Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG PEMBAHASAN

Petrologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan geologi yang


mempelajari batuan pembentuk kulit bumi, mencakup aspek pemerian (deskripsi)
dan aspek genesa-interpretasi. Pengertian luas dari petrologi adalah mempelajari
batuan secara mata telanjang, secara optik/ mikroskopis, secara kimia dan radio
isotop. Studi petrologi secara kimia sering disebut petrokimia yang dapat
dipandang sebagai bagian dari ilmu geokimia.

Untuk kuliah dan praktikum mahasiswa Teknik Geologi semester 2 maka


studi petrologi dibatasi secara megaskopis saja. Aspek pemerian antara lain
meliputi warna, tekstur, struktur, komposisi, berat jenis, kekerasan, kesarangan
(porositas), kelulusan (permebilitas) dan klasifikasi atau penamaan batuan. Aspek
genesa interpretasi mencakup tentang sumber asal (source) hingga proses atau
cara terbentuknya batuan. Batuan didefinisikan sebagai semua bahan yang
menyusun kerak (kulit) bumi dan merupakan suatu agregat (kumpulan) mineralmineral yang telah menghablur (mengkristal). Dalam arti sempit, yang tidak
termasuk batuan adalah tanah dan bahan lepas lainnya yang merupakan hasil
pelapukan kimia, fisis maupun biologis, serta proses erosi dari batuan. Namun
dalam arti luas tanah hasil pelapukan dan erosi tersebut termasuk batuan.

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 1
TUGAS PETROLOGI I

Batuan sebagai agregat mineral pembentuk kulit bumi secara genesa dapat
dikelompokkan menjadi tiga jenis batuan, yaitu :
1. Batuan beku (igneous rocks), adalah kumpulan mineral silikat sebagai hasil
pembekuan daripada magma yang mendingin (Huang, 1962).
2. Batuan sedimen (sedimentary rocks), adalah batuan hasil litifikasi bahan
rombakan batuan yang berasal dari proses denudasi atau hasil reaksi kimia
maupun hasil kegiatan organisme (Pettijohn, 1964).
3. Batuan metamorf atau batuan malihan (metamorphic rocks), adalah batuan
yang berasal dari suatu batuan yang suda ad yang mengalami perubahan tekstur
dan komposisi mineral pada fasa padat sebagai perubahan kondisi fisika (tekanan
dan temperatur) (Winkler, 1967).

Siklus Batuan
Dalam sejarah pembentukannya ketiga jenis batuan tersebut dapat

mengalami jentera (siklus) batuan seperti pada Gambar 1.3.

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 2
TUGAS PETROLOGI I

Gambar 1.1. Jentera batuan (Gillen, 1982).


Magma sebagai batuan pijar mengalami pendinginan, pembekuan dan
penghabluran membentuk batuan beku. Batuan beku ini sebagai akibat proses
pelapukan, pengikisan dan pengangkatan membentuk sedimen atau endapan.
Sedimen ini setelah mengalami pembatuan membentuk batuan sedimen. Di lain
pihak batuan beku yang masuk ke dalam bumi mengalami proses metamorfisme
(perubahan suhu dan tekanan dalam waktu geologi) membentuk batuan metamorf.
Proses pelapukan ini dapat juga terjadi pada sedimen itu sendiri, batuan sedimen,
dan batuan metamorf. Sepertihalnya batuan beku, maka batuan sedimen yang
mengalami metamorfisme juga membentuk batuan metamorf. Akhirnya batuan
metamorf, sebagai akibat tekanan dan temperatur yang lebih tinggi mengalami
pelelehan kembali membentuk magma.

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 3
TUGAS PETROLOGI I

Penyebaran Batuan di Bumi


Bumi adalah tubuh padat, kecuali pada inti luar, dan beberapa tempat

yang relative kecil didalam mantel atas dan kerak, yang cair. Kebanyakan dari
material yang padat merupakan batuan metamorf, ini dikarenakan batuan di inti
dalam, mantel dan kerak telah terubah dikarenakan tekanan dan temperature yang
tinggi. Magma yang terbentuk pada mantel atas naik ke level yang lebih tinggi
didalam kerak dan mengalami kristalisasi. Batuan sediment terbentuk di
permukaan atau dekat permukaan.
Di daratan, batuan sediment menutupi sekitar 66 % dari total batuan
yang tersingkap (Blatt dan Jones, 1975). Sisanya sekitar 34 % adalah batuan
kristalin yang berupa batuan beku dan metamorf. Di bawah samudra kebanyakan
ditutupi oleh material sediment atau batuan sediment yang tipis. Dibawah tutupan
sediment, didominasi oleh batuan beku dan metamorf.

1.2

METODE PENULISAN MAKALAH


Penulis melakukan observasi materi melalui
Pegambilan data/searching di internet.

1.3

BATASAN RUANG LINGKUP MATERI


Ada pun penulis membatasi materi agar sesuai dengan
Tugas yang telah diberikan, yakni hanya membahas
Mengenai Petrologi batuan beku dan gunung api saja.

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 4
TUGAS PETROLOGI I

Mengingat begitu luasnya cakupan ilmu Petrologi.

1.4

MANFAAT DAN TUJUAN PENULISAN MAKALAH


Manfaat penulisan makalah bagi Mahasiswa adalah:
Menjadi sarana pegembangan diri dalam hal penulisan
Makalah dan sebagai tambahan refrensi belajar.
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menunaikan
Kewajiban sebagai seorang Mahasiswa(penulis), untuk
Menyelesaikan Tugas/ arahan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.

BATUAN BEKU

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 5
TUGAS PETROLOGI I

Didalam Petrologi dijelaskan seluruh aspek terbentuknya batuan mulai


dari asal-usul atau sumber, proses primer terbentuknya batuan hingga perubahanperubahan (proses sekunder) pada batuan tersebut. Untuk batuan beku, sebagai
sumbernya adalah magma. Proses primer menjelaskan rangkaian atau urutan
kejadian dari pembentukan berbagai jenis magma sampai dengan terbentuknya
berbagai macam batuan beku, termasuk lokasi pembekuannya. Setelah batuan
beku itu terbentuk, batuan itu kemudian terkena proses sekunder, antara lain
berupa oksidasi, pelapukan, ubahan hidrotermal, penggantian mineral dan
malihan, sehingga sifat fisik maupun kimiawinya dapat berubah total dari batuan
semula atau primernya.
Proses petrogenetik tersebut sebagian besar berlangsung lama (dalam
ukuran waktu geologi), dan umumnya terjadi di bawah permukaan bumi, sehingga
tidak dapat diamati langsung, maka analisis atau penjelasannya bersifat
interpretatif. Pembuktian mungkin dapat ditunjukkan berdasar hasil-hasil
eksperimen di laboratorium, sekalipun hanya pada batas-batas tertentu.
Batuan beku (Igneous Rock) adalah batuan yang terbentuk dari
kristalisasi atau pembekuan dari magma. Pembekuan ini dapat berlangsung di
permukaan atau jauh di bawah permukaan. Perbedaan tempat pembentukan ini
pada ahirnya akan digunakan dalam klasifikasi dan mempengaruhi sifat-sifat
batuan yang terbentuk. Batuan beku yang terbentuk di permukaan disebut batuan
volkanik (ekstrusif) dan yang terbentu di jauh di bawah permukaan bumu disebut
batuan plutonik (intrusif). Berikut penjelasan parameter - parameter dalam
melakukan analisis/ intepretasi secara megskopis:

WARNA BATUAN BEKU


Warna segar batuan beku bervariasi dari hitam, abu-abu dan putih

cerah. Warna ini sangat dipengaruhi oleh komposisi mineral penyusun batuan
beku itu sendiri. Apabila terjadi percampuran mineral berwarna gelap dengan
mineral berwarna terang maka warna batuan beku dapat hitam berbintik-bintik
putih, abu-abu berbercak putih, atau putih berbercak hitam, tergantung warna
mineral mana yang dominan dan mana yang kurang dominan. Pada batuan beku
PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API
Page 6
TUGAS PETROLOGI I

tertentu yang banyak mengandung mineral berwarna merah daging maka


warnanya menjadi putih-merah daging.

TEKSTUR BATUAN BEKU

Tekstur adalah hubungan antar mineral penyusun batuan. Dengan


demikian tekstur mencakup tingkat visualisasi ukuran butir atau granularitas,
tingkat kristalisasi mineral atau kristalinitas, tingkat keseragaman butir kristal,
ukuran butir kristal, dan bentuk kristal. Berdasarkan pengamatan dengan mata
telanjang atau memakai loupe, maka tekstur batuan beku dibagi dua, yaitu tekstur
afanitik dan tekstur faneritik.
a. Afanitik adalah kenampakan batuan beku berbutir sangat halus sehingga
mineral/kristal penyusunnya tidak dapat diamati secara mata telanjang atau
dengan loupe.
Gambar 2.1

a. Faneritik tekstur

b.

b. Porfiri tekstur

c. Afanitik tekstur

Fanerik (faneritik, firik = phyric) adalah apabila di dalam batuan tersebut


dapat terlihat mineral penyusunnya, meliputi bentuk kristal, ukuran butir
dan hubungan antar butir (kristal satu dengan kristal lainnya atau kristal

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 7
TUGAS PETROLOGI I

dengan kaca). Singkatnya, batuan beku mempunyai tekstur fanerik apabila


mineral penyusunnya, baik berupa kristal maupun gelas/kaca, dapat
diamati. Apabila batuan beku mempunyai tekstur afanitik maka pemerian
tekstur lebih rinci tidak dapat diketahui, sehingga harus dihentikan.
Sebaliknya apabila batuan beku tersebut bertekstur fanerik maka pemerian
lebih lanjut dapat diteruskan.

TINGKAT KRISTALISASI
a. Holokristalin, apabila batuan tersusun semuanya oleh kristal.
b. Holohialin, apabila batuan tersusun seluruhnya oleh gelas atau kaca.
c. Hipokristalin, batuan tersusun sebagian oleh kaca dan sebagian kristal.

BENTUK KRISTALISASI

Gambar 2.2. Bentuk bentuk Kristalisasi

a. Euhedral, jika kristal berbentuk sempurna/lengkap, dibatasi


oleh bidang kristal yang ideal (tegas, jelas dan teratur). Batuan
beku yang hampir semuanya tersusun oleh mineral dengan bentuk
kristal euhedral, disebut berteksturidiomorfik granular atau
panidiomorfik granular.
PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API
Page 8
TUGAS PETROLOGI I

b. Subhedral, jika kristalnya dibatasi oleh bidang-bidang kristal


yang tidak begitu jelas, sebagian teratur dan sebagian tidak.
Tekstur batuan beku dengan mineral penyusun umumnya
berbentuk kristal subhedral disebut hipidiomorfik granular atau
subidiomorfik granular.
c. Anhedral, kalau kristalnya dibatasi oleh bidang-bidang kristal
yang tidak teratur. Tekstur batuan yang tersusun oleh mineral
dengan bentuk kristal anhedral disebut alotriomorfik
granular atau xenomorfik granular.

STRUKTUR BATUAN BEKU


1. Masif atau pejal, umumnya terjadi pada batuan beku dalam. Pada
batuan beku luar yang cukup tebal, bagian tengahnya juga dapat
berstruktur masif.
2. Berlapis, terjadi sebagai akibat pemilahan kristal (segregasi) yang
berbeda pada saat pembekuan.
3. Vesikuler, yaitu struktur lubang bekas keluarnya gas pada saat
pendinginan. Struktur ini sangat khas terbentuk pada batuan beku luar.
Vesikuler berbentuk melingkar umumnya terjadi pada batuan beku luar
yang berasal dari lava relatif encer dan tidak mengalir cepat. Vesikuler
bentuk elip menunjukkan lava encer dan mengalir. sedangkan, vesikuler
meruncing umumnya terdapat pada lava yang kental.

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 9
TUGAS PETROLOGI I

Gambar 2.3. Beberapa struktur batuan beku. Paling kanan atas


Amigdoloidal, kiri Vesikular, Lava aliran, Columnar joint.
4. Struktur skoria (scoriaceous structure) adalah struktur vesikuler
berbentuk membulat atau elip, rapat sekali sehingga berbentuk seperti
rumah lebah.

5. Struktur batuapung (pumiceous structure) adalah struktur vesikuler


dimana di dalam lubang terdapat serat-serat kaca.
6. Struktur amigdaloid (amygdaloidal structure) adalah struktur
vesikuler yang telah terisi oleh mineral-mineral asing atau sekunder.

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 10
TUGAS PETROLOGI I

7. Struktur aliran (flow structure), adalah struktur dimana kristal


berbentuk prismatik panjang memperlihatkan penjajaran dan aliran.
Struktur batuan beku tersebut di atas dapat diamati dari contoh setangan
(hand specimen) di laboratorium. Sedangkan struktur batuan beku dalam
lingkup lebih besar, yang dapat menunjukkan hubungan dengan batuan di
sekitarnya, seperti dike (retas), sill, volcanic neck, kubah lava, aliran lava
dan lain-lain hanya dapat diamati di lapangan.

KOMPOSISI MINERAL
Berdasarkan jumlah kehadiran dan asal-usulnya, maka di dalam batuan

beku terdapat mineral utama pembentuk batuan (essential minerals),

mineral

tambahan (accessory minerals) dan mineral sekunder (secondary minerals).


1. Essential minerals, adalah mineral yang terbentuk langsung dari
pembekuan magma, dalam jumlah melimpah sehingga kehadirannya
sangat menentukan nama batuan beku.

Gambar 2.4. Essential Minerals pada Granite


2. Accessory minerals , adalah mineral yang juga terbentuk pada saat
pembekuan magma tetapi jumlahnya sangat sedikit sehingga kehadirannya
tidak mempengaruhi penamaan batuan. Mineral ini misalnya kromit,
magnetit, ilmenit, rutil dan zirkon. Mineral esensiil dan mineral tambahan
PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API
Page 11
TUGAS PETROLOGI I

di dalam batuan beku tersebut sering disebut sebagai mineral primer,


karena terbentuk langsung sebagai hasil pembekuan daripada magma.

3. Secondary minerals adalah mineral ubahan dari mineral primer sebagai


akibat pelapukan, reaksi hidrotermal, atau hasil metamorfisme. Dengan
demikian mineral sekunder ini tidak ada hubungannya dengan pembekuan
magma. Mieral sekunder akan dipertimbangkan mempengaruhi nama
batuan ubahan saja, yang akan diuraikan pada acara analisis batuan
ubahan. Contoh mineral sekunder adalah kalsit, klorit, pirit, limonit dan
mineral lempung.

4. Gelas atau kaca, adalah mineral primer yang tidak membentuk kristal
atau amorf. Mineral ini sebagai hasil pembekuan magma yang sangat
cepat dan hanya terjadi pada batuan beku luar atau batuan gunungapi,
sehingga sering disebut kaca gunungapi (volcanic glass).

5. Mineral felsik adalah adalah mineral primer atau mineral utama


pembentuk batuan beku, berwarna cerah atau terang, tersusun oleh unsurunsur Al, Ca, K, dan Na. Mineral felsik dibagi menjadi tiga, yaitu felspar,
felspatoid (foid) dan kuarsa. Di dalam batuan, apabila mineral foid ada
maka kuarsa tidak muncul dan sebaliknya. Selanjutnya, felspar dibagi lagi
menjadi alkali felspar dan plagioklas.

6. Mineral mafik adalah mineral primer berwarna gelap, tersusun oleh


unsur-unsur Mg dan Fe. Mineral mafik terdiri dari olivin, piroksen,
amfibol (umumnya jenis hornblende), biotit dan muskovit.

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 12
TUGAS PETROLOGI I

Pemerian dan pengenalan mineral pembentuk batuan beku tersebut secara


megaskopik sudah harus dikuasai oleh para praktikan, seperti diberikan
pada kuliah dan praktikum kristalografi-mineralogi serta dipraktekkan lagi
pada acara I pengenalan mineral pembentuk batuan, praktikum petrologi
ini. Untuk mengetahui genesa masing-masing mineral pembentuk batuan
tersebut di atas, praktikan dianjurkan untuk mempelajari Reaksi Seri
Bowen yang terdapat di dalam buku-buku literatur Petrologi (misal
Middlemost, 1985, Magmas and magmatic rocks, Longman, Inc., London,
266 p).

PENAMAAN / KLASIFIKASI
Berdasarkan letak pembekuannya maka batuan beku dapat dibagi

menjadi batuan beku intrusi dan batuan beku ekstrusi. Batuan beku intrusi
selanjutnya dapat dibagi menjadi batuan beku intrusi dalam dan batuan beku
intrusi dekat permukaan.
Berdasarkan komposisi mineral pembentuknya maka batuan beku dapat
dibagi menjadi empat kelompok, yaitu batuan beku ultramafik, batuan beku
mafik, batuan beku menengah dan batuan beku felsik. Istilah mafik ini sering
diganti dengan basa, dan istilah felsik diganti dengan asam, sekalipun tidak tepat.
Termasuk batuan beku dalam ultramafik adalah dunit, piroksenit, anortosit,
peridotit dan norit. Dunit tersusun seluruhnya oleh mineral olivin, sedang
piroksenit oleh piroksen dan anortosit oleh plagioklas basa. Peridotit terdiri dari
mineral olivin dan piroksen; norit secara dominan terdiri dari piroksen dan
plagioklas basa. Batuan beku luar ultramafik umumnya bertekstur gelas atau
vitrofirik dan disebut pikrit.
Batuan beku dalam mafik disebut gabro, terdiri dari olivin, piroksen
dan plagioklas basa. Sebagai batuan beku luar kelompok ini adalah basal. Batuan
beku dalam menengah disebut diorit, tersusun oleh piroksen, amfibol dan
plagioklas menengah, sedang batuan beku luarnya dinamakan andesit. Antara
andesit dan basal ada nama batuan transisi yang disebut andesit basal.
PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API
Page 13
TUGAS PETROLOGI I

Batuan beku dalam agak asam dinamakan diorit kuarsa atau


granodiorit, sedangkan batuan beku luarnya disebut dasit. Mineral penyusunnya
hampir mirip dengan diorit atau andesit, tetapi ditambah kuarsa dan alkali felspar,
sementara palgioklasnya secara berangsur berubah ke asam. Apabila alkali felspar
dan kuarsanya semakin bertambah dan palgioklasnya semakin asam maka sebagai
batuan beku dalam asam dinamakan granit, sedang batuan beku luarnya
adalah riolit. Di dalam batuan beku asam ini mineral mafik yang mungkin hadir
adalah biotit, muskovit dan kadang-kadang amfibol. Batuan beku dalam sangat
asam, dimana alkali felspar lebih banyak daripada plagioklas adalah sienit,
sedang pegmatit hanyalah tersusun oleh alkali felspar dan kuarsa.
Penambahan nama komposisi mineral tersebut umumnya diberikan
apabila persentase kehadirannya paling sedikit 10 %. Perkiraan persentase
kehadiran mineral pembentuk batuan (Tabel 2.1) dan tabel klasifikasi batuan beku
(Tabel 2.2) dapat membantu memberikan nama terhadap batuan beku.

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 14
TUGAS PETROLOGI I

Tabel 2.1 Diagram persentase untuk perkiraan komposisi


berdasarkan volume.

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 15
TUGAS PETROLOGI I

Tabel 2.2 Klasifikasi batuan beku (ODunn & Sill, 1986)

Gambar.1.7.
Afanitik
tekstur
PETROLOGI
BATUAN
BEKU DAN GUNUNG API
Page 16
TUGAS PETROLOGI I

Gambar 2.5. Contoh batuan beku. Sisi atas adalah batuan beku dalam, sisi
bawah merupakan batuan beku luar.
2.2.

BATUAN GUNUNG API

Lebih dari 80% permukaan bumi, baik di dasar laut hingga daratan
tersusun atas batuan gunung api. Di Indonesia saja, terdapat 128 gunung api aktif
yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dan sebanyak 84 di antaranya
menunjukkan aktivitas eksplosifnya sejak 100 tahun terakhir. Di samping itu,
batuan gunung api berumur Tersier atau yang lebih tua juga samgat melimpah di
permukaan, bahkan jauh lebih banyak dari pada batuan sedimen dan metamorf.

Gambar 2.6. Persebaran gunung api bumi Indonesia.


mengindikasikan bahwa Nusantara kaya
akan aktifitas ke-gunung apian.
Batuan gunung api (vulkanik) dihasilkan dari aktivitas vulkanisme.
Aktivitas vulkanisme tersebut berupa keluarnya magma ke permukaan bumi, baik
secara efusif (ekstrusi) maupun eksplosif (letusan). Batuan gunung api yang
keluar dengan jalan efusif mengahasilkan aliran lava, sedangkan yang keluar
dengan jalan eksplosif menghasilkan batuan fragmental (rempah gunung api).
PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API
Page 17
TUGAS PETROLOGI I

Batuan piroklastika adalah suatu batuan yang berasal dari letusan


gunungapi, sehingga merupakan hasil pembatuan daripada bahan hamburan atau
pecahan magma yang dilontarkan dari dalam bumi ke permukaan. Itulah sebabnya
dinamakan sebagai piroklastika, yang berasal dari kata pyro berarti api (magma
yang dihamburkan ke permukaan hampir selalu membara, berpendar atau berapi),
dan clast artinya fragmen, pecahan atau klastika.

Gambar 2.7. Skema asal batuan beku. batuan Gunung api/pyroklastika


merupakan hasil lontaran dari proses erupsi, seperti yang di tunjukan pada
angka 1.
Seperti Gambar 2.5 diatas, Magma yang merupakan lelehan panas, pijar,
dan relatif encer, dapat bergerak dan menerobos ke permukaan bumi melalui
rongga-rongga yang terbentuk oleh proses tektonik (bidang sesar). Selain berupa
padatan, magma juga mengandung uap air dan gas yang bervariasi komposisinya.
Kalau magma tersebut encer dan bertekanan tinggi, maka akan terjadi letusan
gunung api. Sumbat kepundan akan hancur dan terlempar ke sekitarnya dan

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 18
TUGAS PETROLOGI I

bersamaan dengan itu sebagian magma panas juga akan terlempar ke udara.
Akibat dari letusan tersebut terjadi proses pendinginan yang cepat, sehingga
magma akan membeku dengan cepat dan membentuk gelas (obsidian), tufa atau
abu halus, lapili dan bom (berupa batuapung dengan rongga-rongga gas). Material
yang halus (tufa) akan terlempar jauh dan terbawa angin ke tempat yang lebih
jauh, sedangkan bom, lapili, dan gelas, dan material-material lain yang berukuran
pasir dan kerikil akan jatuh di sekitar puncak gunung.
Dengan demikian, pada prinsipnya batuan piroklastika adalah batuan
beku luar yang bertekstur klastika. Hanya saja pada proses pengendapan,
batuan piroklastika ini mengikuti hukum-hukum di dalam proses pembentukan
batuan sedimen. Misalnya diangkut oleh angin atau air dan membentuk strukturstruktur sedimen, sehingga kenampakan fisik secara keseluruhan batuannya
seperti batuan sedimen. Pada kenyataannya, setelah menjadi batuan, tidak selalu
mudah untuk menyatakan apakah batuan itu sebagai hasil kegiatan langsung dari
suatu letusan gunungapi (sebagai endapan primer piroklastika), atau sudah
mengalami pengerjaan kembali (reworking) sehingga secara genetik dimasukkan
sebagai endapan sekunder piroklastika atau endapan epiklastika.

KLASIFIKASI BATUAN GUNUNG API


Menurut Pettijohn (1975), endapan gunung api fragmental bertekstur

halus dapat dikelompokkan dalam tiga kelas yaitu vitric tuff, lithic tuff dan
chrystal tuff. Menurut Fisher (1966), endapan gunung api fragmental tersebut
dapat dikelompokkan ke dalam lima kelas didasarkan atas ukuran dan bentuk
butir batuan penyusunnya.(Gambar 2.6) adalah klasifikasi batuan vulkanik

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 19
TUGAS PETROLOGI I

menurutkeduanya.

Gambar 2.8. Klasifikasi batuan gunung api fragmental menurut


Pettijohn (1975; kiri) dan Fisher (1966; kanan)
Tuf gelas, tuf kristal dan tuf litik, mengandung komponen yang dominan

masing-masing berupa gelas/kaca, kristal dan fragmen batuan. Tuf juga dapat
dibagi menjadi tuf basal, tuf andesit, tuf dasit dan tuf riolit, sesuai klasifikasi
batuan beku. Apabila klastikanya tersusun oleh fragmen batuapung atau skoria
dapat juga disebut tuf batuapung atau tuf skoria. Demikian pula untuk aglomerat
batuapung, aglomerat skoria, breksi batuapung, breksi skoria, batulapili batuapung
dan batulapili skoria. Berikut table klasifikasi batuan pyroklastika berdasarkan
ukuran butiran yang terkandung.

Ukuran

Nama butiran

butir

(klastika)

Nama batuan

> 64 mm

Bom gunungapi

Aglomerat

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 20
TUGAS PETROLOGI I

Breksi

2 64 mm

Blok/bongkah gunungapi

piroklastika

Lapili

Batulapili

Abu gunungapi kasar


1 2 mm

(pasir kasar)

Tuf kasar

< 1 mm

Abu gunungapi halus

Tuf halus

Tabel 2.3 Klasifikasi batuan piroklastika.


Sesuai table diatas, bom gunung api adalah klastika batuan gunungapi
yang mempunyai struktur-struktur pendinginan yang terjadi pada saat magma
dilontarkan dan membeku secara cepat di udara atau air dan di permukaan bumi.
Salah satu struktur yang sangat khas adalah struktur kerak roti (bread crust
structure). Bom ini pada umumnya mempunyai bentuk membulat, tetapi hal ini
sangat tergantung dari keenceran magma pada saat dilontarkan. Semakin encer
magma yang dilontarkan, maka material itu juga terpengaruh efek puntiran pada
saat dilontarkan, sehingga bentuknya dapat bervariasi. Selain itu, karena adanya
pengeluaran gas dari dalam material magmatik panas tersebut serta pendinginan
yang sangat cepat maka pada bom gunungapi juga terbentuk struktur vesikuler
serta tekstur gelasan dan kasar pada permukaannya.
Bom gunungapi berstruktur vesikuler di dalamnya berserat kaca dan
sifatnya ringan disebut batuapung (pumice). Batuapung ini umumnya berwarna
putih terang atau kekuningan, tetapi ada juga yang merah daging dan bahkan
coklat sampai hitam. Batuapung umumnya dihasilkan oleh letusan besar atau kuat
suatu gunungapi dengan magma berkomposisi asam hingga menengah, serta
relatif kental. Bom gunungapi yang juga berstruktur vesikuler tetapi di dalamnya
tidak terdapat serat kaca, bentuk lubang melingkar, elip atau seperti rumah lebah
disebut skoria (scoria). Bom gunungapi jenis ini warnanya merah, coklat sampai
hitam, sifatnya lebih berat daripada batuapung dan dihasilkan oleh letusan
gunungapi lemah berkomposisi basa serta relatif encer.

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 21
TUGAS PETROLOGI I

Gambar 2.9. Material Tefra. Dari kiri berurutan adalah Bomb, block,
laipili dan Ash/tuff
Bom gunungapi berwarna hitam, struktur masif, sangat khas bertekstur
gelasan, kilap kaca, permukaan halus, pecahan konkoidal (seperti botol pecah)
dinamakan obsidian. Blok atau bongkah gunungapi dapat merupakan bom
gunungapi yang bentuknya meruncing, permukaan halus gelasan sampai
hipokristalin dan tidak terlihat adanya struktur-struktur pendinginan. Dengan
demikian blok dapat merupakan pecahan daripada bom gunungapi, yang hancur
pada saat jatuh di permukaan tanah/batu. Bom dan blok gunungapi yang berasal
dari pendinginan magma secara langsung tersebut disebut bahan magmatik
primer, material esensial ataujuvenile). Blok juga dapat berasal dari pecahan
batuan dinding (batuan gunungapi yang telah terbentuk lebih dulu, sering disebut
bahan aksesori), atau fragmen non-gunungapi yang ikut terlontar pada saat letusan
(bahan aksidental).

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 22
TUGAS PETROLOGI I

Gambar 2.10. Contoh batuan gunung api. Dari kiri berurutan adalah
batu tuff, pumice, scoria, breaksi pyroklastik.

PARAMETER DESKRIPSI BATUAN GUNUNG API


a. Warna Batuan
Warna batuan berkaitan erat dengan komposisi mineral
penyusunnya.mineral penyusun batuan tersebut sangat dipengaruhi
oleh komposisi magma asalnya sehingga dari warna dapat
diketahui jenis magma pembentuknya, kecuali untuk batuan yang
mempunyai tekstur gelasan.
b. Tekstur Batuan
Pengertian tekstur batuan piroklastik mengacu pada
kenampakan butir-butir mineral yang ada di dalamnya, yang
meliputi Glassy dan Fragmental.
Pengamatan tekstur meliputi :

Glassy, Glassy adalah tekstur pada batuan piroklastik yang


nampak pada batuan tersebut ialah glass.

Fragmental, Faragmental ialah tekstur pada batuan


piroklastik yang nampak pada batuan tersebut ialah
fragmen-fragmen hasil letusan gunung api.

c. Struktur Batuan
Struktur adalah kenampakan hubungan antara bagian-bagian
batuan yang berbeda.pengertian struktur pada batuan beku
biasanya mengacu pada pengamatan dalam skala besar atau
singkapan dilapangan. Pada batuan beku struktur yang sering
ditemukan adalah:

Masif : bila batuan pejal, tanpa retakan ataupun lubanglubang gas

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 23
TUGAS PETROLOGI I

Vesikular : dicirikandengan adanya lubang-lubang


gas,sturktur ini dibagi lagi menjadi 3 yaitu:

Skoriaan : bila lubang-lubang gas tidak saling berhubungan.

Pumisan : bila lubang-lubang gas saling berhubungan.

Aliran : bila ada kenampakan aliran dari kristal-kristal


maupun lubang gas.

Amigdaloidal : bila lubang-lubang gas terisi oleh mineralmineral sekunder.


d. Derajat Kristalisasi
Derajat kristalisasi mineral dalam batuan beku, terdiri atas
3 yaitu :

Holokristalin, Tekstur batuan beku yang


kenampakan batuannya terdiri dari keseluruhan mineral
yang membentuk kristal, hal ini menunjukkan bahwa proses
kristalisasi berlangsung begitu lama sehingga
memungkinkan terbentuknya mineral - mineral dengan
bentuk kristal yang relatif sempurna.

Hipokristalin, Tekstur batuan yang yang


kenampakannya terdiri dari sebagaian mineral membentuk
kristal dan sebagiannya membentuk gelas, hal ini
menunjukkan proses kristalisasi berlangsung relatif lama
namun masih memingkinkan terbentuknya mineral dengan
bentuk kristal yang kurang.

Holohyalin, Tekstur batuan yang kenampakannya


terdiri dari mineral yang keseluruhannya berbentuk gelas,
hal ini menunjukkan bahwa proses kristalisasi magma
berlangsung relatif singkat sehingga tidak memungkinkan
pembentukan mineral - mineral dengan bentuk yang
sempurna.
e. Ukuran Batuan

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 24
TUGAS PETROLOGI I

Ukuran batuan yang dihasilkan dari letusan gunung api


terbagi menjadi 4, antara lain :

Bomb ( d > 64 mm), Bomb adalah gumpalanlava yang mempunyai ukuran lebih besar dari 64 mm.

Block (d > 64 mm), Block adalah batuan piroklastik


yang dihasilkan oleh erupsi eksplosif dari fragmen batuan
yang sudah memadat lebih dulu. ukuran > dari 64 mm.

Lapili (d = 2 64 mm), Lapili berasal dari bahasa


latin lapillus, yaitu nama untuk hasil erupsi ekplosif gunung
api yang berukuran 2 mm 64 mm.

Debu / ash (d < 2 mm), batuan piroklastik yang


berukuran 2 mm 1/256 mm,dihasilkan oleh pelemparan
dari magma akibat erupsi ekplosif.

Bentuk Batuan Piroklastik,Bentuk batuan dalam


batuan piroklastik sama halnya dengan teksturnya, antara
lain :
-

Glassy, adalah bentuk tekstur pada batuan


piroklastik yang nampak pada batuan tersebut ialah

glass.
Fragmental, ialah bentuk tekstur pada batuan
piroklastik yang nampak pada batuan tersebut ialah
fragmen-fragmen hasil letusan gunung api.

BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 25
TUGAS PETROLOGI I

Petrologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan geologi yang


mempelajari batuan pembentuk kulit bumi, mencakup aspek pemerian (deskripsi)
dan aspek genesa-interpretasi. Pengertian luas dari petrologi adalah mempelajari
batuan secara mata telanjang, secara optik/ mikroskopis, secara kimia dan radio
isotop.
Batuan beku (Igneous Rock) adalah batuan yang terbentuk dari
kristalisasi atau pembekuan dari magma. Pembekuan ini dapat berlangsung di
permukaan atau jauh di bawah permukaan. Perbedaan tempat pembentukan ini
pada ahirnya akan digunakan dalam klasifikasi dan mempengaruhi sifat-sifat
batuan yang terbentuk. Batuan beku yang terbentuk di permukaan disebut batuan
volkanik (ekstrusif) dan yang terbentu di jauh di bawah permukaan bumi disebut
batuan plutonik (intrusif).
Batuan piroklastika adalah suatu batuan yang berasal dari letusan
gunungapi, sehingga merupakan hasil pembatuan daripada bahan hamburan atau
pecahan magma yang dilontarkan dari dalam bumi ke permukaan. dinamakan
piroklastika, berasal dari kata pyro= api dan clast= fragmen/ pecahan/ klastika.

DAFTAR PUSTAKA

INTERNET:

Wingmanarrow.com. 2012. Petrologi. (online)

https://wingmanarrows.wordpress.com/geological/petrologi/. Diakses:
23 Maret 2015.

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 26
TUGAS PETROLOGI I

Jojoeblogspot.com. 2011. Petrologi. (online)

http://jojogeos.blogspot.com/2012/12/petrologi.html. Diakses: 23 Maret

2015
Wingmanarrow.com. 2012. Batuan beku. (online)

https://wingmanarrows.wordpress.com/geological/petrologi/batuan-beku/.

Diakses: 23 Maret 2015.


Wingmanarrow.com. 2012. Petrografi batuan beku. (online)

https://wingmanarrows.wordpress.com/2012/05/27/petrografi-bab-vipetrografi-batuan-vulkanik-sedimen-dan-metamorf/. Diakses: 26 Maret

2015.
Tambanggunp.com. 2011. Batuan pyroklastik. (online)
http://tambangunp.blogspot.com/2013/07/batuan-piroklastik.html. Diakses
26 Maret 2015.

PETROLOGI BATUAN BEKU DAN GUNUNG API


Page 27
TUGAS PETROLOGI I