Anda di halaman 1dari 4

DOMBA-DOMBA REVOLUSI

Di suatu pagi, sekira jam delapan tiga puluh menit, si Penyair sudah tiba kembali
di Losmen setelah keluar untuk mencari berita tentang keadaan di luar sejak pagi-pagi.
Dia mengambil tempat duduk seenaknya di ruang tamu Losmen yang terletak di
bagian depan. Tatkala dia sedang enak mencari nada-nada dan lirik syair lagunya,
Muncullah si Pemilik Losmen dari pintu luar dalam dia yang dibalas senyum oleh
Penyair. Dengan senyum sejuk serta anggukan kepala sambil menerima hidangannya.

:
:
:
:
:
:
:

Sudah kuduga, Bung tentu pulang dengan selamat seperti


kemarin pagi. Kalau Bung keluar, aku selalu cemas-cemas harap.
siapa tahuBung ditimpa malang. Maklumlah dalam keadaan
begini ada peluru yang sering jatuh salah alamat.
Itulah yang menjadi aku kagum.
Bahwa Bung selalu selamat selama ini ?
Bukan, bukan itu. Sebab terus terang saja, aku sendiri
sebenarnya tidak begitu peduli dengan keselamatanku.
Aneh
Kedengarannya memang aneh. Akan tetapi, begitulah
Lalu apa yang Anda kagumi ?
Pernyataan saudari tadi.
Aku tidak mengerti. Coba jelaskan
Maksudku pernyataan saudari itu. . . .

Ya.. Mengapa ??
Hikmahnya terasa begitu puitis.

PEREMPUAN :
PENYAIR
:
PEREMPUAN :
PENYAIR
PEREMPUAN
PENYAIR
PEREMPUAN
PENYAIR
PEREMPUAN
PENYAIR
PEREMPUAN
:
PENYAIR
PEREMPUAN
:

Apa itu Pu-i-tis ???

Penyair menaruh buku dan harmonikanya lalu minum wedang beberapa teguk.
Kemudian, pandangannya terarah pada si Pemilik Losmen, dengan sorot mata penuh
arti, di tandai dengan senyumannya.
PENYAIR

PEREMPUAN :
PENYAIR
:
PEREMPUAN :
PENYAIR
:

Hemm. . . Bagaimana cara aku untuk menjelaskan.


Apa tidak dapat Bung menjelaskan dengan cara-cara yang
sederhana saja ??
Hemm..
Begini.
Maksudku
pernyataanmu
tadi
mengandung
unsur-unsur rasa kasih sayang begitu murni.
Oo Begitu ??
Ya.. Begitu. Dan baru pertama kali aku merasa bahwa ada
seseorang yang menaruh perhatian terhadap keselamatan diriku.

PEREMPUAN :
PENYAIR

PEREMPUAN :

Dan yang memperhatikannya adalah Wanita.


Ah Bung ini bicara yang bukan-bukan saja.
Tapi bagiku tidak. Pernyataan barusan tadi adalah kata hati yang
tulus.. Bukan Omong iseng. Benar Demikian.?
Ya, ya Bung tentu saja bisa bicara demikian. Kan Bung sekarang
sudah jauh dari anak dan istri. Jadi, sudah wajar kalau Bung
lalu dijangkiti rasa kesepian. Bukan maksudku merendahkan
martabat lelaki, tetapi naluri lelaki begitulah pada umumnya.

Penyair hanya tersenyum sambil tertawa kecil

PENYAIR

PEREMPUAN :

PENYAIR
:
PEREMPUAN :

PENYAIR
:
PEREMPUAN :
PENYAIR
:

Ketahuilah, jangankan beristri, berpacaran pun Aku


belum.Namun, Aku dapat memahami kalau saudari akan sulit
mem percayai omonganku tadi. Sebab sudah menjadi naluri
wanita, selalu penuh prasangka.
Bukankah itu naluri yang baik. Tapi baiklah, omongan Bung tadi
Kuanggap saja benar. Dan bagaimana keadaan diluar sana Bung..
.?
Haa. . . Pintar juga mengelak bicara ya. . . jika keadaan
diluar
sana menarik perhatianmu, baiklah. Keadaan di luar
tambah
gawat. Kota ini praktis dikosongkan sama sekali.
Beberapa regu Tentara dan Laska yang kemarin masih berjaga di
beberapa
tikungan jalan raya, kini sudah lenyap.
Sedang menyusun strategi rupanya mereka. . .?
Semoga saja, Aku tak yakin akan ketahanan kota tengah
ini. Seperti yang kau tahu saja, sekarang hanya kau yang mau
dan
mampu untuk tetap tinggal di kampong halamanmu ini.
Kota ini nyaris mati . . . . .
Aku tak punya banyak pilihan(Melihat kearah lain)
Baiklah.. Aku tak ingin menanyakannya sekarang.

DIAM. . . . . (Penyair menyelurup wedang jahenya)

PENYAIR

PEREMPUAN :
PENYAIR

Terkadang hidup pemurah untuk memberikan banyak pilihan.


Tapi untuk saat ini, di tengah kegetiran masa depan yang terasa
sejengkal lagi. Dan di kota Tengah yang kurasa sudah mati tanpa
pengharapan, kita tak mempunyai banyak
pilihan, waktu
mendesak sesak. Tempat semakin sempit saja, waktu mendesak
sesak, terhimpit. . . !!!
Ya.. Kau benar. Tak banyak yang dapat kita perbuat. Kata-kata
Penyair selalu menghujam dan tepat sasaran, mengungkap seolah
Ia saksi di dalamnya.
Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan sekarang. Di
luar
sana kota ini seakan bisu, mereka cepat sekali bertindak
membuat
kita tak dapat berkutik dan. . . . . . .

Tiba-tiba Pedagang masuk.

PEDAGANG
PEREMPUAN
PENYAIR
PEDAGANG

:
:
:
:

PENYAIR

PEDAGANG

PEREMPUAN :
PEDAGANG

PENYAIR

PEREMPUAN :
PEDAGANG

PEREMPUAN :
PENYAIR

PEDAGANG

PEREMPUAN :
PEDAGANG :
PEREMPUAN :
PEDAGANG :
PEREMPUAN :

Astaga. . . . Aku menemukan sesuatu. . . . (dengan nafas


terengah-engah)
Ada apa ? Pertanda bahayakah. . .??
Ada yang mengikutimu ? (Sambil memeriksa keadaan luar)
(Menggeleng) . . . Tidak.
Masuk dan tutup pintunya. Jadi apa yang kau lihat ? Yang
kau temukan itu ?
Tak jauh dari sini, tepatnya di Blok seberang kiri seberang
rumah ini, ada tempat penyimpanan senjata para tentara itu.
Katamu daerah ini jauh dari tempat operasi mereka ? Meskipun
mereka membela kota ini, tetap saja berbahaya untuk kita, untuk
kepercayaan mereka.
Entahlah.. Aku yakin daerahku ini paling ujung di pelosok,
mereka tak mungkin membentuk pertahanan ketat di daerah
ini.
Seharusnya dimuara perbatasan selatan. Logikanya
begitu. . .
Apa mungkun ini bukan persiapan pertahanan atau
melainkan penyerangan. . . .??
Kau gila. . .?? Habislah Kita. . .!!! Jarak kita dengan tempat
penyimpanan itu hanya tak sampai 1000 langkah. Cepat atau
lambat mereka akan menemukan kita.
Para tentara dan laskar itu takkan percaya dengan warga sipil,
sekalipun nenek moyang kota Tengah semuanya sudah mereka
amankan. Istilahnya ke tempat lain. Tak sadarkah kalian kita
hanya bertiga disini. . .??
Tenang. . . .Tenang. . . . . Tempat itu tak berpenjaga. Aku sudah
berkeliling memeriksanya.
Sebentar. . .berkeliling . .? Memeriksanya . . ? Kau katakan tadi
pagi bahwa kau tak berani untuk melihat keadaan di luar. Kau
lebih memilih menjaga dirimu sendiri. Tapi kau berkeliling dan
memeriksanya. .?
Dalam desakan dan kemiskinan kali ini akal semakin cerik saja,
Kau berniat untuk memperjual belikannya ?? Tak berotak dan
merasa berotot kau rupanya. . .?
Aku hanya berusaha bertahan hidup dengan caraku. Dan, Hanya
ini yang aku bisa.
Masuk akal begitu ?? Siapa yang akan membeli ?? dan pastilah
para tentara akan curiga dengan barang-barang jualanku kelak !!
Bodoh kau. . .
Kau tak berfikir, Kita hidup dengan apa . . .? ?
Kau masih berfikir dengen perutmu !? Kau tidak berfikir tentang
keselamatan kita ??
Masih untung aku memikirkan perut-perut kalian, tenaga kalian,
untuk kita juga bertahan !!
Hei Kau. . . . Kau Pikir tindakanmu hanya beresiko untuk dirimu
saja. .? Arghh. . . .bodohnya Kau, , , Jika kau mengambil barang-

PEDAGANG :
PEREMPUAN :

barang itu, Kau jual pada tentara musuh, maka mereka akan
menguasai kota Tengah dan mengalahkan tentara-tentara kita.
Menguasai kota Tengah, musuh jelas merugikan tak lebih baik
dari penguasa yang sekarang. Maka tempat ini. . . Losmen ini. . .
Tak tahu aku akan diapakan.
Itu. . . .
Ya. Itu tak pernah terpikir olehmu ! Karena, Kau . Oh tuhan. . .

Pedagang terdiam . . . . . . . .

PENYAIR

PEREMPUAN :
PEDAGANG :
PEREMPUAN :
PENYAIR
PEREMPUAN
PEDAGANG
PEREMPUAN
PEDAGANG

:
:
:
:
:

PENYAIR

Sudahlah . . . . ini takkan berakhir. Kau (Menunjuk


Pedagang) cobalah berfikir rasional, gunakan otakmu itu.
Kau . . . (Menunjuk Pedagang) Bahaya !! Bahaya Semua, resiko
kau, resiko kita ! Coba Kau berpikir.
Baik . . . Aku mengerti !
Lalu sebaiknya. . . .
Jarak tentara dekat sekali dengan kita, kita ada dalam bahaya,
sekalipun mereka membela kita ! tapi kita ingin terbebas darinya
bukan . . . ? Tapi. . . Tak mungkin rasanya.
Jadi maksudmu ?
Kita. . . .
Kita ikut didalamnya. Dalam mempertahankan kota Tengah?
Begitu maksudmu . . . ??
Ya. . . Tepat sekali, tak ada jalan lain, setidaknya kita dapat
dipercaya.

Suara Bom, tembakan, derap langkah Tentara membuka pintu Losmen terbuka
dengan kerasnya. . . . . . . .