Anda di halaman 1dari 17

ETIKA PEMASARAN

Prinsip Etika Bisnis


Secara umum, prinsip-prinsip yang berlaku dalam bisnis yang baik
sesungguhnyatidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sebagai
manusia, dan prinsip-prinsip ini sangat eratterkait dengan sistem nilai
yang dianut oleh masing-masing masyarakat.Sonny Keraf (1998)
menjelaskan, bahwa prinsip etika bisnis sebagai berikut;
1. Prinsip Otonomi, yaitu kemampuan mengambil keputusan dan
bertindak
berdasarkan kesadaran tentang apa yang baik untuk
dilakukan dan bertanggung jawab secara moral atas keputusan yang
diambil.
2. Prinsip Kejujuran, bisnis tidak akan bertahan lama apabila tidak
berlandaskankejujuran karena kejujuran merupakan kunci keberhasilan
suatu bisnis (missal,kejujuran dalam pelaksanaan kontrak, kejujuran
terhadap konsumen, kejujurandalam hubungan kerja dan lain-lain).
3. Prinsip Keadilan, bahwa tiap orang dalam berbisnis harus mendapat
perlakuanyang sesuai dengan haknya masing-masing, artinya tidak ada
yang bolehdirugikan haknya.
4. Prinsip Saling Mengutungkan, agar semua pihak berusaha untuk
salingmenguntungkan, demikian pula untuk berbisnis yang kompetitif.
5. Prinsip Integritas Moral, prinsip ini merupakan dasar dalam berbisnis
dimana para pelaku bisnis dalam menjalankan usaha bisnis mereka
harus menjaga nama baik
perusahaan agar tetap dipercaya dan
merupakan perusahaan terbaik

Konsep Etika dalam Pemasaran


3 konsep etika dalam pemasaran menurut John R. Boatright adalah :
1. Fairness (Justice)Fairness menjadi pusat perhatian karena menjadi
kebutuhan yang paling dasar daritransaksi pasar. Setiap pertukaran
atau transaksi dianggap fair atau adil ketika satusama lain memberikan
keuntungan (mutually beneficial) dan memberikaninformasi yang
memadai. Namun, pemberian informasi dalam transaksi ini masih
diragukan. Hal inidisebabkan karena penjual tidak memiliki kewajiban
untuk
menyediakan
semua
informasi
yang
relevan
kepada
pembeli/pelanggan, dan pembeli memiliki suatukewajiban untuk
diinformasikan mengenai apa yang dibelinya.Pertanyaan mengenai
siapa yang memiliki kewajiban menyangkut informasi initerbagi menjadi
2 doktrin tradisional dalam pemasaran, yaitu caveat emptor (biarkan
pembeli berhati hati) dan caveat venditor (biarkan penjual berhati
hati).
2. FreedomFreedom berarti memberikan jangkauan pada pilihan
konsumen. Freedom dapatdikatakan tidak ada apabila pemasar
melakukan praktik manipulasi, danmengambil keuntungan dari populasi
yang tidak berdaya seperti anak anak,orang orang miskin, dan kaum
lansia.
3. Well-being Suatu pertimbangan untuk mengevaluasi dampak social
dari produk dan juga periklanan, dan juga product safety.

ETIKA PROMOSI
Promosi atau iklan sesungguhnya mempunyai fungsi memberikan
informasi yang lengkap dan akurat kepada masyarakat tentang
sesuatu yang dipromosikan.
Unsur promosi dalam bauran
pemasaran, harus memiliki peran yang benar, yang dapat diukur
dengan kritria sebagai berikut :
1. Sebagai sarana menyampaikan informasi yang benar dan obyektif
tentang kandungan atau komposisi barang yang dipromosikan;
2. Sebagai fungsi menjelaskan fungsi manfaat positif barang bagi
manusia;
3. Sebagai sarana memberikan image yang benar terhadap
perusahaan;
4. Tidak ada unsur maksud memperdaya atau memanipulasi
terhadap masyarakat konsumen;
5. Selalu berpedoman pada prinsip-prinsip kejujuran;
6. Bermaksud tidak mengecewakan konsumen dalam arti
memberikan kepuasan yang terpercaya.
Unsur kejujuran sesuai dengan realita barang yang dipromosikan
justru merupakan kunci dalam etika promosi.

Prinsip Etika dalam bauran pemasaran, dapat diklasifikasikan sebagai


berikut
1. Etika pemasaran dalam kontek produk :
a. Produk yang berguna dan dibutuhkan;
b. Produk yang berpotensi ekonomi atau benefit;
c. Produk yang bernilai tambah yang tinggi;
d. Dalam jumlah yang berskala ekonomi dan sosial;
e. Produk yang dapat memuaskan masyarakat.
2. Etika pemasaran dalam konteks harga :
a. Beban cost produksi yang wajar;
b. Sebagai alat kompetisi;
c. Diukur dengan kemampuan daya beli masyarakat;
d. Margin perusahaan yang layak;
e. Sebagai alat daya tarik bagi konsumen.
3. Etika pemasaran dalam kontek distribusi :
a. Kecepatan dan ketepatan waktu;
b. Keamanan dan keutuhan barang;
c. Sarana kompetisi memberikan pelayanan kepada masyarakat;
d. Konsumen mendapat palayanan tepat dan cepat.
4. Etika pemasaran dalam konteks promosi :
a. Sarana memperkenalkan barang;
b. Informasi kegunaan dan kualifikasi barang.
c. Sarana daya tarik barang terhadap konsumen;
d. Informasi fakta yang ditopang kejujuran.

Laba (keuntungan) yang didapatkan tersebut dapat digunakan untuk


mempertahankan diri dan memenuhi kebutuhan.Walaupun tujuan utama
dari bisnis itu adalah mendapatkan keuntungan yang sebesar
besarnya (maximum profit), bukan berarti organisasi yang menjalankan
bisnis tersebutdapat menghalalkan segala cara yang mereka tempuh.
Bisnis yang dijalankan harusmenjunjung etika .Etika adalah suatu
cabang dari filosofi yang berkaitan dengan kebaikan (rightness)atau
moralitas (kesusilaan) dari perilaku manusia.
Etika bisnis adalah standar-standar nilai yang menjadi pedoman atau
acuan manajer dan segenap karyawan dalam pengambilan keputusan
dan mengoperasikan bisnis yang etik. Paradigma etika dan bisnis
adalah dunia yang berbeda sudah saatnya dirubah menjadi paradigma
etika terkait dengan bisnis atau mensinergikan antara etika dengan laba.
Justru diera kompetisi yang ketat ini, reputasi perusahaan yang baik
yang dilandasi oleh etika bisnis merupakan sebuah competitive
advantage yang sulit ditiru. Para manajer pun kini menyadari bahwa
hanya bisnis yang beretikalah yang mampu bertahan. Bahkan etika itu
sendiri kini diyakini dapat menjadi sumber keuntungan jangka panjang
bagi perusahaan. sehingga etika dan laba dapat diselaraskan dalam
berbisnis

Norma & Etika Umum dalam bidang Pemasaran


Etika pemasaran dalam konsep produk
a. Produk yang dibuat berguna dan dibutuhkan masyarakat.
b. Produk yang dibuat berpotensi ekonomi atau benefit
c. Produk yang dibuat bernilai tambah tinggi
d. Produk yang dapat memuaskan masyarakatEtika pemasaran dalam konteks harga
a.
Harga diukur dengan kemampuan daya beli masyarakat.
b.
Perusahaan mencari margin laba yang layak.
c.
Harga dibebani cost produksi yang layak.
Etika pemasaran dalam konteks tempat/distribusi
a.
Barang dijamin keamanan dan keutuhannya.
b.
Konsumen mendapat pelayanan cepat dan tepat.
Etika pemasaran dalam konteks promosi
a.
Sebagai sarana menyampaikan informasi yang benar dan
obyektif.
b.
Sabagai sarana untuk membangun image positif.
c.
Tidak ada unsur memanipulasi atau memberdaya konsumen.
d.
Selalu berpedoman pada prinsip2 kejujuran.
e.
Tidak mengecewakan konsumen
Iklan
Iklan ialah bentuk komunikasi tidak langsung yg didasari pada informasi
tentangkeunggulan
suatu
produk
sehingga
mengubah
pikiran
konsumen untuk melakukan pembelian .Fungsi dari iklan antara lain :
a.
Iklan sebagai pemberi informasi tentang produk yang
ditawarkan di
pasar.
b.
Iklan sebagai pembentuk pendapat umum tentang sebuah
produk.

Tata Krama dan Tata Cara Periklanan :


Bab II A Ayat 1 yang berbunyi : Iklan harus jujur, bertanggung jawab
dan tidak bertentangan dengan hokum yang berlaku.
Bab II B No.3 Ayat 3 a yang berbunyi :Iklan tidak boleh menggunakan
katater,paling,nomor satu dan atu sejenisnya tanpa menjelaskan
dalam hal apakeunggulannya itu dan harus dapat membuktikan sumbersumber otentik pernyataantersebut.
Bab II B No.1 Ayat a yang berbunyi :Iklan tidak boleh menyesatkan,
antara lain dengan memberikan keterangan yang tidak benar,
mengelabui dan memberikan janjiyang berlebihan.
Bab II B No.3 Ayat b yang berbunyi :Iklan harus dijiwai oleh asas
persaingan yangsehat. Perbandingan tidak langsung harus didasarkan
pada criteria yang tidak menyesatkan konsumen.
Bab II B No.3 Ayat c yang berbunyi :Iklan tidak boleh secara langsung
ataupun tidak langsung merendahkan produk-produk lain.
Bab II C No.2 yang berbunyi :Dokter, ahli farmasi, tenaga kerja medis
dan paramedic lain atau atribut-atribut profesinya tidak boleh digunakan
untuk mengiklankan produk obat-obatan, alat kesehatan maupun
kosmetika.

Pakar ekonomi Islam Dr Jafril Khalil mengungkapkan, perpektif


pemasaran dalam Islam yakni ekonomi Rabbani (divinity), realistis,
humanis dan keseimbangan. "Inilah yang membedakan sistem ekonomi
Islam dengan sistem ekonomi konvensional. marketing menurut Islam
memiliki
nilai
dan
karakteristik
yang
menarik"
ungkapnya.
Ia
menambahkan, marketing syariah meyakini bahwa perbuatann yang
dilakukan seseorang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak,
selain itu marketing syariah mengutamakan nilai-nilai akhlak dan etika
moral didalam pelaksanaannya". "Karena itu, marketing syariah menjadi
penting bagi para tenaga pemasaran untuk melakukanb penetrasi
pasar," tegasnya
apabila dirumuskan, dalam Islam terdapat sembilan macam etika(akhlak)
yang harus dimiliki seorang tenaga pemasaran. Yaitu :
1. Memiliki kepribadian spiritual(Taqwa)
2. Berkepribadian baik dan simpatik (Shiddiq)
3. Berlaku adil dalam berbisnis (al-'adl)
4. Melayani nasabah dengan rendah hati (Khitmah)
5. Selalu menepati janji dan tidak curang (Tahfif)
6. Jujur dan terpercaya (Amanah)
7. Tidak suka berburuk sangka
8. Tidak suka menjelek-jelekkan
9 Tidak melakukan suap (Riswah)

Marketing Mix (5P) dalam pandangan Islam


1. Produk / Proses Produksi
Ibnu Al Ukhuwwah menyebutkan hal-hal penting dalam pengambilan
keputusan tentang produk bisnis menurut Islam. Pertama, produk harus
legal sesuai dengan hukum Islam. Kedua, produk tersebut harus
didukung oleh aset. Ketiga, produk harus bisa diberikan dan nyata.
Keempat, identifikasi nilai tambah untuk produk harus dilakukan terlebih
dahulu. Kelima, kedua belah pihak harus mengetahui kondisi produk
yang sebenarnya dan ada kesepakatan tentang produk yang digunakan
dalam transaksi. Dalam cara Islam, proses produksi harus diputuskan
sebagai proses yang akan membawa manfaat dan tidak melawan
hukum. Salah satu aplikasi dalam aspek ini adalah keputusan dari
produk dalam perbankan Islam.
2. Harga Product (Pricing)
Dalam menentukan harga dari produk yang dijual, kesan harga palsu
dilarang berdasarkan hukum Islam. Mengubah harga tanpa adanya
perubahan terhadap kualitas dan kuantitas juga tidak diperbolehkan.
Islam tidak membatasi penjual untuk menetapkan harga yang lebih
tinggi dari harga pasar, tetapi hal itu harus dilakukan dengan cara yang
benar dengan nilai-nilai Islam sebagai pedoman di dalam penetapan
harga yang sesuai tersebut. Persaingan yang sehat antar pengusaha
adalah suatu keharusan dalam ekonomi Islam.
3. Aturan Promosi Produk (Promotion)
Penjual diperbolehkan untuk mempromosikan produk mereka selama
promosi ini didasarkan pada kejujuran. Para pengusaha dibatasi untuk
memberikan
informasi
yang
berisikan
penipuan
tentang
kondisi
sebenarnya dari produk mereka dalam rangka untuk menarik konsumen
untuk memilih produk mereka daripada produk pesaing. Menghina
penjual
lain
yang
menjual
produk
yang
sama
juga
bertentangan
terhadap prinsip-prinsip bisnis syariah. Teknik promosi dalam Islam
tidak membolehkan pedagang untuk menggunakan daya tarik seksual
dan ketakutan, testimonial palsu dan teknik yang akan memotivasi para
pembeli untuk melakukan hal yang salah seperti pemborosan dan
perilaku hidup konsumtif.

4. Tempat dan Saluran Distribusi (Place)


Memilih saluran tempat dan distribusi adalah penting bagi semua
pemilik usaha untuk memperoleh keuntungan. Islam mengajarkan
mereka bahwa dalam memutuskan saluran tempat dan distribusi, tidak
boleh ada manipulasi, menggunakan pemaksaan dan hal-hal buruk
lainnya. Tempat tersebut harus dipilih berdasarkan pada tujuan untuk
membawa manfaat bagi konsumen.
5. Orang-orang (People)
Dalam aspek ini, Islam panduan bagaimana orang harus bertindak pada
saat transaksi. Independen dan freedom merupakan dua prinsip yang
sangat penting dalam etika pemasaran menurut Islam.

"Apabila telah ditunaikan salat maka bertebaranlah kamu di muka bumi,


dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya
kamu beruntung." (QS. al-Jumu'ah [62]: 10).
"Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu..." (QS. alQashshash [28]: 77).
Rasulullah bersabda, "Allah akan memberikan rahmat kepada orang
yang berusaha dengan yang halal, membelanjakan harta dengan hemat,
dan dapat menyisihkan uang pada saat ia fakir dan membutuhkannya."
Pada hadis lain dijelaskan, "Dari Abu Dzar bahwa rasulullah
bersabda,"Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah
pada hari kiamat, dan Allah tidak mau melihat mereka dan tidak mau
mengampuni mereka, bahkan mereka mendapat azab yang pedih."
Kemudian Abu Dzar berkata,"Nabi mengatakan ini sempat tiga kali."
Katanya lagi,"Mereka itu menyesal dan rugi." Lalu sahabat
bertanya,"Wahai rasulullah
saw siapakah mereka itu?" Jawab
Rasulullah,"Orang yang melabuhkan kainnya, orang yang mengungkit
pemberiannya dan orang yang melariskan dagangannya dengan
sumpah palsu." (HR Muslim).

PEMASARAN ISLAMI
Pasar syariah adalah pasar yang emosional (emotional market) dimana
orang tertarik karena alasan keagamaan bukan karena keuntungan
finansial semata, sedangkan pasar konvensional adalah pasar yang
rasional (rational market) yaitu orang-orang cenderung berbisnis hanya
untuk mendapatkan keuntungan finansial yang sebesar-besarnya tidak
peduli apakah itu halal atau haram.
Praktik bisnis dan pemasaran sebenarnya bergeser dan mengalami
transformasi dari level intelektual (rasional) ke emosional dan akhirnya
ke spiritual.
Di level intelektual (rasional), pemasar menyikapi pemasaran secara
fungsional-teknikal dengan menggunakan sejumlah tools pemasaran,
seperti segmentasi, targeting, positioning, marketing-mix, branding, dan
sebagainya. Kemudian di level emosional, kemampuan pemasar
memahami emosi dan perasaan pelanggan menjadi penting. Disini
pelanggan dilihat sebagai manusia seutuhnya, lengkap dengan emosi
dan perasaannya. Beberapa konsep pemasaran yang ada pada level
emosional ini antara lain experiential marketing dan emotional branding.
Setelah banyak terjadi skandal keuangan, era pemasaran telah bergeser
lagi kearah spiritual marketing. Pada level ini pemasaran sudah disikapi
sebagai bisikan nurani dan panggilan jiwa, prinsip-prinsip kejujuran,
empati, cinta, dan kepedulian terhadap sesama menjadi sangat
dominan.
Dalam
bahasa
syariah,
spiritual
mareketing
adalah
tingkatan
pemasaran langit, yang karena didalam keseluruhan prosesnya tidak
ada
yang
bertentangan
dengan
prinsip-prinsip
muamalah,
ia
mengandung nilai-nilai ibadah, yang menjadikannya berada pada
puncak tertinggi dalam pemasaran atau muamalah.

Suatu bisnis, sekalipun bergerak dalam bisnis yang berhubungan


dengan agama, jika tidak mampu memberikan kebahagiaan kepada
semua
pihak,
berarti
belum
melaksanakan
spiritual
marketing.
Sebaliknya, jika dalam berbisnis kita sudah mampu memberikan
kebahagiaan, menjalankan kejujuran, dan keadilan, sesungguhnya kita
telah menjalankan spiritual marketing, apapun bidang yang kita geluti.
Ada 4 karakteristik Pemasaran Islami (syariah marketing) yang dapat
menjadi panduan bagi para pemasar sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Teistis (rabaniyyah)
. Etis (akhlaqiyyah)
. Realistis (al-waqiiyyah)
. Humanistis (insaniyyah)
Teistis (Rabbaniyyah)

Salah satu ciri khas syariah marketing yang tidak dimiliki dalam
pemasaran konvensional yang dikenal selama ini adalah sifat yang
religius (dinniyah). Kondisi ini tercipta tidak karena keterpaksaan, tetapi
berangkat dari kesadaran akan nilai-nilai religius, yang dipandang
penting dan mewarnai aktivitas pemasaran agar tidak terperosok
kedalam perbuatan yang dapat merugikan orang lain.
Jiwa seorang syariah marketer menyakini bahwa hukum-hukum
syariat yang teistis atau bersifat ketuhanan ini adalah hukum yang
paling sempurna. seorang syariah marketer meyakini bahwa Allah swt.
selalu dekat dan mengawasinya ketika dia sedang melaksanakan segala
macam bentuk bisnis. Dia pun yakin bahwa Allah swt. akan meminta
pertanggung jawaban darinya atas pelaksanaan syariat itu pada hari
ketika semua dikumpulkan untuk diperlihatkan amal-amalnya (di hari
kiamat).

Etis (Akhlaqiyyah)
Sifat etis ini sebenarnya merupakan turunan dari sifat teistis.
Dengan demikian, syariah marketing adalah konsep pemasaran yang
sangat mengedepankan nilai-nilai moral dan etika, tidak peduli apapun
agamanya. Karena nilai etika adalah nilai yang bersifat universal, yang
diajarkan oleh semua agama.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Allah swt. memberikan petunjuk
melalui para rasul-Nya yang meliputi segala sesuatu yang dibutuhkan
manusia, baik akidah, akhlak (moral, etika), maupun syariah. Dua
komponen pertama, akidah dan akhlak bersifat konstan, keduanya tidak
mengalami perubahan apapun dengan berbedanya waktu dan tempat.
Sedangkan syariah senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan
taraf peradaban manusia, yang berbeda-beda sesuai dengan rasulnya
masing-masing.
Realistis (Al-Waqiiyyah)Syariah marketing bukanlah konsep yang
eksklusif, fanatis, anti-modernitas, dan kaku. Syariah marketing adalah
konsep pemasaran yang fleksibel, sebagaimana keluwesan syariah
Islamiyah yang melandasinya.
Syariah
marketer
bukanlah
berarti
para
pemasar
itu
harus
berpenampilan
ala
bangsa
Arab
dan
mengharamkan
dasi
karena
dianggap merupakan simbol masyarakat barat. Syariah marketer adalah
para pemasar profesional dengan penampilan yang bersih, rapi, dan
bersahaja, apapun model atau gaya berpakaian yang dikenakannya.
Mereka
bekerja
dengan
profesional
dan
mengedepankan
nilai-nilai
religius, kesalehan, aspek moral, dan kejujuran dalam segala aktivitas
pemasarannya.
Humanistis
(Al-insaniyyah)Humanistis
(Al-insaniyyah)
adalah
bahwa
syariah
diciptakan untuk
manusia agar
derajatnya
terangkat,
sifat
kemanusiaannya terjaga dan terpelihara, serta sifat-sifat kehewanannya
dapat
terkekang
dengan
panduan
syariah.
Dengan
memiliki
nilai
humanistis
ia
menjadi
manusia
yang
terkontrol,
dan
seimbang
(tawazun), bukan manusia yang serakah, yang menghalalkan segala
cara untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Bukan menjadi
manusia yang bahagia diatas penderitaan orang lain atau manusia yang
kering
dengan
kepedulian
sosial.
Syariat Islam adalah syariah humanistis (insaniyyah). Syariat Islam
diciptakan
untuk
manusia
sesuai
dengan
kapasitasnya
tanpa
menghiraukan ras, warna kulit, kebangsaan, dan status. Hal inilah yang
membuat syariah memiliki sifat universal sehingga menjadi syariat
humanistis universal.