Anda di halaman 1dari 40

Source : http://bayubosqid98.blogspot.com/2011_03_01_archive.

html

Rangkaian Motor 3 fasa Mesin Crane


Prosedur mengoperasikan:

1.
2.

MCB di set pada posisi ON dengan cara menaikkan lidah MCB ke atas
Lakukan pemilihan menentukan arah putaran Motor 3 Fasa dengan merubah
posisi SELEKTOR SWITCH (Saklar Pemilih) pada posisi Forward (For)

3.

Tekan tombol RUN maka Motor akan berputar maju (Forward) dan ditandai
dengan menyala lampu merah
4. Dan apabila menekan tombol JOG maka Motor akan berputar maju sesaat
selama tombol ditekan dan ditandai dengan menyala lampu merah
5.
Apabila menginginkan Motor berputar mundur (Reverse) maka terlebih
dahulu tekan tombol STOP kemudian pindahkan saklar SELEKTOR
SWITCH pada posisi Reverse (Rev)
6.
Tekan tombol RUN maka Motor akan berputar mundur (Reverse) dan
ditandai
dengan
menyala
lampu
merah
7.

Dan apabila menekan tombol JOG maka Motor akan berputar mundur sesaat
selama tombol ditekan dan ditandai dengan menyala lampu merah
8.
Limit Switch berfungsi untuk pembatas arah gerak mesin forward dan
reverse agar tidak mencapai batas tak terhingga
9. Untuk mematikan Motor 3 Fasa, tekan tombol STOP
Kejadian khusus:
1.

Apabila terjadi hubung singkat (short Circuit) maka MCB akan trip. Untuk
mengaktifkan kembali reset ke posisi ON
2. Dan bila terjadi beban lebih maka Thermal Overload Relay akan
Trip dengan
ditandai menyala lampu warna kuning. Dan untuk mengaktifkan
kembali tekan
tombol reset

Rangkaian Motor 3 fasa dengan Kontrol Permukaan


Prosedur mengoperasikan Motor Listrik 3 fasa dengan kontrol
permukaan:

1. MCB di set pada posisi ON dengan cara menaikkan lidah MCB ke atas
2. Pada saat Bak penampung (Reservoir) kosong maka kedua Float Switch
(Saklar permukaan) Float Switch UP dan Float Switch DOWN dalam keadaan
tertutup (Normally Close)
3. Tekan tombol START-STOP untuk tekanan pertama maka Motor 3 Fasa
bekerja dalam rangkaian Bintang (Y), dengan ditandai menyala lampu
indikator warna merah
4. Setelah beberapa detik sesuai dengan pengesetan Time Delay Relay maka
Motor 3 Fasa bekerja dalam hubungan Delta ( ). Motor mengisi Bak
penampung
5. Pada saat Air telah memenuhi Bak penampung maka Float Switch UP
membuka dan Motor 3 Fasa berhenti
6. Setelah Air surut mencapai batas Float Switch Down maka Motor 3 Fasa
bekerja kembali
7. Untuk mematikan Motor 3 Fasa, tekan tombol START-STOP untuk tekanan
kedua

Kejadian khusus:
1. Apabila terjadi hubung singkat (short Circuit) maka MCB akan trip. Untuk
mengaktifkan kembali reset ke posisi ON
2. Dan bila terjadi beban lebih maka Thermal Overload Relay akan
Trip dengan
ditandai menyala lampu warna kuning. Dan untuk mengaktifkan
kembali tekan
tombol reset

Rangkaian Motor 3 Fasa RUN-JOGGING


1. Run-jogging motor 3 fasa

Prosedur mengoperasikan:
1. MCB di set pada posisi ON dengan cara menaikkan lidah MCB ke atas
2. Tekan tombol RUN maka Motor 3 Fasa akan berputar Runing (maju), lampu
indikator warna merah menyala
3. Bila tombol tekan JOG ditekan maka Motor 3 Fasa berputar sesaat selama
tombol ditekan (Jogging)
4. Dan bila dilepas maka Motor 3 Fasa berhenti

5. Untuk menjalankan Running kembali tekan tombol RUN


6. Untuk mematikan rangkaian tekan tombol STOP
Kejadian khusus:
1.

Apabila terjadi hubung singkat (short Circuit) maka MCB akan trip. Untuk
mengaktifkan kembali reset ke posisi ON
2. Dan bila terjadi beban lebih maka Thermal Overload Relay akan
Trip dengan
ditandai menyala lampu warna kuning. Dan untuk mengaktifkan
kembali tekan
tombol reset

Rangkaia Motor 3 fasa Putar Kanan-Kiri ( FORWARD-REVERSE)


1.forward-reverse motor 3 fasa

Prosedur mengoperasikan:
1. MCB diubah pada posisi ON dengan cara menaikkan lidah MCB ke atas
2. Tekan tombol FOR maka Motor 3 Fasa akan berputar ke Kanan, lampu
indikator menyala merah
3. Apabila menginginkan Motor berputar ke Kiri maka matikan lebih dahulu
rangkaian dengan menekan tombol STOP
4. Tekan tombol REV maka Motor 3 Fasa akan berputar ke Kiri, lampu
indikator hijau menyala
5. Untuk mematikan Motor 3 Fasa, tekan tombol STOP
Kejadian khusus:

1. Bila tombol FOR dan tombol REV ditekan secara bersamaan maka salah
satu tombol yang lebih awal menekan akan bekerja lebih dahulu, karena
kecepatan menekan antara kedua tombol mempunyai jarak waktu 0.02 detik
2. Pada saat Motor 3 Fasa sedang berputar ke kanan maka apabila tombol
REV ditekan tidak akan dapat mengoperasikan motor berputar ke kiri
3. Apabila terjadi short Circuit maka MCB akan trip. Untuk mengaktifkan
kembali reset ke posisi ON
4. Demikian juga bila terjadi beban lebih maka Thermal Overload Relay
akan Trip
dengan ditandai menyala lampu kuning. Dan untuk mengaktifkan
kembali tekan
tombol reset

Rangkaian Motor 3 fasa Forward-Severs ( Putar kana-kiri) Otomatis


Prosedur

mengoperasikan

Forward-Severs

Putar

kana-kiri)

otomatis:

1. MCB di set pada posisi ON dengan cara menaikkan lidah MCB ke atas
2. Tekan tombol START-STOP untuk tekanan ke 1 maka Motor 3 Fasa bekerja
dengan arah putaran maju (Forward) yang ditandai lampu indikator menyala
berwarna merah. Setelah beberapa detik sesuai dengan pengesetan Time
Delay Relay (T1) maka Motor 3 Fasa mati dan T2 bekerja untuk menunda
waktu
3. Setelah Delay T2 habis maka Motor 3 Fasa berputar mudur (Reverse) yang
ditandai dengan menyala lampu warna hijau dan T 3 bekerja menunda waktu
sesuai pengesetan
4. Apabila Setting T3 telah habis maka Motor 3 Fasa mati, dan T 4 bekerja untuk
menunda waktu
5. Setelah Delay T4 habis
6. Untuk mematikan Motor 3 Fasa, tekan tombol START-STOP. Untuk tekanan
ke 2
Kejadian khusus:
1.

Apabila rangkaian Putar kanan-kiri initerjadi hubung singkat (short Circuit)


maka MCB akan trip. Untuk mengaktifkan kembali reset ke posisi ON
2. Dan bila terjadi beban lebih maka Thermal Overload Relay akan
Trip dengan
ditandai menyala lampu berwarna kuning. Dan untuk mengaktifkan
kembali tekan
tombol reset

Rangkaian Moror 3 fasa Starting Y- Otomatis (Bintang-Delta)


1. Starting Y- Otomatis (Bintang-Delta)
Prosedur mengoperasikan:

1. MCB di set pada posisi ON dengan cara menaikkan lidah MCB ke atas
2. Tekan tombol START maka Motor 3 Fasa bekerja dalam hubungan
Bindatang ( Y), dengan ditandai lampu indikator warna merah menyala
3. Setelah beberapa detik sesuai dengan pengesetan Time Delay Relay maka
Motor 3 Fasa bekerja dalam hubungan Delta ( D) dengan ditandai lampu
indikator warna hijau menyala
4. Untuk mematikan Motor Listrik 3 Fasa, tekan tombol STOP
Kejadian khusus:

1.

Apabila terjadi hubung singkat (short Circuit) maka MCB akan trip. Untuk
mengaktifkan kembali reset ke posisi ON
2. Dan bila terjadi beban lebih maka Thermal Overload Relay akan
Trip dengan
ditandai menyala lampu warna kuning. Dan untuk mengaktifkan
kembali tekan
tombol reset

0 komentar Link ke posting ini


Date:
Sabtu,
Label: Teknik Pengendali

27

November

2010

DASAR ELEKTRONIKA DAYA.

Pada Sistem tenaga listrik terdapat penggunaan komponen elektronika yang umumnya dipakai
dalam rangkaian pengaturan motor-motor listrik. Komponen-komponen elektronika yang
dipergunakan pada sistem tenaga listrik pada prinsipnya harus mampu menghasilkan daya yang
besar
atau
mampu
menahan
disipasi
daya
yang
besar.
Elektronika daya meliputi switching, pengontrolan dan pengubah (konversi) blok-blok yang
besar dari daya listrik dengan menggunakan sarana peralatan semikonduktor. Dengan demikian
elektronika daya secara garis besar terbagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu :

1.
2.

Rangkaian
Rangkaian

Daya
kontrol

Pada gambar berikut menunjukkan hubungan antara kedua rangkaian diatas yang terintegrasi
menjadi satu, dimana keduanya banyak memanfaatkan peralatan semikonduktor.

Rangkaian daya terdiri dari komponen Dioda, Thyristor dan Transistor Daya. Sedangkan
rangkaian kontrol terdiri atas Dioda, Transistor dan rangkaian terpadu (Integrated Circuit / IC).
Dengan menggunakan peralatan-peralatan yang serupa keandalan dan kompatibilitas dari
perlengkapan (sistem) akan dapat diperbaiki. Elektronika daya merupakan bagian yang penting
dalam industri-industri, yaitu dalam pengontrolan daya pada sistem, proses elektronika dan lainlain.
I.

DIODA

Dioda merupakan penyatuan dari lapisan P dan N sebagaimana gambar struktur dan simbol
lapisan.

Syarat dioda dalam keadaan ON adalah Vak positip sedangkan untuk OFF adalah Vak negatif.

Karateristik tersebut menggambarkan hubungan antara arus dioda (IR dan IF) agar Vak dalam
kondisi menahan arus (OFF) maupun dalam keadaan mengalir (ON). Dalam keadaan OFF, Vak =
Vr = negatif, maka dioda menahan arus namun terdapat arus bocor Ir yang kecil.
Dalam keadaan ON, Vak = Vf = positif, dioda mengalirkan arus namun terdapat tegangan jatuh
pada dioda = Vf, dan jika Vf ini makin besar untuk arus dioda yang makin tinggi, berarti rugi
konduksi If * Vf naik. Terlihat pula pada karateristik dioda diatas bahwa bila Vr terlalu tinggi
dioda
akan
rusak.
Karateristik

Switching

Karateristik ini menggambarkan sifat kerja dioda dalam perpindahan keadaan ON ke OFF dan
sebaliknya.

Dioda akan segera melalukan arus jika Vr telah mencapai lebih dari Vf minimum dioda kondusif
dan pada saat OFF terjadi kelambatan dari dioda untuk kembali mempunyai kemampuan
memblokir tegangan reverse. Dari gambar diatas tgerlihat adanya arus balik sesaat pada dioda,
dimana arus balik ini terjadi pada saat peralihan keadaan dioda dari kondisi ON ke kondisi
membloking
tegangan
reverse.
Dengan adanya sifat arus balik, maka diperoleh dua jenis penggolongan dioda yaitu :
1. Dioda Cepat, yaitu dioda dengan kemapuan segera mampu membloking

tegangan reverse yang cepat, orde 200 ns terhitung sejak arus forward dioda
sama
dengan
0
(nol).
2. Dioda Lambat, yaitu untuk hal yang sama dioda memerlukan waktu lebih lama,
Q32
>
Qs1.
Terminologi

karateristik

dioda

Trr : Reverse Recovery Time, waktu yang diperlukan dioda untuk bersifat membloking tegangan
forward.
Tjr : Waktu yang diperlukan oleh Juction P-N untuk bersifat membloking.
Tbr : Waktu yang diperlukan daerah perbatasan Junction untuk membentuk zone bloking.
Qs : Jumlah muatan yang mengalir dalam arah reverse selama perpindahan status dioda ON ke
OFF.
Dioda jenis lambat banyak digunakan pada rangkaian konverter dengan komutasi lambat/natural,
seperti rangkaian penyearah. Sedangkan Dioda jenis Cepat dipergunakan pada konverter statis
dengan komutasi sendiri seperti misalnya pada DC Chopper, konverter komutasi sendiri dll.
Kemampuan
Tegangan
Dioda bersifat memblokir tegangan reverse, ternyata mampu menahan tegangan tersebut
tergantung
pada
karateristik
tegangan
itu
sendiri.

VRWM
VRRM
VRSM

=
Puncak
tegangan
kerja
normal.
=
Puncak
tegangan
lebih
yang
terjadi
secara
periodik.
=
Puncak
tegangan
lebih
tidak
periodik.

Kemampuan

Arus

Dioda

Adanya tegangan jatuh konduksi Vf menyebabkan rugi daya pada dioda yang keluar dalam
bentuk panas. Temperatur junction maksimum terletak antara 110C - 125C. Panas yang

melebihi dari temperatur ini akan menyebabkan dioda rusak. Temperatur maksimum ini dapat
dicapai
oleh
bermacam-macam
pembebanan
arus
terhadap
dioda.

If (AV) : Arus rata-rata maksimum yang diijinkan setiap harga arus rata-rata akan menghasilkan
suatu harga temperatur akhir pada junction dioda. Batas If (AV) ini juga tergantung pada
temperatur
ruang
dan
jenis
sistem
pendinginan
(Heat-sink).
If (RMS) : Harga effektif maksimum arus dioda. Harga rata-rata yang di bawah If (V)
maksimum, belum menjamin keamanan operasi dioda terutama arus beban dioda dengan form
factor
yang
tinggi.
(
Rate
Mean
Square
)
If

(RM)

If

(SM)

:
:

Harga
Harga

puncak
puncak

arus
arus

lebih
lebih

periodik
non

yang

periodik

diijinkan.
yang

diijinkan

T : Batas integral pembebanan arus dimana dioda masih mampu mengalaminya.


Besaran ini berlaku untuk cycles atau 1 ms dan merupakan pedoman dalam pemilihan
pengaman
arus.
Contoh
data
Fast
Dioda
Type
MF
70
Maximum
repetitive
peak
reverse
voltage,
Vdrm
=
1200
Volt.
Mean
forward
current,
If
(AV)
=
70
A
RMS
forward
current,
Irms
max
=
110
A
Non
repetitive
forward
current,
If
(ms)
=
700
A
Forward
V-Drop,
Vfm=V,
pada
Ifm
=
210
A
Peak
reverse
current,
Irm
=
5
mA
Reverse
recovery
time,
trr
=
200
ns
Stored,
charger,
Qrr
=
T
c
(Qs)
Thermal
resistance,
Rth-jc
=
0,37C/w
Pada artikel lanjutan akan dibahas mengenai: SCR (Silicon Controlled Rectifier), TRIAC (Trioda
Alternating Current Switch), DIAC (Bilateral Trigger Dioda) dan UJT (Uni-Juntion Transistor).
Semoga

bermanfaat,

Terima kasih kepada Kontributor: Ir. A. Muid Fabanyo, MMT (Elektronika Daya-Elektro S1)

Diposkan oleh ELECTRICAL INSTALLATION SMK NEGERI 1 BANGIL di 11:44:00 AM


Reaksi:
0 komentar Link ke posting ini
Date:
Selasa,
Label: PLC, Teknik Pengendali

12

Oktober

2010

Mengoperasikan Motor 3 fasa Dengan Pengendali Elektromagnetik


Source : https://royers.wordpress.com/
Kali ini saya akan memberikan sedikit materi tentang bagaimana cara dan proses kerja System
Kendali Elektromagnetik pada motor induksi 3 fasa. Tetapi sebelumnya terlebih dahulu kita perlu
mengetahui
cara
kerja
dari
sebuah
motor
3
fasa.
Cara kerja motor 3 fasa :

Motor 3 phasa akan bekerja/ berputar apabila sudah dihubungkan dalam hubungan
tertentu.

Mendapat tegangan (jala-jala/ power/ sumber) sesuai dengan kapasitas motornya.

1.
Motor
3
fasa
bekerja
dengan
2
hubungan
yaitu
:
a.
Motor
bekerja
Bintang/
Star
Berarti motor harus dihubungkan bintang baik secara langsung pada terminal maupun melalui
rangkaian
kontrol.

Gambar

1.

Hubungan

Bintang/

Star

(Y)

b.
Motor
bekerja
segitiga
/Delta
()
Berarti motor harus dihubungkan segitiga baik secara langsung pada terminal maupun melalui
rangkaian kontrol. Kecuali mesin-mesin yang berkapasitas tinggi diatas 10 HP, maka motor
tersebut wajib bekerja segitiga () dan harus melalui rangkaian kontrol star delta baik secara
mekanik,
manual,
PLC.

Gambar

2.

Hubungan

Delta

()

Dimana bekerja awal (start) motor tersebut bekerja bintang hanya sementara, selang berapa
waktu
barulah
motor
bekerja
segitiga
dan
motor
boleh
dibebani.
Cara
menghubungkan
motor
dalam
hubungan
bintang
(Y)
:
1. Cukup mengkopelkan/ menghubungkan salah satu dari ujung-ujung kumparan phasa
menjadi satu.
2. Sedangkan yang tidak dihubungkan menjadi satu dihubungkan kesumber tegangan.
Cara menghubungkan motor dalam hubungan segitiga () :
1. Ujung pertama dari kumparan phasa I dihubungkan dengan ujung kedua dari kumparan
phasa III
2. Ujung pertama dari kumparan phasa II dihubungkan dengan ujung kedua dari kumparan
phasa I
3. Ujung pertama dari kumparan phasa III dihubungkan dengan ujung kedua dari kumparan
phasa II.
Mengapa motor harus dihubungkan dengan Star Delta???
1. Beban dengan inersia yang tinggi/ besar akan menyebabkan waktu starting motor
menjadi lama untuk mencapai kecepatan nominalnya.

2. Selama periode starting tersebut, maka pada stator dan rotor akan mengalir arus yang
besar sehungga bisa terjadi pemanasan berlebih (overheating) pada motor
3. Lebih buruk lagi menyebabkan gangguan pada sistem jala-jala sumber listriknys sehingga
akan menurunkan tegangannya. hal ini akan mengganggu beban listrik lainnya.
4. Untuk menghindari hal tersebut, suatu motor induksi seringkali di start dengan level
tegangan yang lebih rendah dari tegangan nominalnya.
5. Pengurangan tegangan starting tersebut akan membatasi dayas yang diberikan ke motor,
namun demikian disis lain pengurangan tegangan ini akan berdampak memperpanjang
waktu/ periode starting (waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kecepatan nominalnya).
2. Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa
Rangkaian sederhana dengan menggunakan kontaktor magnet yaitu mengontrol sebuah motor
listrik. Pengontrolan oleh kontaktor magnet menggunakan 2 rangkaian yaitu rangkaian kontrol
dan rangkaian utama. Peralatan kontrol yang digunakan dalam pengoperasianya yaitu, MCB 3
fasa, TOR (Thermal Overload Relay), sakelar tekan ON/ OFF dan kontaktor.
Rangkaian kontrol merupakan rangkaian yang mengendalikan/ mengoperasikan rangkaian
utama, sedangkan rangkaian utama merupakan aliran hubungan ke beban (motor 3 fasa).
Rangkaian utama menggunakan kontak utama (1-3-5 dan 2-4-6) dari kontaktor magnet untuk
menghubungkan/ memutuskan jaringan dengan motor listrik. Karena arus yang mengalir pada
rangkaian utama relaitf lebih besar daripada rangkaian kontrol, maka pada rangkaian utama
dilengkapi dengan TOR (Thermal Overload Relay) atau pengaman beban lebih dari hubung
singkat
ataupun
beban
yang
lebih.
Pada rangkaian kontrol, arus yang mengalir relatif kecil. Rangkaian kontrol dilengkapi dengan
sakelar tekan NO untuk tombol NP dan NC untuk tombol OFF. Karena menggunak open.an
tombol (sakelar) tekan, maka pada tombol ON dibuat pengunci (sakelar bantu) dari kontak bantu
kontaktor
yang
normally
open.

Gambar 3. Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa

2. Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa Hubungan


Bintang
Segitiga
Rangkaian daya hubungan bintangsegitiga menggunakan tiga buah kontaktor Q1, Q2, dan Q3
Gambar 4. Fuse F1 berfungsi mengamankan jika terjadi hubungsingkat pada rangkaian motor.
Saat motor terhubung bintang kontaktor Q1 dan Q2 posisi ON dan kontaktor Q3 OFF. Beberapa
saat kemudian timer yang disetting waktu 60 detik energized, akan meng-OFF-kan Q1,
sementara Q2 dan Q3 posisi ON, dan motor terhubung segitiga. Pengaman beban lebih F3
(thermal overload relay) dipasangkan seri dengan kontaktor, jika terjadi beban lebih disisi beban,
relay bimetal akan bekerja dan rangkaian kontrol berikut kontaktor akan OFF.
Tidak setiap motor induksi bias dihubungkan bintang-segitiga, yang harus diperhatikan adalah
tegangan name plate motor harus mampu diberikan tegangan sebesar tegangan jala-jala
(Gambar 4), khususnya pada saat motor terhubung segitiga. Jika ketentuan ini tidak dipenuhi,
akibatnya belitan stator bisa terbakar karena tegangan tidak sesuai. Rangkaian kontrol bintangsegitiga (Gambar 4), dipasangkan fuse F2 untuk pengaman hubung singkat pada rangkaian
kontrol.

Gambar 4. Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa


Hubungan Bintang Segitiga
Hubungan

Bintang

Tombol S2 di-ON-kan terjadi loop tertutup pada rangkaian koil Q1 dan menjadi energized
bersamaan dengan koil Q2. Kontaktor Q1 dan Q2 energized motor terhubung bintang. Koil timer
K1 akan energized, selama setting waktu berjalan motor terhubung bintang.
Hubungan
Segitiga
Saat Q1 dan Q2 masih posisi ON dan timer K1 masih energized, sampai setting waktu berjalan
motor terhubung bintang. Ketika setting waktu timer habis, kontak Normally Close K1 dengan
akan OFF menyebabkan koil kontaktor Q1 OFF, bersamaan dengan itu Q3 pada posisi ON.
Posisi akhir kontaktor Q2 dan Q3 posisi ON dan motor dalam hubungan segitiga. Untuk
mematikan rangkaian cukup dengan meng-OFF-kan tombol tekan S1 rangkaian kontrol akan
terputus dan seluruh kontaktor dalam posisi OFF dan motor akan berhenti bekerja. Kelengkapan
berupa lampu-lampu indikator dapat dipasangkan, baik indikator saat rangkaian kondisi ON,
maupun saat saat rangkaian kondisi OFF, caranya dengan menambahkan kontak bantu normally
open yang diparalel dengan koil kontaktor dan sebuah lampu indicator.
Diposkan oleh ELECTRICAL INSTALLATION SMK NEGERI 1 BANGIL di 12:52:00 PM
Reaksi:
0 komentar Link ke posting ini
Date:
Kamis,
Label: Teknik Pengendali

07

Macam-macam Rangkaian Motor 3 Fasa


RANGKAIAN MOTOR 3 FASA MESIN CRANE
Prosedur mengoperasikan:

Oktober

2010

1.
2.
3.
4.
5.
6.

MCB di set pada posisi ON dengan cara menaikkan lidah MCB ke atas
Lakukan pemilihan menentukan arah putaran Motor 3 Fasa dengan merubah
posisi SELEKTOR SWITCH (Saklar Pemilih) pada posisi Forward (For)
Tekan tombol RUN maka Motor akan berputar maju (Forward) dan ditandai
dengan menyala lampu merah
Dan apabila menekan tombol JOG maka Motor akan berputar maju sesaat
selama tombol ditekan dan ditandai dengan menyala lampu merah
Apabila menginginkan Motor berputar mundur (Reverse) maka terlebih
dahulu tekan tombol STOP kemudian pindahkan saklar SELEKTOR
SWITCH pada posisi Reverse (Rev)
Tekan tombol RUN maka Motor akan berputar mundur (Reverse) dan
ditandai dengan menyala lampu merah
RANGKAIAN MOTOR 3 FASA DENGAN KONTROL PERMUKAAN
Prosedur mengoperasikan Motor 3 fasa dengan kontrol permukaan:

1. MCB di set pada posisi ON dengan cara menaikkan lidah MCB ke atas
2. Pada saat Bak penampung (Reservoir) kosong maka kedua Float Switch
(Saklar permukaan) Float Switch UP dan Float Switch DOWN dalam keadaan
tertutup (Normally Close)
3. Tekan tombol START-STOP untuk tekanan pertama maka Motor 3 Fasa
bekerja dalam rangkaian Bintang (Y), dengan ditandai menyala lampu
indikator warna merah
4. Setelah beberapa detik sesuai dengan pengesetan Time Delay Relay maka
Motor 3 Fasa bekerja dalam hubungan Delta ( ). Motor mengisi Bak
penampung
5. Pada saat Air telah memenuhi Bak penampung maka Float Switch UP
membuka dan Motor 3 Fasa berhenti
6. Setelah Air surut mencapai batas Float Switch Down maka Motor 3 Fasa
bekerja kembali
7. Untuk mematikan Motor listrik 3 Fasa, tekan tombol START-STOP untuk
tekanan kedua
RANGKAIAN MOTOR 3 FASA FORWARD REVERSE OTOMATIS

Prosedur mengoperasikan Putar kanan kiri

1. MCB di set pada posisi ON dengan cara menaikkan lidah MCB ke atas
2. Tekan tombol START-STOP untuk tekanan ke 1 maka Motor 3 Fasa bekerja
dengan arah putaran maju (Forward) yang ditandai lampu indikator menyala
berwarna merah. Setelah beberapa detik sesuai dengan pengesetan Time
Delay Relay (T1) maka Motor 3 Fasa mati dan T2 bekerja untuk menunda
waktu
3. Setelah Delay T2 habis maka Motor 3 Fasa berputar mudur (Reverse) yang
ditandai dengan menyala lampu warna hijau dan T 3 bekerja menunda waktu
sesuai pengesetan
4. Apabila Setting T3 telah habis maka Motor 3 Fasa mati, dan T 4 bekerja untuk
menunda waktu
5.
Setelah Delay T4 habis maka Motor 3 Fasa kembali berputar maju
(Forward). Demikian seterusnya

6. Untuk mematikan Motor 3 Fasa, tekan tombol START-STOP. Untuk tekanan


ke 2
RANGKAIAN MOTOR 3 FASA
1. Starting Y- Otomatis (Bintang-Delta)
Prosedur mengoperasikan:

1. MCB di set pada posisi ON dengan cara menaikkan lidah MCB ke atas

2.

Tekan tombol START maka Motor 3 Fasa bekerja dalam hubungan


Bindatang (Y), dengan ditandai lampu indikator warna merah menyala
3. Setelah beberapa detik sesuai dengan pengesetan Time Delay Relay maka
Motor 3 Fasa bekerja dalam hubungan Delta ( ), dengan ditandai lampu
indikator warna hijau menyala
4.
Untuk mematikan Motor 3 Fasa, tekan tombol STOP

Rangkaian Motor Run Jogging


1. Run-jogging motor 3 fasa

Prosedur mengoperasikan:
1. MCB di set pada posisi ON dengan cara menaikkan lidah MCB ke atas
2. Tekan tombol RUN maka Motor 3 Fasa akan berputar Runing (maju), lampu
indikator warna merah menyala
3. Bila tombol tekan JOG ditekan maka Motor 3 Fasa berputar sesaat selama
tombol ditekan (Jogging)
4. Dan bila dilepas maka Motor 3 Fasa berhenti
5. Untuk menjalankan Running kembali tekan tombol RUN
6. Untuk mematikan Motor 3 fasa tekan tombol STOP

Syarat utama seorang teknisi adalah harus dapat membaca rangkaian


pengendali dan rangkaian daya (Power). Apabila kedua rangkaian ini sudah
dipahami dan dimengerti maka teknisi sudah bisa melaksanakan
pengawatan rangkaian motor pengalih daya untuk berbagai jenis operasi
pengendali. Dan sekaligus teknisi akan handal dalam mengoperasikan
peralatan
pengalih
daya
tersebut.
Berikut ini akan diberikan beberapa contoh mengoperasikan peralatan
pengalih daya tegangan rendah untuk jenis operasi yang sering digunakan
oleh dunia industri.

1.forward-reverse motor 3 fasa

Prosedur mengoperasikan:
1. MCB diubah pada posisi ON dengan cara menaikkan lidah MCB ke atas
2. Tekan tombol FOR maka Motor 3 Fasa akan berputar ke Kanan, lampu
indikator menyala merah
3. Apabila menginginkan Motor berputar ke Kiri maka matikan lebih dahulu
rangkaian dengan menekan tombol STOP
4. Tekan tombol REV maka Motor 3 Fasa akan berputar ke Kiri, lampu
indikator hijau menyala
5. Untuk mematikan Motor 3 Fasa, tekan tombol STOP

Diposkan oleh ELECTRICAL INSTALLATION SMK NEGERI 1 BANGIL di 4:27:00 PM


Reaksi:
1 komentar Link ke posting ini
Date:
Jumat,
Label: Teknik Pengendali

06

Agustus

2010

ELEVATOR & ESKALATOR PADA PERENCANAAN INSTALASI GEDUNG


BERTINGKAT
Source : https://f4iqun.wordpress.com/2007/08/01/perencanaan-instalasi-gedung-bertingkat/
Jika kita mendirikan bangunan, bukan hanya keindahan tampak bangunan dan keserasian
bangunan terhadap lingkungan yang harus kita perhatikan.
Namun juga keamanan bangunan tersebut terhadap segala bencana yang dapat diakibatkan oleh
kurang diperhatikannya perencanaan instalasi yang terdapat didalam bangunan tersebut.
Selain itu juga harus diusahakan kemudahan bagi penyelamatan penghuni bila terjadi bencana.
Setiap rencana instalasi dari bangunan yang akan dilaksanakan harus diteliti dahulu oleh seksi
Instalasi dan Perlengkapan Bangunan/TPIB (Team Penasehat Instalasi dan Perlengkapan
Bangunan).
Beberapa macam Instalasi yang harus diperhatikan :
1. Instalasi
Sistem
yang
*
*
* Sistem Fire Alarm

bisa

Pemadam
digunakan
Sistem
Sistem

antara

Kebakaran
lain
:
Hydrant
Sprinkler

2. Instalasi
Elevator
&
Eskalator
Didalam perencanaan instalasi Elevator dan Eskalator, yang harus diperhatikan:
* Pola lalu lintas orang dan barang disekitar dan didalam gedung harus diperhatikan
*
Elevator
penumpang,
barang
dan
kebakaran
harus
terpisah
* Cara penanggulangan bila terjadi keadaan darurat.
3. Instalasi
Air
Buangan
Didalam perencanaan instalasi air buangan, yang harus diperhatikan antara lain :
*
Sistem
jaringan
air
kotor
dan
air
hujan
diluar
bangunan
*
Sistem
pengelolaan
air
kotor
* Pengolahan air kotor tidak boleh mengganggu lingkungan sekitarnya.
4. Instalasi
Listrik
Didalam perencanaan instalasi listrik yang harus diperhatikan adalah :
* Sakelar khusus ukuran (rating) pengaman jenis pengaman dan penampang kabel
*
Penempatan
generator
genset
* Sumber tenaga yang digunakan PLN, atau pembangkit tenaga listrik sendiri.
5. Instalasi
Didalam

perencanaan

instalasi

plimbing

yang

harus

diperhatikan

Plumbing
adalah :

*
Sistem
*
Sistem
*
Sistem
* Sistem pemipaan air limbah.

pemipaan
pemipaan
pemipaan

air
air
air

bersih
limbah
hujan

6. Instalasi
Air
Codition
dan
Refrigeration
* Apabila harus terjadi kebakaran, AHU pada lokasi kebakaran harus mati secara
otomatis
berbarengan
dengan
fire
alarm
bekerja
* Faktor keamanan yang dipakai.
===OOO===
Dari sekian banyak instalasi gedung bertingkat yang harus diperhatikan, berikut ini akan sedikit
diulas tentang instalasi alat transportasi vertikal pada gedung bertingkat.
*****
ALAT TRANSPORTASI VERTIKAL
Suatu bangunan yang besar & tinggi, memerlukan sarana angkut/transportasi yang nyaman untuk
aktifitas perpindahan orang dan barang secara VERTIKAL. Sarana angkut vertikal yang bekerja
secara mekanik elektrik adalah :

Elevator (Lift).

Eskalator

Travelator / Moving walk

Mulai dari jaman kuno sampai jaman pertengahan dan memasuki abad ke-13, tenaga manusia
dan binatang merupakan tenaga penggerak.
Pada tahun 1850 telah diperkenalkan elevator uap dan hidrolik. Tahun 1852 terjadi babak baru
dalam sejarah elevator yaitu penemuan elevator yang aman pertama di Dunia oleh Elisha Graves
Otis.
RIWAYAT ELEVATOR/LIFT
Elevator penumpang pertama dipasang oleh Otis di New York pada tahun 1857. Setelah
meninggalnya Otis pada tahun 1861, anaknya, Charles dan Norton mengembangkan warisan
yang ditinggalkan oleh Otis dengan membentuk Otis Brothers & Co., pada tahun 1867.
Pada tahun 1873 lebih dari 2000 elevator Otis telah dipergunakan di gedung-gedung perkantoran,
hotel, dan department store di seluruh Amerika, dan lima tahun kemudian dipasanglah elevator
penumpang hidrolik Otis yang pertama.Berikutnya adalah era Pencakar Langit.
Pada tahun 1889 Otis mengeluarkan mesin elevator listrik direct-connected geared pertama yang
sangat sukses.
Pada tahun 1903, Otis memperkenalkan desain yang akan menjadi tulang punggung industri
elevator,yaitu : elevator listrik gearless traction yang dirancang dan terbukti mengalahkan usia
bangunan itu sendiri. Hal ini membawa pada berkembangnya jaman struktur-struktur tinggi,
termasuk yang paling menonjol adalah Empire State building dan World Trade Center di New
York, John Hancock Center di Chicago dan CN Tower di Toronto.
Selama bertahun-tahun ini, beberapa dari inovasi yang dibuat oleh Otis dalam bidang
pengendalian otomatis adalah Sistem Pengendalian Sinyal, Peak Period Control, Sistem

Autotronik Otis dan Multiple Zoning. Otis adalah yang terdepan di dunia dalam pengembangan
teknologi komputer dan perusahaan tersebut telah membuat revolusi dalam pengendalian
elevator sehingga tercipta peningkatan yang dramatis dalam hal waktu reaksi elevator dan mutu
berkendara dalam elevator.
CARA KERJA ELEVATOR/LIFT
Pada sistem geared atau gearless (yang masing-masing digunakan pada instalasi gedung dengan
ketinggian menengah dan tinggi), kereta elevator tergantung di ruang luncur oleh beberapa steel
hoist ropes, biasanya dua puli katrol, dan sebuah bobot pengimbang (counterweight). Bobot
kereta dan counterweight menghasilkan traksi yang memadai antara puli katrol dan hoist ropes
sehingga puli katrol dapat menggegam hoist ropes dan bergerak serta menahan kereta tanpa selip
berlebihan. Kereta dan counterweight bergerak sepanjang rel yang vertikal agar mereka tidak
berayun-ayun.

Mesin Lift Gearless


Mesin untuk menggerakkan elevator terletak di ruang mesin yang biasanya tepat di atas ruang
luncur kereta. Untuk memasok listrik ke kereta dan menerima sinyal listrik dari kereta ini,
dipergunakan sebuah kabel listrik multi-wire untuk menghubungkan ruang mesin dengan kereta.
Ujung kabel yang terikat pada kereta turut bergerak dengan kereta sehingga disebut sebagai
kabel bergerak (traveling cable).

Jalur Lift (Hoistway) dan ruang mesin di atasnya


Mesin geared memiliki motor dengan kecepatan lebih tinggi dan drive sheave dihubungkan
dengan poros motor melalui gigi-gigi di kotak gigi, yang dapat mengurangi kecepatan rotasi
poros motor menjadi kecepatan drive-sheave rendah. Mesin gearless memiliki motor kecepatan
rendah dan puli katrol penggerak dihubungkan langsung ke poros motor.

Sistem pergerakan Elevator/Lift dengan Gearless


Pada sistem hidrolik (terutama digunakan pada instalasi di gedung rendah, dengan kecepatan
kereta menengah), kereta dihubungkan ke bagian atas dari piston panjang yang bergerak naik dan
turun di dalam sebuah silinder. Kereta bergerak naik saat oli dipompa ke dalam silinder dari
tangki oli, sehingga mendorong piston naik. Kereta turun saat oli kembali ke tangki oli.
Aksi pengangkatan dapat bersifat langsung (piston terhubungkan ke kereta) atau roped (piston
terikat ke kereta melalui rope). Pada kedua cara tersebut, pekerjaan pengangkatan yang
dilakukan oleh pompa motor (energi kinetik) untuk mengangkat kereta ke elevasi yang lebih
tinggi sehingga membuat kereta mampu melakukan pekerjaan (energi potensial). Transfer energi
ini terjadi setiap kali kereta diangkat. Ketika kereta diturunkan, energi potensial digunakan habis
dan siklus energi menjadi lengkap sudah. Gerakan naik dan turun kereta elevator dikendalikan
oleh katup hidrolik.
******
RIWAYAT ESKALATOR
Pada tahun 1899, Charles D. Seeberger bergabung dengan Perusahaan Otis Elevator Co., yang
mana dari dia timbullah nama eskalator (yang diciptakan dengan menggabungkan kata scala,
yang dalam bahasa Latin berarti langkah-langkah (step), dengan elevator). Bergabungnya

Seeberger dan Otis telah menghasilkan eskalator pertama step type eskalator untuk umum, dan
eskalator itu dipasang di Paris Exibition 1900 dan memenangkan hadiah pertama. Mr. Seeberger
pada akhirnya menjual hak patennya ke Otis pada tahun 1910.

Eskalator lurus dan melengkung


Dalam perkembangannya, perusahaan Mitsubishi Electric Corporation telah berhasil
mengembangkan eskalator spiral (kenyataannya lebih cenderung melengkung/curve daripada
melingkar/spiral) dan secara eksklusif dijual sejak pertengahan tahun 1980. Eskalator ini
dipasang di Osaka, Jepang pada tahun 1985.
CARA KERJA ESKALATOR
Pendaratan/Landing
Floor plate rata dengan lantai akhir dan diberi engsel atau dapat dilepaskan untuk jalan ke ruang
mesin yang berada di bawah floor plates.
Comb plate adalah bagian antara floor plate yang statis dan anak tangga bergerak. Comb plate ini
sedikit miring ke bawah agar geriginya tepat berada di antara celah-celah anak tangga-anak
tangga. Tepi muka gerigi comb plate berada dibawah permukaan cleat.
Landasan penopang/Truss
Landasan penopang adalah struktur mekanis yang menjembatani ruang antara pendaratan bawah
dan atas. Landasan penopang pada dasarnya adalah kotak berongga yang terbuat dari bagianbagian bersisi dua yang digabungkan bersama dengan menggunakan sambungan bersilang

sepanjang bagian dasar dan tepat dibawah bagian ujungnya. Ujung-ujung truss tersandar pada
penopang beton atau baja.

Struktur perletakan Eskalator pada lantai gedung


Lintasan
Sistem lintasan dibangun di dalam landasan penopang untuk mengantarkan rantai anak tangga,
yang menarik anak tangga melalui loop tidak berujung. Terdapat dua lintasan: satu untuk bagian
muka anak tangga (yang disebut lintasan roda anak tangga) dan satu untuk roda trailer anak
tangga (disebut sebagai lintasan roda trailer). Perbedaan posisi dari lintasan-lintasan ini
menyebabkan anak tangga-anak tangga muncul dari bawah comb plate untuk membentuk tangga
dan menghilang kembali ke dalam landasan penopang.

Sistem pergerakan Eskalator

Anak tangga (individual steps) dari Eskalator


escalator-animation.swf
Animasi gerak eskalator

Lintasan pembalikan di pendaratan atas menggulung anak tangga-anak tangga mengelilingi


bagian ujung dan kemudian menggerakkannya kembali ke arah yang berbeda. Lintasan overhead
berfungsi untuk memastikan bahwa roda trailer tetap berada di tempatnya saat rantai anak tangga
diputar kembali.
******
RIWAYAT MOVING WALK
Banyak sebutan pada alat yang satu ini, di antaranya adalah Moving Walkway, Moving Sidewalk,
Moving Pavement, Walkalator, Travelator, atau Moveator.
Moving Walkway adalah alat angkut perpindahan orang dan barang dari satu tempat ke tempat
lain pada satu lantai atau pada lantai yang berbeda level dan bergerak sesuai dengan prinsip
pergerakan pada eskalator. Dengan demikian, konveyor ini adalah pengembangan ide dari
eskalator dan bisa dipasang pada posisi mendatar (horisontal) ataupun miring (inclined) dengan
kemiringan 10 20 derajat.

Moving walkway (horisontal) di Bandara Internasional Port Columbus

Moving walkway (inclined) di Stasiun Metro Beadry, Montreal

Moving walk (horisontal) di Stasiun metro Bienvenue Paris berkecepatan 9 km/jam


Kegunaan dari alat transportasi ini adalah berfungsi untuk membawa barang-barang bawaan
yang diletakkan di dalam kereta dorong (trolley) naik atau turun dari lantai satu ke lantai lain.
Biasanya terdapat di supermarket, mal, stasiun kereta ekspress, dll.
Dan bila dipasang secara mendatar pada satu lantai, berfungsi untuk meringankan beban dari
orang yang berjalan dengan membawa barang dan menempuh jarak yang relatif jauh. Misalnya
pada terminal di bandara internasional yang luas, musium, kebun binatang, atau aquarium (water
world).

Contoh gambar konveyor Moving Walkway

Struktur perletakan Moving Walkway pada lantai gedung