Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH SISTEM PROTEKSI GENERATOR

Pembuatan makalah ini memiliki tujuan sebagai salah satu tugas untuk mata kuliah Proteksi
Sistem Tenaga dan memahami bagian-bagian proteksi dari generator.

Oleh:
Mujadillah Hafiz
121321020
3A D3 Teknik Listrik

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


2014

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama
nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata
kuliah PROTEKSI SISTEM TENAGA. Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan
kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni alquran dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.

Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Proteksi Sistem Tenaga di program
studi d3 teknik listrik politeknik negeri bandung. Selanjutnya penulis mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Sunarto, ST., M.Eng selaku dosen mata kuliah
Proteksi Sistem Tenaga dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta
arahan selama penulisan makalah ini.

Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam


penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca untuk makalah ini menjadi lebih baik.

Bandung, Desember 2014

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

Listrik

sangat

berguna

baik

dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga ataupun

kebutuhan dunia industri. Kebutuhan listrik dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring
dengan laju pertumbuhan penduduk. Maka dibangunlah pembangkit-pembangkit energi
listrik sehingga terpenuhi

kebutuhan

listrik dalam negeri. Tentu saja pembangkit listrik

mempunyai peran yang sangat besar pada semua sektor kehidupan masyarakat sehingga
keberadaannya menjadi sangat penting. Adanya gangguan pada suatu sistem pembangkit
dapat mengganggu operasi dari sistem pembangkit tersebut yang dapat membahayakan
bagian-bagian penting didalamnya karena dapat mengakibatkan kerusakan dan penurunan
umur pembangkit.
Dalam suatu generator pada pusat pembangkit tentu dilengakapi dengan alat proteksi
supaya bisa terhindar dari gangguan yang tidak diinginkan, supaya beban yang diterima pada
sisi konsumen bisa sampai dengan baik maka perlu pada generator dipasang alat alat
pengaman atau alat proteksi seperti FUSE, RELAY, MCCB dan banyak lagi alat pengaman
pada sistem generator. Mengingat akan fatalnya akibat dari apabila terjadi gangguan pada
generator ,tentu untuk pemasangan alat alat proteksi perlu diperhitungkan secara detil dan
sangat teliti.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Generator
Generator adalah suatu alat yang dapat mengubah tenaga mekanik menjadi energi
listrik. Tenaga mekanik bisa berasal dari panas, air, uap, dll. Energi listrik yang
dihasilkan oleh generator bisa berupa Listrik AC (listrik bolak-balik) maupun DC
(listrik searah). Hal tersebut tegantung dari konstruksi generator yang dipakai oleh
pembangkit tenaga listrik.
Generator menggunakan prinsip percobaannya faraday yaitu memutar magnet
dalam kumparan atau sebaliknya, ketika magnet digerakkan dalam kumparan maka
terjadi perubahan fluks gaya magnet (perubahan arah penyebaran medan magnet) di
dalam kumparan dan menembus tegak lurus terhadap kumparan sehingga
menyebabkan beda potensial antara ujung-ujung kumparan (yang menimbulkan gerak
gaya listrik). syarat utama harus ada perubahan fluks magnetik, jika tidak maka tidak
akan timbul listrik. cara mengubah fluks magnetik adalah menggerakkan magnet
dalam kumparan atau sebaliknya dengan energi dari sumber lain, seperti angin dan air
yang memutar baling-baling turbin untuk menggerakkan magnet

tersebut. jika suatu

konduktor digerakkan memotong medan magnet akan timbul beda tegangan di ujungujung konduktor tersebut.
Terdapat dua jenis generator, yaitu generator arus bolak-balik (AC) dan generator
arus searah (DC). Generator arus bolak-balik sering disebut juga dengan alternator.
Alat ini terdiri atas magnet dengan kutub berbentuk cekung dan kumparan kawat yang
dililitkan pada suatu armatur dan dapat berputar dalam suatu medan magnet. Armatur
berupa kumparan persegi dengan lilitan mengitari sebuah inti besi lunak. Generator
arus searah sering disebut juga dengan dinamo. Alat ini terdiri atas magnet dan
kumparan kawat yang dililitkan pada suatu armatur dan dapat berputar dalam suatu
medan magnet. Perbedaannya dengan generator AC adalah pada bagian komponen
yang berhubungan dengan ujung kumparan yang berputar. Dinamo menggunakan
sebuah cincin belah atau disebut sebagai komutator, sedangkan generator AC
menggunakan dua buah slip ring.
B. Sistem Proteksi

proteksi sistem tenaga listrik adalah sistem proteksi yang dipasang pada peralatanperalatan listrik suatu sistem tenaga listrik, misalnya generator, transformator,
jaringan dan lain-lain, terhadap kondisi abnormal operasi sistem itu sendiri. Kondisi
abnormal itu dapat berupa antara lain: hubung singkat, tegangan lebih, beban lebih,
frekuensi sistem rendah, asinkron dan lain-lain.
Tujuan dari sistem proteksi adalah sebagai berikut :
Mengurangi kerusakan peralatan yang terganggu ,maupun peralatan yang
dilewati oleh arus gangguan.
Mengisolir bagian sistem yang terganggu sekecil mungkin dan secepat

mungkin.

Mencegah meluasnya gangguan.


Adapun fungsi dari sistem proteksi adalah sebagai berikut :
Mendeteksi adanya gangguan atau keadaan abnormal pada bagian sistem

yang diamankan
Melepas bagian sistem yang terganggu , sehingga bagian sistem yang

lainnya masih dapat terus beroperasi .


Dalam aplikasinya, sistem proteksi terdiri dari beberapa peralatan pendukung. Berikut
ini adalah skema secara umum dari sistem proteksi beserta peralatan pendukung yang
digunakan.

Relai
pengaman sebagai
elemen perasa / pengukur untuk mendeteksi gangguan.
Pemutus tenaga (pmt ) sebagai pemutus arus dalam sirkuit tenaga untuk
melepas bagian sistem yang terganggu.
Trafo arus dan atau trafo tegangan mengubah besarnya arus dan atau tegangan
dari sirkuit primer ke sirkuit sekunder [ relai ].
Batere / aki sebagai sumber tenaga untuk mentripkan pmt dan catu daya untuk
relai statik dan relai bantu.
Wiring untuk menghubungkan komponen komponen proteksi sehingga menjadi
satu sistem.

BAB III
PROTEKSI GENERATOR
Berikut adalah gangguan pada generator dan cara memproteksinya:
1. Hubung Singkat (short-circuit) pada lilitan stator.
Gangguan pada lilitan stator dapat diklasifikasikan sebagai gangguan hubung
singkat fasa ke fasa, hubung singkat fasa dengan tanah, hubung singkat antara
lilitan dengan lilitan pada fasa yang sama dan rangkaian terbuka. Kegagalan

isolasi lilitan dapat disebabkan oleh tegangan lebih, menurunnya ketahanan


dielektrik, atau kombinasi keduanya. Tegangan lebih dapat disebabkan oleh
switching transient, petir, atau gabungan kecepatan lebih dengan beban hilang
yang mendadak. Menurunnya ketahanan dielektrik dapat disebabkan oleh
penuaan, panas pada isolasi, pengumpulan kotoran, korona, kelembaban,
pemeliharaan yang salah, adanya benda asing yang masuk kedalam isolasi
misalnya seperti kipas (fan) yang patah dan menghantam lilitan atau air sistem
pendingin stator bocor. Jika kerusakan isolasi lilitan dapat dicegah sebelum
laminasi rusak, maka perbaikan masih dapat dilakukan dengan mengganti
kumparan yang rusak, akan tetapi jika laminasi pada inti besi yang rusak,
perbaikan yang dilakukan sudah tidak efisien lagi. Oleh sebab itu sedapat
mungkin gangguan harus dihilangkan sebelum timbul kebakaran yang biasanya
dapat merusak laminasi inti. Untuk mendapatkan pengaman yang baik maka
dianjurkan agar menggunakan rele diferensial generator.
a. Hubung singkat fasa ke fasa.
Untuk mengamankan masing-masing lilitan fasa generator dapat
menggunakan rele arus lebih yang dihubung diferensial. Rele diferensial
arus ini dapat menggunakan rele arus lebih yang sederhana atau yang
dilengkapi dengan pelambatan waktu, atau dapat juga menggunakan
rele diferensial persentase dengan restrain yang linier atau yang dapat
berubah. Untuk mendapatkan rele diferensial dengan kepekaan yang
maksimum, maka trafo arus yang digunakan pada masing-masing ujung
harus

benar-benar sama.

Meskipun

hal ini

sudah dilakukan,

pengamanan diferensial yang menggunakan rele arus lebih masih


mempunyai keterbatasan terhadap kesalahan kerja yang disebabkan arus
gangguan luar yang sangat besar.
b. Hubung Singkat Fasa dengan Fasa.
Generator-generator tegangan tinggi biasanya dihubung bintang
dengan titik netralnya dapat ditanahkan secara langsung atau melalui
impedansi atau sama sekali tidak ditanahkan. Penggunaan impedansi
pada suatu sistem pentanahan dimaksudkan untuk membatasi arus
hubung singkat ketanah agar tidak lebih besar dari arus hubung singkat
tiga fasa. Umumnya lilitan generator diharapkan tidak tahan terhadap
arus lebih yang lebih besar dari arus hubung singkat tiga fasa. Tingkat

daya guna rele diferensial terhadap arus gangguan tanah tergantung


terhadap besar arus gangguan tanah yang timbul. Bila sistem yang
ditanahkan dengan impedansi rendah, biasanya arus gangguan tanah
yang terjadi besar dan diharapkan rele dapat bekerja dengan baik
kecuali jika terjadi gangguan pada sebagian kecil lilitan yang dekat
dengan titik netral. Demikian sebaliknya jika generator ditanahkan
dengan impedansi tinggi maka arus gangguan tanah yang terjadi cukup
kecil dan biasanya rele diharapkan tidak bekerja. Untuk mengamankan
gangguan ini maka digunakan rele lain. Penggunaan rele diferensial
pada sistem yang ditanahkan dengan tahanan tinggi menyebabkan
kepekaan rele terhadap gangguan tanah sangat rendah.
c. Hubung Singkat Antar Lilitan Pada Fasa Yang Sama.
Walaupun rele diferensial dapat menditeksi gangguan hubung
singkat antar fasa hampir pada semua lilitan generator tetapi rele ini
tidak dapat menditeksi gangguan hubung singkat antar lilitan pada fasa
yang sama. Bermacam-macam skema pengaman telah dibuat namun
umumnya tidak praktis dan terbatas pada konstruksi generator itu
sendiri. Untuk generator yang mempunyai lilitan tunggal (single layer)
hubung singkat antar lilitan pada fasa yang sama tidak akan terjadi
tanpa mengikut sertakan gangguan hubung tanah. Umumnya pengaman
gangguan ini jarang sekali digunakan dalam praktek.
d. Rangkaian Terbuka Pada Lilitan.
Kejadian rangkaian terbuka pada generator modern adalah hal yang
sulit terjadi karena bentuk fisik penghantar dan pelindung khusus yang
ada pada konstruksinya cukup kuat dan biasanya tidak diterapkan rele
pengaman yang khusus untuk menditeksi rangkaian terbuka.
2. Beban lebih (overload).
Kenaikan suhu disebabkan oleh karena pembebanan lebih pada generator yang
terlalu lama, ventilasi yang kurang sempurna atau karena banyak kotoran yang
menempel pada isolasi lilitan stator sehingga menghambat pelepasan lilitan
stator.Aliran minyak pelumas yang kurang baik juga bisa menyebabkan suhu yang
tinggi.

Untuk

mengamankan

generator

terhadap

masalah

suhu

yang

tinggi,biasanya dipakai sebuah relai arus lebih tunda waktu atau dipakai relay suhu

yang pada tahap pertama membunyikan alarm dan pada tahap berikutnya mentrip
PMT generator.
3. Panas Lebih (overheating)
Panas lebih pada rotor dapat terjadi karena adanya arus lebih pada rotor yang
disebabkan oleh gangguan pada sistem ventilasi, single phasing atau operasi arus
yang tidak seimbang pada stator. Selain dari itu panas pada rotor dapat disebabkan
oleh arus medan lebih sebagai akibat dari gangguan pada rheostat dan gangguan
pada pengaturan tegangan. Sehubungan dengan hal tersebut ada pendapat yang
mengatakan bahwa rangkaian medan penguat agar dilengkapi dengan pengaman
arus lebih. Meskipun kenaikan temperatur yang cukup kecil dapat diditeksi pada
keluaran udara dari media pendingin tetapi ini tidak menjamin sumber panas
berasal dari gangguan pada rotor mungkin saja dari bagian yang lain. Terlepasnya
salah satu fasa atau arus stator yang tidak seimbang dapat menimbulkan panas
setempat yaitu pada permukaan kutub rotor selain itu juga akan timbul vibrasi
yang dapat merusak pondasi mesin atau mesin itu sendiri. Pengaman keadaan
tidak seimbang biasanya tidak dipasang di rotor tetapi pada feeder generator.
Untuk mencegah arus sirkulasi yang melalui bearing yang dapat menyebabkan
kerusakan pada bearing yang diakibatkan oleh arus tersebut maka dipasang suatu
bahan isolasi antara lempengan pelat dan bantalan main outboard mesin. Apabila
isolasi ini rusak atau terjadi hubung singkat antara keduanya maka bearing akan
mengalami cacat yang disebabkan oleh muatan listrik statis. Keadaan ini dapat
diditeksi dengan menggunakan rele arus lebih yang salah satu terminalnya
dihubung pada dudukan bearing dan yang sebuah lagi dihubungkan ke poros
generator dengan menggunakan kontak sikat berisolasi. Lapisan minyak pada
bearing dapat mencegah kumparan kerja rele hubung singkat.
4. Tegangan Lebih (overvoltage) dan Kecepatan Lebih.
Tegangan lebih yang dibangkitkan generator terutama disebabkan oleh putaran
lebih akibat pelepasan beban yang mendadak. Governor pada generator mengatur
kecepatan putaran agar putarannya tetap normal. Namun, rentang waktu yang
diperlukan cukup lama sehingga pada saat itu terjadi tegangan lebih yang sangat
membahayakan piranti-piranti kelistrikan lainnya. Tegangan lebih ini akan
merusakkan isolasi kumparan generator akibat panas yang berlebihan. (Over
Voltage Relay) Pengaman tegangan lebih dianjurkan untuk diterapkan pada

generator yang digerakkan oleh tenaga air di mana permasalahan utamanya adalah
terjadinya kecepatan lebih (over speed) sebagai akibat terlepasnya beban besar
secara mendadak. Tegangan lebih dapat juga disebabkan oleh kerusakan pada
pengatur tegangan otomatis (AVR). Rele tegangan lebih dapat dipasang dengan
menyisipkan tahanan pada penguat atau pada rangkaian medan generator untuk
mengoperasikan alarm atau menghentikan operasi mesin yang sesuai dengan
persyaratan yang telah ditentukan.
Penggerak mula generator dapat mengalami kecepatan lebih (overspeed)
dalam keadaan kerja yang tidak normal, untuk itu maka generator harus dilengkapi
dengan pengaman kecepatan lebih. Alat ini dapat digabungkan dengan sistem
governor penggerak mula atau dapat juga menggunakan sentrifugal device. Jika
peralatan pengaman kecepatan lebih mekanis tidak dipasang maka rele frekwensi
harus digunakan. Pada generator turbin kapasitas besar mempunyai pengaman
kecepatan lebih yang dapat mentripkan throtle valve jika kecepatan normal
terlampaui sekitar 10%. Sedangkan penggerak mula tenaga air kecepatan lebihnya
dapat mencapai sekitar 220% dari kecepatan normalnya.

5. Kehilangan Medan Penguat (loss of field)


Bilamana generator yang sedang dibebani medan penguatnya hilang maka
kopling magnit antara rotor dan stator menjadi lemah dan putaran rotor akan
mendahului medan magnit stator, sistem kehilangan sinkronisasi. Bila keadaan ini
dibiarkan berlangsung dapat membahayakan operasi generator dan sistem.
Generator akan bekerja sebagai generator induksi, di mana akan timbul arus
sirkulasi yang sangat besar pada permukaan rotor, khususnya pada bagian ujung
dan ini dapat menimbulkan panas yang berbahaya pada daerah setempat dan pada
ujung lengkungan irisan alur metal. Tegangan induksi atau arus induksi akan
timbul pada lilitan medan yang tergantung pada apakah lilitan itu terhubung
singkat sempurna atau terbuka. Arus sirkulasi ini akan menimbulkan panas dan
dapat merusak rotor.
Untuk kehilangan medan penguat yang sempurna pada generator besar yang
tidak dilengkapi dengan pengatur tegangan otomatis dapat menyebabkan
penurunan tegangan sampai batas yang serius yang dicapai tidak lebih dari 10
sampai 15 detik. Dan apabila generator tersebut mewakili sebagian besar

pembangkitan daya tegangan rendah yang serius dapat dicapai dalam waktu
kurang dari satu detik.
Pengaman kehilangan medan telah dikembangkan untuk dapat melindungi
generator terhadap kehilangan medan sebagian atau seluruhnya. Untuk
menghindari kesalahan pemutusan akibat adanya surja sesaat maka perlu
menerapkan penunda waktu yang mungkin ada pada rele itu sendiri atau dengan
memasang rele penunda waktu bantu. Jika pengaman kehilangan medan
dimaksudkan sebagai pengaman utama sistem dan generator, rele tegangan kurang
dapat diterapkan pada skema untuk mengendalikan pemutusan, tetapi tidak mudah
menentukan nilai penyetelan rele yang mampu menjaga sistem dan generator
terhadap kerusakan. Pengaman kehilangan medan penguat dapat diterapkan
apabila salah satu atau lebih keadaan berikut ini terpenuhi.
Jika generator tidak dilengkapi dengan pengatur tegangan otomatis.
Salah satu generator yang dioperasikan paralel lebih besar dari lainnya.
Generator mempunyai hubungan listrik yang mudah sekali terlepas.
Salah satu usaha yang dilakukan untuk mencegah pengaruh kehilangan medan
pada saat pemutus tenaga generator tertutup yaitu dengan memasang sistem
interlock. Dengan menggunakan interlock setiap pemutusan medan penguat akan
diikuti dengan pemutusan pemutus tenaga generator pada saat pengoperasian.
6. Daya balik (motoring).
Generator yang digerakkan oleh turbin uap apabila uapnya hilang, maka
generator bekerja sebagai motor induksi dimana mesin seharusnya mensuplai
tenaga. Dalam keadaan seperti ini generator menerima suplai tenaga listrik dari
sistem. Untuk mencegah kerusakan akibat gangguan ini maka generator harus
dilengkapi dengan rele daya arah yang peka. Fungsi dari rele ini diatur sedemikian
rupa misalnya dapat memberikan isyarat peringatan dini atau memberikan isyarat
pada rangkaian pemutus tenaga untuk melepaskan generator terhadap sistem.
Untuk generator yang digerakkan oleh mesin diesel juga dapat menerapkan rele
ini.
7. Out of step.
Suatu generator yang dioperasikan dapat mengalami out of step yang
merupakan permasalahan pokok yang dapat menyebabkan kerusakan poros
kopling atau pasangan stator. Dari gangguan gangguan dan proteksi generator

diatas ada juga gangguan generator dari luar. Generator umumnya dihubungkan ke
rel (busbar). Beban dipasok oleh saluran yang dihubungkan ke rel. Gangguan
kebanyakan ada di saluran yang mengambil daya dari rel. Instalasi penghubung
generator dengan rel umumnya jarang mengalami gangguan. Karena rel dan
saluran yang keluar dari rel sudah mempunyai proteksi sendiri, maka proteksi
generator terhadap gangguan luar cukup dengan relay arus lebih dengan time
delay yang relatif lama dan dengan voltage restrain.
Arus Hubung Singkat Generator turun sebagai fungsi waktu.
Hal ini disebabkan oleh membesarnya arus stator yang melemahkan
medan magnit kutub (rotor) sehingga ggl dan tegangan jepit Generator

turun.
Untuk menjamin kerjanya Relay sehubungan dengan menurunnya arus

hubung singkat Generator, diperlukan Voltage Restrain Coil.


Mengingat karakteristik hubung singkat Generator yang demikian,
pada Generator besar dipakai juga Relay Impedansi.

Bila terjadi gangguan yang masih pada batas yang diizinkan biasanya sistem
hanya memberikan peringatan saja. Menentukan tindakan seperti yang disebutkan
di atas harus dilakukan secara cermat dan hati-hati, karena kesalahan dalam
menentukan dapat mempengaruhi tingkat pelayanan yang baik.
a. Memilih jenis rele yang sesuai dengan jenis gangguan yang mungkin
timbul.
b. Mengkoordinasi penyetelan rele yang satu dengan yang lainnya
c. Mempertimbangkan segi produksi, pemeliharaan generator dan
pemeliharaan peralatan pengamannya.
d. Mengadakan tenaga-tenaga operator dan teknisi pemeliharaan yang
memadai
Apabila keempat faktor di atas dapat dipenuhi maka diharapkan kelangsungan
pengoperasian dapat berjalan dengan lancar.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN

Proteksi generator juga harus mempertimbangkan pula proteksi bagi mesin

penggeraknya, karena generator digerakkan oleh mesin penggerak mula.


Sebagai sumber energi listrik dalam suatu sistem tenaga, generator memiliki
peran yang penting, sehingga tripnya PMT/CB generator sangat tidak
dikehendaki karena sangat mengganggu sistem, terutama generator yang

berdaya besar.
PMT/CB generator tidak boleh mudah trip tetapi juga harus aman bagi
generator, walaupun didalam sistem banyak terjadi gangguan untuk menjaga
keandalan dari kerja generator, maka dilengkapilah generator dengan
peralatan-peralatan proteksi.

B. SARAN

Untuk menghindari ataupun untuk mengurangi kerusakan peralatan-peralatan


akibat gangguan (kondisi abnormal operasi sistem) maka penting memproteksi
peralatan peralatan tersebut dengan memilih jenis rele yang sesuai dengan
jenis gangguan yang mungkin timbul.

Kestabilan sistem dipengaruhi oleh gangguan kecil seperti perubahan beban


yang dinamis atau gangguan besar seperti hubung singkat. Berkaitan dengan
itu perlu adanya lanjutan untuk meninjau kembali sistem proteksi yang baik
yang dapat menagamankan sistem dari gangguan gangguan pada jaringan.

DAFTAR PUSTAKA

http://dunia-listrik.blogspot.com
http://elektrojiwaku.blogspot.com
http://id.wikipedia.org
Sarimun, Wahudi(2011).Buku Saku Pelayanan Teknik edisi kedua. Bekasi. Penerbit:
Garamond