Anda di halaman 1dari 100

RANCANG BANGUN PEMODELAN

PESAWAT ROLLER MIXER


BERBASIS MIKROKONTROLER AT89C51

Buku Tugas Akhir Ini Diajukan Untuk Melengkapi Sebagian


Persyaratan Menjadi Ahli Madya teknik Elektromedik

OLEH
ALWI HASBULLAH
P2 31 380 04 008

JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK


POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA II
2007

PERNYATAAN KEASLIAN BUKU TUGAS AKHIR


Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa buku tugas akhir dengan judul :
Rancang Bangun Pemodelan Pesawat Roller Mixer Berbasis Mikrokontroler
AT89C51
yang dibuat untuk melengkapi sebagian persyaratan menjadi Ahli Madya Teknik
Elektromedik pada jurusan Teknik Elektromedik Politeknik Kesehatan Jakarta II,
sejauh yang saya ketahui bukan merupakan tiruan atau duplikasi dari buku tugas
akhir yang sudah dipublikasikan dan atau pernah dipakai untuk mendapatkan
jenjang diploma di lingkungan Politeknik Kesehatan Jakarta II, maupun
Perguruan Tinggi atau instansi manapun, kecuali bagian yang sumber
informasinya dicantumkan sebagai mana mestinya.

Jakarta,6 Agustus 2007

Alwi Hasbullah
P2 31 380 04 008

ii

PERSETUJUAN
Buku tugas akhir dengan judul :
Rancang Bangun Pemodelan Pesawat Roller Mixer Berbasis Mikrokontroler
AT89C51
dibuat oleh Alwi Hasbullah (P2 31 380 04 008) untuk melengkapi sebagian
persyaratan menjadi Ahli Madya Teknik Elektromedik pada Jurusan Teknik
Elektromedik Politeknik Kesehatan Jakarta II dan disetujui untuk diajukan dalam
sidang ujian akhir program.

Jakarta,6 Agustus 2007

Drs. Adisman, BE
Nip. 140 157 513

iii

PENGESAHAN

KETUA JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK


POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA II
DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

DR. IR. Hj. RUSMINI B. AIM. MM


Nip. 140.074.041

iv

KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah
melimpahkan hidayah serta karunia-NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan
pembuatan modul dan menyelesaikan penyusunan karya tulis ini. Yang mana
karya tulis ini merupakan syarat untuk menyelesaikan pendidikan Diploma III
Politeknik Kesehatan Jakarta II Jurusan Teknik Elektromedik.
Adapun judul karya tulis yang penulis buat adalah :
RANCANG BANGUN PEMODELAN PESAWAT ROLLER MIXER
BERBASIS MIKROKONTROLER AT89C51
Pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu penulis selama pembuatan modul dan
penyusunan karya tulis ini, terutama penulis tujukan kepada :
1. Kedua orang tua dan adik-adikku tercinta, yang telah begitu banyak
memberikan dorongan baik berupa moril, materil dan doa.
2. Ibu DR. IR. Hj. Rusmini.B. AIM. MM selaku Ketua Jurusan Teknik
Elektromedik.
3. Bapak Drs. Adisman, BE selaku pembimbing modul.
4. Keluarga besar MELPA yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
5. Angkatan 2003 terutama Fajri dan Iwan yang banyak membantu penulis.
6. Lilik dan Suli dari Farmasi yang telah meminjamkan buku.
Semoga Allah SWT membalas jasa dan kebaikan yang telah diberikan kepada
penulis, sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan,
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Akhirnya penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua.
Jakarta, Agustus 2006

Penulis

ABSTRAK

ALWI

HASBULLAH,Rancang

Bangun

Pemodelan

Pesawat

Roller

Mixer

Berbasis

Mikrokontroler AT89C51, dibawah bimbingan Drs. Adisman, BE, 2007 , 56 halaman + 20


gambar + 16 tabel + lampiran

Berdasarkan judul di atas, karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk membuat
Pesawat Roller Mixer yang waktu kerjanya dikendalikan oleh mikrokontroler
AT89C51 agar memudahkan pengguna dalam melaksanakan tugas.
Roller Mixer merupakan alat Laboratorium yang berfungsi untuk mengaduk
darah dengan anti koagulans. Roller-roller yang berputar dan bergoyang
menyebabkan tercampurnya darah dengan anti koagulan. Pada umumnya pesawat
Roller Mixer memiliki 2 pengaturan utama yaitu pengaturan waktu operasi alat
dan pengaturan kecepatan
Dalam perenanaan pembuatan modul, penulis menggunakan IC
Mikrokontroler yang diaplikasikan sebagai timer. Kemudian untuk pengturan
kecepatan motor penulis menggunakan IC LM317, IC LM317 adalah regulator
tegangan positif yang tegangan keluarannya dapat diatur. Perencanaan rangakaian
alarm berfungsi sebagai indikator bahwa waktu yang diatur telah habis.
Metoda yang digunakan untuk mencapai maksud tersebut maka dilakukan
penelitian dengan studi pustaka dan pembuatan modul, serta serangkaian
pendataan, kemudian dari yang dibuat diperoleh hasil pengukuran sehingga
penulis mendapatkan hasil yang akan menunjang penyusunan karya tulis ilmiah
ini.

vi

BIODATA

Nama mahasiswa

Alwi Hasbullah

Tempat, tanggal lahir

Jakarta, 18 Okober 1986

Alamat rumah

Jln. P.S.U.D III DC 94 Pekayon Jaya, Bekasi


Selatan

Telepon rumah

021-82407047

Telepon seluler

021-71444019, 085694455220

Alamat email

alwi_melpa@yahoo.co.id

Riwayat sekolah

SDN PEKAYON JAYA V lulus tahun 1998


SLTPN 12 BEKASI lulus tahun 2001
SLTA KAPIN JAKARTA lulus tahun 2004
Teknik Elektromedik lulus tahun 2007

Jakarta,6 Agustus 2007

Alwi Hasbullah
P2 31 380 04 008

vii

DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM

PERNYATAAN KEASLIAN BUKU TUGAS AKHIR

ii

PERSETUJUAN

iii

PENGESAHAN

iv

KATA PENGANTAR

ABSTRAK

vi

BIODATA

vii

DAFTAR ISI

viii

DAFTAR TABEL

ix

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR LAMPIRAN

xi

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan Penulisan

BAB 2

1.2.1 Tujuan umum

1.2.2 Tujuan khusus

1.3 Pembatasan Masalah

1.4 Metodologi penelitian terapan

1.5

Sistematika Penulisan

DASAR TEORI

2.1

Darah dan Anti koagulans

2.2

Gambaran Umum Pesawat Roller Mixer

2.3

Dekoder IC 74LS47

2.4

Seven Segmen sebagai Tampilan Digital

2.5

Motor DC

11

2.6

Transistor

12

2.7

LM 78xx sebagai Regulator

16

2.8

Mikrokontroller AT89C51

17

2.9

IC LM 317 Sebagai Regulator Tegangan Positif

26

viii

BAB 3

BAB 4

BAB 5

2.10 Rellay

27

KEGIATAN PENELITIAN TERAPAN

29

3.1

29

Spesifikasi
3.1.1

Spe

sifikasi fungsional

29

3.1.2

Spe

sifikasi Teknis

29

3.2

Perencanaan Blok Diagram

30

3.3

Implementasi Rangkaian

31

3.3.1

Perancangan Rangkaian Key Pad

31

3.3.2

Perancangan Rangkaian Display

32

3.3.3

Perancangan Rangkaian Alarm

34

3.3.4

Perancangan Rangkaian Kecepatan Motor

35

3.3.4

Perancangan Sistem Minimum Mikrokontroler

37

PENGUJIAN dan ANALISIS

43

4.1

Persiapan Alat dan Bahan

43

4.2

Metode Pendataan

47

4.3

Penyajian Data

48

4.4

Analisa Data

50

KESIMPULAN

56

DAFTAR ACUAN

57

DAFTAR PUSTAKA

58

LAMPIRAN

59

DAFTAR TABEL

ix

Halaman
2.1. Hubungan Sinyal Masukan Dan Keluaran Dekoder IC 74LS47

2.2. Format Display Seven Segmen.

10

2.3. Kerakteristik IC Tipe 78xx


17
2.4. Deskripsi Pin

18

3.1. Hubungan Sinyal Masukan Dan Keluaran Dekoder IC 74LS47

34

4.1. Komponen Rangkaian Power Supply

42

4.2. Blok Sistem Minimum Mikrokontroler

43

4.3. Blok Setting Timer

43

4.4. Blok Display

43

4.5. Blok Pengatur Kecepatan Putaran Motor Dan Buzzer

44

4.6. Test Point 1

46

4.7. Test Point 2

46

4.8. Test Point 3

47

4.9. Test Point 4

47

4.10 Hasil Perbandingan Waktu

47

4.11 Hasil Perbandingan Kecepatan

47

DAFTAR GAMBAR

Halaman
2.1. Gambar Fisik Roller Mixer

2.2. Gambar Konfigurasi Penampilan Tujuh Segmen

2.3. Gambar Penentu Arah Gerak Kawat Berarus

12

2.4. Gambar Prinsip Kerja Motor DC

12

2.5. Gambar Tiga Daerah Transistor

13

2.6

14

Gambar Rangkaian Transistor Sebagai Saklar

2.7. Gambar Taransistor Sebagai Saklar

15

2.8. Gambar Garis Beban DC Pada Transistor Sebagai Saklar


16
2.9.

Gambar

IC

Tipe

78xx

16
2.10. Gambar Susunan Pena MikrokontrolerAT89C51
2.11. Gambar

Memori

Data

17
Internal

21
2.12. Gambar Pemakaian Kristal Pada Mikrokontroler AT89C51
25
2.13. Gambar Pemakaian Jalur External Osilator Signal Pada Mikrokontroler 26
2.14. Gambar Bentuk Fisik IC LM 317

27

2.15. Gambar Konstruksi Relay

27

3.1. Gambar Blok Diagram Rangkaian Pesawat Roller Mixer


30
3.2. Gambar

Rangkaian

Key

32

xi

Pad

3.3. Gambar

Rangkaian

Display

33
3.4. Gambar

Rangkaian

Alarm

35
3.5. Gambar

Rangkaian

Pengaturan

Kecepatan

Motor

36

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1.Wiring diagam roller mixer

58

2.Program roller mixer

59

3.Referensi pesawat roller mixer

63

4.Data sheet IC Mikrokontroler AT89C51

64

5.Data sheet LM 317

73

6.Data sheet IC 74LS47

80

xii

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1LATAR BELAKANG
Peralatan laboratorium adalah peralatan yang ada di dalam laboratorium yang
berfungsi sebagai salah satu alat penunjang kesehatan. Salah satu pemeriksaan
dalam laboratorium adalah pemeriksaan hematology (ilmu yang mempelajari
tentang struktur dan fungsi sel sel darah ). Darah yang akan diproses untuk
pemeriksaan laboratorium akan cepat membeku dikarenakan darah memiliki
kandungan zat pembeku darah ( kogulans ).
Untuk menghindari hal tersebut, darah harus dicampur dengan zat anti
pembeku darah ( anti koagulans ) dan dalam proses pencampuranya dibantu oleh
pesawat roller mixer. Sampai saat ini masih sulit ditemukan pesawat roller mixer
yang sudah dilengkapi pengaturan waktu beserta display waktu tersebut. Hal itu

xiii

dapat mempersulit pengguna alat ini dalam menentukan waktu pencampuran


sesuai dengan yang diinginkan secara tepat dan akurat..
Lamanya waktu pencampuran antara darah dengan zat anti pembeku darah
berkisar antara 15 menit sampai dengan 20 menit dengan kecepatan 37 rpm.
Dari uraian diatas maka penulis tertarik membahas dan membuat alat tersebut
dan penyusunanya menjadi sebuah karya tulis ilmiah, maka karya tulis ini penulis
ajukan dengan judul:

RANCANG BANGUN PEMODELAN PESAWAT ROLLER


MIXER
BERBASIS MIKROKONTROLER AT89C51

1.2

TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah untuk:

1.2.1 Tujuan umum


a. Sebagai syarat akhir menyesaikan studi di Politeknik Kesehatan Jakarta II
Jurusan Teknik Elektromedik.
b. Penerapan atas ide serta teori yang didapatkan selama pendidikan untuk dapat
diimplementasikan sehingga dapat berguna bagi peningkatan mutu dan
pelayanan

kesehatan.

1.2.3 Tujuan khusus


a. Membuat modul Rancang bangun pesawat roller mixer.
b.

Mengetahui dan memahami cara kerja alat serta keakurasian secara teori

maupun

1.3

praktek

PEMBATASAN MASALAH

xiv

Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis membatasi pokok-pokok bahasan


yang berkaitan dengan proses kerja pencampuran darah dengan menggunakan
pesawat roller mixer meliputi rangkaian pewaktu 1 menit sampai 5 menit, kontrol
motor 35 rpm dan 45 rpm, zat yang digunakan hanya EDTA (ethylene diamene
tetra acetate). Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kerancuan dan pelebaran
masalah dalam penyajian dan pembahasan karya tulis.

1.4METODOLOGI PENELITIAN TERAPAN


Dalam penyusunan karya tulis ini metode yang digunakan adalah sebagai berikut:
1.

Studi pustaka
Dilaksanakan dengan mencari dan mempelajari buku-buku dan sumber-

sumber literatur yang berhubungan dengan karya tulis ini sebagai bahan analisa.

Perencanaan Modul
Perencanaan dan perancangan alat yaitu dengan melakukan penggalian dan
perumusan ide untuk membuat alat denga bantuan informasi yang didapat dari
hasil pustaka.

3. Melakukan pembuatan modul pesawat Roller Mixer


4. Uji coba
Modul yang telah jadi di uji coba agar dapat data-data sebagai laporan.
5. Analisa data
Data-data yang di dapat dari hasil uji coba akan di analisa dan di bandingkan
dengan teori berdasarkan studi literatur.
6. Penyusunan laporan
Dengan membuat karya tulis ilmiah yang merupakan hasil studi pustaka dan
pendataan yang dibuat.

1.5 SISTEMATIKA PENULISAN


Untuk mempermudah dalam mempelajari serta memahami karya tulis ini,
penulis menyajikan kerya tulis ini menjadi beberapa bab yaitu:

xv

BAB 1

PENDAHULUAN

Memberikan gambaran secara umum dan singkat mengenai hal-hal yang


berkaitan dengan latar belakang masalah sebagai dasar pemilihan judul,
pembatasan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika
penulisan.

BAB 2

DASAR TEORI

Menjelaskan dan menerangkan dasar-dasar teori yang menunjang


pembahasan.

BAB 3

KEGIATAN PENELITIAN TERAPAN

Menjelaskan bagian-bagian dari rangkaian yang akan dibuat dengan blok


diagram.

BAB 4

PENGUJIAN DAN ANALISIS

Menyajikan langkah-langkah pengujian serta hasil pendataan pada beberapa


titik pengukuran yang telah di tetapkan sebelumnya,

BAB 5

KESIMPULAN

Berisi kesimpulan dari hasil pembahasan secara keseluruhan dan saran-saran


untuk pengembangan pesawat tersebut dimasa yang akan datang.
DAFTAR ACUAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xvi

BAB 2
DASAR TEORI
2.1

Darah dan Anti Koagulans

Hematologi adalah ilmu yang mempelajari struktur, fungsi dan penyakit darah
serta mempelajari jaringan tubuh dan organ yang membentuk darah. Darah adalah
suspensi dari partikel dalam larutan koloid cair yang mengandung elektrolit.
Peranannya sebagai medium pertukaran antara sel-sel yang terfiksasi dalam tubuh
dan lingkungan luar serta memiliki sifat-sifat protektif terhadap organisme sebagai
suatu keseluruhan dan khususnya terhadap darah sendiri.
Darah merupakan bagian terpenting dari system transportasi di dalam tubuh
manusia. Darah merupakan jaringan berbentuk cairan yang terdiri dari dua bagian
yaitu :
a)

Plasma darah, terdiri dari 91% sampai 92 % air yang


berperan sebagai medium transport.

xvii

b)

Sel-sel darah yang terdiri dari sel darah putih (leukosit)


berfubgsi untuk mengatasi infeksi, sel darah merah (eritrosit) berfungsi untuk
mengangkut dan melakukan pertukaran O2 dan CO2, dan sel darah pembeku
(trombosit).
Karena darah memiliki kandungan zat pembeku darah maka darah yang akan

diperiksa dalam laboratorium akan cepat membeku. Agar sampel darah yang akan
diperiksa jangan sampai membeku dapat dipakai bermacam-macam anti
koagulans. Tetapi tidak semua anti koagulans dapat dipakai karena ada yang
banyak berpengaruh terhadap bentuk eritrosit atau leukosit yang akan diperiksa
morfologinya.
Anti koagulans yang dapat dipakai diantaranya :
a.

EDTA (ethylene diamene tetra acetate) sebagai


garam natrium atau kalium. Garam-garam itu mengubah ion kalsium dari
darah menjadi bentuk yang bukan ion. EDTA tidak berpengaruh terhadap
dasar dan bentuk eritrosit serta tidak juga terhadap bentuk leukosit. Selain itu
EDTA mencegah trombosit bergumpal, karena itu EDTA sangat baik dipakai
sebagai anti koagulans. Tiap 1 mg EDTA menghindarkan membekunya 1 ml
darah. Hindarkan pemakaian EDTA dalam jumlah berlebihan, bila dipakai
lebih dari 2 mg per ml darah maka nilai hematokrit menjandi lebih rendah dari
yang sebenarnya. EDTA sering dipakai dalam bentuk larutan 10%. Kalau
ingin menghindarkan terjadinya pengenceran darah, zat kering pun boleh
dipakai, akan tetapi dalam hal terakhir ini perlu sekali menggoncangkan
wadah berisi darah dan EDTA selama 1-2 menit. Sebabnya EDTA kering
lambat melarut.

b.

Heparin

berdaya

seperti

antitrombi,

tidak

berpengaruh terhadap bentuk eritrosit dan leukosit. Dalam praktek sehari-hari


heparin kurang banyak dipakai karena mahal harganya. Tiap 1 mg heparin
menjaga bekunya 10 ml darah. Heparin boleh dipakai sebagai larutan atau
dalam bentuk kering.
c.

Natriumsitrat dalam larutan 3,8% yaitu larutan


isotonik dengan darah. Dapat dipakai untuk beberapamacam percobaan
hemogarik dan untuk laju endap darah cara Westergen.

xviii

d.

Campuran

Amoniumoxalat

dan

kaliumoxalat

menurut paul dan heller yang juga dikenal sebagai campuran oxalat seimbang.
Dipakai dalam keadaan kering agar tidak mengencerkan darah yang diperiksa.

2.2

Gambaran Umum Pesawat Roller Mixer


Secara umum pesawat roller mixer adalah seperangkat alat laboratorium yang

digunakan untuk mencampur antara sampel darah dan zat pereaksi. Pada hal ini
zat yang dicampur adalah darah dan zat anti koagulans. Dengan alat ini
diharapkan pencampuran darah dan koagulans dapat lebih merata. Pencampuran
antara darah dan zat anti koagulans manyebabkan darah akan tetap cair. Pada alat
ini memanfaatkan silinder-silinder (roller) yang diputar dan digoyangkan oleh
motor. Di atas putaran dan bergoyangnya roller ditaruh kuvet yang berisi darah
dan zat anti koagulans, sehingga kuvet akan ikut berputar dan bergoyang. Karena
peristiwa tersebut akan terjadi pencampuran antara darah dan zat anti koagulans.
Adapun contoh gambar fisik roller mixer dapat dilihat pada gambar 2. I :

Gambar 2. 1 Gambar Fisik Roller Mixer

xix

2.3

DEKODER IC 74LS47
Dekoder adalah suatu rangkaian logika yang berfungsi untuk merubah kode-

kode biner menjadi tanda-tanda yang dapat ditandai secara visual. Dekoder BCD
to seven segmen, artinya bahwa data-data biner 4 bit yang masuk kedalam
rangkaian tersebut, akan diterjemahkan kedalam bentuk desimal yang kemudian
akan ditampilkan, pada peraga seven segmen sesuai dengan harga binernya.
Hubungan antara sinyal masukan dan sinyal keluaran dekoder dapat dilihat pada
tabel 2. 1 dibawah ini :

Tabel 2. 1 Hubungan sinyal masukan dan keluaran dekoder IC 74LS47

INPUT

OUTPUT
-

LT RBI

BI/RBO

3
4

H
H

X
X

L
L

L
H

H
L

H
L

H
H

L
H

L
L

L
L

xx

10

11

12

13
14
15

H
H
H

X
X
X

H
H
H

H
H
H

L
H
H

H
L
H

H
H
H

L
H
H

H
H
H

H
H
H

L
L
H

H
L
H

L
L
H

L
L
H

BI

RBI

LT

2.4

Seven Segmen sebagai Tampilan Digital


Display merupakan indikator yang sering digunakan pada peralatan sistem

digital . salah satu contohnya yaitu seven segmen. Sistem penampil seven
segmen pada dasarnya merupakan susunan dari tujuh buah led yang disajikan
dalam suatu paket. Satu led dari paket seven segmen mempunyai arti. Pada
penelitian ini penulis memakai seven segmen jenis common anoda seperti
yang terlihat pada gambar 2.2 dibawah ini :
Common Anode

Common Katode

com

com

g
e

g
e

xxi

Gambar 2.2 Konfigurasi Penampil Seven Segmen

Dengan mengkombinasikan segmen-segmen tersebut dapat membentuk digitdigit desimal misalnya angika 1, maka segmen b dan c yang menyala, sedangkan
untuk membentuk angka 2 maka segmen a, b, c, d, e dan g yang menyala, begitu
seterusnya untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel

2.8 yang akan

memperlihatkan segmen-segmen mana saja yang diaktifkan untuk membentuk


suatu karakteristik angka desimal .
Format display seven segmen dapat dilihat pada tabel 2.2 di bawah ini

Tabel 2. 2 Format display seven segmen


Masukan desimal
0

Segmen-segmen yang aktif


abcdef

bc

abdeg

abcdfg

bcfg

acdfg

cdefg

abc

abcdefg

abcfg

xxii

2.4.1 Common Katoda


Untuk seven segment tipe common Katoda, pada pin common masing-masing
segmen katoda dihubungkan ke ground. Pada tipe ini diperlukan rangkaian driver
yang menyediakan taraf tinggi untuk mengaktifkan sebuah segmen. Pada saat
taraf tinggi diberikan ke masukan segmen, arus akan mengalir dan menyalakan
LED atau segmen.

2.4.2. Common Anoda


Pada tipe common anoda, pin commond dari masing-masing segmen
digabungkan dan dihubungkan ke Vcc. Tujuh segmen common anoda
memerlukan rangkaian driver yang menyediakan taraf rendah untuk menyalakan
sebuah segment. Pada saat taraf rendah diberikan ke masukan segmen, maka
segmen atau LED dibias maju. Arus akan mengalir dari Vcc ke segmen dan
selanjutnya menuju taraf rendah yang disediakan ke rangkaian driver.
Dengan mengkombinasikan segmen-segmen tersebut maka kita dapat
menvisualisasikan bilangan desimal. Dalam pembuatan pada rancangan modul,
penulis menggunakan seven segmen sebagai display karena memiliki sifat-sifat
diantara lain :
1.

Tanggapan terhadap logika cepat

2.

Menyala dengan tegangan rendah

3.

Memerlukan tegangan dan arus kecil

4.

Dapat terbaca dengan jelas

5.

Mudah diperoleh dipasaran

2.5Motor DC
Motor adalah suatu alat listrik yang dapat mengubah energi listrik menjadi
enegi mekanik. Pada prinsipnya mesin listrik dapat berlaku sebagai motor maupun
generator. Perbedaannya terletak pada konversi dayanya, kalau generator adalah
suatu sistem mesin listrik yang mengubah daya masuk mekanik menjadi daya
keluar listrik, seddangkan motor mengubah daya masuk listrik menjadi daya
keluar mekanik.

xxiii

2.5.1 Prinsip Dasar motor DC


Prinsip dasar dari motor arus searah adalah : Jika sebuah kawat dialiri arus
diletakkan antara kutub magnet (U - S), maka pada kawat itu akan bekerja suatu
gaya yang menggerakkan kawat itu. Prinsip motor DC adalah berdasarkan gaya
lorenz, yaitu sepotong kawat penghantar dialiri arus listrik dan ditempatkan dalam
medan magnet maka akan timbul garis-garis yang tegak lurus dengan arah arus.
F B.I .L

Dimana :
F

= Garis-garis gaya magnet

= Kuat medan magnet

= Kuat arus listrik pada kawat penghantar

= Panjang kawat penghantar

Gambar 2. 3 Gambar penetu arah gerak kawat berarus

Untuk mengetahui arah putaran motor searah atau berlawanan dengan arah
jarum jam, dapat dilihat pada gambar II. 5. Arah arus listrik yang mengalir melalui
sisi kumparan sebelah atas (dekat KU) meninggalkan kita. Sedangkan arus listrik
yang mengalir sebelah bawah (dekat KS) menuju kita, maka kumparan akan
berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Jika ujung-ujung kumparan
dihubungkan dengan sumber listrik DC dengan polaritas battery maka kumparan
akan berputar sesuai dengan arah jarum jam.

xxiv

Gambar 2.4 gambar prinsip kerja motor DC

2.6 Transistor
Transistor memiliki dua buah sambungan ( junction ), satu di antara emiter dan
basis dan lainnya diantara basis dan colector. Karena inilah, sebuah transistor
sama seperti sambungan dua buah dioda. Dioda yang terletak di sebelah kiri
sebagai dioda emiter basis atau singkatnya dioda emitter. Dan dioda yang terletak
di sebelah kanan adalah dioda colector basis atau dioda colector. Pertemuan
kedua sambungan dioda itu bisa berupa katoda atau anoda, hal ini tergantung dari
jenis transistor tersebut apakah jenis PNP atau NPN, sehingga bila kita lihat akan
seperti gambar berikut :

Emiter
p

kolektor

Emiter

kolektor

Basis

Basis
(a)

(b)

Gambar 2. 5 Tiga Daerah Transistor. (a) Transistor NPN. (b) Transistor PNP

Untuk membuat agar transistor dapat berkerja, maka transistor harus mendapat
tegangan bias pada basisnya. Tegangan basis tersebut besarnya sekitar 0,7 V untuk
transistor dari bahan silicon dan 0,3 V untuk transistor dari bahan germanium.
Untuk transistor NPN membutuhkan tegangan bias basis positif terhadap ground,
sedangkan transistor PNP membutuhkan tegangan bias basis negatif terhadap
ground. Penggunaan transistor antara lain sebagai saklar dan sebagai pengikut
Emitter

( Emitter Follower ). Di bawah ini akan dibahas dua penggunaan

transistor tersebut.

xxv

2.6.1 Transistor sebagai saklar


Transistor dapat digunakan sebagai saklar adalah dengan memanfaatkan
karakteristik transistor ketika berada2 pada daerah operasi saturasi dan Cut-off.
Jika pada basis transistor diberikan bias, yaitu dengan memberikan tegangan jatuh
pada basis sebesar > 0,7 V (untuk Silikon ) dan > 0,3 V( untuk Germanium ) maka
transistor akan berada pada daerah saturasi. Gambar II.6 memperlihatkan
rangkaian transistor sebagai saklar.

Rc

Rb
VCC

VBB

Loop II

Loop I

Gambar 2. 6 Rangkaian Transistor Sebagai Saklar

Ketika transistor berada pada daerah saturasi maka transistor akan berlaku
sebagai saklar tertutup, arus mengalir dari kolektor ke emitter dan menuju ground.
Keadaan ini memberikan persamaan pada loop II, sesuai dengan hukum Kirchoff
yaitu :
Vcc Vrc Vce

........... ..

(2.1)

Pada ujung daerah saturasi VCE = 0, maka :


Vcc Vrc

.. ....................

(2.2)

Sehingga :
Ic

Vcc
Rc

....

xxvi

(2.3)

Saat basis tidak mendapatkan tegangan bias yang optimal atau kurang dari 0,7
V maka transistor akan berkerja pada daerah cut-off atau seperti saklar terbuka.
Dengan demikian tidak ada arus yang mengalir dari colector ke emitter menuju
ground.
IcRc Vce Vcc 0

.........................

(2.4)

Karena IC = 0. maka :
Vce(cut off ) Vcc

......................

(2.5)

Persamaan yang terjadi pada loop I, yaitu :


IbRb Vbe Vbb 0

...........

(2.6)

Arus basis adalah sebesar :


Ib

(Vbb Vbe)
Rb

....

(2.7)

Perbandingan arus yang mengalir pada colector dengan arus yang mengalir di
basis disebut dengan penguatan (dc), maka penguatan pada transistor adalah :
dc

Ic
..........................
Ib

(2.8)

Jika arus basis lebih besar atau sama dengan IB(sat), titik kerja Q berada pada
ujung atas garis beban DC. Dalam hal ini, transistor berkerja sebagai sebagai
saklar tertutup. Sebaliknya, jika arus basis nol, transistor berkerja pada ujung
bawah dari garis beban dan transistor berkerja sebagai saklar terbuka.
Kerja transistor sebagai saklar tertutup dan saklar terbuka dapat disimulasikan
seperti gambar 2.7.

C
1

C
VBB < 0,7V

VBB > 0,7V


B

(a)

(b)

Gambar 2. 7 Transistor sebagai saklar. (a) Saklar terbuka. (b) Saklar tertutup

xxvii

Adapun garis beban DC transistor yang beroperasi pada daerah saturasi dan
cut-off diperlihatkan pada gambar di bawah ini :

Ic
saturasi

VCC/RC

cut-off

VCC

VCE

Gambar 2. 8 Garis beban DC pada Transistor sebagai saklar

2.7

LM 78xx sebagai Regulator


Sebagian besar rangkaian dalam dunia elektronika membutuhkan catu daya

yang presisi dan stabil seperti catu daya yang dihasilkan oleh batere atau accu.
Catu daya yang stabil ini merupakan penunjang dalam kestabilan rangkaian
tersebut.
Setiap rangkaian elektronika mempunyai catu daya yang berbeda-beda. Jika
kita menginginkan catu daya yang berbeda tetapi hanya mempergunakan satu
buah trafo dan satu buah dioda bridge untuk rangkaian tersebut, maka otomatis
hanya ada satu saja keluarannya, kecuali kita tambahkan beberapa rangkaian
divider (pembagi tegangan).
Hal seperti itu cukup merepotkan, lagi pula jika kita menggunagan rangkaian
divider maka arus pada keluarannya akan sangat kecil sekali. Untuk itu penulis
menggunakan regulator (penyetabil tegangan) dengan IC tipe 78xx dan 79xx.
Tegangan keluaran dari IC ini sangat mendekati presisi, dan keluaran tegangannya
pun bermacam-macam.
Berikut ini adalah skema fisik dari IC regulator dengan tipe 78xx dan 79xx :

LM
78xx

xxviii

In Gnd Out
(a)
Gambar 2. 9 gambar IC 78xx

Dibawah ini adalah table karakteristik dari IC tipe 78xx

Tabel 2. 3 karakteristik IC tipe 78xx

2.8

Type

Uout

7805
7806
7808
7810
7812
7815
7818
7824

(V)
5
6
8
10
12
15
18
24

Iout
78xxC
1
1
1
1
1
1
1
1

78Lxx
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1

78Mxx
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5

Uin min

Uin max

7,5
8,6
10,6
12,7
14,8
18
21
27,3

20
21
23
25
27
30
33
38

Mikrokontroler AT89C51

Dalam rangkaian berskala besar, biasanya dilengkapi dengan sebuah unit pusat
pemprosesan. Pusat pemprosesan ini atau lebih dikenal dengan nama Central
Prosesing Unit ( CPU ) banyak mempermudah pengendalian proses kerja
rangkaian.
Dilihat dari komponen pelengkap yang tersusun dalam serpihan prosesor
tersebut, ada sebuah prosesor yang dalamnya telah dilengkapi dengan prosesor
fungsi metematik ( Math co prosesor ), ada yang dilengkapi dengan pengubah
analog ke digital ataupun sebaliknya, adapun yang dilengkapi dengan fasilitas
U 1

pemprosesan sinyal sinyal digital (DSP, Digital Signal Processing) dan juga
3
3
3
3
3
3
3
3

9
8
7
6
5
4
3
2

P
P
P
P
P
P
P
P

0
0
0
0
0
0
0
0

.0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7

P
P
P
P
P
P
P
P

1
1
1
1
1
1
1
1

.0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7

/A
/A
/A
/A
/A
/A
/A
/A

D
D
D
D
D
D
D
D

0
1
2
3
4
5
6
7

P
P
P
P
P
P

P
P
2
2
2
2
2
2

2 .0 /A
2 .1 /A
.2 /A 1
.3 /A 1
.4 /A 1
.5 /A 1
.6 /A 1
.7 /A 1

8
9
0
1
2
3
4
5

2
2
2
2
2
2
2
2

1
2
3
4
5
6
7
8

1
1
1
1
1
1
1
1

0
1
2
3
4
5
6
7

telah dilengkapi dengan port port input / output, ROM, RAM seperti yang telah
terdapat pada mikrokontroler.

1
2
3
4
5
6
7
8
1 9
1 8
9
3 1

xxix
XTA L1
XTA L2
R S T

E A /V P P
A T89 C 51

P 3 .0 /R XD
P 3 .1 /T XD
P 3 .2 /IN T O
P 3 .3 /IN T 1
P 3 .4 /TO
P 3 .5 /T1
P 3 .6 /W R
P 3 .7 /R D
P S E N
A L E /P R O G

29
30

Gambar 2. 10 Susunan Pena Mikrokontroler AT89C51


Tabel 2.4 Deskripsi pin

Nomor Pin
10
11
12
13
14
15
16
17
9
30

Nama Pin
P3.0
P3.1
P3.2
P3.3
P3.4
P3.5
P3.6
P3.7
RST
ALE

Alternatif
RXD
TXD
INTO
INT1
T0
T1
WR
RD

PROG

Keterangan
Port Serial Input
Port Serial Output
Port External Interupt 0
Port External Interupt 1
Port External Timer 0 Input
Port External Timer 1 Input
External Data Memory Write Strobe
External Data Memory Read Strobe
Reset akan aktif dengan memberikan
input hight selama 2 cycle
Pin ini dapat berfungsi sebagai Address
Latch Enable (ALE) yang me-latch low
byte address pada saat mengakses

29

memori external.
Pin ini berfungsi pada saat mengeksekusi

PSEN

program yang terletak pada memory


external. PSEN akan aktif dua kali setiap
31

EA

VP

cycle
Pada kondisi low, pin ini akan berfungsi
sebagai EA yaitu mikrokontroler akan
menjalankan Program yang ada pada
memori external setelah sistem di-reset.
Jika berkondisi high, pin ini akan
berfungsi untuk menjalankan program

19
18

XTAL 1
XTAL 2

yang ada pada memori internal


Input Oscilator
Output Oscilator

xxx

AT89C51 adalah mikrokontroler keluaran Atmel dengan 4K byte Flash.


PEROM (Programmable and Erasable Read Only Memory),

AT89C51

merupakan memori dengan teknologi nonvolatile memory, isi memori tersebut


terdapat diisi ulang ataupun dihapus berkali kali.
Memori ini biasa digunakan untuk menyimpan intruksi ( perintah ) berstandar
MCS- 51 code sehingga memungkinkan mikrokontroler ini untuk bekerja dalam
mode single chip operation ( mode operasi 31eeping tunggal ) yang tidak
memerlukan external memory ( memori luar ) untuk menyimpan source code
tersebut.
Mikrokontroler AT89C51 mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Compatible dengan MCS 51.
2. 4K byte EEPROM internal
3. frekuensi clock : 0 Hz 24 Mhz
4. 32 programable I/O line
5. Two 16 bit timer / counter
6. 64K address space for external data memory
7. 64K address space for external program memory
8. 6 interupt sources t
9. Bolean processor
Untuk dapat bekerja mikrokontroler AT89C51 membutuhkan catu daya tunggal
sebesar + 5 Volt.

2.8.1 Central Prosessing Unit ( CPU )


Central Prosessing Unit yang terdapat dalam AT89C51 merupakan CPU 8 bit
yang dilengkapi dengan osilator dalam serpihannya dengan frekuensi kerja mulai
dari 3,5 MHz sampai dengan 24 MHz. Batas frekuensi kerja minimum ini
disebabkan sifat CPU yang tidak static. CPU banyak menggunakan simpul
simpul dinamik berupa sel sel penyimpanan sementara yang dibentuk oleh
kapasitansi simpul simpul ground. Pemakaian simpul simpul dinamik ini

xxxi

menunjukkan untuk menghemat transistor yang diperlukan, yang berarti juga


penghematan luas serpihan secara keseluruhan.
Pada frekuensi yang terlalu rendah isi sel penyimpanan sementara akan
mengalami perubahan karena ada kebocoran arus, hal ini mengakibatkan level
tegangan pada salah satu simpul CPU berubah. Perubahan level tegangan pada
salah satu simpul mengakibatkan CPU tidak dapat mengingat operasi yang baru
saja dilaksanakan.
Dalam AT89C51, satu siklus mesin terdiri dari 12 periode osilator. Artinya
untuk ferkuensi osilator 12 MHz satu siklus mesin akan dilalui waktu 1S.
Satu siklus =12 T

T1

Satu siklus = 121

12 Mhz

Satu siklus = 1 S........................(2,9)


Waktu pelaksanaan intruksi terpendek adalah satu siklus mesin, sedangkan
yang terpanjang sampai empat siklus mesin.

2.8.2 Organisasi Memori


Memori program dan memori data dapat dipisahkan secara logika dengan cara
membedakan sinyal PSEN untuk pembacaan program atau data, hasilnya CPU
akan dapat mengakses 64 Kbyte data. Walaupun kapasitas memori yang
digunakan lebih kecil dari 64 Kbyte. Untuk lebar memori alamat internal 8 bit
atau 16 bit. Di samping memori data, AT89C51 juga mempunyai RAM berupa
register untuk fungsi khusus SFR ( Spesial Funtion Register ) dengan kapasitas
128 byte.
RAM internal sebesar 128 byte ini terdiri dari 32 byte paling bawah
dikelompokan menjadi 4 bank, yang masing masing terdiri dari 8 buah register.
Program dapat mengakses register register tersebut dengan operand R0 sampai
R7 pengalamatan register, untuk pemilihan bank dilakukan melalui register
program status word, PSW, 16 byte di atas ke empat bank, register membentuk

xxxii

satu blok memori yang dialamati. Memori data ini dapat dialamati langsung
maupun tidak langsung.
Register dengan fungsi khusus, SFR terletak pada 128 byte bagian atas
memori dan berisi Latch Port, timer, PSW dan control peripheral. Register
register ini hanya dapat diakses dengan pengalamatan langsung 16 alamat pada
SFR dapat dialamati secara bit atau byte, dan terletak pada alamat yang berakhir
0000B.

Gambar 2. 11 Memori Data Internal

2.8.3 Port Input / Output


Fasilitas I/O yang pada mikrokontroler AT89C51 adalah 32 jalur Port, yang
selanjutnya dibagi menjadi empat port 8 bit. Masing masing port tersebut
bersifat bidirectional, artinya dapat digunakan sebagai output maupun input.
Masing masing port dapat hubungi sebagai sekaligus 8 bit atau pun per bit.
Port 0, 1, 2 dan 3 masing-masing menempati lokasi 80h, 90h, A0h dan B0h.
Port 1, 2, 3 mempunyai pull-up internal sedangkan port 0 bersifat open drain.
Pada penggunaan port 1,2,3 sebagai input, pin pinnya pada pull tinggi,
selanjutnya dapat diset pada pull rendah pada sumber external. Dengan mengisi
satu pada latch, maka port tersebut akan berfungsi sebagai output.

xxxiii

Berbeda dengan port 1, 2, 3 Port 0 tidak mempunyai pull-up internal. Jika isi
latch di buat satu maka port ini berfungsi sebagai input dan jika isi latch di buat 0,
maka port ini berfungsi sebagai output.
a.

Port 0 merupakan port keluaran / masukan (I/O) bertipe


open drain bidirectional. Port 0 juga dapat dikonfigurasikan sebagai
bus alamat / data bagian rendah (low byte) selama proses pengaktifan
memori data dan program eksternal. Jika digunakan dalam mode ini
Port 0 memiliki puul up internal.

b.

Port 1 merupakan port I/O dwi arah. Port 1 juga menerima


alamat bagian rendah (low byte) selama pemrograman dan verifikasi
flash.

c.

Port 2 merupakan port I/O dwi arah. Port 2 akan


memberikan byte alamat bagian tinggi (high byte) selama pengambilan
instruksi dari memori eksternal dan selama pengaksesan memori data
eksternal. Port 2 juga menerima alamat bagian tinggi selama
pemrograman dan verifikasi flash.

d.

Port 3 merupakan port I/O dwi arah. Port 3 juga memiliki


fungsi-fungsi alternatif, yaitu:
1)

Port 3.0 : Sebagai

RXD, yaitu

pasak pin

masukan pada saat mikrokontroler menerima


data dari luar dengan system komunikasi serial.
2)

Port 3.1 : Sebagai TXD, yaitu pin keluaran


pada saat mikrokontroler mengirim data keluar
dengan system komunikasi serial.

3)

Port 3.2 : Sebagai pin Interupt ( INT0 ) dan,

4)

Port 3.3 : Sebagai pin interrupt ( INT1 ), pin


yang menerima selaan ( interupsi) dari luar.

5)

Port 3.4 : Sebagai T0 dan,

6)

Port 3.5 : Sebagai

T1,

yaitu

sebagai

pin

masukan timer atau counter eksternal yang


dapat diprogram secara software.

xxxiv

7)

Port 3.6 : Sebagai WR, yaitu sinyal yang


dikeluarkan

pada saat mikrokontroler ingin

melakukan pembacaan memori data eksternal.


8)

Port 3.7 : Sebagai RD, yaitu sinyal yang di


keluarkan
melakukan

pada

saat

penulisan

mikrokontroler
pada

ingin

memori

data

eksternal ( RAM eksternal ).


Pada intruksi pembacaan, maka mikrokontroler AT89C51 mengambil data dari
EEPROM dan selanjutnya akan diproses sesuai dengan isntruksi yang diberikan.

2.8.4 System Interupt


AT89C51 mempunyai system interupt yang terdiri dari lima sumber, yaitu :
dua dari luar atau sumber eksternal melalui pin INT0 dan INT1, satu dari masing
masing counter internal ( dua buah ) dan satu dari serial port . kelima interrupt
tersebut dapat diaktifkan sendiri sendiri ( individual ).pada penulisan ini ,
interrupt yang digunakan adalah sumber dari luar melalui INT 0 dan INT 1.
Masing-masing sumber intrupsi dapat dinonaktifkan sendiri-sendiri dengan
mengatur bit-bit yang terkait dalam register IE (Interupt Enable) di alamat A8h.
Pemrosesan interupsi, saat terjadi interupsi kemudian dterima CPU di dalam
mikrokontroler, maka program akan menghentikan terlebih dahulu kemudian
dikerjakan langkah-lagkah penanganan interupsi sebagai berikut :
1. Instruksi yangsedang dikerjakan diselesaikan terlebih dahulu.
2. Isi PC (program counter) disimpan ke stack.
3. Status interupsi yang bersangkutan disimpan ke stack.
4. Interupsi-interupsi pada tingkat yang sama diblokir.
5. PC kemudian diisi alamat vektor rutin layanan interupsi (RLI)
yang bersangkutan
6. RLI dikerjakan.

2.8.5 Pengelompokan Intruksi

xxxv

Instruksi yang dapat dikelompokan oleh mikrokontroler AT89C51 dibagi


menjadi beberapa kelompok ( mode ). Pengelompokan ini dilakukan untuk
mempercepat proses pengolahan suatu instruksi.

Instruksi perangkat lunak dibagi menjadi lima kelompok yaitu:


1

Instruksi transfer data.


Instruksi ini untuk memindahkan data, yaitu antar register,
dari memori ke memori, dari register ke memori, dari
antarmuka ke register, dan dari antarmuka ke memori.

Instruksi aritmetika.
Instruksi ini untuk melaksanakan operasi aritmetika yang
meliputi penjumblahan, pengurangan, penambahan satu
(increment), pengurangan satu (decrement), perkalian, dan
pembagian.
3

Instruksi logika dan manipulasi bit.


Instruksi ini untuk melaksanakan operasi logika AND, OR,
XOR, perbandingan, dan pergeseran.

Instruksi percabangan.
Instruksi ini untuk melaksanakan perubahan urutan normal
pelaksanaan suatu program, dengan instruksi-instruksi ini
program yang sedang dilaksanakan akan melompat ke suatu
alamat tertentu.

Instruksi stack, I/O, dan kontrol.


Instruksi ini mengatur penggunaan stack, membaca,/menulis
port I/O, serta pengontrolan.

Konfigurasi pin mikrokontroler AT 89C51 :


RST

: Berfungsi untuk mereset mikrokontroler AT89C51 atau


mengclear control register dan men set semua port
pada mode input.

xxxvi

ALE

Pada saat logika rendah ( posisi ALE ) digunakan


untuk menahan alamat ke memori eksternal. Pada saat
berlogika tinggi, maka mikrokontroler pada posisi
siap untuk diprogram.

PSEN

Berfungsi untuk mengaktifkan memori program


eksternal (eprom eksternal) ke bus.

EA/Vpp :

Saat pada logika tinggi, AT89C51 melakukan


instruksi dari EEPROM internal, sedangkan pada
level rendah , AT89C51 mengambil seluruh intruksi
dari EEPROM eksternal.

XTAL :

Merupakan pin oscillator yang menghasilkan clock


yang biasanya berasal dari kristal piezoelektrik atau
resonator keramik.

2.8.6

On chip Osillator
Mikrokontroler AT89C51 memiliki osilator internal ( on-chip oscillator )

yang digunakan sebagai sumber clock bagi CPU. Untuk menggunakan osilator
internal diperlukan sebuah kristal antara pena XTAL1 (X1) dan XTAL2 (X2) dan
sebuah kapasitor ke ground seperti terlihat pada gambar berikut ini:

VCC

U1
31
9
18
19

X1

12MHz
C1
30pF

C2
30pF

8
7
6
5
4
3
2
1
32
33
34
35
36
37
38
39

EA/VPP
RST
XTAL2
XTAL1
P1.7
P1.6
P1.5
P1.4
P1.3
P1.2
P1.1
P1.0
P0.7/AD7
P0.6/AD6
P0.5/AD5
P0.4/AD4
P0.3/AD3
P0.2/AD2
P0.1/AD1
P0.0/AD0
AT89C51

xxxvii

ALE/PROG
PSEN
P3.7/RD
P3.6/WR
P3.5/T1
P3.4/TO
P3.3/INT1
P3.2/INTO
P3.1/TXD
P3.0/RXD
P2.7/A15
P2.6/A14
P2.5/A13
P2.4/A12
P2.3/A11
P2.2/A10
P2.1/A9
P2.0/A8

30
29
17
16
15
14
13
12
11
10
28
27
26
25
24
23
22
21

Gambar 2. 12 Pemakaian kristal pada mikrokontroler AT89C51

VC C

U 1
31

NC

9
18
19

External
Osillator
Signal

8
7
6
5
4
3
2
1
3
3
3
3
3
3
3
3

2
3
4
5
6
7
8
9

E A /V P P
R ST
XTA L2
XTA L1
P
P
P
P
P
P
P
P

1
1
1
1
1
1
1
1

.7
.6
.5
.4
.3
.2
.1
.0

P
P
P
P
P
P
P
P

0
0
0
0
0
0
0
0

.7
.6
.5
.4
.3
.2
.1
.0

A L E /P R O G
PSEN
P 3 .7 /R D
P 3 .6 /W R
P 3 .5 /T 1
P 3 .4 /T O
P 3 .3 /IN T 1
P 3 .2 /IN T O
P 3 .1 /T X D
P 3 .0 /R XD

/A
/A
/A
/A
/A
/A
/A
/A

D
D
D
D
D
D
D
D

7
6
5
4
3
2
1
0

P
P
P
P
P
P

2
2
2
2
2
2
P
P

.7 /A 1
.6 /A 1
.5 /A 1
.4 /A 1
.3 /A 1
.2 /A 1
2 .1 /A
2 .0 /A

5
4
3
2
1
0
9
8

30
29
1
1
1
1
1
1
1
1

7
6
5
4
3
2
1
0

2
2
2
2
2
2
2
2

8
7
6
5
4
3
2
1

AT89C 51

Gambar2. 13 Pemakaian jalur exsternal osilator signal pada mikrokontroler

Mikrokontroler AT89C51 menggunakan sumber Clock Eksternal. Nilai


kapasitor yang digunakan untuk kristal yaitu 30pF-10pF. Sedangkan untuk
resonan keramik yaitu 40pF 10pF.

2.9

IC LM 317 sebagai Regulator Tegangan Positif

LM 317 adalah sebuah regulator tegangan positif yang dapat diatur, memiliki 3
terminal (pin) dan mampu untuk mencatu lebih dari 1,5A pada tegangan keluaran
dalam jangka antara 1,2 V hingga 37 V. IC ini mudah sekali digunakan, karena
hanya memerlukan dua resistor ekstern guna menentukan tegangan keluarannya.
Selain itu, peregulasian beban maupun peregulasian jaringan pada IC ini lebih
baik dari regulator-regulator tetap yang standar.
Pada chip itu pun terdapat pula pembatas arus, pengaman terhadap
pembebanan lebih termik (suhu).

xxxviii

Adjust out

in

Gambar 2. 14 Bentuk Fisik IC LM 317

Pada pengaturan tegangan output dari IC LM317, berdasarkan dari data sheet
IC LM317 memiliki rumusan sebagai berikut :
R2

Vout 1,25 1

R1

Dimana : R1 = Hambatan tetap


R2 = Hambatan yang didapat diubah-ubah

2.10 RELAY
Relay adalah suatu komponen elektronika yang berfungsi sebagai penggerak
kontaktor untuk menghubungkan suatu bagian rangkaian dengan rangkaian yang
lain. Relay bekerja dengan memanfaatkan sifat elektromagnetik yang terjadi pada
suatu kumparan ketika dialiri arus. Pada gambar II.25 memperlihatkan konstruksi
sebuah relay dengan sepasang kontaktor normaly close(on) dan sepasang normaly
open (off).
5
input

NC

3
4
NO

Vin

1
2
inti besi

Gambar 2. 15 Konstruksi Relay

xxxix

Sebuah relay sederhana terdiri dari satu inti besi, lilitan yang mengintari inti
besi, terminal penggerak, terminal normaly close (NC) dan terminal normaly open
(NO). Pada saat lilitan tidak mendapat supply maka tidak ada arus yang mengalir
pada lilitan dan tidak ada medan magnet yang terjadi pada inti besi. Pada saat ini
kontaktor berada pada posisi awal, yang menghubungkan masukan kepada
keluaran yang disebut dengan normaly close. Dengan demikian kaki keluaran
lainnya disebut dengan normaly open, dimana ketika tidak ada catu daya yang
mengalir, terminal tersebut mendapat hubungan terbuka, ketika lilitan diberikan
arus yang optimal, arus mengitari inti besi yang menyebabkan inti besi
menghasilkan medan magnet dan inti besi bersifat sebagai magnet. Ini
menyebabkan kontaktor tertarik sehingga berpindah pada kontaktor yang lainnya,
kontaktor (NO) menjadi close sedangkan kontaktor (NC) dalam keadaan on
menjadi open.

xl

BAB 3
KEGIATAN PENELITIAN TERAPAN
Pada bab ini akan dijelaskan langkah-langkah yang digunakan dalam
merealisasikan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (sofware) seperti
yang dimaksud dalam tujuan penulisan.

3.1

Spesifikasi

3.1.1 Spesifikasi Fungsional


Alat roller mixer adalah seperangkat alat laboratorium yang digunakan untuk
mencampur antara sampel dan zat pereaksi. Pada hal ini yang dicampur adalah
darah dan zat anti koagulans. Pencampuran antara darah dan zat anti koaulans
menyebabkan darah akan tetap cair, pada alat ini memanfaatkan silinder-silinder
(roller) yang diputar dan digoyangkan oleh motor. Diatas putaran dan
bergoyangnya roller ditempatkan kuvet yang berisi darah dan zat anti koagulans,
sehingga kuvet akan ikut berputar dan bergoyang. Karena peristiwa tersebut akan
terjadi pencampuran antara darah dan zat anti koagulans.

3.1.2 Spesifikasi Teknis


Adapun spesifikasi teknis dari alat ini adalah sebagai berikut :

Catu daya

: +5 VDC dengan ground dan +15 VDC


dengan ground

Frekuensi

: 50Hz

Kecepatan putaran

: 35 Rpm dan 45 Rpm

Pengaturan waktu : 1 menit sampai 5 menit


Data teknis

: a. Mikrokontroler AT89C51

xli

b. Motor DC 12V
c. Buzzer 12V

3.2

Perencanaan Blok Diagram

Secara keseluruhan, modul rangkaian ini dapat diuraikan dalam beberapa blok
diagram, sebagai berikut :

Rangkaian
Mikrokontroler
AT89C51

Rangkaian
Setting Timer

Rangkaian
Display

Power
Supplay

Rangkaian
Alarm

Rangkaian Pengatur
Kecepatan Motor

Motor

Gambar 3. 1 Blok Diagram Rangkaian Pesawat Roller Mixer

Dari blok diagram diatas dapat dijelaskan secara singkat cara kerja dari alat
roller mixer tiap-tiap blok diagram :
1. Rangkaian key pad
Rangkaian

ini

berfungsi

sebagai

masukan

bagi

rangkaian

mikrokontroler AT89C51 yaitu untuk mengatur timer dan menentukan


kecepatan motor dalam pengoperasian pesawat roller mixer. Timer
bekerja setelah tombol start/stop ditekan pada rangkaian key pad.
2. Rangkaian display
Rangkaian ini berfungsi untuk menampilkan lamanya waktu dan
kecepatan yang dipilih.
3. Rangkaian alarm

xlii

Sebagai indikator pengaman dan untuk mengetahui bahwa proses


pencampuran telah selesai.
4. Rangkaian pengatur kecepatan motor
Menentukan pengaturan kecepatan motor sesuai dengan yang
ditentukan.
5. Motor
Berfungsi untuk memutar silinder-silinder (roller) yang diputar dan
digoyangkan (Proses pengadukan).
6. Sistem mikrokontroler AT89C51 sebagai pengendali utama.
Adapun cara kerja secara keseluruhan dari rangkaian ini adalah sebagai berikut
:
Pada saat pesawat dihidupkan, maka mikrokontroler akan mengeksekusi
program inisialisasi. Setelah itu mikrokontroler akan menjalankan program untuk
memeriksa keadaan switch up atau switch down untuk mensetting timer yang
ditampilkan pada display seven segmen. Setelah timer selesai disetting kemudian
pesawat akan bekerja setelah menekan tombol srart/stop. Setelah pesawat bekerja,
timer akan menghitung mundur lamanya waktu yang telah diatur, bersamaan
dengan itu motor penggerak roller-roller mendapat supplay dan bekerja dengan
kecepatan yang sudah dipilih sebelumnya (30 rpm atau 40 rpm). Setelah waktu
habis, rangkaian kontrol kecepatan motor akan memutuskan supply ke rangkaian
pengatur kecepatan motor sehingga motor akan berhenti berputar dan buzzer
bekerja.

3.3

Implementasi Rangkaian

Rangkaian-rangkaian yang dipergunakan dalam perancangan sistem ini saling


berhubungan antara satu dengan yang lainnya, adapun perancangan sistem
rangkaian-rangkaian yang dipergunakan adalah sebagai berikut :

3.3.1 Perancangan Rangkaian Key pad


Key pad pada rangkaian terdiri dari 3 buah tombol push botton. Fungsi dari
masing-masing tombol tersebut adalah sebagai berikut:

xliii

Sw1 (Set UP)


Tombol ini digunakan untuk menaikkan nilai pengaturan timer untuk
nilai atas yang dikehendaki. Keluaran dari switch ini akan masuk ke
port 1.0 pada AT89C51

2. Sw2 (Set DOWN)


Tombol ini digunakan untuk menurunkan nilai pengaturan timer untuk
nilai bawah yang di kehendaki. Keluaran switch ini akan masuk ke
port 1.1 pada AT89C51
3. Sw3 (Start/Stop)
Tombol ini digunakan untuk menjalankan dan menghentikan kerja alat.
Lamanya alat bekerja sesuai dengan nilai yang telah diatur pada timer,
yang nilainya tertera pada rangkaian display. Keluaran dari switch ini
akan masuk ke port 1.2 pada AT89C51
Berikut gambar rancangan setting timer :
SW-UP
P1.0

SW-DW

P1.1
START
P1.2

Gambar 3.2 setting timer

3.3.2 Perancangan Rangkaian Display


Rangkaian ini berfungsi untuk menampilkan nilai lamanya pesawat bekerja
dalam satuan waktu. Rangkaian ini akan menampilkan nilai waktu yang telah kita
atur pada rangkaian setting timer. Rangkaian ini terdiri dari empat buah seven
segmen common anoda berfungsi sebagai penampil yang dikemudikan oleh 1
buah IC 7447 sebagai dekoder dan empat buah transistor PNP yang dirancang
sebagai saklar yang akan berfungsi untuk mengaktifkan seven segmen mana yang
akan bekerja.

xliv

Berikut gambar rancangan rangkaian display :


P
P
P
P

1
1
1
1

7
1
2
6
4
5
3

.0
.1
.2
.3

1
2
4
8
B I/R B O
R BI
LT

16

A
B
C
D
E
F
G

1
1
1
1
9
1
1

3
2
1
0
5
4

1
2
3
4
5
6
7

8
9
10
11
12
13
14

a
b
c
d
e
f
g

330

74LS47

a
b
c
d
e
f
g

P 1 .4

C 9012
1

P 1 .5

1
2 ,2 K

C 9012

2 ,2 K

+5V

a
b
c
d
e
f
g

a
b
c
d
e
f
g

P 1 .6

C 9012
3

P 1 .7

1
2 ,2 K

1
C 9012

2 ,2 K

Gambar 3.3 Rangkaian display

IC 7447 merupakan dekoder yang akan mengubah 4 bit BCD menjadi analog.
alan penggunaannya IC 7447 ini dipasangkan dengan seven segmen tipe common
anoda, digit akan aktif jika menerima masukan rendah. Tampilan pada seven
segmen sangat bergantung dari kode-kode biner yang masuk melalui inputan IC
7447 pada tabel 3.1, tabel ini akan memperlihatkan hubungan antara masukan
pada IC 7447 sebagai dekoder dengan keluaran atau tampilan pada seven segmen.

xlv

+5V

Tabel 3.1 Hubungan sinyal masukan dan keluaran dekoder IC 74LS47

INPUT

OUTPUT
BI/RBO

LT RBI A
0
H
H L
1
H
X L
2
H
X L
3
H
X L
4
H
X L
5
H
X L
6
H
X L
7
H
X L
8
H
X H
9
H
X H
10 H
X H
11 H
X H
12 H
X H
13 H
X H
14 H
X H
15 H
X H
BI X
X X
RBI H
L
L
LT L
X X

B
L
L
L
L
H
H
H
H
L
L
L
L
H
H
H
H
X
L
X

C
L
L
H
H
L
L
H
H
L
L
H
H
L
L
H
H
X
L
X

D
L
H
L
H
L
H
L
H
L
H
L
H
L
H
L
H
X
L
X

H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
L
L
H

a
L
H
L
L
H
L
H
L
L
L
H
H
H
L
H
H
H
H
L

b
L
L
L
L
L
H
H
L
L
L
H
H
L
H
H
H
H
H
L

c
L
L
H
L
L
L
L
L
L
L
H
L
H
H
H
H
H
H
L

d
L
H
L
L
H
L
L
H
L
H
L
L
H
L
L
H
H
H
L

e
L
H
L
H
H
H
L
H
L
H
L
H
H
H
L
H
H
H
L

f
L
H
H
H
L
L
L
H
L
L
H
H
L
L
L
H
H
H
L

g
H
H
L
L
L
L
L
H
L
L
L
L
L
L
L
H
H
H
L

Display yang terdiri dari 4 buah seven segmen ini, dalam kerjanya akan aktif
secara bergantian dengan kecepatan tinggi selama pesawat dihidupkan. Untuk
menentukan digit mana yang akan diaktifkan, maka pengaturannya akan
ditentukan oleh mikrokontroler. Pada rangkaian ini direncanakan penggunaan
transistor sebagai saklar, dimana saat menerima masukan tinggi dari
mikrokontroler akan mentriger basis dan mengaktifkan seven segmen. Cara ini
dikenal dengan metode multiplexing, yang artinya hanya satu buah seven segmen
yang menyala pada 1 waktu. Namun karena frekuensi multiflexing yang sangat
tinggi, maka akan terlihat menyala secara bersamaan.

3.3.3 Perancangan Rangkaian Alarm

xlvi

Rangkaian ini berfungsi untuk menandakan bahwa lamanya waktu untuk


pesawat bekerja telah selesai. Rangkaian ini terdiri dari satu buah transistor yang
dirancang sebagai saklar dan satu buah buzzer. Jika waktu yang diset telah habis,
mikrokontroler akan memberikan logika low (0) pada Port 2.1 yang dihubungkan
dengan rangkaian ini, maka transistor akan bekerja dan buzzer akan berbunyi.
5V
+V

P2.1

R5
100

PNP
9012
BZ1
+

Gambar 3. 4 Rangkaian alarm

3.3.4 Perancangan Rangkaian Pengatur Kecepatan Motor


Rangkaian ini berfungsi untuk menentukan kerja atau tidaknya rangkaian
pengatur kecepatan motor. Yaitu dengan memutuskan Supply ke rangkaian
pengatur kecepatan motor. Bekerjanya rangkaian ini berkaitan dengan lamanya
settingan timer. Rangkaian kontrol ini terdiri dari sebuah transistor yang berfungsi
sebagai saklar. Pada saat tombol start ditekan maka mikrokontroler mengurangi
nilai waktu yang kita set pada saat itu basis pada kaki transistor diberi keluaran
low (0) maka relay akan mendapat suplay sehingga relay yang tadinya normali
open (NO) berubah menjadi normali close (NC) rangkaian pengatur kecepatan
motor mendapat tegangan dan motor akan bekerja. Ketika timer selesai
menghitung dan menunjukan nilai 00:00 detik, maka mikrokontroler memberikan
keluaran high (1) pada basis transistor NPN dari port 2.5 sehingga transistor tidak
bekerja, Tidak bekerjanya transistor mengakibatkan relay tidak mendapatkan

xlvii

tegangan sehingga relay yang tadinya NC menjadi NO dan rangkaian pengatur


kecepatan motor tidak mendapat tegangan dan motor berhenti bekerja.

+15

5V

LM 317
2

VO U T

3
P O R T 2 .0

C 9012

AD J

4 ,7 K

R1

V IN

R ELAY
1

2 ,2 K

S W TO G LE

M
45 rpm

35 rpm
R2

7 ,1 K

5 ,6 K

Gambar 3. 5 Rangkaian pengaturan kecepatan motor

Rangkaian pengatur kecepatan motor ini berfungsi untuk mengatur kecepatan


putaran motor. Rangkaian ini menggunakan IC LM317 sebagai regulator tegangan
positif. Dimana kecepatan putaran motor ini diatur dengan cara mengubah nilai
tahanan pada variabel resistor. Semakin tahanannya besar, maka kecepatan
putaran motor akan semakin berkurang dan semakin kecil nilai tahanan, maka
kecepatan putaran motor akan berkurang.
Pada pengaturan tegangan output dari IC LM317, berdasarkan dari data sheet
IC LM317 memiliki rumusan sebagai berikut :
R2

Vout 1,25 1

R1

Dimana : R1 = Hambatan tetap


R2 = Hambatan yang didapat diubah-ubah

xlviii

Karena penulis merencanakan motor berputar dengan tegangan maksimum


sebesar 15V dan menggunakan R2 sebesar 50 K, maka nilai R1 yang harus
digunakan sebesar :
R2

Vout 1,25 1

R1

R2
R1
Vout

1,25

R1

R1

50000
15

1,25

50000
11

R1 4545

Jadi nilai R1 yang digunakan adalah sebesar 4.7 K.


Setelah didapat nilai R1, penulis mencocokan kecepatan putaran yang
direncanakan dengan cara menyeting Variable resistor (R2), di dapat besarnya VR
untuk 35 rpm sebesar 5,6 K, sedangkan untuk 45 rpm sebesar 7,1K.
Sehingga besarnya Vout
untuk 35 rpm :
5,6 K

Vout 1,25 1

4. 7 K

Vout 2,74

untuk 45 rpm :
7,1K

Vout 1,25 1

4. 7 K

Vout 3,14

3.3.5

Perancangan Sistem Minimum Mikrokontroler AT89C51

Sistem minimum mikrokontroler AT89C51 direncanakan penggunanya untuk


mengendalikan

sistem

kerja

secara

xlix

keseluruhan.

Untuk

mempermudah

pembahasan maka perencanaan sistem minimum dibagi menjadi dua bagian yaitu,
perencanaan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software).
3.3.5.1 Perencanaan hardware
Perencanaan perangkat keras dari rangkaian mikrokontroler terlihat pada gambar
3.6

Gambar 3. 6 Rangkaian sistem minimum mikrokontroler

3.3.5.2 Perencanan Software


Dalam perencanaan software ini penulis menggunakan hardware AT89C51.
Mikrokontroler ini perlu diisi data berdasarkan flowchart dibawah ini.

Gambar 3. 7 Flowchart roller mixer

Berikut penulis lampirkan pula potongan-potongan program pada kondisi


tertentu.
Kondisi-kondisi tersebut antara lain :

a.

Pada saat setting timer

li

Program akan memeriksa switch mana yang ditekan. Jika yang


ditekan (sw-up), maka nilai menit pada display akan bertambah satu.
Jika yang ditekan (sw-down), maka nilai menit pada display akan
berkurang

satu.

Jika

yang

ditekan

tombol

(start),

maka

mikrokontroler akan menjalankan program selanjutnya. Jika tidak


ditekan, maka program akan terus mengulang Cek Switch. Berikut
ini adalah potongan dari listing Program setting timer.
;--------------------------------------------------------

;1. SUB ROUTINE PENGATURAN TIMER


;-------------------------------------------------------PENGATURAN:
JB P1.0,DOWN_COUNTER
CLR P2.1
MOV A,R0
ADD A,#01H
MOV R0,A
CJNE A,#00111101B,LOM_MAK
MOV R0,#00H
LOM_MAK:
UDAH_LOM_UP:
JB P1.0,DOWN_COUNTER
ACALL TAMPIL
JMP UDAH_LOM_UP
DOWN_COUNTER:
MOV A,R0
CJNE A,#00H,ADA_DOWN
JMP PROSES_PENGATURAN_SELESAI
ADA_DOWN:
JB P1.1,PROSES_PENGATURAN_SELESAI
CLR P2.1
MOV A,R0

lii

SUBB A,#01H
MOV R0,A
UDAH_LOM_DOWN:
JB P1.1,PROSES_PENGATURAN_SELESAI
ACALL TAMPIL
JMP UDAH_LOM_DOWN
PROSES_PENGATURAN_SELESAI:
MOV A,R0
SETB P2.1
RET
b.

Pada saat tombol START ditekan


Pada saat tombol START ditekan maka kejadian yang
berlangsung adalah nilai settingan pada display akan berkurang perdetik, rangkaian pengatur kecepatan motor akan bekerja. Berikut
adalah potongan listing programnya.
;--------------------------------------------------------------; SUB ROUTINE PEMBACAAN TIMER
;--------------------------------------------------------------PEMBACAAN_TIMER:
ACALL DELAY_500MSS
MOV A,R7
ADD A,#01H
MOV R7,A
CJNE A,#00111100B,PEMBACAAN_SELESAI
MOV R7,#00H
MOV A,R0
SUBB A,#01H
MOV R0,A
CJNE A,#00H,PEMBACAAN_SELESAI

liii

ABIS:
ACALL TAMPIL
CLR P2.1
SETB P2.0
JMP ABIS
PEMBACAAN_SELESAI:
RET

BAB 4

liv

PENGUJIAN dan ANALISIS


Dalam bab ini penulis akan menerangkan mengenai pendataan yang telah
dilakukan mulai perancangan sampai pengujian guna menyelesaikan karya tulis
ini. Kemudian menganalisa data-data tersebut untuk dibandingkan dengan
teorinya. Bab ini juga memaparkan hasil-hasil pengukuran titik-titik tertentu.
Hasil pengukuran ini disusun dalam bentuk tabel pendataan dengan beberapa
kondisi perlakuan yang diberikan pada rangkaian sesuai dengan permasalahan
yang akan dibahas. Hal ini bertujuan untuk lebih memperlihatkan sejauh mana
pengaruh perlakuan dan masukan yang berbeda terhadap kerja rangkaian
keseluruhan.
Pengujian dan pengamatan dilaksanakan secara berulang-ulang agar didapat
hasil data yang lebih presisi. Keakurasian hasil pendataan banyak dipengaruhi
oleh beberapa hal antara lain dari komponen yang kita rakit maupun alat
penunjang yang kita gunakan dalam pendataan. Pengujian dan pengamatan disini
dilakukan pada keseluruhan sistem yang terdapat dalam paralatan ini.

4.1

Persiapan Alat dan Bahan


Sebelum melakukan pendataan penulis melakukan beberapa persiapan agar

dalam pelaksanaannya nanti dapat berjalan dengan semestinya, adapun langkahlangkah persiapan dalam pendataan adalah sebagai berikut:
1. Persiapkan alat dan bahan terlebih dahulu.
2. Sebelum memulai pengukuran, hubungkan terlebih dahulu semua
aksesoris yang dibutuhkan pada modul pesawat roller mixer.
3. Berikan supply tegangan PLN pada alat-alat yang mau kita ukur
namun, sebelumnya pastikan seluruh blok rangkaian telah terhubung
dangan rangkaian power supply (+Vcc, dan ground).

4. Tekan tombol main switch kemudian cek apakah alat telah berjalan
dengan baik.

lv

5. Jika sudah, lakukan pengukuran pada titik-titik pengukuran (TP) yang


kita tentukan sebelumnya dengan multi meter digital atau analog.
6. Catat hasil dari setiap titik-titik pengukuran dan hitung presentase
kesalahanya.
7. Jika presentase kesalahan kurang dari 5%, modul atau alat yang telah
dibuat layak untuk digunakan dan siap untuk diujikan.

4.1.1 Komponen dan Bahan


Daftar komponen dan bahan yang perlu disiapkan sebelum pendataan
meliputi :
Tabel 4. 1 Komponen dan bahan Rangkaian Power Supply

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Komponen

Jumlah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
2 buah
1 buah
2 buah
1 buah
1 buah
2 buah

Trafo 3 A
Kabel Supply
Saklar ON/OFF
Fuse 5 A
Dioda 5 A
Kapasitor 4700F
Kapasitor 100 F
IC Regulator 7805
IC Regulator 7815
Transistor D313

Tabel 4. 2 Blok Sistem Minimum Mikrokontroler

No
1
2
3

Komponen
IC AT89C51
Kristal 12MHz
Kapasitor 33pF

Jumlah
1 buah
1 buah
2 buah

Tabel 4.3 Blok Key Pad

No
1
2
3
4

Komponen
Push Botton Normally Open
Resistor 100
Resistor 8.2K
Kapasitor 10F/16V

Jumlah
4 buah
1 buah
1 buah
1 buah

lvi

Tabel 4. 4 Blok Disply

No
1
2
3
4
5

Komponen
IC 74LS47
Seven Segmen CA
Transistor 9012
Resistor 330
Resistor 2.2K

Jumlah
1 buah
4 buah
4 buah
7 buah
4 buah

Tabel 4. 5 Blok Pengatur Kecepatan Putaran Motor dan Buzzer

No

Komponen

Jumlah

IC LM317

1 buah

Relay 5 V

1 buah

Buzzer 12 V

1 buah

Transistor 9012

2 buah

Resistor 10K

2 buah

Resistor 180

1 buah

Resistor 4.7K

1 buah

Saklar Togle

1 buah

Varieble Resistor 50K

2 buah

10

Motor DC 12 V

1 buah

4.1.2 Persiapan alat

lvii

Sebelum melaksanakan pendataan modul, penulis mengadakan beberapa


persiapan

agar

didalam

pelaksanaan

pendataan

dapat

berjalan

dengan

sebagaimana mestinya. Adapun alat yang digunakan adalah sebagai berikut :


1. Seperangkat Tool Set
2. Multimeter

Merk

: Sanwa

Model

: YX 360 TRS

Buatan

: Jepang

Multimeter Digital
Merk

: Cadic

Model

: 32B

4. Tacho Meter
Merk

: Sanwa

Buatan

: Jepang

5. Stop Watch

4.2

Metode Pendataan
Setelah semua bahan dirangkai menjadi modul, maka dilakukan pendataan

pada rangkaian untuk diperiksa. Pengukuiran dan pendataan modul pesawat


Roller Mixer ini hanya dilakukan dibeberapa titik saja yang dianggap dapat
mewakili cara kerja rangkaian secara keseluruhan. Besarnya tegangan pada titik
pengukuran diukur dengan nenggunakan Multimeter atau AVO meter.
Adapun titik pengukuran pada rangkaian ini adalah sebagai berikut :
1. Titik pengukuran 1 (TP1)
Merupakan titik keluaran Rangkaian Sistem Minimum Mikrokontroler,
tepatnya pada Port 2.1 kaki 22 AT89C51, dimana port tersebut
dihubungkan dengan Rangkaian Alarm. Pada TP ini dilakukan pendataan
dengan 3 kondisi yaitu, pada saat tombol START belum ditekan, pada
saat tombol START ditekan dan pada saat waktu yang diatur habis.
2. Titik pengukuran 2 (TP2)

lviii

Merupakan titik keluaran Rangkaian Sistem Minimum Mikrokontroler,


tepatnya pada Port 2.0 dimana port tersebut dihubungkan dengan
Rangkaian Pengatur Kecepatan Motor. Pada TP ini dilakukan pendataan
dengan 3 kondisi yaitu, pada saat tombol START belum ditekan, pada
saat tombol START ditekan dan pada saat waktu yang diatur habis.
3. Titik pengukuran 3 (TP3)
Merupakan titik pengukuran pada keluaran LM 317 yang terhubung
dengan motor pada keceparan 35 rpm. Pada TP ini dilakukan pendataan

dengan 3 kondisi yaitu, pada saat tombol START belum ditekan, pada
saat tombol start ditekan dan pada saat waktu yang diatur habis.
4. Titik pengukuran 4 (TP4)
Merupakan titik pengukuran pada keluaran LM 317 yang terhubung
dengan motor pada kecepatan 45 rpm. Pada TP ini dilakukan pendataan
dengan 3 kondisi yaitu, pada saat tombol START belum ditekan, pada
saat tombol start ditekan dan pada saat waktu yang diatur habis.
5. Selain itu penulis juga melakukan perbandingan waktu operasi pesawat
Roller Mixer dengan cara dibandingkan dengan stop watch yang
dilakukan beberapa kali dengan 5 pengaturan waktu yang berbeda, serta
perbandingan kecepatan pada settingan dengan putaran yang sebenarnya.

4.3

PENYAJIAN DATA
Pada bagian ini penulis akan menyajikan data dari test point yang telah

disebutkan diatas.
1.

TP 1

Tabel 4. 6 Test point 1

Port
Port 2..1

Sebelum Start
4,8 V (High)

Kondisi
Pada saat
bekerja
4,8 V (High)

lix

Pada saat waktu


operasi pesawat habis
0 V (Low)

2.

TP 2

Tabel 4. 7 Test point 2

Port
Port 2.4

3.

Sebelum Start

Kondisi
Pada saat
Pada saat waktu operasi

4,8 V (High)

bekerja
0 V (Low)

pesawat habis
4,8 V (High)

TP 3

Tabel 4.8 Test point 3

Sebelum
Start
0V

Vout LM 317

4.

Kondisi
Pada saat
Pada saat waktu operasi
bekerja
3,2 V

pesawat habis
0V

TP 4

Tabel 4.9 Test point 4

Sebelum
Vout LM 317

5.

Start
0V

Kondisi
Pada saat
Pada saat waktu operasi
bekerja
3,6 V

Hasil Perbandingan Waktu

Tabel 4.10 Hasil Perbandingan Waktu

lx

pesawat habis
0

Waktu

Percobaan dengan stopwatch

Kesimpulan

settingan

II

1 Menit

00:01:00.83

00:01.00.83

00:01.00.82

Selisih waktu sebesar 00:00:00.83

2 Menit

00:02:01.57

00:02:01.60

00:02:01.59

Selisih waktu sebesar 00:00:01.59

3 Menit

00:03:02.27

00:03:02.29

00:03:02.27

Selisih waktu sebesar 00:00:02.27

4 Menit

00:04:03.00

00:04:03.01

00:04:03.00

Selisih waktu sebesar 00:00:03.00

5 Menit

00:05:04.02

00:05:04.02

00:05:04.02

Selisih waktu sebesar 00:00:04.02

6.

III

Hasil Perbandingan Kecepatan Putaran

Tabel 4.11 Hasil Perbandingan Waktu

Pemilihan Kecepatan
35 Rpm

Hasil Ukur
37 Rpm

45 Rpm

45 Rpm

4.4

ANALISA DATA

Dari hasil pengamatan yang penulis lakukan pada rangkaian yang telah dibuat
pada titik pengukuran, penulis melakukan pendataan dengan AVO meter. Dari
hasil pendataan pada masing-masing titik pengukuran dapat ditentukan presentase
kesalahan dengan menggunakan rumus :
% Kesalahan

Hasil hitung Hasil ukur

100%

Hasil hitung

1. Analisa pada TP 1
Merupakan titik pengukuran pada keluaran Port 2.4 rangkaian
buzzer. Berikut ini adalah hasil dari pengukuran pada TP1.

Pada saat sebelum di start :


Hasil hitung 4,8V

Hasil ukur 4,8V

% Kesalahan

4,8V 4,8V
100%
4,8V

0%

Pada saat bekerja :

lxi

Hasil hitung 4,8V

Hasil ukur 5,1V

% Kesalahan

4,8V 5,1V
100%
4,8V

6,25%

Pada saat waktu yang diatur habis :


Hasil hitung 0V

Hasil ukur 0V
0V 0V
100%
0V

% Kesalahan

0%

Dari seluruh hasil presentase kesalahan yang didapat dari masingmasing kondisi maka, didapat persentase kesalahan total pada TP1
yakni sebesar :
% Kesalahan total TP1

0% 6,25% 0%
100%
3
2,08%

Keakurasian TP1= 100% - 2,08 %


= 97,92 %

2. Analisa pada TP 2
Merupakan titik pengukuran pada keluaran Port 2.5 rangkaian
pengatur kecepatan motor. Berikut ini adalah hasil dari pengukuran
pada TP2.

Pada saat sebelum di start :


Hasil hitung 4,8V

Hasil ukur 5,1V

% Kesalahan

4,8V 5,1V
100%
4,8V

6,25%

Pada saat sedang start :


Hasil hitung 0V

lxii

Hasil ukur 0V
0V 0V
100%
0V

% Kesalahan

0%

Pada saat waktu yang diatur habis :


Hasil hitung 4,8V

Hasil ukur 5,1V

% Kesalahan

4,8V 5,1V
100%
4,8V

6,25%

Dari seluruh hasil presentase kesalahan yang didapat dari masingmasing kondisi maka, didapat persentase kesalahan total pada TP2
yakni sebesar :
% Kesalahan total TP 2

0% 6,25% 0%
100%
3
2,08%

Keakurasian TP2 = 100% - 2,08 %


= 97,92 %
3. Analisa pada TP 3
Merupakan titik pengukuran pada keluaran LM 317 yang
terhubung dengan motor pada keceparan 35 rpm.. Berikut ini adalah
hasil dari pengukuran pada TP3.

Pada saat sebelum di start :


Hasil hitung 0V

Hasil ukur 0V
% Kesalahan

0V 0V
100%
0V

0%

Pada saat sedang start :


Hasil hitung 2,74V

Hasil ukur 2,9V

lxiii

% Kesalahan

2,74V 2,9V
100%
2,74V

5,84%

Pada saat waktu yang diatur habis :


Hasil hitung 0V

Hasil ukur 0V
% Kesalahan

0V 0V
100%
0V

0%

Dari seluruh hasil presentase kesalahan yang didapat dari masingmasing kondisi maka, didapat persentase kesalahan total pada TP3
yakni sebesar :
% Kesalahan total TP3

0% 5,84% 0%
100%
3
1,94%

Keakurasian TP3 = 100% - 1,94 %


= 98,06 %
4. Analisa pada TP 4
Merupakan titik pengukuran pada keluaran LM 317 yang
terhubung dengan motor pada keceparan 45 rpm.. Berikut ini adalah
hasil dari pengukuran pada TP 4.

Pada saat sebelum di start :


Hasil hitung 0V

Hasil ukur 0V
% Kesalahan

0V 0V
100%
0V

0%

Pada saat sedang start :


Hasil hitung 3,14V

Hasil ukur 3,2V

% Kesalahan

3,14V 3,2V
100%
3,14V

lxiv

1,91%

Pada saat waktu yang diatur habis :


Hasil hitung 0V

Hasil ukur 0V
% Kesalahan

0V 0V
100%
0V

0%

Dari seluruh hasil presentase kesalahan yang didapat dari masingmasing kondisi maka, didapat persentase kesalahan total pada TP4
yakni sebesar :

% Kesalahan total TP 4

0% 1,91% 0%
100%
3
0,63%

Keakurasian TP4 = 100% - 0,63 %


= 99,37 %
6. Analisa perbandingan waktu
Hasil Hitung = 60 s
Hasil Ukur

= 60.82 s

% Kesalahan

60 s 60.82 s
100%
60s
1,36%

Keakurasian Waktu = 100% - 1,36 %


= 98,64 %
7. Analisa perbandingan kecepatan

35 rpm
Hasil Hitung = 35 rpm
Hasil Ukur

= 37 rpm

% Kesalahan

35rpm 37 rpm
100%
35rpm

5,71%

lxv

Keakurasian

= 100% - 5,71 %
= 94,29 %

45 rpm
Hasil Hitung = 45 rpm
Hasil Ukur

= 47 rpm

% Kesalahan

45rpm 45rpm
100%
45rpm

0%

Keakurasian

= 100% - 0 %
= 100 %

Dari seluruh hasil presentase kesalahan yang didapat dari masing-masing TP


maka, didapat persentase kesalahan total yakni sebesar :
% Kesalahan total

2,08% 2,08% 1,94% 0,63% 1,36 5,71% 0%


100%
7
3,14%

Jadi Keakurasian dari modul ini sebesar :


Keakurasian = 100% - 3,14 %
= 96,86 %

lxvi

BAB 5
KESIMPULAN
Setelah melelui proses yang panjang dalam pembuatan karya tulis ilmiah dan
modul rancang bangun pesawat roller mixer ini dilakukan mulai dari studi pustaka
yang dilanjutkan dengan proses pendataan dan analisa, maka didapat beberapa
kesimpulan tentang karya tulis ilmiah dan modul yang dibuat.
Selama penulis menyelesaikan karya tulis ilmiah dan modul tentang pokok
bahasan ini menemukan beberapa kendala yaitu minimnya buku-buku panduan
yang akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa, hasil dari pengujian pada semua
bagian alat dan dibandingkan dengan alat sesungguhnya adalah sebagai berikut :
1. Modul Rancang Bangun Pesawat Roller Mixer ini sesuai dengan yang
diinginkan, walaupun tidak sesuai dengan perencanaan. Adapun
kesalahan tersebut disebabkan :
a. Penggunaan komponen yang kurang presisi
b. Kurang teliti dalam melakukan pengukuran pada rangkaian
2. Tingkat keakurasian pada alat ini yaitu : 100% - 3,14 % = 96,86%
3. Faktor ketelitian sangat mempengaruhi hasil kerja kita.

lxvii

DAFTAR ACUAN

[1]

Ganda Soebrata, R. Penuntun Laboratorium Klinik, Edisi Kelima,


Jakarta, PT.Dian rakyat, 1984

[2]

Guyton, C Arthur, Fisiologi Kedokteran Jakarta, Kedokteran EGC,


1976

[3]

Andi Nalwan, Paulus, Teknik Antarnuka dan


AT89C51,Jakarta, PT Elex Media Komputindo, 2003

[4]

Data Sheet Book 1dan2, Elex Media Komputindo Gramedia, Jakarta


1992.

[5]

Malvino,A.P Prinsip-prinsip Elektronika, edisi ketiga.ditejemahkan


oleh M. Barmawi, Ph.D dan M. O. Tsia, Ph.D. Jakarta: PT Erlangga. 1996

[6]

Internet. WWW.Roller Mixer.Com dan SGS-Thomson Microelectronics. 0208-07

lxviii

Pemrograman

DAFTAR PUSTAKA

Ganda Soebrata, R. Penuntun Laboratorium Klinik, Edisi Kelima,


Jakarta,PT.Dian rakyat, 1984
Guyton, C Arthur, Fisiologi Kedokteran Jakarta, Kedokteran EGC, 1976
Andi Nalwan, Paulus, Teknik Antarnuka dan Pemrograman AT89C51,
Jakarta, PT Elex Media Komputindo, 2003
Data Sheet Book 1dan2, Elex Media Komputindo Gramedia, Jakarta 1992.
Malvino,A.P Prinsip-prinsip Elektronika, edisi ketiga.ditejemahkan oleh
M. Barmawi, Ph.D dan M. O. Tsia, Ph.D. Jakarta: PT Erlangga. 1996
Internet. WWW.Roller Mixer.Com dan SGS-Thomson Microelectronics.0208-07

lxix

LAMPIRAN 1
WIRRING DIGRAM ROLLER NIXER

AT89C51

S W -U P

S TAR T

+5V

100K

+5V
1 0 u F /1 6 V

5V
7
1
2
6
4
5
3

1
2
4
8
B I/R B O
RBI
LT

16

A
B
C
D
E
F
G

13
12
11
10
9
15
14

1
2
3
4
5
6
7

8
9
10
11
12
13
14

a
b
c
d
e
f
g

a
b
c
d
e
f
g

. .

330

74LS47

+5V
1

C 9012

2 ,2 K

R ESET

5V

VCC
P0.0(AD0)
P0.1(AD1)
P0.2(AD2)
P0.3(AD3)
P0.4(AD4)
P0.5(AD5)
P0.6(AD6)
P0.7(AD7)
EA/VPP
ALE/PROG
PSEN
P2.7(A15)
P2.6(A14)
P2.5A13)
P2.4(A12)
P2.3(A11)
P2.2(A10)
P2.8(A9)
P2.0(A8)

P1.0
P1.1
P1.2
P1.3
P1.4
P1.5
P1.6
P1.7
RST
P3.0(RXD)
P3.1(TXD)
P3.2(INTO)
P3.3(INTI)
P3.4(TO)
P3.5(T1)
P3.6(WR)
P3.7(RD)
XTAL2
XTAL1
GND

S W -D O W N

C 9012

2 ,2 K

8 ,2 K

+5V

XTAL

2 ,2 K

33pF

+15 +5V

33pF

a
b
c
d
e
f
g

a
b
c
d
e
f
g

. .
2

LM 317
VOUT

C 9012

2 ,2 K

R ELAY

C 9012

2 ,2 K

AD J

4 ,7 K

V IN

9012

2 ,2 K
3

S W TO G LE

5V
3

1
35 rpm

45 rpm

C 9012
2

7 ,1 K

8 ,6 K

BUZZER

T it l e
S iz e
A
D a te :

lxx

W IR IN G R O L L E R M IXE R
D ocum ent N um ber
A L W I H A S B U L L A H (0 4 . 0 0 8 )
T h u rs d a y , A u g u s t 1 6 , 2 0 0 7

R ev
Sheet

of

+5V

LAMPIRAN 2
PROGRAM ROLLER MIXER
$MOD51
ORG 000H
COUNTER_5MSS EQU 50H
MOV R0,#00H
MOV R7,#00H
MELPA:
ACALL TAMPIL
jb p1.0,MELPA
alwi:
ACALL PENGATURAN
ACALL TAMPIL
JB P1.2,ALWI
RE: CLR P2.0
ACALL PEMBACAAN_TIMER
JMP RE
;====================================================
PENGATURAN:
JB P1.0,DOWN_COUNTER
CLR P2.1
MOV A,R0
ADD A,#01H
MOV R0,A
CJNE A,#00111101B,LOM_MAK
MOV R0,#00H
LOM_MAK:
UDAH_LOM_UP:
JB P1.0,DOWN_COUNTER
ACALL TAMPIL
JMP UDAH_LOM_UP
DOWN_COUNTER:
MOV A,R0
CJNE A,#00H,ADA_DOWN
JMP PROSES_PENGATURAN_SELESAI
ADA_DOWN:
JB P1.1,PROSES_PENGATURAN_SELESAI
CLR P2.1
MOV A,R0
SUBB A,#01H
MOV R0,A

lxxi

UDAH_LOM_DOWN:
JB P1.1,PROSES_PENGATURAN_SELESAI
ACALL TAMPIL
JMP UDAH_LOM_DOWN
PROSES_PENGATURAN_SELESAI:
MOV A,R0
SETB P2.1
RET
;====================================================
TAMPIL:
MOV A,R0
ACALL OLAH_DATA
ACALL SMPN1
MOV A,R7
ACALL OLAH_DATA
ACALL SMPN2
ACALL DISPLAY
RET
OLAH_DATA:
MOV R2,A
MOV B,#0AH
DIV AB
MOV B,#06H
MUL AB
ADD A,R2
RET
SMPN1:
MOV R2,A
ANL A,#0FH
ADD A,#10110000B
MOV R3,A
MOV A,R2
SWAP A
ANL A,#0FH
ADD A,#01110000B
MOV R4,A
RET
SMPN2:
MOV R2,A
ANL A,#0FH
ADD A,#11100000B

lxxii

MOV R5,A
MOV A,R2
SWAP A
ANL A,#0FH
ADD A,#11010000B
MOV R6,A
RET
DISPLAY:
MOV A,R3
MOV P0,A
ACALL DELAY_SEGMENT
MOV P0,#0FFH
MOV A,R4
MOV P0,A
ACALL DELAY_SEGMENT
MOV P0,#0FFH
MOV A,R5
MOV P0,A
ACALL DELAY_SEGMENT
MOV P0,#0FFH
MOV A,R6
MOV P0,A
ACALL DELAY_SEGMENT
MOV P0,#0FFH
RET
;====================================================
PEMBACAAN_TIMER:
ACALL DELAY_500MSS
MOV A,R7
ADD A,#01H
MOV R7,A
CJNE A,#00111100B,PEMBACAAN_SELESAI
MOV R7,#00H
MOV A,R0
SUBB A,#01H
MOV R0,A
CJNE A,#00H,PEMBACAAN_SELESAI
ABIS:
ACALL TAMPIL
CLR P2.1
SETB P2.0
JMP ABIS
PEMBACAAN_SELESAI:

lxxiii

RET
;====================================================
DELAY_500MSS:
MOV COUNTER_5MSS,#056
TUNGGU_500MSS:
ACALL DELAY_5MSS
ACALL TAMPIL
DJNZ COUNTER_5MSS,TUNGGU_500MSS
RET
DELAY_5MSS:
PUSH TMOD
MOV TMOD,#21H
MOV TH0,#0EDH
MOV TL0,#0FFH
SETB TR0
TUNGGU_5MSS:
JBC TF0,SUDAH_5MSS
ACALL TAMPIL
AJMP TUNGGU_5MSS
SUDAH_5MSS:
CLR TR0
POP TMOD
RET
;====================================================
DELAY_SEGMENT:
PUSH B
MOV B,#04H
LOOPDELAY:
PUSH B
MOV B,#0FFH
LOOP2DELAY:
DJNZ B,LOOP2DELAY
POP B
DJNZ B,LOOPDELAY
POP B
RET
END

lxxiv

LAMPIRAN 3
SPESIFIKASI PESAWAT
ROLLER MIXER
With:
Rocking & Rolling Action for Complete Mixing
Ideal for Blood Samples
Removable Rollers
Continuous Operation between 4 C and 60 C
Constant Speed - 37 rpm
Choice of Two Sizes (5 Rollers & 10 Rollers)
Stock No.

Description

Qty

600.1680 Roller Mixer, 5 Rollers, 120V, 60Hz, 50W

Each

600.1685 Roller Mixer, 10 Rollers, 120V, 60Hz, 50W

Each

This is an equipment to make blood homogeneous. This is shack-less and


gentle mixing process. It is essential pre-process for perfect result of RBC, WBC
and Platelets counting.
Click Here to Download Catalogue

MODEL NO. : BM - 11
Roller
4 Nos. x 230mm
Size
Lg.
Mains
230v, 50Hz |
Input
110v, 60Hz AC
RPM

37 RPM

lxxv

Mixing
Time

20 Minutes

Weight

2.0 Kg. Net

Vaccutainer 6
Nos. (4ml) or 5ml x
Capacity
15 Bulb

MODEL NO. : BM - 22
Roller
4 Nos. x 230mm
Size
Lg.
Mains
230v, 50Hz |
Input
110v, 60Hz AC
RPM
Mixing
Time
Weight

35 RPM and 45
RPM
15 to 20 Minutes
2.0 Kg. Net

4ml Vaccutainer
6 Nos. or 5ml x 15
Capacity
Bulb

needle incinerator, roller mixer, needle destroyer, blood mixer,centrifuge, differential blood cell counter, vortex mixer, cyclo
mixer,dry bath incubator, hematocrit centrifuge, spring roller mixer, inverter cabinet,needle incinerator, roller mixer, needle
destroyer, blood mixer,centrifuge, differential blood cell counter, vortex mixer, cyclo mixer,dry bath incubator, hematocrit
centrifuge, spring roller mixer, inverter cabinet,

lxxvi

LAMPIRAN 4
DATA SHEET IC MIKROKONTROLER
AT89C51

lxxvii

lxxviii

lxxix

lxxx

lxxxi

lxxxii

lxxxiii

lxxxiv

lxxxv

lxxxvi

LAMPIRAN 5
DATA SHEET LM 317

lxxxvii

lxxxviii

lxxxix

xc

xci

xcii

xciii

LAMPIRAN 5
DATA SHEET IC 74LS47

xciv

xcv

xcvi

xcvii

xcviii

xcix