Anda di halaman 1dari 16

Modul 1 Program Pendidikan Kesehatan Gigi dan Masyarakat

Kata Kunci:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pendidikan kesehatan gigi


Pemeliharaan kesehatan gigi
Tidak ada peningkatan
Kondisi masyarakat yang sangat beragam
Belum ada laporan hasil kegiatan
Puskesmas
Kurangnya pengetahuan masyarakat
Dinas kesehatan

Pertanyaan Penting:
1. Jelaskan program pendidikan kesehatan gigi dan mulut di masyarakat!
2. Jelaskan visi dan misi dari program pendidikan kesehatan gigi dan mulut!
3. Ruang lingkup dalam pendidikan kesehatan gigi dan mulut!
4. Jelaskan sasaran dari program pendidikan dan kesehatan gigi di masyarakat!
5. Jelaskan konsep perilaku masyarakat dibidang kedokteran gigi!
6. Jelaskan cara identifikasi perilaku kesehatan gigi dan mulut di masyarakat!
7. Jelaskan faktor yang mempengaruhi perilaku dalam masyarakat!
8. Hal apa saja yang menjadi indicator terhadap perubahan perilaku masyarakat?
9. Jelaskan metode pendekatan untuk perubahan perilaku masyarakat!
10. Bagaimana cara meningkatkan kesadaran?
11. Bagaimana teknik penyampaian informasi kesehatan gigi pada masyarakat?
12. Jelaskan bagaiamana pemeliharaan kesehatan gigi!
13. Komponen apa saja yang dibutuhkan dalam penyampaian kesehatan gigi di masyarakat?
14. Apa saja hambatan dalam program pendidikan kesehatan gigi dan mulut di masyarakat?
15. Bagaimana cara menilai tingkat keberhasilan suatu program pendidikan kesehatan gigi
dan mulut di masyarakat?
Jawaban Pertanyaan:
1. Pendidikan kesehatan gigi adalah semua aktivitas yang membantu menghasilkan
penghargaan individu maupun masyarakat akan kesehatan gigi, dan memberikan
pengertian akan cara-cara memelihara kesehatan gigi dan mulut. Jadi dengan adanya
pendidikan kesehatan gigi dan mulut, kesehatan gigi dan mulut pada individu ataupun
masyarakat diharapkan bertambah baik. Pendidikan ini dapat dilakukan melalui
demonstrasi secara langsung maupun program audio visual.

Beberapa pengertian pendidikan kesehatan yang dikutip oleh Tarsilah (1978) antara lain:
o Menurut Tiglao, pendidikan kesehatan bukan sekedar memberitahukan kepada
orang- orang bagaimana caranya untuk mempertinggi kesehatan tetapi mereka
seharusnya menciptakan sesuatu keadaan untuk mendapatkan kesempatan untuk
belajar, dengan dan untuk mereka sendiri. Akibatnya mereka dapat mengubah
cara hidup yang kurang baik untuk kesehatan pribadinya untuk masyarakat
dengan cara hidup sehat.
o Nyswander mengatakan bahwa pendidikan kesehatan adalah suatu proses
perubahan manusia yang ada hubungannya dengan tercapainya tujuan kesehatan
perorangan dan masyarakat. Pendidikan kesehatan bukanlah sesuatu yang dapat
diberikan oleh seseorang kepada orang lain dan bukan pula suatu rangkaian tata
laksana yang akan dilaksanakan ataupun hasil yang akan dicapai, melainkan
suatu proses perkembangan yang selalu berubah secara dinamis yang di
dalamnya seseorang dapat menerima atau menolak keterangan baru, sikap baru
dan prilaku baru yang ada hubungannya dengan tujuan pendidikan.
o Menurut Stoll pendidikan kesehatan adalah hasil usaha yang dilakukan suatu
organisasi untuk belajar hidup secara sehat.
Beberapa pengertian pendidikan kesehatan gigi yang dikutip dari tarsilah. Soemantri
menyatakan bahwa pendidikan kesehatan gigi adalah suatu usaha atau aktivitas yang
mempengaruhi orang- orang maupun sedemikian rupa sehingga baik kesehatan pribadi
maupun kesehatan masyarakat.
Bastian berpendapat bahwa pendidikan kesehatan gigi adalah semua aktivitas yang
membantu menghasilkan penghargaan masyarakat akan kesehatan gigi dan memberikan
pengertian akan cara- cara bagaimana memelihara kesehatan gigi dan mulut. Jadi dengan
adanya pendidikan kesehatan gigi dan mulut ini diharapkan bertambah baik. Yang
akhirnya akan diperoleh derajat kesehatan mulut yang setinggi-tingginya.
2. Visi dan Misi Pendidikan Kesehatan Gigi:
Tujuan dari edukasi kesehatan gigi dan mulut adalah untuk mempengaruhi sifat
dan sikap seorang individu untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut selama hidupnya
dan mencegah penyakit mulut. Setelah dilakukannya penyuluhan diharapkan terjadi

perubahan perilaku individu dari perilaku tidak sehat atau belum sehat menjadi perilaku
sehat.
Visi umum promosi kesehatan (UU Kesehatan dan WHO) yakni : Meningkatnya
kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkaan derajat kesehatan, baik
fisik, mental, dan sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun soaial.
Untuk mencapai visi, perlu upaya-upaya yang harus dilakukan, dan inilah yang
disebut MISI. Jadi yang dimaksud misi pendidikan kesehatan adalah upaya yang harus
dilakukan untuk mencapaii visi tersebut. Misi promosi kesehatan secara umum dapat
dirumuskan menjadi 3 butir :
1. Advokat (Advocate)
Melakukan kegiatan advokasi terhadap para pengambil keputusan diberbagai
program dan sektor yang terkait dengan kesehatan. Melakukan advokasi berarti
melakukan upaya-upaya agar para pembuat keputusan atau penentu kebijakan tersebut
mempercayai dan meyakini bahwa program kesehatan yang ditawarkan perlu didukung
melalui kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan politik.
2. Menjembatani (Mediate)
Menjadi jembatan dan menjalin kemitraan dengan berbagai program dan sektor
yang terkait dengan kesehatan. Dalam melaksanakan program-program kesehatan perlu
kerjasama dengan program lain di lingkungan kesehatan, maupun sektor lain yang
terkait. Oleh sebab itu, dalam mewujudkan kerjasama atau kemitraan ini, peran promosi
kesehatan diperlukan.
3. Ruang lingkup pendidikan kesehatan gigi dan mulut:
1. Pendidikan kesehatan individu dengan sasaran individu
2. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok masyarakat tertentu.
3. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas.
4. Agar program pendidikan kesehatan gigi lebih efektif, maka sasaran program pendidikan
kesehatan gigi tersebut dikaitkan dengan tatanan, yakni tatanan rumah tangga, tatanan
tempat kerja, tatanan institusi kesehatan, tatanan institusi pendidikan, dan tatanan
tempat-tempat umum. sementara itu, agar sasaran lebih spesifik, maka sasaran terbagi
lagi menjadi;
1 Sasaran primer
Merupakan sasaran utama dimana melalui program pendidikan kesehatan gigi
tersebut diperoleh perubahan perilaku dan manfaat yang besar. Contoh sasaran primer
yakni anggota keluarga (misalnya ibu hamil) dalam tatanan rumah tangga, siswa dan
mahasiswa dalam tatanan institusi pendidikan, karyawan dalam tatanan tempat kerja,

masyarakat umum dalam tatanan tempat-tempat umum, dan pasien/keluarga pasien dalam
tatanan institusi kesehatan.
2 Sasaran sekunder
Sasaran sekunder merupakan individu atau kelompok yang disegani oleh sasaran
primer. Melalui sasaran sekunder ini diharapkan agar dapat menyampaikan pesan-pesan
kesehatan kepada sasaran utama/primer. Contoh sasaran primer yaitu tokoh masyarakat,
tokoh agama, dan orang tua dalam tatanan rumah tangga; guru/dosen dan pengurus OSIS
dalam tatanan institusi pendidikan; manager dalam tatanan tempat kerja; karyawan dan
pengelola dalam tatanan tempat-tempat umum; dan petugas kesehatan dalam tatanan
institusi kesehatan.
3 Sasaran tersier
Yang termasuk sasaran tersier yakni para pengambil keputusan, pihak-pihak yang
berpengaruh

di

berbagai

tingkatan

(pusat,

provinsi,

kabupaten,

kecamatan,

desa/kelurahan). Contoh sasaran tersier adalah ketua RT/RW dan kepala desa dalam
tatanan rumah tangga, kepala sekolah dalam tatanan institusi pendidikan, kepala daerah
dalam tatanan tempat-tempat umum, dan pimpinan/direktur, bapeda, DPRD dalam
tatanan institusi kesehatan.

5. Perilaku kesehatan
Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme
(makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua
makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu
berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing-masing.Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau
aktifitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati
oleh pihak luar. ( Notoatmodjo, 2003).
Seorang ahli psikologis, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau
reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). (Skinner, 1938 yang dikutip
dalam Notoatmodjo,2003).
Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi
dua :

a.

Perilaku Tertutup (Covert behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (covert),
Misalnya: Seorang ibu hamil tahu pentingnya periksa kehamilan, seorang pemuda tahu
bahwa HIV/AIDS dapat menular melalui hubungan seks, dan sebagainya.
b.

Perilaku Terbuka (Overt behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka, misalnya
seorang ibu memeriksakan kehamilannya atau membawa anaknya ke puskesmas untuk
diimunisasi.
Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang atau organisme terhadap stimulus atau
objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan,
dan minuman serta lingkungan. (Dinas Kesehatan Polewali Mandar,2008)
6. Di lihat dari bentuknya perilaku dibedakan menjadi 2 macam yaitu:
a. Bentuk pasif
Adalah respon internal yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara
langsung

bisa

dilihat

orang

lain,misalnya

berpikir,tanggapan,sikap

atau

pengetahuan.
b. Bentuk aktif
Adalah apabila perilaku ini jelas bisa dilihat.

Batasan perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok yaitu:


1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance)
Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga
kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Oleh sebab itu
perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 aspek:

a. Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta


pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit.
b. Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sehat.Perlu
dijelaskan di sini, bahwa kesehatan itu sangat dinamis dan relatif, maka dari itu
orang orang yang sehat pun perlu diupayakan supaya mencapai tingkat kesehatan
yang seoptimal mungkin.
c. Perilaku gizi (makanan) dan minuman. Makanan dan minuman dapat memelihara
dan meningkatkan kesehatan seseorang, bahkan dapat mendatangkan penyakit.
2. Perilaku pencarian dan penggunaan system atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau
sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini
adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit atau
kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini di mulai dari mengobati sendiri (selftreatment)
sampai mencari pengobatan ke luar negeri.
3. Perilaku Kesehatan Lingkungan
Adalah bagaimana seseorang merespons lingkungan, baik lingkungan fisik
maupun sosial

budaya

dan sebagainya, sehingga

lingkungan

tersebut

tidak

mempengaruhi kesehatannya.Klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan antara lain:


a. Perilaku hidup sehat
Adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang
untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Perilaku ini mencakup
antara lain :
o Menu seimbang
o Olahraga teratur
o Tidak merokok
o Tidak minum-minuman keras dan narkoba
o Istirahat yang cukup
o Mengendalikan stress
o Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan
b. Perilaku Sakit(illness behavior)
Mencakup respons seseorang terhadap sakit dan penyakit. Persepsinya terhadap
sakit, pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit
dan sebagainya.
c. Perilaku peran sakit ( the sick role behavior)
Perilaku ini mencakup :
o Tindakan untuk memperoleh kesembuhan

o Mengenal atau mengetahui fasilitas atau sarana pelayanan atau


penyembuhan penyakit yang layak.
o Mengetahui hak(misalnya: hak

memperoleh

perawatan,pelayanan

kesehatan dan kewajiban orang sakit (memberitahukan penyakitnya


kepada orang lain terutama kepada dokter atau petugas kesehatan,tidak
menularkan penyakitnya kepada orang lain, dan sebagainya.
7. Faktor-faktor yang menentukan perilaku kesehatan:
a. Determinan atau faktor internal, yakni karakteristik orang yang bersangkutan,
yang bersifat given atau bawaan, misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat
emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.
b. Determinan atau faktor eksternal, yakni lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial,
budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering
merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang.
Dari uraian di atas dapat dirumuskan bahwa perilaku adalah merupakan totalitas
penghayatan dan aktivitas seseorang yang merupakan hasil bersama atau resultante
antara berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Dengan perkataan lain
perilaku manusia sangatlah kompleks, dan mempunyai bentangan yang sangat
luas.Sehingga membagi perilaku manusia menjadi 3 domain,ranah atau kawasan
yakni:kognitif(cognitive),afektif(affective),psikomotor(psychomotor).
Dalam perkembangannya, teori Bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil
pendidikan kesehatan, yakni:
1. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra
manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang (overt behavior).
a. Proses adopsi perilaku
Penilitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang
mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang
berurutan yakni
o Awareness (kesadaran) yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui
stimulus (objek) terlebih dahulu.
o Interest, yakni orang mulai tertarik pada stimulus.

o Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi


dirinya).
o Triall, orang telah mencoba perilaku baru.
o Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran, dan sikapnya tehadap stimulus.
b. Tingkat Pengetahuan di Dalam Domain Kognitif
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6
tingkatan yaitu:
o Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya, termasuk mengingat kembali (recall). Tahu merupakan tingkat yang
paling rendah dan untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari
antara lain menyebutkan,meguraikan,mendefinisikan,menyatakan dan sebagainya.
o Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut
secara benar.
o Applikasi (Aplication)
Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi yang real atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,
perinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
o Analisis (analysis)
Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke
dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan
masih ada kaitannya satu sama lain.
o Sintesis (Synthesis)
Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada misalnya menyusun,merencanakan, meringkas,
menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori.
o Evaluasi (Evaluation)
Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu materi. Evaluasi ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan
sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
2. Sikap (Attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap
suatu stimulus atau objek.

a. Komponen pokok sikap


Sikap mempunyai 3 komponen pokok yaitu:
o Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek
o Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
o Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave) (Alport,1954 yang dikutip
dalam Notoatmodjo)
b. Berbagai Tingkatan Sikap
terdiri dari : menerima (receiving),merespon (responding) menghargai
(valuing), bertanggung jawab (responsible)
c. Praktek atau Tindakan (practice)
terdiri dari : persepsi (perception), respon terpimpin (guided response),
mekanisme (mechanism), adopsi (adoption).
Faktor penentu (Determinan) perilaku kesehatan pada umumnya melibatkan
banyak faktor. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua hal pokok
yaitu faktor perilaku dan diluar perilaku. Selanjutnya perilaku itu sendiri dipengaruhi
oleh tiga faktor yaitu: faktor pembawa (predisposing faktor) didalamnya termasuk
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, dan nilai-nilai. faktor pendukung (enabling
faktor) yang terwujud dalam lingkungan fisik, sumber daya, tersedia atau tidak
tersedianya fasilitas dan sarana kesehatan,faktor pendorong (reinforcing faktor) yang
terwujud di dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan maupun petugas lain, teman,
tokoh yang semuanya bisa menjadi kelompok referensi dari periaku masyarakat.
Dari faktor-faktor di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau
masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi
dari orang yang bersangkutan. Disamping itu ketersediaan fasilitas kesehatan dan
periaku petugas kesehatan juga mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku
(Dinas Kesehatan Polewali Mandar,2008).

8. Perubahan atau adopsi perilaku baru adalah suatu proses yang kompleks dan
memerlukan waktu yang relatif lama.Secara teori perubahan perilaku atau seseorang
menerima atau mengadopsi perilaku baru dalam kehidupannya melalui tiga tahap yaitu;
1. Pengetahuan
Sebelum seseorang mengadopsi perilaku (berperilaku baru), ia harus tahu
terlebih dahulu apa arti atau manfaat perilaku tersebut bagi dirinya atau keluarganya.

Indikator-indikator apa yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan


atau kesadaran terhadap kesehatan, dapat di kelompokkan menjadi;
a. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit yang meliputi:
o Penyebab penyakit
o Gejala atau tanda-tanda penyakit
o Bagaimana cara pengobatan, atau kemana mencari pengobatan
o Bagaimana cara penularannya
o Bagaimana cara pencegahannya termasuk imunisasi, dan sebagainya
b.Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat,
meliputi:
o Jenis-jenis makanan yang bergizi
o Manfaat makan yang bergizi bagi kesehatannya
o Penting olahraga bagi kesehatan
o Penyakit-penyakit atau bahaya-bahaya merokok, minum-minum keras,
narkoba dan sebagainya.
c. Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan
o Manfaat air bersih
o Cara-cara pembuangan limbah yang sehat, termasuk pembuangan
kotoran yang sehat, dan sampah
o Manfaat pencahayaan dan penerangan rumah yang sehat
o Akibat polusi (polusi air, udara, dan tanah) bagi kesehatan, dan
sebagainya
2. Sikap
Telah diuraikan di atas bahwa sikap adalah penilaian (bisa berupa
pendapat) seseorang terhadap stimulus atau objek (dalam hal ini adalah masalah
kesehatan, termasuk penyakit). Oleh sebab itu indikator untuk sikap kesehatan
juga sejalan dengan pengetahuan kesehatan seperti di atas, yakni:
a. Sikap terhadap sakit dan penyakit
Adalah bagaimana penilaian atau pendapat seseorang terhadap: gejala
atau tanda-tanda penyakit, penyebab penyakit, cara penularan penyakit, cara
pencegahan penyakit, dan sebagainya.
b. Sikap cara pemeliharaan dan cara hidup sehat
Adalah penilaian atau pendapat seseorang terhadap cara-cara memelihara
dan cara-cara(berperilaku) hidup sehat.
c. Sikap terhadap kesehatan lingkungan
Adalah pendapat atau penilaian seseorang terhadap lingkungan dan
pengaruhnya terhadap kesehatan.
3.Praktek atau Tindakan (practice)

Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian


mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses
selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang
diketahui. Inilah yang disebut praktek (practice) kesehatan atau dapat juga
dikatakan perilaku kesehatan (overt behavior). Indikator praktek kesehatan ini
juga mencakup hal-hal tersebut di atas, yakni:
a. Tindakan (praktek) sehubungan dengan penyakit
Tindakan
atau
perilaku
ini
mencakup:pencegahan

penyakit,

mengimunisasikan anaknya, melakukan pegurasan bak mandi seminggu sekali,


menggunakan masker pada waktu kerja di tempat yang berdebu dan
penyembuhan penyakit.
b. Tindakan (praktek) pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
Tindakan atau perilaku ini mencakup antara lain:mengkonsumsi makanan
dengan gizi seimbang, melakukan olahraga secara teratur, tidak merokok,tidak
minum-minuman keras dan narkoba,dan sebagainya.
c. Tindakan (praktek) kesehatan lingkungan
Perilaku ini antara lain mencakup:membuang air besar di jamban
(WC),membuang sampah di tempat sampah, menggunakan air bersih untuk
mandi,cuci,masak dan sebagainya.
9. Metode pendidikan kesehatan gigi dan mulut:
I. Metode pendidikan Individual (perorangan)
Bentuk dari metode individual ada 2 (dua) bentuk :
a. Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling), yaitu ;
1) Kontak antara klien dengan petugas lebih intensif
2) Setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat diperbaiki dan dibantu
penyelesaiannya.
3) Akhirnya klien tersebut akan dengan sukarela dan berdasarkan kesadaran,
penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut (mengubah perilaku)
b. Interview (wawancara)

1) Merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan


2) Menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan,
untuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu
mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat, apabila belum
maka perlu penyuluhan yang lebih mendalam lagi.

II. Metode pendidikan Kelompok


Metode pendidikan Kelompok harus memperhatikan apakah kelompok itu besar
atau kecil, karena metodenya akan lain. Efektifitas metodenya pun akan
tergantung pada besarnya sasaran pendidikan.
a. Kelompok besar
1) Ceramah ; metode yang cocok untuk sasaran yang berpendidikan tinggi
maupun rendah.
2) Seminar ; hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan
menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari satu
ahli atau beberapa ahli tentang suatu topik yang dianggap penting dan
biasanya dianggap hangat di masyarakat.
b. Kelompok kecil
1) Diskusi kelompok ;
Dibuat

sedemikian

rupa

sehingga

saling

berhadapan,

pimpinan

diskusi/penyuluh duduk diantara peserta agar tidak ada kesan lebih tinggi,
tiap kelompok punya kebebasan mengeluarkan pendapat, pimpinan diskusi
memberikan pancingan, mengarahkan, dan mengatur sehingga diskusi
berjalan hidup dan tak ada dominasi dari salah satu peserta.
2) Curah pendapat (Brain Storming) ;

Merupakan modifikasi diskusi kelompok, dimulai dengan memberikan


satu

masalah,

kemudian

peserta

memberikan

jawaban/tanggapan,

tanggapan/jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart/papan


tulis, sebelum semuanya mencurahkan pendapat tidak boleh ada komentar
dari siapa pun, baru setelah semuanya mengemukaan pendapat, tiap
anggota mengomentari, dan akhirnya terjadi diskusi.
3) Bola salju (Snow Balling)
Tiap orang dibagi menjadi pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang).
Kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah, setelah lebih kurang
5 menit tiap 2 pasang bergabung menjadi satu. Mereka tetap
mendiskusikan masalah tersebut, dan mencari kesimpulannya. Kemudian
tiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi
dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya akhirnya terjadi diskusi
seluruh kelas.
4) Kelompok kecil-kecil (Buzz group)
Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok kecil-kecil, kemudian
dilontarkan suatu permasalahan sama/tidak sama dengan kelompok lain,
dan

masing-masing

kelompok

mendiskusikan

masalah

tersebut.

Selanjutnya kesimpulan dari tiap kelompok tersebut dan dicari


kesimpulannya.
5) Memainkan peranan (Role Play)
Beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peranan tertentu
untuk memainkan peranan tertentu, misalnya sebagai dokter puskesmas,
sebagai perawat atau bidan, dll, sedangkan anggota lainnya sebagai
pasien/anggota

masyarakat.

Mereka

memperagakan

interaksi/komunikasi sehari-hari dalam melaksanakan tugas.


6) Permainan simulasi (Simulation Game)

bagaimana

Merupakan gambaran role play dan diskusi kelompok. Pesan-pesan


disajikan dalam bentuk permainan seperti permainan monopoli. Cara
memainkannya persis seperti bermain monopoli dengan menggunakan
dadu, gaco (penunjuk arah), dan papan main. Beberapa orang menjadi
pemain, dan sebagian lagi berperan sebagai nara sumber.

III. Metode pendidikan Massa


Pada umumnya bentuk pendekatan (cara) ini adalah tidak langsung. Biasanya
menggunakan atau melalui media massa. Contoh :
a. Ceramah umum (public speaking)
Dilakukan pada acara tertentu, misalnya Hari Kesehatan Nasional, misalnya
oleh menteri atau pejabat kesehatan lain.
b. Pidato-pidato diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik baik TV
maupun radio, pada hakikatnya adalah merupakan bentuk pendidikan
kesehatan massa.
c. Simulasi, dialog antar pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya
tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan melalui TV atau radio adalah
juga merupakan pendidikan kesehatan massa. Contoh : Praktek Dokter
Herman Susilo di Televisi.
d. Sinetron bertema kedokteran atau bidang kesehatan di dalam acara TV juga
merupakan bentuk pendekatan kesehatan massa.
e. Tulisan-tulisan di majalah/koran, baik dalam bentuk artikel maupun tanya
jawab /konsultasi tentang kesehatan antara penyakit juga merupakan bentuk
pendidikan kesehatan massa.

f. Bill Board, yang dipasang di pinggir jalan, spanduk poster dan sebagainya
adalah juga bentuk pendidikan kesehatan massa. Contoh : Billboard Ayo ke
Posyandu atau Ayo Periksakan Gigi ke Puskesmas!
10. Cara meningkatkan kesadaran dapat dilakukan dengan cara memberikan edukasi yang
menyeluruh kepada lapisan masyarakat agar dapat menjaga kesehatan terkhusus pada
kesehatan gigi dan mulut hingga masyarakat kenal dengan masalah kesehatan gigi dan
mulut dan peduli untuk memelihara kesehatan gigi dan mulut.
11. Komunikasi merupakan proses pengolahan pesan dalam bentuk lambang atau
simbol bahasa atau gerak untuk mempengaruhi perilaku kesehatan gigi orang lain.
Komunikasi merupakan suatu usaha

yang sistematis untuk mempengaruhi perilaku

kesehatan masyarakat secara positif dengan menggunakan berbagai metode komunikasi.


Dalam program pendidikan kesehatan gigi, komunikasi bertujuan untuk mengubah
perilaku kesehatan masyarakat yang akan berpengaruh terhadap kesehatannya,
khususnya mengenai kesehatan gigi dan mulut masyarakat.
-

Perilaku merupakan respon seseorang terhadap objek yang ada di sekitarnya

dalam hal ini dikaitkan dengan program kesehatan gigi dan mulut.
-

Motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang melakukan sesuatu

untuk mencapai tujuan. Kekuatan ini pada dasarnya dirangsang oleh berbagai macam
kebutuhan, seperti (1) keinginan yang hendak dipenuhinya, (2) tingkah laku, (3) tujuan,
(4) umpan balik. Fungsi motivasi bagi manusia adalah :
1) Sebagai motor penggerak bagi manusia
2) Menentukan arah perbuatan, yakni kearah perwujudan tujuan atau cita-cita
yang ingin dicapai.
3) Mencegah penyimpangan

dari

jalan

yang

harus

ditempuh

untuk

mencapaitujuan, dalam hal ini semakin jelas tujuan maka semakin jelas pula
bentanganjalan yang harus ditempuh.
4) Menyeleksi perbuatan diri, artinya menentukan perbuatan mana yang
harusdilakukan, yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyampingkan
perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu.

Berdasarkan

penjelasan diatas bahwa terdapat hubungan antara komunikasi,

perilaku dan motivasi. Jika komunikasi yang dilakukan antara petugas kesehatan dan
masyarakat dalam hal ini berkaitan dengan program kesehatan gigi dilakukan dengan
baik, maka akan menimbulkan suatu sikap. Sikap ini merupakan respon terhadap materi
yang diberikan dari petugas kesehatan kepada masyarat. Sikap yang ditimbulkan ada
dua, yakni baik dalam ari kata materi tersebut berpengaruh terhadap kesadaran hidup
sehat masyarakat dan tidak berpengaruh sama sekali. dalam mencapai perubahan sikap
seseorang maka diperlukan sebuah motivasi sebagai motor penggerak menuju kearah
perwujudan tujuan yang diharapkan, yakni mencapai derajat kesehatan gigi yang
setinggi-tingginya.
12. Menjaga kebersihan diri seseorang salah satunya dapat dilakukan dengan cara menjaga
kebersihan mulutnya. Hygiene mulut yang baik memberikan rasa sehat dan selanjutnya
menstimulasi nafsu makan. Tujuan perawatan hygiene mulut pasien adalah pasien akan
memiliki mukosa mulut utuh yang terhidrasi baik serta untuk mencegah penyebaran
penyakit yang ditularkan melalui mulut (misalnya tifus, hepatitis), mencegah penyakit
mulut dan gigi, meningkatkan daya tahan tubuh, mencapai rasa nyaman, memahami
praktik hygiene mulut dan mampu melakukan sendiri perawatan hygiene mulut dengan
benar.
13.
14. Factor yang mempengaruhi kurangnya kunjungan masyarakat ke klinik adalah
kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut. Kesadaran
masyarakat ini dipengaruhi oleh pengetahuan dan perilaku masyarakat sehari-harinya
dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.
15.