP
Nunukan dan stakeholders
terkait setempat telah
memberikan pelatihan berupa
know how maupun soft skill
kepada pembudidaya dan
UMKM terkait.
Androecia Darwis dengan Bupati Nunukan Bapak Drs. H. Basri. Untuk
memperkuat pelaksanaan dilapangan selanjutnya Bank Indonesia dan
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan menandatangani
Perjanjian Kerja Sama bernomor 14/7/DKBU/BPBU/Smr dalam rangka
Program Pengembangan Klaster Rumput Laut di Kabupaten Nunukan.
BI sebenarnya telah sering melakukan kegiatan pemberian bantuan
teknis kepada UMKM di Kabupaten Nunukan. Sedangkan kegiatan
pengembangan rumput laut di Nunukan oleh Bank Indonesia, telah
dimulai pada awal tahun 2011 dengan melakukan pre-eliminary study
terhadap potensi budidaya rumput laut.

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Hasil panen salah satu


anggota kelompok
perikanan.

Pada Desember 2011, rumput laut Nunukan telah menjadi representase


rumput laut di Kalimantan Timur mengalahkan daerah lain yang terbilang
lebih dulu mengembangkannya. Pangsa produksi 84,29% rumput laut
Kalimantan Timur berasal dari Kabupaten Nunukan. Bila dibandingkan
dengan wilayah lain yang sudah lebih lama mengembangkan budidaya
rumput laut, kenaikan dan dominasi pangsa produksi menjadi prestasi
bagi Nunukan sebagai penghasil rumput laut. Hal itu disebabkan karena
terdapat peningkatan cukup menggembirakan dimana produksi tahun
2010 adalah 55.098,95 ton, dan meningkat menjadi 116.731 ton di tahun
2011 atau meningkat 112%.
Selama rentang tahun 2011 sampai dengan tahun 2013, BI bekerjasa
ma dengan DKP Nunukan dan stakeholders terkait setempat telah mem
berikan pelatihan berupa know how maupun soft skill kepada pembudi
daya dan UMKM terkait. Bupati Nunukan, Basri, mengatakan bahwa ini

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Gapokan harus
melakukan sebuah
kontrol agar tidak
terjadi lagi permainan
harga. Buat para petani,
kestabilan harga
merupakan persoalan
penting, karena
memberikan kepastian
berusaha bagi mereka
dimasa selanjutnya.

suatu potensi yang luar biasa.


Kita mengharapkan dari kita
semua bisa bahu-membahu,
membina
kelembagaannya,
membina keterampilannya, ju
ga meningkatkan mutunya.
Kesuksesan membudidayakan
rumput laut tidak terlepas dari
keberhasilan membina pelaku
usaha secara terorganisir. Waktu
itu, masalah yang dihadapi oleh
banyak petani adalah rendah
nya tingkat keuntungan (harga
jual) yang diperoleh diban
dingkan tingginya keuntungan
yang diperoleh para tengkulak.
Melalui inisiatif stakeholders
di Nunukan, didirikanlah Ga
pokan (Gabungan Kelompok
Perikanan) bernama Harapan

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Mandiri pada bulan Juni 2012


yang menjadi langkah awal
kemandirian
pembudida
ya rumput laut. Gapok
an
Harap
an Mandiri ini me
rupakan Gapokan yang
pertama ada di Kalimantan
Timur. Dampak yang secara
langsung dapat dirasakan
atas pendirian Gapokan adalah harga rumput laut langsung mening
kat dan menjadi stabil. Pada masa bulan Ramadhan tahun 2012, para
pembudidaya dapat menikmati harga rumput laut yang stabil. Sebelum
Gapokan terbentuk, harga rumput laut pada bulan ramadhan selalu
terjun bebas.
Akhirnya, harga rumput laut perlahan membaik. Keberadaan
Gapokan juga mampu membuka akses pasar baru bagi petani
rumput laut. Awalnya petani rumput laut hanya menjual rumput
laut kering kepada pengepul setempat. Adanya Gapokan membuat
mereka mampu menjual secara langsung ke eksportir di Surabaya,
Makasar dan ke Pabrik Pengolahan semi keragenan di Merak Banten.

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Dampaknya porsi keuntungan dapat lebih banyak dinikmati, karena


tidak perlu melewati jalur distribusi yang panjang.
Setelah semua berjalan baik, Habir, ketua Gapokan Harapan Mandiri,
mengatakan bahwa gapokan harus melakukan sebuah kontrol agar
tidak terjadi lagi permainan harga. Buat para petani, kestabilan harga
merupakan persoalan penting, karena memberikan kepastian berusaha
bagi mereka dimasa selanjutnya.
Habis Gapokan terbitlah koperasi, itulah yang terpikir untuk
membenahi aspek lanjutan dari masalah modal dan pasar bagi para
petani. Habir mengatakan Kecenderungannya, masyarakat kalau
sudah jual rumput itu langsung setor ke bank. Kadang sisanya itu untuk
keperluan dapur. Jadi pas mau turun ke laut, di mana lagi ini. Akhirnya
lari ke tengkulak, ke pengepul. Jadi dia terikat lagi. Kalau seandainya
ada koperasi, siapa saja anggota yang butuh, silakan. Nanti setelah
barangnya terjual, potong, habis. Simpan pinjam, begitu.
Keberadaan koperasi sangat membantu dalam mendukung
pemberdayaan ekonomi masyarakat. Asas kekeluargaan yang
diterapkan dalam koperasi menggantikan tengkulak yang biasa
menjerat masyarakat dengan harga rendah. Melalui koperasi produksi,
pembudidaya rumput laut di Nunukan bisa memasarkan produknya
lebih luas, menentukan harga jual agar tidak rendah, dan mengakses

pendanaan bank lewat koperasi. Membangun ekonomi masyarakat


sebaiknya berangkat dari modal masyarakat sendiri. Perekonomian
Nunukan harus mandiri dengan kekuatan ekonomi masyarakatnya
sendiri.
Sunarso, Manajer Tim Pemberdayaan Sektor Riil dan UMKM Bank
Indonesia Prov. Kaltim, mengatakan kelembagaan yang sederhana,
namun secara legal sangat kuat dan mudah dibentuk adalah
koperasi. Dengan kelembagaan yang legal, transformasi Gapokan
menjadi koperasi meningkatkan bargaining position yang tinggi
bagi pembudidaya rumput laut Nunukan. Sehingga dimasa depan
pengelolaan yang profesional dapat meningkatkan pengembangan
rumput laut yang lebih maju di Nunukan. Beliau menjelaskan pada
mulanya Gapokan memfasilitasi tumbuhnya pembudidaya rumput
laut, namun itu saja belum cukup, ketika ingin berkembang, masyarakat
membutuhkan koperasi ujarnya.

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Peran koperasi pada dasarnya membantu kelompok masyarakat


budidaya rumput laut untuk mengakses modal ke lembaga pembiayaan,
karena tidak mungkin kelompok masyarakat mendapatkan akses jika
tidak difasilitasi oleh badan usaha yang resmi dan dikelola dengan
manajemen yang rapi. Koperasi dapat mewakili kebutuhan dana bagi
kelompok masyarakat yang sedang memerlukan modal usaha. Dari
aspek pemasaran, koperasi juga membantu membuka jalur pemasaran
rumput laut sehingga peran koperasi dianggap menjadi model lembaga
yang cocok dengan ekonomi kerakyatan.
Kelompok masyarakat yang masuk ke dalam anggota koperasi akan
mendapatkan sisa hasil usaha (SHU). Bagi anggota koperasi ada iuran
wajib dan iuran sukarela untuk pengembangan keuangan koperasi.
Realisasi koperasi mengakomodasi kelompok masyarakat budidaya
rumput laut se-Nunukan, seperti dikatakan Sunarso tidak menutup
kemungkinan bila layanan koperasi itu nantinya dapat menjangkau
wilayah Sebatik. Sehingga Nunukan bisa jadi contoh pembangunan
ekonomi di wilayah perbatasan.
Kabupaten Nunukan terletak di wilayah perbatasan IndonesiaMalaysia, tepatnya negara bagian Sabah. Masalah ketertinggalan
ekonomi dan lemahnya infrastruktur merupakan problematika lama
di wilayah perbatasan. Padahal di wilayah perbatasan inilah gambaran
dari kondisi negara pertama kali dicitrakan oleh negara tetangga.
Kualitas pembangunan ekonomi dikatakan berhasil bila pemerataan
berjalan sampai ke seluruh wilayah. Pembangunan ekonomi harus
mengikutsertakan banyak rakyat. Dengan begitu pembangunan
menemukan jalan untuk mensejahterakan rakyat. Pemberdayaan
masyarakat adalah salah satu jalan untuk mencapai pemerataan, hanya
pada dasarnya semua harus berangkat pada keunggulan lokalitas.
Nunukan memiliki sumber daya laut yang cocok untuk pembudidayaan
rumput laut.

10

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

AWAL mula keberadaan rumput laut di Kabupaten Nunukan, Kalimantan


Timur, menurut kebanyakan petani di sana, pertama kali dibawa oleh
seseorang dari Sulawesi Selatan. Peristiwa itu terjadi beberapa tahun
lalu dengan tujuan untuk mencoba mengembangkan rumput laut.
Niat awal seorang nelayan tersebut hanyalah coba-coba. Namun
hasilnya ternyata malah berkembang pesat. Banyak warga pesisir, yang
sebelumnya merupakan nelayan tangkap ikan, kemudian tertarik ikut
membudidayakan rumput laut. Bahkan, kini selain menangkap ikan
juga sekaligus menjadi pembudidaya rumput laut.
Contohnya Habir yang sudah 20 tahun tinggal di Nunukan, selama itu
pula ia menjadi nelayan tangkap ikan. Namun sejak di Nunukan mulai
gencar dilakukan budidaya rumput laut, Habir pun juga menjadi petani
11

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

rumput laut, tanpa meninggalkan


profesi sebelumnya sebagai ne
layan tangkap. Ketika ditanya soal
mengapa ia juga menjadi pembu
didaya rumput laut, Habir menja
wab rumput laut lebih menjanji
kan secara ekonomi! langkah
Habir diikuti oleh ratusan nelayan
lain yang ada di Nunukan yang
juga beralih profesi menjadi pem
budidaya rumput laut.
Secara teori, kondisi laut di Nu
nukan sebenarnya kurang cocok
untuk tempat budidaya rumput
laut. Rumput laut biasanya dibudi
dayakan di laut dengan karakteris
Pendampingan langsung melibatkan berbagai unsur, Dinas
Kelautan, BI, militer, PPL, LSM,
profesional, dan konsultan ahli.

12

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Kondisi Geografis Kabupaten Nunukan


Letak
Lintang Utara
Bujur Timur

:
:

3 15'00" - 4024'55"
115033' - 11803'
o

Batas
Utara
Timur
Selatan
Barat

:
:
:
:

Malaysia Timur - Sabah


Selat Makassar dan Laut Sulawesi
Kabupaten Bulungan dan Malinau
Malaysia Timur - Serawak
Luas Wilayah

Krayan
:
1834,74 Km2
Krayan Selatan
:
1757,66 Km2
Lumbis
:
290,23 Km2
Lumbis Ogong
:
3357,01 Km2
Sembakung : 2042,66 Km2
Nunukan
:
564,50 Km2
Sei Menggaris
:
850,48 Km2
Nunukan Selatan :
181,77 Km2
Sebuku :
1608,48 Km2
Tulin Onsoi :
1513,36 Km2
Sebatik
:
51,07 Km2
Sebatik Timur
:
39,17 Km2
Sebatik Tengah
:
47,71 Km2
Sebatik Utara
:
15,39 Km2
Sebatik Barat
:
93,27 Km2
Jumlah/Total
:
14247,50 Km2
Sumber: Statistik Kabupaten Nunukan 2012

tik air yang jernih dan arus air yang tidak terlalu kuat. Sedangkan, kondi
si laut di Nunukan bertolak belakang dengan karakteristik idealnya. Air
laut di Nunukan cenderung keruh, dan arusnya cenderung kuat.
Rumput laut yang dihasilkan di Nunukan tersebut justru memiliki
karakteristik tersendiri yang unik. Budidaya rumput laut dalam awal
perkembangannya baru sebatas menjadi usaha sampingan masyarakat
setempat.

13

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Dari sudut pandang ekonomi, sisi penawaran dan permintaan


rumput laut dapat dipertimbangkan untuk mengetahui potensi
pengembangan budidayanya. Kondisi yang dihadapi yaitu tingginya
permintaan terhadap rumput laut sementara penawarannya relatif
rendah. Karena itu, penawaran dari para produsen rumput laut di
Indonesia belum dapat memenuhi seluruh permintaannya. Dengan
kata lain, masuknya produsen baru tanpa merugikan produsen yang
sudah ada masih dimungkinkan terjadi. Peluang inilah yang ditangkap
oleh pembudidaya di Nunukan.

Rumput laut lebih


menjanjikan secara
ekonomi!

14

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Limpahan rezeki rumput laut, uang saku sekolah pun


bisa diperoleh dari memasang bibit rumput laut.

Rendahnya penawaran ini terutama dikarenakan kondisi area


budidaya rumput laut. Tidak semua perairan di Indonesia cocok untuk
ditanami rumput laut. Keberhasilan perintisan budidaya rumput laut
di Nunukan lalu menjadi alasan bahwa masyarakat tidak seharusnya
mudah menyerah pada kondisi yang dihadapi. Trial and error perlu
dicoba terlebih dahulu, seperti yang telah dilakukan di Nunukan.
Sementara itu, permintaan rumput laut terus meningkat karena
perkembangan pemanfaatan rumput laut untuk industri olahan.
Rumput laut berkembang dari bahan baku untuk produksi makanan
hingga produk tekstil, farmasi, bahkan pengental cat. Dalam industri
farmasi, rumput laut digunakan untuk bahan baku cangkang kapsul.
Di Eropa, rumput laut bahkan digunakan untuk membuat pakaian.
Rumput laut dapat menyesuaikan diri dengan suhu udara. Dalam suhu
panas, rumput laut akan mencair. Dalam kondisi dingin, rumput laut
bisa kering. Semakin kering rumput laut, wujudnya akan semakin keras.
Karena penggunaannya yang beragam tersebut, permintaan rumput
laut diharapkan dapat terus berkembang dalam jangka panjang.
Secara umum, keberhasilan budidaya rumput laut setidaknya dipe
ngaruhi oleh lima kondisi: lahan budidaya, kejernihan air, kandungan

15

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Umumnya, jenis rumput


laut yang dibudidayakan
di Indonesia yaitu
cottoni, spinosum, dan
gracilaria. Dari tiga
jenis varietas rumput
laut tersebut, euchema
cottoni yang paling
cocok dibudidayakan di
Nunukan.

16

oksigen, kandungan garam,


dan intensitas cahaya. Lahan
budidaya yang dimaksud
yaitu laut tempat menanam
rumput laut. Dalam lahan bu
didaya itu, kualitas arus dan
ombak sangat menentukan.
Ombak berada di atas per
mukaan air, sementara arus
berada di dalamnya. Laut
dengan ombak yang besar
belum tentu memiliki arus
yang juga besar. Kondisi arus
yang baik untuk menanam
rumput laut secara teori min
imal 20 cm per detik. Ombak
yang baik bagi rumput laut
adalah ombak yang tenang.
Jika ombak besar, konstruksi
budidaya rumput laut bisa
hancur.
Kondisi di Nunukan, kondi
si ombak relatif tenang, se
mentara arusnya kuat. Pa
sang surut air laut relatif lebih
banyak terjadi di Nunukan
dibandingkan daerah lain.
Selain itu, kondisi kejernih
an air laut Nunukan terbi
lang keruh. Air yang keruh ini
dapat mengurangi intensitas
cahaya matahari yang ma

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

suk. Karena itu, rumput laut dari Nunukan tidak sebesar rumput laut ha
sil produksi daerah-daerah lainnya. Tapi justru karena kecil itulah maka
rumput laut di Nunukan tidak mudah patah.
Kekurangan dari faktor demografi Nunukan justru memberikan
keuntungan tersendiri bagi rumput laut hasil produksi Nunukan. Selain
kondisi lingkungannya tersebut, bibit juga menentukan keberhasilan
budidaya rumput laut. Bibit yang baik tentu akan menghasilkan rumput
laut yang baik juga, begitu juga sebaliknya. Untuk memastikan kualitas
tersebut, perawatan rumput laut menjadi hal yang penting. Secara
berkala hendaknya pembudidaya membersihkan rumput lautnya dari
menempelnya jamur, lumut atau lumpur. Hal ini dilakukan agar proses
tumbuh dan fotosintesisnya tidak mengalami gangguan.
Umumnya, jenis rumput laut yang dibudidayakan di Indonesia
yaitu cottoni, spinosum, dan gracilaria. Dari tiga jenis varietas rumput
laut tersebut, euchema cottoni yang paling cocok dibudidayakan di
Nunukan. Selain itu untuk harga dan permintaannya pun relatif lebih
tinggi dibandingkan dua jenis lainnya.
Provinsi Kalimantan Timur termasuk salah satu penghasil rumput laut
yang cukup dipandang. Kenaikan produksi rumput laut di Kalimantan
Timur terjadi terutama dalam periode tahun 2005-2006. Menurut data
Statistik Perikanan Tangkap, Perikanan Budidaya, dan Ekspor-Impor di

Rapat diwaktu malam pun tetap harus dijalankan. Rakor Gapokan


(Gabungan Kelompok Perikanan), BI, PPL, IPKANI dalam mengeva
luasi permasalahan pengembangan rumput laut terkini.

17

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Tingkat Produksi Rumput Laut di Kalimantan Timur Tahun 2011


No.

Kabupaten

Nunukan

Paser

Produksi (ton)

116.731

84,29%

9.019

6,51%

Bontang

5.496

3,97%

Balikpapan

3.567

2,58%

Kutai Timur

1.613

1,16%

Tarakan

1.260

0,91%

Kutai Kartanegara

693

0,50%

Bulungan

72

0,05%

Panajam

38

0,0%

138.489

100%

Total

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Kalimantan Timur

Indonesia yang dipublikasikan Kementerian Kelautan dan Perikanan,


produksi rumput laut Kalimantan Timur tahun 2004 hanya sebesar
tujuh ton. Sedangkan pada tahun 2006, produksi melonjak menjadi
1.547 ton. Bahkan produksi rumput laut tahun 2007 meningkat lebih
besar lagi, yaitu menjadi 17.562 ton, meskipun setelah itu menurun ke
angka 5.000-an. Tapi pada tahun 2010, produksi rumput laut kembali
meningkat signifikan ke angka 40.126 ton.
Meskipun belum masuk kelompok sepuluh besar provinsi produsen
rumput laut, pertumbuhan yang terjadi di Kalimantan Timur dapat
dikatakan luar biasa. Tahun 2011, produksi rumput laut Kalimantan
Timur sudah mengungguli Banten. Produksi Banten saat itu sebesar
55.420 ton, sementara Kalimantan Timur sudah mencapai 83.093 ton.
Jika Kalimantan Timur dapat konsisten mengembangkan produksi
rumput lautnya, bukan tidak mungkin provinsi tersebut dapat menjadi
yang terbesar sebagai sentra produksi budidaya rumput laut di
Indonesia.
Meningkatnya produksi, meningkat pula volume ekspornya. Pasar
rumput laut tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri.

18

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Hal ini dapat dipahami mengingat


kegunaan rumput laut yang sangat luas
dalam industri pengolahan. Banyaknya
lokasi budidaya di Indonesia juga dapat
menjadi keunggulan tersendiri sebagai
eksportir. Pada tahun 2010, nilai ekspor
rumput laut dari Kalimantan Timur
sebesar US$63.000. Sedangkan pada
tahun berikutnya, ekspor rumput
laut dari daerah tersebut meningkat
signifikan menjadi US$231.000. Dengan
kata lain, peningkatan nilai ekspor
tersebut menjadi sebesar 265,17%.
Tingginya produksi rumput laut di
Kalimantan Timur, utamanya ber
asal
dari Kabupaten Nunukan. Se
belum
Kalimantan Utara terbentuk, Nunukan
masih menjadi bagian dari Provinsi

Jika Kalimantan
Timur dapat
konsisten
mengembangkan
produksi rumput
lautnya, bukan
tidak mungkin
provinsi tersebut
dapat menjadi
yang terbesar
sebagai sentra
produksi
budidaya rumput
laut di Indonesia.

Rumput Laut melimpah mengundang investor dari Jakarta untuk


datang langsung. Ki-ka, Eddy Afrios PPL Desa Tanjung Harapan,
Rangga Buwana Purchasing Manager PT. Gumindo Perkasa
Industri, M. Yacub, Ketua IPKANI Kab. Nunukan.

19

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Kalimantan Timur. Sebagai contoh, data tahun 2011 yang ditunjukkan


pada tabel di atas menyatakan dengan jelas bahwa Nunukan merupakan
daerah penghasil utama rumput laut di Kalimantan Timur. Dari total
produksi rumput laut sebesar 138.489 ton pada tahun 2011 di provinsi
tersebut, Nunukan memberikan kontribusi lebih dari 84% atau sebesar
116.731 ton. Sementara itu, di urutan kedua, yaitu Kabupaten Paser,
produksinya hanya sebesar 9.019 ton atau 6,51% dari total produksi
rumput laut di Kalimantan Timur.
Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, produksi rumput laut di
Nunukan menunjukan tren peningkatan. Pada tahun 2010, produksi
rumput laut Nunukan sebesar 56.542 ton. Jadi peningkatan produksi
dari tahun 2010 ke 2011 lebih dari 100%. Sejalan dengan itu, luas lahan
budidaya juga meningkat. Dari sebelumnya 712 Ha pada 2010, luas
lahan meningkat menjadi 1.297 Ha pada tahun 2011. Sementara itu,
potensi lahan yang masih dapat digarap sekitar 20.000 Ha. Jika dapat
dibangun dengan serius, rumput laut di Nunukan memiliki prospek
yang cerah.
Januari 2013, Basri, Bupati Nunukan, menyatakan bahwa Nunukan
telah menjadi penghasil rumput laut kering terbesar di Indonesia.
Pada bulan itu, produksi rumput laut Nunukan telah mencapai angka
750 ton. Angka ini meningkat tajam dibandingkan pencapaian
tahun 2011. Secara rata-rata, pada tahun 2011, produksi rumput laut
Nunukan sebesar 500 ton per bulan. Pada tahun itu saja Nunukan telah
memberikan kontribusi 84% lebih dari total rumput laut kering yang
diproduksi di Kalimantan Timur.
Keberhasilan awal budidaya rumput laut di Nunukan membuat
banyak pihak terheran-heran. Daerah yang sebelumnya dianggap
tidak memungkinkan justru menghasilkan komoditas yang berlimpah,
bertolak belakang dengan penilaian awal. Karena itu, beberapa pihak
menganggap rumput laut merupakan anugerah bagi Nunukan. Daerah
tersebut seolah sudah diberkahi untuk menjadi daerah budidaya
rumput laut. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan,

20

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Suprianto, dalam gurauannya pernah mengatakan bahwa rumput laut


di Nunukan mungkin dapat dijadikan salah satu keajaiban dunia.
Umumnya yang menggeluti sektor budidaya rumput laut adalah
masyarakat pesisir. Namun tidak jarang, ada diantara pembudidaya
yang memiliki latar belakang birokrat. Komoditas ini dianggap cukup
menjanjikan dalam menopang perekonomian dan menambah
penghasilan masyarakat.
Banyak kalangan petani yang semula sudah gantung tali kembali
menggeluti usaha rumput laut karena menguatnya harga rumput laut
di pasaran. Bahkan banyak juga pembudidaya baru yang bermunculan.
Tentunya hal ini tidak dapat disalahkan dari keputusannya alih profesi.
Rekan-rekannya yang telah lebih dahulu menggeluti usaha budidaya
rumput laut dilihat lebih berhasil. Penghasilan yang diperoleh sebagai
pembudidaya rumput laut ternyata lebih tinggi daripada nelayan.
Keunggulan relatif usaha budidaya rumput laut dibandingkan usaha
lainnya diakui oleh banyak pihak. Sejumlah penduduk yang telah
menjalani usaha budidaya rumput laut menyatakan kebanggaannya
terhadap usaha barunya tersebut. Hasil usaha rumput laut secara nyata
telah menambah pundi-pundi keuangan keluarga pembudidaya.

21

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Dalam beberapa
tahun perjalanannya,
budidaya rumput
laut telah memberi
manfaat nyata
bagi kesejahteraan
masyarakat. Hal ini
dapat dilihat salah
satunya dari belanja
masyarakat setempat.

22

Mereka menyukai usaha barunya


karena panen sudah dapat di
la
kukan minimal 45 hari setelah
menanam. Karena itu, merogoh
kocek untuk modal awal dianggap
setimpal oleh pembudidaya karena
pengembaliannya dapat diperoleh
dengan cepat.
Biasanya modal awal diperlukan
untuk membeli tali, membuat
fondasi di laut lepas, dan biaya
pengikatan bibit. Secara umum,
para pembudidaya mengeluarkan
modal awal sekitar Rp10 juta. Dari
nilai tersebut, pembudidaya dapat
memasang bentangan sebanyak
100 utas tali. Jika mekanisme

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

pembudidayaan yang dilakukan tepat, 100 utas tali tersebut


diperkirakan dapat menghasilkan panen sebanyak satu ton rumput laut
kering. Dengan kata lain, panen yang dihasilkan secara umum sekitar
10 kilogram per bentang tali.
Dalam beberapa tahun perjalanannya, budidaya rumput laut
telah, secara kasat mata, memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan
masyarakat. Hal ini dapat dilihat, salah satunya, dari belanja
masyarakat. Konsumsi barang-barang kebutuhan sekunder, bahkan
tersier, sudah semakin terpenuhi. Sepeda motor, misalnya, kendaraan
ini dahulu merupakan barang yang jarang ditemui di jalan-jalan
daerah Nunukan. Setelah ada budidaya rumput laut, jalan-jalan di
Nunukan terlihat makin padat dengan kendaraan tersebut. Begitu
juga dengan barang-barang elektronik. Laptop dan kamera digital,
misalnya, bukan lagi barang yang asing bagi masyarakat Nunukan.
Tidak hanya kepala keluarga, manfaat budidaya rumput laut
juga dinikmati oleh anggota keluarga lainnya seperti ibu dan anak.
Mereka turut memperoleh tambahan penghasilan dari rumput laut.
Sejak tahun 2008, mudah ditemui pemandangan sejumlah ibu-ibu
beramai-ramai memasang bibit rumput laut. Saat itu, pemasangan
satu bentang tali dihargai Rp5.000. Selain ibu-ibu, anak-anak juga
dapat ikut berpartisipasi.
Dengan demikian, hal ini tentu dapat meningkatkan penghasilan
keluarga. Sementara bapak-bapak bekerja di bidang lain dan anakanak sekolah, ibu-ibu dapat mencari penghasilan tambahan di sektor
budidaya rumput laut. Bahkan anak-anak dapat ikut memasang bentang
tanpa mengganggu kegiatan belajarnya. Pemasangan bentang tali
itu tidak memakan banyak waktu. Sepulang sekolah, mereka dapat
memasang bentang tali sesaat lalu pulang dan melakukan kegiatan
belajarnya di rumah. Jadi kegiatan itu juga bisa menjadi tambahan
uang saku bagi anak-anak. Bukan tidak mungkin, kebutuhan uang saku
anak dapat dipenuhi sendiri melalui pekerjaan membentangkan tali
budidaya rumput laut.

23

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Budidaya rumput laut tidak hanya menguntungkan bagi


pembudidaya, tetapi juga nelayan tangkap. Keberadaan budidaya itu
membuat ikan-ikan berkumpul di sekitar rumput laut. Sering terjadi,
ketika pembudidaya memukat rumput laut, ikan-ikan juga terangkat.
Selain ikan, udang juga ikut berlindung di bawah rumput laut. Nelayan
penangkap udang mengakui, sebelum ada budidaya rumput laut,
mereka hanya mendapat sekitar 10-20 kg dalam sekali tangkap. Setelah
ada rumput laut, udang yang diangkat bisa mencapai 30 kg.
Tapi beberapa jenis ikan dapat menjadi ancaman bagi budidaya
rumput laut, misalnya ikan baronang. Selain itu, kura-kura dan penyu
juga menjadi ancaman budidaya rumput laut. Karena itu, beberapa
lahan budidaya rumput laut dikelilingi pukat. Ini dipasang untuk
menghalangi ikan atau hewan laut lainnya yang berusaha memakan
rumput laut. Selain oleh predator, rumput laut juga terancam oleh
keberadaan hama parasit. Hama itu menempel di batang rumput laut
sehingga menghambat pertumbuhan rumput laut. Tapi menariknya,
rumput laut di Nunukan relatif tidak mudah terserang hama.
Budidaya rumput laut di Nunukan tidak banyak dipengaruhi cuaca.
Hal ini karena Nunukan beriklim non zona musim, jadi hujan turun
merata sepanjang tahun. Kondisi ini di satu sisi menguntungkan, tapi
di sisi lain menjadi tantangan tersendiri bagi pembudidaya. Pasalnya,
batas kandungan rumput laut yang sempurna agak sulit dicapai. Di
Jawa atau Sulawesi, penjemuran rumput laut dapat mencapai hasil yang
maksimal saat musim kemarau. Saat kemarau, penjemuran rumput laut
pun dapat ditinggal tanpa takut hujan turun. Sedangkan di Nunukan,
pembudidaya harus terus-menerus mengawasi rumput lautnya. Hujan
dapat tiba-tiba turun di Nunukan meskipun cuaca terlihat cerah.
Air hujan juga ikut mempengaruhi kualitas rumput laut. Hujan akan
mengalir ke laut, sementara air hujan tersebut merupakan air tawar.
Para pembudidaya biasanya menanam rumput laut agak dalam untuk
mengantisipasi kondisi tersebut. Sehingga jika ada tambahan air tawar
dari atas, rumput laut masih berada di bawah permukaan air.

24

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Sambutan disampaikan Bapak Ameriza M Moesa, Kepala Perwakilan Bank Indonesia


Provinsi Kalimantan Timur di Nunukan, Desa Mamolo Tanjung Harapan.

Hal yang juga menarik mengenai budidaya rumput laut di Nunukan


adalah karakter daerahnya. Rumput laut di Nunukan dibudidayakan di
lautan lepas. Di daerah lain, lokasi budidaya rumput laut diusahakan
terhindar dari arus kuat. Arus yang kuat dinilai dapat merontokkan
rumput laut. Tapi di Nunukan, kuatnya arus justru memberikan manfaat
bagi budidaya rumput laut. Rumput laut yang dihasilkan diklaim
semakin bagus saat arus kuat. Karena kondisi awal lokasi budidaya
dan bibit yang digunakan sudah bagus. Kalau dari awal sudah ditanam
di arus yang kuat, kondisi rumput laut akan semakin bagus. Tapi di
daerah lain, kondisi lokasi dan bibit mungkin tidak sebagus di Nunukan,
sehingga tidak tahan terhadap kuatnya arus air.
Kemampuan menghadapi persoalan teknis ditambah dengan kondisi
alam Nunukan dalam pengembangan rumput laut, justru menimbulkan

25

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

masalah jika tidak dibarengi dengan penjualan dan pemasaran yang


memadai. Kondisi yang dihadapi pembudidaya rumput laut Nunukan
adalah kelebihan produksi. Jika kualitas rumput laut turun, itu lebih
dikarenakan para pembudidaya kewalahan menghadapi kelebihan
produksi.
Saat ini, hasil budidaya rumput laut di Nunukan sudah sampai ke
tahap barang jadi. Artinya barang itu sudah dapat langsung dinikmati
konsumen. Produk olahan rumput laut di Nunukan dapat ditemui
dalam bentuk makanan. Produk ini dijajakan di pintu gerbang daerah
tersebut, yaitu bandar udara dan pelabuhan. Selain itu, hasil produksi
olahan rumput laut juga bisa ditemui di UKM Center di Nunukan.
Rumput laut diklaim kaya akan serat sehingga sehat untuk dikonsumsi.
Pemasaran produk olahan tersebut menjadi salah satu tantangan.
Selain terjual di bandara, pelabuhan, dan UKM Center, rumput laut juga
seharusnya dapat dipasarkan di luar daerah. Bahkan rumput laut juga
seharusnya dapat dipasarkan hingga ke luar negeri. Sejumlah pameran
UKM menjadi salah satu sasaran produsen pengolahan rumput laut
dari Nunukan. Begitu ada informasi akan digelarnya sebuah pameran,
pengusaha produk olahan rumput laut ini segera merespon. Pameran
di berbagai kota dipandang sebagai strategi efektif pemasaran merek
dan produk rumput laut Nunukan.

26

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

PERAHU berjejer rapi di pinggir perairan Nunukan. Saat itu para nelayan
tangkap baru saja menambatkan perahunya selepas bekerja. Ikanikan lalu dibawa untuk segera diuangkan. Biasanya, ikan-ikan dijual ke
negara sebelah, yaitu Malaysia. Uang hasil keringatnya bisa berbentuk
rupiah ataupun ringgit.
Tapi setelah beberapa orang melakukan budidaya rumput laut, lirikan
mata para nelayan terus tertuju pada pembudidaya itu. Apalagi hasil
budidaya rumput laut terlihat lebih menjanjikan daripada tangkapan
ikan. Mereka lalu mulai mencari tahu teknik budidaya rumput laut dan
mencoba mempraktikannya.
27

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Habir, salah satu nelayan tangkap yang beralih menjadi pembudidaya,


menyatakan usaha budidaya rumput laut sangat menjanjikan. Selama
saya di Nunukan, mungkin hampir 20 tahun, pekerjaan inilah yang
sangat menjanjikan bagi ekonomi masyarakat, ujarnya.
Selama di Nunukan, Habir telah mencoba berbagai bidang usaha.
Dia awalnya menjalankan usaha pengupasan kepiting. Setelah itu
dia beralih ke usaha penangkapan ikan. Dia biayai orang-orang
untuk menangkap ikan. Tapi perkembangan usahanya dirasakan
begitu-begitu saja. Hampir tidak ada kemajuan. Baru setelah ada
rumput laut, Habir merasakan potensi besar dari usaha budidaya
itu.
Namun hasil yang besar butuh pengorbanan besar. Habir dan rekanrekannya sesama pembudidaya harus menghadapi tengkulak. Mereka
berhadapan dengan harga yang dikuasai tengkulak. Harga rumput laut
hanya dihargai Rp5.000. Jika itu terus berlangsung, para pembudidaya
bisa merugi.
Habir dan pembudidaya lain awalnya hanya mengetahui teknik
budidaya rumput laut. Hal-hal lain seperti manajemen kelompok

28

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

dan pembentukan harga belum dikuasainya. Mereka pun kemudian


terpaksa bergantung pada harga yang diberikan pengepul.
Padahal, jumlah pembudidaya lebih banyak dibandingkan pengepul.
Hanya karena pembudidaya berjalan sendiri-sendiri, pengepul menjadi
lebih berkuasa atas pembentukan harga. Ditambah lagi, pembudidaya
juga tidak mendapatkan informasi yang simetris tentang harga. Jadi
meskipun harga yang dibayar perusahaan pengolahan meningkat,
pembudidaya tetap mendapatkan harga lama yang rendah dari
pengepul.
Untuk meningkatkan produktivitas petani, adalah dengan men
sejahterakan terlebih dahulu pembudidayanya. Agar pembudidaya

Kegiatan Bantuan Teknis


dari Bank Indonesia dalam
memperkuat kelembagaan
Pembudidaya Rumput Laut
Nunukan rutin dilaksanakan
dalam tiga tahun terakhir.

Inisiasi ini muncul


dari pelatihan yang
diadakan selama
seminggu oleh
Bank Indonesia,
dengan dibidani
oleh petugas DKP
dan penyuluh
lapangan.

29

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Perairan yang keruh, hasil panen


pun perlu special treatment
agar produk rumput laut tetap
berkualitas tinggi.

dapat sejahtera, maka hasil


produksi harus dibeli dengan
harga yang menguntungkan
dari sisi petani. Agar dapat ter
kompensasikan baik dari segi
waktu, biaya serta usaha yang
telah dikorbankan para pe
tani. Untuk itu agar petani kon
sentrasi dalam mening
katkan
produksinya, petani diharapkan

30

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Habir, Leader dari Desa


Mamolo Tanjung Harapan
Nunukan.

Mungkin ini
sudah diatur
Yang di atas
bahwa nanti akan
didatangkan
seperti ini, ujar
Habir.

tidak perlu memikirkan proses pemasar


an dan proses pasca panen.
Karena itu, muncul inisiasi agar tidak
selamanya bergantung kepada tengku
lak. Mereka lalu mendirikan Gapokan
bernama Harapan Mandiri. Inisiasi ini
muncul dari pelatihan yang diadakan
selama seminggu oleh Bank Indonesia,
dengan dibidani oleh petugas DKP dan
penyuluh lapangan. Pelatihan dinamika
kelompok, baris berbaris dengan mili
ter, outbond, dan brainstorming. Hal itu
ternyata menyadarkan sebagian pembu
didaya bahwa dengan bersatu itu lebih

31

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

baik. Dengan kekuatan bersama, mereka merasa lebih kuat mengha


dapi para tengkulak dan permasalahan internal sendiri.
Kehadiran Gapokan lantas memberikan daya tawar yang lebih besar
bagi pembudidaya. Para pengepul tidak lagi menguasai harga. Habir
dan rekan-rekannya kini bisa mendapatkan harga jual yang lebih tinggi.
Habir pun diangkat menjadi Ketua Gapokan.
Tapi masalah tidak sepenuhnya selesai. Habir dan anggota Gapokan
lainnya harus bisa menjaga kualitas hasil budidayanya. Ketidakcocokan

32

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Selama saya di
Nunukan, mungkin
hampir 20 tahun,
pekerjaan inilah
yang sangat
menjanjikan
untuk ekonomi
masyarakat, ujar
Habir.
antara harga dengan kualitas ini menjadi salah satu kekhawatiran Habir.
Antara harga dengan kualitas ini kurang sejalan, tutur Habir.
Habir mengakui para pembudidaya tidak berpikir jangka panjang
dalam menjual hasil usahanya. Dengan kualitas yang rendah, penjualan
rumput laut dari Nunukan ke depan bisa jatuh. Mereka hanya
memikirkan bagaimana agar hasil budidayanya cepat terjual.
Karena itu, Habir menginginkan adanya kontrol kualitas sebelum
rumput laut keluar dari Nunukan. Kontrol itu dapat menjadi

33

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

standar kualitas rumput laut anggota Gapokan. Habir berusaha


mempertahankan kualitas ini dengan nekat. Dia mengajak berbagai
pihak membicarakan masalah ini, termasuk pemerintah daerah. Dia
juga rajin mengikuti studi banding di daerah-daerah lain.
Ternyata hasil jerih payah Habir tidak sia-sia. Hasil budidaya rumput
laut Nunukan mendapat acungan jempol dari daerah-daerah lain. Cara
kerja pembudidaya rumput laut Nunukan juga ikut mendapat apresiasi.
Menurut Habir, faktor sumber daya manusia menjadi salah satu yang
dominan mempengaruhi kesuksesan budidaya rumput laut. Selain itu,
kesuksesan rumput laut juga diakuinya sebagai rahmat dari Tuhan.
Mungkin ini sudah diatur Yang di atas bahwa nanti akan didatangkan
seperti ini, ujar Habir.
Kini kesuksesan Habir juga menjadi kesuksesan pembudidaya
lainnya. Usaha budidaya rumput laut di Nunukan makin menunjukkan
gairahnya. Berbagai pihak juga ikut serta meningkatkan budidaya ini.
Investor menanamkan modalnya, penyuluh menyampaikan ilmu dan
pengetahuannya, pemerintah mengeluarkan regulasinya. Lebih jauh
lagi, keberhasilan budidaya rumput laut di Nunukan juga menjadi
kemajuan bagi perekonomian daerah itu secara umum.

34

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

PERHATIAN pemerintah daerah untuk pengembangan produksi


rumput laut di Nunukan salah satunya adalah dengan mengalokasikan
anggaran melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD),
sambil melakukan negosiasi dengan lembaga keuangan, seperti

Kunjungan Wakil Bupati Nunukan,


Hj. Asmah Gani ke tempat budidaya
rumput laut.

35

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Pembukaan Pelatihan Rumput Laut secara Integratif bekerjasama dengan Pemkab


Nunukan dibuka oleh Kepala Perwakilan BI Kaltim (2009-2012), Androecia Darwis.

perbankan untuk bantuan mo


dal.
Langkah tersebut berdampak
positif terhadap peningkatan
produksi dan secara tidak lang
sung juga dapat meningkatkan
pendapatan pembudidaya rum
put laut itu sendiri.
Pemerintah Daerah Kabupa
ten Nunukan mengharapkan
semua pihak dapat bahu-mem
bahu mengembangkan budi
daya rumput laut, baik dari
keterampilannya, kelembagaan
nya, hingga kualitas rumput laut
nya.
Selain itu, pemerintah dae
rah juga berusaha membuat
iklim usaha yang kondusif bagi
investasi. Para investor diharap
kan tidak ragu menanamkan
investasinya di sektor budidaya

36

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

rumput laut di Nunukan. Ke depan, pemerintah menargetkan ada


pembangunan pabrik pengolahan rumput laut di Nunukan.
Pemerintah daerah tidak meng
khu
suskan target kedatangan
investor dari daerah atau negara tertentu. Investor dari manapun
dipersilakan datang dan berinvestasi di Nunukan, termasuk dari
Malaysia.
Meskipun ada sentimen negatif dari beberapa pihak mengenai Ma
laysia, namun pihak pemerintah daerah menyatakan hubungannya

Pemerintah
daerah yakin
bahwa kondisi
budidaya rumput
laut di Nunukan
memberikan
peluang besar
bagi investor
untuk meraup
keuntungan.

Setelah 1 minggu Outbond dan Dinamika Kelompok Training, semakin menguatkan tali per
saudaraan antar anggota kelompok perikanan.

37

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Bupati Nunukan
Drs. H. Basri menunjukkan peran Nunukan
sebagai pintu gerbang
perbatasan negara.

dengan Malaysia
sejauh ini terbilang
baik. Sentimen ter
sebut dinilai pe

merintah daerah
terlalu dibumbui.
Pemerintah
daerah meman
faatkan berbagai
media promosi untuk menarik
investor, mulai dari mulut ke mulut hingga media elektronik. Pemerintah
mengharapkan investor datang langsung ke Nunukan dan melihat sen
diri bagaimana kondisi budidaya rumput lautnya.

38

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Pemberian bantuan mesin press rumput laut disampaikan oleh Bapak Teguh Setiadi
Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim.

Keterlibatan
pemerintah daerah
sangat dibutuhkan,
khususnya dalam hal
untuk mencari investor
atau pembeli. Sesuai
data Dinas Kelautan
dan Perikanan
Kabupaten Nunukan
tahun 2013, jumlah
produksi rumput laut
mencapai 800 ton
setiap bulan.

Pemerintah daerah yakin bahwa


kondisi budidaya rumput laut di
Nunukan memberikan peluang
besar bagi investor untuk meraup
keuntungan. Sektor rumput laut ini
diyakini akan benar-benar menjadi
sektor unggulan Nunukan.
Bagaimana pemerintah daerah
menghadapi sepak terjang para
tengkulak di Nunukan? Kebijakan
Pemerintah Daerah Nunukan saat
ini masih dalam taraf sekedar mem
berikan himbauan saja.
Jika
masyarakat
menyadari
bahwa tengkulak tidak lagi meng
untungkan, tentu masya
rakat de
ngan sendirinya akan menjauhi.
Tapi masalahnya, tengkulak ma

39

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Pemerintah daerah telah melakukan


kerja sama dengan dua perusahaan
besar (eksportir) di Jakarta yang selama
ini menjadi mitra nelayan rumput laut
di daerahnya.
Suprianto, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan
Kabupaten Nunukan

kin ketat mengikat


para pembudidaya.
Tidak hanya di sisi
hilir, tengkulak juga
mengikat pembudi
daya dari sisi hulu.
Artinya tengku
lak juga melakukan
pembinaan
dari
awal memulai usa
ha. Permodalan di
berikan, begitu juga
alat-alat operasional
budidaya. Hal inilah yang menjadi salah satu tantangan pemerintah jika
ingin agar tengkulak tidak bisa mempermainkan harga.
Saat ini belum sampai tingkat yang parah. Saya rasa masyarakat
berurusan dengan tengkulak juga karena tidak ada saluran lain.
Mungkin tindakan konkrit baru bisa kita ambil setelah ada infrastruktur
dan kemudahan-kemudahan, papar Bupati Nunukan, Basri.
Kawasan budidaya rumput laut terfokus pada lokasi masyarakat
nelayan Mamolo Kelurahan Tanjung Harapan, Kampung Nelayan

40

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Diskusi pengembangan rumput laut di Kabupaten Nunukan. Ki-ka, Sunarso Manager


Akses Keuangan dan UMKM BI Kaltim, Argo Galih Managing Redaktur Bisnis Indonesia, Bupati Nunukan H. Basri, Yusuf Arif Konsultan Pengembang UMKM BI Kaltim.

Kelurahan Mansapa, Sedadap Kelurahan Nunukan Selatan, kawasan


Pelabuhan Tunon Taka Kelurahan Nunukan Timur, dan Jalan Tanjung
Kelurahan Nunukan Barat.
Tidak banyak orang tahu, sejumlah hasil penelitian mengatakan
bahwa kualitas produksi rumput laut di daerah Nunukan merupakan
yang terbaik di Pulau Kalimantan.
Saat ini, masyarakat pesisir di Kabupaten Nunukan telah memfokuskan
untuk menjadi pembudidaya dengan menyediakan segala fasilitas
yang dibutuhkan, seperti penjemuran karena terbukti hasilnya mampu
mengangkat perekonomiannya.
Namun harga penjualannya masih relatif sangat fluktuatif karena
adanya permainan dari para tengkulak. Tetapi hal itu tidak pernah
disesali oleh para petani rumput laut, karena hanya melalui tengkulak,
hasil produksi rumput laut mereka dapat terjual.
Keterlibatan pemerintah daerah sangat dibutuhkan, khususnya
dalam hal untuk mencari investor atau pembeli. Sesuai data Dinas
Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan tahun 2013, jumlah

41

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

produksi rumput
laut mencapai 800
ton setiap bulan.
Semakin me
ningkatnya hasil
produksi dari wak
tu ke waktu, maka
pemerintah dae
rah harus terus
mencari jalan un
tuk dapat meng
akomodasi seluruh produksi rumput laut di daerahnya,
serta menstabilkan harga dengan menjalin kerjasama dan kemitraan de
ngan pengusaha berskala besar.
Pemerintah Kabupaten Nunukan mengikuti dengan seksama proses
budidaya rumput laut. Oleh karena itu, bantuan yang diberikannya
pun sesuai dengan proses budidaya tersebut. Pemerintah berusaha
agar pembudidaya dapat terbantu, mulai dari pemilihan bibit hingga
pasca panennya.
Dalam pembibitan, pemerintah menyediakan penangkaran. Bibit
rumput laut didatangkan dari luar Nunukan. Daerah Kebun Bibit seperti
dari Takalar, Sulawesi Selatan menjadi salah satu sumber bibit. Dengan
banyaknya alternatif penyedia bibit dari luar, penangkar bibit dapat
membandingkan kualitas antar bibit.
Setelah didatangkan, bibit ditangkarkan. Penangkar bibit
dilakukan oleh masing-masing kelompok perikanan. Bibit yang
telah ditangkarkan ini nantinya akan dibeli oleh para anggotanya
(pembudidaya). Jadi pembudidaya tidak perlu repot mencari bibit
unggul bagi calon tanamannya. Penangkar bibit juga harus dapat
menjaga kualitas bibitnya agar tidak mengecewakan pembudidaya.
Dengan begitu, biaya yang dikeluarkan diharapkan menjadi
lebih efisien. Bantuan untuk benih rumput laut diberikan setiap

42

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

tahun dengan tujuan agar kualitas rumput laut senantiasa ter


jaga.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan,
Suprianto, menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah me
lakukan kerja sama dengan dua perusahaan besar (eksportir) di
Jakarta yang selama ini menjadi mitra nelayan rumput laut di
daerahnya.
Suprianto juga menambahkan bahwa potensi rumput laut di
Kabupaten Nunukan yang produksinya sudah sangat luar biasa setiap
bulannya itu, telah membuat perusahaan raksasa asal Sulawesi Selatan,
Bosowa, tertarik masuk ke Nunukan.
Rumput laut sebenarnya merupakan komoditas yang relatif mudah
dibudidayakan. Bahkan cukup menaruhnya di laut, rumput laut dapat
tumbuh hidup dengan sendirinya.
Akibatnya banyak masyarakat memandang remeh budidaya rumput
laut. Usaha budidaya ini bahkan hanya dianggap menjadi pekerjaan

Seminar Kewirausahaan Rumput Laut oleh


Ujang Koswara dari Greenlinecare (Ketua
Kadin Jawa Barat).

43

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

sambilan bagi sekelompok orang. Bahkan ketika panen tiba, tidak


sedikit pembudidaya yang mengabaikannya.
Pemerintah pada awalnya sering memberikan bantuan tunai kepada
pembudidaya rumput laut. Tapi bantuan ini kemudian dinilai kurang
efektif dalam mengembangkan budidaya rumput laut.
Pemerintah mengharapkan bantuan tunai yang sudah diberikannya
itu digunakan oleh pembudidaya rumput laut untuk membeli bibit,
alat-alat budidaya, atau lainnya. Namun kenyataannya, malah banyak
digunakan untuk membeli barang-barang konsumsi, seperti televisi
dan sepeda motor.
Mentalitas pembudidaya di Nunukan belum berjiwa pengusaha.
Mungkin karena saat itu budidaya rumput laut belum terlihat
menjanjikan. Bahkan ketika pemerintah memberikan bantuan, berupa
tali untuk mengikat rumput laut, para pembudidaya malah menjualnya.
Setelah itu, pola bantuan diubah. Kini bantuan lebih diarahkan pada
peningkatan kompetensi budidaya rumput laut. Jadi sifatnya berupa
pendampingan. Bantuan tidak diberikan sembarangan. Pembudidaya
akan diseleksi lebih dahulu.
Mereka yang dinilai memiliki motivasi untuk serius mendalami usaha
budidaya rumput laut yang akan mendapat bantuan. Selain itu, minat
dan konsistensi pembudidaya juga dipertimbangkan. Dengan adanya
semacam seleksi itu, bantuan diharapkan akan lebih efektif.
Pernah suatu ketika, pihak pemerintah daerah memberikan bantuan
pompa air sebanyak 14 unit. Pompa tersebut lalu disebarkan ke
kelompok-kelompok Gapokan. Kelompok yang dinilai memberikan
support besar ke Gapokan mendapat dua pompa air, sementara
kelompok yang kurang atau tidak memberikan dukungan, hanya
mendapat satu. Cara ini diharapkan dapat menjadi insentif bagi para
pembudidaya untuk terus semangat dalam berusaha.
Kemudian ketika terjadi perebutan lahan budidaya rumput laut,
pemerintah daerah juga turun tangan. Perebutan lahan usaha ini
melibatkan potensi pendapatan, suatu hal yang sensitif dibicarakan.

44

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Pemerintah akhirnya memediasi dan melakukan penertiban lahan


budidaya.
Tapi masyarakat tidak seluruhnya mudah diatur. Pemerintah daerah
sudah membuat aturan agar masyarakat melaporkan lahan usahanya,
namun sayangnya hanya sebagian saja yang melapor.
Belum lagi dengan datangnya penduduk dari luar daerah tersebut.
Perseteruan ini bahkan dapat menyingkirkan lapangan usaha
penduduk setempat. Hal ini dapat terjadi terutama jika mekanisme yang
digunakan siapa cepat, dia dapat. Karena itu, pihak pemerintah sempat
mengeluarkan aturan untuk memprioritaskan penduduk setempat.
Bagi penduduk yang sudah memiliki area budidaya, pemerintah
melakukan pengaturan lokasinya. Penduduk di luar daerah diarahkan
untuk melakukan budidaya di tempat lain, sementara penduduk
setempat dipersilakan untuk menanam rumput laut di area yang telah
disediakan.
Masalah listrik yang sering padam, masih sering ditemui, meskipun
kini intensitasnya mulai berkurang setiap harinya. Listrik ke depannya
diyakini sudah bisa masuk ke semua industri kecil.
Market merupakan masalah yang paling dominan. Untuk menjadi
besar, rumput laut yang dihasilkan di Nunukan harus dipasarkan ke

45

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

daerah-daerah lain. Market ini terkait dengan geografis. Sementara


geografis terkait dengan transportasi dan infrastruktur.
Sarana transportasi di Nunukan, menurut pemerintah daerah
setempat, sudah cukup memadai. Pelabuhan besar sudah ada.
Begitu pula dengan bandar udara. Saat ini pemerintah daerah masih
menganalisis permasalahan apa yang sebenarnya menjadi penghambat
paling besar dalam mengundang investor.
Meskipun produksi budidaya rumput laut meningkat, intensitas
kedatangan kapal pengangkut tidak bisa menandingi. Kapal
pengangkut hanya datang sebulan sekali. Menurut pemerintah daerah,
hal ini terjadi karena pengangkutan masih dikerjakan sendiri-sendiri.
Sejumlah pengangkut menggunakan kontainer, sebagian lainnya
menggunakan kapal biasa. Karena itu, pengangkutan ini belum
dapat dikoordinir dengan baik. Pemerintah daerah mengharapkan
kedatangan investor ke Nunukan dapat ikut meningkatkan sektor
rumput laut, termasuk di sisi distribusi.

46

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

DALAM rangka meningkatkan pemberdayaan ekonomi daerah, Bank


Indonesia memandang perlu untuk meningkatkan peran sebagai upaya
memperkuat struktur ekonomi nasional bagi pertumbuhan ekonomi
yang berkelanjutan.
Pelaksanaan pengembangan rumput laut di Kabupaten Nunukan
merupakan salah satu upaya dalam mengembangkan ekonomi di
daerah perbatasan dan tertinggal, sehingga daerah tersebut dapat
menjadi gerbang aktivitas ekonomi, sekaligus bentuk nyata dukungan
Bank Indonesia terhadap perkembangan UMKM.
Dan untuk mewujudkan hal tersebut, Bank Indonesia menandatangani
MoU dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan. Dukungan Bank
Indonesia melahirkan respon pemerintah Kabupaten Nunukan melalui
belanja publik (APBD) untuk pengembangan rumput laut yang cukup
besar.
47

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Pelatihan kesamaptaan oleh Militer untuk


meningkatkan fisik, mental dan kedisiplinan
para pembudidaya rumput laut Nunukan.

Bahkan rumput laut ditetapkan sebagai komoditas unggulan


kabupaten Nunukan, menggeser kakao yang menjadi produk unggulan
sebelumnya. Salah satu dukungan terhadap penguatan klaster
rumput laut, dialokasikannya program bernilai sekitar Rp1,1 miliar ini
merupakan pilot project yang dilakukan di Desa Tanjung Harapan untuk
membangun gudang penyimpanan rumput laut kering dan lantai
penjemuran rumput laut.
Selain itu, pemerintah daerah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan
menyiapkan dana untuk program-program bantuan terhadap
pengembangan rumput laut. Bantuan itu diberikan sejalan dengan
harapan akan kemajuan sektor budidaya rumput laut ini.
Budidaya rumput laut telah menjadi perhatian pemerintah daerah,
karena semakin banyaknya penduduk yang menjalankan usaha ini.
Hingga Juli 2013, ada sekitar 1.632 rumah tangga yang terlibat dalam

48

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Rapat Rutin berkala yang dilakukan oleh BI, PPL, Dinas Kelautan, LSM dan Kelompok
Pembudidaya Rumput Laut di Kampung Nelayan Tanjung Harapan.

usaha budidaya rumput laut.


Angka itu belum termasuk buruhburuh yang bekerja pada budidaya
tersebut.
Buruh-buruh tersebut juga cukup
mendapat keuntungan dari rumput
laut. Mereka dapat memasang 12
bentang dalam satu hari. Pemasang
an satu bentang dihargai Rp5.000.
Jadi para buruh tersebut rata-rata
bisa memperoleh Rp60.000.
Buruh tersebut tidak hanya ber
asal dari daerah penghasil rumput
laut. Banyak buruh juga berdatang
an dari daerah lain setelah me
ngetahui potensi pendapatan yang
bisa mereka peroleh. Karena itu,
usaha budidaya rumput laut me
miliki dampak yang luas hingga ke
daerah-daerah lain.

49

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Kunjungan bisnis ke PT. Gumindo Perkasa oleh Rombongan besar BI, Dinas kelautan Nunukan, Pembudidaya rumput laut Nunukan dalam memperpendek akses pasar. Bargaining kualitas, harga dan spesifikasi rumput laut yang dinginkan oleh Industri.

Para
pembudidaya
makin
bersemangat
karena harga rumput laut
di Nunukan relatif terjaga
di tingkat yang tinggi. Hal
ini dapat dipertahankan
selama kualitas rumput
laut juga dijaga oleh para
pembudidaya.
Juli 2013, harga rum
put laut di Nunukan
mencapai Rp10.000. Har
ga ini merupakan yang
tertinggi dibandingkan

50

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Foto bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Ameriza M
Moesa, Deputi KPw BI Kaltim Teguh Setiadi, Pimpinan Bank Kaltim Cabang Nunukan, dan
Gapokan Harapan Mandiri.

Hibah pembangunan Gudang Rumput


Laut oleh Dinas Kelautan Nunukan
senilai Rp1,2 M di Desa Mamolo
Tanjung Harapan Nunukan.

Daerah lain, kualitas lebih


bagus, tetapi harganya
lebih rendah. Kita bersyukur, Bank Indonesia bantu
kita sehingga pemasaran
lebih bagus. Mudah-mudahan Bank Indonesia bisa
terus membantu. Nunukan
masih tetap dipantau. Dan
Bank Indonesia bisa menciptakan fenomena seperti
ini di tempat lain, ujar
Suprianto.

daerah-daerah lain di Kalimantan Timur maupun Kalimantan Utara. Di


Bontang, misalnya, harga rumput lautnya hanya sekitar Rp7.000.
Aktivitas budidaya rumput laut Nunukan terus mendapat dukungan
dari pemerintah daerah. Tahun anggaran 2013, pemerintah daerah
menggelontorkan dana miliaran rupiah untuk budidaya rumput laut

51

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Bantuan BI berupa Mesin Press Rumput Laut untuk peningkatan produksi petani
Rumput Laut Nunukan.

di Nunukan. Dana tersebut digunakan untuk pembelian bibit maupun


pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
Saya sangat berterima kasih. Ini bukan hanya cerita, tetapi bukti.
Faktanya, harga rumput laut di Nunukan sekarang bagus. Ini adalah ha
sil bantuan Bank Indonesia. Terus terang saja, kita dari Dinas Perikanan
ini lebih ahli memproduksi daripada memasarkan, dan Bank Indonesia
membantu terutama dalam hal pasar. Tidak hanya pasar, termasuk pas
ca panennya. Budidaya juga dibantu. Tapi terutama pasar yang paling
dirasakan, sampai bisa memimpin pasar, sehingga pengepul ikut harga
kita, ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan,
Suprianto.
Lebih lanjut, Suprianto juga menambahkan, Daerah lain, kualitas
lebih bagus, tetapi harganya lebih rendah. Kita bersyukur, Bank Indonesia
bantu kita sehingga pemasaran lebih bagus. Mudah-mudahan Bank
Indonesia bisa terus membantu. Nunukan masih tetap dipantau. Dan
Bank Indonesia bisa menciptakan fenomena seperti ini di tempat lain.
Kerja sama ini dinilai Suprianto sangat baik.

52

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Sosialisasi Koperasi untuk meningkatkan formalitas kelembagaan pembudidaya rumput laut Nunukan.

PULUHAN penduduk telah berkumpul memadati ruangan sederhana


berbahan dasar kayu. Tanpa kursi, mereka duduk lesehan bersila di lantai
kayu itu. Mereka dengan sabar menanti di mulainya acara. Beberapa di
antara mereka berbincang ringan satu sama lain, sementara beberapa
lainnya diam menunggu seolah menyimpan pemikiran mendalam
terkait acara yang akan berlangsung.
Di hadapan mereka, duduk berjajar sejumlah orang dengan
penampilan yang sedikit berbeda dari penduduk setempat. Sebuah
sound system seadanya dipersiapkan untuk memastikan informasi yang
disampaikan dapat didengar seluruh peserta acara.
Dari ruangan yang sederhana itu muncul ide-ide hingga berbagai
pengetahuan yang mencerahkan. Para penduduk Nunukan yang
merupakan pembudidaya rumput laut tersebut mendapat banyak
informasi mengenai penguatan kelembagaan dan manajemen keuangan
dari dalam ruangan tersebut.
Tema seperti itu tentu merupakan hal baru bagi para pembudidaya.
Mereka yang sebelumnya hanya memikirkan teknis budidaya rumput
53

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Untuk meningkatkan
harga jual rumput laut
para petani di Nunukan,
pihaknya menggandeng
Bank Indonesia, ujar Suaedi
Kepala Bidang Budidaya
Perikanan DKP Nunukan.
laut kini juga mengetahui bagaimana menempatkan posisinya agar
harga jual rumput laut tidak tersungkur.
Pelatihan-pelatihan seperti itu telah intens diadakan oleh Bank
Indonesia di Nunukan. Bahkan pelatihan juga tidak jarang diadakan di
luar ruangan dengan beratapkan terpal seadanya. Fasilitas paling mewah
dari pelatihan-pelatihan yang diadakan Bank Indonesia di Nunukan
mungkin hanya berupa pengeras suara, laptop, dan proyektor. Fasilitas ini
memang tidak semewah acara-acara pelatihan di kota-kota besar, yang
biasa diadakan di gedung mewah dengan pendingin udara yang sangat
nyaman bagi peserta dan pembicara.
Tapi bagian yang paling penting dari pelatihan bukanlah fasilitasnya,
melainkan isi materi yang disampaikan. Dari seluruh pelatihan di Nunukan
yang diadakan Bank Indonesia, hasilnya terbukti efektif memberikan
manfaat bagi penduduk setempat.
Keterlibatan Bank Indonesia dalam pengembangan budidaya rumput
laut di Nunukan berawal dari inisiasi pemerintah daerah setempat. Kepala
Bidang Budidaya Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nunukan
Suaedi mengatakan untuk meningkatkan harga jual rumput laut para
petani di Nunukan, pihaknya menggandeng Bank Indonesia.
Karena itu, selain memberikan pelatihan kepada para petani rumput
laut, Bank Indonesia juga membuka jalan bagi petani untuk dapat

54

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

menjual langsung hasil produksi ke pabrik-pabrik pengolahan di daerah


lain. Jakarta dan Surabaya menjadi target distribusi penjualan hasil
budidaya rumput laut tersebut. Suaedi meyakini kalau DKP sendiri yang
mendatangi pabrik pasti dipandang sebelah mata. Karena itulah, DKP
berkoordinasi dengan Bank Indonesia agar mendapat fasilitas akses
ke eksportir dan industri besar pengolahan rumput laut di Jakarta dan
Surabaya.
Akan tetapi, pada prakteknya banyak khalayak termasuk petani
rumput laut waktu itu bertanya-tanya, apakah ada hubungannya antara
perbankan dengan rumput laut? Sebagian lain menyangsikan, apakah
Bank Indonesia dapat menaikkan harga rumput laut kami? Waktu itu,
harga rumput laut memang susah beranjak ke angka Rp6.000. Bahkan
setelah kesekian kali Bank Indonesia bersama Dinas Kelautan memberikan
pelatihan, masih saja ada komplain dari para pembudidaya. Masyarakat
berpikir, bagaimana ini, kami sudah mengikuti berkali-kali arahan dan
pelatihan dari BI, kok harganya tidak naik juga? Malah ada pembudidaya
yang menantang, apabila BI dapat menaikkan harga dengan selisih
Rp1.000/kg dari sebelumnya mereka bersedia disuruh untuk melakukan
apa saja. Tapi Bank Indonesia selalu menekankan bahwa kalau ingin
sukses menjual yang paling penting adalah kualitas produk (masa

Forum Rembug yang dihadiri oleh pembudidaya rumput laut dengan seluruh SKPD di Kabu
paten Nunukan dalam rangka mendukung pengembangan komoditas unggulan daerah. 55

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

tanam dan pasca panen) dan kekompakan petani. Sekarang, pertanyaan


tentang harga rumput laut sudah tidak ada lagi dikalangan para
pembudidaya. Saat ini yang terpikirkan oleh pembudidaya rumput laut
adalah bagaimana caranya agar dapat memproduksi sebesar-besarnya
dan menjual sebanyak-banyaknya.
Dengan difasilitasi Bank Indonesia perlahan tapi pasti perubahan har
ga itu terjadi, pembudidaya rumput laut pun merasakan hasilnya. DKP
Nunukan berhasil masuk ke PT Asia Sejahtera Mina (Surabaya) dan PT Gu
mindo Perkasa Industri (Jakarta). Suaedi mengatakan pihaknya sengaja
memilih dua perusahaan besar ini karena tujuan pasar yang berbeda.
Kalau tujuan ekspor PT Asia Sejahtera Mina adalah Cina, PT Gumindo Per
kasa Industri memiliki tujuan ekspor ke negara-negara Eropa. Baik itu PT
Asia Sejahtera Mina atau PT Gumindo Perkasa Industri, hubungan baik
dengan keduanya harus dijaga dan dipelihara.
Kemitraan antara masyarakat budidaya rumput laut de
ngan per
usahaan awal mulanya menyepakati tentang harga rumput laut. Hal
yang disepakati waktu itu bahwa penetapan harga rumput laut harus
mempertimbangkan berbagai hal antara lain kualitas berstandar, kurs
mata uang dan harga tingkat global. Menurut Taufik, yang pada saat itu
mewakili BI untuk mediasi antara pembudidaya dan perusahaan, menga
takan waktu itu juga dibicarakan seperti apa kualitas rumput laut yang
baik agar bisa diterima pasar ujarnya. Hal itulah yang menjadi bekal bagi
pembudidaya untuk terus memperbaiki kualitas.
Sebenarnya kemitraan antara pembudidaya dengan perusahaan
seperti layaknya demand dan supply, maka keduanya harus saling me

56

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

nguntungkan. Ini berkat support BI dalam menunjang pengembangan


ekonomi rakyat Nunukan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan Suprianto
menyampaikan terima kasihnya kepada Bank Indonesia atas usahanya
itu. Kita berterima kasih kepada Bank Indonesia karena memfasilitasi kita
mempertemukan antara kita dengan pabrik dan eksportir, ujarnya.
Tapi kedua perusahaan itu harus diperlakukan berbeda. Kenapa? PT
Asia Sejahtera Mina umumnya langsung melakukan ekspor rumput laut
yang dikirim dari Nunukan. Sementara itu, PT Gumindo Perkasa Industri
melakukan pengolahan terlebih dahulu. PT Asia Sejahtera Mina yang
merupakan eksportir umumnya lebih mengutamakan warna rumput
laut, sedangkan PT Gumindo Perkasa Industri sebagai industri manufaktur
umumnya lebih mengutamakan usia panennya.
Karena itu juga, para pembudidaya rumput laut di Nunukan tidak
bergantung sepenuhnya pada satu kondisi. Jika ekspor rumput laut sedang
lesu, pembudidaya bisa mengutamakan hasil panennya untuk industri
pengolahan. Dengan begitu, pembudidaya harus memperhatikan dan
menyesuaikan proses budidaya dengan kondisi terkini pasar rumput laut.
Bukan hanya manusianya yang dikembangkan, Bank Indonesia juga
memberikan bantuan fisik. Bank Indonesia pernah memberikan mesin
press rumput laut pada 2012. Dengan begitu, jumlah rumput laut yang
dimasukkan ke dalam kontainer bisa lebih banyak daripada sebelumnya.
Tanpa mesin itu, satu kontainer hanya dapat menampung sekitar
12 ton rumput laut. Kini 20 ton rumput laut dapat dimuat dalam satu
kontainer dengan adanya mesin tersebut. Jadi biaya pengiriman dapat
ditekan dan pendapatan yang diterima petani juga meningkat.
Itu hanya segelintir bantuan yang diberikan Bank Indonesia. Contoh
bantuan mesin lainnya yaitu mesin analisis Clean Anhydrous Weed
(CAW) rumput laut. Dengan mesin ini, para pembudidaya dapat
mempertahankan kualitas produksinya. Rendemen rumput laut dapat
distandarkan sesuai kebutuhan industri pengolahan.

57

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Forum rembug yang cukup efektif untuk


mengungkapkan permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing anggota stakeholder rumput laut Nunukan.

Kehadiran bantuan Bank Indonesia di Nunukan sangat tepat. Ini


jadi pelengkap keahlian pembudidaya rumput laut sebelumnya. Para
pembudidaya umumnya lebih ahli dalam hal teknis produksi. Tapi dalam
pemasaran, mereka bukan ahlinya. Pengetahuan seperti pemasaran
itulah yang dibawa oleh Bank Indonesia ke Nunukan. Hal ini juga diakui
Suprianto. Terus terang saja, kita dari Dinas Perikanan ini lebih ahli
memproduksi daripada memasarkan, ungkap Suprianto.
Bahkan Bank Indonesia juga ikut membantu dalam hal budidaya dan
pasca panennya. Lewat solusi yang ditawarkan Bank Indonesia, para
pembudidaya dapat menguasai pasar. Mereka jadi lebih percaya diri
menghadapi pengepul. Mereka memiliki kuasa yang lebih besar atas
harga, bukan lagi pengepul.
Bupati Nunukan Basri mengharapkan Bank Indonesia dapat te
rus meningkatkan perannya. Ke depan, kita ingin Bank Indonesia
melakukan pembinaan langsung ke lapangan, mungkin dengan
bantuan modal langsung yang ringan, sehingga bisa mengurangi, baik
itu tengkulak maupun lainnya, ungkapnya.
Jika para pembudidaya melihat daerah budidaya rumput laut di luar
Nunukan, mereka patut bersyukur. Di daerah yang kualitas rumput lautnya
lebih bagus daripada Nunukan, pembudidaya justru mendapatkan harga
rendah. Dari fenomena ini mereka dapat mengetahui, bukan hanya
teknis budidaya yang perlu dikuasai. Pemasaran dan daya tawar juga ikut
mengangkat harga rumput laut di pasar.
Bank Indonesia sudah sejak lama memberikan bantuannya kepada
masyarakat Nunukan. Selama periode tahun 2011 hingga 2012 saja,

58

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Bank Indonesia telah mengadakan pelatihan mulai dari motivasi hingga


teknik budidaya rumput laut. Pelatihan-pelatihan itu antara lain:
Seminar kewirausahaan dan bisnis rumput laut. Seminar ini mengha
dirkan motivator Ujang Koswara dari Green Line Care sebagai pembicara.
Ujang adalah penemu Listrik Mandiri Rakyat, yaitu lampu bertenaga aki.
Melalui temuannya, Ujang berupaya agar daerah-daerah pedalaman
di Indonesia mendapat penerangan yang memadai. Dalam seminar
ini, para peserta mendapat motivasi mengenai wirausaha. Motivasi
ini diberikan agar masyarakat makin tertarik dengan usaha budidaya
rumput laut di Nunukan.
Pelatihan budidaya dan teknik pascapanen serta sosialisasi rumput
laut yang diterima pasar. Masyarakat sebagai pembudidaya
perl
u mengetahui tidak hanya proses budidayanya, tetapi juga
penjualannya. Pengetahuan budidaya rumput laut yang berkualitas
saja akan menjadi percuma jika tidak mengetahui rantai distribusi dan
penjualan. Pembudidaya harus dapat mengetahui keinginan pasar
dan menyesuaikan kualitas produksinya dengan permintaan tersebut.
Uji coba terapan model budidaya rumput laut nonkonvensional.
Uji coba ini diberikan kepada pembudidaya dan Petugas Penyuluh
Lapangan (PPL) di Nunukan dan Sebatik. Jika model budidaya ini dinilai
dapat memberikan keuntungan yang lebih optimum bagi masyarakat,
model ini perlu diteruskan atau bahkan dikembangkan.
Sosialisasi akses permodalan kredit UMKM merupakan bagian penting
dalam berwirausaha. Tapi akses permodalan inilah yang sering menjadi
masalah dalam memulai atau mengembangkan usaha. Melalui so
sialisasi ini, masyarakat, terutama pelaku UMKM, dapat mengetahui
proses pengajuan kredit ke bank untuk mendapat modal usaha.
Pelatihan kesamaptaan dan training camp rumput laut. Pelatihan ini
meliputi dinamika kelompok, teknik budidaya, teknik pascapanen,
dan pembuatan produk olahan bagi industri rumahan. Khusus untuk
kesamaptaan dan training champ ini selain dipandu oleh motivator dari
Jakarta, juga dibina dan dilatih langsung oleh TNI AD dari Kodim Nunukan.

59

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Kunjungan kelompok pembudidaya ke eksportir dan pabrik


pengolahan rumput laut di Pulau Jawa. Kunjungan dilakukan selama
seminggu untuk membuka akses pemasaran dan distribusi rumput laut
dari Nunukan. Dengan adanya kunjungan ini, pembudidaya memiliki
akses langsung ke pabrik pengolahan sehingga memangkas rantai
distribusi dan memperoleh harga yang lebih sesuai.
Komunikasi dua arah, rapat kerja, kunjungan kerja, Focus Group
Discussion (FGD) kepada setiap pemangku kepentingan sektor rumput
laut di Nunukan. Para pemangku kepentingan itu, antara lain Dinas
Kelautan dan Perikanan, Bank Kaltim, Badan Ketahanan Pangan,
lembaga swadaya masyarakat, Gapokan, kelompok tani, petugas
penyuluh lapangan, dan para pembudidaya rumput laut.
Apresiasi terhadap Bank Indonesia salah satunya datang dari pihak
pemerintah daerah. Wakil Bupati Nunukan, Asmah Gani, dalam suatu
kesempatan secara resmi menyatakan Bank Indonesia menjadi salah satu
pemacu bergairahnya kembali sektor rumput laut di Nunukan setelah
sebelumnya sempat terpuruk karena keterbatasan akses pasar dan
permainan harga oleh pengepul.
Keterlibatan Bank Indonesia ditambah dengan keberhasilan
para pembudidaya membuat pihak-pihak lain tertarik memberikan
kontribusi terhadap pengembangan rumput laut di Nunukan.
Kalangan perbankan, misalnya, tidak ragu untuk menggelontorkan
dana dalam jumlah besar. BPD Kaltim pada tahun 2012 mengucurkan
kredit ke Gapokan Harapan Mandiri sebesar Rp500 juta. Selain itu,
sejumlah bank besar seperti BRI dan Bank Mandiri juga ikut memberikan
penguatan permodalan untuk budidaya rumput laut di Nunukan.
Dengan kata lain, kehadiran Bank Indonesia memunculkan banyak
kepercayaan baru bagi pembudidaya rumput laut di Nunukan. Bagi
pembudidaya, akses permodalan yang luas merupakan salah satu kunci
pengembangan usahanya.

60

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

PERMINTAAN dunia pada awal perkembangan rumput laut terbilang


cukup tinggi. Salah satunya diakibatkan badai yang menerjang China
dan Filipina yang mengakibatkan gagal panen. Jumlah permintaan
pada saat itu bahkan bisa melebihi penawarannya. Dan akibatnya bisa
ditebak, harga rumput laut melonjak tinggi di pasar. Dari yang biasanya,

Penjemuran rumput laut


model konvensional.

61

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Petani rumput laut mengangkat


hasil panen ke darat.

Rp4.500 - Rp6.000, mendadak merangkak hingga Rp12.000. Pembeli


dari berbagai tempat dari luar Nunukan, menyerbu wilayah perbatasan
ini. Peluang ini menarik perhatian masyarakat Nunukan, khususnya
yang awalnya berprofesi sebagai nelayan ikan.
Tidak lama kemudian, aroma wangi keuntungan rumput laut di
Nunukan tercium oleh para tengkulak. Mereka menguasai pasar.
Keberadaan mereka menurunkan kekuatan tawar para pembudidaya
rumput laut. Tengkulak memainkan perannya sebagai price maker.
Mereka yang menentukan harga. Para pembudidaya terpaksa mengikuti
harga yang dibuat oleh tengkulak.
Para petani rumput laut di Nunukan tidak bisa berbuat apa-apa. Jika
tidak dijual kepada para tengkulak, rumput laut yang dipanen hanya
akan sia-sia. Rumput laut mereka tidak ada yang membeli.

62

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Untuk
mengimbangi
keberadaan
tengkulak,
dibentuklah
Gabungan
Kelompok
Perikanan
(Gapokan).
Setidaknya ada satu hal yang membuat harga rumput laut anjlok di
Nunukan. Terjadinya distorsi informasi harga yang sesunguhnya di pihak
petani yang disebabkan keterbatasan jaringan pasar dan akses pemasaran
secara langsung membuat pasar sepenuhnya dikuasai oleh para tengkulak.
Keberadaan mereka sangat menganggu persaingan pasar. Kondisi ini
cukup banyak membuat para pembudidaya gantung tali.
Pandangan lain disampaikan para penyuluh budidaya rumput laut di
Nunukan. Harga, menurut mereka, tidak naik atau turun murni karena
kondisi pasar. Mereka mencurigai adanya permainan dari sekelompok
orang tertentu yang bertindak sebagai pemburu rente. Pemburu rente
ini bisa siapa saja.
Banyak pihak yang memiliki kepentingan terhadap sektor budidaya
rumput laut ini. Sekelompok orang tersebut ditengarai berusaha

63

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

mengatur harga agar menghasilkan keuntungan maksimal bagi


kelompoknya. Jika pandangan tersebut benar, persaingan di sektor
budidaya rumput laut sudah tidak sehat.
Untuk mengimbangi keberadaan tengkulak, dibentuklah Gabungan
Kelompok Perikanan (Gapokan). Pembudidaya sebenarnya telah
membentuk kelompok-kelompok sendiri sebelumnya. Jadi komunikasi
dan koordinasi sudah lebih mudah, baik antar pembudidaya maupun
antara pembudidaya dengan pemerintah.
Namun kelompok-kelompok yang terpisah itu tidak akan cukup
kuat untuk menandingi kekuatan tengkulak dalam menguasai pasar.
Akhirnya kelompok-kelompok itu digabungkan. Kelompok-kelompok
kecil tersebut kini menjadi satu kelompok besar. Dengan begitu, daya
tawar pembudidaya menjadi lebih kuat dalam menghadapi tengkulak
mempermainkan harga.
Jemur Gantung metode
yang disarankan oleh BI,
meningkatkan berat kering
30% dibanding metode
konvensional.

64

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Mengetahui berdirinya Gapokan, tengkulak tentu saja menunjukkan


sinyal-sinyal penolakan. Gapokan dianggap sebagai ancaman terhadap
eksistensi mereka. Hal ini dapat dipahami, mengingat Gapokan dapat
membuat pembudidaya memiliki daya tawar yang lebih besar. Pem
budidaya rumput laut di Nunukan tidak boleh bergantung kepada tengkulak.
Menjadi tengkulak sebenarnya sebuah pertaruhan tersendiri. Tidak
semua tengkulak mampu meraup keuntungan. Beberapa dari mereka
bahkan ada yang gulung tikar. Tidak mengherankan jika akhirnya
kehadiran Gapokan akan membuat para tengkulak semakin gentar
dalam melangsungkan usahanya di Nunukan.
Sebelum ada Gapokan, informasi kepada pembudidaya sangat
terbatas. Bisa dikatakan, informasi yang dimiliki pembudidaya dan
tengkulak tidak simetris.
Tengkulak memiliki informasi yang relatif lebih banyak. Misalnya
ketika harga rumput laut naik. Informasi kenaikan harga ini tidak
akan sampai ke telinga pembudidaya. Ketergantungan pembudidaya
terhadap tengkulak sebelum ada Gapokan sangat besar.
Pada awal pembentukannya, hanya ada tujuh kelompok yang
bergabung ke dalam Gapokan. Kemudian berkembang menjadi
sepuluh kelompok. Dalam kelompok-kelompok itu, ada sekitar 250
Rumah Tangga Petani (RTP). Dari kelompok-kelompok anggota
Gapokan, dipilih beberapa orang untuk duduk sebagai pengurus. Ini
menujukkan bahwa Gapokan dikelola dengan terorganisir.
Penggabungan kelompok-kelompok kecil ini menjadikan para
pembudidaya lebih kompak. Mereka dapat bertukar informasi,
pengetahuan, dan hal-hal lain yang bermanfaat antar sesama anggota
Gapokan. Berbagi pengalaman dapat dilakukan antar pembudidaya.
Pembelajaran dapat terjadi di semua anggota. Sikap yang kooperatif
antar sesama anggota disadari dapat meningkatkan kekuatan Gapokan
dalam menghadapi berbagai ancaman dari luar.
Kekuatan Gapokan yang dibangun juga termasuk pembentukan
harga yang layak untuk para pembudidaya. Banyaknya pembudidaya

65

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Perairan di Kampung Mamolo Tanjung


Harapan Nunukan.

dengan satu suara yang kompak membuat tengkulak tidak dapat


seenaknya menekan harga. Jika sebelumnya tengkulak menjadi
kekuatan mayoritas, kini sebaliknya terjadi. Anggota Gapokan secara
bersama dapat menyepakati harga, sehingga para tengkulak, mau
tidak mau, harus mengikutinya.
Pembentukan harga antara Gapokan dengan pengepul sebenarnya
cukup bersaing. Pengepul menawarkan harga yang lebih murah,
namun dengan sistem jemput bola. Jadi pengepul yang mendatangi
pembudidaya. Mereka seringnya datang ke tempat penjemuran.
Pembudidaya kelihatan senang dengan cara ini. Harga yang diterima
pembudidaya memang lebih kecil, tetapi selisihnya dinilai tidak besar.
Sementara itu, masih tingginya permintaan juga membuat rumput
laut bertengger di harga tinggi. Permintaan datang tidak hanya dari

66

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

pembeli domestik, tetapi juga mancanegara. Keseimbangan persaingan


harga ini seharusnya juga menjadi kunci keberhasilan pembudidayaan
rumput laut di Nunukan. Setidaknya, tengkulak sudah tidak dapat
sesuka hati menurunkan harga yang mencekik pembudidaya.

Rebutan Lahan
Harga rumput laut di Nunukan yang bagus ternyata memunculkan
permasalahan baru, yaitu timbulnya perebutan lahan budidaya.

Satu bentang pasang bibit


mendapat upah @Rp5.000.
Bila satu hari dapat mema
sang 20 bentang, berapa
upah yang didapat oleh
ibu tersebut?

67

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Para pembudidaya yang se


belumnya beralih ke sektor
lain, kembali lagi tertarik
dengan budidaya rumput laut.
Selain itu, para pembudidaya
baru juga berdatangan ma
suk ke sektor ini. Karena lahan
yang digunakan berupa laut,
kepemilikan sulit ditentukan.
Beberapa kalangan meng
anggap pemerintah setem
pat belum siap menangani pengelolaan budidaya rumput laut yang
cukup fenomenal di Nunukan.
Perebutan lahan bukan hanya terjadi antar pembudidaya rumput
laut, tetapi juga dengan nelayan tangkap. Menurut nelayan, para
pembudidaya telah mengambil lahan pencarian nafkah mereka. Tapi
faktanya, kehadiran rumput laut sebenarnya justru malah membantu
usaha para nelayan. Di area yang ditanami rumput laut, ikan-ikannya di
sana relatif lebih banyak. Penghasilan nelayan pun seharusnya terbantu
karenanya. Namun masalahnya proses pemahaman kepada para
nelayan itu tidak mudah. Rapat dan diskusi kerap digelar untuk mencari
jalan tengah solusi terbaik.

Menjaga Kualitas
Gapokan secara bersama terus berusaha menjaga bahkan
meningkatkan kualitas rumput laut. Banyak hal yang sudah dilakukan,
mulai dari pemilihan bibit hingga proses budidayanya. Penyuluhan
kepada para pembudidaya juga tidak henti dilakukan. Mereka
disadarkan untuk tidak mementingkan ego semata, melainkan juga
kepentingan sesama pembudidaya lainnya.
Bersama-sama harus menjaga kualitas. Terlebih lagi, standardisasi
kualitas produksi rumput laut juga perlu dilakukan. Jika kualitas tidak
68

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

dapat dijaga, kepercayaan pembeli terhadap pembudidaya rumput


laut di Nunukan lambat laun bisa turun. Jika ini terjadi, pembeli akan
berpindah ke penjual lain dengan harga yang lebih murah atau kualitas
yang lebih baik.
Apalagi para pembudidaya kini sudah memiliki hubungan langsung
dengan pabrik. Artinya hasil budidaya rumput laut sudah memiliki jalur
penjualan yang jelas. Pembudidaya tidak lagi khawatir rumput lautnya
tidak laku.
Hanya saja, pabrik pengolahan yang bekerja sama tersebut memiliki
standar tertentu. Pihak pabrik tentu tidak menginginkan hasil
pengolahannya berkualitas lebih rendah karena turunnya mutu rumput
laut, padahal harga beli mereka tetap.
Untuk menjaga standar kualitas ini, Gapokan sebagai pembudidaya,
biasanya menawarkan beberapa sampel rumput laut. Pihak pabrik lalu
memilih rumput laut yang cocok untuk diolah di sana. Sampel yang
dipilih itu kemudian menjadi acuan kualitas rumput laut yang harus
dihasilkan.

69

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Dengan kata lain, para pembudidaya sudah terikat kontrak dengan


pihak pabrik untuk memasok rumput laut berdasarkan standar kualitas
tertentu. Hal inilah yang menjadi salah satu tantangan Gapokan. Para
pembudidaya anggota Gapokan harus dilatih agar dapat menghasilkan
rumput laut dengan standar kualitas tinggi.
Terhadap pihak-pihak di luar Nunukan, Gapokan berusaha menjaga
nama baik. Pihak luar tidak melihat Gapokan secara khusus, tetapi
Nunukan secara umum. Mereka tidak membedakan produk dari
anggota Gapokan dengan dari luar Gapokan.
Jadi menjaga kualitas produk Gapokan saja tidak cukup. Produk
budidaya rumput laut dari luar anggota Gapokan juga seharusnya
dikontrol. Karena melibatkan para pembudidaya di luar Gapokan, hal
ini sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah daerah setempat.
Dalam pembibitan, pembudidaya harus mengetahui ciri-ciri bibit
yang baik, seperti muda, bersih, dan segar. Bibit dengan ciri-ciri seperti
itu didapatkan dari stek ujung tanaman rumput laut yang sudah
dibudidayakan. Tanaman untuk bibit unggul biasanya memiliki banyak
cabang. Tumbuhnya pun relatif cepat.

Metode Penanaman
Dalam penanaman, salah satu metode yang dapat dipilih,
mengikatkan bibit pada batu karang. Bibit disebarkan di dasar perairan.
Metode ini relatif mudah dilakukan dan tidak memerlukan sarana yang
besar. Tapi keberhasilan metode ini belum banyak diyakini.
Metode ini mensyaratkan adanya lokasi yang terbuka terhadap
ombak dan arus. Selain itu, batu karang yang ada di lokasi tersebut
juga harus tidak mudah terbawa arus. Lokasi seperti ini cenderung sulit
untuk ditemukan. Selain itu, metode ini juga jarang digunakan karena
hasil produksinya relaif rendah. Bahkan timbul risiko banyaknya bibit
yang hilang karena terbawa ombak.
Metode penanaman lainnya yaitu rakit apung. Rakit terbuat dari
bambu dengan jangkar sebagai penahannya. Jangkar dapat diikatkan ke
70

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

patok kayu atau ditancapkan ke dasar laut. Metode ini cocok untuk lokasi
penanaman dengan kedalaman 60 cm. Kondisi ombak, arus, dan pasang
surut air laut sangat diperhatikan dalam metode penanaman ini.
Selain metode rakit apung, budidaya rumput laut di kedalaman
kurang dari 1,5 meter juga cocok dengan metode tali gantung. Dengan
metode ini, tali yang berisi ikatan tanaman direntangkan pada tali ris
utama. Ikatan dibuat tidak terlalu kencang agar dapat dibuka kembali
dengan mudah.
Sama seperti metode rakit apung, metode tali gantung ini juga cocok
di lokasi yang berdasar pasir atau pasir berlumpur. Kerangka penanaman
rumput laut dengan metode tali gantung diletakkan dengan kedalaman
sekitar 30-40 cm. Sebagai pijakan, sebelumnya ditancapkan patok ke
dasar laut. Rumput laut lalu digantung pada patok tersebut.
Dengan metode gantung, rumput laut dijemur dengan digantung
langsung bersama tali-talinya. Teknik ini dinilai lebih menguntungkan.
Dengan cara digantung, rumput laut tidak akan luka, apalagi
patah. Selain itu tingkat berat kering juga meningkat hampir 30%.
Dikarenakan rumput laut kering lebih berisi. Teknik ini membuat
banyak pembudidaya meninggalkan teknik penjemuran konvensional.

Senangnya panen rumput laut.

71

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Sebelum menggunakan teknik gantung ini, pemanenan rumput


laut langsung dipatahkan dari talinya lalu dijemur. Akibatnya, getah
rumput laut menetes. Padahal getah inilah yang memberikan nilai jual
tinggi bagi rumput laut. Terbuangnya getah rumput laut ini menjadikan
rendemen dan karagenan rumput laut berkualitas rendah. Dengan
teknik penggantungan ini, Gapokan meyakini pihak pabrik akan senang.
Para pembudidaya pada dasarnya sudah terbiasa dengan teknik
lama. Mengubah kebiasaan ini pada awalnya sangat sulit. Terlebih
lagi, pembudidaya harus mengeluarkan biaya tambahan. Kebiasaan
ini baru dapat diubah setelah pembudidaya tahu dan membuktikan
sendiri bahwa teknik gantung tersebut dapat meningkatkan
pendapatan mereka.
Tambahan keuntungan itu dapat menutup biaya investasi tambahan
yang harus dikeluarkan tadi. Keuntungan yang lebih besar didapatkan
karena bobot rumput laut dari metode gantung relatif lebih berat
daripada metode lamanya. Kini tanpa dibina, para pembudidaya di
Nunukan sudah dengan sendirinya memilih metode gantung tersebut.
Dalam pemeliharaan, budidaya rumput laut sebenarnya relatif mudah
dibandingkan dengan tanaman lainnya. Tapi untuk mempertahankan
kualitas hasil budidaya, pemantauan harus terus-menerus dilakukan.
Jika diabaikan, bukannya tidak mungkin hasil panen rumput laut tidak
sebaik yang diharapkan.

72

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Perubahan kondisi ombak dan arus air laut misalnya, dapat meng
ganggu proses budidayanya. Kotoran air yang melekat juga dapat
mengganggu tanaman, terutama pada proses metabolismenya. Belum
lagi dengan adanya tumbuhan parasit yang merusak.
Beberapa tumbuhan juga dapat merusak rumput laut. Beberapa
spesies hewan juga dapat mengancam keberadaan budidaya rumput
laut. Contohnya seperti bulu babi dan penyu. Untuk mengatasi hal
tersebut, pembudidaya dapat memasang jaring lumut sebagai pagar di
sekitar lokasi budidaya.
Bagaimana dengan lumut? Lumut juga sebaiknya tidak terlalu rapat
karena dapat menghalangi masuknya sinar matahari. Jika intensitas
sinar matahari yang masuk sangat sedikit, pertumbuhan rumput laut
dapat terganggu.
Beberapa rumput laut biasanya ikut terbawa ketika nelayan menjaring
atau memukat. Rumput laut yang terbawa ini tentu tidak seragam
kualitasnya. Kadang rumput laut yang terjaring ini masih terlalu muda.
Kadang juga, rumput laut yang terjaring terlalu tua.
Beberapa pembudidaya masih suka mencampur rumput laut hasil

73

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

panen dengan rumput laut hasil tangkapan pukat. Hal ini seharusnya
dihindari jika para pembudidaya ingin menjaga kualitas. Untungnya,
rumput laut yang terjaring seperti ini relatif tidak banyak.

Giliran Panen
Setelah menjalani proses penanaman dan pemeliharaan, pem
budidaya dapat melakukan pemanenan. Rumput laut di Nunukan
umumnya dapat dipanen pada usia 6-8 minggu setelah ditanam. Pada
saat air laut surut, pemanenan dapat dilakukan langsung di lokasi
penanaman. Ketika air laut pasang, seluruh tanaman harus diangkat
terlebih dahulu ke darat, baru setelah itu tali pengikatnya dipotong.
Untuk menghasilkan rumput laut kering, pembudidaya harus menjalani
serangkaian proses. Pertama, rumput laut yang dibersihkan dari kotoran
seperti pasir atau batu-batuan yang sering ikut terbawa saat panen.
Kotoran-kotoran itu harus dibersihkan agar kualitas rumput laut terjaga.
Kedua, rumput laut dijemur hingga kering. Rumput laut kering
berkualitas tinggi biasanya dihasilkan dari proses penjemuran yang
tidak berdebu. Karena berasal dari laut, penjemuran akan menghasilkan
garam. Hal ini menandakan bahwa rumput laut sudah kering.
Ketiga, rumput laut dicuci. Pencucian ini disesuaikan dengan tujuan
pengolahan rumput laut berikutnya. Untuk bahan baku karagenan,
pencucian dilakukan dengan air laut. Sedangkan untuk bahan baku
makanan olahan industri rumah tangga (bahan dodol, manisan es
campur, puding, dll), pencucian dapat dilakukan dengan air tawar. Hal
ini karena air tawar dapat melarutkan karagenan. Setelah dicuci bersih,
rumput laut dikeringkan kembali selama kurang lebih satu hari.
Keempat, setelah melalui pengeringan kedua, rumput laut diayak
untuk menghilangkan kotoran yang masih tertinggal.
Rumput laut kering lalu menjalani proses pengepakan dan
penyimpanan. Pengepakan dapat dibuat padat ataupun tidak,
tergantung kebutuhannya. Pengepakan yang padat dapat mening
katkan efisiensi dalam hal pengiriman.
74

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Jadi dengan biaya pengiriman yang sama, pembudidaya dapat


mengirim rumput laut dalam jumlah lebih banyak. Pembudidaya dapat
menggunakan mesin press untuk pengepakan sehingga kepadatannya
bisa optimum.

Rumput Laut Basah


TREN pembelian rumput laut basah sering dijadikan solusi alternatif
dalam hal tersedianya uang tunai yang cepat bagi para petani rumput
laut di Kabupaten Nunukan. Sebab dengan menjualnya dalam bentuk
rumput laut basah, pembudidaya tidak perlu bersusah-payah lagi
melakukan penjemuran.
Sebaliknya para petani dapat segera mendapatkan uang tunai
beberapa saat setelah panen rumput laut dilakukan. Namun ada juga
petani rumput laut yang mengatakan bahwa rumput laut dijual secara
basah karena tidak ada waktu untuk menjemur.
Rumput laut kering siap dijual.

75

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Proses menjemur memakan waktu yang lama. Untuk mengeringkan


rumput laut dalam kondisi normal bisa menghabiskan waktu tiga sampai
empat hari. Sebaliknya jika cuaca buruk, para petani membutuhkan
waktu lebih lama lagi, bisa mencapai sampai tujuh hari.
Banyak petani yang merasa sangat senang dengan adanya alternatif
usaha pembelian rumput laut basah. Jika hasil panen rumput laut
terlalu banyak dan melebihi kapasitas lantai penjemuran, maka
otomatis tumpukan jemuran menjadi lebih tebal. Dan ini artinya, proses
penjemurannya akan memerlukan waktu lebih lama.
Proses penjemuran yang semakin lama akan menyebabkan
penyusutan semakin besar. Belum lagi jika ada hujan atau gerimis
berkepanjangan. Waktu proses pengeringan rumput laut juga akan
semakin lebih lama lagi. Perbandingan rumput laut basah dan kering
umumnya sebesar enam berbanding satu.
Artinya jika rumput laut basah yang dipanen sebesar 6 kg, rumput laut
tersebut setelah dikeringkan menjadi seberat 1 kg. Kalangan industri
biasanya menginginkan rumput laut dalam keadaan kering agar dapat
segera diolah menjadi barang jadi.
Harga rumput laut kering dan basah tidak berbeda. Bahkan rumput
laut basah lebih berat dibandingkan yang kering. Menjual rumput laut
basah memang menggiurkan bagi sejumlah pembudidaya. Namun
sayangnya, keuntungan itu diperoleh bukan tanpa pengorbanan.
Kualitas yang akan dikorbankan. Dengan memanen sebelum
waktunya, mutu relatif jauh lebih rendah. Meskipun tindakan seperti
di atas dilakukan tidak oleh seluruh pembudidaya, namun citra kualitas
produk rumput laut di Nunukan secara umum dapat ikut terpengaruh

76

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Salah satu pihak yang tidak dapat dipisahkan dari suksesi


pemberdayaan rumput laut di Nunukan adalah peran penyuluh dan LSM.
Dengan penuh keikhlasan, para penyuluh mendampingi pembudidaya
rumput laut di Nunukan setiap hari. Seolah-olah pengorbanan telah
menjadi denyut nadi jantungnya. Tanpa merasa lelah para penyuluh
itu melakukan penyuluhan, pelatihan, dan kontrol terhadap proses
budidaya rumput laut di Nunukan
Yakub, ketua Ikatan Penyuluh Perikanan Indonesia (IPKANI) Kabupaten
Nunukan, menjalani profesi penyuluh sebagai jalan hidupnya. Ia biasa
melakukan pelatihan kepada puluhan kelompok masyarakat yang
membudidayakan rumput laut di Nunukan. Bersama sekretarisnya,
Faisal, yang juga merupakan penyuluh lapangan, ia berusaha agar
kelompok masyarakat budidaya rumput laut bisa meningkatkan kualitas
dan kuantitas rumput laut. Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan
penyuluh lapangan ini merupakan upaya nyata untuk meningkatkan
kesejahteraan daerah perbatasan.
77

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Pelatihan produk olahan rumput laut


untuk industri rumahan.

Para penyuluh tergabung dalam organisasi kelompok penyuluh yang


dinamakan IPKANI. Visinya adalah membantu kelompok masyarakat
budidaya rumput laut dan perikanan agar terus maju dan berkembang.
Tidak hanya itu, IPKANI juga membantu memecahkan masalah dalam
proses budidaya rumput laut di Nunukan.
Tepatnya tahun 2010, IPKANI Kabupaten Nunukan ini terbentuk.
Kini telah 3 tahun berjalan, selama kurun waktu itu IPKANI berusaha
untuk menjadi mitra kerja kelompok masyarakat budidaya.
Sebenarnya, IPKANI adalah organisasi nasional penyuluh, dengan
semakin berkembangannya rumput laut di Nunukan, atas saran dari
pusat, IPKANI berinisiatif untuk turun tangan dalam membantu para
pembudidaya di Nunukan. Berkat kesatuan visi dan tugas pokok
penyuluh akhirnya IPKANI Nunukan dapat berjalan.
Faisal mengatakan selama kurun waktu 3 tahun terakhir banyak yang
sudah kami lakukan untuk kemajuan pengembangan rumput laut di
Nunukan ujarnya. Diantara kegiatan besar yang dilakukan oleh IPKANI
telah membuahkan hasil. Pada tahun 2011, IPKANI bekerjasama dengan

78

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Para penyuluh atau


pembina menginginkan
usaha budidaya rumput
laut ini dapat memberi
manfaat bukan hanya
bagi pembudidaya,
tetapi juga pihak
yang terlibat dalam
pemasaran, hingga
dapat meningkatkan
pendapatan asli daerah
setempat.

BI melakukan pengembangan
kapasitas kelompok sebanyak 3
kali, pelatihan kedisiplinan dan
kepemimpinan, dan penyuluhan
masal. Di tahun-tahun berikutnya
kegiatan itu dijalankan secara
berkesinambungan. Tidak ja
rang beberapa kegiatan pem
binaan atau pelatihan untuk
pembudidaya atau nelayan juga
sempat mengambil kocek pribadi
dari anggota IPKANI.
IPKANI juga membantu ke
lompok budidaya rumput laut
untuk memasarkan produknya
ke beberapa daerah diantaranya
Jakarta, dan Surabaya untuk
pabrikan olah, dan Makassar
untuk keperluan ekspor.
Sebagai daerah yang tergolong
baru dalam sektor budidaya
rumput laut, dinamika umumnya
sering terjadi antara lain, ge
sekan antara pihak-pihak yang
berkepentingan merupakan hal
wajar bagi daerah ini. Pembinaan
pun tidak bisa berjalan mulus
begitu saja. Para pembina
mengakui banyaknya kendala
yang harus dihadapi dalam
mengembangkan
budidaya
rumput laut di Nunukan. Para

79

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

penyuluh atau pembina menginginkan usaha budidaya rumput laut ini


dapat memberi manfaat bukan hanya bagi pembudidaya, tetapi juga
pihak yang terlibat dalam pemasaran, hingga dapat meningkatkan
pendapatan asli daerah setempat.
Kendala yang harus dihadapi di Nunukan antara lain adalah kondisi
geografis. Karena terdiri dari pulau-pulau, moda transportasi yang
dibutuhkan para penyuluh bukan hanya moda transportasi darat.
Jika kebutuhan sarana transportasi laut terpenuhi, para penyuluh di
Nunukan dapat lebih efisien berpindah dari satu daerah ke daerah lain.
Kegunaan moda transportasi sebagai pendukung mobilitas manusia
pun dapat dicapai.
Selama ini, penyuluh dalam berpindah-pindah tempat menumpang
kepada petani atau nelayan. Padahal sarana transportasi milik pembu
didaya juga belum memadai. Para penyuluh kemudian harus menye
suaikan waktunya dengan kegiatan petani atau nelayan tersebut. Jika

Peninjauan Departemen Pusat


Riset dan Kebanksentralan Bank
Indonesia ke kampung nelayan
di Nunukan, terkait pengembangan ekonomi di perbatasan.

80

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

terjadi permasalahan antar pembudidaya di pulau seberang, penyuluh


terpaksa tidak dapat dengan cepat mengetahui permasalahannya de
ngan jelas dan mengambil sikap atas permasalahan itu.
Bukan hanya antar pulau, kondisi di darat juga memberikan
kendala. Jalan-jalan di Nunukan belum seluruhnya beraspal. Meskipun
menggunakan kendaraan bemotor, kondisi jalan ini tetap menghambat
perjalanan para pembina atau penyuluh. Belum lagi jarak lokasi-lokasi
pembinaan yang cenderung saling berjauhan. Pembinaan mungkin
dapat tetap dilakukan, tetapi pembinaan yang intensif sepertinya sulit
dicapai.
Kendala lain yang dihadapi para penyuluh yaitu waktu pembinaan.
Penyuluh menginginkan pembinaan dapat dilakukan pada pagi atau
siang hari. Tapi pembudidaya memiliki kepentingan lain. Siang hari bagi
mereka merupakan saatnya bekerja. Jika harus mendatangi diskusi,
musyawarah, atau kegiatan pembinaan lain pada siang hari, mereka
harus meninggalkan usahanya. Mengorbankan usaha atau potensi
pendapatan untuk mendapatkan pengetahuan melalui kegiatan
pembinaan masih menjadi hal yang sulit dilakukan oleh mereka.
Kendala ini lebih besar dihadapi di Pulau Nunukan. Di pulau ini,
sebagian besar pembina adalah perempuan. Karena itu, malam hari
menjadi relatif lebih sulit bagi mereka. Ini karena penerangan dan
jalan di sana tidak seperti di perkotaan. Kondisi yang temaram dan

81

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Keunggulan Jemur Gantung adalah


mempertahankan tingkat kandungan
karagen rumput laut.

berbatu menyulitkan para pembina di sana. Jadi antara pembina


dan pembudidaya harus berkorban. Jika pembinaan dilakukan pada
siang hari, pembudidaya yang berkorban. Sebaliknya, jika pembinaan
dilakukan pada malam hari, pihak penyuluh yang harus berkorban.
Seringkali, para penyuluh harus bermalam di suatu daerah. Dan jika
menginap, biaya yang dikeluarkan lalu menjadi lebih besar.
Peraturan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) kendaraan pelat
merah juga ikut menjadi kendala proses pembinaan budidaya rumput
laut di Nunukan. Pasalnya tidak semua Stasiun Pengisian Bahan bakar
Umum (SPBU) di Nunukan menyediakan pertamax. Sementara itu,
SPBU di Nunukan tidak sebanyak di kota-kota besar. Hal ini menambah
permasalahan mobilitas penyuluh, di samping kondisi jalan yang rusak
dan jauhnya jarak antar lokasi pembinaan.
Penganggaran biaya operasional penyuluh juga memberikan ken
dala. Biaya tersebut diplotkan ke SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah).
Hal ini menurut para penyuluh cukup memberatkan. Biaya yang diang
garkan termasuk relatif kecil. Penambahan biaya pun tidak fleksibel

82

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

penanggungannya. Malah biaya


operasional untuk non penyuluh
justru dianggarkan lebih besar.
Ini bertolak belakang dengan ke
nyataan di lapangan. Penyuluh
yang bekerja di lapangan seharus
nya membutuhkan biaya yang le
bih banyak daripada pekerja non
penyuluh. Tapi kondisi anggaran
M. Yacub, PPL senior di Badan Ketahanan
saat ini diakui penyuluh sudah
Pangan Nunukan sekaligus ketua Ikatan
makin membaik, meskipun belum
Penyuluh Perikanan Indonesia (IPKANI) di
Kabupaten Nunukan.
signifikan.
Selain masalah dari luar, kendala
internal penyuluh juga tidak bisa diabaikan. Penyuluh seharusnya
memiliki kapasitas tidak hanya mengenai budidaya rumput laut,
tetapi juga sebagai motivator, ini dibutuhkan para pembudidaya agar
semakin semangat dalam berusaha, selain hal-hal teknis yang juga
harus dikuasai. Percuma jika pembudidaya memiliki informasi teknis
budidaya rumput laut, tetapi tidak memiliki motivasi yang cukup.
Karena itu, para penyuluh sebelumnya juga perlu diberikan
pelatihan-pelatihan mengenai motivasi. Bekal ini penting dimiliki
agar para penyuluh dapat memahami psikologi dan karakter masingmasing pembudidaya. Dengan begitu, penyuluh dapat memberikan
perlakukan yang tepat secara individu dan tidak menyamakan
perlakuannya kepada semua pembudidaya.
Persepsi masyarakat, terutama pembudidaya, juga perlu diluruskan.
Persepsi yang dimaksud ini yaitu terhadap koperasi yang menurut
masyarakat Nunukan tidak sebaik yang seharusnya. Koperasi dipandang
tidak dapat memberikan manfaat yang jelas bagi peningkatan usaha
budidaya. Padahal kesalahan sebenarnya bukan pada lembaganya,
melainkan orang-orang yang ada di dalamnya. Jika tidak memberikan
manfaat secara optimum, orang-orang di balik koperasi yang perlu

83

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

dievaluasi, bukan lembaga. Akibatnya, ketika penyuluh mengajukan


usul bantuan kelembagaan melalui koperasi, masyarakat sudah
terlanjur antipati.
Koperasi menjadi dilematis. Di satu sisi, fungsi lembaga itu sebenarnya
dibutuhkan oleh masyarakat. Tapi di sisi lain, masyarakat sudah terlanjur
antipati kepada koperasi. Oleh karena itu, para penyuluh menggunakan
istilah lain. Bukan koperasi, melainkan lembaga keuangan mikro.
Penyuluh berharap penggunaan istilah lembaga keuangan mikro tidak
membuat masyarakat takut dan antipati dengan manfaat yang diberikan
lembaga ini. Penyuluh meyakini, peran kelembagaan diperlukan bagi
pembudidaya, terutama dalam hal permodalan dan akses pasar.
Selain terhadap koperasi, persepsi terhadap penyuluh juga perlu
diluruskan. Pembinaan kepada penyuluh yang seharusnya penting
dilakukan, dipandang kurang bermanfaat. Pembinaan kepada penyuluh
memang tidak memberikan dampak langsung sehingga dinilai kurang
bermanfaat. Peningkatan kompetensi penyuluh seharusnya penting
untuk meningkatkan kompetensi pembudidaya. Jadi dampak yang
muncul bersifat jangka panjang. Penyuluh memang tidak terjun
langsung dalam meningkatkan produksi. Tapi peningkatan kompetensi
pembudidaya karena penyuluhan yang lebih baik pada gilirannya
dapat meningkatkan profit pembudidaya. Pembudidaya bisa semakin
ahli, ulet, tinggi wawasannya, dan dewasa mentalnya.
Jumlah penyuluh di Nunukan juga tidak banyak. Sementara itu,
masyarakat Nunukan cukup dinamis. Para pembudidaya terus berusaha
mengejar target maksimal volume produksi budidaya rumput laut. Jika
penyuluh yang sedikit ini tidak bisa menganalisis keinginan masyarakat,
penyuluh juga yang akan disalahkan. Mereka akan dinilai tidak dapat
memberikan pembinaan yang dapat mengimbangi keinginan
pembudidaya.
Dinamika tersebut juga muncul karena berbagai permasalahan terus
menghadang budidaya ini. Beda halnya dengan guru yang cenderung
memiliki target statis, sedangkan penyuluh harus siap dengan

84

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Kita ini sebagai pembina-pembina nelayan,


kelompok usaha perikanan, inginnya
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
bagi semua. Termasuk di dalamnya adalah
nelayan sebagai pengusaha rumput laut dan
pengusaha yang terlibat dalam pemasaran.
Selain itu kita juga ingin meningkatkan
pendapatan asli daerah.
Eddy Afrios, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL)
permasalahan yang beragam. Jika satu masalah sudah diatasi, masalah
lain bisa saja muncul. Penyuluh dalam hal ini harus tanggap karena
fokus pembinaan adalah pada pemecahan masalah.
Tugas penyuluh terasa semakin berat. Selain harus bisa memotivasi,
penyuluh juga harus menghadapi konflik kewenangan dan tanggung
jawab. Konflik ini terjadi karena pembagian kewenangan dan tanggung
jawab antar instansi dianggap kurang sesuai. Seakan, semua tanggung
jawab berada di Dinas Perikanan, padahal kewenangannya tersebar di
berbagai instansi. Misalnya, masalah perdagangan dan hukum. Kedua
hal ini seharusnya tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab Dinas
Perikanan. Seluruh lembaga atau instansi harus ikut memberikan
kontribusi dan pemahaman kepada masyarakat. Pernah terjadi
mercusuar di Nunukan digunakan sebagai lokasi mengikat rumput
laut. Kasus itu menunjukkan kurangnya pemahaman masyarakat.
Area mercusuar seharusnya tidak digunakan untuk hal-hal seperti itu.
Dengan kata lain, kepentingan publik dari fungsi mercusuar diabaikan
atas nama kepentingan pribadi pembudidaya.
Jadi masalah pembudidaya rumput laut lebih ke arah mentalitasnya,
bukan teknis budidaya. Para pembudidaya dinilai belum bermental
pengusaha. Aturan-aturan yang ada belum semuanya dipatuhi.

85

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Jangan sampai pembudidaya mudah terbawa pengaruh-pengaruh


dari luar yang sebenarnya tidak menguntungkan. Seringkali perjanjian
yang dibuat lalu dilanggar sendiri oleh pembudidaya. Mental para
pembudidaya dinilai belum cukup dewasa. Pembudidaya belum dapat
berpikir jangka panjang. Ketika harga naik, rumput laut buru-buru dijual
tanpa memperhatikan kualitasnya. Padahal setelah itu, karena kualitas
tidak dijaga, harga kembali turun. Alhasil, profit pun turun.
Persoalan teknis dinilai penyuluh tidak terlalu signifikan. Para
pembudidaya telah memahami bagaimana teknis budidaya rumput
laut yang baik. Ditambah lagi, informasi antar pembudidaya tidak
terputus. Melalui Gapokan, para pembudidaya cenderung kooperatif
mengenai pengetahuan teknis budidaya rumput laut.
Tentu tidak ada jalan yang sepenuhnya mulus. Pasti ada sejumlah
kendala yang dihadapi oleh para penyuluh di lapangan. Di antaranya
adalah soal persepsi. Kadang persepsi dari pemerintah pusat, seolaholah semua daerah dianggapnya sama. Nunukan dianggap sama seperti
Samarinda atau Balikpapan, semua tempat dianggap bisa dijangkau
dengan mengendarai sepeda motor.
Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Nunukan ini terdiri dari
beberapa pulau. Selain sepeda motor, penyuluh di Nunukan juga sangat
memerlukan sarana transportasi laut yang cepat.
Jika ada persoalan yang timbul antar pembudidaya rumput laut,
bagaimana penyuluh bisa mencarikan solusi dengan segera jika tidak
didukung adanya sarana transportasi laut yang cepat?
Kini penyuluh hanya bergantung kepada petani atau nelayan yang
membawa mereka ke sana. Kondisi ini memberikan kesan seolaholah pemerintah lemah. Jika penyuluh dilengkapi dengan sarana
transportasi laut yang seperti itu, akan menimbulkan kewibawaaan
juga bagi penyuluh.
Kendala lain yang dihadapi oleh penyuluh adalah soal waktu.
Membina petani rumput laut di Nunukan pada siang hari cenderung
sulit. Jika ingin mengadakan musyawarah, diskusi, atau rembukan,

86

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

harus dilakukan pada malam hari. Karena di siang hari, mereka sibuk
mengurus usaha rumput lautnya. Kondisi di Nunukan, penyuluhnya
lebih banyak perempuan.
Jumlah penyuluh sangat terbatas di Nunukan. Penyuluh laki-laki
banyak ditugaskan di pulau-pulau besar, seperti Sebatik, Tepian, dan
sebagainya. Lokasi para petani rumput laut sangat berjauhan. Tidak
semua jalan ke sana kondisi aspalnya mulus. Tidak mengherankan jika
akhirnya penyuluh mengalami kesulitan untuk melakukan pembinaan
secara intensif.
Selain itu, bahan bakar juga menjadi kendala di Nunukan. Saat
ini, motor atau mobil plat merah tidak boleh membeli bensin yang
bersubsidi. Pom bensin di Nunukan kadang tidak ada pertamax. Hal ini
tentunya berdampak pada operasional penyuluh sehari-hari.
Seharusnya dalam satu bulan, paling tidak penyuluh mampu
mengunjungi setidaknya separuh kecamatan. Nunukan saat ini ada 16
kecamatan. Tapi yang bisa didatangi dengan pasti baru dua kecamatan.
Untuk bisa mendatangi kecamatan yang lain diperlukan waktu, tenaga,
dan biaya yang tidak sedikit.
Penyuluh itu harus siaga 24 jam. Banyak waktu untuk keluarga
yang sudah dikorbankan oleh mereka. Tidak ada alasan apapun untuk
menghindar jika petani rumput laut meminta penyuluh untuk hadir.
Untuk bisa mendukung kondisi seperti itu, penyuluh sudah sepantasnya
didukung oleh biaya operasional yang memadai.

87

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Belum lagi bicara soal kapasitas penyuluh yang harus bisa lebih
tanggap dan profesional dalam bekerja. Mereka masih sangat
memerlukan pembekalan berupa pemberian pelatihan-pelatihan.
Selain itu, penyuluh sebagai pendidik juga harus bisa memberikan
semangat, dorongan, atau motivasi kepada petani rumput laut agar
kualitas produksinya semakin meningkat.
Kita ini sebagai pembina-pembina nelayan, kelompok usaha
perikanan, inginnya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
bagi semua. Termasuk di dalamnya adalah nelayan sebagai pengusaha
rumput laut dan pengusaha yang terlibat dalam pemasaran. Selain itu
kita juga ingin meningkatkan pendapatan asli daerah, ujar Eddy Afrios,
Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang menjadi pembina nelayan di
Kampung Tanjung Harapan, Nunukan.

88

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

INDONESIA mempunyai potensi sumber daya alam atau rumput laut


yang cukup besar, khususnya di Indonesia bagian tengah dan timur.
Namun sayangnya sebagian besar rumput laut masih berorientasi ke
pasar ekspor. Penyerapan rumput laut oleh industri pengolahan rumput
laut di dalam negeri masih kecil. Pasar utama rumput laut adalah ke luar
negeri. Contohnya saja adalah rumput laut jenis euchema cottoni yang
80%-nya ditujukan untuk pasar ekspor sementara untuk pasar domestik
hanya 20%.
Indonesia merupakan penguasa 50% pangsa pasar produsen rumput
laut jenis eucheuma cottoni yang merupakan rumput laut yang sebagian
besar hasilnya digunakan untuk bahan baku industri. Rumput laut
eucheuma cottoni dibudidayakan untuk memenuhi permintaan pasar
ekspor dari industri kosmetik atau farmasi.
Sebenarnya Indonesia mempunyai beberapa industri pengolahan
rumput laut dalam negeri. Namun permasalahan dan tantangan
dalam mengembangkan industri laut di dalam negeri saat ini terjadi, di
89

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Wakil Gubernur Kaltim H. Farid Wadjdy sedang meng


amati dan mencoba produk olahan rumah tangga
berbahan rumput laut di Stan Bank Indonesia pada
Kaltim Expo

antaranya kualitas rumput laut yang memenuhi standar industri. Kondisi


ini erat kaitannya dengan ketersediaan bibit unggul, pengembangan
kebun bibit, cara budidaya rumput yang baik dan terbatasnya sarana
budidaya dan akses permodalan. Sektor rumput laut menjadi salah satu
primadona yang diperhitungkan dalam penciptaan lapangan kerja,
khususnya di bidang kelautan dan perikanan.
Selain itu, penguasaan teknologi yang masih rendah menjadi kendala
Indonesia untuk mengembangkan rumput laut. Perbandingan antara
rumput laut yang diserap lokal lebih kecil dibanding yang diekspor. Alhasil

90

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Sektor rumput
laut menjadi
salah satu
primadona yang
diperhitungkan
dalam penciptaan
lapangan kerja,
khususnya di
bidang kelautan
dan perikanan.

harga jual rumput laut Indonesia ditentukan oleh Cina yang merupakan
negara tujuan ekspor utama. Tidak mengherankan jika akhirnya Cina
yang menentukan nasib rumput laut Indonesia. Sangat ironis.
Selain Cina, kini Indonesia juga sudah mulai membidik Jepang
yang menjadi pasar penting bagi komoditas rumput laut Indonesia.
Kebutuhan rumput laut, terutama untuk makanan dan kosmetik,
sangat tinggi. Selain untuk bahan baku kosmetik, permintaan rumput
laut untuk industri makanan di Jepang juga tergolong tinggi. Rumput
laut jadi bagian tidak terpisahkan dalam sajian masakan Jepang. Karena

91

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

itu, Indonesia selalu berupaya meningkatkan kualitas olahan hasil


rumput laut dengan berupaya untuk memenuhi Standar SPS (Sanitary
and Phytosanitary Measures).
Pemerintah diharapkan dapat mendorong menciptakan pasar produk
olahan rumput laut di dalam negeri, sehingga produksi rumput laut dapat
diserap oleh industri pengolahan. Di mana persoalan utamanya ada pada
pasar produk rumput laut olahan di dalam negeri relatif jenuh, sehingga
kurang menarik bagi investor untuk membuat pabrik pengolahan rumput
laut. Padahal investasi pabrik-pabrik pengolahan harus tetap terus
didorong untuk merespon pembatasan ekspor rumput laut mentah.
Pemerintah sebaiknya membuat blueprint industri rumput laut.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menerapkan model
klaster bisnis untuk mendukung rumput laut, komoditas yang dapat
berperan dalam pergerakan kemajuan ekonomi nasional. Saat ini baru
untuk rumput laut jenis euchema cottoni saja yang telah membuat
Indonesia menjadi produsen utama dengan menguasai 50% produksi
rumput laut di dunia.

Persiapan stan untuk pameran produk olahan rumahan


berbahan rumput laut Nunukan di Kaltim Expo.

92

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Dodol rumput laut


dengan aneka rasa
pilihan.

Dalam hal sertifikasi, penanganan rumput laut dijadikan satu dengan


pengolahan ikan. Namun kini sudah tidak lagi. Penanganan sertifikasi di
Kementerian Kelautan dan Perikanan ada pembedaan perlakuan antara
ikan dan rumput laut, yakni ada Unit Pengolahan Ikan (UPI) dan ada
Unit Pengolahan Rumput Laut (UPRL). Sebelumnya, bagi pelaku usaha
rumput laut nasional jika melakukan ekspor rumput laut ke Cina harus
memenuhi kewajiban Health Certificate (HC). Atas dasar itu, Asosiasi
Rumput Laut Indonesia (ARLI) mewajibkan seluruh anggotanya untuk
memiliki Surat Kelayakan Pengolahan (SKP) dan Hazard Analysis Critical
Control Point (HACCP).
SKP dan HACCP sebagai kesiapan dalam menghadapi persaingan
global, meningkatkan daya saing dan mendorong industri perikanan.
Adapun SKP rumput laut diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pengolahan

93

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

dan Pemasaran Hasil


Perikanan (P2HP) Ke
menterian Kelautan dan
Perikanan, sedangkan
HACCP diterbitkan oleh
Badan Karantina Ikan
dan Pengolahan Makan
an (BKIPM) KKP.
Stik balado terbuat
Pengembangan bu
dari rumput laut Nu
nukan.
didaya rumput laut
akan menjadi lokomotif indus
trialisasi sektor perikanan dan kelautan di Indonesia. Pencapaian
target produksi rumput laut akan menempatkan Indonesia sebagai
produsen terbesar rumput laut di dunia. Budidaya rumput laut,
juga akan memberikan nilai tambah bagi industri perikanan serta
meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir. Revitalisasi budidaya
rumput laut akan mendorong pengusaha mengembangkan sejum
lah bisnis baik melalui pengolahan sederhana sebagai bahan kon
sumsi maupun sebagai komoditas bagi industri hilir.
Pencapaian target peningkatan produksi rumput laut selama
ini bukan berarti tidak mengalami kendala, pada kenyataanya, hal
tersebut seringkali muncul dan berpotensi menghambat proses
pengembangan rumput laut Indonesia. Permasalahan utama yang saat
ini dihadapi terkait: 1) ketersediaan bibit bermutu di mana saat ini mulai
terjadi degradasi kualitas bibit pada beberapa kawasan budidaya; 2)
jaminan mutu hasil produksi budidaya yang berpotensi mengganggu
rantai pasok (supply chain) rumput laut; 3) penerapan teknologi belum
sepenuhnya menerapkan terwujudnya quality assurance, apalagi food
safety, dan traceability; 4) permasalahan terhadap pengendalian hama
penyakit maupun dampak lingkungan perairan yang fluktuatif.
Dalam upaya menjawab permasalahan teknologi budidaya di atas,
Ditjen Perikanan Budidaya telah melakukan langkah kebijakan konkrit

94

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

DKP Nunukan sudah banyak merintis program-program untuk


mengangkat kesejahteraan petani rumput laut di Nunukan.
Dengan menggandeng Bank Indonesia (BI), kini kualitas rumput
laut dan harganya di Nunukan juga meningkat. Para petani yang
tergabung pada Gabungan Kelompok Perikanan (Gapokan)
Rumput Laut Nunukan sudah tidak kesulitan lagi mencari
pasaran. Kerjasama seperti ini, di kementerian dijadikan
model. Bagaimana upaya untuk meningkatkan kualitas rumput
laut, ujar Suedi, Kepala Bidang Perikanan dan Budidaya pada
DKP Nunukan.
yang secara langsung menopang terhadap peningkatan produksi
rumput laut, antara lain:
Pertama, penerapan teknologi budidaya berkelanjutan melalui
penerapan prinsip-prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) pada
setiap proses produksi. Direktorat Produksi Tahun 2010 telah membuat
acuan penerapan pelaksanaan CBIB serta petunjuk teknis penilaian
sertifikasi CBIB budidaya rumput laut, sehingga diharapkan ke depan
telah mulai berkembang unit usaha budidaya rumput laut yang
tersertifikasi.
Kedua, Penyediaan bibit rumput laut yang berkualitas, melalui
pengembangan kebun bibit rumput laut di kawasan sentral budidaya
rumput laut serta kebijakan alokasi subsidi bibit rumput laut.
Ketiga, Pembinaan intensif secara berkelanjutan baik teknis maupun
non teknis. Upaya tersebut dalam bentuk monitoring, evaluasi, kegiatan
temu lapang, serta kegiatan lain yang secara langsung mendukung
aktivitas usaha budidaya.
Keempat, dukungan dana penguatan modal, upaya tersebut
melalui alokasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat (DPM), Paket
Wirausaha, subsidi benih, Pengembangan Usaha Mina Pedesaan
(PUMP), peluncuran skema kredit semisal Kredit Usaha Rakyat (KUR)
dan Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE). Di mana upaya

95

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

tersebut dalam rangka memberikan stimulan yang secara langsung


mendukung peningkatan kapasitas usaha Kelompok budidaya ikan
(Pokdakan) rumput laut.
Kelima, pengembangan kawasan pembudidayaan secara bertahap
melalui pengembangan kawasan minapolitan budidaya, membangun
pendekatan akuabisnis serta mendorong terbangunnya pola kemitraan
usaha yang berkelanjutan.
Keenam, membangun kerjasama, sinergisitas, persamaan persepsi
dan tanggung jawab bersama antara seluruh stakeholders dalam
upaya pengembangan rumput laut nasional melalui kegiatan Forum
Budidaya Rumput Laut. Direktorat Produksi telah menetapkan kegiatan
Forum Rumput Laut Nasional sebagai agenda tahunan. Di mana hasil
rumusan kegiatan tersebut diharapkan akan menjadi bahan acuan
dan rekomendasi dalam menentukan langkah kebijakan strategis bagi
pengembangan rumput laut nasional.

96

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

MEMANG rumput laut saat ini telah menjadi berkah di Nunukan.


Tapi ini bisa menjadi sia-sia jika aspek jangka panjang tidak dipikirkan.
Masing-masing pihak yang terkait harus mengoptimalkan perannya
dalam membangun budidaya rumput laut ini. Pembudidaya, penyuluh,
pemerintah daerah, Bank Indonesia, hingga pihak-pihak swasta dapat
memberikan kontribusinya.
Membangun sebuah masa depan memang harus bermula dari
mimpi besar. Sejatinya, itulah yang saat ini sudah mulai dibangun
pemerintah Indonesia untuk pembangunan sumberdaya lokal di
wilayah pesisir.
Kementerian Kelautan dan Perikanan memiliki visi menjadikan
Indonesia sebagai penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar
dunia tahun 2015. Visi ini oleh beberapa kalangan dianggap terlalu
ambisius. Mungkin itu hanya persepsi dari sebagian masyarakat awam
yang memandang hal itu mustahil mampu dicapai. Tapi bagi kalangan
yang optimis, tidak ada kata mustahil.
97

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Jika mengacu pada visi dan misi Kementerian Kelautan dan Per
ikanan, hal yang paling mungkin untuk didorong peningkatannya
dalam upaya pencapaian target tersebut adalah sub sektor perikanan
budidaya. Inilah yang saat ini menjadi pekerjaan rumah bagi
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dalam upaya menopang
terwujudnya mimpi besar Indonesia sebagai penghasil produk
budidaya perikanan terbesar dunia.
Ditjen Perikanan Budidaya telah menetapkan adanya target
pencapaian produksi sebesar 353% sampai dengan tahun 2014
khususnya bagi komoditas yang menjadi unggulan saat ini, di mana
rumput laut menjadi penyumbang terbesar target pencapaian produksi
tersebut, yaitu sebesar 10 juta ton pada 2014.
Dalam upaya pencapaian visi dan misi tersebut, Kementerian Kelautan
dan Perikanan telah menetapkan komoditas unggulan yang menjadi

98

Harapan saya ke
depan, Nunukan
bukan hanya
menghasilkan
bahan baku saja,
tetapi nanti juga
bisa olahannya,
tutur Basri,
Bupati Nunukan

sasaran utama. Komoditas rumput laut


menjadi salah satunya. Rumput laut
diharapkan mampu mewujudkan mimpi
besar Indonesia.
Indonesia diyakini akan mampu meng
geser pesaing utamanya, Filipina, sebagai
produsen rumput laut terbesar dunia.
Pada 2010, total produksi rumput laut
Filipina mencapai 3.082.113 ton atau
menguasai sekitar 50% produk rumput
laut hasil budidaya di dunia. Angka ini
yaitu untuk jenis eucheuma, gracilaria,
dan kappaphycus. Harapan masa depan
rumput laut Indonesia sedikit banyak
diletakkan di pundak Kementerian Ke
lautan dan Perikanan.

99

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Bupati Nunukan Basri juga menyampaikan harapannya terhadap


perkem
bangan rumput laut Nunukan. Harapan saya ke depan,
Nunukan bukan hanya menghasilkan bahan baku saja, tetapi nanti
juga bisa olahannya, tutur Basri. Dia juga mengharapkan semua pihak
bisa bahu-membahu membina kelembagaan, keterampilannya, serta
meningkatkan mutunya.
Bicara peluang terhadap pasar perdagangan rumput laut dunia,
Indonesia mempunyai peluang besar dalam memasok kebutuhan
bahan baku rumput laut. Sebagai gambaran, tahun 2010 peluang
kebutuhan rumput laut eucheuma cottonii dunia mencapai 274.100
ton, di mana Indonesia mempunyai peluang memberikan kontribusi
ekspor sebesar 80.000 ton atau sekitar 29,19%. Sementara peluang
kebutuhan dunia akan rumput laut jenis gracilaria sp mencapai 116.000 ton,

100

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Ada sekitar 550-an


jenis rumput laut,
tetapi sayangnya
baru tiga yang
dibudidayakan.
dimana Indonesia mempunyai peluang kontribusi sebesar 57.500 atau
sekitar 49,57%.
Rumput laut sebagai subsektor perikanan budidaya bisa menjadi
barometer pergerakan ekonomi nasional jika dikelola secara optimal.
Seiring dengan target pencapaian peningkatan produksi perikanan
budidaya yang dicanangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan
sebesar 353%, banyak kalangan kurang yakin dengan angka itu.
Tapi melihat potensi yang ada di Indonesia, bukan tidak mungkin
Indonesia akan mampu mencapai target tersebut. Bahkan Indonesia
bisa menjadi produsen perikanan terbesar di dunia.
Potensi rumput laut Indonesia ini sebenarnya sangat melimpah.
Bisnis rumput laut membawa secercah harapan baru. Potensi rumput
laut seluruh dunia sangat menjanjikan. Ada sekitar 550-an jenis rumput
laut, tetapi sayangnya baru tiga yang dibudidayakan. Turunan produk
yang dihasilkan juga banyak.

101

Bisnis ini diharapkan menjadi bisnis


yang prospektif dan sehat. Indonesia
perlu melakukan penataan pola dan
strategi pengembangan rumput
laut nasional mulai dari penyegaran
pengetahuan jenis dan penanganan
bibit rumput laut sampai pada
pemilihan dan pengaturan lokasi
budidaya.
Selain itu, aspek pascapanen juga
perlu diperhatikan. Baik teknik bu
didaya maupun pengolahan pas
ca
panennya ikut mempengaruhi
hasil yang optimal. Kualitas rumput
laut bisa dinikmati jika pengolahan
pascapanen baik. Hal lain yang juga
penting yaitu diversifikasi produk,
yaitu untuk memperluas jangkauan
pasar dan selera konsumen.
Pengetahuan
tentang
fungsi
dan manfaat hasil ekstraksi rumput
laut kepada masyarakat, petugas
penyuluh, dan aparat pemerintah
daerah yang sering berganti-ganti
pada era otonomi daerah, juga perlu
ditingkatkan dengan pembinaan
secara periodik.
Apabila semua hal tersebut di
lakukan dengan baik, Indonesia di
harapkan akan menjadi negara
terkemuka di bidang rumput laut.
Selain memerlukan Peta Jalan Rumput

102

Peran Asosiasi
Rumput Laut
Indonesia (ARLI)
juga tidak bisa
dianggap remeh,
kerja sama antar
pengusaha rumput
laut akan menambah
peningkatan
produktivitas dan
penetrasi terhadap
pasar dalam hal
kemitraan usaha.

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Laut Nasional, sinergi antara pembudidaya, pengolah, eksportir, peneliti,


dan pemerintah juga sangat dibutuhkan guna menentukan strategi
pengembangan rumput laut nasional. Selain itu perlu ada campur
tangan pemerintah dengan pihak swasta dalam hal pengembangannya.
Pemerintah dan pelaku usaha diharapkan memiliki arah yang tepat
demi perkembangan rumput laut nasional.
Peran Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) juga tidak bisa dianggap
remeh, kerja sama antar pengusaha rumput laut akan menambah
peningkatan produktivitas dan penetrasi terhadap pasar dalam hal
kemitraan usaha.
Dengan potensi yang sangat besar, pasar rumput laut harusnya bisa
semakin luas. Dengan target produksi tahun 2013 sebesar 200 ribu ton,
angka ini diproyeksikan naik dibanding pencapaian tahun lalu sekitar
160 ribu ton rumput laut kering.
Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia Safari Azis mengatakan
dari produksi tersebut, sebanyak 75-80% untuk diekspor dan sisanya
diolah di dalam negeri. Menurutnya, Indonesia bukan pengkonsumsi
rumput laut. Pabrik industri dalam negeri disebut baru menyerap
20% produksi rumput laut, dan pasar konsumsi hanya 5%. Hal ini
membuktikan bahwa potensi rumput laut dari aspek sumber daya dan
pasar masih perlu penetrasi.
Untuk memperluas dan menunjang pemasaran, perlu dibangun
jaringan pemasaran, informasi pasar tentang harga, pemesanan
dan standar. Hal itu harus dimulai dari sisi supply pelaku usaha dan
pemerintah. Keduanya merupakan faktor dominan bagi majunya
pemasaran rumput laut. Jaringan rumput laut bisa difasilitasi dengan
teknologi informasi ataupun media sosial. Di samping itu dapat juga
dilakukan sosialisasi lewat biro informasi khusus.
Tak lupa, perlu juga dibangun lembaga atau badan untuk mengukur
kualitas rumput laut yang diperdagangkan. Hal ini juga termasuk
masalah sertifikasi. Agar memaksimalkan kewenangan itu, seharusnya
lembaga berada di bawah pemerintah daerah.

103

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

Dengan wewenang yang lebih otonom dan melekat, lembaga


ini memiliki tugas pemberdayaan pengusaha rumput laut dengan
pendekatan yang langsung pada kebutuhan pengusaha demi pe
ningkatan kualitas.
Untuk memaksimalkan kualitas produksi, operasionalisasi pelatihan,
demplot (demonstration plot), dan fasilitasi kerja sama antara pembu
didaya, perbankan, dan pembeli perlu diperluas dan ditingkatkan. Jika
pembudidaya tidak dapat mengakses modal usaha, maka mereka ke
tinggalan kesempatan untuk memaksimalkan potensi kuantitas dan
kualitas produksinya. Pihak perbankan harus dapat menyesuaikan de
ngan aksesibilitas petani untuk mendapatkan modal.
Perbankan perlu memanfaatkan tokoh lokal untuk menjadi fasilitator
dan pembina kegiatan pendanaan. Aspek sosial dan budaya perlu
untuk dipertimbangkan dalam realisasi pendanaan/pengucuran kredit.
Perlu pembinaan budidaya, dan penanganan pascapanen yang
higienis dan memenuhi standar atau ketentuan standar perdagangan.
Di sinilah fungsi dari dinas perikanan dan kelautan daerah dalam
menjalankan tugas peningkatan kualitas hasil panen rumput laut
masyarakat. Menjaga kualitas berarti menjaga permintaan pasar untuk
kesinambungan usaha. Hal itu tidak terlepas dari pembenihan dan
proses lainnya yang terus-menerus diperbaiki.

104

Daftar Istilah
Local Champion: Pionir atau Pengusaha yang berhasil di suatu daerah tertentu.
Stakeholders: Pemangku kepentingan, atau segenap pihak yang terkait dengan isu
dan permasalahan yang sedang diangkat atau terkait.
Sinergi: Kegiatan atau program yang dilakukan secara gabungan/kerjasama.
Euchema Cottoni: Salah satu spesies rumput laut yang mempunyai ciri-ciri yaitu
thallus silindris, percabangan thallus berujung runcing atau tumpul, ditumbuhi
nodulus (tonjolan-tonjolan), berwarna cokelat kemerahan, cartilageneus (menyerupai
tulang rawan atau muda), percabangan bersifat alternates (berseling), tidak teratur
serta dapat bersifat dichotomus (percabangan dua-dua) atau trichotomus (sistem
percabangan tiga-tiga). Jenis ini telah dibudidayakan dengan cara diikat pada tali
sehingga tidak perlu melekat pada substrat karang atau benda lainnya.
Soft skill: Keterampilan yang dimiliki oleh seseorang dalam pekerjaan. Dalam hal ini
soft skill yang dimaksud adalah kepemimpinan dan kedisiplinan.
Pre-eliminary study: Studi awal untuk mengenali permasalahan.
Know how: Suatu kondisi tingkat pemahaman yang lebih tinggi terhadap satu
pengetahuan yang kita miliki setelah melalui proses penerapan atau implementasi.
Bargaining position: Suatu posisi dimana kita telah memiliki sesuatu yang membuat
kita memiliki pengaruh di masyarakat.
Outbond: Bentuk pembelajaran perilaku kepemimpinan dan manajemen di alam
terbuka dengan pendekatan yang unik dan sederhana tetapi efektif karena pelatihan
ini tidak sarat dengan teori-teori melainkan langsung diterapkan pada elemenelemen yang mendasar yang bersifat sehari-hari, seperti saling percaya, saling
memperhatikan serta sikap proaktif dan komunikatif.
Pilot project: Pelaksanaan kegiatan proyek percontohan yang dirancang sebagai
pengujian atau trial dalam rangka untuk menunjukkan keefektifan suatu pelaksanaan
program, mengetahui dampak pelaksanaan program dan keekomisannya.
Focus Group Discussion (FGD): Diskusi kelompok terarah dan melalui wawancara
yang dipimpin oleh seorang narasumber atau moderator untuk mendorong peserta
berbicara terbuka dan spontan tentang hal yang dianggap penting yang berhungan
dengan topik diskusi saat itu.
Karagenan: Senyawa yang diekstraksi dari rumput laut yang biasa untuk bahan
pengental atau pembuatan gel.
Rendemen: Nilai bersih atau kadar yang didapat dari proses pengeringan rumput
laut yang dinyatakan dalam persentase.

105

o
t
o
F
a
s
Len

Membangun Daerah Perbatasan dengan Rumput Laut

106