Anda di halaman 1dari 14

Naskah Kitab Al-Awmil merupakan salah satu judul naskah dari

naskah-naskah Islami koleksi Museum Sri Baduga Bandung. Sacara


lengkap naskah ini bisa dikenali dengan identifikasi berikut ini.
Judul naskah Kitab Al-Awamil; nomor naskah 07.04.2; asal
naskah tidak diketahui; keadaan naskah masih baik dan semua
tulisannya masih jelas; bahan naskah daluang, kertas tradisional
yang terbuat dari kulit pohon paper mulberry (Sd. saeh) yang diproses
secara tradisional; ukuran naskah 20 x 31 cm.; ruang tulisan 9 x
10 cm; tebal naskah 47 halaman; jumlah baris perhalaman
tiga baris perhalaman baik di awal, tengah, maupun akhir; aksara
naskah aksara Arab; tinta yang digunakan tinta berwarna
hitam; bentuk teks prosa; cara penulisan menggunakan tradisi
kitab/tradisi pesantren, yaitu tulisan berukuran besar, per-halaman
hanya tiga baris. cara penulisannya sangat khas jarak antar baris
dengan baris berikutnya cukup lebar yang disediakan untuk terjemah
atau logat gantung dan dibubuhkan saat kajian dilakukan atau saat
proses belajar mengajar berlangsung; bahasa naskah bahasa Arab
dengan sebagian dibubuhi logat gantung berbahasa Jawa; tahun
penyalinan tidak ditemukan kolofon, atau penanggalan dan tahun
penyalinan, tetapi dilihat dari bahan yang digunakan, naskah ini
termasuk produksi salinan abad ke-19 Masehi; pemilik naskah
tidak diketahui asal-usul naskah sebalum menjadi koleksi Museum Sri
Baduga; keterangan lain naskah ini tergabung dalam satu jilid

naskah berkode 07.04 yang tersusun dalam urutan kedua. Naskah ini
merupakan bagian dari sebuah naskah besar yang terdiri atas 4 teks,
yaitu Kitab araf Kailani, Kitab Al-Awamil, Kitab Jurumiyah, dan
Kitab Syarah Mukhtaar Al-Awmil. Selanjutnya khusus untuk judul
ini diberi nomor 07.04.2. Seluruhnya disalin oleh seorang penyalin
yang ditandai dengan bentuk dan karakter tulisan yang sama.
Kitab Al-Awamil merupakan kitab tatabahasa Arab terkenal dari
kitab-kitab kuning yang digunakan di pesantren-pesantren di
seluruh kawasan Nusantara. Penggunaan kitab al-Awamil pada
masa sebelum menyebar kitab cetakan dan juga kitab-kitab
lainnya umumnya berupa kitab salinan sebagai hasil penyalinan
para santri sendiri dalam meme-nuhi kebutuhan akan buku ajar.
Kegiatan menyalin kitab dalam lingkungan pesantren merupakan
kegiatan utama di samping mengaji. Para santri dengan rajin
melakukan penyalinan kitab dari naskah-naskah yang ada di
tangan kyai atau kakak kelas mereka atau dari teman santri
lainnya. Semen-tara bagi santri pemula yang belum memiliki
kemampuan me-nyalin umumnya mereka memiliki salinan kitab
ini atas bantuan teman-teman senior mereka, atau kakak kelas
mereka.
Ketika proses belajar-mengajar berlangsung baik dalam kegiatan
bandungan maupun sorogan para santri membubuhkan
terjemahan atau uraiannya materi yang diterimanya dengan
membubuh-kannya di bawah teks Arabnya yang sering dikenal
dengan sebutan logat gantung, dengan menempatkannya miring
dari kanan atas ke kiri bawah persis di bawah kata-kata Arabnya.
Itu sebabnya maka pada naskah Kitab al-Awamil ini ditemukan
tulisan teks hanya terdiri atas tiga baris perhalaman dengan
aksara yang cukup besar dengan jarah antar baris cukup lebar.
Sementara logat gantung ditemukan pada beberapa halaman,
dengan hurup kecil-kecil dan tipis. Pada beberapa halam akhir
logat gantung belum dibubuhkan, artinya bahwa santri tidak

melanjutkan membubuh-kannya, hal ini terjadi akibat


kemungkinan beberapa hal, antara lain, ia belum menyelesaikan
mempelajarinya atau ia meng-gantinya dengan buku lain.

17.

Bab II
Ringkasan Isi
Naskah Kitab Al-Awamil berisi tatabahasa Arab yang
mengandung kajian kaidah struktur kalimat bahasa Arab dengan
konsekuensi perubahan irab (bunyi akhir kata) berdasarkan posisi
kata pada suatu kalimat. Disiplin ilmu bahasa Arab tentang
tatabahasa semacam ini dikenal dengan sebutan Ilmu Nahwu. Irab
merupakan fenomena bahasa yang hanya terdapat dalam struktur
kalimat bahasa Arab.

Kata Awamil merupakan bentuk jama dari kata amil, yang


berarti kata-kata yang memberi pengaruh/ penentu terhadap irab
kata di depannya. Isi kitab ini menekankan berbagai penentu irab
kata Arab dalam struktur kalimat. Jumlah awamil (kata-kata
penentu irab) dalam ilmu nawu ada seratus 'amil, ada yang bersifat
Lafi ada pula yang bersifat Ma'nawi. Bentuk Lafi itu terdiri dari
dua jenis, yaitu Sama'i dan Qiyasi. Jenis Sama'i terdiri dari 91 'amil,
dan jenis Qiyasi terdiri dari 7 'amil. Sedangkan bentuk Ma'nawi
terbagi menjadi dua.
Jenis Sama'i (Lafi ) terbagi menjadi 13 bentuk.
Pertama, harf yang hanya menjarkan isim, yang terdiri dari
19 harf, yaitu: Ba, min, il, f, an, wawu qasam, ba qasam, ta
qasam, lm, rubba, wawunya, al, kf, muz. Munzu, hatta, hsy,
ad, dan khal.
Kedua, harf yang hanya me-naab-kan isim dan me-rafakan khabar yang terdapat pada enam harf, yaitu: Inna, anna, kaanna,
lkinna, laita, laalla.
Ketiga, dua harf yang me-rafa-kan isim dan me-naab-kan
khabar, yaitu: m dan l.
Keempat, harf-harf yang hanya me-naab-kan isim itu ada 7,
yaitu: wawu, ill, ayy, hayy, ayyun, dan hamzah mufattahah.
Kelima, harf-harf yang me-naab-kan fiil mudhari yang terdapat
pada empat harf, yaitu: an, lan, izan, dan kai.
Keenam, harf-harf yang men-jazm-kan fi`il muari, yaitu:
lam, lamm, lm amr, dan lm nahyi.
Ketujuh, isim-isim yang men-jazm-kan dua fiil muari yang
terdapat pada lima huruf yang bermakna In
, yaitu: man, ma,
ayyun, mahm, mat, aina, ainam, haitsum, dan izm.
Kedelapan, isim-ism yang me-naab-kan isim-isim nakirah
dalam bentuk tamyiz ada empat, yaitu bilangan belasan dan 90, kam,
kaayyin, dan kaza.

Kesembilan, kata-kata yang disebut juga dengan asmau


alafl, ada yang me-naab-kan dan ada pula yang me-rafa-kan
sebanyak 9 kata. Kata yang me-naab-kan terdiri dari 6 kata, yaitu:
ruwaida, balah, dnaka, alaika, h, dan hayyaha. Kata yang merafa-kan terdiri dari 3 kata, yaitu: haihta, sattna, dan sar-na.
Kesepuluh, fiil naqis yang me-rafa-kan isim dan yang menaab-kan khabar itu ada 13 fiil, antara lain: kna, ra, abaha,
amsa, aha, alla, bta, m dma, m zla, m bariha, m infakka,
m fatia, dan laisa.
Kesebelas, fiil-fiil yang disebut dengan amaul muqarabah,
yang me-rafa-kan isim dan me-naab-kan khabar, terdapat empat
fiil: as, kda, karuba, dan syakka.
Kedua belas, fiil madi (pujian) dan am (hinaan) yang merafa-kan isim jinsi yang diberi tanda penentu dengan alif lam dan
yang khusus bermakna pujian atau hinaan, semua ada empat fiil:
nima, bisa, s-a, dan habbaza.
Ketiga belas, fiil syak dan fiil yakin yang masuk kepada dua
isim, isim yang kedua merupakan isyarat (ibarah) dari isim yang
pertama dan keduanya menasabkan semua maful, terdapat 7 fiil,
yaitu: hasibtu, khiltu, anantu, ra-aitu, wajadtu, alimtu, dan
zaamtu.
Adapun jenis Qiyasi (lafa) terdiri dari 7 fiil-fiil mulak, isim
fail, isim maful, sifah musyabahah, masdar, tiap-tiap isism yang diiafat-kan dengan isim yang lainnya, dan tiap isim tam yang tidak
memerlukan iafah dan tamyiz untuk menyamarkannya. Adapun
bentuk Ma'nawi terbagi menjadi dua bagian. Pertama, amil yang
berpengaruh terhadap mubtada dan khabar, amilnya berada pada
mubtada. Kedua, amil yang berpengaruh terhadap fiil muari yang
menempati tempat isim.

Bab III
Transliterasi Dan Terjemah
3.1 Transliterasi
Naskah beraksara Arab dan berbahasa Arab ini tentu hanya
bisa dibaca oleh mereka yang memahami aksara dan bahasa Arab
yang terlatih. Untuk memberikan peluang kepada pihak-pihak yang
ingin mengetahui bunyi teks dalam naskah ini dan berminat
membacanya serta mengkajinya lebih lanjut, namun tidak menguasai
atau kurang menguasai aksara dan bahasa Arab, di bawah ini
disajikan transliterasinya (alih aksara) dalam aksara latin dan bukan
transkripsinya (al;ih bunyi). Namun demikian, tidak akan dapat

dibaca secara tepat karena adanya perbedaan karakter antara aksara


Arab dalam aksara Latin apalagi dalam pelafalannya. Transliterasi
dilakukan seutuhnya tanpa adanya upaya rekonstruksi teks. Itu
sebabnya teks ini masih memerulkan kajian filologis lebih lanjut.
Bismillhir ramnir rahm
Ilam anna Al-awmila fi alnawi miatu mililin /1/
lafiyyatun wa manawiyyatun. Fa allafiyyatu minh al arbayni
samiyyatun /2/ wa qiysiyyatun. Fa alsamiyyatu minh aadu
wa tisna milan wa alqiysiyyatu /3/ minh sabatun. Wa
almanawiyyatu minh Inni wa tatanawwau alsamiyyatu al
alaata /4/ asyara nauan.
Fa alnauu al-awwalu urfun tajurru al-isma /5/ faqaun,
wa hiya tisata asyara arfan alb-u wa min wa il /6/ wa f wa an
wa wwu alqasami wa bu alqasami wa tu alqasami wa allmu
wa rubba /7/ wa wwuhu wa al wa alkfu wa mu wa munu wa
atta /8/ wa sy wa ada wa al.
Alnau aln urfun /9/ tanibu al-isma wa tarfau
alkhabara wa hiya sittatu arfin /10/ inna wa anna wa ka-anna
wa lakinna wa layta wa laalla. [hal.11]
Alnauu alliu arfni tarfani al-isma wa tanibni
alkhabara /12/ wahum m wa l almusyabbahatni bi laysa.
Alnauur alrbiu urfun /13/ tanibu al-isma faqa, wa
hiya sabatun al-wwu wa illa wa y wa iyy wa hayy /14/ wa
ayu wa alkhamzatu almuftaatu.
Alnauu alkhmisu urfun tanibu alfila almuria /15/
wa hiya arbaatu urfin an wa lan wa kay wa ian.
Alnauu alsdisu /16/ urfun tajzumu alfila almuria wa
hiya khamsatu arfin /17/ lam wa lamm wa lmu al-amri wa l
li alnahyi wa in fi alsyari wa aljaz-i.
Alnauu alsbiu
/18/ asmun tajzumu alfilayni
almuriayni 'al manay in wa hiya /19/ tisatu asm-in man wa

m wa ayyun wa mahm wa mat wa ayna wa aynam /20/ wa


aium wa im.
Alnauu alminnu asmun tanibu al-asm an nakirtin
/21/ ala altamyzi wa hiya arbaatu asmin aaduh asyaratun i
rakibta maa aadin /22/ wa inayni il tisatin wa tisna nawu
aada asyara kaukaban wa inay /23/ asyara wrian wa alata
asyara rajulan il khirih wa niyah kam wa liuh /24/ kaayyanna wa rbiuh kun.
Alnauu altsiu kalimtin tusamm asm-al afli /25/
bauh tanibu wa bauh tarfau wa hiya tisu kalimtin,
alnibu minh sittatu /26/ kalimtin wa hiya ruwayda wa balaha
wa dnaka wa alaika wa h-u wa ayyahala wa alrfiatu /27/
minh alau kalimtin hayhta wa sattna wa syarna.
Alnauu al-syiru /28/ al-aflu alnqiatu tarfayl isma wa
tanibu alkhabara wa hiya alaata asyara /29/ filan kna wa ra
wa abaa wa ams wa a wa alla wa bta /30/ wa mdma
wa mzla wa m baria wa m infakka wa m fatia wa laysa /31
wa m yutaarrafu minhunna.
Alnauu aldiya asyara aflun tusamma l-aflu /32/ al
muqribatu tarfau al-isma wa tanibu alkhabara wa hiya arbaatu
aflin as /33/ wa kda wa karaba wa awsyaka.
Alnauu alniya asyara aflu almadi waammi tarfau
/34/ al-ismal khabara almuarrafa bi al-alifi wa allmi wa
almakha bi almadi wa ammi wa hiya /35/ arbaatu aflin
naima wa bisa wa s-a wa abbaa.
Alnauu alliu asyara /36/ aflu alsyakki wa alyaqni
tadkhulu 'al al-ismaini nhim ibratun an al-awwali /37/ wa
tanibuhum jaman wa hiya sabatu aflin asibtu wa anantu wa
khiltu wara-aytu /38/ wa wajadtu wa alimtu wa zaamtu wa
alqiysiyyatu, minh sabatun al-afalu 'ala /39/ al-ilqi wa ismu
alfilu wa ismu almafli wa alifatu almusyabbahatu wa
almadaru /40/ wa kullu ismin ufa il ismin akhara, wa kullu

ismin tammin fa istagn an al-ifati /41/ wa hiya taqta


tamyzan li-ibhmihi.
Wa almanawiyyatu minh addni almilu fi almubtadai
/42/ wa hiya fi alfili almurii al-ibtid-u wa alkhabaru wa
almilu fi alfili almurii wa huwa /43/ wuquhu mauqia al-ismi
nawu zaidun yaribu f mauii zaidun ribun /44/ fa hihi
miatu milin l yustagn minh alagru wa alkabru wa alrfiu
wa alwu /45/ an marifatih wa istimlih wa mamltih wa
auradn baynah /46/ 'al arqi alisbi wa al-adadi , tammat
wa Allhu alamu /47./
3.2. Terjemahan
Naskah Kitab Awamil yang berbahasa Arab ini berisi bagian
dari tatabahasa Arab berkaitan dengan faktor-faktor penentu irab
(perubahan bunyi akhir kata sesuai dengan posisinya). Kandungan
naskah ini akan dapat diketahui oleh siapapun yang berminat
mengetahui dan mengkajinya, tanpa menguasai bahasa dan aksdara
Arab melalui terjemahan yang mampu mengungkap seluruh pesan
yang terkandung di dalamnya. Berikut ini terjemahannya dalam
bahasa Indonesia.
Ketahuilah, bahwa 'Awamil dalam ilmu nawu itu terdapat
seratus 'amil (faktor penentu). Baik yang berupa lafi maupun yang
berupa ma'nawi. Bentuk lafi itu terdiri dari dua jenis, yaitu Sama'i
dan Qiyasi. Jenis Sama'i terdiri dari 91 'amil. Dan jenis Qiyasi terdiri
dari 7 'amil. Sedangkan bentuk Ma'nawi terbagi menjadi dua.
Jenis Sama'i (Lafi ) terbagi menjadi 13 bentuk, yaitu:
Bentuk pertama,
terdiri dari 19 harf, yaitu:

10

harf yang hanya menjarrkan isim, yang

Bentuk kedua, harf yang hanya me-naab-kan isim dan merafa-kan khabar dan semua ada enam harf, yaitu:

Bentuk ketiga, ialah dua harf yang me-rafa-kan isim dan menaab-kan khabar, yang berperan seperti
yaitu
dan

Bentuk keempat, harf-harf yang hanya me-naab-kan isim.


Semuanya ada 7, yaitu:
hamzah yang berharakat fathah
Bentuk kelima, harf-harf yang me-naab-kan fiil muari,
semua berjumlah empat harf, yaitu:

Bentuk keenam, harf-harf yang men-jazm-kan fi`il muari.


Semuanya ada lima harf, yaitu:

Bentuk ketujuh, isim-isim yang men-jazm-kan dua fiil


muari. Semuanya ada lima harf yang bermakna In
, yaitu:

Bentuk kedelapan, isim-ism yang me-naab-kan isim-isim


nakirah dalam bentuk tamyiz ada empat, yaitu bilangan 10 (lafa
asyarah) apabila tersusun dengan bilangan 1, 2 sampai 9 dan 90.

11

Contoh:
lafa . Ketiga, lafa

dan seterusnya. Kedua,


. Keempat lafa

Bentuk kesembilan, kata-kata yang disebut juga dengan


asmau al-afl, ada yang me-naab-kan dan ada pula yang me-rafakan sebanyak 9 kata. Kata yang me-naab-kan terdiri dari 6 kata,
yaitu:

Kata yang me-rafa-kan terdiri dari 3 kata, yaitu:

Bentuk kesepuluh, fiil naqis yang me-rafa-kan isim dan yang


me-naab-kan khabar itu. Semuanya ada 13 fiil, antara lain:

Dan kata bentukan ( tarif/turunan) dari semua kata-kata tersebut.


Bentuk kesebelas, fiil-fiil yang disebut dengan amaul
muqarobah, yang me-rafa-kan isim dan me-naab-kan khabar,
terdapat empat fiil:

Bentuk keduabelas, fiil madi (pujian) dan am (hinaan)


yang me-rafa-kan isim jinsi yang diberi tanda penentu dengan alif
lam dan yang bermakna pujian atau hinaan, semua ada empat fiil:

Bentuk ketigabelas, fiil syak dan fiil yakin yang masuk


kepada dua isim, isim yang kedua merupakan isyarat (ibarah) dari
isim yang pertama dan keduanya menasabkan semua maful, semua
ada 7 fiil, yaitu:
12

Adapun jenis Qiyasi (lafa) terdiri dari 7 fiil-fiil mulak, isim


fail, isim maful, sifah musyabahah, masdar, tiap-tiap isism yang diiafat-kan dengan isim yang lainnya, dan tiap isim tam yang tidak
memerlukan iafah membutuhkan tamyiz untuk menyamarkannya.
Adapun bentuk Ma'nawi yang terbagi menjadi dua bagian.
Pertama, amil yang berpengaruh pada mubtada dan khabar, amilnya
berada pada mubtada. Kedua, amil yang berpengaruh pada fiil
muari yang menempati tempat isimseperti:
yang sama
dengan

Semua amil yang berjumlah seratus ini mencakup dari yang


kecil, yang besar, dan yang tinggi dan rendah. Adapun penjelasan
'amil dan penggunaannya pada mamulnya akan kami sampaikan
penjelasannya secara terperinci dan berbilang. Selesai wa Allahu
alam.

13

14