Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat tumbuh dimana
saja dan jenisnya bermacam-macam. Kista yang berada di dalam atau permukaan ovarium
(indung telur) disebut kista ovarium atau tumor ovarium.1
Di antara tumor-tumor ovarium ada yang bersifat neoplastik dan ada yang bersifat
nonneoplastik. Tentang tumor-tumor neoplastik belum ada klasifikasi yang dapat
diterima oleh semua pihak. Hal ini terjadi oleh karena klasifikasi berdasarkan
histopatologi atau embriologi belum dapat diberikan seeara tuntas berhubung masih
kurangnya pengetahuan kita mengenai asal-usul beberapa tumor, dan pula berhubungan
dengan adanya kemungkinan bahwa tumor-tumor yang sarna rupanya mempunyai asal yang
berbeda. Maka atas pertimbangan praktis, tumor-tumor neoplastik dibagi atas tumor jinak dan
tumor ganas, dan selanjutnya tumor jinak dibagi dalam tumor kistik dan tumor solid.
D

i bawah ini tumor-tumor dibagi dalam tumor-tumor non neoplastik dan tumor- tumor

neoplastik jinak, dan selanjutnya tumor-tumor neoplastik jinak dalam tumor-tumor kistik dan
tumor-tumor solid.

(1,2,3,4)

Tumor Non Neoplastik1


1. Tumor akibat radang
2. Tumor lain
a. Kista folikel
Kista ini berasal dari folikel de Graaf yang tidak sampai berovulasi, namun
tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang
setelah bertumbuh dibawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia
yang lazim, melainkan memebesar menjadi kista.
b. Kista korpusluteum
Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan menjadi
korpus albikans. Kadang-kadang korpus luteum mempertahan diri, perdarahan
yang sering terjadi didalamnya menyebabkan terjadinya kista, berisi cairan
yang berwarna merah cokelat karena darah tua.
c. Kista lutein
Disebabkan karena meningkatnya kadar HCG terdapat pada mola hidatidosa.
d. Kista inklusi germinal
Kista ini terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian kecil dari epitel
germinativum pada permukaan ovarium.
e. Kista endometrium
Kista ini endometriosis yang berlokasi di ovarium
f. Kista Stein-Leventhal
2

Disebabkan

karena

peningkatan

kadar

LH

yang

menyebabkan

hiperstimuliovarium.
Tumor Neoplastik Jinak1
1. Kistik
a. Kistoma ovarii simpleks
Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai, seringkali
billateral, dan dapat menjadi besar
b. Kistadenoma ovarii serosum
Para penulis berpaendapat bahwa kista ini berasal dari epitel permukaan
ovarium (germinal epithelium).
c. Kistadenoma ovarii musinosum
Asal tumor ini belum diketahui pasti namun diperkirakan berasal dari suatu
teratoma dimana dalam pertumbuhannya satu elemen mengalahkan elemenelemen lain.
d. Kista endometroid
Kista ini biasanya unilateral dengan permukaan licin, pada dinding
dalamterdapat

satu

lapisan

sel-sel,

yang

menyerupai

lapisan

epitel

endometrium.
e. Kista dermoid
Sebenernya kista dermoid adalah satu teratoma kistik yang jinak di
manastruktur-struktur ektodermal dengan diferensiasi sempurna, seperti epitel
kulit,rambut, gigi, dan produk glandula sebasea.
2. Solid
a. Fibroma, leiomioma, fibroadenoma, papiloma, angioma, limfangioma.
b. Tumor Brenner.
c. Tumor sisa adrenal (maskulinovo-blastoma).
Gambaran Tumor Ovarium secara Umum
Klinik tumor ovarium2
Banyak tumor ovarium tidak menunjukkan gejala dan tanda, terutama tumor ovarium
yang kecil. Sebagian besar gejala dan tanda adalah akibat dari pertumbuhan, aktivitas
endokrin, atau komplikasi tumor-tumor tersebut.
Akibat pertumbuhan2
Adanya tumor di dalam perut bagian bawah bisa menyebabkan pembenjolan perut.
Tekanan terhadap alat-alat di sekitarnya disebabkan oleh besarnya tumor atau posisinya

dalam perut. Misalnya, sebuah kista deemoid yang tidak seberapa besar, tetapi terletak di
depan uterus dapat menekan kandung kencing dan dapat menimbulkan gangguan miksi,
sedang suatu kista yang lebih besar terapi terletak bebas di rongga perut kadang-kadang
hanya menimbulkan rasa berat dalam perut. Selain gangguan miksi, tekanan tumor dapat
mengakibatkan obstipasi, edema pada tungkai. Pada tumor yang besar dapat rerjadi tidak
nafsu makan, rasa sesak dan lain-lain.
Akibat aktivitas hormonal2
Pada umumnya tumor ovarium tidak mengubah pola haid, kecuali jika tumor itu
sendiri mengeluarkan hormon. Seperti akan diterangkan pada pembicaraan tumor ganas,
sebuah tumor sel granulosa dapat menimbulkan hipermenorea, dan arhenoblastoma dapat
menyebabkan amenorea.
Akibat komplikasi2
Perdarahan ke dalam kista biasanya terjadi sedikit-sedikit, sehingga berangsur- angsur
menyebabkan pembesaran kista, dan hanya menimbulkan gejala-gejala klinik yang
minimal. Akan tetapi, kalau perdarahan terjadi sekonyong-konyong dalam jumlah yang
banyak, akan terjadi distensi cepat dari kista yang menimbulkan nyeri perut mendadak.
Putaran tangkai dapat terjadi pada tumor bertangkai dengan diameter 5 cm atau lebih
akan tetapi yang belum amat besar sehingga terbatas gerakannya. Kondisi yang
mempermudah terjadinya torsi ialah kehamilan karena pada kehamilan uterus yang membesar
dapat mengubah letak tumor, dan karena sesudah persalinan dapat terjadi perubahan
mendadak dalam rongga perut.2
P

utaran tangkai menyebabkan gangguan sirkulasi meskipun gangguan ini jarang

bersifat total. Adanya putaran tangkai menimbulkan tarikan melalui ligamentum


infundibulopelvikum terhadap peritoneum parietale dan ini menimbulkan rasa sakit. Perlu hal
ini diperhatikan pada pemeriksaan. Karena vena lebih mudah tertekan, terjadilah
pembendungan darah dalam tumor dengan akibat pembesaran tumor dan terjadinya
perdarahan di dalamnya. Jika putaran tangkai berjalan terus, akan terjadi nekrosis hemoragik
dalam tumor, dan jika tidak diambil tindakan, dapat terjadi robekan dinding kista dengan
perdarahan intraabdominal atau peradangan sekunder. Bila putaran tangkai terjadi perlahanlahan, tumor dapat melekat pada omentum, yang membuat sirkulasi baru untuk tumor
tersebut. Tumor mungkin melepaskan diri dari uterus dan menjadi tumor parasit atau

tumor pengembara.

(1,2,5,6,8)

lnfeksi pada tumor terjadi jika dekat pada tumor ada sumber kuman patogen, seperti
appendisitis, divertikulitis, atau salpingitis akuta. Kista dermoid cenderung mengalami
peradangan disusul dengan pernanahan.2
Robek dinding kista terjadi pada torsi tangkai, akan tetapi dapat pula sebagai
akibat trauma, seperti jatuh, atau pukulan pada perut, dan lebih sering pada waktu
persetubuhan. Kalau kista hanya mengandung cairan serus, rasa nyeri akibat robekan dan
iritasi peritoneum segera mengurang. Terapi, kalau terjadi robekan pada kista disertai
hemoragi yang timbul secara akut, maka perdarahan bebas dapat berlangsung terus ke dalam
rongga peritoneum, dan menimbulkan rasa nyeri terus-menerus disertai tanda- tanda
abdomen akut.2
Robekan dinding pada kistadenoma musinosum dapat mengakibatkan implantasi selsel kista pada peritoneum. Sel-sel tersebut mengeluarkan cairan musin yang mengisi rongga
perut dan menyebabkan perlekatan-perlekatan dalam rongga perut. Keadaan ini dikenal
dengan nama pseudomiksoma pentonel.2
Perubahan keganasan dapat terjadi pada beberapa kista jinak, seperti kistadenoma
ovarii serosum, kistaclenoma ovarii musinosum. dan kista dermoid. Oleh sebab itu,
setelah tumor-tumor tersebut diangkat pada operasi, perlu dilakukan pemeriksaan
mikroskopik yang seksama terhadap kemungkinan perubahan keganasan. Adanya asites
dalam hal ini mencurigakan ; adanya anak sebar (metastasis) memperkuat diagnosis
keganasan.2

Sindrom Meigs
Dalam 40% dari kasus-kasus fibroma ovarii ditemukan asites dan hidrotoraks.
Keadaan ini dikenal dengan nama Sindrom Meigs dan dapat ditemukan pula pada beberapa
tumor neoplastik jinak lain. Dengan pengangkatan tumor, sindrom juga menghilang. Cairan
dari rongga toraks berasal cari cairan dalam rongga perut. Hal ini dapat dibuktikan dengan
penyuntikan tinta India dalam rongga perut, yang kemudian dapat ditemukan dalam
rongga toraks.2
Sindrom Meigs perlu dibedakan dari asites dengan atau tanpa hidrotoraks, yang
ditemukan pada tumor ganas. Dalam hal yang terakhir ditemukan sel-sel tumor ganas dalam
sedimen cairan.2
Diagnosis3
Apabila pada pemeriksaan ditemukan tumor di rongga perut bagian bawah dan / atau
di rongga panggul, maka setelah diteliti sifat-sifatnya (besarnya, lokalisasi, permukaan,
konsistensi, apakah dapat digerakkan atau tidak), perlulah ditentukan jenis tumor tersebut.
Pada tumor ovarium biasanya uterus dapat diraba tersendiri, terpisah dari tumor ; dalam hal
ini mioma subserosum atau mioma intraligamenter dapat menimbulkan kesulitan dalam
diagnosis. Jika tumor ovarium terletak di garis, tengah dalam rongga perut bagian bawah
dan tumor itu konsistensinya kistik, perlu dipikirkan adanya kehamilan atau kandung
kencing penuh. Umumnya dengan memikirkan kemungkinan ini, pada pengambilan
anamnesis yang cermat dan disertai pemeriksaan tambahan, kemungkinan-kemungkinan ini
dapat disingkirkan.
Tumor-tumor yang bukan dari ovarium tetapi terletak di daerah pelvis ialah antara lain
ginjal ektopik, limpa betangkai dan tumor dari kolon sigmoideum. Pemeriksaan
pielogram intravena dan pemasukan bubur barium dalam kolon dapat menentukan ada
tidaknya kemungkinan itu.
Di negara-negara berkembang, karena tidak segera dioperasi tumor ovarium bisa
menjadi besar, sehingga mengisi seluruh rongga perut. Dalam hal ini kadang-kadang
sukar untuk menentukan apakah pembesaran perut disebabkan oleh tumor atau asites,
akan tetapi dengan pemeriksaan yang dilakukan dengan teliti, kesukaran ini biasanya
dapat diatasi. Jika terdapat asites, perlu ditentukan sebab asites. Fibroma ovarii (sindrom
Meigs) dan tumor ovarium ganas dapat menyebabkan asites, akan tetapi asites dapat pula
disebabkan oleh penyakit lain, seperti sirrosis hepatis. Pemeriksaan bimanual sebelum
atau sesudah fungsi asites bisa memberi petunjuk apakah ia disebabkan oleh tumor ovarium.

Pemeriksaan kimiawi cairan dan pemeriksaan hisrologik sedimen cairan dapat membantu
dalam pembuatan diagnosis. Pada tuberkulosis peritonei terdapat pula cairan dalam rongga
perut, akan tetapi di sini cairan tidak bergerak dengan bebas seperti pada asites, karena
dibatasi oleh perlekatan-perlekatan.
Apabila sudah ditentukan bahwa tumor yang ditemukan ialah tumor ovarium,
maka perlu diketahui apakah tumor itu bersifat neoplastik atau nonneoplastik. Tumor
nonneoplastik akibat peradangan umumnya dalam anamnesis menunjukkan gejala-gejala ke
arah peradangan genital, dan pada pemeriksaan tumor-tumor akibat peradangan tidak dapat
digerakkan karena perlekatan. Kista nonneoplastik umumnya tidak menjadi besar, dan di
antaranya pada suatu waktu biasanya rnenghilang sendiri.
Jika tumor ovarium itu bersifat neoplastik, timbul persoalan apakah tumornya
jinak atau ganas. Tidak jarang tentang hal ini tidak dapat diperoleh kepastian sebelum
dilakukan operasi, akan tetapi pemeriksaan yang cermat dan analisis yang tajam dari gejalagejala yang ditemukan dapat membantu dalam pembuatan diagnosis diferensial.
Metoda-metoda yang selanjutnya dapat menolong dalam pembuatan diagnosis
yang tepat ialah antara lain:
1. Laparoskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor
berasal dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan sifat-sifat tumor itu.
2. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor, apakah tumor
berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau solid,
dan dapat dibedakan pula antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang
tidak.
3. Foto Roentgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks. Selanjutnya,
pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat adanya gigi dalam tumor.
Penggunaan foto Roentgen pada pielogram intravena dan pemasukan bubur barium
dalam kolon sudah disebut di atas.
4. Parasentesi
Telah disebut bahwa fungsi pada asites berguna untuk menemukan sebab asites.
Perlu

diingatkan

bahwa

tindakan

tersebut

dapat

mencemarkan

kavum

peritonei dengan isi kista bila dinding kista tertusuk.


Penanganan3
Dapat dipakai sebagai prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan

operasi dan tumor nonneoplastik tidak. Jika menghadapi tumor ovarium yang tidak memberi
gejala/keluhan pada penderita dan yang besarnya tidak melebihi jeruk nipis dengan diameter
kurang dari 5 cm, kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau kista korpus
luteum, jadi tumor nonneoplastik. Tidak jarang tumor-tumor tersebut mengalami pengecilan
secara spontan dan menghilang, sehingga pada pemeriksaan ulangan setelah beberapa minggu
dapat ditemukan ovarium yang kira-kira besarnya normal. Oleh sebab itu, dalam hal ini
hendaknya diambil sikap menunggu selama 2 sampai 3 bulan, sementara mengadakan
pemeriksaan ginekologik berulang. Jika selama waktu observasi dilihat peningkatan dalam
pertumbuhan tumor tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar
tumor itu bersifat neoplastik, dan dapat dipertimbangkan satu pengobatan operatif.
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan
tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Akan
tetapi, jika tumornya besar atau ada komplikasi, perlu dilakukan pengangkatan ovarium,
biasanya disertai dengan pengangkatan tuba (salpingooforektomi). Pada saat operasi kedua
ovarium harus diperiksa untuk mengetahui apakah tumor ditemukan pada satu atau pada dua
ovarium. Pada operasi tumor ovarium yang diangkat harus segera dibuka, untuk mengetahui
apakah ada keganasan atau tidak. Jika keadaan meragukan, perlu pada waktu operasi
dilakukan pemeriksaan sediaan yang dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli patologi
anatomik untuk mendapat kepastian apakah tumor ganas atau tidak.
Jika

terdapat

keganasan,

operasi

yang

tepat

ialah

histerektomi

dan

salpingoooforektomi bilateral. Akan tetapi, pada wanita muda yang masih ingin mendapat
keturunan dan, dengan tingkat keganasan tumor yang rendah (misalnya tumor sel granulosa),
dapat dipertanggung-jawabkan untuk mengambil risiko dengan melakukan operasi yang tidak
seberapa radikal.
KISTA OVARIUM TERPUNTIR
Definisi4,5,8
Torsi atau puntiran kista ovarium terjadi bila kista terpuntir pada tangkai vaskularnya
dan mengganggu suplai darah. Kista dan ovarium (dan sering diikuti sebagian tuba)
mengalami nekrosis.
Kista ovarium terpuntir merupakan penyebab nyeri abdomen bagian bawah yang jarang
namun signifikan pada wanita. Presentasi klinisnya sering tidak spesifik dengan temuan fisik
tidak khas, biasanya menimbulkan keterlambatan diagnosis dan penanganan bedah.

Etiologi dan Faktor Risiko4,5


Perubahan anatomis yang mempengaruhi berat dan ukuran ovarium dapat mengubah
posisi tuba fallopi dan menimbulkan puntiran. Kehamilan kadang-kadang
menyebabkan kista terpuntir, sekunder terhadap pembesaran ovarium yang terjadi
selama ovulasi dengan kelemahan jaringan penyokong ovarium.
Malformasi kongenital dan pemanjangan tuba fallopi dapat ditemukan pada sebagian
pasien prepubertas muda.
Tumor ovarium.

Menyebabkan lebih dari setengah kasus torsi adnexa. Tumor

dermoid adalah yang paling sering. Tumor ganas lebih jarang daripada tumor jinak.
Hal ini disebabkan perlekatan kanker yang memfiksir ovarium ke jaringan sekitar.
Pasien dengan riwayat pembedahan pelvis (terutama ligasi tuba) memiliki resiko
lebih tinggi terhadap kista terpuntir.
Epidemiologi4,5
Kista ovarium terpuntir dapat terjadi pada berbagai usia, namun umumnya terjadi pada
awal usia reproduksi. Hampir 17% kasus ditemukan pada wanita premenarche dan
postmenopause. Usia median adalah 28 tahun dengan persentasi pasien berusia <30 tahun
mencapai 70-75%.

Patofisiologi6
Kista ovarium terpuntir secara klasik terjadi unilateral pada ovarium yang membesar
patologis. Ireguleritas ovarium menimbulkan fulcrum di sekitar tuba yang terlibat. Proses
tersebut dapat berlangsung pada ovarium saja tapi lebih sering mempengaruhi kedua ovarium
dan tuba (adnexa terpuntir). Hampir 60% torsi terjadi pada sisi kanan.
Berbagai faktor mempengaruhi perjalanan kista ovarium terpuntir. Kista ovarium
terpuntir normalnya paling sering terjadi pada usia muda, dimana abnormalitas perkembangan
misalnya tuba yang panjang atau ketiadaan mesosalfing mungkin berperan. Faktanya, kurang
dari setengah terpuntirnya ovarium pada pasien anak melibatkan kista, teratoma, atau massa
lainnya. Selama hamil muda, adanya pembesaran kista korpus luteum mungkin merupakan
predisposisi terpuntirnya kista. Wanita yang menjalani induksi ovulasi untuk infertilitas
memiliki resiko lebih besar, dimana adanya kista teka lutein memperbesar volume ovarium

10

secara bermakna.
Tumor ovarium, jinak maupun ganas berimplikasi pada 50-60% kasus. Massa yang
terlibat hampir seluruhnya lebih besar dari 4-6 cm, walaupun juga mungkin terjadi pada
massa berukuran lebih kecil.
Diagnosis6,7
a. Anamnesis
Pasien datang dengan onset mendadak, nyeri abdomen bagian bawah unilateral
yang memburuk secara intermiten dalam beberapa jam. Hampir 25% pasien mengalami
nyeri bilateral kuadran bawah yang dideskripsikan sebagai nyeri tajam atau lebih jarang
berupa kram.
Mual muntah terjadi pada hampir 70% pasien, menyerupai nyeri yang berasal dari
traktus gastrointestinal dan menyulitkan diagnosis. Riwayat penyakit yang sama
sebelumnya mungkin membantu sehubungan dengan adanya torsi yang membaik secara
spontan. Demam mungkin merupakan temuan akhir bila ovarium mengalami nekrosis.
Onset selama latihan fisik atau gerakan aktif lainnya umum terjadi.
b. Pemeriksaan Fisik6,7
Pada pemeriksaan fisik biasanya ditemukan massa adnexa kenyal, unilateral,
dilaporkan pada 50-90% kasus. Walaupun tidak adanya temuan ini tetap tidak dapat
menyingkirkan diagnosis.
Nyeri tekan umum ditemukan; tetapi cukup ringan pada 30% pasien. Oleh karena
itu, tidak adanya nyeri tekan tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan kista ovarium
terpuntir. Nyeri lepas dan muscle rigidity dapat ditemukan dan sering sulit dibedakan
dari abses pelvis atau apendisitis.
Temuan massa ovarium mungkin mengarahkan, namun bisa menyesatkan asal
sumber nyeri. Karena massa yang terlibat biasanya non-neoplasma atau kista
hemoragik, yang memang menimbulkan nyeri pada lokasi dan dengan kualitas yang
sama.
Pada pemeriksaan fisik, apabila kistanya kecil, pecahnya kista biasanya tidak
disadari. Bila besar, atau terdapat perdarahan dari kista, pecahnya kista dapat disertai
nyeri. Nyeri awalnya hanya pada satu sisi, kemudian menyebar ke seluruh pelvis.
Terjadi pada torsi tangkai kista ovarium dan karena trauma seperti jatuh, diurut,
pukulan pada perut, koitus. Apabila kista hanya mengandung cairan serous, rasa nyeri

11

akibat robekan dan iritasi peritonium tidak begitu hebat, tapi robekan pada dinding kista
disertai perdarahan yang timbul mendadak dan berlangsung terus menerus kedalam
rongga abdomen, maka akan menimbulkan gejala nyeri yang terus menerus dengan akut
abdomen.
Pada kista pecah, misalnya pada kista coklat/kista endometriosis, pecahnya kista
terjadi akibat perlekatan-perlekatan yang bersifat infiltratif dan makin menipisnya
dinding kista karena makin bertambahnya darah yang menumpuk dalam rongga kista.
Gejala klinis berupa nyeri pelvis sampai seluruh abdomen. Nyeri dan rasa tidak
nyaman dapat menjadi lebih berat dan perdarahan juga dapat terjadi setelah kista pecah.
Nyeri sangat mendadak, tajam, dan dapat meningkat dengan adanya aktivitas. Selain itu
dapat terjadi perdarahan, baik ringan maupun berat. Apabila terjadi perdarahan berat
atau hemoperitoneum, dapat menimbulkan sinkop.
Pada pemeriksaan abdomen dapat ditemukan nyeri tekan dan nyeri lepas, akibat
adanya iritasi peritoneum. Abdomen dapat terdistensi dengan adanya penurunan bising
usus. Pada pemeriksaan pelvis, seringkali ditemukan massa kista yang pecah namun
belum mengalami ruptur secara menyeluruh. Demam dan leukositosis jarang
ditemukan. Penurunan hematokrit terjadi hanya jika perdarahan terus berlangsung.
c.

Pemeriksaan penunjang6,7
USG adalah modalitas pencitraan utama untuk pasien yang dicurigai
mengalami kista ovarium terpuntir. Pembesaran ovarium sekunder terhadap
kerusakan drainase vena dan limfatik adalah temuan paling umum pada kista
ovarium terpuntir.
Kombinasi Doppler flow imaging dengan penentuan morfologik ovarium dapat
meningkatkan akurasi diagnosis; membantu memperkirakan viabilitas struktur
adneksa dengan menggambarkan aliran darah pada pedikel yang terpuntir dan
adanya aliran vena sentral.
Computed tomography dapat menggambarkan pembesaran ovarium dan massa
adneksa, tapi tidak dapat mengevaluasi da tidaknya aliran darah ke ovarium
yang terlibat. CT dapat berguna dalam menyingkirkan penyebab lain nyeri
abdomen

bawah

bila

diagnosis

menyingkirkan adanya massa pelvis.


Tatalaksana9

tidak

dapat

ditentukan.

CT

dapat

12

Pembedahan dilakukan untuk menghilangkan jaringan nekrotik. Jika pembedahan tidak


dapat dilakukan, bedrest, cairan intravena, dan analgesik dapat memberikan hasil yang
memuaskan, walaupun membutuhkan waktu yang lebih lama. Dapat digunakan obat-obatan
untuk mengatasi gejala yang muncul seperti penggunaan antiemetik/ sedatif.
Pada umumnya kista pecah memerlukan terapi pembedahan, baik berupa laparoskopi
maupun laparotomi. Kuldosentesis dapat membantu dalam menentukan penyebab peritonitis,
misalnya darah segar menunjukkan dari korpus luteum, darah berwarna coklat berasal dari
endometriosis (kista coklat), cairan kental berminyak dari teratoma, cairan purulen dari PID
(Pelvic Inflammatory Disease) atau abses tuboovarian.
Komplikasi7,8
Infeksi
Peritonitis
Sepsis
Adhesi
Nyeri kronis
Infertilitas
Prognosis7,8
Baik dengan diagnosis dini dan penanganan tepat.