Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1. Tujuan Percobaan
Mempelajari pengertian impedansi, mempelajari hubungan antara impedansi,
resistansi, dan reaktansi pada rangkaian seri RC dan RL.
Mepelajari hubungan antara tegangan dengan arus di rangkaian seri RC dan RL;
melihat perbedaan antara fasa tegangan dengan fasa arus pada rangkaian RC dan RL.
Mempelajari respon (response) rangkaian RC dan RL terhadap frekuensi.

2. Dasar Teori
PENDAHULUAN
Dalam arus bolak-balik gelombang sinusm impedansi didefinisikan sebagai
perbandingan antara fasor tegangan terhadap fasor arus. Dari hubungan tegangan
dengan arus , terlihat bahwa pada:

R :fasa tegangan adalah sefasa dengan fasa arus.


L :fasa tegangan mendahului 900 terhadap fasa arus.
C :fasa tegangan tertunda (tertinggal,delay) 900 terhadap fasa arus.
Perbandingan tegangan terhadap arus pada R disebut resistansi, sedangkan pada
L dan C disebut rektansi. Bila digambar, resistansi ternyata tidak sebidang dengan
reaktansi; perbedaan ini diungkapkan dengan sebuah operator j yang besarnya = -1
untuk menunjukkan perputaran sudut. Perputaran sudut terhadap besaran semula
sebesar 900 searah dengan perputaran jarum jam dinyatakan dengan j dan berlawanan
arah +j.

RANGKAIAN RC

Gambar 1.2.1 Rangkaian RC


Persamaan rangkaian menurut Kirchoff II (KVL), adalah Vi=VR+Vc atau
vi=Ri + 1Cidt(1)

Membandingkan fasa tegangan di tiap elemen terhadap arus I yang mengalir di


rangkaian, didapat : VR (tegangan di R) sefasa dengan I, VC (tegangan di kapasitor)
tertinggal 900 dengan I, sedang Vi (tegangan sumber) tertinggal sebesar dari arus I
yang keluar dari sumber, dimana O0 < < 900.
Besar sudut ditentukan oleh perbandingan reaktansi terhadap resistansinya.
Beda fasa antara VC dengan arus I, atau antara Vi dengan I, dapat dihitung
dengan membandingkan beda fasa antara VC dan VR atau antara Vi dan VR.

Rangkaian diferensiator. Perhatikan kondisi dimana VC >> VR. Persamaan vi=Ri +


1Cidt atau Vi=VR+Vc praktis hanya ditentukan oleh tegangan kapasitor, Vi ~ VC.
Besar arus I,
vi=Ri + 1Cidt atau dvi + 1Cdt i = CdVidt.
Jika tegangan keluaran diambil dari terminal resistor R (Vo = VR), maka besar
tegangan keluaran adalah:
Vo = R.i = RC dVidt.(2)
Konfigurasi rangkaian seperti ini disebut rangkaian diferensiator, karena
tegangan keluaran Vo ,merupakan diferensiasi dari tegangan masukan Vi.
Semacam persyaratan agar rangkaian berlaku sebagai sebuah diferensiator,
yaitu kondisi dimana VC>>VR>> (VC>>VR), adalah impedansi C juga harus
jauh lebih besar dari R. analisis ini menunjukkan impedansi C, akan besar pada
1jCIRI1CR
Atau, RC1, bila didefinisikan frekuensi o= 1RC atau fo= 12RC,
maka impedansi C besar akan terjadi pada frekuensi dengan rentang lebih
kecil/rendah dari o; ketidaksamaan RC<<1 memperlihatkan hal ini,
o1o.(3)

Rangkaian filter lolos frekuensi tinggi . dari persamaan satunya, Vi = VR + VC, besar
perbandingan sinyal keluaran terhadap sinyal masukan dapat dihitung,
VoVi=RR+1jC=11+1jRC=11-jo..(4)
Pada kondisi frekuensi dengan rentang lenih tinggi dari o, o
diperoleh VoVi1. Frekuensi o disebut sebagai frekuensi cut-off , yaitu
batas frekuensi dimana rangkaian dianggap sudah tidak mampu
menerima/meneruskan sinyal (meredam). Pada frekuensi = frekuensi cut-off
, amplitude tegangan keluaran adalah 0,707 dari tegangan masukan:
VoVi=12=0,707
Dari VoVi=0,707 dapat diturunkan besar daya yang didispasikan di R
adalah:
PR=Vo2R=Vi2)2R=Vi22R=12P max(5)
P max adalah daya disipasi terbesar di R yang terjadi pada saat frekuensi
tinggi, >> o (Vo Vi). Dengan perkataan lain, rangkaian ini hanya
meneruskan sinyal pada frekuensi kerja yang lebih tinggi dari 1/Rc, o.
Jadi rangkian ini selain berfungsi sebagai diferensiator juga merupakan suatu
high pass filter (HPF) atau rangkaian filter lolos frekuensi tinggi sederhana.

Dari persamaan Vi= Ri + 1Cidt atau Vi= VR+VC, bila keluaran diambil dari
kapasitor, VC = Vo : untuk VR>>VC, maka Vi VRViR.i atau i = ViR, diperoleh
hubungan Vo=Vc terhadap masukan Vi sebagai berikut:
Vo = 1Cidt=1RCVidt..(6)
Rangakaian dengan persyaratan ini dikenal sebagai rangkaian integrator.
Dalam bentuk fasor, hubungan di atas dapat dituliskan sebagai berikut:
VR>>VC atau VR>>VC>>1jCI
R>>1C atauRC1 ;bila o=11RC atau fo=12RC, ,maka
o>>1o

Dari persamaan Vi = VR+VC, bila terjadi di kondisi dimana Vo=VC, dapat dituliskan:
VoVi=1jCR+1jC=11+jCR=11+jo....................(7)
Untuk o, akan diperoleh VoVi1. Dengan persyaratan ini, rangkaian
membentuk sebuah rangkaian low pass filter (LPF) filter lolos frekuensi
rendah).

RANGKAIAN RL

Analisa pada rangkaian RL (lihat gambar di halaman berikut) dapat dilekukan


dengan cara yang sama seperti pada rangkaian RC. Menurut hukum Kirchoff II
(KVL),
Vi = R.i + L didt.(8)
a. Vi = VR + VL; VR sefasa dengan I, VL mendahului 90o terhadap i, dan Vi mendahului
90o terhadap i (dimana 0o<<90o)

Gambar 1.2.2 Rangkaian RL

Seperti halnya pada rangkaian RC, sudut ditentukan oleh perbandingan


reaktansi dan resistansinya. Beda fasa antara VL dan i, dapat dilihat dengan
membandingkan beda fasa antara VL dan VR, atau antara Vi dan VR.
b. Dari persamaan vi= Ri + Ldidt atau Vi= VR + VL; dengan cara yang sama sperti
pada rangkaian RC, dapat diturunkan persyaratan yang harus dipenuhi agar rangkaian
RL berfungsi sebagai diferensiator, integrator, filter lolos frekuensi tinggi (HPF)
ataupun filter lolos frekuensi rendah (low pass filter).

Impedansi

c.

Gambar 1.2.3 Grafik dari impedansi kompleks

Impedansi listrik, atau lebih sering disebut impedansi, menjelaskan


ukuran penolakan terhadap arus bolak-balik sinusoid. Impedansi listrik
memperluas konsep resistansi listrik ke sirkuit AC, menjelaskan tidak hanya
amplitudo relatif dari tegangan dan arus, tetapi juga fasa relatif. Impedansi adalah
kuantitas kompleks dan istilah impedansi kompleks mungkin dapat
dipertukarkan, bentuk kutub secara praktis menunjukkan baik karakteristik
magnitudo dan fasa,
(9)
dimana magnitudo Z menunjukkan perbandingan amplitudo perbedaan tegangan
terhadap amplitudo arus, memberikan perbedaan fasa antara tegangan dan arus,
sedangkan j adalah bilangan imajiner.
Dalam koordinat Kartesius,
..(10)
dimana bagian nyata dari impedansi adalah resistansi R dan bagian imajiner adalah
reaktansi . Secara dimensi, impedansi sama dengan resistansi; dan satuan SI
adalah ohm. Istilah impedansi digunakan pertama kaki oleh Oliver Heaviside pada
Juli 1886. Arthur Kennelly adalah yang pertama kali menunjukkan impedansi
dengan bilangan kompleks pada 1893. Kebalikan dari impedansi adalah admitansi.

Hukum Ohm

Gambar 1.2.4 Sebuah catu AC mengenakan tegangan V membentangi beban Z


menggerakkan arus I.
Maksud dari impedansi listrik dapat dimengerti dengan mensubtitusikan ke
hukum Ohm.
.(11)

Magnitudo impedansi Z berperan seperti resistansi, memberikan penurunan


tegangan membentangi impedansi untuk arus yang diberikan . Faktor fasa
menjelaskan bahwa arus tertinggal dari tegangan dengan fasa (pada domain
waktu, isyarat arus digeser

kesebelah kiri isyarat tegangan).

Karena impedansi memperluas hukum Ohm untuk mencakup sirkuit AC,


hasil dari analisis sirkuit DC seperti pembagian tegangan, pembagian arus, teorema
Thevenin dan teorema Norton, dapat juga diperluas ke sirkuit AC dengan
mengganti resistansi dengan impedansi.

Tegangan dan arus kompleks

Gambar 1.2.5 Secara umum impedansi pada sirkuit dapat digambar dengan simbol
yang sama dengan resistor (US ANSI atau DIN Euro) atau dengan kotak berlabel
Untuk mempermudah perhitungan, gelombang tegangan dan arus
sinusoidal biasanya digambarkan sebagai fungsi nilai-kompleks dari waktu
diartikan sebagai dan
(12)
..(13)
Impedansi didefinisikan sebagai perbandingan harga tersebut.

..(14)
Disubstitusika ke hukum Ohm, sehingga:

...(15)
V0 = I0Z..(16)
V = I + ..(17)
Magnitudo persamaan tersebut adalah hukum Ohm biasa untuk amplitudo
tegangan dan arus, sedangkan persamaan kedua menunjukkan hubungan fasa.

Validitas perwakilan kompleks


Perwakilan ini menggunakan eksponensial kompleks dapat dibuktikan
dengan rumus Euler:

.(18)

Yaitu fungsi sinusoid harga-nyata (yang mana mungkin mewakili bentuk


gelombang arus atau tegangan) mungkin dipecah menjadi dua rumus hargakompleks. Dengan prinsip superposisi, perilaku sinusoid pada sisi kiri dapat
dianalisis dengan menganalisis dua istilah kompleks pada sisi kanan. Karena
simetris, analisis hanya diperlukan untuk salah satu sisi, hasilnya akan sama untuk
yang lain.
..(19)
Dengan kata lain, diambil bagian nyata dari hasil tersebut.

Fasor
Fasor adalah bilangan kompleks yang tetap, biasanya dinyatakan dalam
bentuk eksponensial, mewakili amplitudo kompleks (magnitudo dan fasa) dari
fungsi sinusoid dari waktu. Fasor digunakan oleh ahli elektronik untuk
mempermudah perhitungan yang melibatkan sinusoid, dimana persamaan
diferensial dapat diubah ke aljabar.

Impedansi dari unsur sirkuit dapat didefinisikan sebagai perbandingan


tegangan fasor yang membentangi unsur dengan arus fasor yang mengaliri unsur,
seperti yang ditetapkan oleh amplitudo relatif serta fasa dari tegangan dan arus. Ini
identik dengan definisi dari hukum Ohm diatas, mengakui bahwa faktor ejt saling
meniadakan.

Hambatan listrik

Gambar 1.2.6 750 resistor yang ditunjukkan dari kode warnanya


Hambatan listrik adalah perbandingan antara tegangan listrik dari suatu
komponen elektronik (misalnya resistor) dengan arus listrik yang melewatinya.
Hambatan listrik yang mempunyai satuan Ohm dapat dirumuskan sebagai berikut:
.(20)
atau
...(21)
di mana V adalah tegangan dan I adalah arus listrik.
Rangkaian diferensiator menghasilkan tegangan keluaran yang merupakan fungsi diferensial
waktu dari tegangan masukannya.
Rangkaian integrator menghasilkan tegangan keluaran yang merupakan fungsi integral waktu
dari tegangan masukannya.

Untuk rangkaian integrator hubungkan masukan dengan gelombang kotak dari


function generator.

Untuk rangkaian differensiator hubungkan masukan dengan gelombang segitiga dari


function generator.

Setel frekuensi pada harga 400 Hz

Hubungkan masukan dan keluaran rangkaian pada oscilloscope

Gambar sinyal masukan dan sinyal keluaran yang keluar pada oscilloscope

Setel kembali frekuensi menjadi 40 Hz pada rangkaian integrator dan 40 kHz pada
rangkaian diferensiator.

Gambar sinyal masukan dan sinyal keluaran yang keluar pada oscilloscope

Bidang Kompleks Energi

Energi dalam komponen/ elemen rangkaian


elektrik
Energi riil: energi tersalurkan danterdisipasikan
Energi reaktif: energi yang tersimpan tersimpan
Bentuk penyimpanan penyimpanan energi reaktif
Medan elektrik pada kapasitor
Medan magnet pada induktor
Operator j menyatakan pemindahan energi
riil ke energi imajiner dan sebaliknya
1.3 Alat-alat Praktikum
1. Kit praktikum Rangkaian RC dan RL
2. Generator sinyal
3. Osiloskop
4. Multimeter
5. Kabel penghubung

4. Prosedur Pecobaan

RANGKAIAN RC

Gambar 1.4.1 Rangakaian RC

Vi = 3 volt rms, f = 15 kHz, bentuk gelombang sinus

R = 10 k
C = 0,001 F

a. Membuat rangkaian dengan harga-harga besaran seperti gambar di atas, yaitu dengan
menghubungkan R2 dan C1 pada kit praktikum.
b. Menghitung VR dan VC dengan harga besaran yang telah diketahui.
c. Mengukur VR dan VC dengan multimeter.
d. Mengamati Vi, VR, dan VC dengan osiloskop.
e. Mencari beda fasa antara Vi dan Vr,juga antara Vc dan VR dengan bantuan osiloskop.
f. Mencatat hasil perhitungan, pengukuran, dan pengamatan ke dalam lembar kerja
(tabel-2)
g. Mencoba untuk kombinasi R & C yang lain.

RANGKAIAN RL

Gambar 1.4.2 Rangakaian RL


Vi = 3 volt rms, f = 60 kHz, bentuk gelombang sinus
R = 1 k
C = 2,5 F
a. Membuat rangkaian dengan harga-harga besaran seperti pada gambar, dengan
menghubungkan R1 dan L1 pada kit praktikum.
b. Menghitung VR dan VL dengan harga besaran yang telah diketahui.
c. Mengukur VR dan VL dengan Mulitimeter.
d. Mengamati Vi, VR, VL dengan osiloskop
e. Mencatat hasil perhitungan, pengukuran dan pengamatan ke dalam lembar kerja
(tabel-3).
f. Mencoba untuk harga R yang lain.

RANGKAIAN DIFERENSIATOR

Gambar 1.4.3 Rangkaian Differensiator


a. Membuat rangkaian dengan harga-harga besaran seperti pada gambar, dengan
menghubungkan R1 dan L1 pada kit praktikum.
b. Mengatur input dari generator sinyal dengan bentuk gelombang segi empat
sebesar volt peak to peak pada frekuensi 500Hz dengan bantuan osiloskop
c. Menghitung konstanta waktu RC dengan harga-harga C dan R yang tersedia.
d. Menggambar bentuk gelombang keluaran yang terjadi dengan osiloskop.
e. Mencatat hasil perhitungan dan pengukuran serta menggambar hasil
pengamatan pada tabel-4 dalam lembar kerja.
f. Mengulangi untuk beberapa harga C dan R seperti yang tercantum pada (tabel4).

RANGKAIAN INTEGRATOR

Gambar 1.4.4 Rangakaian Integrator


a. Membuat rangkaian dari kit praktikum seperti gambar di atas
b. Mengatur input dari generator sinyal dengan bentuk gelombang segi empat
sebesar 4 Volt peak to peak pada frekuensi 500Hz dengan bantuan osiloskop.
c. Menghitung konstanta waktu RC dengan harga-harga C dan R yang tersedia.
d. Menggambar bentuk gelombang keluaran (ideal) dengan input bentuk
gelombang segi empat.
e. Mengukur bentuk gelombang keluaran yang terjadi dengan osiloskop.
f. Mencatat hasil perhitungan dan pengukuran serta gmabarlah hasil pengamatan
pada Tabel-5 dalam lembar kerja.
g. Mengulangi untuk beberapa harga C dan R seperti yang tercantum pada (tabel5).

PENGARUH FREKUENSI

Gambar 1.4.5 Rangkaian Differemsiator


a. Membuat rangkaian RC seperti pada percobaan differensiator dengan harga R =
100k dan C = 0,01 F.
b. Menghitung konstanta waktunya = RC
c. Sinyal masukan persegi, 50 kHz, 4 volt peak to peak (puncak ke puncak) dengan
bantuan osiloskop.

d. Mengukur dan menggambar bentuk gelombang keluaran untuk frekuensi 50 Hz, 500
Hz, dan 50 kHz.
e. Mencatat hasilnya pada tabel-6 dalam lembar kerja.
f. Kemudian membuat rangkaian RC (integrator) seperti pada percobaan integrator
dengan R = 100 k dan C = 0,01 F.
g. Mengulangi langkah (b), (c), (d), dan (e).

Gambar 1.4.6 Rangkaian integrator