Anda di halaman 1dari 12

III.

KUALITAS AIR IRIGASI

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Isu lingkungan pertanian yang menjadi niasalah dunia pada saat ini
adalah emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global dan
perubahan iklim. Isu lingkungan yang lain adalah pencemaran penggunaan
pupuk anorganik dan pestisida secara berlebih yang menghasilkan residu
di dalam tanah dan perairan akibat pengelolaan lahan intensif dalam
pertanian saat ini. Selain itu pencemaran limbah industri dan limbah bahan
berbahaya beracun (B3) dari kegiatan industri penambangan menambah
tingginya pencemaran lingkungan pertanian. Perubahan lingkungan ini
perlu diantisipasi dengan melakukan penelitian baik di laboratorium, plot,
hingga hamparan dan hasil dokumen ilmiah ini kemudian disosialisasikan
di

tingkat

kebijakan

untuk

selanjutnya

diimplementasikan

pada

masyarakat umum dan petani.


Perubahan iklim (climate change) menimbulkan perubahan siklus air
di muka bumi termasuk Indonesia. Perubahan iklim ini menyebabkan
terjadinya pergeseran lama waktu musim hujan menjadi lebih pendek dan
sebaliknya lama waktu musim kemarau menjadi lebih panjang. Hasil
pemantauan data hidrologi menunjukkan bahwa jumlah curah hujan yang
jatuh di suatu wilayah selama hampir 20 - 25 tahun variasinya tidak besar.
Kondisi ini menyebabkan pada musim kemarau terjadi ekstrim kering,
ketersediaan air berkurang sehingga menimbulkan kekeringan. Pada
musim hujan terjadi ekstrim basah, air hujan melimpah sehingga
menimbulkan banjir, longsor, dan erosi. Kedua fenomena ini akan
berdampak pada ketersediaan air di muka bumi secara kuantitas maupun
kualitas. Dalam bidang pertanian ketersediaan air sangat berpengaruh
terhadap air irigasi.

65

66

Usaha usaha irigasi meliputi penyediaan sarana dan prasarana


untuk membagikan air berupa saluran pemberi dan untuk membuang air
kelebihan berupa saluran drainase. Dalam pembuatan saluran pemberi
harus didasarkan pada kebutuhan air maksimum untuk menghindari
kekurangan air pada areal irigasi. Sedangkan pembuatan untuk saluran
drainase didasarkan pada jumlah air yang harus dibuang dalam jangka
waktu tertentu untuk menghindari kelebihan air pada areal irigasi.
Praktikum Pengelolaan Air tentang Kualitas Air Irigasi dpat
memberikan pengetahuan tetang kualitas air irigasi. Kualitas air sangat
berpengaruh pada hasil budidaya. Kualitas air yang tidak baik dapat
menyebabkan tanaman keracunan.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Pengelolaan Air tentang Kualitas Air Irigasi
ini diharapkan mahasiswa dapat menghitung dan mengetahui suatu
kualitas air irigasi.
B. Tinjauan Pustaka
Air merupakan bahan yang sangat penting bagi kehidupan. Fungsi air
tidak pernah dapat digantikan oleh senyawa lain. Air juga merupakan salah
satu komponen utama dalam bahan dan produk pangan. Air memiliki manfaat
yang sangat banyak yang berguna bagi mahluk hidup di bumi, sehingga air
mempunyai peranan yang penting dalam melangsungkan kehidupan. Rumus
kimia air dalam lingkungan laboratorium adalah H2O. Tetapi kenyataannya di
alam, rumus tersebut menjadi H2O + X, dimana X berbentuk karakteristika
bilogik (bersifat hidup) ataupun berbentuk karakteristika non biologic
(bersifat mati). Pengotor yang ada dalam air yang akan diolah sebelum
digunakan dalam industri dapat bermacam macam diantaranya adalah
kekruhan (turbidity) (Endrah 2010).

67

Menurut Marwah Sitti (2011), kualitas air yang meliputi karakteristik


fisik air diantaranya :
a. Kekeruhan: Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan
anorganik dan organik yang terkandung dalam air seperti lumpur dan
bahan yang dihasilkan oleh buangan industri.
b. Temperatur: Kenaikan temperatur air menyebabkan penurunan kadar
oksigen terlarut. Kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan
menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi anaerobic ynag
mungkin saja terjadi.
c. Warna: Warna air dapat ditimbulkan oleh kehadiran organisme, bahanbahan tersuspensi yang berwarna dan oleh ekstrak senyawa-senyawa
organik serta tumbuh-tumbuhan.
d. Solid (Zat padat): Kandungan zat padat menimbulkan bau busuk, juga
dapat meyebabkan turunnya kadar oksigen terlarut. Zat padat dapat
menghalangi penetrasi sinar matahari kedalam air
e. Bau dan rasa: Bau dan rasa dapat dihasilkan oleh adanya organisme
dalam air seperti alga serta oleh adanya gas seperti H2S yang terbentuk
dalam kondisi anaerobik, dan oleh adanya senyawa-senyawa organik
tertentu
Suatu tanaman akan selalu membutuhka air pada kapasitas lapang dan
utuk memenuhinya dapat melalui irigasi. Pertumuhan tanaman sangat dibatasi
oleh jumlah air yang tersedia dalam tanah, sehingga air mempunnyai peranan
penting dalam proses kehidupan tanaman. Kekurangan air akan mengganggu
aktifitas fisiologis maupun marfologis, sehingga mengakibatkan terhentinya
pertumbuhan

tanaman.

Defisiensi

yang

terus-menerus

akan

dapat

menyebabkan perubahan pada tanaman yang jika dibiarka akan menyebabkan


kematian pada tanaman (Linsley 1991)
Menurut Jumin (2002) fungsi air pada tanaman adalah sebagai berikut:
1. Bagian dari protoplasma, biasanya air memetuk 85% sampai 90% dari
berat keseluruhan bagian hijau tanaman terutama pada jarigan yang
sedang tumbuh.

68

2. Reagen yang penting dalam proses fotosintesis dan dalam proses


hidrolitik seperti perubahan pati menjadi gula.
3. Pelarut garam, gas dan berbagai material yang bergerak kedalam
tanaman, melalui dinding sel dan jaringan xylem serta menjamin
kesinambungannya.
4. Sesuatu yang esensial untuk menjamin adanya turgiditas pertumbuhan sel,
stabilitas bentuk daun, proses membuka dan menutupnya mulut daun
serta kelangsung
Dalam pemanfaatan air tanah, perlu dipelajari potensi air tanah yaitu
dari imbuhan air tanah alamiah, kondisi hidrogeologi dan karakteristik
hidraulik akuifer. Jumlah imbuhan air tanah tahunan merupakan hasil
perkalian dari curah hujan rata-rata tahunan dengan koefisien imbuhan.
Kondisi hidrogeologi yang dimaksud adalah lapisan pengandung air (akuifer).
Terdapat macam-macam akuifer yang dijumpai di lapangan yaitu akuifer
terkekang, akuifer semi terkekang dan akuifer bebas. Karakteristik hidraulik
yang dimaksud adalah transmisivitas, kelulusan hidraulik, dan koefisien
kandungan atau simpanan pada akuifer terkekang atau lepasan jenis ( specific
yield) pada akuifer bebas.Selain potensi air tanah dari aspek kuantitas juga
perlu dipertimbangkan menurut aspek kualitas. Penggunaan air tanah untuk
keperluan irigasi haruslah memenuhi kriteria beberapa parameter seperti
Sodium Absorption Ratio (SAR) , daya hantar listrik (DHL), total padatan
terlarut (TDS), kadar Sodium dan Khlorida (Encona 1988).
Kualitas air adalah kondisi kualitatif air yang diukur dan atau diuji
berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor : 115 Tahun 2003). Kualitas air dapat
dinyatakan dengan parameter kualitas air. Parameter ini meliputi parameter
fisik, kimia, dan mikrobiologis. Parameter fisik menyatakan kondisi fisik air
atau keberadaan bahan yang dapat diamati secara visual/kasat mata. Yang
termasuk

dalam

parameter

fisik

ini

adalah

kekeruhan,

kandungan

69

partikel/padatan, warna, rasa, bau, suhu, dan sebagainya. Parameter kimia


menyatakan kandungan unsur/senyawa kimia dalam air, seperti kandungan
oksigen, bahan organik (dinyatakan dengan BOD, COD, TOC), mineral atau
logam, derajat keasaman, nutrient/hara, kesadahan, dan sebagainya. Parameter
mikrobiologis menyatakan kandungan mikroorganisme dalam air, seperti
bakteri, virus, dan mikroba pathogen lainnya.Berdasarkan hasil pengukuran
atau pengujian, air sungai dapat dinyatakan dalam kondisi baik atau cemar.
Sebagai acuan dalam menyatakan kondisi tersebut adalah baku mutu air,
sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001
(Kementrian Lingkungan Hidup 2002).
C. Metodologi Praktikum
1. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Pengelolaan Air tentang Kualitas Air Irigasi ini
dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 12 Mei 2013 bertempat di dekat
desa Palur, Mojolaban, Sukoharjo. Lokasi praktikum berupa saluran
irigasi primer, sekunder dan saluran drainase dan analisis sedimen di
Laboratotium Kimia Tanah
2. Alat dan Bahan
a. Water sample
b. pHstik
c. Termometer bahan
d. Kayu 4 meter
e. Meteran
f. Ember kapasitas 10 liter
g. Botol 1,5 liter (3 buah)
h. Pengaduk
i. Oven
j. Cawan aluminium
k. Timbangan analitik

70

3. Cara Kerja
a. Mengambil sampel air pada saluran irigasi primer, sekunder, dan
saluran drainase. Pada saluran primer mengambil sampel air di 3 titik
yaitu pada bagian tengah dan 2 pada bagian tepi saluran, masing
masing tepi kanan dan kiri
b. Mengambil contoh air di masing masing titik dengan menggunakan
watersampler. Mencatat ketinggian air di saluran dan menurunkan
watersampler sampai ketinggian air. Khusus untuk saluran
drainase, pengambilan sampel air menggunakan gayung karena
dangkal sampai sekitar 1 liter.
c. Saat mengambil sampel air dilakukan pengukuran pH dengan pH stik
dan pengukuran suhu
d. Mengkomposit air air yang diambil dari ketiga titik ke dalam ember
dan setelah itu mengaduk kemudian dimasukkan ke dalam botol
berkapasitas 1,5 liter
e. Membawa ke laboratorium untuk dianalisis kandungan sedimennya
f. Mengaduk air selama 5 menit
g. Menimbang berat cawan alumunium sebelum digunakan (a)
h. Air yang telah homogen kemudian diambil 100 ml dimasukkan ke
dalam cawan alumunium kemudian mengoven pada suhu 105oC
sampai mengering (sekitar 48 jam)
i. Menimbang berat keseluruhan setelah dioven (b)
j. Menghitung berat sedimen (b-a) (gram). Menghitung konsentrasi
dengan persamaan : konsentrasi (gram/l) = berat sedimen (gr) /
volume air
D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
1. Hasil Pengamatan
Tabel 3.1 Hasil perhitungan Kualitas Air Irigasi

71

No
.

Macam
Saluran Irigasi

pH

1.

Primer (1)

4,5

Suh
u
(oC)
31

Primer (2)
2.

Sekunder (1)

3,5

30,6

Sekunder (2)
3.

Tersier (1)

4,5

30

Tersier (2)

(a)

(b)

(b-a)
gram

Konsentrasi
(g/l)

33,08
1
38,76
4
33,90
2
36,52
9
43,69
9
35,80
6

33,08
6
33,77
0
33,90
4
36,53
3
43,7

0,005

0,2

0,006

0,24

0,002

0,08

0,004

0,12

0,001

0,16

35,80
8

0,002

0,08

Sumber : Laporan Sementara


2. Analisis Data
a. Saluran Irigasi Primer
1) Primer 1
a = 33,081
b = 33,086
volume air 25 ml = 0,025 liter
Berat sedimen = b-a
= (33,086 33,081)
= 0,005
(ba)
Konsentrasi
= volume
=

0,005 gr
0,025 l

= 0,2 gr/l
2) Primer 2
a = 38,764
b = 33,770
volume air 25 ml = 0,025 liter
Berat sedimen = b-a
= (33,764 33,770)
= 0,006

72

Konsentrasi

(ba)
volume

0,006 gr
0,025 l

= 0,24 gr/l
b. Saluran Irigasi Sekunder
1) Sekunder 1
a = 33,902
b = 33,904
volume air 25 ml = 0,025 liter
Berat sedimen = b-a
= (33,902 33,770)
= 0,002
(ba)
Konsentrasi
= volume
=

0,002 gr
0,025 l

= 0,08 gr/l
2) Sekunder 2
a = 36,529
b = 36,533
volume air 25 ml = 0,025 liter
Berat sedimen = b-a
= (36,529 36,533)
= 0,004
(ba)
Konsentrasi
= volume
=

0,004 gr
0,025 l

= 0,16 gr/l
c. Saluran Irigasi Tersier
1) Tersier 1
a = 43,699
b = 43,7
volume air 25 ml = 0,025 liter
Berat sedimen = b-a
= (43,699 43,7)
= 0,001

73

Konsentrasi

(ba)
volume

0,001 gr
0,025 l

= 0,04 gr/l
2) Tersier 2
a = 35,806
b = 35,808
volume air 25 ml = 0,025 liter
Berat sedimen = b-a
= (35,808 35,806)
= 0,002
(ba)
Konsentrasi
= volume
=

0,002 gr
0,025 l

= 0,08 gr/l
E. Pembahasan
Air irigasi yang baik adalah air yang dapat memenuhi segala fungsi air
tanpa menimbulkan efek samping yang dapat mengganggu pertumbuhan
tanaman dan merusak struktur serta kesuburan tanah. Kualitas air adalah
kondisi kualitatif air yang diukur dan atau diuji berdasarkan parameterparameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku (Pasal 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor: 115 Tahun 2003). Kualitas air dapat dinyatakan dengan parameter
kualitas air. Parameter ini meliputi parameter fisik, kimia, dan mikrobiologis.
Parameter fisik menyatakan kondisi fisik air atau keberadaan bahan
yang dapat diamati secara visual/kasat mata. Yang termasuk dalam parameter
fisik ini adalah kekeruhan, kandungan partikel/padatan, warna, rasa, bau, suhu,
dan sebagainya.Parameter kimia menyatakan kandungan unsur/senyawa kimia
dalam air, seperti kandungan oksigen, bahan organik (dinyatakan dengan BOD,

74

COD, TOC), mineral atau logam, derajat keasaman, nutrient/hara, kesadahan,


dan

sebagainya.

Parameter

mikrobiologis

menyatakan

kandungan

mikroorganisme dalam air, seperti bakteri, virus, dan mikroba pathogen


lainnya.Berdasarkan hasil pengukuran atau pengujian, air sungai dapat
dinyatakan dalam kondisi baik atau cemar. Sebagai acuan dalam menyatakan
kondisi tersebut adalah baku mutu air, sebagaimana diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 82 tahun 2001. Namun pada praktikum ini parameter yang
digunakan pada acara uji kualitas air ini yaitu kemasaman atau pH air, suhu,
dan konsentrasi sedimen.
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh derajat keasaman atau pH
masing-masing saluran irigasi yaitu primer 4,5; saluran sekunder 3,5; dan
saluran tersier 4,5. Hal ini menunjukkan bahwa air pada saluran irigasi di desa
Palur, Mojolaban ini bersifat masam. Derajat keasaman atau pH itu sendiri
merupakan parameter kimia yang menunjukkan konsentrasi ion hidrogen pada
perairan. Konsentrasi ion hidrogen tersebut dapat mempengaruhi reaksi kimia
yang terjadi di lingkungan perairan. Oleh Ayres dan Westcot (1976) dinyatakan
bahwa pH air untuk irigasi berkisar antara 6,5 - 8,4. Pengaruh tingkatan pH
tanah terhadap tanaman adalah sebagai berikut: pH dibawah 4,5 (terlalu asam)
menyebabkan akar rusak sehingga kualitas dan jumlah panen turun, terlihat
pada saat perubahan tanaman dari fase vegetatif ke generatif. pH 5.5 sampai 6
(rata-rata tanah di Indonesia) terdapat unsur hara yang optimum untuk tanaman,
dan pH diatas 6 pada tingkatan ini, tanaman akan terlalu vegetatif. Hal ini tidak
berpengaruh pada kualitas buah karena berada di musim yang tidak tepat.
Parameter yang kedua yaitu suhu atau temperature. Berdasarkan hasil
praktikum diperoleh data suhu dari masing-masing saluran yaitu primer 31 o C,
sekunder 30,6oC, dan tersier 30o C. Suhu air berhubungan dengan oksigen
terlarut atau DO (Dissolved Oxygen). Kadar oksigen yang terlarut dalam
perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan

75

tekanan atmosfer. Semakin besar suhu dan ketinggian (altitude) serta semakin
kecil tekanan atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin kecil.
Pada ekosistem perairan, keberadaan oksigen sangat dipengaruhi oleh
beberapa faktor antara lain distribusi temperatur, keberadaan produser autotrop
yang mampu melakukan fotosintesis, serta proses difusi oksigen dari udara. Di
perairan umumnya oksigen memiliki distribusi yang tidak merata secara
vertikal . Distribusi ini berkaitan dengan kelarutan oksigen yang dipengaruhi
oleh temperatur perairan. Kelarutan oksigen bertambah seiring dengan
penurunan temperatur perairan, walaupun hubungan ini tidak selamanya
berjalan secara linier.
Parameter yang terakhir yaitu konsentrasi sedimen. Diketahui dari hasil
praktikum konsentrasi sedimen pada saluran primer yaitu 0,2 dan 0,24 g/l,
saluran sekunder sebesar 0,08 dan 0,12 g/l, dan saluran tersier konsentrasi
sedimennya sebesar 0,16 dan 0,08 g/l. Hal tersebut menunjukkan bahwa
konsentrasi sedimen terbesar pada saluran primer. Hal ini dapat disebabkan
terbawanya sedimen dari ssumber aliran irigasi dan sedimen yang terbawa
tersebut menumpuk pada saluran primer.
F. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari acara praktikum kualitas air
irigasi ini adalah :
a. Pada saluran primer, sekunder dan tersier memiliki kondisi keasaman
yang relatif sama yaitu dalam kondisi masam.
b. Temperatur pada saluran tersier lebih rendah dibandingkan dengan
saluran primer dan saluran sekunder.
c. Berat sedimen pada saluran primer memiliki nilai yang tinggi baik pada
pengulangan pertama maupu kedua dibandingkan dengan saluran
sekunder dan tersier.

76

d. Konsentrasi tertinggi dimiliki oleh saluran drainase atau primer pada


pengulangan pertama sebesar 0,2 g/l kemudian saluran tersier pada
pengulangan pertama sebesar 0,24 g/l.
2. Saran
Saran untuk pratikum kali ini adalah sebaiknya koordinasi mengenai
pratikum lebih diperjelas mekanismenya terutama masalah waktu yang selalu
membuat kebingungan pratikan.
DAFTAR PUSTAKA
Ayres R S dan Westcot D W 1976, Water Quality for Agriculture, FAO Irrigation and
Drainage Paper, volume no.29, Rome, Italy
Encona Eng. Inc. dan Mac Donald & Partner Asia 1988. East Java Provincial Water
Resources Master Plan Study for Water Supply, Ministry of Public Works,
Jakarta
Endrah

2010, Turbidimetri,http://endrah.blogspot.com/2010/04/turbidimeter.html.
Diakses pada 26 Mei 2013.

Jusmin, Hasan Basri 2002. Agronomi. Jakarta : Raja Grafindo Perkasa.


Linsley Ray K et al. 1991. Teknik Sumber Daya Air Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga.
Kementrian Lingkungan Hidup 2002. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia.
Marwah, Sitti 2011. Daerah Aliran Sungai (Das) sebagai Satuan Unit Perencanaan
Pembangunan Pertanian Lahan Kering Berkelanjutan. Program Pasca
Sarjana / S3, Institut Pertanian Bogor.