Anda di halaman 1dari 9

A.

PENDAHULUAN
Kehadiran standar pelayanan keperawatan bagi perawat kesehatan saat ini sangat tepat
dan mempunyai peranan sangat peting, mengingat semakin banyaknya masalah-masalah
keperawatan yang dalam hal ini adalah kelalaian perawat dalam menjalankan profesinya. Isu
legal yang melibatkan perawatan kritis telah dipublikasikan dengan luas dan meningkatkan
perhatian profesi kesehatan, rumah sakit, dan masyarakat. Tampaknya masyarakat lebih suka
berperkara dulu, dan jumlah malpraktik yang melibatkan nama perawat semakin meningkat. Isu
seperti penolakan dan penghentian pengobatan telah luas didiskusikan dan ditulis, meskipun
badan pembuat undang-undang telah bertindak, sehingga status harapan hidup telah diaktifkan
pada beberapa yuridiksi.
Akhir-akhir ini tuntutan hukum terhadap perawat dengan dakwaan melakukan mal
praktik makin meningkat dimana-mana. Maraknya pengaduan tersebut selain disebabkan oleh
meningkatnya kesadaran hukum dan kesadaran akan hak-hak pasian, adalah karena masyarakat
menganggap kegagalan upaya penyembuhan yang dilakukan oleh dokter dan perawat terhadap
pasien identik dengan kegagalan tindakan medik. Padahal dokter dan perawat tidak dapat
disalahkan jika mereka telah melaksanakan tugas profesinya sesuai dengan standar pelayanan
medik, sesuai dengan prosedur yang telah disepakati oleh organisasi profersinya dan rumah sakit
tempat mereka bekerja.
Harapan pasien dalam menerima pelayanan medik adalah kesembuhan dan sekecil
mungkin adanya resiko atau efek samping. Namun dokter dan perawat adalah manusia biasa
yang tidak luput dari human error, apalagi bekerja dalam kondisi sarana pelayanan medik yang
tidak memadai, peralatan yang kurang, faktor lingkungan, dan sebagainya. Hendaknya dokter
beserta perawat dapat memberikan terapi dan melakukan tindakan medik sesuai standard
pelayanan medik, dan tindakakn itu memang wajar dan diperlukan.
Mal praktik medik dapat diartikan sebagai kelalaian atau kegagalan seorang perawat
untuk menggunakan tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim dipergunakan dalam
mengobati pasien atau orang cedera menurut ukuran dilingkiungan yang sama. Dalam praktiknya
bvanyak sekali hal yang dapat diajukan sebagai mal praktik, seperti salah diagnosis atau
terlambat diagnosis karena kurang lengkapnya pemeriksaan, pemberian terapi yang sudah
ketinggalan zaman, kesalahan teknik waktu ,elakukan pembedahan, salah dosis obat, salah

metode tes atau metode pengobatan, perawataan yang tidak tepat, kelalaian dalam pemantauan
pasien, kegagalan komunikasi, dan kegagalan peralatan.
Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan jika kelalaian itu tidak
sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat menerimanya. Ini
berdasarkan prinsip hukum De Minimis Non Curat Lex, yang berarti hukum tidak
mencampuri hal-hal yang dianggap sepele. Akan tetapi, jika kelalaian itu menyebabkan
kerugaian materi, mencelakakan bahkan merenggut nyawa orang lain, diklasifikasikan sebagai
kelalaian berat (Culpa lata), serius dan kriminil. Tolak ukur culpa lata adalah:
1.
2.
3.
4.

Bertentangan dengan hukum


Akibatnya dapat dibayangkan
Akibatnya dapat dihindarkan
Perbuatannya dapat dipersalahkan

Jadi mal praktik medik merupakan kelalaian yang berat dan pelayanan keperawatan
dibawah standard.
B. PEMBAGIAN PERAN
1. Cahya Riska Widiyanti
2. Chandra Triyana
3. Dian Asri Utami
4. Elis Sari Ningrum
5. Hesti Mawarsari
6. Legina Fuji Lestari
7. Lifiyani Subendi
8. Mustika Sari
9. Nofi Novia Fitriani
10. Noorvita Sri Rahayu
11. Nurul Fajriyanti
12. Sana Amatulloh Kamilah
13. Siti Zubaidah

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

C. DIALOG
1. Pembagian Waktu
2. Skenario
Pada suatu hari di Rumah Sakit Harapan Sembuh terdapat suatu masalah dimana
terjadi suatu kelalaian yang dilakukan oleh seorang perawat yang sedang praktek di
ruangan tersebut.

Kejadian itu merupakan suatu kesalahan yang secara tidak sengaja dilakukan oleh
perawat ____ yang akan melakukan injeksi pada pasien ___, karena mendapat pesan
dari dokter ____. Pada saat sebelum memberikan obat kepada klien perawat ___
terburuburu mau mengambil obat di lemari obat kemudian dia menabrak pasien lain
yang sedang belajar berjalan tetapi dia marahmarah dan memaki pasien tersebut
dengan katakata kotor padahal ada perawat lain dan juga keluarga klien.
Dokter

: Suster, tolong berikan antibiotik melalui IV kepada pasien bernama ___


di ruangan Gelatik bed no. 4.

Perawat 1

: Baik, dok. Saya akan memberikan obat antibiotik melalui IV kepada


pasien bernama ___ di ruangan Gelatik bed no. 4.

Perawat keluar dari ruang dokter dengan terburu-buru untuk mengambil obat yang akan
diberikan kepada pasien. Saat perjalanan menuju kamar pasien, perawat 1 menabrak
pasien yang sedang latihan berjalan yang didampingi oleh perawat 2.
Pasien 2

: aduh, sakit!!

Perawat 1

: kamu ini gimana sih? Jalan ga lihat-lihat. Saya ini lagi buru-buru tau!
Suster juga, gimana sih malah ngajarin jalan disini, udah tau ngehalangin
jalan yang lewat!

Perawat 2

: oh, iya maaf sus. Kalau saya sudah menghalangi jalan anda.

Perawat 2 membantu pasien 2 berdiri dan perawat 1 segera pergi menuju ruangan untuk
mengambil obat
Perawat 1 tergesa-gesa mengambil obat tanpa melihat kembali jenis obat yang sudah
diresepkan oleh dokter dan segera menuju ruangan pasien.
Perawat 1

: assalamualaikum, ibu. Sekarang saya akan memberikan obat melalui


injeksi kepada adek ___.

Ibu

: oh iya, silahkan suster.

Perawat 1 langsung memberikan obat antibiotik kepada pasien melalui injeksi.


Perawat 1

: de, sekarang kelas berapa?

Pasien

: kelas 4

Perawat 1

: oh, kelas 4 ya. Sekolahnya dimana?

Pasien

: di SDN Sukagalih

Perawat 1

: Oh, di SDN Sukagalih ya. Ada Pa Galih ga disana?

Pasien

: ya ga ada atuh teteh.

Perawat 1

: (segera meninjeksi) iya, ade. Sudah selesai injeksinya.

Pasien

: loh, ko udah lagi sih, suster? Ga kerasa.

Perawat 1

: iya udah de, gimana de sakit engga? Engga kan?

Pasien

: iya sus ga sakit hehe.

Perawat 1

: gimana ade perasaannya sekarang setelah di suntik oleh suster?

Pasien

: udah nyaman sus, udah enakan

Perawat 1

: baiklah kalau begitu sekarang ade bisa istirahat kembali, suster permisi
dulu ya. Assalamualaikum wr.wb.

Beberapa saat kemudian setelah menyuntik perawat ___ langsung pergi dan mau menulis
laporan pada buku injeksi dia baru teringat bahwa dia tadi lupa atau lalai membaca
dengan teliti dosis yang harus diberikan. Setelah dicek perawat ___ baru sadar bahwa
dosis yang ia berikan adalah salah maka dia harus berupaya menutupi kesalahan dengan
menulis pelaporan dengan dosis yang benar. Padahal sebenarnya dosis yang ia berikan
salah, dan setelah beberapa jam pasien tiba tiba mengalami kejang. Setelah diperiksa
tenyata klien keracunan obat. Kemudian kepala ruang mengecek siapa yang memberikan
injeksi pada jam tersebut., tetapi perawat ___ tidak mengakui bahwa dia telah salah
dalam memberikan dosis.
Perawat 1

: astagfirullah apakah aku salah memberikan obat pada pasien tersebut?


Aku lupa aku tidak melakukan pemberian obat dengan prosedur yang
benar astagfirullah dosisnya juga kelebihan. Ahh biarkan saja lah, tidak
ada yang melihat ini (Dalam hati sambil menulis dokumentasi yang tidak
sesuai dengan kenyataan)

Beberapa lama kemudian pasien mengalami kejang-kejang di kamarnya.


Di Kamar pasien (pasiem mengalami kejang-kejang)

Ibu

: astagfirullah, de.. ade.. ade kenapa? Kenapa bisa seperti ini? Suster,
suster suster (sambil menekan bell)

Perawat 2

: ada apa ibu? Ada yang bisa saya bantu bu?

Ibu

: suster untung anda cepat datang, ini sus anak saya kenapa? Kok begini
seperti kejang-kejang begini?

Perawat 2

: sebentar ya ibu, ibu bisa tenang terlebih dahulu, saya akan memeriksa
anak ibu

Ibu

: gimana bisa tenang sih sus, liat ini anak saya tiba-tiba seperti ini!

Perawat 2

: iya ibu saya mengerti apa yang ibu rasakan saat ini, tetapi kita akan
berusaha semaksimal mungkin (sambil memeriksa pasien). Sebentar ya
ibu saya panggilkan dokter terlebih dahulu

Ibu

: cepet, cepet sus ini gimana yaAllah

Perawat 2 segera memanggil Dokter untuk segera ke ruangan pasien.


Perawat 2

: Dokter di ruangan Gelatik ada pasien yang kejang-kejang,

Dokter

: oh baik saya segera kesana.

Dokter dan perawat 2 datang ke ruangan pasien. Lalu dokter memeriksa keadaan
pasien.
Ibu

: Dok, gimana keadaan anak saya ? kenapa dia tiba-tiba seperti ini ?

Dokter

: sebentar ya bu, kita masih memeriksa, suster tolong cek status pasien.

Perawat 2

: baik Dok

Perawat 2 segera memeriksa status pasien dan memberitahu keadaan pasien kepada
dokter.
Perawat 2

: Dok, pasien ini sudah diberikan obat antibiotik melalui IV, dan obat yang
diberikan sesuai dengan dosis yang di anjurkan.

Dokter

: kenapa ya ? sus coba lihat siapa yang melakukan tindakan tersebut.

Perawat 2

: yang melakukan tindakan tersebut suster _______

Dokter

: suster tolong berikan obat antihistamin dan kompers dingin kepada


pasien tersebut.

Perawat 2

: baik Dok.

Dokter

: ibu tidak perlu khawatir, anak ibu baik-baik saja, saya sudah memeriksa
anak ibu, dan nanti perawat akan memberikan obat untuk adek, nanti
obatnya langsung di minum.

Ibu

: iya Dok, makasih ya, semoga anak saya baik-baik aja.

Dokter keluar dari ruangan pasien dan menuju ruang perawat untuk menemui kepala ruangan.
Dokter

: suster bisa kita berbicara sebentar.

Kepala ruangan

: iya, boleh, ada yang bisa saya bantu ?

Dokter

: begini sus, ada pasien yang bernama ____ di ruang Gelatik mengalami
kejang-kejang setelah diberikan obat oleh perawat ____ dan setelah dilihat
dari status pasien obat yang di berikan sesuai dengan dosis yang saya
anjurkan. Tapi kenapa pasien ini bisa mengalami kejang-kejang ?

Kepala Ruangan

: oohh begitu Dok, kalau begitu saya akan menghubungi perawat _____
untuk dimintai keterangan.

Dokter

: baik kalau begitu.

Ibu pasien duduk di depan ruangan pasien sambil memikirkan kejadian tadi, tiba-tiba ada
keluarga pasien lain yang menghampiri ibu ini.
Ibu 2

: ibu, ibu sedang apa disini? Kenapa ibu diam saja? Ibu kelihatannya sedang sedih
ya?

Ibu 1

: Gini teh, saya lagi pusing, khawatir soalnya anak saya tadi tiba-tiba kejang
setelah disuntik sama perawat. Katanya perawat itu Cuma mau ngasih obat aja,
tapi saya heran kenapa bisa jadi kejang-kejang.

Ibu 2

: loh kenapa gitu? Ibu udah lapor belum?

Ibu 1

: Hah lapor ke siapa?

Ibu 2

: Coba aja bu ke perawat yang bertanggung jawab diruangan anak ibu. Biasanya
sih suka disebut kepala ruangan.

Ibu 1

: oh yaudah kalo begitu saya nanti mau lapor.

Ibu 1 melapor kepada kepala ruangan atas keadaan anaknya tersebut.


Ibu 1

: Assalammualaikum bu

Kepala Ruangan

: Waalaikumsalam, ada apa ya bu

Ibu 1

: begini bu, tadi itu anak saya diberikan obat oleh perawat ***, tetapi
setelah diberikan obat oleh perawat anak saya langsung kejang-kejang.
Gimana sih ini pelayanan rumah sakitnya. Kenapa bisa jadi seperti ini?
Saya kan sudah bayar mahal, harusnya diberikan pelayanan yang baik
dong.

Kepala Ruangan

: Begini bu sebelumnya saya mohon maaf mungkin itu memang ada


kelalaian dari tenaga kesehatan kami. Ibu mohon bersabar ya, kami akan
membantu menyelesaikan masalah ibu.

Ibu 1

: Sabar sabar, bagaimana jika terjadi sesuatu pada anak saya? Apakah anda
mau bertanggung jawab!

Kepala Ruangan

: ibu mohon tenang, semua ini ada prosesnya. Kami akan melakukan yang
terbaik untuk ibu.

Ibu 1

: Oke baik kalau begitu. Tapi saya mohon tanggung jawabnya segera!

Ibu 1 pun langsung pergi meninggalkan ruangan perawat. Ditempat lain perawat 2 menemui
Komite Etik untuk melaporkan kejadian tersebut.
Perawat 2

: Ibu saya mau melapor tentan rekan saya yang bernama Perawat _____
yang melakukan tindakan pemberian obat yang tidak sesuai dengan dosis,
sehingga membuat pasien mengalami kejang-kejang.

Komite Etik

: baik kalau begitu saya akan menangani masalah ini, tetapi sebelumnya
apakah Anda mempunyai bukti atas kasus ini ?

Perawat 2

: saya tidak punya bukti, tertulis, tapi Ibu menanyakan hal ini kepada
kepala ruangan, dokter, dan keluarga pasien, karena sepertinya mereka
mempunyai bukti yang cukup.

Komite etik

: baik, saya akan segera melakukan penyelidikan, terimakasih atas


informasinya.

Komite etik pun memanggil kepala ruangan, Dokter, dan keluarga pasien untuk mendapatkan
informasi.
Komite etik

: Dokter, apa benar dokter yang menangani pasien yang bernama ______
?

Dokter

: iya benar bu, kenapa ya ?

Komite etik

: kalau boleh saya tau, tindakan apa yang anda lakukan kepada pasien
tersebut ?

Dokter

: Saya meminta bantuan kepada perawat untuk memberikan obat


antibiotik melalui IV kepada pasien.

Komite etik

: lalu apa reaksi yang dialami pasien setelah pemberian obat tersebut ?

Dokter

: pada saat obat diberikan , saya tidak melihat reaksi pasien secara
langsung, karena obat tersebut diberikan langsung oleh perawat. Tapi
setelah beberapa saat, ada perawat lain yang memberi tahu saya bahwa
pasien tersebut mengalami kejang-kejang setelah diberikan obat antibiotik
tadi.

Komite etik

: apakah anda mengecek dokumentasi yang dilakukan oleh perawat


tersebut ?

Dokter

: iya, saya mengecek. Tetapi menurut data hasil pemberian obatnya, tidak
ada yang salah, baik cara pemberian, pasien, dosis, waktu, serta obat yang
diberikan.

Komite etik

: baik kalau seperti itu, silahkan anda kembali menjalankan tugas,


terimakasih atas informasinya.

Dokter

:iya bu terimakasih.

Setelah itu, komite etik pun memanggil kepala ruangan.


Komite etik

: Ibu _____ apakah anda mengetahui tentang pasien yang bernama ___
yang mengalami kejang-kejang ?

Kepala ruangan

: Iya bu, saya mengetahuinya. Ada apa ya ?

Komite etik

: ibu bisa menceritakan kronologisnya seperti apa sampai pasien


mengalami hal tersebut?

Kepala ruangan

: iya bu, jadi begini bu, saat itu dokter datang kepada saya dan melaporkan
kejadian di ruangan gelatik bahwa ada pasien yang mengalami kejangkejang. Menurut informasi dan status pasien, pasien tersebut mengalami
kejang-kejang setelah diberikan obat antibiotik oleh perawat bernama
_____ melalui intravena. Padahal dosis yang diberikan sudah sesuai
dengan anjuran yang diberikan.

Komite etik

: anda mengetahui darimana bahwa perawat ___ telah memberikan obat


sesuai dengan yang seharusnya ?

Kepala ruangan

: iya saya melihat dari hasil dokumentasi yang diberikan perawat ___

Komite etik

: baik kalau begitu terimakasih atas informasinya, ibu bisa kembali ke


ruangan ibu.

Komite etik pun memanggil Perawat ____


Komite etik

: apakah anda benar yang merawat pasien yang bernama ____ di ruangan
gelatik bed 4 ?

Perawat

: iya bu, benar.

Komite etik

: lalu apakah benar anda yang memberikan obat injeksi antibiotik melalui
IV kepada pasien ?

Perawat

: iya bu benar .

Komite etik

: lalu apakah anda sudah yakin bahwa anda telah melakukan prosedur
pemberian obat dengan benar ?

Perawat

: iya sudah...sudah ko bu.. saya sudah melakukan prosedur pemberian obat


dengan benar. Anda dapat mengeceknya dari hasil dokumentasi .

D. KESIMPULAN / ANALISA KASUS


E. PENUTUP