Anda di halaman 1dari 58

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP

Disusun Oleh:
R. Gerha Terimananda / 11-2011-003
Rachman Shandy P. / 11-2011-006
Yudhi Permana JR / 11-2011-007
Temmy Hilmansyah / 11-2011-009
Gregorius Grady K. / 11-2011-014
Dipo Alam P. H. / 11-2011-022

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
BANDUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Bumi ini mempunyai alam yang sangat bermanfaat bagi makhluk hidup
yang menempatinya. Sumber daya alam yang tersedia dapat dimanfaatkan oleh
manusia untuk kelangsungan hidupnya. Sebagai contoh, sumber daya alam yang
terdapat di Bumi ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pembagkit
listrik seperti angin, air dan panas bumi.
Uap adalah salah satu energi yang digunakan untuk menghasilkan listrik,
dimana air yang dipanaskan kemudian menghasilkan uap. Turbin yang digunakan
PLTU sama dengan turbin PLTP. Turbin yang berputar oleh uap jenuh. Ketika
turbin berputar dan terkopel oleh generator maka generator akan menghasilkan
listrik.
Sebagai mahasiswa elektro kita harus mampu mengetahui tentang berbagai
macam pembangkit, salah satunya adalah PLTU.
1.2 Maksud dan Tujuan
Tujuan penulisan adalah:
1. Untuk menyelesaikan salah tugas Mata Kuliah Pembangkit Energi Listrik
pada semester ganjil 2014
2. Untuk mengetahui tentang Pembangkit Listrik Tenaga Uap
1.3 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diajukan adalah bagaimana Pembangkit Listrik Tenaga
Uap (PLTU)

1.4 Metode dan Teknik Penulisan


1.4.1 Metode

Metode yang digunakan adalah analitik deskriptif, karena penulisan ini


bertujuan untuk mendeskripsikan data yang diperoleh baik dari berbagai rujuan
kemudian ditarik kesimpulan.
1.4.2

Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah studi kepustakaan


1.5 Sistematika Penulisan
Penulisan tugas kali ini terbagi atas empatbab. Dimulai dengan pendahuluan
sebagai bab pertama memuat latar belakang, maksud dan tujuan, rumusan
masalah, metode dan teknik pengumpulan data serta sistematika penulisan.
Selanjutnya, pada bab dua dijabarkan tentang definisi dan pemanfaatan energi
angin yang digunakan pada Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (Angin)
Pada bab tiga akan dijabarkan tentang pengaruh pengertian PLTP secara
keseluruhan dilihat dari siklus hingga sistem kelistrikan.
Bab empat yang berisi tentang salah satu contoh PLTB di Indonesia dan
bagaimana mendapatkan efisiensi pada PLRB.
Pada bab lima berisi tentang dampak PLTB yang dilihat dari kelebihan dan
kekurangan PLTB dan ditutup pada bab enam yang berisi analisis dan kesimpulan
yang didapat.

BAB II
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP

2.1 Definisi PLTU


Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) adalah pembangkit yang mengandalkan
energi kinetik dari uap untuk menghasilkan energi listrik.Bentuk utama dari
pembangkit listrik jenis ini adalah Generator yang dihubungkan ke turbin yang
digerakkan oleh tenaga kinetik dari uap panas/kering. Pembangkit listrik tenaga
uap menggunakan berbagai macam bahan bakar seperti:
- Gas (LNG, PLG maupun gas lainnya)
- Minyak (minyak ringan hingga minyak berat)
- Batu bara (berkualitas tinggi hingga rendah
- MFO
-Biomass lainnya (bahan lain yang bisa dibakar)
Keunggulan PLTU:
-

Dapat dioperasikan menggunakan berbagai jenis bahan bakar (padat, cair dan

gas)
Dapat dibangun dengan kapasitas yang bervariasi
Dapat dioperasikan dengan berbagai mode pembebanan
Kontinuitas operasinya tinggi
Usia pakai (life time) relatif lama

Kelemahan PLTU:
-

Sangat tergantung pada tersedianya pasokan bahan bakar


Tidak dapat dioperasikan (start) tanpa pasokan listrik dari luar
Memerlukan tersedianya air pendingin yang sangat banyak dan kontinyu
Investasi awalnya mahal

2.2 Proses Konversi Energi

Dalam PLTU, energi primer berupa bahan bakar (batubara/minyak gas)


dikonversikan menjadi listrik (energi sekunder), dengan tahapan sebagai
berikut:
1. Energi kimia dalam bahan bakar dikonversikan menjadi energi panas dalam
ruang bakar boiler, dalam proses pembakaran.
2. Energi panas tersebut diatas selanjutnya dikonversikan menjadi energi
dalam uap (enthalpy) di boiler, melalui proses perpindahan panas
3. Energi dalam uap (enthalpy) selanjutnya dikonversikan menjadi energi
mekanik berupa putaran pada turbin uap.
4. Terakhir, energi mekanik dari turbin uap dikonversikan menjadi energi
listrik pada generator.
2.3 Proses Pada PLTU

Gambar 2.1 Blok diagram proses PLTU

Gambar 2.2 Siklus proses PLTU

1.
2.

Pertama-tama air demin ini berada disebuah tempat bernama Hotwell.


Dari Hotwell, air mengalir menuju Condensate Pump untuk kemudian
dipompakan menuju LP Heater (Low Pressure Heater) yang pungsinya untuk
menghangatkan tahap pertama. Lokasi hotwell dan condensate pump terletak
di lantai paling dasar dari pembangkit atau biasa disebut Ground Floor.

Selanjutnya air mengalir masuk ke Deaerator.


3.
Di dearator air akan mengalami proses pelepasan ion-ion mineral yang
masih tersisa di air dan tidak diperlukan seperti Oksigen dan lainnya. Bisa
pula dikatakan deaerator memiliki pungsi untuk menghilangkan buble/balon
yang biasa terdapat pada permukaan air. Agar proses pelepasan ini
berlangsung sempurna, suhu air harus memenuhi suhu yang disyaratkan. Oleh
karena itulah selama perjalanan menuju Dearator, air mengalamai beberapa
proses pemanasan oleh peralatan yang disebut LP Heater. Letak dearator
berada di lantai atas (tetapi bukan yang paling atas). Sebagai ilustrasi di PLTU
Muara Karang unit 4, dearator terletak di lantai 5 dari 7 lantai yang ada.
4.
Dari dearator, air turun kembali ke Ground Floor. Sesampainya di Ground
Floor, air langsung dipompakan oleh Boiler Feed Pump/BFP (Pompa air
pengisi) menuju Boiler atau tempat memasak air. Bisa dibayangkan Boiler
ini seperti drum, tetapi drum berukuran raksasa. Air yang dipompakan ini
adalah air yang bertekanan tinggi, karena itu syarat agar uap yang dihasilkan
juga bertekanan tinggi. Karena itulah konstruksi PLTU membuat dearator

berada di lantai atas dan BFP berada di lantai dasar. Karena dengan
5.

meluncurnya air dari ketinggian membuat air menjadi bertekanan tinggi.


Sebelum masuk ke Boiler untuk direbus, lagi-lagi air mengalami
beberapa proses pemanasan di HP Heater (High Pressure Heater). Setelah itu

6.

barulah air masuk boiler yang letaknya berada dilantai atas.


Didalam Boiler inilah terjadi proses memasak air untuk menghasilkan uap.
Proses ini memerlukan api yang pada umumnya menggunakan batubara
sebagai bahan dasar pembakaran dengan dibantu oleh udara dari FD Fan

7.

(Force Draft Fan) dan pelumas yang berasal dari Fuel Oil tank.
Bahan bakar dipompakan kedalam boiler melalui Fuel oil Pump. Bahan
bakar PLTU bermacam-macam. Ada yang menggunakan minyak, minyak dan

8.

gas atau istilahnya dual firing dan batubara.


Sedangkan udara diproduksi oleh Force Draft Fan (FD Fan). FD Fan
mengambil udara luar untuk membantu proses pembakaran di boiler. Dalam
perjalananya menuju boiler, udara tersebut dinaikkan suhunya oleh air

heater (pemanas udara) agar proses pembakaran bisa terjadi di boiler.


9.
Kembali ke siklus air. Setelah terjadi pembakaran, air mulai berubah
wujud menjadi uap. Namun uap hasil pembakaran ini belum layak untuk
memutar turbin, karena masih berupa uap jenuh atau uap yang masih
mengandung kadar air. Kadar air ini berbahaya bagi turbin, karena dengan
putaran hingga 3000 rpm, setitik air sanggup untuk membuat sudu-sudu turbin
10.

menjadi terkikis.
Untuk menghilangkan kadar air itu, uap jenuh tersebut di keringkan di
super heater sehingga uap yang dihasilkan menjadi uap kering. Uap kering ini

11.

yang digunakan untuk memutar turbin.


Ketika Turbin berhasil berputar berputar maka secara otomastis generator
akan berputar, karena antara turbin dan generator berada pada satu poros.

Generator inilah yang menghasilkan energi listrik.


12.
Pada generator terdapat medan magnet raksasa. Perputaran generator
menghasilkan beda potensial pada magnet tersebut. Beda potensial inilah cikal
bakal energi listrik.
13.
Energi listrik itu dikirimkan ke trafo untuk dirubah tegangannya dan
kemudian disalurkan melalui saluran transmisi PLN.

14.

Uap kering yang digunakan untuk memutar turbin akan turun kembali ke
lantai dasar. Uap tersebut mengalami proses kondensasi didalam kondensor
sehingga pada akhirnya berubah wujud kembali menjadi air dan masuk
kedalam hotwell.
Siklus PLTU ini adalah siklus tertutup (close cycle) yang idealnya tidak

memerlukan lagi air jika memang kondisinya sudah mencukupi. Tetapi


kenyataannya masih diperlukan banyak air penambah setiap hari. Hal ini
mengindikasikan banyak sekali kebocoran di pipa-pipa saluran air maupun uap di
dalam sebuah PLTU.
Untuk menjaga siklus tetap berjalan, maka untuk menutupi kekurangan air
dalam siklus akibat kebocoran, hotwell selalu ditambah air sesuai kebutuhannya
dari air yang berasal dari demineralized tank.

Gambar 2.3 Proses PLTU menggunakan bahan bakar batu bara

2.4 Komponen Utama PLTU

PLTU merupakan mesin pembangkit termal yang terdiri dari komponen utama
dan komponen bantu (sistem penunjang) serta sistem-sistem lainnya.
Komponen utama terdiri dari empat komponen, yaitu:
1. Boiler (ketel uap)
Boiler adalah suatu perangkat mesin yang berfungsi untuk merubah
air menjadi uap. Proses perubahan air menjadi uap dilakukan dengan
memanaskan air yang berada didalam pipa-pipa dengan panas hasil
pembakaran bahan bakar. Proses pembakaran dilakukan secara kontinyu
didalam ruang bakar dengan mengalirkan bahan bakar dan udara dari luar.
Uap yang dihasilkan adalah uap superheat dengan tekanan dan
temperatur yang tinggi. Jumlah produksi uap tergantung pada luas
permukaan pemindah panas, laju aliran, dan panas pembakaran yang
diberikan. Boiler yang konstruksinya terdiri dari pipa-pipa berisi air
disebut dengan water tube boiler (boiler pipa air).

Gambar 2.4 Boiler dan spesifikasi

Dalam pengoperasiannya, boiler ditunjang oleh beberapa peralatan


bantu seperti economizer, ruang bakar, dinding pipa, burner, steam drum,
superheater dan cerobong.
a. Economizer

Economizer atau pemanas awal berfungsi untuk memanaskan air


pengisi ketel sebelum masuk ke boiler. Pemanasan awal ini perlu yaitu
untuk meningkatkan efisiensi ketel dan juga agar tidak terjadi
perbedaan temperatur yang besar di dalam boiler yang dapat
mengakibatkan keretakan dinding boiler.
b. Ruang bakar (furnace)
Ruang bakar adalah bagian dari boiler yang dindingnya terdiri dari
pipa-pipa air. Pada sisi bagian depan terdapat sembilan burner yang
letaknya terdiri atas 3 tingkat tersusun secara mendatar.
c. Dinding pipa (wall tube)
Merupakan dinding di dalam ruang bakar yang berfungsi sebagai
tempat penguapan air. Dinding ini berupa pipa-pipa yang berisi air
yang berderet secara vertikal.
d. Burner
Merupakan peralatan pembakar yang bahan bakarnya terbagi
menjadi

bagian-bagian

kecil

sehingga

memudahkan

proses

pembakaran dengan udara. Bahan bakar HSD (High Speed Diesel)


dipergunakan untuk pembakaran awal. Sedangkan bahan bakar
utamanya adalah residu.
Penyalaan burner tergantung pada beban beban dari unit. Burner
Management System (BMS) adalah penyaluran konfigurasi penyalaan
burner pada saat start up atau shut down dan load change. Jumlah
burner yang menyala atau mati tergantung pada beban generator yang
sebanding dengan kapasitas bahan bakar untuk memproduksi uap pada
boiler. Konfigurasinya diatur supaya pemanasan dalam ruang bakar
merata dan efisien. Penyalaan boiler yang tidak seimbang dengan
beban generator dapat mengakibatkan tidak stabilnya tekanan dan
temperatur uap.
e. Steam drum

Steam drum adalah alat pada boiler yang berfungsi untuk


menampung feed water dalam pembuatan uap yang temperaturnya
cukup tinggi dan berupa campuran air dan uap. Di dalam steam drum
terdapat peralatan pemisah uap. Campuaran feed water dan uap
mengalir mengikuti bentuk separator sehingga uap air pada campuran
akan jatuh dan masuk ke saluaran primary dan seconadry superheater.
Uap yang telah dipisahkan oleh separator masuk ke cevron dryers.
Disini uap mengalami pemisahan yang terakhir sehingga didapat uap
jenuh. Air yang jatuh dialirkan ke bagian bawah dari drum secara
gravitasi dan mengalir ke dalam tempat penampungan kemudian
keluar melalui down corner dan uap jenuh akan keluar dari dry box.
2. Turbin uap
Turbin uap berfungsi untuk merubah energi panas yang terkandung
dalam uap menjadi gerakan memutar (putaran). Uap dengan tekanan dan
temperatur tinggi diarahkan untuk mendorong sudu-sudu turbin yang
dipasang pada poros sehingga poros turbin berputar. Akibat melakukan
kerja di turbin tekanan dan temperatur uap keluar turbin turun hingga
hingga menjadi uap basah. Uap ini kemudian dialirkan ke kondensor,
sedangkan tenaga putar yang dihasilkan digunakan untuk memutar
generator. Saat ini hampir semua mesin turbin uap adalah dari jenis turbine
condensing atau uap keluar turbin (exhaust steam) dialirkan ke kondensor.

Gambar 2.5 Turbin uap dan spesifikasi

3. Kondensor
Kondensor adalah peralatan untuk merubah uap menjadi air. Proses
perubahan nya dilakukan dengan cara mengalirkan uap kedalam suatu
ruangan yang berisi pipa-pipa (tubes). Uap mengalir diluar pipa-pipa
sedangkan air sebagai pendingin mengalir didalam pipa-pipa. Kondensor
seperti ini disebut surface (tubes) condenser. Sebagai pendingin digunakan
air sungai atau air laut.
Laju perpindahan panas tergantung pada aliran air pendingin,
kebersihan pipa-pipa dan perbedaan temperatur antara uap dan air
pendingin. Proses perubahan uap menjadi air terjadi pada tekanan dan
temperatur jenuh, dalam hal ini kondensor berada pada kondisi vakum.
Karena temperatur air pendingin sama dengan temperatur udara luar, maka
temperatur air kondensat nya maksimum mendekati temperatur udara luar.
Apabila laju perpindahan panas terganggu, maka akan berpengaruh
terhadap tekanan dan temperatur.
2.5 Peralatan Bantu Pada PLTU

Merupakan peralatan yang menunjang kerja sebuah PLTU, beberapa


peralatan penunjang yaitu :
1. Condensate Pump
Condensate Pump berfungsi untuk memompa kondensor untuk di
proses law pressure heater
2. Cirluating Water Pump (CWP)
Cirluating Water Pump berfungsi untuk memompa air laut masuk
ke kondensor sebagai arus pendingin
3. Make Up Water Tank
Make Up Water Tank berfungsi sebagai tempat untuk menampung
air yang dihasilkan oleh water treatment equipment. Make up water
transfer pump fungsinya untuk memompa air dan make up water
tankke kondensor sebagai air penambah
4. Boiler Feed Pump (BFP)
Berfungsi untuk memompa air dan daerator menuju boiler
5. House Boiler Water Tank
House Boiler Water Tank adalah tangki yang menampung air
suling untuk mengisi house boiler
6. House Boiler
Merupakan boiler murni untuk menghasilkan uap pertama kali
sebelum ada unit pemabangkit yang beroperasi. Uap itu dialirkan
kelow pressure auxiliary steam header ke desalination plant untuk
diembunkan kembali yang selanjuntya diproses dalam water treatment
menjadi air pengisi boiler mula
7. Raw Water Tank
Raw Water Tank merupakan tangki penampung air tawar yang
dihasilkan dan desalination plant
8. Water Treatment Supply Pump
Water Treatment Supply Pump berfungsi untuk memompa air tawar
dan raw water tank ke water treatment equipment untuk diolah kembali
9. Residual Oil Storage Tank
Tempat penyimpanan bahan bakar residu yang berasal dan kapal
tangker dan merupakan tangki penyimpanan bulanan. Kapasitas
20.000 liter
10. Residual Oil Transfer Pump
Residual Oil Transfer Pump mempunyai fungsi memompa dan
memindahkan minyak residu dan residual oil storage tank ke residual
oil service tank

11. Residual Oil Service Tank


Tangki penyimapanan bahan bakar berasal dan residual oil service

tank dan merupakan tangki penyimpanan harian


12. High Speed Diesel Oil Pump (HSD oil pump
Berfungsi untuk memompa solar dan residual oil service
tank ke house boiler high speed diesel tank ke emergency generator
high speed diesel tank dan igniter
13. Vacum Pump
Berfungsi untuk mengerluarkan udara yang terjebak didalam air
pendingin kondensor, sehingga sistem pendingin dalam kondensor
menjadi sempurna.
14. Steam Jet Air Ejector
Berfungsi untuk menahan kevakuman tekanan uap dalam
kondensor
15. Gland Steam Condensor
Berfungsi untuk mengembunkan uap setalah dipergunakan seal
turbin
16. Low Pressure Heater (LP Heater)
Low Pressure Heater berfungsi untuk memanskan air pengisi
boiler yang lewat didalamnya
17. Dearator
Berfungsi untuk memanaskan pengisi air boiler dan untuk
menghilangkan udara yang terkandung didalam air
18. Main Stop Valve
Berfungsi untuk membuka dan menutup uap yang masuk kedalam

turbin dan dilengkapi dengan by pass main stop valve


19. High Pressure Heater (HP Heater)
Berfungsi untuk memanaskan pengisi air boiler yang dilewatkan
didalamnya. Panas tersebut berasal dan uap ekstrasi pertama dan kedua
20. FD Fan
Berfungsi untuk mensupply udara guna proses bahan bakar dan
mendorong flue gas dan ruan bakar (burner). Biasanya digunakan
sendiri kebanyakan pembangkit uap uruan besar dan hampir semua
pembangkit uap kelautan dan ditempatkan pada lubang-lubang udara
ke pemanas awal udara sehingga keselurahan sistem sampai lubang
masuk ke cerobong berada pada tekanan positif

21. Cooling Tower


Berfungsi untuk mendinginkan uap dan turbin yang telah

dikondensasi oleh kondensor


2.6 Motor-Motor Listrik Pada PLTU
Di dalam pusat listrik terdapat motor-motor listrik yang digunakan untuk
berbagai keperluan sesuai kegiataan pusat listrik.
Di dalam PLTU, motor listrik yang besar atau yang berperan penting bagi
kelangsungan operasi:
a.
b.
c.
d.
e.

Motor penggerak pompa air ketel


Motor penggerak pompa air pendingin kondensor
Motor penggerak penggiling batu bara
Motor penggerak kipas penghisap dan kipas penekan udara ketel
Motor pemutar poros turbin apabila turbin baru dihentikan sehingga proses
pendidinginnya tidak menyebabkan poros turbin (bearing device)

f.

bengkok. Motor ini di gerakkan dengan arus searah dari aki baterai.
Motor penggerak pompa sirkulasi minyak pelumas yang memberi

pelumasan ke bantalan-bantanlan turbin dan bantalan generator


g. Motor Penggerak penyemprot bahan bakar ke ruang ketel
2.7 Transformator Tenaga
Transformator tenaga adalah suatu peralatan tenaga listrik yang berfungsi
untuk menyalurka tenaga/daya listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah
atau sebaliknya. Dalam sistem PLTU unit III terdapat tiga macam
transformator, yaitu :
1. MAT (Main Auxiliary Transformer)
MAT adalah trafo utama untuk pemakaian sendiri yang dipasang
paralel dengan trafo generator, berfungsi untuk menurunkan tegangan
pembangkitan 18 KV menjadi 4.16 KV. Pada saat sistem keadaan
normal seluruh kebutuhan tenaga listrik untuk peralatan listrik maupun
penerangan disuplai oleh trafo ini.
2. RAT (Reserve Auxiliary Transformer)
Bila generator mengalami gangguan atau over houl sehiungga trafo
utama tidak berfungsi maka daya listrik untuk start-up pembangkit
disuplai dari busbar melalui trafo cadangan ini. Jadi trafo ini
menurunkan tegangan.

3. Trafo generator (Generator Transformer)


Trafo generator berfungsi menaikkan tegangan pembangkitan 18
KV memjadi 150 KV yang di pasok pada bus A dan B 150 KV yang
berhubungan langsung dengan saluran transmisi, pada system
interkoneksi se Jawa.
Bagian-bagian Transformator
a. Peralatan Utama
1. Inti Besi
Berfungsi

untuk

mempermudah

jalan

fluksi,

yang

ditimbulkan oleh arus listrik yang melalui kumparan. Dibuat


dari lempengan-lempengan besi tipis yang berisolasi, untuk
mengurangi panas (sebagai rugi-rugi besi) yang ditimbulkan
oleh Eddy Current.
2. Kumparan Transformator
Adalah beberapa lilitan kawat berisolasi yang membentuk
suatu kumparan. Kumparan tersebut terdiri dari kumparan
primer dan kumparan sekunder yang diisolasi baik terhadap inti
besi maupun terhadap antar kumparan dengan isolasi padat
seperti karton, pertinak dan lain-lain. Kumparan tersebut sebagai
alat transformasi tegangan dan arus.
3. Minyak Transformator
Sebagian besar kumparan-kumparan dan inti trafo tenaga
direndam dalam minyak trafo, terutama trafo-trafo tenaga yang
berkapasitas besar, karena minyak trafo mempunyai sifat
sebagai isolasi dan media pemindah, sehingga minyak trafo
tersebut berfungsi sebagai media pendingin dan isolasi.
4. Bushing
Hubungan antara kumparan trafo ke jaringan luar melalui
sebuah bushing yaitu sebuah konduktor yang diselubungi oleh

isolator, yang sekaligus berfungsi sebagai penyekat antar


konduktor tersebut dengan tangki trafo.
5. Tangki-Konservator
Pada umumnya bagian-bagian dari trafo yang terendam
minyak trafo berada (ditempatkan) dalam tangki. Untuk
menampung pemuaian minyak trafo, tangki dilengkapi dengan
konservator.

b. Peralatan Bantu
1. Pendingin
Pada inti besi dan kumparan-kumparan akan timbul panas
akibat rugi-rugi besi dan rugi-rugi tembaga. Bila panas tersebut
mengakibatkan kenaikan suhu yang berlebihan, akan merusak
isolasi (di dalam transformator). Maka untuk mengurangi
kenaikan suhu transformator yang berlebihan maka perlu
dilengkapi dengan alat/system pendingin untuk menyalurkan
panas keluar transformator.
Pada cara alamiah (natural), pengaliran media sebagai
akibat adanya perbedaan suhu media dan untuk mempercepat
perpindahan panas dari media tersebut ke udara luar diperlukan
bidang perpindahan panas yang lebih luas antara media
(minyak-udara/gas), dengan cara melengkapi transformator
dengan sirip-sirip (Radiator).
2. Tap Changer (Perubah Tap)
Tap Changer adalah

alat

perubah

perbandingan

transformasi untuk mendapatkan tegangan operasi sekunder


yang lebih baik (diinginkan) dari tegangan jaringan/ primer
yang berubah-ubah. Tap changer yamg hanya beroperasi untuk
memindahkan tap transformator dalam keadaan tidak berbedan
disebut Off Load Tap Changer dan hanya dapat dioperasikan

manual.Transformator Generator, MAT, RAT mempunyai


pengubah tap tanpa beban.
3. Alat Pernapasan (Silicagel)
Karena pengaruh naik turunnya beban transformator
maupun suhu udara luar, maka suhu minyak pun akan berubahubah mengikuti keadaan tersebut. Bila suhu minyak tinggi,
minyak akan memuai dan mendesak udara di atas permukaan
minyak keluar dari tangki, senaliknya apabila suhu minyak
turun, minyak menyusut maka udara luar akan masuk ke dalam
tangki. Kedua proses di atas disebut pernapasan transformator.
Akibat pernapasan transformator tersebut maka permukaan
minyak akan selalu bersinggungan dengan udara luar. Udara
luar yang lembab akan menurunkan nilao tegangan tembus
minyak transformator, maka untuk mencegah hal tersebut, pada
ujung pipa penghubung udara luar dilengkapi dengan alat
pernapasan, berupa tabung kaca berisi kristal zat hygroskopisn
sehingga dapat dilihat warnanya.
4. Indikator
Untuk mengawasi selama transformator beroperasi, maka
perlu adanya indikator pada transformator sebagai berikut :
- Indikator suhu minyak
- Indikator permukaan minyak
- Indikator sistem pendingin
- Indikator kedudukan tap
2.8 Peralatan Proteksi
1. Rele Bucholz
Rele bucholz alat/rele untuk mendeteksi dan mengamankan
terhadap gangguan di dalam transformator yang menimbulkan gas.
2. Pengaman Tekanan Lebih
(Explosive Membrane/Pressure-Relief Vent) Alat ini berupa
membrane yang dibuat dari kaca, plastik, tembaga atau katup berpegas,

berfungsi sebagai pengaman tangki transformator terhadap kenaikan


tekanan gas yang timbul di dalam tangki (yang akan pecah pada tekanan
tertentu)

dan

kekuatannya

lebih

rendah

dari

kekuatan

tangki

transformator.
3. Rela Tekanan Lebih (Sudden Pressure Relay)
Rele ini berfungsi hampir sama seperti rele burcholz, yakni
pengaman terhadap gangguan di dalam transformator. Bedanya rele ini
hanya bekerja oleh kenaikan tekanan gas yang tiba-tiba dan langsung
menjatuhkan PMT.
4. Rela Differensial
Berfungsi mengamankan transformator dari gangguan di dalam
transformator antar lain, Flash Over antara kumparan dengan kumparan
atau kumparan dengan tangki atau belitan dengan belitan di dalam
kumparan ataupun beda kumparan.
5. Rele Arus Lebih
Berfungsi mengamankan transformatro dari arus yang melebihi
dari arus yang telah diperkenankan lewat dari transformator tersebut dan
arus lebih ini dapat terjadi oleh karena beban lebih atau gangguan hubung
singkat.
6. Rele Tangki Tanah
Berfungsi untuk mengamankan transformator bila ada hubung
singkat antara bagian yang bertegangan dengan bagian yang tidak
bertegangan pada transformator.
7. Rele Hubung Tanah
Berfungsi untuk mengamankan transformator bila terjadi gangguan
satu phasa ke tanah.
8. Relay Termis

Berfungsi untuk mencegah atau mengamankan transformator dari


kerusakan isolasi kumparan, akibata adanya panas lebih yang ditimbylkan
akibat arus lebih. Besarnya yang diukur di dalam rele ini adalah kenaikan
temperatur.
2.8 Peralatan Tambahan Untuk Pengaman Transformator
Pemadam kebakaran (transformator-transformator besar) Sistem pemadam
kebakaran yang modern pada transformator saat sekarang sudah sangat
diperlukan. Fungsi yang penting untuk mencegah terbakarnya trafo. Penyebab
trafo terbakar adalah karena gangguan hubung singkat pada sisi sekunder
sehingga pada trafo akan mengalir arus maksimumnya. Jika proses tersebut
berlangsung cukup lama karena rele tidak operasi dan tidak operasinya rele
juga sebagai akibat salah menyetel waktu pembukaan PMT, rele rusak, dan
sumber DC yang tidak ada serta kerusakan wiring.
2.9 Siklus Rankine
Siklus Rankine ideal sederhana terdiri dari:
1. Boiler sebagai alat pembangkit uap
2. Turbin uap sebagai alat mengubah uap menjadi kerja
3. Kondensor sebagai alat pengembun uap
4. Pompa boiler sebagai alat memompa air ke boiler
Skema siklus Rankine ideal sederhana dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Garis kerjanya pada diagram T-s seperti pada gambar berikut ini.

Keterangan gambar:
Proses 1 2 adalah proses pada tekanan konstan yang berlangsung pada boiler.
Pada proses ini kalor masuk ke dalam sistem (Qin).
Proses 2 3 adalah proses ekspansi isentropis (adiabatis reversibel) yang
berlangsung di dalam turbin uap. Pada proses ini terjadi kerja keluar sistem (Wout)
Proses 3 4 adalah proses pada tekanan konstan yang berlangsung di dalam
kondensor. Pada proses ini kalor keluar dari sistem (pembuang kalor) (Qout).
Proses 4 1 adalah proses penekanan secara isentropis oleh pompa. Pada proses
ini kerja masuk ke dalam sistem (Win).
Pada siklus Rankine ideal sederhana, air dipompa oleh pompa pengisi
boiler ke dalam boiler. Pompa yang bertugas untuk memompakan air ke dalam
boiler disebut feed water pump. Pompa ini harus dapat menekan air ke boiler
dengan tekanan yang cukup tinggi (sesuai dengan tekanan kerja siklus). Secara
ideal pompa bekerja menurut proses isentropis (adiabatis reversibel) dan secara
aktual pompa bekerja menurut proses adiabatis irreversibel.
Di dalam boiler, air yang bertekanan tinggi dipanaskan hingga menjadi uap panas
lanjut, prosesnya adalah sebagai berikut:
1.

Ekonomiser, air pertama-tama masuk ke ekonomiser. Ekonomier berfungsi


sebagai pemanas awal. Sesuai namanya alat ini berfungsi untuk
meningkatkan efisiensi boiler dengan cara menggunakan panas sisa gas
buang untuk memanaskan awal air yang masuk ke boiler.

2.

Evaporator, dari ekonomiser, air masuk ke drum penampung air di


evaporator. Di dalam evaporator air dipanaskan melalui pipa-pipa evaporasi
hingga berubah menjadi uap. Uap air yang keluar dari evaporator adalah
uap jenuh.

3.

Superheater, selanjutnya uap jenuh dari evaporator masuk ke superheater.


Superheater adalah alat penukar kalor yang dirancang khusus untuk
memanaskan uap jenuh menjadi uap panas lanjut dengan menggunakan gas
panas hasil pembakaran. Uap panas lanjut yang keluar dari superheater siap
digunakan untuk memutar turbin uap.

Uap panas lanjut dari boiler kemudian dialirkan ke turbin uap melalui pipa
pipa uap. Di dalam turbin uap , uap panas lanjut diekspansikan dan digunakan
untuk memutar rotor turbin uap. Proses ekspansi di dalam turbin uap berlangsung
melalui beberapa tahap yaitu:
1. Proses ekspansi awal di dalam turbin tekanan tinggi (roda Curtis)
Uap panas lanjut yang bertekanan tinggi diekspansikan di nosel dan
kemudian digunakan untuk memutar roda Curtis. Roda Curtis adalah turbin
uap jenis turbin implus. Pada roda Curtis terjadi penurunan tekanan yang
signifikan.
2. Proses ekspansi pada turbin tingkat menengah
Turbin tingkat menengah menggunakan turbin jenis reaksi dan tersusun
atas beberapa tingkat turbin.
3. Proses ekspansi tingkat akhir.
Pada tingkat akhir ini uap terus diekspansikan hingga tekanan sangat
rendah (biasanya dibawah tekanan atmosfir ) dengan bantuan kondensor.
Putaran poros yang dihasilkan dari proses ekspansi uap panas lanjut di dalam
turbin digunakan untuk memutar beban. Beban dapat berupa generator listrik
seperti di PLTU atau propeler (baling-baling) untuk menggerak kapal.

Uap tekanan rendah dari turbin uap mengalir ke kondensor. Di dalam


kondensor, uap didinginkan dengan media pendingin air hingga berubah fase
menjadi air. Kemudian air ditampung di dalam tangki dan dipisahkan dari gas-gas
yang tersisa dan siap untuk dipompa ke dalam boiler oleh pompa pengisi boiler.
Proses ini terus berlanjut dan berulang membentuk sebuah siklus yang disebut
siklus Rankine.
Pada siklus Rankine ideal. Ke 4 alat dianggap bekerja pada kondisi Steady
flow. Sehingga persamaan energi untuk kondisi steady flow dapat ditulis :

Beberapa proses yang berlangsung pada masing-masing alat adalah :


Kerja pompa :

Dimana adalah volume spesifik yang besarnya


Kalor masuk ke boiler :

Kerja yang dihasilkan turbin uap :

Kalor yang dibuang oleh kondensor :

Efisiensi thermal siklus Rankine ideal sederhana dapat dihitung :

Dimana :
Untuk menghitung kinerja siklus Rankine, diperlukan tabel sifat-sifat air
dan uap air. Berikut ini tabel sifat-sifat air dan uap air.
Untuk uap jenuh variabel tetap temperatur air:

Untuk uap jenuh dengan variabel tetap tekanan

Untuk uap panas lanjut

Contoh Soal:
Sebuah siklus Rankine sederhana ideal bekerja pada temperatur 400 oC dan
tekanan 80 bar. Tekanan kondensor 0,1 bar. Aliran massa uap yang masuk ke
turbin 100 kg/s. Hitunglah kerja turbin, kerja pompa, kalor masuk, kalor keluar
dan efisiensi siklus. daya yang dihasilkan turbin dan daya netto siklus.

Jawab
Pertama-tama gambarkan skema siklus Rankine sederhana dan lengkapi dengan
data-data yang ada di dalam soal

Ditanya:
-

Kerja turbin (Wt)


Kerja pompa (Wp)
Kalor masuk (Qin)
Kalor keluar (Qout)
Efisiensi termodinamika (th)
Daya turbin (Pt)
Daya netto siklus (Pnett).

Dari tabel sifat-sifat uap panas lanjut di dapat:


Entalpi uap masuk ke turbin : h1 = 3139,4 kJ/kg
Entropi uap masuk ke turbin : s1 = 6,3658 kJ/kg.K
Entropi uap keluar turbin sama dengan entropi uap masul turbin (proses ideal

atau isentropis) sehingga s1 = s2 = 6,3658 kJ/kg.K


Dari tabel uap jenuh, pada tekanan 0,1 bar (10 kPa) didapat:
Entalpi fase uap (hg2) = 2583,9 kJ/kg
Entalpi fase cair (hf2) = 191,81 kJ/kg
Entalpi perubahan fase (hfg2) = 2392,1 kj/kg
Entropi fase uap (sg1) = 8,1488 kJ/kg.K
Entropi fase cair (sf2) = 0,6492 kJ/kg.K
Entropi perubahan fase (sfg2) = 7,4996 kJ/kg.K

Fraksi (kadar) uap (X) dapat dihitung :

Artinya kadar uap yang keluar dari turbin menuju kondensor adalah 76,22
% atau fluida yang keluar dari turbin 76,22 % uap dan 23.78 % cair. Bagian yang
cair ini tidak perlu lagi diembunkan, tetapi 76,22 % uap ini yang harus dibuang
kalornya supaya fasenya berubah menjadi cair. Maka energi total yang terkandung
di dalam 76,22% uap dapat dihitung :

Maka kerja turbin dapat dihitung yaitu :

Daya turbin adalah :

Kalor yang dibuang oleh kondensor :

h2 adalah entalpi uap yang masuk ke kondensor = 2015,07 kJ/kg


h3 adalah entalpi air yang keluar dari kondensor = 191,81 kJ/kg
maka kalor yang dibuang oleh kondensor adalah :

Daya kondensor yang dibutuhkan untuk membuang kalor tersebut adalah :

Kerja pompa dapat dihitung dengan rumus :

= volume jenis air pada tekanan 0,1 bar = 0,00101 m3/kg


p4 = tekanan air keluar pompa = tekanan boiler (proses ideal tidak ada rugi-rugi
tekanan) maka p4 = p1= 400 bar = 40 Mpa.
p3 = tekanan air masuk pompa = tekanan air keluar kondensor, untuk proses ideal
tidak ada rugi-rugi tekanan sehingga p3 = 0,1 bar = 10 kPa
maka kerja pompa :

Bila aliran massa air yang dipompa 100 kg/s maka daya yang diperlukan oleh
pompa adalah:

Daya netto siklus :

Kalor yang masuk ke sistem (qin) dapat dihitung :

h1 = entalpi uap panas lanjut keluar dari boiler = 3139,4 kJ/kg


h4 = entalpi air keluar pompa yang besarnya = entalpi air masuk pompa + kerja
pompa, maka h4 = 191,81 + 40,3899 = 232,1999 kJ/kg
maka kalor yang masuk ke sistem adalah :

Daya yang dihasilkan Boiler : PB = 2900,2 kJ/kg x 100 kg/s = 290.020 kW =


290,02 MW
Efisiensi termodinamika siklus adalah :

Dari hasil perhitungan dapat dilihat hanya 37,37 % dari daya yang diberikan ke
dalam boiler yang dapat diubah menjadi energi mekanis, sisanya hilang atau
dibuang ke alam melalui kondensor dan ada sebagian kecil yang digunakan untuk
mengerakan pompa.

BAB III
PROSES PEMBANGKITAN LISTRIK PADA PLTU
3.1 Pengolahan Air Pada PLTU
Tujuan utama pengelolaan air adalah untuk membuat air dimineral (air
murni) dan mencegah terjadinya gangguan-gangguan yang diakibatkan oleh
air yang masih mengandung ion-ion dan zat-zat vang dapat merusak pipa-pipa
air yang ada di Boiler. Ganggungan-gangguan itu seperti kerak. korosi dan
gangguan-gangguan lainnya.

Proses pengolahan air ini dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai


berikut:
3.1.1

Tahap Penjernihan
Air yang diambil dari sungai Keramasan dengan Bantuan pompa
(Raw Water Pump) dengan putaran pompa yang cukup besar yaitu 1450
rpm. Air yang di pompa RWP terlebih dahulu masuk kedalam saringan
pasir, kemudian ke tower tank dari tower tank ke Reaktor disini air
mengalami penjernihan dengan menggunakan tawas dan kapur. Air yang
sudah mengalami penjernihan sebagian digunakan sebagai air minum yang
dialirkan ke perumahan.

3.1.2

Tahap Pemurnian
Pada tahap pemurnian ini dilakukan dengan menggunakan
peralatan-peralatan sebagai berikut:
Penukar kation
Penukar Anion
Air yang sudah dijernihkan dengan tawas dan air kapur dialirkan
ke sand filter kasar dan halus kemudian dialirkan ke rasin kation sebagai
zat yang dapat menyerap ion positif. Kemudian dari proses penukaran
kation, air dialirkan ke penukar anion (Anion Exchanger) pada proses ini
digunakan Resin Anion yaitu proses penyerapan ion-ion negatif.
Air yang sudah mengalami kedua proses diatas sudah terbebas dari
mineral dan biasanya disebut dengan air murni (Air Demineral)
selanjutnya air mumi (Air Demineral) dipompakan ke Feed water Tank
dengan kapasitas 45000 liter yang akan digunakan sebagai air penambah
boiler. Disini air mengalami pemanasan yaitu dengan memanfaatkan BME
(Boiler Mud Expander)

3.1.3

Proses Sirkulasi Air


Air yang sudah terbebas dari mineral biasa disebut dengan air
murni (Air Dimineral) selanjutnya air dipompakan ke FWT (Feed Water
Tank), dengan kapasitas 45000 liter. disini air mengalami pemanasan

dengan BME (Boiler Mud Exspander) kemudian air yang mengalami


pemanasan tadi melewati BMC (Boiler Mud Cooler) dan kemudian masuk
ke dearator.
Air yang masuk ke dearator tadi mengalami pemanasan yang
berasal dari Extraksion 2 yang terdapat pada Turbin Uap, kemudian air di
alirkan FWT (Feed Water Tank).sesudah itu air dialirkan ke HPH dengan
menggunakan Feed Water Pump. HPH adalah pemanas tekanan tingkat
tinggi, pemanasnya berasal dari uap extraksion I pada turbin uap.
Setelah air mengalami pemanasan tingkat tinggi di HPH. air
dialirkan terus masuk ke Economiser lalu dari Economiser air masuk ke
Boiler drum.
Air yang masuk ke Boiler drum mengalami pemanasan sehingga
air yang masuk tadi menjadi uap kemudian uap masuk ke Superheater dan
uap dialirkan, sebagai penggerak turbin.
Uap yang sudah dimanfaatkan oleh turbin turun ke Condensor.
fungsi kondensor untuk mendinginkan uap dalam turbin setelah di
dinginkan uap menjadi air. Air dialirkan ke Condensate Cooler setelah
melewati condensate cooler dialirkan ke Low Press Heater (LPH).

3.2 Starting Turbin Uap


Hal yang utama selama start dan pembenanan adalah pemanasan yang
perlahan-lahan dan merata pada bagian-bagian kritis yang dari logam turbin
seperti TSV, 1 stage nozzle bowl pasage.I shell area, rotor turbin tekanan
tinggi dan rotor turbin tekanan menengah. Untuk menghasilkan laju
pemanasan yang merata ini untuk membatasi tegangan, start turbin menjadi 4
tingkatan-tingkatan utama berdasarkan suhu metal dan uap yaitu :
- Cold Start : dari shutdown dimana temperatur inner casingnya dibawah
-

180C
Warm Star : dari shutdown selama 1 bulan lebih kurang 55 jam dan

temperatur inner casingnya antara 180C sampai 350C


Warm Start dibagi menjadi 2 yaitu :

a. Warm up I start : dari shutdown dimana temperatur innercasingnya

dibawah 180C sampai 250C


b. Warm up II start : dari shutdown dimana temperatur innercasingnya
-

dibawah 250C sampai 350C


Hot start : dari shutdown selama semalam dengan temperatur tekanan

tinggi inercasingnya antara 350C sampai 500C


Very hot start : setelah unit trip dan

temperatur

tekanan

tinggiinner casingnya diatas 500C


Keempat kategori serta tersebut terbagi menjadi 2 tipe, yaitu :
- Tipe pertama dimana by pass turbin tidak digunakan
- Tipe kedua dimana by pass turbin digunakan
Sesuai dengan namanya, boiler house steel structure adalah bangunan struktur
rangka baja, di mana di dalamnya terpasang semua peralatan steam generator.
Bangunan rangka baja ini tingginya antara 50 m (PLTU kapasitas 65 MW) hingga
100 m (PLTU kapasitas 600 MW).
Pressure part system adalah bagian utama dari steam generator. Bagian inilah
yang berfungsi untuk mengubah air menjadi uap bertekanan tinggi (superheated
steam) dengan temperatur antara 500 - 600 derajat C.
Air yang disuplai ke boiler, pertama kali masuk ke economizer inlet header, terus
didistribusikan ke economizer elements, berkumpul kembali di eco outlet header
lalu disalurkan ke steam drum. Economizer terletak di dalam backpass area (di
bagian belakang boiler house), sementara steam drum ada di bagian depan roof
area.
Dinamakan economizer karena bagian ini berfungsi untuk menaikkan temperatur
air yang baru masuk boiler dengan cara memanfaatkan gas buang dari
pembakaran batu bara di furnace area (combustion chamber). Dengan pemanasan
awal di economizer ini effisiensi ketel uap dapat ditingkatkan.
Akibat pemanasan secara konveksi di daerah furnace dan karena gaya gravitasi,
air di dalam steam drum air mengalami sirkulasi turun ke water wall lower header
melalui pipa downcomers. Dari waterwall lower header air kembali mengalami
sirkulasi karena panas, naik menuju water wall upper header melalui tube-tube

water wall panel. Kemudian dari waterwall upper header air dikembalikan ke
steam drum melalui riser pipes.
Jadi akibat panas pembakaran batu bara air mengalami sirkulasi terus menerus.
Sirkulasi ini menyebabkan air di water wall panel & steam drum sebagian berubah
menjadi uap.
Pada PLTU berkapasitas besar, sirkulasi tersebut dibantu oleh Boiler water
Circulating Pump yang terpasang pada pipa downcomers bagian bawah. Sirkulasi
yang lebih cepat akan menyebabkan kecepatan perubahan air menjadi uap juga
lebih besar.
Di dalam steam drum terdapat separator yang berfungsi untuk memisahkan uap
dari air. Uap yang sudah dipisahkan tersebut, dari steam drum disalurkan ke roof
steam inlet header yang terhubung ke boiler roof panel. Boiler roof panel ini yang
membawa uap ke belakang menuju backpass panel.
dari backpass panel, uap disalurkan ke Low Temperature Superheater (LTS) yang
ada di dalam backpass area, di atas economizer elements. dari LTS uap disalurkan
ke Intermediate Temperature Superheaters (ITS). Selanjutnya melalui pipa
superheater-desuperheater, uap dibawa ke High Temperature Superheater (HTS)
elements untuk menjalani proses pemanasan terakhir menjadi superheated steam.
ITS dan HTS elements lokasinya berada di dalam furnace (ruang pembakaran
batu bara) bagian atas. Beberapa boiler manufacturers memberikan nama yang
berbeda kepada LT, IT dan HT superheater.
Dari High Temperature Superheater outlet header, superheated steam dengan
temperature 500-600 derajat C dan tekanan sangat tinggi disalurkan ke steam
turbine melalui pipa main steam.
Pada PLTU berkapasitas kecil, uap tersebut masuk ke High Pressure Turbine,
terus ke Low Pressure Turbine dan keluar menuju condenser. Sedangkan pada
PLTU berkapasitas besar, setelah memutar HP turbine uap tersebut dibawa
kembali ke boiler melalui pipa cold reheat.
Di dalam boiler uap tersebut mengalami pemanasan kembali di dalam Reheater
elements. Reheater elements ini biasanya terletak di antara furnace area dan
backpass area.

Setelah mengalami pemanasan kembali, reheated steam disalurkan ke


Intermediate Pressure Turbine melalui pipa Hot Reheat. Setelah memutar
Intermediate dan Low Pressure Turbine, baru uap keluar ke condenser.

2.Sistem Pembakaran, Aliran Udara dan Gas


Buang

Pembakaran pulverized-coal dengan tangential burners yang dipasang pada


empat sudut combustion chamber
Coal & combustion system dalam PLTU terdiri dari coal silo, coal feeder,
pulverizer, coal pipes dan combustion burner. Dari coal storage batu bara diangkut
dengan belt conveyor menuju boiler house dan disimpan di dalam coal silo.
Dalam bangunan PLTU, coal silo lokasinya ada di antara boiler house dan
Turbine-Generator building.
Untuk menghasilkan pembakaran yang efisien, batu bara yang masuk ruang
pembakaran harus digiling terlebih dahulu hingga berbentuk serbuk (pulverized
coal). Penggilingan batu bara menjadi serbuk dilakukan pulverizer yang dikenal
juga dengan nama bowl-mill. Disebut demikian karena di dalamnya terdapat
mangkuk (bowl) tempat batu bara ditumbuk dengan grinder.
Pemasukan batu bara dari coal silo ke pulverizer diatur dengan coal feeder,
sehingga jumlah batu bara yang masuk ke pulverizer bisa diatur dari control room.
Batubara yang sudah digiling menjadi serbuk ditiup dengan udara panas (primary
air) dari pulverizer menuju combustion burner melalui pipa-pipa coal piping.
Pada saat start-up, pembakaran tidak langsung dilakukan dengan batu bara, tetapi
mempergunakan bahan bakar minyak. Baru setelah beban mencapai 10%-15%
batu bara pelan-pelan mulai masuk menggantikan minyak. Maka selain coal

piping, burner juga terhubung dengan oil pipe, atomizing air dan scavanging air
pipe yang berfungsi untuk mensuplai BBM.
Agar pembakaran dalam combustion chamber berlangsung dengan baik perlu
didukung dengan sistem suplai udara dan sitem pembuangan gas sisa pembakaran
yang baik. Tugas ini dilakukan oleh Air and Flue Gas System.
Air and Flue Gas System terdiri dari Primary Air (PA) Fans, Forced Draft (FD)
Fans, Induced Draft (ID) Fans, Air Heater, Primary Air Ducts, Secondary Air
Ducts dan Flue Gas Ducts.
Udara yang akan disuplai ke ruang pembakaran dipanaskan terlebih dahulu agar
tercapai efisiensi pembakaran yang baik. Pemanasan tersebut dilakukan oleh Air
Heater dengan cara konduksi dengan memanfaatkan panas dari gas buang sisa
pembakaran di dalam furnace.
Ada 2 type Air Heater yang banyak dipakai di PLTU. Yang pertama air heater type
tubular, banyak dipakai di PLTU yang berkapasitas kecil. Sedangkan air heater
type rotary lebih dipilih untuk PLTU kapasitas besar.
Primary Air Fans berfungsi untuk menghasilkan primary air yang diperlukan
untuk mendorong batu bara serbuk dari pulverizer ke burner. Forced Draft Fans
berfungsi untuk menghasilkan secondary air untuk mensuplai udara ke ruang
pembakaran. Sedangkan Induced Draft Fans berfungsi untuk menyedot gas sisa
pembakaran dari combustion chamber untuk dikeluarkan ke cerobong asap.

Primary & Secondary Air Duct system (warna biru)


Flue Gas system adalah bagian yang sangat penting untuk menjaga agar PLTU
tidak menyebabkan polusi berlebihan kepada lingkungan. Bagian dari flue gas
system yang umum terdapat di semua PLTU adalah Electrostatic Precipitator
(EP).
Electrostatic Precipitator adalah alat penangkap debu batu bara. Sebelum dilepas
ke udara bebas, gas buang sisa pembakaran batu bara terlebih dahulu melewati
electrostatic precipitator untuk dikurangi semaksimal mungkin kandungan
debunya. Bagian utama dari EP ini adalah housing (casing), internal parts yang
terdiri dari discharge electrode, collecting plates dan hammering system, dan ash
hoppers yang terletak di bagian bawah untuk menampung abu.
Pada beberapa PLTU modern ada lagi satu peralatan pengendali polusi yang
terpasang antara EP dan cerobong asap. Alat tersebut adalah Flue Gas

Desulphurization (FGD) plant. Sesuai dengan namanya FGD berfungsi untuk


mengurangi kadar sulphur dari gas buang. Kadar sulphur yang tinggi
dikhawatirkan bisa menyebabkan terjadinya hujan asam yang berbahaya bagi
lingkungan.
Bagian terakhir dari flue gas system adalah stack/chimney/cerobong asap yang
berfungsi untuk membuang gas sisa pembakaran.
3.3 Masalah Starting Pada PLTU
Untuk menstart PLTU dari keadaan dingin sampai operasi dengan beban
penuh, dibutuhkan waktu antara 6-8 jam. Jika PLTU yang telah beroperasi
dihentikan, tetapi uapnya dijaga agar tetap panas dalam drum ketel dengan
cara tetap menyalakan api secukupnya untuk menjaga suhu dan tekanan uap
ada di sekitar nilai operasi (yaitu sekitar 500C dan 100 kg/cm) maka untuk
mengoperasikannya kembali sampai beban penuh diperlukan waktu kira-kira 1
jam. Waktu yang lama untuk mengoperasikan PLTU tersebut diatas terutama
diperlukan untuk menghasilkan uap dalam jumlah yang cukup untuk operasi
(biasanya dinyatakan dalam ton per jam). Selain waktu yang diperlukan untuk
menghasilkan uap yang cukup untuk operasi, juga diperlukan masalah
pemuaian bagian-bagian turbin. Sebelum distart, suhu turbin adalah sama
dengan suhu ruangan, yaitu sekitar 30C. Pada waktu start dialirkan uap
dengan suhu sekitar 500C. Hal ini harus dilakukan secara bertahap agar
jangan sampai terjadi pemuaian yang berlebihan dan tidak merata. Pemuaian
yang berlebihan dapat menimbulkan tegangan mekanis (mechanical stress)
yang berlebihan, sedangkan pemuaian yang tidak merata dapat menyebabkan
bagian yang diam, misalnya antara sudu-sudu jalan turbin dengan sudu-sudu
tetap yang menempel pada rumah turbin.
Apabila turbin sedang berbeban penuh kemudian terjadi gangguan yang
menyebabkan pemutus tenaga (PMT) generator yang digerakkan turbin trip,
maka turbin kehilangan beban secara mendadak. Hal ini menyebabkan putaran
turbin akan naik secara mendadak dan apabila hal ini tidak dihentikan, maka
akan merusak bagian-bagian yang berputar pada turbin maupun pada
generator, seperti bantalan, sudu jalan turbin, dan kumparan arus serarah yang

ada pada rotor generator. Untuk mencegah hal ini, aliran uap ke turbin harus
dihentikan, yaitu dengan cara menutup katup uap turbin. Pemberentian aliran
uap ke turbin dengan menutup katup uap turbin secara mendadak
menyebabkan uap mengumpul dalam drum ketel sehingga tekanan uap dalam
drum ketel naik dengan cepat dan akhrinya menyebabkan katup pengaman
pada drum membuka dan uap dibuang ke udara. Bisa juga sebagian dari uap
diby pass ke kondensor. Dengan cara by pass ini tidak terlalu banyak uap yang
hilang sehingga sewaktu turbin akan dioperasikan kembali banyak waktu
dapat dihemat untuk start. Tetapi sistem by pass memerlukan biaya investasi
tambahan kareran kondensor harus tahan suhu tinggi dan tekanan tinggi dari
hasil by pass.
Dari uraian diatas tampak bahwa perubahan beban mendadak memerlukan
pula langkah pengurangan produksi uap secara mendadak agar tidak terlalu
banyak uap yang harus dibuang ke udara. Langkah pengurangan produksi ini
dilakukan dengan mematikan nyala api dalam ruang bakar ketel dan
mengurangi pengisian air ketel. Masalahnya di sini bahwa walaupun nyala api
dalam ruang bakar padam, masih cukup banyak panas yang tertinggal dalam
ruang bakar untuk menghasilkan uap sehingga pompa pengisi ketel harus tetap
mengisi air ke dalam ketel untuk mencegah penurunan level air dalam drum
yang tidak dikehendaki.
Mengingat masalah-masalah tersebut diatas yang menyangkut masalah
proses produksi uap dan masalah-masalah pemuaian yang terjadi dalam turbin,
sebaiknya PLTU tidak dioperasikan dengan persentase perubahan-perubahan
beban yang besar.
Efesiensi PLTU banyak dipengaruhi ukuran PLTU, karena ukuran PLTU
menentukan ekonomis tidaknya penggunan pemanas ulang dan pemanas awal.
Efesiensi termis dari PLTU berkisar pada angka 35-38%.

BAB IV
SISTEM KONTROL DAN INSTRUMENTASI PLTU
Sistem kontrol dan instrumentasi pada PLTU digunakan untuk mengirimkan
besaran terukur ke sebuah pusat kendali (control room), yang berguna untuk
mengendalikan dan mengkoreksi besaran tersebut secara otomatis melalui sebuah
controller, sesuai set point yang diinginkan. dan ketika terjadi abnormal condition,
alarm akan muncul yang dapat memicu proteksi untuk mematikan plant secara
aman. Berikut adalah pembagian sistem kontrol dan instrumentasi PLTU :
4.1 Kontrol Manual
Untuk mengatur tinggi level, tangki dilengkapi dengan satu tabung gelas
penduga

S,

seperti gambar

1.1. Tinggi

level

cairan

yang

ada

disebut controlled variable (variabel terkontrol). Aliran keluar tangki bisa


dirobah oleh operator melalui katup. Laju aliran keluar disebut manipulated
variable atau controlling variable (variabel terselewengkan atau variabel
pengkontrolan).

Dengan memanipulasi posisi katup, operator mengkontrol tinggi level


tangki sedekat mungkin dengan level yang diinginkan H.

Disini, manusia operator menggunakan matanya sebagai elemen perasa


(sensing element) level. Umumnya, pada operasi manual, manusia
merasakan:

melihat,

menyentuh,

mencium,

merasa

dan

mendengar

merupakan sistem pengukuran. Dalam banyak hal, manusia operator bisa


dibantu dengan sensor lain, misalnya indikator level, suhu, dan tekanan.

4.2 Kontrol Otomatis (Automatic Control)


Ada 3 kendali utama yang digunakan pada sistem kendali ini yaitu:
1. Automatic Burner System (ABS) fungsinya mengendailkan operasi
burner.
Automatic Burner System (ABS) fungsinya mengendalikan operasi
burner secara remote (Jarak jauh) dan Control Room. Pada ruang bakar
Boiler terdapat sejumlah Burner batubara yang dapat dinyalakan secara
manual atau auto tergantung kebutuhan. Biasanya diawal pengoperasian
Boiler, penyalaan Burner dilakukan secara manual sampai Generator
mengeluarkan daya, selanjutnya pengendalian secara auto. Pada beban
penuh, semua burner akan menyala, jika beban turun sebagian burner
dimatikan dan jika beban naik burner yang menyala ditambahkan. Burner
Management

System

(BMS)

yang

terdapat

pada

ABS

akan

mengeridalikan jumlah dan nomor burner yang akan dlnyalakan secara


otomatis sesual perubahan beban dengan mempertlmbangkan pemerataan
suhu dl dalam ruang bakar Boiler.
2. Automatic Boiler Control (ABC), fungsinya mengendalikan operasi boiler
yang terdiri:
2.1
Combustion control
Combustion control, fungsinya mengatur sistem
pembakaran: bahan bakar solar, batubara, dan udara pembakaran
dengan

menggunakan

software

(P-320,

N-90).Piranti

ni

mengendalikan aliran bahan bakar melalul actuator (penggerak) di


lokal yang menggerakkan Pressure atau Flow Control Valve pada
sistim bahan bakar solar dan menggerakkan Variable Speed Motor
pada sistem bahan bakar batubara. Sinyal perintah dan piranti ini

berupa besaran listrik 4-20 mA diubah menjadi tekanan udara 0,2


1 kg/cm2 didalam alat yang disebut transducer, selanjutnya
udara bertekanan ini akan menggerakkan actuator di lokal sesuai
perubahan beban. Pada pengendallan konsumsi batubara besaran
listrlk 4-20 mA diubah menjadi tegangan listrik sesuai range kerja
variable speed motor penggerak Coal Feeder yang berarti mengatur
Jumlah konsumsi batubara sesual perubahan beban. Konsumsi
bahan bakar ini dikendalikan untuk memenuhi kebutuhan jumlah
aliran uap sesuai kebutuhan beban. Perubahan konsumsi bahan
bakar selalu dilkuti perubahanaliran udara pembakaran agar
komposisi udara danbahan bakar selalu sesuai.
2.2

Feed Water Control


Feed Water Control fungsinya mengatur sirkulasi Feed
Water untuk menjaga permukaan air di dalam drum Boiler.
Permukaan air didalam drum Boiler bisa dilihat dan gelas penduga
yang terpasang di lokal, atau melalui Indikator di Control Room.
Melalul monitor jarak jauh dengan bantuan alat yang disebut
transmitter. Transmitter fungsinya mengirim sinyal lokal melalui
kabel untuk input feed back pengaturan serta untuk Indikator dan
proteksi. Ketika ada sinyal berupa permintaan penambahan
daya/beban dari Mega Watt Demand (MWD) maka controller
(piranti elektronik) akan memerintahkan pembukaan Feed Water
Control Valve sehingga Feed Water menuju Drum meningkat
sehingga mencapai normal (NWL) dan sebaliknya.

2.3

Steam temperature control


Steam temperature control, fungsinya menjaga suhu uap
agar tetap sesuai suhu desain dengan cara menyemprotkan (spray)
Feed Water ke superheater atau reheater.Ketika suhu uap masuk
turbin meningkat karena perubahan beban, sensor suhu uap akan
mengirim sinyal ke controller yang akan mengolah sinyal ini
menjadi sinyal perintah untuk membuka Flow Control Valve dan

Spray water. Sebaliknya ketika suhu uap turun, sinyal perintah


controller akan mengatur bukaan damper (kisi-kisi) gas asap yang
terdapat pada Superhater dan Reheater melalui actuator untuk
menaikkan suhu uap.
3. Electro Hydraulic Control
Electro Hydraulic Control (EHC) funginya mengendalikan operasi
turbin uap mulai dari putaran 0 sampal putaran pengaturan beban. Kendali
Start up mengendalikan turbin dan putaran 0 sampai putaran nominal
(3000 rpm), selanjutnya kendali diambil alih oleh Speed Control untuk
menjaga putarari tetap 3000 rpm. Jika terjadi perubahan frekuensi
jaringan listrik, putaran akan cenderung ikut berubah, Jika putaran naik
Speed Control akan memberikan sinyal perintah untuk menutup Flow
Control Valve uap sehlngga putaran turun dan sebaliknya. Setelah
generator di parallel (synchron) dengan Jaringan, pengaturan beban
dilakukan oteb Load control.

4.3 Parameter Pengontrolan


Parameter ini digunakan sebagai patokan atau pedoman dalam proses
instrumen atau pengontrolan agar sistem kerja PLTU mencapai efisiensi yang
tinggi dan meminimalisir dari gangguan yang ada. Berikut beberapa
parameter yang harus dijaga dalam proses kerja PLTU dalam komponen :
a. Boiler, komponen yang dijaga adalah :
Temperatur dan Flow bahan bakar (batubara/HSD) yang masuk.
Temperatur, Tekanan dan Flow Udara Pembakaran.
Temperatur dan Tekanan Ruang Bakar Boiler.
Temperatur, Tekanan dan Level Air di Boiler Drum.
Tekanan dan Flow Air yang masuk boiler.
Temperatur, Tekanan dan Flow Steam yang dihasilkan oleh boiler.
b. Turbin, komponen yang dijaga adalah :
Regulasi pembukaan governor Turbin
Putaran dan Vibrasi Turbin
Temperatur dan Tekanan Steam yang masuk Turbin
Temperatur dan Tekanan Sistem perapat Turbin
Temperatur dan Tekanan pelumas Turbin

c. Generator, komponen yang dijaga adalah :


- Tegangan dan Arus Eksitasi
- Tegangan, Arus, Frekuensi, Daya Aktif, Daya Reaktif dan sudut
-

daya
Vibrasi & Temperatur belitan Generator
Tekanan, Temperatur dan Kemurnian Hidrogen (untuk generator
dengan sistem pendingin H2).

Berikut adalah blok diagram dari sistem kerja PLTU :

Secara hierarki PLTU dapat digambarkan blok diagramnya sebagai berikut :

BAB V
KONFIGURASI PLTU
5.1 Konfigurasi Switchyard

Gamabar pemetapam peralatan pada Switchyard

1.Primary power lines


2.Ground wire

8. Transformer for
measurement of electric
voltage

3.Overhead lines

9. Main transformer

4.Lightning arrester

10. Control building

5.Disconnect switch

11. Security fence

6.Circuit breaker

12. Secondary power lines

7.Current transformer

5.2 Topologi sistem SCADA pada PLTU

Gambar Topologi Star demgam esktended star

Sistem SCADA ini menggunakan topologi Star yang di gabung dengan


ekstended Star, Dapat dilihat pada gambar di atas pada garis biru menunjukan
koneksi jaringan pada Conrol Room yang terhubung dengan garis merah yang

terhubung di switchyard dan juga terrkoneksi secara realtime ke control room.


Dan garis orange dapat dilihat pada gambar diatas langsung terkoneksi ke
GPS/satelite untuk mengirimkan informasi data ke GI lainnya.

5.3 Contoh siteplan pada PLTU

5.4 Single Line PLTU

DAFTAR PUSTAKA
http://godamaiku.blogspot.com/2013/04/pembangkit-listrik-tenaga-uap-pltu.html

http://obilparulian.blogspot.com/2012/06/v-behaviorurldefaultvmlo_3323.html
http://reosaputro.blogspot.com/2013/06/intrumentasi-dan-kontrol-padasistem.html
http://www.elektroindonesia.com/elektro/ener34b.html
http://adsenfe.blogspot.com/2013/05/bagaimana-proses-pembangkitantenaga.html
http://deparirumahgeri.blogspot.com/2011/01/bagian-dan-cara-kerja-pltu.html
http://agungnugraha99.blogspot.com/2013/12/pengetahuan-sederhana-tentangproyek.html