Anda di halaman 1dari 109

PENGELOLAAN EKOWISATA

DI WANA WISATA BATU KUDA


GUNUNG MANGLAYANG BANDUNG UTARA

KELOMPOK 8
TRIA AMALYA
FRIEDMAN CARLYO MANALU
NOVITA WAHYU RISTIANI
LUCKY WIRANATA KUSUMA

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

RINGKASAN
TRIA AMALYA, FRIEDMAN CARLYO MANALU, NOVITA WAHYU
RISTIANI DAN LUCKY WIRANATA KUSUMA pengelolaan ekowisata di
Wana Wisata Batu Kuda Gunung Manglayang Kabupaten Bandung di bawah
bimbingan Dr. Ir. TUTUT SUNARMINTO, M.Si
Wana Wisata Batu Kuda (20 ha) merupakan suatu kawasan hutan milik
Perum Perhutani RPH Manglayang Barat BKPH Bandung Utara Unit III Jawa
Barat dan Banten. Kawasan Wana Wisata Batu Kuda memiliki potensi berupa
prastasi batu kuda, bumi perkemahan dan hutan pinus. Kegiatan Praktik
Pengelolaan Program Keahlian Ekowisata Program Diploma Institut Pertanian
Bogor dilaksanakan pada tanggal 28 12 Juni 2012 yang berlokasi di Wana
Wisata Batu Kuda dengan mengambil fokus pengelolaan Wisata Minat Khusus
Sepeda Gunung dan Wisata Pendidikan dalam bentuk Perkemahan.
Tujuan dari Praktik Pengelolaan Ekowisata adalah untuk mengetahui dan
memahami pengelolaan wisata pada Kawasan Wana Wisata Batu Kuda. Data
yang diambil selama Praktik Pengelolaan Ekowisata adalah kondisi umum
kawasan, kegiatan pengelolaan dan pengunjung. Pengambilan data kondisi umum
dibagi menjadi dua yaitu kondisi umum perusahaan dan kawasan atau obyek
wisata. Data kondisi umum perusahaan difokuskan pada informasi tentang sejarah
perusahaan, kebijakan dan peraturan, status dan kepemilikan, sistem pengelolaan,
visi dan misi, tujuan dan sasaran perusahaan, struktur organisasi perusahaan
dalam 10 tahun terakhir, tugas dan pokok organisasi, ketenagakerjaan dan
sumberdaya manusia (SDM), infrastruktur yang dimiliki, serta produk wisata
dalam 10 tahun terakhir. Data kondisi umum kawasan difokuskan pada kondisi
fisik, biotik, sumberdaya wisata dan potensi wisata. Data yang diambil pada
kegiatan pengelolaan perusahaan yaitu berupa data pengelolaan SDM,
pengelolaan program dan paket wisata, pengelolaan fasillitas pendukung,
pengelolaan pengunjung/wisatawan, pengelolaan keamanan dan keselamatan
pengunjung/wisatawan, pelayanan dan pemanduan wisata (guiding), pemasaran
dan promosi wisata, kebijakan dan peraturan pengelolaan, dan manajemen
pengelolaan. Data kegiatan pengelolaan kawasan yaitu kebijakan dan peraturan
pengelola, manajemen pengelolaan, serta kegiatan pengelolaan kawasan dan
obyek wisata. Data pengunjung difokuskan pada identifikasi karakteristik umum
pengunjung, kualitas pelayanan terhadap pengunjung, evaluasi kondisi sarana dan
prasarana serta fasilitas oleh pengunjung, dan evaluasi kepuasan pengunjung.
Metode yang digunakan dalam memperoleh data-data tersebut yaitu
dengan studi literatur dan observasi secara langsung ke lapangan untuk
identifikasi dan melakukan beberapa wawancara dengan pihak pengelola,
masyarakat sekitar dan para pengunjung. Hasil praktik pengelolalan yang telah
dilakukan menunjukkan bahwa Kawasan Wana Wisata Batu Kuda memiliki
banyak potensi sumberdaya alam dan wisata yang kemudian menjadi daya tarik
bagi para pengunjung. Pengelolaan ekowisata di Kawasan Wana Wisata Batu
Kuda telah melakukan sistem pengelolaan ekowisata dengan cukup baik.
Hasil kegiatan Praktik Pengelolaan menunjukan bahwa pengelolaan
Kawasan Wana Wisata Batu Kuda sebagian besar dikelola oleh LMDH (Lembaga

Masyarakat Hasil Hutan). Perum Perhutani KPH Bandung Utara selaku pemilik
lahan hanya bertindak sebagai pengawas pengelola, pengembangan, dan
peninjauan lapangan. Pihak LMDH diberi kewenangan untuk mengelola berbagai
sarana, prasarana, dan fasilitas serta berbagai hal lain yang terkait dengan kegiatan
wisata yang terdapat pada kawasan tersebut.
Permasalahan yang terdapat dalam pengelolaan kawasan Wana Wisata Batu
Kuda terkait dalam hal SDM, fasilitas, dan promosi. LMDH yang terlibat dalam
pengelolaan kawasan masih kurang memiliki keterampilan khusus dalam
menyelenggarakan kegiatan wisata. Fasilitas yang terdapat pada kawasan
memiliki kondisi kurang baik. Promosi yang dilakukan kurang efektif sehingga
masyarakat tidak banyak yang mengetahui tentang keberadaan Wana Wisata Batu
Kuda.

Judul Laporan
Nama/NIM

: Pengelolaan Ekowisata di Wana Wisata Batu Kuda


Gunung Manglayang Bandung Utara
: Tria Amalya
J3B110007
Friedman Carlyo Manalu
J3B110026
Novita Wahyu Ristiani
J3B110048
Lucky Wiranata Kusuma
J3B210060

Disetujui oleh,

Dr. Ir. Tutut Sunarminto, M.Si


Pembimbing

Diketahui oleh,

Helianthi Dewi, S. Hut, M. Si.


Koordinator Program Keahlian

Tanggal Pengesahan:

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat
rahmat dan karunia-Nya, laporan Praktik Pengelolaan ini dapat diselesaikan.
Praktik Pengelolaan Ekowisata merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi
mahasiswa program keahlian Ekowisata, Direktorat Program Diploma, Institut
Pertanian Bogor. Praktik Pengelolaan dilaksanakan selama 14 hari efektif tanggal
27-12 juni 2012. Lokasi praktek di Wana Wisata Batu Kuda dengan judul laporan
Pengelolaan Ekowisata di Wana Wisata Batu Kuda, Kabupaten Bandung Utara
Praktek Pengelolaan sebagai salah satu bagian proses kegiatan pendidikan
dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terjun langsung di
lapangan guna mengamati, menyerap, dan mengimplementasikan pengetahuan
dan wawasan mengenai pengelolaan kawasan atau obyek wisata serta perusahaan
yang terkait dengan kegiatan ekowisata serta membuat perencanaan wisata yang
sesuai dengan keadaan lokasi dan meminimalisir dampak yang ditimbulkan
kepada lingkungan, pengunjung, masyarakat maupun pengelola kawasan.
Laporan praktik pengelolaan ekowisata ini menyajikan informasi mengenai
potensi kawasan, manajemen kawasan, kegiatan pengelolaan serta kendala yang
dihadapi dan solusi yang dipilih untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
Akhirnya, penyusun berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi para pembaca
dan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perbaikan pengelolaan wisata di
Wana Wisata Batu Kuda.
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa selama melakukan persiapan
hingga selesainya kegiatan praktik dan laporan ini telah mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Bapak Asper,
Bapak Aang, dan Bapak Dedi sebagai pembimbing lapangan kami yang selalu
memberikan bimbingan terbaik di lapangan. Ir. Tutut Sunarminto (Pembimbing
Laporan) yang telah sabar membimbing kami sehingga laporan ini tersusun
dengan baik. Dosen-Dosen Program Keahlian Ekowisata yang telah memberikan
materi yang sangat bermanfaat untuk Praktek Pengelolaan Ekowisata. Orang Tua
Kami yang telah mendoakan kami sehingga kami dapat menjalankan Praktek
Umum Ekowisata dan menyelesaikan laporan ini. Ibu Helianthi Dewi, M.Si
selaku Koordinator Program Keahlian Ekowisata serta segenap staff Kantor
Pengelolaan Wana Wisata Batu Kuda Bandungyang telah memberikan bimbingan
serta bantuan selama melaksanakan praktikum.

Bogor, Juli 2012

Penyusun

ii

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ..................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................. ix
1 PENDAHULUAN ................................................................................................. 1
1.1

Latar Belakang ........................................................................................ 1

1.2

Tujuan...................................................................................................... 1

1.3

Manfaat.................................................................................................... 2

2 KONDISI UMUM ................................................................................................. 3


2.1

Letak dan Luas ........................................................................................ 3

2.2

Sejarah Kawasan ..................................................................................... 5

2.3

Kondisi Fisik Kawasan............................................................................ 5


2.3.1 Topografi ....................................................................................... 6
2.3.2 Iklim ............................................................................................... 7
2.3.3 Geologi........................................................................................... 7
2.3.4 Hidrologi ........................................................................................ 8

2.4

Kondisi Biotik Kawasan.......................................................................... 9


2.4.1 Flora ............................................................................................... 9
2.4.2 Fauna ............................................................................................ 10

2.5

Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Sekitar Kawasan.......................... 11


2.5.1 Demografi Masyarakat ................................................................ 12
2.5.2 Budaya Masyarakat...................................................................... 14

Gambar 11 Kesenian Kuda Lumping di Desa Cibiru Wetan, Bandung Timur ....... 16
Gambar 12 Kesenian Benjang di Desa Cibiru Wetan, Bandung Timur .................. 17
2.5.3 Matapencaharian .......................................................................... 18
2.6

Prasarana, Sarana, dan Fasilitas ............................................................ 23

2.7

Aksesibilitas .......................................................................................... 24

2.8

Sumberdaya Wisata ............................................................................... 26

2.9

Potensi Wisata ....................................................................................... 27

3 METODE PRAKTIK .......................................................................................... 30


3.1

Waktu dan Lokasi Praktik ..................................................................... 30

3.2

Pendekatan Metode Praktik ................................................................... 30

3.3

Metode Pengumpulan Data ................................................................... 31

iii

3.4

Data yang Diambil ................................................................................ 32

4 HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................... 35


4.1

Sumberdaya dan Potensi Wisata Alam ................................................. 35


4.1.1 Flora ............................................................................................. 35
4.1.2 Fauna ............................................................................................ 36
4.1.3 Gejala Alam ................................................................................. 37

4.2

Sumberdaya dan Potensi Wisata Budaya .............................................. 37


4.2.1 Religi dan Kepercayaan ............................................................... 38
4.2.2 Bahasa .......................................................................................... 41
4.2.3 Sistem Pengetahuan ..................................................................... 42
Masuknya peralatan modern ke Desa Cibiru Wetan atau Kawasan
Wana Wisata Batu Kuda tidak menghilangkan tradisi lama
nenek moyak mereka terutama dalam bidang pengetahuan
bertaninya, mereka dalam menanam padi tetep memegang
amanah tradisi leluhur tanpa obat-obatan kimiawi dan selalu
berhasil panen setiap tahun, dengan memberikan kesempatan
untuk bernapas sejenak kepada bumi yang menghidupkan padipadian maka yang terjadi adalah panen yang selalu berhasil dan
leuit-leuit (tempat penyimpanan padi)yang tidak pernah
dihampiri hama. Bagi orang Sunda yang hidup di pedesaan leuit
memang bukan sesuatu yang asing, meski sekarang fungsinya
sudah tergerus zaman. Di masa lalu, leuit punya peran vital,
sebagai gudang penyimpanan gabah atau beras hasil panen. Pada
saat musim paceklik, simpanan gabah itu ditumbuk untuk
kemudian dijadikan pemenuhan makan sehari-hari..................... 42
Zaman modern sekarang leuit nyaris punah. Terlebih lagi di daerah
perkotaan, orang lebih menyukai sesuatu yang serba instan.
Dikatakan nyaris punah, karena memang masih terdapat
sebagian warga yang tetap mempertahankan fungsi leuit. Salah
satunya adalah warga adat yang menempati kaki Gunung
Manglayang. ................................................................................ 42
4.2.4 Sistem Kekerabatan (Ambilineal)............................................... 42
4.2.5 Sistem Organisasi ........................................................................ 44
4.2.6 Kesenian....................................................................................... 46
4.2.7 Peralatan Hidup............................................................................ 51
4.2.8 Kuliner ......................................................................................... 52
4.2.9 Material Heritage ........................................................................ 53

4.3

Sumberdaya dan Potensi Wisata Non Alami ........................................ 53

4.4

Manajemen Pengelolaan Kawasan atau Obyek Wisata ........................ 54

iv

4.4.1 Kebijakan dan Peraturan Pengelola ............................................. 54


4.4.2 Visi dan Misi Pengelolaan ........................................................... 55
4.4.3 Maksud dan Tujuan Pengelolaan ................................................. 56
4.4.4 Status dan Kepemilikan dalam Pengelolaan ................................ 57
4.4.5 Organisasi Pengelolaan ................................................................ 57
4.4.6 Pengelolaan Prasarana, Sarana, dan Fasilitas .............................. 59
Pengelolaan Prasarana, sarana dan fasilitas di kawasan Wana Wisata
batu kuda belum berjalan dengan baik. Cara mengelola
beberapa fasilitas seperti jalan setapak, tempat duduk, mushola,
tempat sampah, gazebo masih kurang diperhatikan oleh pihak
pengelola. ..................................................................................... 59

Permasalahan yang terjadi dengan pengelolaan sarana, prasarana serta


fasilitas yaitu adanya pungutan biaya oleh masyarakat yang turut
berperan dalam pengelolaan kepda pengunjung dalam
penggunaan fasilitas. Seharusnya biaya tersebut dipotong oleh
uang pengelolaan fasilitas, akan tetapi yang terjadi yaitu uang
yang seharusnya diutamakan untuk merawat sarana,prasarana
dan fasilitas langsung masuk kedalam upah masyarakat. Padahal tidak sedikit mas
4.4.7 Kerjasama dengan Pihak Lain ..................................................... 60
4.5

Kegiatan Pengelolaan Kawasan atau Obyek Wisata ............................. 62


4.5.1 Pengelolaan Parkir ....................................................................... 62
4.5.2 Pengelolaan Ticketing .................................................................. 63
4.5.3 Pengelolaan Fasilitas Wisata ....................................................... 63
4.5.4 Pengelolaan Kebersihan dan MCK .............................................. 69
4.5.5 Pengelolaan Distribusi dan Sirkulasi Pengunjung ....................... 69
4.5.6 Pengelolaan Sumberdaya Manusia .............................................. 70
4.5.7 Pengelolaan Sumberdaya Alam ................................................... 71
4.5.8 Pengelolaan Keamanan dan Keselamatan ................................... 74

4.6

Permasalahan Pengelolaan .................................................................... 75

4.7

Kuesioner Pengunjung atau Wisatawan ................................................ 77


4.7.1 Kualitas pelayanan terhadap pengunjung .................................... 77

4.7.2 Evaluasi kondisi sarana dan prasarana serta fasilitas ............................ 78


4.7.3 Sumber Informasi ........................................................................ 78
4.7.4 Karakteristik Pengunjung atau Wisatawan .................................. 78
4.7.5 Motivasi Pengunjung atau Wisatawan ......................................... 79
4.7.6 Persepsi Pengunjung atau Wisatawan.......................................... 79
4.8

Kuesioner Masyarakat ........................................................................... 81

4.8.1 Karakteristik Masyarakat ............................................................. 81


4.8.2 Persepsi Masyarakat .................................................................... 82
4.9

Kuesioner Pengelola .............................................................................. 82


4.9.1 Karakteristik Pengelola ................................................................ 82
4.9.2 Persepsi Pengelola ....................................................................... 83
4.9.3 Kinerja Pengelola ......................................................................... 84

5.1. Perencanaan Program Ekowisata .......................................................... 86


5.1.1 Program Wisata Harian dan Menginap ........................................ 86
Jelajah Desa Sekitar Batu Kuda ...................................................................... 86
5.1.2 Jejak Batu kuda ..................................................................................... 88
5.1.3 Rancangan Output ................................................................................. 92
6 KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 94
6.1

Kesimpulan............................................................................................ 94

6.2

Saran ...................................................................................................... 95

LAMPIRAN ............................................................................................................. 96

vi

DAFTAR TABEL

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Tingkat Pendidikan Desa Cibiru, Wetan


Karakteristik Golongan Umur Masyarakat
Pekerjaan Masyarakat Desa Cibiru, Wetan
Fasilitas, Sarana dan Prasarana di Kawasan Wana Wisata Batu Kuda
Jalur Aksesibilitas Menuju Kawasan Wana Wisata Batu Kuda
Kegiatan Selama Praktik Pengelolaan Ekowisata
Data yang Diambil
Fungsi Kawasan Wana Wisata Batu Kuda
Kondisi Fasilitas Wisata
Fasilitas Untuk Pengelola di Batu Kuda
Uraian Program Wana Wisata Batu KudaJelajah Desa Batu Kuda
Uraian Program Wana Wisata Batu KudaJejak Batu Kuda

13
14
22
23
25
30
32
56
63
86
87
89

vii

DAFTAR GAMBAR
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.

Peta Kawasan Wana Wisata Batu Kuda


3
Kawasan Wana Wisata Batu Kuda
4
Batu Kuda
5
Gunung Manglayang
6
Tanah Latosol di Kawasan Wana Wisata Batu Kuda
7
Selang Air Yang dihubungkan dari mata air ke desa
8
Pohon Pinus
10
Serangga di Kawasan Wana Wisata Batu Kuda
11
Anak-anak Desa Cibiru, Wetan
12
Tari Sisingaan di Desa Cibiru Wetan, Bandung Timur
15
Kesenian Kuda Lumping di Desa Cibiru Wetan, Bandung Timur
16
Kesenian Benjang di Desa Cibiru Wetan, Bandung Timur
17
Usaha Warung
19
Matapencaharian Penduduk (Berladang)
20
Matapencaharian Penduduk (Berternak)
21
Matapencaharian Penduduk (Pengrajin)
21
Aktivitas mencari pakan ternak
22
Aksesibilitas menuju Wana Wisata Batu Kuda
25
Keadaan Alam
26
Sisa Puing Sesajen
27
Kegiatan Camping di Batu Kuda
28
Kegiatan Wisata Alam Bersepeda dan Tracking di Wana WisataBatu Kuda
29
Pengambilan data Skunder
31
Flora di Kawasan Wana Wisata Batu Kuda
35
Flora di Wana Wisata Batu Kuda
35
Fauna Endemik Kawasan
36
Peta Kawasan Wana Wisata Batu Kuda
38
Kesenian Benjang
46
Tari Jaipong
48
Permainan Panjat Batang Pisang
50
Golok Sebagai Peralatan Hidup Memotong Kayu Bakat
52
Pais Lauk (Makanan Khas Sekitar)
52
Objek Dari Kawasan
53
Seminar Dengan ADM KPH Bandung Utara Mengenai Pengelolaan
54
Struktur Organisasi
58
Keadaan Fasilitas Mushola di Wana Wisata Batu Kuda
59
Air Minum Perhutani Kerjasama Bersama Al Masoem
60
Pengelolaan Ticketing Oleh Pihak LMDH
61
Tanda Masuk Camping Ground di Batu Kuda
61
Pengeloaan Parkir
62
Kegiatan Ticketing
63
Fasilitas MCK di Batu Kuda
64
Fasilitas Mushola di Batu Kuda
65
Fasilitas Loket Karcis di Batu Kuda
65

viii

45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.

Fasilitas Warung di Batu Kuda


Fasilitas Tempat sampah
Fasilitas Tempat Sampah di Batu Kuda
Fasilitas Basecamp di Batu Kuda
Fasilitas Shelter di Batu Kuda
Fasilitas Jalan Setapak di Batu Kuda
Pemanfaatan Air Bersih di Batu Kuda
Gerbang Masuk Kawasan
Tanaman Mendominasi di Batu Kuda (Pinus / Pinus merkusi)
Tanaman Buah di Batu Kuda
Fauna di Batu Kuda
Fauna di Batu Kuda (Anjing)
Gejala Alam di Batu Kuda (Jurang)
Kerusakan Fasilitas Akibat Corat-Coret
Wawancara Kuesioner Pengunjung
Presentase Jumlah Kunjungan
Kegiatan Wisata ( fun game )
Dampak Kegiatan Wisata (Sampah)
Masyarakat Sekitar Kawasan
Kuisioner Pengelola
Pengelola Kawasan
LMDH
Rancangan Design Booklet

66
66
67
67
68
68
69
70
71
72
72
73
73
76
77
79
80
81
82
83
84
85
93

ix

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Karakteristik Pengunjung

1
1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ekowisata merupakan suatu pengembangan konsep pariwisata yang


mengarah pada suatu perjalanan yang bertanggung jawab pada suatu destinasi
wisata yang mengacu pada tiga pilar yaitu ekologi, ekonomi dan sosial budaya.
Ekowisata erat kaitannya dengan kawasan yang bersifat alami dan dianggap
sebagai langkah strategis dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara lestari
dengan mempertahankan kearifan tradisional masyarakat lokal dalam realisasi
pengelolaan.
Batu Kuda merupakan wana wisata yang mengarah pada kosep
pengembangan ekowisata dan mengacu pada tiga pilar ekowisata dan memiliki
sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan secara lestari. Kawasan ini berada di
puncak Gunung Manglayang, Kabupaten Bandung. Nama Batu Kuda tersebut
diangkat berdasarkan mitos yang dipercaya oleh masyarakat sekitar kawasan,
Batu Kuda merupakan batu yang dahulunya kuda yang sering ditunggangi oleh
Prabu Layang Kusuma bersama istrinya. Kawasan Batu Kuda ini selain terkenal
dengan mitos yang beredar, juga memiliki kawasan Bumi Perkemahan yang ramai
dikunjungi oleh wisatawan khususnya pada hari Sabtu dan Minggu. Akan tetapi
walaupun memiliki objek yang menarik, namun kawasan ini kurang begitu
diketahui oleh masyarakat luas karena promosi yang tersedia masih cukup
terbatas, selain itu aksesibilitas menuju lokasi terbilang sulit dan cukup jauh dan
jalannya cukup berliku-liku.
Kawasan Wana Wisata Batu Kuda adalah kawasan hutan yang dimiliki oleh
Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Bandung Utara yang
dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Keunikan sumberdaya alam
berupa adanya situs Batu Kuda dan udara segar serta keindahan bentang alam
mendorong masyarakat untuk datang berwisata. Alasan inilah yang menjadi salah
satu dasar dikelolanya kawasan ini sebagai destinasi wisata, akan tetapi
pengelolaan wisata dikawasan belum termanajemen dengan baik sehingga masih
harus dilakukan beberapa langkah untuk memajukan kawasan Wana Wisata Batu
Kuda tersebut.
Perkembangan pengelolaan Wana Wisata Batu Kuda dapat dikatakan belum
maksimal karena kurangnya koordinasi antara pihak investor dengan Perum
Perhutani serta peran pemerintah setempat. Oleh karena itu diperlukan suatu
kajian yang mendalam mengenai pengelolaan wisata pada kawasan Wana Wisata
Batu Kuda.
1.2

Tujuan

Kegiatan Praktek Pengelolaan Ekowisata memiliki tujuan yang harus


dicapai. Tujuan yang ingin dicapai terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus.
Tujuan umum yang ingin dicapai agar mahasiswa mengetahui tentang kegiatan
pengelolaan yang berlangsung di lokasi Wana Wisata Batu Kuda. Sedangkan
tujuan khusus yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :

a. Memberikan pengetahuan dan wawasan kepada mahasiswa tentang


pengelolaan ekowisata di Wana Wisata Batu Kuda.
b. Mengetahui potensi wisata baik sumberdaya alam, manusia dan sumberdaya
wisata, serta sosial di Kawasan Wana Wisata Batu Kuda
c. Mengetahui sosial, budaya dan ekonomi masyarakat sekitar Kawasan Wana
Wisata Batu Kuda
d. Mengetahui karakteristik, persepsi dan motivasi dan presepsi pengunjung
wisata di Kawasan Wana Wisata Batu Kuda
e. Mengetahui karakteristik dan persepsi pengelola wisata di Kawasan Wana
Wisata Batu Kuda
f. Merancang konsep ekowisata, program wisata harian, bermalam, serta desain
media promosi wisata berupa booklet tentang wisata di Wana Wisata Batu
Kuda
1.3

Manfaat

Manfaat pelaksanaan praktek pengelolaan adalah menambah pengetahuan


bagi penyusun dalam mengelola kawasan Wana Wisata Batu Kuda. Manfaat
lainnya yaitu bagi pengelola sebagai bahan pertimbangan dalam perbaikan
pengelolaan wisata di Wana Wisata Batu Kuda.
a. Mengkaji dampak ekologi, ekonomi dan sosial budaya di Kawasan
b. Memberikan informasi terbaru mengenai kawasan kepada pengunjung serta
menjadi daya tarik bagi pengunjung.
c. Memberikan informasi bagi masyarakat sekitar dengan peluang kegiatatan
wisata dan bisnis.

2 KONDISI UMUM
2.1

Letak dan Luas

Wana Wisata Batu Kuda terletak di kaki Gunung Manglayang Desa Cibiru
Kecamatan Ujung Berung Bandung Utara. Letak wana wisata ini cukup jauh dari
akses jalan besar. Kawasan tersebut juga berbatasan dengan kawasan wisata
Kiara Payung. Cibiru Wetan adalah salah satu desa yang tergabung dalam
Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Pada mulanya
Desa Cibiru Wetan merupakan bagian dari Desa Cibiru, Kecamatan Ujungberung.
Namun, pemekaran atas desa itu yang dilakukan pada tahun 1982 pada gilirannya
membuat Cibiru Wetan, Cibiru Kulon, dan Cibiru Hlir menjadi desa tersendiri.
Dengan perkataan lain, Desa Cibiru dipecah menjadi tiga. Sementara itu,
Ujungberung itu sendiri termasuk dalam wilayah Kota Bandung. Sedangkan, Desa
Cibiru menjadi kecamatan yang termasuk dalam Kota Bandung. Secara geografis
desa ini berada di kawasan Gunung Manglayang, dengan batas-batas: sebelah
utara berbatasan dengan Gunung Manglayang itu sendiri; sebelah selatan
berbatasan dengan Desa Cibiru Kulon; sebelah barat berbatasan dengan Desa
Cibiru Wetan dan Desa Desa Cilengkrang; dan sebelah timur berbatasan dengan
Desa Cimekar. Desa ini tidak hanya berada di kaki tapi juga di lereng gunung,
sehingga wilayahnya tidak hanya berupa dataran rendah semata, tetapi juga
dataran tinggi (berbukit-bukit) yang mendominasinya.

Gambar 1 Peta Kawasan Wana Wisata Batu Kuda

Secara keseluruhan, luas desa ini mencapai 295 ha, dengan rincian:
perumahan penduduk (71,5 ha atau 24,24%), sawah (2 ha atau 0,67%),
tegalan/ladang (153,5 ha atau 45,93%), empang/kolam (1,5 ha atau 0,5%), kas
desa (12,5 ha atau 4,24%), lapangan (3 ha atau 1,01%), perkantoran pemerintah
(2,05 ha atau 0,69%), dan lain-lain4) (48,95 ha atau 16,59%) (Monografi Desa
Cibiru Wetan, 2005). (Potensi Desa Cibiru Wetan, Tahun 2005). Monografi
Desa bermakna bahwa luas wilayah Desa Cibiru Wetan sebagian besar (45,93%)
berupa tegalan/ladang yang terbentang di sekitar puncak Gunung Manglayang,
tepatnya di wilayah Kampung: Cikoneng I, II, III, dan Pamubusan. Sedangkan
luas wilayah Wana Wisata Batu Kuda adalah 20 ha, yang meliputi KPLH
Bandung Utara, BKPH Manglayang Barat, RPH Ujung Berung, Kabupaten
Bandung, Kecamatan Ujung Berung, Desa Cibiru Wetan. Luas wilayah Batu
Kuda mengalami perubahan pada tahun 2009 dan diperluas menjadi 40 ha berkat
kerjasama perhutani dengan masyarakat sekitar. Perluasan tersebut memberikan
dampak positif bagi Wana Wisata Batu Kuda tersebut karena masyarakat cukup
bergantung dengan pemanfaatan sumberdaya alam dan hayati baik berupa
tumbuhan maupun keikutsertaan masyarakat sebagai sumbedaya manusia atau
ikut berperan penting dalam pengelolaan.

Gambar 2 Kawasan Wana Wisata Batu Kuda

Luas kawasan Wana Wisata Batu Kuda terbagi menjadi beberapa zona-zona
seperti zona perkemahan yang cukup luas dan memiliki daya tampung sebanyak
100 pegunjung yang terletak di sebelah kanan pintu masuk kawasan serta zona
kemping kedua yang terletak di atas kiri kawasan yang memiliki daya tampung
lebih kecil. Kawasan Wana Wisata Batu Kuda selain memiliki tempat
perkemahan juga memiliki tempat outbound yang biasa digunakan untuk
bersepedah ataupun bermain ATP yang memiliki luasan 100 m.
Kawasan Wana Wisata Batu Kuda walaupun mengalami perluasan wilayah
akan tetapi tidak difungsikan dengan baik. Apabila dilakukan penataan dengan
baik, sangat memungkinkan kawasan wana wisata ini untuk lebih berkembang
dari sebelumnya

2.2

Sejarah Kawasan

Kawasan Batu Kuda dahulunya merupakan sebuah hutan yang belum


dikelola. Kawasan hutan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya, seperti mengambil kayu secara berlebihan yang berdampak
negatif kepada lingkungan sekitar. Banjir badang yang terjadi di kaki Gunung
Manglayang merupakan dampak negatif yang ditimbulkan dari hasil penebangan
kayu berlebih.
Permasalahan hutan tersebut telah merugikan masyarakat sendiri, sehingga
untuk penanganan pengelolaan kawasan diambil alih oleh perhutani. Tindakan
pengamanan dikerahkan beberapa polisi hutan yang bertugas untuk mengawasi
masyarakat sekitar apabila masih mengambil hasil hutan berupa kayu.
Kawasan hutan Batu Kuda dijadikan kawasan wisata pada tahun 1987
dengan nama batu kuda. Penamaan kawasan wisata batu kuda diambil dari nama
suatu batu yang berbentuk kuda dan dipercayai oleh masyarakat sekitar bahwa
batu tersebut dahulunya adalah kuda yang ditunggangi oleh Prabu Layang
Kusuma bersama istrinya Prabu Layang Sari. Kuda tersebut terperosok ke dalam
lumpur yang menyebabkan kuda Prabu berubah menjadi batu raksasa yang
menyerupai seekor kuda. Sehingga kawasan wisata Batu Kuda memiliki obyek
unggul yaitu batu kuda itu sendiri.

Gambar 3 Batu Kuda

Sejak peristiwa berubahnya kuda prabu menjadi batu, Prabu Layang


Kusuma mengambil keputusan untuk tinggal bertapa di sekitar batu kuda hingga
akhir khayatnya. Sejarah tersebut dipercaya oleh masyarakat sehingga kawasan
tersebut sampai sekarang masih digunakan sebagai tempat bertapa bagi seseorang
yang menginginkan sesuatu dari segi pangkat dan kesejahteraan.
2.3

Kondisi Fisik Kawasan

Kawasan Wana Wisata Batu Kuda memiliki ciri khas tersendiri dilihat dari
kondisi fisik kawasannya. Kondisi fisik kawasan terdiri dari topografi, iklim,
geologi serta hidrologi.

2.3.1 Topografi
Topografi adalah suatu tentang bentuk permukaan bumi dan objek lain.
Menentukan topografi di suatu kawasan secara akurat yang harus diperhatikan
yaitu permukaan tiga dimensi, jarak, ketinggian dan sudut dengan memanfaatkan
berbagai instrumen topografi. Seperti halnya Wana Wisata Batu Kuda terletak
pada ketinggian antara 1.150 - 1.300 m dpl. Morfologi wilayah pada umumnya
bergelombang dengan topografi kawasan 1000-1100 dpl.
Aliran lava yang meluap berkali-kali menyelimuti tubuh kerucut gunung.
Lapis demi lapis, lava membanjiri kerucut hingga membentuk gunung
berketinggian kira-kira 2.000 meter. Kerucut kecil itu adalah Gunung
Manglayang. Sekarang puncaknya mencapai 1.817 meter. Pada waktu yang sama,
di sebelah barat, diperkirakan Gunung Sunda purba, yang merupakan pendahulu
Gunung Tangkuban Perahu, masih aktif sebagai gunung api raksasa berketinggian
di atas 3.000 meter.

Gambar 4 Gunung Manglayang

Morfologi Gunung Manglayang berbentuk cukup unik. Bagian puncaknya


membentuk lekukan-lekukan seperti mahkota longsoran raksasa berdiameter 4-5
kilometer. Tiga buah lekukan-lekukan raksasa dengan lereng-lereng atas yang
terjal dapat dikenali. Satu di antaranya membentuk lembah dalam ke arah Bumi
Perkemahan Kiarapayung, lereng atas Jatinangor dan kawasan Batu Kuda.
Tekstur permukaan Gunung Manglayang tampak kasar jika dilihat dari jauh,
dari udara, atau melalui citra satelit. Lembah-lembahnya menoreh tajam
menghasilkan pola jaringan sungai dendritik, seperti ranting-ranting pohon, atau
jalinan urat saraf. Ciri demikian menunjukkan bahwa hanya proses erosi yang
bekerja di atas Gunung Manglayang. Tidak ada lagi produk-produk vulkanisme
yang menutupi torehan-torehan erosi yang mengukir kasar permukaannya.
Kemiringan lahan disekitar kawasan berkisar 45-750 dan nyaris tanpa jalur
yang mendatar sehingga cukup berpotensi akan adanya longsor. Tanah di sekitar
kawasan juga bergelombang dan cukup terjal. Namun hingga saat ini jalan terjal
tersebut masih dimanfaatkan pengunjung sebagai jalur pendakian yang
menantang.

2.3.2 Iklim
Kawasan Wisata Batu Kuda memiliki iklim sedang dengan suhu udara
antara 19 -270C. Kawasan ini mempunyai curah hujan 2.000 mm/tahun. Suhu
terendah yang pernah dirasakan yaitu 190C saat beberapa puluh tahun ke
belakang. Namun sekarang suhu terendah hanya mencapai 20 0 C dikarenakan
pengaruh dari kota dan akibat telah terjadinya global warming sehingga suhu
tidak sedingin puluhan tahun yang lalu.
Kawasan Wana Wisata Batu Kuda yang terletak di Desa Cibiru Wetan
beriklim tropis yang ditandai oleh adanya dua musim, yakni kemarau dan
penghujan. Musim kemarau biasanya dimulai pada bulan April sampai
September. Sedangkan, musim penghujan biasanya dimulai pada bulan Oktober
sampai dengan Maret. Curah hujannya rata-rata 3.060 milimeter per tahun.
Kawasan wisata Batu Kuda memiliki iklim yang baik dan sejuk, selain itu
juga lokasinya merupakan daerah yang berupa dataran tinggi dan lereng
pegunungan yang memiliki suhu relatif dingin baik di siang maupun malam hari.
Suhu relatif tersebut memberikan efek yang cukup baik bagi flora maupun fauna
disekitar kawasan. Ketika hujan, suhu relatif terasa lebih hangat dibanding suhu
biasanya. Suhu tersebut masih cukup stabil walaupun pengunjung yang datang
untuk bermalam dilokasi cukup sering mengeluhkan suhu udara yang dingin.
Akan tetapi suhu tersebut memberikan kesan kesejukan disiang dan malam hari.
2.3.3 Geologi
Geologi Gunung Manglayang tidak banyak diketahui penduduk sekitar
kawasan. Peta geologi yang disusun hanya digunakan untuk memetakannya
kawasan sebagai endapan gunung api muda. Gunung Manglayang diperkirakan
seumur dengan Gunung Tangkuban Perahu. Umurnya diperkirakan tidak lebih
tua dari 50.000 tahun. Namun, tidak seperti Gunung Manglayang, kerucut-kerucut
gunung api di timur Bandung diketahui merupakan kerucut sangat tua, seperti
Gunung Bukitjarian, Gunung Geulis, dan Gunung Calancang. Penentuan umur
dari lava basalt Cicadas dari Gunung Calancang di Parakanmuncang
menunjukkan umur 1,7 juta tahun. Gunung-gunung api ini boleh dikatakan telah
mati.

Gambar 5 Tanah Latosol di Kawasan Wana Wisata Batu Kuda

Jenis tanah di kawasan Wana Wisata Batu Kuda secara keseluruhan


termasuk ke dalam jenis latosol yaitu jenis tanah yang berbatu. Jenis tanah
latosol yaitu tanah yang banyak mengandung zat besi dan alumunium. Jenis tanah
tersebut merupakan tanah yang tuansehingga kesuburan tanah rendah. Warna
tanah tersebut merah hingga kuning dan sering disebut tanah merah. Tanah latosol
mempunyai sifat cepat mengeras bila tersingkap atau berada di udara terbuka.
Penyebaran tanah latosol berada di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung,
Jawa Barat (Bandung), Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Tengah,
Kalimantan Selatan dan Papua. Tumbuhan yang dapat hidup di tanah latosol
yaitu padi, palawija, sayuran, buah-buahan, karet, sisal, cengkih, kakao, kopi dan
kelapa sawit.
2.3.4 Hidrologi
Sumber air di Kawasan Wisata Batu Kuda berasal dari satu mata air yang
berada di Gunung Malayang. Pengairan dibantu dengan pipa-pipa sambungan
untuk membantu air di kawasan wisata seperti air untuk MCK dan Mushola.
Sumber mata air memiliki tingkat kekeruhan 0,5 dan kejernihan bisa mencapai
100 %. Pada lokasi juga terdapat penampungan air bersih yang hanya ditutut
dengan menggunakan seng, diperbolehkan bagi masyarakat ataupun pengunjung
yang mendatangi kawasan untuk memanfaatkan air tersebut. Air tersebut layak
untuk dikonsumsi, serta dapat langsung diminum tanpa dimasak, namun lebih
baik melalui proses pemasakan terlebih dahulu.

Gambar 6 Selang Air Yang dihubungkan dari mata air ke desa

Sumber air yang ada berupa mata air yang saat ini dimanfaatkan untuk
keperluan pengunjung dan masyarakat sekitar kawasan. Air bersih pada warga
masyarakat Desa Cibiru Wetan diperoleh melalui berbagai cara, bergantung letak
geografisnya. Para warga yang berada di daerah bawah (kaki Gunung
Manglayang) misalnya, mereka dapat membuat sumur gali atau pompa karena
kedalaman air tanah hanya sekitar 1030 meter. Akan tetapi, bagi para warga
yang berada di daerah tengah, lebih-lebih bagian atas (kawasan lereng

Gunung Manglayang), seperti Kampung Cikoneng I, II, dan III, hal itu sulit
dilakukan karena kedalaman air tanahnya bisa mencapai ratusan meter. Untuk itu,
mereka menggantungkan sepenuhnya kepada kemurahan alam, yaitu sumbersumber mata air yang berada di sekitar kawasan puncak Gunung Manglayang,
seperti: Lembah Neunduet, Seke Saladah, Gadog, dan Pangguyangan Badak 5).
Caranya adalah dengan membuat bak tampungan, kemudian dialirkan ke rumahrumah penduduk dan ladang melalui pipa atau selang plastik yang diameternya
sekitar 2 cm.
Air pada kawasan juga dimanfaatkan oleh berbagai perusahaan sebagai air
minum kemasan yang telah bekerjasama dengan pihak perhutani. Air tersebut
selain dimanfaatkan sebagai air minum kemasan dan kebutuhan dilokasi wisata,
air ini juga dimanfaatkan masyarakat sebagai pengairan keperumahan mereka.
Namun tidak semua masyarakat dapat memanfaatkan air yang terdapat dikawasan
karena keterbatasan sumberdaya.
2.4

Kondisi Biotik Kawasan

Kawasan Wana Wisata Batu Kuda selain memilik ciri khas dari segi
fisiknya, kawasan tersebut juga memiliki kondisi biotik di dalamnya. Kondisi
biotik kawasan terdiri dari flora dan faunanya.
2.4.1 Flora
Wana wisata ini terdiri dari hutan tanaman campuran (pinus, kaliandra dan
cemara). Potensi visual lansekap pada kawasan yang cukup menarik adalah hutan
tanaman campuran dan hutan alam, batu kuda (batu yang mirip kuda), hutan
pegunungan dan udara pegunungan yang sejuk.
Kawasan Wisata Batu Kuda memiliki banyak potensi berupa kekayaan
vegetasi yang hidup di dalamnya. Vegetasi yang berada di kawasan, hidup dengan
subur dan menyebar di setiap sisi kawasan hutan yang meliputi pinus, cemara,
mahoni, ekaliptus, suren, huni, beringin, karet, bambu, rasamala, saninten serta
kaliandra. Vegetasi lainnya yaitu berupa tanaman yang dapat dimanfaatkan hasi
buahnya nanti seperti nangka, pisang, dan jambu biji. Sedangkan terdapat juga
bunga yang semakin memperindah kawasan yaitu bunga sepatu dan mawar.
Sedangkan yang mendominasi di kawasan wisata yaitu pohon pinus yang
menyebar di setiap sisi kawasan.

10

Gambar 7 Pohon Pinus

Wana Wisata Batu Kuda memiliki kawasan yang terbagi menjadi petakpetak lahan yang berfungsi sebagai tempat pengembangan beberapa flora. Bagian
petak tersebut seperti petak 36D, 36B, 35A, 33A, 35B, 33A yang pada masingmasing petak berisi flora yang berbeda-beda. Contohnya terlihat pada petak 33 A
yang didominasi oleh pohon pinus dan pada petak 35B berisi pohon mahoni.
Kawasan Sekitar Wana Wisata Batu kuda didominasi oleh iklim tropis.
Oleh karena itu, berbagai jenis tanaman yang tumbuh di sana adalah tanaman
tropis, seperti: jambu biji, mangga, pisang, jeruk bali, jagung, kol, tomat, pecai,
dan singkong. Selain itu, ada pohon cemara atau pinus, jati, albasiah, baringtonia,
dan lain sebagainya. Jenis pohon itu mendominasi hutan lindung yang luasnya
mencapai 30 ha. Sementara itu, pepohonan seperti: nangka, alpukat, kopi, aren,
limus, tumbuh di pinggiran hutan lindung sebagai pembatas antara hutan lindung
dan pemukiman penduduk. Adanya pepohonan di lokasi adalah berkat kerjasama
antara Dinas Perhutani dan warga masyarakat setempat.
2.4.2 Fauna
Kawasan Wisata Batu Kuda selain memiliki potensi dari segi flora namun
memiliki potensi dari segi fauna. Tidak terdapat fauna endemik di kawasan
melainkan fauna secara umum yang terdapat di sana. Berbagai jenis fauna bisa
ditemukan, dari jenis aves, amfibi, mamalia, serangga, dan reptil. Jenis aves
sendiri ditemukan beberapa jenis burung-burung. Mamalia seperti babi hutan,
monyet, luak dan anjing. Jenis serangga seperti semut pohon, lebah, kupu-kupu
dan belalang. Sedangkan dari jenis reptil yang ditemukan seperti ulara, kadal dan
trenggiling. Secara keseluruhan fauna yang berada di dalam kawasan wisata tidak
ada yang berbahaya, babi hutan tidak pernah masuk ke dalam kawasan wisata
karena babi hutan hanya menetap di dalam hutan lindung.

11

Gambar 8 Serangga di Kawasan Wana Wisata Batu Kuda

Kawasan Wana Wisata Batu Kuda yang berada di Desa Cibiru Wetan
memang sebagian wilayahnya berupa hutan. Di masa lalu mungkin banyak
binatang buas seperti harimau. Namun, saat ini tidak ada hewan buas seperti
terdahulu yang ada adalah berbagai binatang yang tergolong serangga, unggas,
binatang melata (ular), dan babi hutan yang hidup lepas di hutan. Selain berbagai
binatang yang hidup secara lepas di hutan, ada juga berbagai binatang yang
dipelihara atau diternakkan, seperti: ayam, kambing, domba, kerbau, sapi-perah,
dan anjing
Fauna yang berada disekitar kawasan walaupun tidak berbahaya tetapi
terdapat beberapa fauna yang terkadang mengganggu pengunjung yang datang.
Walaupun tidak dikelola dengan baik namun masyarakat yang ikut serta dalam
pengelolaan sering memberitahu pengunjung bahwa fauna tersebut tidak akan liar
dan mengganggu pengunjung.
2.5

Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Sekitar Kawasan

Berdirinya kawasan wana wisata batu kuda memberikan beberapa pengaruh


bagi sosial, ekonomi dan pada budaya masyarakat sekitar baik positif maupun
negatif. Aspek sosial bagi masyarakat yaitu masyarakat sekitar sering
berkomunikasi langsung dengan pengunjung wana wisata batu kuda, dan beberapa
pengunjung sering bertanya seputar kawasan kepada masyarakat sekitar.
Masyarakat juga cukup ramah kepada pengunjung sehingga mereka sering
bertukar cerita.
Secara ekonomi terjadi perubahan yaitu seperti memberikan lapangan
pekerjaan contohnya dari sebagian masyarakat cukup banyak yang menjadi
pedagang dan tour guide atau petunjuk arah. Sedangkan sisi negatif dari ekonomi
belum dirasaka oleh masyarat karena harga bahan pokok ataupun kebutuhan
wisata masih terlampau stabil.
Budaya masyarakat sekitar kawasan masih terjaga hingga saat ini seperti
adanya pagelaran tari sisingaan dan upacara ruwat gunung yang diadakan untuk
tolak bala bencana banjir ataupun gempa yang berpusat di gunung Manglayang
dengan bantuan juru kunci. Sedangkan budaya luar yang masuk tidak memberikan
pengaruh yang buruk untuk masyarakat sekitar, karena masyarakat sekitar

12

menyerap perilaku budaya postif yang biasanya berasal dari pengunjung luar
kawasan.
2.5.1 Demografi Masyarakat
Kependudukan, Penduduk Desa Cibiru Wetan berjumlah 11.336 jiwa,
dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 3.115. Jika dilihat berdasarkan jenis
kelaminnya, maka jumlah perempuannya mencapai 7.721 jiwa (50,5%) dan
penduduk berjenis kelamin laki-laki 5.615 jiwa (49,5%) (Potensi Desa Cibiru
Wetan, 2005).

Gambar 9 Anak-anak Desa Cibiru, Wetan

Ukuran sebuah desa, jumlah penduduk Desa Cibiru Wetan tergolong besar.
Salah satu faktor penyebabnya adalah desa tersebut relatif dekat dengan pusatpusat keramaian (kota). Berbatasan dengan wilayah kota Bandung, keberadaan
desa yang relatif tidak jauh dari pusat-pusat keramaian ini pada gilirannya
membuat jumlah penduduknya berkembang pesat, khususnya di sekitar Jalan
Raya Cibiru, sehingga penduduk yang bermukim di wilayah tersebut lebih padat
ketimbang wilayah-wilayah lainnya. Dengan perkataan lain, wilayah desa bagian
bawah relatif padat ketimbang wilayah bagian tengah dan bagian atas (lereng
Gunung Manglayang), karena disamping bagian tengah dan atas relatif jauh dari
pusat keramaian, kedua wilayah ini merupakan areal perladangan dan kawasan
hutan lindung.
Secara administratif dan teritorial, Desa Cibiru Wetan terbagi ke dalam 15
kampung atau dusun dan 69 Rukun Tetangga (RT). Ke-15 kampung itu adalah:
Cikoneng I, Cikoneng II, Cikoneng III, Pamubusan, Cibangkonol, Jadaria, Cibiru
Tonggoh, Babakan Biru, Kudang, Sindang Reret, Warung Gede, Lio-Warung
Gede, Ciendog/SPG, Cibiru Indah, dan Cibiru Raya. Wilayah kampung sekaligus
merupakan wilayah Rukun Warga (RW). Oleh karena itu, jumlah kampung dan
RW sama (15 buah). Setiap kampung diketuai oleh seorang yang disebut sebagai
Ketua Kampung, kecuali Kampung: Cikoneng I, II, dan III. Ketiga kampung ini
dikepalai oleh seorang kepala kampung. Berdasarkan Potensi Desa Cibiru Wetan
Tahun 2005, jumlah rumah yang ada di desa tersebut ada 2.752 rumah. Tidak
semua rumah berdinding tembok, berlantai semen dan atau keramik. Akan tetapi,

13

ada juga rumah panggung yang berdinding kayu atau bambu dan berlantai kayu.
Rumah seperti ini jumlahnya sekitar 200-an buah (kurang dari 10%) dan berada di
bagian desa yang letaknya dekat dengan lereng Gunung Manglayang. Jarak antar
rumah bergantung daerah pemukimannya, pada daerah bawah umumnya jarak
antar rumah berdekatan, malahan, banyak yang berhimpitan. Namun, semakin ke
atas jarak antar rumah itu semakin renggang atau jauh. Pada daerah tengah
dan atas jarak antar rumah yang berupa pekarangan itu umumnya ditanami
tanaman buah dan tanaman hias.
Berdasarkan golongan usia, masyarakat sekitar Batu Kuda memiliki
presentase usia yang relatif didominasi oleh usia remaja. Bagi anakberusia 014
tahun terdapat 3.236 jiwa (28,54%), kemudian yang berusia 1554 tahuan ada
7.360 (64,93%), dan yang berusia 54 tahun ke atas 740 jiwa (6,52%). Ini
menunjukkan bahwa penduduk Desa Cibiru Wetan sebagian besar berusia
produktif.
Pendidikan, Sarana pendidikan yang terdapat di Desa Cibiru Wetan
meliputi: Taman Kanak-kanak (TK) sejumlah 4 buah), Sekolah Dasar (SD)
sejumlah 6 buah, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sejumlah 1 buah, dan
Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sejumlah 2 buah. Keempat TK tersebut
yang jumlah gurunya ada 16 orang dapat menampung 172 siswa. Kemudian,
keenam SD yang ada dapat menampung 1.461 siswa, dengan jumlah guru 45
orang. Sedangkan, kedua SLTA yang memiliki guru sejumlah 75 orang dapat
menampung 1.700 siswa. Sementara itu, jumlah guru dan siswa yang dapat
ditampung oleh sebuah SLTP yang ada belum diketahui karena pihak desa belum
mendatanya.
Gambaran di atas menujukkan bahwa sarana pendidikan yang dimiliki oleh
Desa Cibiru Wetan hanya sampai SLTA. Ini artinya, jika seseorang ingin
melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, maka mesti keluar dari
desanya. Meskipun demikian, sesungguhnya tidak perlu keluar dari Kota
Bandung, karena tidak jauh dari desa tersebut ada perguruan tinggi, seperti Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Jati yang berada di Cibiru dan
Universitas Padjadjaran (Unpad) di Jatinangor. Selain itu, di Kota Bandung
sendiri juga banyak perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri. Sekitar
kawasan batu kuda terdapat sekolah dasar yang letaknya cukup berdekatan dengan
rumah masyarakat sekitar. Sekolah tersebut dirasakan masyarakat cukup berguna
karena banyak anak mereka yang disekolahkan di sekolah tersebut.
Tabel 1 Tingkat Pendidikan Desa Cibiru, Wetan
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Tingkat Pendidikan
Belum sekolah
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD/sederajat
Tamat SLTP/sederajat
Tamat SLTA/sederajat
Tamat Akademi
Tamat Perguruan Tinggi
Jumlah
Sumber: Potensi Desa Cibiru Wetan, 2005

Jumlah
1.419
63
227
2.823
2.667
2.200
1.246
691
11.336

Persentase (%)
12,51
0,55
2,00
24,90
23,52
19,44
10,99
6,09
100,00

14

Tabel di atas memperlihatkan bahwa tingkat pendidikan yang dicapai oleh


penduduk Desa Cibiru Wetan sebagian besar SD/sederajat (24,90%). Sebagian
lainnya yang jumlahnya cukup besar adalah tamatan SLTP/sederajat (23,53%) dan
tamatan
SLTA/sederajat
(19,44%).
Sedangkan,
yang
menamatkan
Akademi/Perguruan Tinggi hanya 17,08%.
Jika dilihat berdasarkan golongan usia, maka penduduk yang berusia 014
tahun ada 3.236 jiwa (28,54%), kemudian yang berusia 1554 tahuan ada 7.360
(64,93%), dan yang berusia 54 tahun ke atas 740 jiwa (6,52%). Ini menunjukkan
bahwa penduduk Desa Cibiru Wetan sebagian besar berusia produktif. Golongan
umur tersebut secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2 Karakteristik Golongan Umur Masyarakat
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Golongan Umur
04
59
1014
1519
2024
2529
3034
3539
4044
4549
5054

Jumlah
1.049
978
1.209
1.315
1.362
1.292
770
716
626
602
677

Persentase (%)
9,25
9,62
10,66
11,60
12,01
11,39
6,79
6,31
5,52
5,31
5,97

2.5.2 Budaya Masyarakat


Budaya masyarakat sekitar kawasan masih terjaga hingga saat ini seperti
adanya pagelaran tari sisingaan, kuda lumping dan kesenian Benjang. Sedangkan
budaya luar yang masuk tidak memberikan pengaruh yang buruk untuk
masyarakat sekitar, karena masyarakat sekitar menyerap perilaku budaya postif
yang biasanya berasal dari pengunjung luar kawasan. Perilaku budaya luar yang
positif dan diserap oleh masyarakat yaitu ketika diadakan pagelaran musik atau
band masa kini, masyarakat cukup antusias dengan adanya pagelaran musik
tersebut. Namun mereka juga tidak meninggalkan budaya lama mereka, dan
justru mereka bertukar cerita mengenai budaya yang sudah ada di daerah mereka
kepada pengunjung yang datang khususnya dari luar kawasan. Berikut kesenian
yang meruapakan budaya masyarakat sekitar.

15

a. Tari Sisingaan

Gambar 10 Tari Sisingaan di Desa Cibiru Wetan, Bandung Timur


Tari sisingaan merupakan suatu kesenian yang berada di kawasan sekitar
Batu Kuda. Tarian tersebut sama seperti kesenian sisingaan pada umumnya. Jika
terdapat suatu acara besar seperti khitanan ataupun pernikahan maka kesenian
tersebut tidak tertinggal untuk ditampilkan kepada khalayak ramai.
Tari sisingaan merupakan salah satu jenis kesenian yang berasal dari Jawa
Barat yang berupa keterampilan memainkan tandu berisi boneka singa
berpenunggang. Tarian tersebut memiliki hubungan yang erat dengan bentuk
perlawanan rakyat terhadap penjajah lewat binatang Singa kembar. Singa kembar
merupakan lambang dari penjajah Belanda.
Pertunjukan Sisingaan pada dasarnya dimulai dengan tetabuhan musik yang
dinamis, lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh penari pengusung sisingaan,
lewat gerakan. Tari sisingaan di dalam perkembangannya, musik pengiring lebih
dinamis dan melahirkan musik Genjring Bonyok dan juga Tardug. Pola penyajian
Sisingaan meliputi :
1.
Tatalu (tetabuhan, arang-arang bubuka) atau keringan
2.
Kidung atau kembang gadung
3.
Sajian Ibingan di antaranya solor, gondang, ewang (kangsreng), catrik,
kosong-kosong dan lain-lain
4.
Atraksi atau demo, biasanya disebut atraksi kamonesan dalam pertunjukan
Sisingaan yang awalnya terinspirasi oleh atraksi Adem Ayem (genjring
akrobat) dan Liong (barongsay)
5.
Penutup dengan musik keringan.
Ada beberapa makna yang terkandung dalam seni pertunjukan Sisingaan.
Makna yang terkandung meliputi a) Makna sosial, masyarakat percaya bahwa
jiwa kesenian rakyat sangat berperan dalam diri mereka, seperti egalitarian,
spontanitas, dan rasa memiliki dari setiap jenis seni rakyat yang muncul. b)
Makna teatrikal, dilihat dari penampilannya Sisingaan tak diragukan lagi sangat
teatrikal, apalagi setelah ditambahkan berbagai variasi, seperti jajangkungan. c)
Makna komersial, karena Sisingaan mampu meningkatkan kesejahteraan
masyarakat maka antusiasme munculnya sejumlah puluhan bahkan ratusan
kelompok Sisingaan dari berbagai desa untuk ikut festival, menunjukkan peluang

16

tersebut, karena si pemenang akan mendapatkan peluang bisnis yang


menggiurkan. d) Makna universal, dalam setiap etnik dan bangsa seringkali
dipunyai pemujaan terhadap binatang Singa (terutama Eropa dan Afrika),
meskipun di Jawa Barat tidak terdapat habitat binatang Singa namun dengan
konsep kerkayatan dapat saja Singa muncul bukan dihabitatnya dan diterima
sebagai miliknya, terbukti pada Sisingaan. e) Makna Spiritual, dipercaya oleh
masyarakat untuk keselamatan (salametan) atau syukuran.
b. Kuda Lumping

Gambar 11 Kesenian Kuda Lumping di Desa Cibiru Wetan, Bandung Timur

Desa Cibiru Wetan yang terletak di kaki Gunung Manglayang, Kabupaten


Bandung, Jawa Barat, masih terkenal dengan adanya kesenian kuda lumping yang
memeriahkan berbagai hajatan atau khitanan. Kegemaran terhadap seni tersebut
biasanya berlangsung secara turun-temurun. Kegiatan yang berhubungan dengan
kuda lumping maupun kuda renggong berpusat di beberapa tempat yang sudah
dikenal sebelumnya, misalnya saja kuda renggong yang dikenal banyak di daerah
Sumedang. Kuda lumping masih sering muncul keberadaannya di sekitar
Bandung Timur, konon katanya kesenian tersebut berlangsung secara turuntemurun dari leluhur mereka.
Kesenian tersebut biasanya dilakukan oleh warga yang melakukan hajatan
(sunatan). Biasanya diramaikan dengan bunyi-bunyian terompet dan gendang dan
bila bunyi-bunyian tersebut terdengar penduduk sekitar, hal tersebut menandakan
ada suatu keramaian, lantas hampir seluruh penduduk desa di kaki gunung
tersebut tumpah ruah di depan rumah milik seorang warga yang akan menggelar
acara hajatan tersebut.
Sejak puluhan tahun silam atau mungkin lewat, khitanan di desa memang
tak pernah lepas dari sebuah tradisi. Tradisi tersebut yakni upacara memandikan
dan mengarak pengantin sunat atau anak yang akan dikhitan. Tradisi tersebut
diawali dengan pembacaan mantra penolak bala oleh salah seorang tetua desa agar
prosesi khitanan berjalan lancar dan sang anak terhindar dari berbagai gangguan
dari Batara Kala.
Antusiasme penonton yang sebagian besar warga pun meningkat. Kesenian
kuda lumping yang dipertontonkan sanggar kuda lumping pun kerapkali diwarnai

17

berbagai atraksi magis. Unjuk kebolehan tersebut semuanya dalam pengawasan


ahlinya atau disebut juga dengan pawang. Para penduduk biasanya mempercayai
pawang tersebut memiliki kemampuan supranatural tinggi. Apalagi pemimpin
sanggar kuda lumping tersebut biasanya cukup lama melatih anak-anak asuhnya
untuk bermain kuda lumping dengan berbagai atraksi menakjubkan.
Keramaian kuda lumping mencapai puncak ketika para pemain tampak
kesurupan. Pemain dalam keadaan tanpa sadar, mereka melakukan hal-hal yang
tak wajar seperti memakan ayam hidup-hidup atau beling (pecahan kaca). Hanya
pawanglah yang nantinya dapat menghentikan segala atraksi tersebut, seperti hal
memulainya. Para pemain kuda lumping dituntun untuk berbaring di atas tikar.
Selanjutnya, pawang menyelimuti seluruh tubuh mereka dengan selembar kain.
Setelah membacakan mantra, para pemain kuda lumping itu kembali sadar
sediakala dan seolah tak pernah terjadi apa-apa
c. Seni Benjang

Gambar 12 Kesenian Benjang di Desa Cibiru Wetan, Bandung Timur

Benjang adalah jenis kesenian tradisional Tatar Sunda, yang hidup dan
berkembang di sekitar Kecamatan Ujungberung, Kabupaten Bandung hingga saat
kini. Seni Benjang dalam pertunjukannya, selain mempertontonkan tarian yang
mirip dengan gerak pencak silat, juga dipertunjukkan gerak-gerak perkelahian
yang mirip gulat.
Kesenian tradisional Sunda pada umumnya yang selalu mempergunakan
lagu untuk mengiringi gerakan-gerakan pemainnya, demikian pula dalam seni
benjang lagu memegang peranan yang cukup penting dalam menampilkan seni
benjang. Lagu Rincik Manik dan Ela-Ela digunakan saat pemain benjang akan
melakukan gerakan yang disebut dogong, yaitu permainan saling mendorong
antara dua pemain benjang dengan mempergunakan halu (antan) dalam sebuah
lingkaran atau arena. Pemain yang terseret ke luar garis lingkaran dalam dogong
itu dinyatakan kalah.
Gerakan dogong tadi kemudian berkembanglah gerakan seredan yaitu saling
desak dan dorong seperti permainan sumo Jepang tanpa alat apa pun. Aturan
dalam permainan tersebut, yang terdorong ke luar lingkaran dinyatakan kalah.
Gerak seredan berkembang menjadi gerak adu mundur. Gerakan tersebut yang

18

dipergunakan adalah pundak masing-masing, jadi tidak mempergunakan tangan


atau alat apa pun. Selain itu, ada pula yang disebut babagongan, yaitu gerakan
atau ibingan para pemain yang mempertunjukkan gerakan mirip bagong (babi
hutan) dan dodombaan yaitu gerakan atau ibing mirip domba yang sedang
berkelahi adu tanduk.
Peraturan untuk babagongan, dogong, seredan maupun adu mundur dan
dodombaan adalah melarang pemain menggunakan tangan namun karena
seringnya terjadi pelanggaran, terutama oleh pemain yang terdesak, tangan pun
tak terhindarkan sering turut sibuk, meraih dan mendorong. Oleh karena itu,
dalam peraturan selanjutnya tangan boleh dipergunakan dan terciptalah permainan
baru yang disebut genjang.
Benjang sebagai perkembangan dari permainan adu munding (kerbau), lebih
mengarah pada permainan gulat. Gerakan Benjang di dalamnya terdapat gerakan
piting (menghimpit) yang dilengkapi dengan gerak-gerak pencak silat. Apabila
diperhatikan, bentuk dan gerakan seni genjang ini termasuk seni gulat tradisional.
Tidak ada peraturan khusus mengenai lawan atau pemain, baik berat badan,
maupun tinggi rendahnya pemain serta syarat-syarat lainnya. Sebagai
pertimbangan hanyalah keberanian dan kesanggupan menghadapi lawan.
Peraturan satu-satunya adalah apabila lawan tidak dapat membela diri dari
himpitan lawannya dalam keadaan terlentang, dalam keadaan demikian maka
pemain tersebut dinyatakan kalah. Selanjutnya permainan terus berjalan dengan
silih berganti pasangan. Akhirnya, istilah genjang berubah menjadi benjang.
Waditra yang dipergunakan adalah terebang, kendang, bedug, tarompet dan
kecrek. Lagu-lagu yang dibawakan di antaranya Kembang Beureum, Sorong
Dayung, dan Renggong Gancang. Pertunjukkan diselenggarakan di tempat
terbuka seperti halaman rumah dan lapangan. Pertunjukan dimulai pada malam
hari pukul 20.00.
Pertunjukkan benjang dalam perkembangannya, dilengkapi dengan kesenian
lain seperti badudan, kuda lumping, bangbarongan, dan topeng benjang. Seni
benjang kemudian melebar hingga ke Desa Cisaranten Wetan, Desa Cisaranten
Kulon, Kecamatan Buahbatu, Kecamatan Majalaya, dan Kecamatan Cicadas,
Kota Bandung.
Seni Benjang memiliki suatu keistimewaan disamping mempunyai teknikteknik kuncian yang mematikan, benjang mempunyai teknik yang unik dan cerdik
atau pada keadaan tertentu bisa juga dikatakan licik dalam hal seni beladiri,
misalnya dalam teknik mulung yaitu apabila lawan akan dijatuhkan ke bawah,
maka ketika posisinya di atas, lawan yang di angkat tadi dengan cepat merubah
posisinya dengan cara ngabeulit kaki lawan memancing agar yang menjatuhkan
mengikuti arah yang akan dijatuhkan, sehingga yang mengangkat posisinya
terbalik menjadi di bawah setelah itu langsung yang diangkat tadi mengunci
lawannya sampai tidak berkutik.
2.5.3 Matapencaharian
Mayoritas penduduk di sekitar kawasan berasal dari etnik sunda. Sebagian
besar masyarakat (kurang lebih 75%) di sekitar kawasan Wana Wisata Batu Kuda
bermata pencaharian di bidang pertanian (Land Based Activities) dan perternakan.
Namun yang lebih mendominasi yaitu dibidang perternakan sebannyak 40 %
Secara ekonomi terjadi perubahan yaitu seperti memberikan lapangan pekerjaan

19

contohnya dari sebagian masyarakat cukup banyak yang menjadi pedagang dan
tour guide atau petunjuk arah. Sedangkan sisi negatif dari ekonomi belum
dirasaka oleh masyarat karena harga bahan pokok ataupun kebutuhan wisata
masih terlampau stabil.

Gambar 13 Usaha Warung

Mata pencaharian yang dilakukan oleh warga masyarakat kampung


Cikoneng diluar kawasan lingkungannya cukup bervariasi. Bervariasinya jenis
mata pencaharian itu sangat erat kaitannya dengan letak desa yang langsung
berbatasan dengan wilayah kota, yaitu Kota Bandung yang tidak hanya sebagai
pusat pemerintahan, tetapi juga pusat-pusat yang lain, termasuk
ekonomi/perdagangan. Selain itu, tidak jauh desa ini (kurang lebih 410 Km),
tepatnya di daerah Cilengkarang, Rancaekek, dan Ujungberung sendiri,
bermunculan berbagai macam industri, antara lain tekstil.
Peranan Kota Bandung sebagai pusat berbagai kegiatan, ditambah juga dengan
letaknya yang tidak jauh dengan kawasan industri, tentu akan berdampak baik
pada usaha yang dilakukan oleh warga masyarakat desa-desa yang ada di
sekitarnya, termasuk Desa Cikoneng. Oleh sebab itu, mata pencaharian yang
dilakukan oleh warga masyarakat Desa Cikoneng cukup beragam. Walaupun
demikian, mata pencaharian di sektor pertanian (petani, buruh tani, dan peternak)
merupakan yang terbesar. Selain itu, ada juga masyarakat yang bermata
pencaharian sebagai pengrajin. Keragaman mata pencaharian masyarakat
kampung Cikoneng diantaranya adalah :
Berladang. Berdasarkan Potensi Desa Cibiru Wetan Tahun 2005, penduduk
yang bekerja di sektor pertanian (perladangan) tercatat 1.597 orang. Dari jumlah
itu sebagian besar (1.051 orang atau 65,81%) mempunyai tanah perladangan.
Sedangkan, selebihnya (546 orang atau 34,19%) tidak memilikinya. Dari jumlah
yang memiliki tanah perladangan itu sendiri hanya sebagian kecil yang ladangnya
mencapai 1 Ha lebih (20 orang atau 1,25%). Selebihnya (1.031 orang atau
64,56%) adalah peladang yang pemilikannya kurang dari 1 Ha. Meskipun
demikian, yang sama sekali tidak memiliki tanah perladangan dapat saja
menggarap perladangan melalui berbagai cara. Misalnya, sistem sewa dan atau
maro (nengah). Jika cara yang diambil adalah sistem sewa, maka untuk 100

20

tumbak (satu tumbak sama dengan 14 meter persegi) penyewa harus membayar
sejumlah Rp50.000,00 per sekali penanaman. Namun, jika yang diambil dalam
maro atau nengah adalah sistem bagi hasil, maka modal penggarapan dibagi dua,
tetapi yang menggarap adalah penengah. Hasilnya dibagi dua antara pemilik dan
penengah.
Kawasan kaki Gunung Manglayang banyak dijumpai areal perladangan,
termasuk di sebagian wilayah Desa Cibiru Wetan, tepatnya di Kampung Cikoneng
I, II, dan III. Keempat kampung tersebut memang letaknya di kawasan kaki
Gunung Manglayang. Kemiringan tanahnya yang cukup tajam ditambah dengan
keterbatasan sumber airnya pada gilirannya membuat warga setempat sulit untuk
mengusahakan pertanian dengan sistem irigasi (sawah). Oleh karena itu, mereka
melakukan perladangan karena tanaman ladang tidak membutuhkan air yang
begitu banyak dibanding sawah. Sedangkan, jenis tanaman yang dibudidayakan
oleh mereka adalah padi ladang, cabe, jagung, kubis, dan kopi. Kegiata
masyarakat dalam berladang dapat terlihat pada gambar.

Gambar 14 Matapencaharian Penduduk (Berladang)

Penjualan berbagai hasil panen perladangan umumnya melalui tengkulak


yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai bandar. Bandar dapat
dikategorikan berdasarkan apa yang diperjualbelikan. Dengan demikian, ada
bandar jagung, sayur-mayur, buah-buahan, dan lain sebagainya. Mereka keluarmasuk kampung sehingga tahu persis masa-masa panen. Selain itu tidak hanya itu
saja, mereka juga mengetahui peladang yang langsung menjual hasil panennya
dan peladang yang menjualnya dikemudian hari.
Beternak. Warga Kampung Cikoneng I, II, dan III yang tergabung dalam
Desa Cibiru Wetan tidak hanya berladang, tetapi juga berternak. Ternak yang
diusahakan oleh mereka adalah sapi-perah, ayam, domba, dan kerbau. Usaha yang
pada mulanya hanya merupakan sampingan ini lama-kelamaan menjadi penting,
sejak kawasan puncak Gunung Manglayang dilanda longsor. Kelongsoran yang
terjadi tahun 1977 pernah membuat sebagian besar areal perladangan menjadi
rusak. Pihak pemerintah menganggap bahwa longsornya kawasan itu disebabkan
oleh gundulnya hutan karena banyaknya areal perladangan, sehingga ketika hujan
lebat tidak ada pepohonan yang menahannya, lalu terjadilah kelongsoran. Untuk
itu, agar tidak terjadi longsor lagi, setahun kemudian (1978) pemerintah
menjadikan wilayah sekitar puncak Gunung Manglayang sebagai kawasan hutan
lindung. Hutan lindung itu, 30 Ha diantaranya, berada di wilayah Desa Cibiru
Wetan, tepatnya di Kampung Cikoneng I. Kemudian, agar warga kampung yang
bersangkutan secara bertahap meninggalkan usahanya sebagai peladang, maka
pemerintah menyediakan kredit pemilikan sapi-perah melalui Bank Rakyat

21

Indonesia (BRI) yang pelaksanaannya diserahkan Koperasi Unit Desa (KUD)


yang berada di Cilengkrang. Mata pencaharian berternak masyarakat dapat terlihat
pada gambar.

Gambar 15 Matapencaharian Penduduk (Berternak)

Tahun demi tahun usaha di bidang peternakan ini, khususnya sapi-perah,


menunjukkan keberhasilan, sehingga sedikit demi sedikit banyak warga yang
mulai meninggalkan usahanya sebagai peladang, karena hasilnya lebih
menjanjikan ketimbang berladang. Pada saat penelitian ini dilakukan jumlah sapiperah yang berada di desa Cikoneng I mencapai 1.424 ekor, dengan produksi
sekitar 4.500 liter per hari.
Pengrajin. Selain dibidang pertanian dan perternakan sapi. Terdapat
masyarakat yang memiliki mata pencaharian sebagai pengerajin peralatan dapur.
Hasil kerajinan tangan mereka sudah dipasarkan hingga keluar bandung. Hal ini
cukup membatu masyarakat dalam perekonomian. Adapun masyarakat yang
hanya ikut dalam pengelolaan wana wisata batu kuda dan tidak memiliki mata
pencaharian lain serta sangat bergantung dengan kawasan tersebut.

Gambar 16 Matapencaharian Penduduk (Pengrajin)

Mayoritas penduduk di sekitar kawasan berasal dari etnik sunda. Sebagian


besar masyarakat (kurang lebih 75%) di sekitar kawasan Wana Wisata Batu Kuda
bermata pencaharian di bidang peternakan dan pertanian , sehingga memerlukan
lahan dalam pelaksanaan kegiatannya sehari hari. Masyarakat sekitar kawasan

22

bermatapencaharian sebagai peternak sudah sejak lama. Hewan yang diternakan


yaitu sapi.

Gambar 17 Aktivitas mencari pakan ternak

Jenis-jenis mata pencaharian yang dilakukan oleh warga masyarakat Desa


Cibiru Wetan sangat beragam. Mereka tidak hanya bertumpu pada sektor
pertanian, sebagaimana lazimnya sebuah desa. Akan tetapi, ada yang bekerja
sebagai pegawai negeri di berbagai instansi pemerintah, seperti: kelurahan,
kecamatan, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lain sebagainya. Kemudian,
ada juga yang berjualan di Pasar Ujungberung, Cileunyi, dan di rumah sebagai
pedagang kelontong. Dan, ada juga yang membuat keranjang bambu atas pesanan
perusahaan kecap dan para petani sayur yang ada di Lembang. Selain itu, masih
banyak jenis matapencaharian lainnya, seperti: penjahit, montir, peternak,
peladang, dan lain sebagainya. Berikut merupakan tabel presentase
matapencaharian masyarakat sekitar kawasan :
Tabel 3 Pekerjaan Masyarakat Desa Cibiru, Wetan
No
Pekerjaan
1
Pegawai Negeri
2
Petani
3
Buruh Tani
4
Buruh/swasta
5
Pengrajin
6
Pedagang/warung
7
Penjahit
8
Peternak
Sumber: Potensi Desa Cibiru Wetan, 2005

Presentase
346
204
532
472
68
196
5
861

Peranan Kota Bandung sebagai pusat berbagai kegiatan, ditambah dengan


relatif tidak jauhnya dengan kawasan industri, tentunya akan berimbas pada
usaha yang dilakukan oleh warga masyarakat desa-desa yang ada di sekitarnya,
termasuk Desa Cibiru Wetan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika mata
pencaharian yang digeluti oleh warga masyarakat Desa Cibiru Wetan cukup
beragam, sebagaimana yang terlihat pada tabel di atas. Walaupun demikian, mata
pencaharian di sektor pertanian (petani, buruh tani, dan peternak) merupakan yang
terbesar. Jumlah keseluruhannya mencapai 1.597 jiwa (58,80%).

23

2.6

Prasarana, Sarana, dan Fasilitas

Fasilitas wisata yang disediakan guna memberi kenyamanan dan kepuasan


bagi pengunjung. Fasilitas tersebut antara lain adalah papan petunjuk, loket karcis,
jalan setapak, MCK, instalasi air, mushola,bangku, shelter, tempat parkir, tempat
sampah, gapura, dan papan nama. Prasarana, sarana, dan fasilitas sebagian besar
diperoleh dari Perhutani dan dibuat dengan bantuan masyarakat sekitar kawasan.
Tabel 4 Fasilitas, Sarana dan Prasarana di Kawasan Wana Wisata Batu Kuda

No.

1.

3.

Nama
Prasarana,
Sarana
atau
Fasilitas
Papan
Petunjuk
Arah

Jalan
Setapak

Gambaran Umum

Papan petunjuk arah yang


menginformasikan
dimana
letak suatu obyek beserta
jaraknya namun ada sebagian
papan
petunjuk
tidak
mencantumkan jarak sesuatu
yang akan dituju. Petunjuk arah
dibuat dari bahan kayu dan
seng yang ditulis menggunakan
cat
berwarna,
sebagian
berwarna putih dengan tulisan
berwarna hitam dan berwarna
hijau dengan tulisan berwarna
putih. Jumlahnya +4 buah
papan petunjuk arah yang
diletakkan di pohon-pohon
pinus yang menyebar di
kawasan.
jalan setapak terdapat dua tipe.
Tipe pertama jalan setapak
diberi bebatuan dengan tujuan
agar tidak tergenang air, jalan
setapak berbatu tersebut berada
di sepanjang jalan mulai dari
loket karcis pertama sampai
dengan tempat parkir. Tipe
kedua
jalan setapak yang
dibiarkan saja beralaskan tanah
dengan tujuan untuk lebih
menambah
keasrian
dan
kealamian tempat tersebut.
Jalan setapak tipe kedua
terletak di dalam kawasan.

Dokumentasi

24

Nama
Prasarana,
Sarana
atau
Fasilitas
Mushola

Bangku

Bangku terbuat dari bahan


kayu atau batang kayu yang
permukaannya
dihaluskan
sehingga bagian atas yang
diduduki berbentuk setengah
lingkaran.

Gapura

Kawasan Batu Kuda juga


memiliki fasilitas gapura dan
papan nama kawasan. Papan
nama terbuat dari bahan kayu
yang backgroundnya dicat
berwarna hijau dengan tulisan
berwarna putih dan terletak
digantung pada gapura. Terbuat
dari bahan kayu sebagai tanda
bahwa
pengunjung
telah
memasuki kawasan batu kuda.

Tempat
duduk

Terbuat dari bambu yang


biasanya terletak di dekat
warung dalam kawasan wisata.

Tempat
sampah

Tempat sampah terbuat dari


semen.

No.

2.7

Gambaran Umum

Dokumentasi

Fasilitas mushola yang terbuat


dari bahan semen dengan
jendela terbuat dari kaca.
Mushola memiliki ukuran 3 x3
meter. Letaknya dekat dengan
MCK dan basecamp yang
terdapat di kawasan. Letaknya
dekat dengan MCK dengan
tujuan agar pengguna lebih
mudah untuk berwudhu dan
langsung melakukan ibadah.

Aksesibilitas

Kawasan Wana Wisata Batu Kuda dapat dicapai dengan Kecamatan Ujung
Berung (9 km), Cicadas (13 Km), dan dari Kabupaten atau Kota Bandung (20
Km), dan dari Garut (50 Km). Kondisi jalan umumnya beraspal dan baik sehingga
relatif dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Sarana
transportasi umum yang ada berupa kendaraan ojeg dan colt carteran. Akses
termudah untuk mencapai wilayah ini adalah apabila menggunakan jalan masuk
melalui pangkalan ojeg (sebelah kiri) sebelum Terminal Cileunyi setelah habis

25

jalan percobaan (jalan dua arah) dari arah Kota Bandung. Dengan Patokan
pangkalan ojeg dan mengambil jalan lurus sepanjang 8 km, maka ujung jalan
merupakan gerbang utama Wana Wisata Batu Kuda. Keadaan jalan dari
pangkalan ojeg menuju pintu gerbang kawasan merupakan jalan beraspal yang
rusak dan banyak ditemukan lubang-lubang karena telah lama aksesibilitas
tersebut tidak diperbaiki, sehingga aksesibilitas cukup menantang dengan keadaan
jalan yang rusak tersebut. Berikut merupakan gambaran aksesibilitas menuju
kawasan Wana Wisata Batu Kuda :

Gambar 18 Aksesibilitas menuju Wana Wisata Batu Kuda


Tabel 5 Jalur Aksesibilitas Menuju Kawasan Wana Wisata Batu Kuda

No

Jalur

Terminal
Cicaheum
Cileunyi
Cinunuk Indah

2
3

Angkot

Jarak
Lama
20 Km

Waktu
Tempuh
1 Jam

Rp. 3.000,-

Damri
Ojek

11 Km
9 Km

30 Menit
45 Menit

Rp. 3.000,Rp. 10.000,-

Alat trasnportasi

Biaya

Kawasan wisata Batu Kuda apabila ditempuh dari kota Bandung bisa
memakan waktu selama 2 jam, Apabila para pengunjung ingin ke lokasi dengan
menggunakan kendaraan umum bisa menggunakan bus Damri, pengunjung hanya
mengeluarkan uang sebesar Rp 3.000,00 berhenti di gang desa Cibiru Wetan dan
melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojeg. Dari pangkalan ojeg
menempuh perjalanan selama 8 km yang memakan waktu selama 1 jam dari
pangkalan ojeg sampai kawasan wisata. Biaya yang dikeluarkan menggunakan
ojeg hanya diminta Rp 10.000,00 per orang walaupun pengunjung bisa
menggunakan satu motor bertiga dengan supir tetap hitungan per orang Rp
10.000,00.

26

2.8

Sumberdaya Wisata

Sumberdaya wisata yang terdapat di kawasan Batu Kuda memiliki daya


tarik yang beragam yaitu seperti pemandangan alam yang sangat indah dan
berpotensi untuk dijadikan obyek berfoto. Selain itu adapun bumi perkemahan
yang digunakan pengunjung dalam melakukan kegiatan bermalam di lokasi Batu
kuda, objek flora dan fauna yang berada dikawasan seperti pohon pinus yang
cukup banyak dijumpai juga cukup menarik.
Batu kuda merupakan sumberdaya wisata utama pada kawasan wana wisata
batu kuda karena Keberadaan Batu Kuda memiliki aspek legend of history yang
khas sebagai sempalan dari cerita pembentukan Danau Bandung dan Tangkuban
Parahu melalui Legenda Sangkuriang. Legenda sejarah yang unik itu oleh
sebagian masyarakat telah di paten menjadi sesuatu yang amat sakral dan suci.
Inilah yang menjadikan sebagian masyarakat yang akan menapaki ke wilayah
Batu Kuda diharuskan untuk berwudhu dengan harapan agar selamat dan
diberkahi selama menjelajahi patilasan tersebut. Objek wisata ini belum begitu
diketahui oleh banyak orang karena promosinya yang kurang. Walaupun
demikian objek wisata ini tetap memiliki daya tarik dan potensi yang dapat
dikembangkan.

Gambar 19 Keadaan Alam

Keadaan alam yang indah, nyaman, dan berhawa sejuk ditambah legenda
yang ada, pada gilirannya membuat daerah di sekitar Batu Kuda (sesungguhnya
tidak hanya semata karena ada Batu Kuda melainkan juga ada batu berbentuk
gunung yang diberi nama Batu Gunung yang tingginya mencapai 15 meter) dan
makam Sang Raja, banyak dikunjungi orang dengan tujuan yang berbeda-beda.
Ada yang hanya sekedar menikmati keindahan alamnya yang penuh dengan
pohon cemara; ada yang hanya berziarah; dan ada pula yang berziarah sambil
menikmati keindahan alam. Para pengunjung yang tujuannya hanya sekedar
rekreasi (menikmati keindahan alamnya) biasanya datang pada hari-hari libur
(Sabtu dan Minggu). Sementara, para pengunjung yang tujuannya berziarah dan
atau berziarah sambil menikmati keindahan alamnya tidak terbatas pada hari-hari
libur.
Para peziarah meyakini bahwa Batu Kuda dan Batu Gunung yang
mencengangkan serta makam Sang Raja berkeramat, sehingga mempunyai
kekuatan gaib. Oleh karena itu, dibalik berziarah punya keinginan-keinginan
tertentu, seperti ingin cepat memperoleh jodoh, usaha lancar, dan naik pangkat
(memperoleh jabatan).Untuk itu, sebelumnya mereka mesti berhubungan dengan

27

Sang Kuncen karena ada pantangan-pantangan yang harus diperhatikan. Malahan,


seringkali para peziarah minta bantuan atau memanfaatkan jasa Sang Kuncen
untuk mencapai apa yang diinginkan karena Sang Kuncen sangat menguasai
prosesi upacara perziarahan beserta perlengkapannya. Jadi, para peziarah mesti
menyediakan sesaji yang berupa: telor, gula, kopi, rujak asem, rujak kelapa,
cerutu, kelapa muda, sirih, gambir, dan kapur pinangan.

Gambar 20 Sisa Puing Sesajen

Selain itu, uang (bergantung kemampuan dan keihklasan peziarah) sebagai


tanda terima kasih. Berkenaan dengan ziarah ini ada pantangan-pantangan yang
mesti dipatuhi, yakni: (1) Dilarang berziarah pada Senin dan Kamis; (2) Tidak
boleh berbuat sembarangan seperti: menaiki, mencoret-coret, memotret Batu
Kuda, Batu Gunung, dan pemakaman; dan (3) Tidak boleh berbicara sembarangan
di sekitar areal Batu Kuda. Pantangan-pantangan itu jika dilanggar dapat
menyebabkan si pelanggar mengalami sesuatu yang tidak diinginkan (musibah).
2.9 Potensi Wisata
Kawasan wisata Batu Kuda merupakan kawasan yang sangat berpotensi
apabila dilihat dari segi sumberdaya alam yang dimiliki oleh kawasan. Beragam
kegiatan wisata dapat dilakukan di kawasan tersebut dengan memanfaatkan
sumberdaya alamnya.
Kegiatan wisata yang telah dikelola dengan baik di kawasan adalah kegiatan
wisata berkemah (camping). Pengelola telah menyediakan fasilitas camping
ground serta tempat penyewaan tenda ataupun peralatan berkemah. Sebagian
besar wisatawan yang berkunjung ke kawasan dalam kelompok besar memilih
untuk kegiatan berkemah. Kawasan wisata batu kuda bahkan memiliki pelanggan
yang secara rutin setiap satu tahun sekali melakukan kegiatan berkemah.
Ticketing pun telah dikelola dengan baik bagi wisatawan yang ingin berkemah
dikenakan biaya yang berbeda dengan wisatawan yang melakukan kegiatan selain
berkemah

28

Gambar 21 Kegiatan Camping di Batu Kuda

Selain kegiatan berkemah atau kemping di kawasan Wana Wisata Batu


Kuda terdapat kegiatan lainnya, kegiatan tersebut merupakan kegiatan minat
khusus yang dilakukan wisatawan seperti bersepeda gunung, tracking, atau
mendaki gunung Manglayang. Wisatawan yang melakukan kegiatan tersebut tidak
dapat diprediksi bahkan dalam setiap minggunya ada beberapa hari wisatawan
yang melakukan kegiatan sepeda gunung. Terdapat kelemahan dalam setiap
kegiatan tersebut, belum adanya suatu pengelolaan yang baik untuk mengatur
kegiatan tersebut yang akan dilakukan di dalam kawasan. Areal penitipan sepeda
ketika wisatawan beristirahat tersedia hanya untuk beberapa puluh sepeda saja,
sedangkan rombongan wisatawa yang dpaat lebih dari kapasitas fasilitas yang
telah disediakan. Kegiatan tracking ataupun mendaki gunung belum tersedianya
ticketing yang terpisah dengan kegiatan lainnya, kegiatan tersebut sangat
menantang sehingga membutuhkan biaya lebih untuk melakukan kegiatan tersebut
dengan tujuan penambahan dalam biaya asuransi yang diberikan untuk kecelakaan
yang terjadi.

29

Gambar 22 Kegiatan Wisata Alam Bersepeda dan Tracking di Wana WisataBatu Kuda

Kawasan wisata batu kuda dulunya memiliki kegiatan ATV yang bisa
dilakukan, sampai saat ini jalur tracknya masih ada dan terbengkalai sehingga
track tersebut sangat disayangkan menjadi lahan yang tidak dimanfaatkan sama
sekali. Kegiatan ATV merupakan kegiatan yang dapat dijadikan daya tarik untuk
menarik wisatawan datang ke kawasan karena tidak semua kawasan wisata
menyediakan kegiatan tersebut. Namun kawasan wisata batu kuda menghentikan
kegiatan tersebut dikarenakan memiliki kendala yaitu penyediaan mobil ATV
yang sudah tua dan terdapat kerusakan serta penyediaan bahan bakar untuk mobil
tersebut. Apabila dapat dikelola kembali akan menambah pendapatan kawasan
wisata yang dapat dimanfaatkan untuk pengelolaan kegiatan lainnya.

30

3 METODE PRAKTIK
3.1

Waktu dan Lokasi Praktik

Praktek Pengelolaan Ekowisata dilaksanakan selama 14 hari efektif dimulai


pada tanggal 27 Juni hingga 12Juli 2012. Lokasi Praktek Pengelolaan Ekowisata
yaitu di Wana Wisata Batu Kuda, Gunung Manglayang. Bandung Utara.
3.2

Alat dan Bahan

Pelaksanaan Praktek Pengelolaan Ekowisata menggunakan alat dan bahan


untuk mendukung kegiatan praktek pengelolaan. Adapun Alat dan bahan yang
digunakan digunakan dapat dilihat pada (Tabel 1).
Tabel 6. Kegiatan Selama Praktik Pengelolaan Ekowisata
Hari
ke
1-2

Kegiatan

Tugas

Keterangan

Adaptasi
Pengenalan Umum

Kelompok/
Perorangan

Pengumpulan Data Sekunder

Kelompok/
Perorangan

Pengumpulan Data Primer

Perorangan

Evaluasi Point Kegiatan 1 sampai 5


Merumuskan ide atau gagasan untuk optimasi
dan pengembangan kegiatan pengelolaan

Kelompok/
Perorangan

6-13

Perorangan

14

Bekerja/ tugas bersama petugas


Mengikuti Standard Of Procedure (SOP)
Mengaplikasikan ide dan gagasan pada point 5
dan sosialisasikan kepada petugas
Evaluasi Umum

Diskusi dengan
pengelola mengenai
informasi awal lokasi
praktek
Informasi dan kondisi
umum dari pengelola
(arsip-arsip, peta
wisata, dll)
a. Pelayanan
b. Kondisi sarana dan
prasarana serta
fasilitas wisata
c. Evaluasi kepuasan
pengunjung/
wisatawan
Diskusi secara
berkelompok
mengenai data dan
informasi yang telah
diperoleh
Menerapkan gagasan
optimasi yang telah
didiskusikan pada hari
ke 6
Evaluasi kegiatan
praktek secara
keseluruhan

3.2

Pendekatan Metode Praktik

Kelompok/
Perorangan

Praktik Pengelolaan Ekowisata ini dilaksanakan dengan menggunakan


pendekatan: (1) mengenal, (2) belajar dan (3) bekerja. Pada tahap mengenal,
peserta praktik dituntut untuk mengetahui secara baik tentang karakteristik areal
praktik dan karakteristik manajemen pengelolaan wisata tersebut. Pada tahap
belajar, peserta praktik dituntun untuk mampu ikut melaksanakan serangkaian
kegiatan pengelolaan sesuai dengan berbagai standar yang diterapkan oleh
manajemen. Sedangkan tahap bekerja, peserta praktik dituntut untuk mampu

31

bekerja melaksanakan kegiatan pengelolaan (yang dipilih atau ditentukan) secara


mandiri sesuai dengan standar kinerja yang telah ditetapkan.
Proses pengenalan berbagai karakteristik tentang areal dan sistem
pengelolaan yang ada dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui
pengumpulan data sekunder dan pengumpulan data primer. Data tentang
manajemen seperti status kepemilikan, struktur organisasi, sumberdaya wisata,
jenis daya tarik atau atraksi wisata dan jumlah pengunjung atau wisatawan adalah
merupakan beberapa contoh data penting yang bisa diperoleh secara sekunder.
Sedangkan data tentang kualitas dan efisiensi pelayanan, kondisi sarana dan
prasarana serta fasilitas pendukung kegiatan wisata, tingkat kepuasan
pengunjung/wisatawan adalah beberapa contoh data penting yang harus
dikumpulkan secara primer.

Gambar 23 Pengambilan data Skunder

Memperhatikan keterbatasan alokasi waktu yang tersedia, maka setiap


peserta praktik diwajibkan untuk minimal mengetahui, belajar dan melaksanakan
secara mandiri jenis kegiatan pada setiap unit pengelolaan di kawasan/objek
wisata secara efektif dan efisien dengan memanfaatkan ketersediaan waktu yang
dimiliki.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Berbagai proses pengambilan data yang dibutuhkan untuk menunjang
keberhasilan pelaksanaan dan tujuan praktek pengelolaan ekowisata dilakukan
melalui:
1. Studi pustaka/ literatur dengan menelusuri data sekunder berupa arsip
ataupun informasi yang lainnya dari pengelola Kawasan Wana Wisata Batu
Kuda
2. Wawancara dan diskusi untuk mengambil data primer dengan menanyakan
langsung kepada pengelola mengenai informasi lebih jauh tentang hal-hal
yang ditemukan saat praktek dan memberikan ide/ gagasan-gagasan
mengenai perbaikan terhadap masing-masing unit kegiatan pengelola.
3. Kuesioner kepada pengunjung/ wisatawan untuk menggali data primer
tentang informasi mengenai kualitas pelayanan pada masing-masing bidang
unit kegiatan dan kepuasan pengunjung/ wisatawan. Kuesioner yang

32

4.

3.4

diberikan kepada pengunjung yaitu sebanyak 120 kuesioner, untuk pengelola


kawasan sebanyak 7 kuesioner dikarenakan pegawai pada kawasan
Mandalawangi berjumlah 7 orang pegawai dan kuesioner kepada masyarakat
sebanyak 30 kuesioner. Kuesioner untuk pengunjung dibagi menjadi tiga
kelompok berdasarkan usia dimulai dari kelompok usia anak-anak, remaja
dan dewasa. Masing-masing kelompok usia diberikan kuesioner sebanyak 40
orang (Avenzora, Komunikasi Pribadi 2011) dan didukung oleh teori Gay
dalam Wardyanta (2006) yang menyatakan bahwa jumlah sample terkecil
atau batas minimal jumlah sample yang dapat diterima tergantung pada jenis
penelitian. Penelitian deskriptif mensyaratkan batas minimal sample 10%
dari populasi dan penelitian korelasi dengan batas minimal adalah 30 subyek
penelitian.
Observasi, partisipasi, dan dokumentasi mengenai segala kegiatan yang
dilaksanakan pada saat praktek pengelolaan di lokasi praktek seperti ikut
berpartisipasi dalam pengelolaan ticketing, menjaga lingkungan sekitar dan
membantu masyarakat untuk lebih mengetahui mengenai pengelolaan
kawasan.
Data yang Diambil

Jenis data yang diambil dalam kegiatan praktek pengelolaan dibagi dalam
dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data Primer meliputi sumberdaya
wisata dan komponenkomponen lainnya, seperti obyek dan daya tarik wisata,
prasarana dan sarana baik itu mengenai prasarana dan sarana pengelolaan maupun
bagi pengunjung, atraksi wisata kawasan, dan aksesibilitas kawasan. Jenis data
primer lainnya dari kuesioner pengunjung meliputi karakteristik responden,
motivasi berkunjung, serta kritik dan saran dalam pengelolaan di Wana Wisata
Batu Kuda. Data Sekunder meliputi data mengenai gambaran umum kawasan,
meliputi sejarah kawasan, kondisi umum baik itu kondisi fisik kawasan maupun
kondisi biologi kawasan, potensi sumberdaya wisata yang sudah dikembangkan.
Kondisi demografis, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat sekitar kawasan
Wana Wisata Batu Kuda.
Tabel 7 Data yang Diambil
No.
1.

Perusahaan
A. Kondisi Umum
1. Sejarah perusahaan
2. Kebijakan dan Peraturan
3. Status dan kepemilikan
4. Sistem Pengelolaan
5. Visi dan Misi serta Tujuan dan Sasaran
Perusahaan
6. Struktur Organisasi Perusahaan
7. Tugas dan Pokok Organisasi (Tugas
dan Organisasi)
8. Ketenagakerjaan dan Sumberdaya
Manusia (SDM)
9. Infrastruktur yang dimiliki Perusahaan
10. Produk Wisata (Progam dan Paket
Wisata) dalam 10 tahun terakhir

Kawasan/ Objek Wisata


1. Fisik :
a. Letak, luas dan batas alam dan
administrasi kawasan/ objek wisata
lokasi praktek.
b. Topografi; ketinggian tempat, bentuk
muka bumi, peta situasi, dll.
c. Aksesibilitas ; transportasi (bentuk,
kapasitas, intensitas, ke lokasi dan sarana
dan prasarana jalan (deskripsi kondisi
jalan).
d. Iklim ; suhu, curah hujan, kelembaban)
e. Tanah dan Hidrologi ; jenis tanah dan
nama sungai di kawasan/ objek wisata
dan wilayah sekitasnya.

33

2. Biotik :
a. Flora ; jenis dan penyebara, peta dan
deskripsi vegetasi serta manfaat terhadap
kegiatan wisata.
b. Fauna ; jenis dan penyebaran, peta dan
deskripsi satwa serta manfaat terhadap
kegiatan wisata.
3. Sumberdaya Wisata :
a. Amenitas ; sarana dan prasarana serta
pendukung kegiatan wisata.
b. atraksi wisata aktual yang merupakan
program kegiatan dari pengelola dan
atraksi wisata potensial untuk
dikembangkan pada lokasi praktek.
4. Potensi Wisata
a. Daya tarik unggulan dan potensi untuk
dikembangkan pada lokasi praktek.
b. Kualitas estetika ; good view/ bad view,
keunikan bentang alam (landsekap
alami), dll.
c. Jalur wisata dan interpretasi pada lokasi
praktek
2.

B. Kegiatan Pengelolaan
a. Pengelolaan SDM
1. Kebijakan dan Peraturan Pengelola
b. Pengelolaan Program dan Paket Wisata 2. Manajemen Pengelolaan
c. Pengelolaan Fasilitas Pendukung
a. Sejarah Pengelolaan
d. Pengelolaan Pengunjung/ Wisatawan
b. Maksud dan Tujuan Pengelolaan
e. Pengelolaan Keamanan dan
c. Status dan Kepemilikan
Keselamatan Pengunjung/ Wisatawan
d. Sistem Pengelolaan (negara/ swasta)
f. Pelayanan dan Pemanduan Wisata
e. Organisasi Pengelolaan (Struktur
(Guiding)
Organisasi, Ketenagakerjaan, Tugas
g. Kerjasama Perusahaan dengan Pihak
dan Tanggung Jawab, Job
lain/ mitra
Description, dll.)
h. Bentuk-bentuk Promosi Wisata
f. Infrastruktur yang dimiliki Pengelola
g. Program Wisata dari Pengelola

3. Kegiatan Pengelolaan Kawasan dan


Objek Wisata
a. Pengelolaan Parkir
b. Pengelolaan Ticketing
c. Pengelolaan fasilitas Wisata
d. Pengelolaan Kebersihan dan MCK
e. Pengelolaan Distribusi serta Sirkulasi
Pengunjung/ Wisatawan
f. Pengelolaan Sumberdaya Manusia
g. Pengelolaan Keamanan dan
Keselamatan

34

3.

C. Pengunjung
1. Karakteristik umum pengunjung/
wisatawan
2. Kualitas pelayanan terhadap
pengunjung/ wisatawan
3. Evaluasi kondisai sarana dan prasarana
serta fasilitas oleh pengunjung/
wisataawan
4. Evaluasi kepuasan pengunjung/
wisatawan

1. Karakteristik umum pengunjung/


wisatawan
2. Kualitas pelayanan terhadap pengunjung/
wisatawan
3. Evaluasi kondisi sarana dan prasarana
serta fasilitas oleh pengunjung/
wisatawan
4. Evaluasi kepuasan pengunjung/
wisatawan

35

4 HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1

Sumberdaya dan Potensi Wisata Alam


Kawasan Wana Wisata Batu Kuda merupakan kawasan wisata alam.
Sumberdaya dan potensi alam yang dijadikan daya tarik dalam kawasan tersebut.
Potensi wisata alam dikawasan dapat berupa pemandangan alam, tracking dan
bird wacthing.
4.1.1 Flora
Wana wisata batu kuda salah satu lokasi wisata yang berada di gugusan
gunung manglayang barat. Keberadaan flora di kawasan ini di dominasi oleh
pohon pinus (Pinus Merkusi), beberapa tumbuhan berbunga, liana, serta tanaman
yang di tanam oleh masyrakat seperti kopi, nangka, jeruk bali dan tumbuhan
lainya. Pohon pinus merupakan pohon yang mendominasi area kawasan pada
petak 33A.

Gambar 24 Flora di Kawasan Wana Wisata Batu Kuda

Pohon pinus adalah pohon yang mempunyai banyak manfaat bagi manusia
sebagai obat. Pohon ini banyk dijumpai didaerah berbukit sehingga tersebar cukup
mudah dikawasan Wana Wisata Batu Kuda. Pohon pinus ini menghasilkan getah
dan bisa menghasilkan minyak sert mengandung senyawa terpene yaitu salah satu
isomer hidrokarbon tak jenuh dari C10 H163.

Gambar 25 Flora di Wana Wisata Batu Kuda

Pohon pinus dianggap produktif jika sudah berumur sekitar 10 hingga 15


tahun namun itu masih belum maksimal namun sudah bisa menghasilkan getah.
Pohon ini dipercaya untuk memperkuat sistem hidrologi pada tanah. Selain itu
bermanfaat sebagai tanaman penyejuk.

36

4.1.2 Fauna
Beberapa fauna dapat di temui dikawasan ini, baik itu golongan serangga,
unggas, serta mamalia, fauna yang terdapat dikawasan Batu kuda ialah seperti
Burung tekukur, Katak pohon (Rhacophorus appendiculatus), serangga,dan kupukupu serta sapi perahan yang berada di masyarakat sekitar.
Fauna yang terdapat dikawasan dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata
contohnya seperti beberapa jenis burung yang dapat dijadikan objek wisata
birdwatching. Burung yang populasinya cukup banyak yaitu burung tekukur.
Burung tekukur (streptopelia chinensis) merupakan burung pembiak, dan mudah
ditemukan pada kawasan hutan. Burung ini telah dibawa masuk ke kawasan Los
Angles, California, Australia, Indonesia dan New Zealand sejak tahun 1860-an.
Burung tekukur ialah burung merpati yang tirus dengan ekor yang panjang.
Panjangnya burung ini antara 28 hingga 32 sentimeter. Bagian belakang dan
ekornya berwarna perang pucat dengan banyak bintik kuning pucat. Burung ini
makan biji-biji dan rumput.

Gambar 26 Fauna Endemik Kawasan

Selain burung adapun jenis reptil seperti katak pohon (Polypedates


leucomystax). Katak ini bertubuh kecil . Jari-jarinya berselaput renang. Kulit pada
bagian punggung dipenuhi tonjolan-tonjolan tidak beraturan. Sisi dorsal punggung
abu-abu kehijauan hingga coklat dengan variasi warna yang lebih gelap. Katakkatak ini bertengger di dedaunan atau ranting pohon yang rendah maupun pada
semak belukar. Katak pohon ditemukan dihutan primer sekunder tua di dataran
rendah, hutan rawa ataupun hutan gambut.
Potensi wisata alam yang dapat dikembangkan yaitu birdwatching.
Birdwatching adalah kegiatan scientific yang paling sportif. Dan sebaliknya juga,
Birdwatching merupakan kegiatan sport yang paling scientific.
Secara definisi yang dimaksud dengan Birdwatching adalah pengamatan
burung di alam. Orang yang melakukan pengamatan burung disebut sebagai
Birdwatcher. Pengamatan burung tidak selalu menjadi monopoli para ahli-ahli
biologi saja, namun juga dapat dilaksanakan oleh setiap orang. Pengamatan
burung yang pada awalnya kental dengan misi ilmiah, selanjutnya berkembang
menjadi hobi yang menyenangkan bagi orang awam.
Untuk melakukan pengamatan atau menjadi pengamat sebenarnya cukup
mudah. Burung merupakan hewan yang hampir umum dijumpai dimana saja,
bahkan di suatu perkotaan. Dengan hanya hadir di suatu lokasi dan bekal

37

keinginan kuat untuk melihat dan memahami fenomena alam saja, sudah menjadi
modal yang cukup. Alat bantu pandang seperti teropong tidak selalu mutlak
dibutuhkan. Teropong diperlukan pada kondisi khusus, misalnya jarak obyek
cukup jauh, obyek tidak mungkin didekati, atau memang ingin mengamati lebih
detil.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan
pengamatan burung. Saat melakukan pengamatan hendaknya tidak memakai
pakaian dengan warna mencolok. Usahakan memakai pakaian dengan warna yang
tersamar dengan lingkungan sekitar, sehingga burung tidak terganggu dengan
kehadiran pengamat.
Buku catatan kecil perlu dibawa untuk mencatat jenis burung yang
dijumpai, atau untuk membuat sketsa jenis yang belum teridentifikasi. Jangan
terlalu mengandalkan dengan ingatan, karena sejalan dengan berlalunya waktu
informasi yang didapat bisa terlupakan. Buku panduan identifikasi akan sangat
membantu, terutama jika mengunjungi daerah baru, atau masih merupakan
pengamat pemula. Sekali lagi, tidaklah bijak jika hanya mengandalkan daya ingat
semata.
4.1.3 Gejala Alam
Kawasan batu kuda dan sekitarnya pada umumnya memiliki udara yang
sejuk dan teduh karena rindangnya pohon, serta ditambah dengan lingkungan
yang asri bebas dari polusi perkotaan, kawasan ini memiliki gejala alam yang
menjadi potensi unggulan yang baik, selain dari udara yang sejuk, di kawasan ini
dapat terlihat sunrise, sunset, juga pemandangan kota bandung dari kejauhan,
apabila malam hari terlihat juga lampu-lampu yang indah dari kejauhan.
Gejala alam tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung yang
datang. Panorama alam adalah gejala alam yang paling diminati oleh pengunjung.
Karena selain indah dipandang mata namun juga dapat dinikmati sebagai objek
untuk berfoto. Adapun gejala alam seperti bulan purnama yang merupakan
pemandangan bulan pada malam hari secara utuh membulat dan dapat dipandang
dengan kasat mata.
Pada saat terjadi bulan purnama tersebut sering dimanfaatkan oleh
pengunjung untuk melakukan kegitan ritual yang dipercaya setelah melakukan
ritual tersebut seseorang dapat memperoleh apa yang mereka inginkan. Kegiatan
ritual tersebut menggunakan sesajen yang cukup banyak dan sesuai dengan apa
yang diamanatkan oleh kuncen setempat. Sesajen tersebut berupa rokok, kopi
pahit, kelapa hijau, teh, telur ayam dan sebagainya.
4.2

Sumberdaya dan Potensi Wisata Budaya

Kawasan Wana Wisata Batu Kuda berdiri tidak hanya prestasi dari
pengelola yaitu pihak perhutani. Namun kawasan wisata tersebut juga berdiri
karena bantuan dari masyarakat di sekitar kawasan wisata. Masyarakat ikut
terlibat dan ssecara tidak langsung kebudayaan masyarakat memperngaruhi
kawasan wisata tersebut. Sumberdaya dan potensi wisata budaya masyarakat
berdasarkan tujuh unsur kebudayaan meliputi religi dan kepercayaan, bahasa,
sistem pengetahuan, sistem kekerabatan, kesenian dan peralatan hidup. Berikut

38

penjelasan lebih lanjut dari setiap sumberdaya dan potensi wisata budaya
masyarakat lokal.

Gambar 27 Peta Kawasan Wana Wisata Batu Kuda

4.2.1 Religi dan Kepercayaan


Masyarakat sekitar Kawasan Wisata didominasi menganut agama Islam
dikarenakan masyarakat merupakan orang sunda asli. Kepercayaan mereka masih
berkaitan dengan keberadaan Wana Wisata Batu Kuda, masyarakat masih
meyakini ketika akan terjadi bencana maka masyarakat akan melakukan ritual
sebagai tolak bala agar bencana tersebut tidak terjadi. Masyarakat mengetahui
pesan bencana alam tersebut dari kuncen yang mengetahui mengenai seluk beluk
kawasan Wana Wisata Batu Kuda.
Ritual biasanya dilakukan dengan bimbingan sang kuncen yang sudah
menyiapkan daftar sesajen yang harus dipenuhi, dan sesajen akan diarak
menggunakan tampah serta dihadiri oleh seluruh masyarakat yang berada
disekitar kawasan. Walupun ritual tersebut jarang dilakukan, akan tetapi ritual ini
dapat digunakan sebagai objek wisata dan daya tarik bagi pengunjung.
Lama ritual yaitu setengah hari serta adapun larangan saat melakukan ritual,
masyarakat tidak diperbolehkan berbicara yang tidak sopan dan dalam
berlangsungnya ritual masyarakat mengenakan pakaian sopan serta membersihkan
diri terlebih dahulu. Masyarakatpun harus mengikuti prosesi ritual dari awal
hingga akhir.
Agama yang dianut oleh warga masyarakat Desa Cibiru Wetan beragam,
yaitu: Islam, Kristen Protestan, dan Katholik. Namun demikian, berdasarkan data
yang tertera dalam Potensi Desa Cibiru Wetan Tahun 2005, Islam merupakan
agama yang dianut oleh sebagian besar penduduknya (11.196 orang atau 98,76%).

39

Sebagian lainnya adalah mereka yang menganut agama Kristen Protestan (57
orang atau 0,5%) dan Katholik (83 orang atau 0,73%).
Ada korelasi yang positif antara jumlah pemeluk suatu agama dengan
jumlah sarana peribadatan. Hal itu tercermin dari banyaknya sarana peribadatan
yang berkaitan dengan agama Islam (mesjid dan musholla atau langgar).
Berdasarkan data yang tertera dalam Potensi Desa Cibiru Wetan, jumlah mesjid
yang ada di sana mencapai 15 buah, sedangkan, langgar yang ada mencapai 33
buah. Sarana peribadatan yang berkenaan dengan penganut agama Kristen
Protestan dan Katholik belum terdapat di desa ini. Oleh karena itu, jika para
penganut nasrani ingin melakukan kebaktian, maka mereka mesti ke luar desa.
Sedangkan, bagi para muslim yang akan melaksanakan salah satu kewajibannya
(sholat) cukup dengan mendatangi mesjid atau langgar yang terdekat (tidak perlu
harus keluar desa).
Kehidupan keagamaan, khususnya pelaksanaan sholat lima waktu, belum
tampak. Kehidupan keagamaan mereka mulai terlihat tahun 60-an, yaitu ketika
seorang lulusan salah satu pondok pesantren di Jawa Barat menetap di sana.
Lulusan dari pesantren inilah yang kemudian membimbing mereka untuk
melaksanakan ajaran-ajaran agama yang mereka anut (Islam). Untuk itu, Sang
Lulusan dari pesantren ini mendirikan sebuah rumah kayu yang sekaligus
berfungsi sebagai langgar. Berkat kegigihannya, maka sedikit demi sedikit warga
Cikoneng mulai melakukan sholat lima waktu, sehingga lama kelamaan rumahlanggar yang didirikan itu banyak yang mendatanginya. Dengan banyaknya warga
Cikoneng yang melakukan sholat bersama, baik lima waktu, jumatan, idul fitri,
maupun idul adha, berarti tinggalnya Sang Santri di kampung tersebut tidak siasia. Untuk itu, Sang Santri memutuskan tidak perlu berlama-lama lagi tinggal di
sana. Demikian, akhirnya Sang Santri meninggalkan kampung itu untuk
menyiarkan ajaran-ajaran Islam di kampung-kampung lainnya.
Sulit untuk mengetahui secara persis tingkat aktivitas keagamaan pada
warga masyarakat Cibiru Wetan. Namun demikian, berdasarkan kerajinan dalam
beribadat, dapat dikategorikan menjadi dua kelompok, yakni rajin dan kurang
rajin. Kelompok pertama adalah orang-orang yang tinggal di sekitar mesjid dan
langgar yang bertebaran di perkampungan di sekitar Jalan Cibiru, seperti:
Kampung Sindang Reret, Warung Gede, Lio-Warung Gede, Babakan Biru,
Jadaria, dan Cibiru Indah. Mereka dapat dikatakan rajin melaksanakan sholat lima
waktu, khususnya magrib dan isya, serta Jumatan (sholat Jumat) yang dilakukan
seminggu sekali. Selain itu, setiap Kamis malam, selepas sholat isya, hampir
setiap Rukun Warga (RW) mengadakan ceramah agama dengan mengundang
seorang ustadz atau imam mesjid yang berada di RW yang bersangkutan.
Kepercayaan terhadap roh nenek moyang tercermin dalam perilaku jaroh
dan nyekar ke makam yang dianggap berkeramat dengan memberikan sesajen
(sesaji) yang berupa: kemenyan, kembang tujuh rupa, dan kopi pahit. Tujuannya
adalah agar roh yang ada di balik makam tersebut memberkati pekerjaanpekerjaan penting yang akan dilakukan oleh seseorang, sehingga terhindar dari
berbagai bencana. Dengan perkataan lain, agar apa yang akan dilakukan oleh
seseorang dapat dilalui dengan selamat atau agar apa yang diharapkan atau dicitacitakan dapat tercapai.
Perilaku nyekar ke makam yang dianggap keramat yang ada Desa Cibiru
Wetan terletak di sekitar hutan lindung yang juga merupakan sebuah obyek wisata

40

yang bernama Batu Kuda. Keadaan alam yang indah, nyaman, dan berhawa
sejuk ditambah legenda yang ada, pada gilirannya membuat Batu Kuda
(sesungguhnya tidak hanya semata karena ada Batu Kuda melainkan juga ada batu
berbentuk gunung yang diberi nama Batu Gunung yang tingginya mencapai 15
meter) dan makam Sang Raja banyak dikunjungi orang dengan tujuan yang
berbeda-beda. Ada yang hanya sekedar menikmati keindahan alamnya yang
penuh dengan pohon cemara; ada yang hanya berziarah; dan ada pula yang
berziarah sambil menikmati keindahan alam. Para pengunjung yang tujuannya
hanya sekedar rekreasi (menikmati keindahan alamnya) biasanya datang pada
hari-hari libur (Sabtu dan Minggu). Sementara, para pengunjung yang tujuannya
berziarah dan atau berziarah sambil menikmati keindahan alamnya tidak terbatas
pada hari-hari libur. Para peziarah meyakini bahwa Batu Kuda dan Batu Gunung
yang mencengangkan serta makam Sang Raja berkeramat, sehingga mempunyai
kekuatan gaib. Oleh karena itu, dibalik berziarah terdapat keinginan-keinginan
tertentu, seperti ingin cepat memperoleh jodoh, usaha lancar, dan naik pangkat
(memperoleh jabatan). Maka sebelumnya mereka harus berhubungan dengan
Sang Kuncen karena ada pantangan-pantangan yang harus diperhatikan. Sehingga
seringkali para peziarah minta bantuan atau memanfaatkan jasa Sang Kuncen
untuk mencapai apa yang diinginkan karena Sang Kuncen sangat menguasai
prosesi upacara perziarahan beserta perlengkapannya. Para peziarah diwajibkan
menyediakan sesaji yang berupa: telor, gula, kopi, rujak asem, rujak kelapa,
cerutu, kelapa muda, sirih, gambir, dan kapur pinangan. Selain itu, uang
(bergantung kemampuan dan keihklasan peziarah) sebagai tanda terima kasih.
Berkenaan dengan ziarah ini ada pantangan-pantangan yang mesti dipatuhi, yakni:
(1) Dilarang berziarah pada Senin dan Kamis; (2) Tidak boleh berbuat
sembarangan seperti: menaiki, mencoret-coret, dan memotret Batu Kuda, Batu
Gunung, pemakaman; dan (3) Tidak boleh berbicara sembarangan di sekitar areal
Batu Kuda. Pantangan-pantangan itu jika dilanggar dapat menyebabkan si
pelanggar mengalami sesuatu yang tidak diinginkan (musibah).
Kepercayaan terhadap makhluk-makhluk halus yang menempati tempattempat tertentu tercermin dari adanya apa yang disebut sebagai: dedemit, jurig,
ririwa, kuntilanak, kelong, budak hideung, dan lain sebagainya (Suhamihardja, A.
Suhandi: 1984: 282). Kepercayaan tentang seseorang yang dengan cara-cara
tertentu (berhubungan dengan setan) dapat mendadak menjadi kaya.
Suhamihardja (1984:286), menyebut kepercayaan ini sebagai munjung. Seseorang
dapat munjung dengan cara menjadi seekor bagong, ular, kera, atau anjing,
dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Misalnya, jika berhasil (kaya raya) yang
bersangkutan, jika meninggal, akan menjadi bagong, kera, ular, dan atau anjing
(bergantung yang dipuja). Jika Si Pemuja tidak mau mengambil resiko itu, maka
ia bisa mengambil persyaratan lainnya, yaitu setiap tahun anaknya akan
meninggal. Jika anaknya sudah meninggal semua akan digantikan oleh kerabatnya
atau pelayannya. Persyaratan seperti ini disebut sebagai ngawadalken (kurban
persembahan). Jika sudah tidak ada lagi yang dipersembahkan sebagai kurban,
maka dirinya sendiri yang akan menjadi kurban. Satu hal yang perlu diperhatikan
oleh Si pemuja adalah jika membangun rumah jangan diselesaikan (bagian
belakangnya dibiarkan); sebab jika diselesaikan maka Si Pemuja akan langsung
menjadi wadal.

41

Konon, orang yang munjung setiap malam Selasa dan Jumat menjelma
menjadi binatang yang dipujanya. Orang yang nyegik (munjung bagong)
misalnya, pada malam-malam tersebut ia menjelma menjadi bagong untuk
mencari kekayaan (uang). Bagong jelmaan itu senantiasa menghindari orang
karena jika terlihat akan diburunya, dan segala sesuatu yang tidak diinginkan bisa
saja terjadi. Untuk menghindari hal itu, maka Sang Isteri dengan tekun menunggui
sebaskom air dan sebatang lilin atau lampu tempel yang menyala di rumahnya.
Apabila airnya bergoyang dan nyala lampu berkelok-kelok bagaikan tertiup angin,
maka itu pertanda bahwa suaminya dalam bahaya.
4.2.2 Bahasa
Bahasa yang digunakan antar sesama masyrakat lokal adalah bahasa sunda.
Bahasa sunda yang digunakan merupakan bahasa sunda dalam tingkatan bahasa
sunda halus, yang sangat menghargai sopan santun diantara mereka. Walaupun
demikian mereka tidak lepas dengan bahasa Indonesia. Bahasa yang digunakan
ketika berinteraksi dengan wisatawan ataupun orang yang berasal dari luar daerah
mereka, mereka menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara. Namun walaupun
mereka menggunakan bahasa Indonesia, logat sunda yang mereka miliki tidak
bisa dihilangkan bagi masyarakat asli dari daerah sekitar kawasan wisata.
Terkadang juga mereka dengan tidak sengaja menyelipkan kata berbahasa sunda
karena kosa kata bahasa Indonesia yang dimiliki masyarakat awam kurang begitu
baik.
Kesulitan dalam berbahasa terdapat dari pengunjung yang datang dari luar
daerah Bandung yang terkadang tidak mengerti bahasa sunda yang digunakan
oleh masyarakat sekitar kawasan. Akan tetapi cukup banyak pengunjung yang
ingin mempelajari bahasa sunda halus dari masyarakat sekitar walaupun sedikit
sulit. Terkadang pengunjung bertanya mengenai kosa kata yang sulit dimengerti
dan mempraktekan logat sunda yang mereka dengar dari masyarakat

42

4.2.3 Sistem Pengetahuan


Masuknya peralatan modern ke Desa Cibiru Wetan atau Kawasan Wana
Wisata Batu Kuda tidak menghilangkan tradisi lama nenek moyak mereka
terutama dalam bidang pengetahuan bertaninya, mereka dalam menanam padi
tetep memegang amanah tradisi leluhur tanpa obat-obatan kimiawi dan selalu
berhasil panen setiap tahun, dengan memberikan kesempatan untuk bernapas
sejenak kepada bumi yang menghidupkan padi-padian maka yang terjadi adalah
panen yang selalu berhasil dan leuit-leuit (tempat penyimpanan padi)yang tidak
pernah dihampiri hama. Bagi orang Sunda yang hidup di pedesaan leuit memang
bukan sesuatu yang asing, meski sekarang fungsinya sudah tergerus zaman. Di
masa lalu, leuit punya peran vital, sebagai gudang penyimpanan gabah atau beras
hasil panen. Pada saat musim paceklik, simpanan gabah itu ditumbuk untuk
kemudian dijadikan pemenuhan makan sehari-hari.
Zaman modern sekarang leuit nyaris punah.
Terlebih lagi di daerah
perkotaan, orang lebih menyukai sesuatu yang serba instan. Dikatakan nyaris
punah, karena memang masih terdapat sebagian warga yang tetap
mempertahankan fungsi leuit. Salah satunya adalah warga adat yang menempati
kaki Gunung Manglayang.
4.2.4 Sistem Kekerabatan (Ambilineal)
Sistem kekerabatan di kawasan Wana Wisata Batu Kuda sama halnya
dengan sistem kekerabatan di tanah Sunda yang terpenting adalah keluarga batih.
Keluarga batih terdiri dari suami, isteri dan anak-anak yang diadapat dari
perkawinan atau adopsi yang belum kawin. Adat sesudah nikah di daerah Jawa
Barat pada prinsipnya adalah Neolokal. Hubungan sosial antara keluarga batih
amat erat. Keluarga batih merupakan tempat yang paling aman bagi anggotanya
ditengah hubungan kerabat yang lebih besar dan ditengah masyarakat. Didalam
rumah tangga keluarga batih itu, sering juga terdapat anggota keluarga lain,
seperti ibu mertua atau keponakan pihak laki-laki atau perempuan. Dalam keadaan
kekurangan perumahan, maka dalam satu rumah tangga sering terdapat lebih dari
satu buah keluarga batih. Pada umumnya dikatakan bahwa kehidupan keluarga
batih di desa-desa masih relatif kompak. Pekerjaan di sawah-sawah masih
dilakukan secara bersama-sama dengan pembagian kerja yang ada. Pada lapisan
yang lebih tinggi pada masyarakat Sunda, warga dari satu golongan biasanya
terpencar, diberbagai kota dan daerah. Demikian golongan itu merupakan suatu
kelompok kekerabatan yang dalam ilmu antropologi secara teknis disebut
Kindred yaitu berhubungan dengan sistem perkawinan, tiap bangsa mempunyai
anggapan masing-masing mengenai unsur yang paling baik untuk dikawinkan.
Dibeberapa Desa di sekitar Bandung, diperoleh data bahwa dari 360 responden
ada 287 yang menyatakan bahwa umur yang baik untuk menikah yaitu antara 16
smpai 20. Sistem pemilihan jodoh di Jawa Barat tidak terikat sistem tertentu.
Hanya yang pasti perkawinan dalam keluarga pasti dilarang, dan apabila hendak
mengetahui darimanakah sebaiknya diambil jodoh , dari luar atau dari kalangan
sendiri.
Menantu yang baik disini tentunya mempunyai arti yang relatif. Untuk
mengetahui mana yang baik, maka kita perlu mengetahui sistem-sistem nilai
budaya yang berlaku di daerah itu. Di daerah pedesaan yang kuat kehidupan
agamanya, maka faktor orientasi agama memainkan peranan yang penting. Pada

43

umumnya di daerah pedalaman telah dikenal pula moralitas perkawinan yang


dapat dilihat dari bahasa dan pepatah dalam bahasa itu. Di Pasundan dikatakan
misalnya : Lamun nyiar jodo kudu kakupuna artinya kalau mencari jodoh harus
kepada orang yang sesuai dalam segalanya, baik dari segi rupa, kekayaan, maupun
keturunannya. Atau Lamun nyiar jodo kudu kanu sawaja sabeusi, artinya
mencari jodoh itu harus mencari yang sesuai dan cocok dalam segala hal.
Adapun caranya mencari menantu itu, dilakukan oleh pihak laki-laki
maupun perempuan. Caranya mula-mula tidak serius, sambil bergurau antara
orang tua kedua belah pihak, tempat pembicaraannya juga tidak ditetapkan,
dimana saja. Apabila anak gadis itu belum bertunngan dan juga orang tuanya
setuju atas yang diusulkan oleh pemuda tersebut, maka perembukan itu
dinamakan neundeun omong, artinya menaruh perkataan. Antara neundeun
omong sampai nyeureuhan atau melamar, terjadilah saling amat-mengamati
atau sidik-menyelidiki secara baik-baik. Sekiranya terdapat kesepakatan antara
kedua belah pihak maka dilakukan Pinangan.
Pinangan inipun dilakukan dengan tata cara yang khusus. Setelah dilakukan
pelamaran, maka diadakan persiapan untuk melakukan acara pernikahan. Setelah
tersedia persiapan itu, maka orang tua laki-laki mengirimkan kabar kepada orang
tua gadis hari dan jam yang sudah ditetapkan untuk diadakan seserahan. Anak
laki-laki yang akan menjadi mempelai itu. Perihal waktu perkawinan sudah
mereka bicarakan. Biasanya penyerahan anak laki-laki itu dikerjakan tiga hari
sebelum diadakan upacara pernikahan. Setelah anak laki-laki diserahkan pada
prinsipnya segala sesuatu telah menjadi tanggungjawab orang tua perempuan.
Pada upacara pernikahannya sendiri, dilakukan secara sederhana secara agama.
Tetapi upacara nyawer dan buka pintu tetap ada dan merupakan yang paling
menarik. Semua orang gembira dan mengikuti dengan penuh perhatian dan
mengikuti dengan penuh perhatian dan mengikuti dialog yang dilakukan dengan
bahasa puisi dan lagu.
Masyarakat Sunda memiliki suatu kelompok yang berupa Ambilineal,
karena mencakup kerabat seputar keluarga batih seorang ego. Tetapi
diorientasikan kearah nenek moyang yang jauh didalam masa yang lampau.
Kelompok ini disebut bondoroyot. Kesadaran akan kesatuan bondoroyot sering
diintensifkan dengan beberapa adat pantangan yang wajib dilakukan oleh warga
dari suatu bondoroyot. Sistem kekerabatan memiliki nama-nama angkatan dalam
arti hubungan kekerabatan, dalam hal ini orang Sunda mengenal 7 istilah
kekerabatan Perkawinan adalah suatu kegiatan daur hidup yang bersifat universal,
dalam perkawinan itu terdapat proses perubahan status seseorang baik itu status
sosial maupun yang berhubungan dengan kehidupan religius. Dalam masyarakat
sunda terdapat 5 kegiatan yang bertalian dengan perkawinan, yaitu :
a. Meminang. Dilakukan oleh orang tua laki-laki kepada orang tua perempuan.
Dalam prinsipnya bahwa laki-lakilah yang mempunyai inisiatif. Acara
meminang ini dimulai dengan kunjungan orang tua laki-laki untuk menanyakan
apakah si perempuan belum ada yang punya, jika memang belum mereka
memperoleh kesepakatan untuk menjodohkannya.
b. Seserahan. Biasanya dilakukan 2 3 hari sebelum upacara pernikahan. Yaitu
prosesi penyerahan laki-laki kepada keluarga perempuan, dalam seserahan ini
dirundingkan bersama agar keduanya dinilai telah siap. Pada saat seserahan

44

pihak keluarga laki-laki membawakan barang-barang ebagai perlengkapan


upacara pernikahan.
c. Ngeuyeuk Seureuh.
Dilakukan sehari sebelum pernikahan, tradisi ini
digunakan sebagai simbol suapaya mereka siap menjalani kehidupan rumah
tangga yang diriodhoi dan diberi ketentraman oleh Tuhan YME.
d. Pernikahan. Dalam adat pernikahan Sunda, pengantin keduanya didandani
seperti biasanya pengantin-pengantin dari daerah lain. Namun tentunya
berbeda dalam hal pakaian adat. Cara pelaksanaan biasanya diatur oleh
lembaga keagamaan setempat dengan memadukan ketentuan pernikahan
didalam agamanya masing-masing. Tradisi setelah upacara resmi pengantin
disawer, yaitu pengantin berdampingan dinaungi payung sambil dinyanyikan
lagu atau kawih yang berisikan nasehat, sambil ditaburi beras, kunir, serta uang
logam yang akan diperebutkan oleh anak-anak kecil. Stelah itu ada adat
upacara buka pintu yang melambangkan bahwa si perempuan akan menyambut
suaminya. Setelah itu ada tradisi huap lingkup atau saling menyuapi dan
saling berebut ayam panggang sebagai lambang bahwa mereka akan saling
bekerjasama dan menjadi teman hidup dalam mengarungi rumah tangga.
e. Adat Setelah Menikah. Setelah menikah biasanya kedua pengantin itu
bertempat tinggal di orang tua pihak wanita (Uxorilokal) namun sifatnya
sementara. Setelah itu mereka memilih tempat tinggal sendiri untuk
membangun suatu keluarga batih. Tentu saja suatu keharusan bagi laki-laki
yang telah berani menikah maka ia harus siap mempersiapkan rumah serta
keperluan rumah tangga lainnya. Walaupuin pada kenyataannya banyak
dianatara mereka yang masih tinggal bersama orang tua meskipun telah
berkeluarga. Padahal laki-laki sebagai kodratnya adalah menjadi seorang
kepala keluarga dan bertanggungjawab terhadap segala sesuatu didalam
keluarga baik itu didalam hal ekonomi dan yang lainnya.
4.2.5 Sistem Organisasi
Desa adalah jajaran sistem pemerintahan nasional di tingkat yang paling
bawah. Walaupun demikian, desa memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan
sistem pemerintahan yang ada di atasnya, khususnya kecamatan, karena jauh
sebelum otonomi daerah diberlakukan, desa sudah merupakan daerah yang
otonom. Oleh karena itu, sangatlah tepat apa yang dikemukakan oleh Palmer,
yaitu bahwa desa, termasuk Desa Cibiru Wetan, merupakan kesatuan
administratif, teritorial, dan kesatuan hukum menurut batas-batas wilayah tertentu
(Palmer, 1984: 326), yang penyelenggaraan pemerintahannya adalah otonom
(oleh, untuk, dan dari sekelompok orang yang menempati wilayah tersebut).
Selain itu, desa juga merupakan kesatuan sosial, yaitu sebagai tempat
menyelenggarakan hubungan-hubungan sosial antarwarga masyarakat, yang di
dalamnya seringkali terdapat nilai-nilai kekerabatan yang cukup kuat serta
melandasi hubungan-hubungan tersebut (Palmer, 1984: 324)
Selain perangkat desa yang oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai
pamong desa, ada juga yang disebut sebagai Badan Perwakilan Desa (BPD).
Lembaga ini berfungsi sebagai badan legislatif dalam organisasi pemerintahan
desa. Anggotanya diambil dari para ketua kampung yang ada di dalam desa.
Jumlahnya ada 13 orang, dengan rincian: 1 orang ketua, 1 orang sekretaris, dan 11
orang anggota. Tugasnya adalah mengadakan musyawarah tingkat desa untuk

45

mengevaluasi dan atau menetapkan suatu keputusan pemerintah desa, serta


membantu kepala desa dalam merencanakan dan menggerakkan partisipasi
masyarakat dalam pembangunan di wilayahnya. Selain itu, melalui lembagalembaga tersebut diharapkan akan berlangsung komunikasi antara masyarakat dan
perangkat pemerintahan serta antarwarga masyarakat desa itu sendiri. Namun
demikian, yang terjadi seakan-akan antara perangkat desa dan BPD berjalan
sendiri-sendiri (tidak ada koordinasi). Ini tercermin dari rapat atau musyawarah
tentang rencana dan pelaksanaan program pembangunan, baik yang menyangkut
fisik maupun non-fisik (kesejahteraan) yang seharusnya dilaksanakan secara
periodik (minggon atau mingguan dan triwulan) jarang dilakukan (kalau tidak
dapat dikatakan tidak pernah dilakukan). Malahan, jika ada kebijakan dari atas
(Pemerintah Pusat dan atau Daerah) melalui kecamatan, biasanya kepala desa
hanya menginstruksikan kepada perangkat desanya tanpa bermusyawarah dengan
BPD.
Sementara itu, organisasi kemasyarakatan yang terdapat di Desa Cibiru
Wetan adalah organisasi kepemudaan yang bernama Karang Taruna dan
organisasi para ibu rumah tangga yang bernama Pendidikan Kesejahteraan
Keluarga (PKK). Sebagaimana BPD, kedua organisasi ini juga kurang aktif.
Karang Taruna misalnya, organisasi yang beranggotakan 50 orang ini baru
tampak jika desa menyelenggarakan kegiatan-kegiatan tertentu (memperingati
hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia). Hal yang sama juga terjadi
pada PKK. Organisasi ini seakan-akan hanya melaksanakan kesehatan ibu hamil
dan balita. Itupun hanya dilakukan dua minggu sekali di Posyandu, dan hanya
diikuti oleh beberapa anggotanya saja.
Banyak faktor yang pada gilirannya membuat organisasi kemasyarakatan
yang ada di Desa Cibiru Wetan kurang aktif. Salah satu diantaranya adalah
kekurangpedulian perangkat desa terhadap organisasi-organisasi kemasyarakatan
yang ada di desanya. Hal itu tercermin dari kurang rutinnya pembinaan terhadap
organisasi yang ada di desanya. Organisasi-organisasi tersebut diperlukan jika
dibutuhkan. Perangkat desa itu sendiri juga seringkali tidak ada di tempat (kantor
desa seringkali kosong). Adapun yang menonjol di desa ini adalah hubungan
kekerabatan. Mereka biasanya hidup berkelompok dengan mendirikan rumah
yang berdekatan. Tujuannya adalah agar antarkerabat dapat dengan mudah saling
tolong-menolong. Selain itu, keamanan lebih terjamin karena satu dengan lainnya
masih ada pertalian darah. Hampir setiap kampung ada kelompok-kelompok
sosial seperti itu, terutama di wilayah desa bagian atas. Sedangkan, di wilayah
desa bagian bawah semakin jarang. Di Kampung Cibiru Indah hal itu tidak
tampak karena kebanyakan wargaMenantu yang baik disini tentunya mempunyai
arti yang relatif.
Sementara itu, sarana kesehatan yang ada di Desa Cibiru Wetan adalah
sebuah Puskesmas Pembantu dan 15 unit Posyandu dengan tenaga medis 6 orang
yang terdiri atas: seorang dokter umum, seorang dokter gigi, dan 4 orang bidan.
Mengingat bahwa tidak semua warga memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada
di desanya, terutama yang berkenaan dengan kelahiran, maka di sana ada dua
orang dukun bayi yang telah dibekali pengetahuan medis. Dukun tersebut oleh
masyarakat setempat disebut sebagai paraji. Jika ada yang sakit parah maka yang
bersangkutan akan dirujuk ke rumah sakit-rumah sakit terdekat di Kota Bandung,
seperti Rumah Sakit Santo Yosef dan Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin.

46

4.2.6 Kesenian
Benjang, Kesenian yang berada dikawasan Wana Wisata Batu Kuda adalah
kesenian benjang. Benjang adalah jenis kesenian tradisional Tatar Sunda, yang
hidup berkembang di sekitar Kecamatan Ujung berung. Kabupaten Bandung
hingga kini. Pertunjukan ini mempertontonkan ibingan atau tarian yang mirip
dengan gerakan pencak silat, juga hampir sejenis dengan gerakan-gerakan
perkelahian gulat.
Umumnya kesenian tradisional Sunda yang selalu menggunakan lagu untuk
menggiringi gerakan-gerakan pemainnya. Demikian pula dalam seni benjang.
Lagu memegang peranan yang cukup penting dalam menampilkan seni ini.
Seperti pada lagu Rincik Manik dan Ela-ela, pemain benjang melakukan gerakan
yang disebut dogong, yaitu permainan saling mendorong antara dua pemain
benjang dengan menggunakan haluan dalam sebuan lingkaran atau arena. Yang
terseret ke luar garis lingkaran dalam dagong itu dinyatakan kalah.
Gerakan dagong tadi kemudian berkembang menjadi gerakan seredan yaitu
saling desak dan dorong seperti pemain sumo yang kemudian berkembang lagi
menjadi gerakan adu mundur. Peraturan untuk babagongan,dogong, seredan
maupun adu mundur dan dodombaan adalah melarang pemain menggunakan
tangan. Benjang merupakan perkembangan dari permainan adu munding (kerbau).
Dalam perkembangannya, pertunjukan benjang dilengkapi dengan keseniann
seperti badudan, kuda lumping, bangbarongan, topeng bendang yang kemudian
melebar hingga ke desa- desa lainnya.
Kuda lumping, merupakan kesenian lainnya selain seni Benjang yang
terdapat di sekitar kawasan Wana Wisata Batu Kuda kesenian kuda lumping ini
sering digunakan dalam memeriahkan berbagai hajatan/khitanan. Kegemaran
terhadap seni ini biasanya berlangsung secara turun-temurun. Segala kegiatan
yang berhubungan dengan kuda lumping maupun kuda renggong berpusat di
beberapa tempat yang sudah dikenal sebelumnya.

Gambar 28 Kesenian Benjang

Sumber : www.google.com
Kesenian ini biasanya ada pada warga yang melakukan hajatan (sunatan).
Biasanya diramaikan dengan bunyi-bunyian terompet dan gendang. Dan bila

47

bunyi-bunyian tersebut terdengar penduduk sekitar, hal ini menandakan ada suatu
keramaian, lantas hampir seluruh penduduk desa di kaki gunung tersebut tumpah
ruah di depan rumah milik seorang warga yang akan menggelar acara hajatan
tersebut.
Sejak puluhan tahun silam atau mungkin lewat, khitanan di desa ini
memang tak pernah lepas dari sebuah tradisi. Yakni, upacara memandikan dan
mengarak pengantin sunat atau anak yang akan dikhitan. Tradisi ini diawali
dengan pembacaan mantra penolak bala oleh salah seorang tetua desa. Agar
prosesi khitanan berjalan lancar dan sang anak terhindar dari berbagai gangguan
dari Batara Kala. Sudah menjadi tradisi turun-menurun jika seorang anak lelaki
yang akan dikhitan diberi pendamping anak perempuan seusianya, layaknya
sepasang calon mempelai. Kedua anak yang juga sering disebut pengantin sunat
ini lantas dimandikan dengan air suci yang bersumber dari pegunungan di
Parahyangan Timur. Upacara ini dilakukan agar fisik dan batin si anak menjadi
bersih, seputih beras yang dijadikan simbol. Usai dimandikan, pasangan pengantin
sunat ini diarak dengan jampana, yaitu kursi tandu yang dipanggul empat orang
dewasa. Mereka memutari desa dengan diiringi musik bamplang untuk
mengabarkan ke seluruh desa bahwa esok hari si anak akan menjalani salah satu
ritual yang dianjurkan agama Islam, yakni khitanan. Dan sepanjang jalan yang
dilalui, musik tak henti-hentinya ditabuh.
Antusiasme penonton yang sebagian besar warga pun meningkat. Kesenian
kuda lumping yang dipertontonkan sanggar kuda lumping ini pun kerapkali
diwarnai berbagai atraksi magis. Para penduduk biasanya mempercayai pawang
tersebut memiliki kemampuan supranatural tinggi. Keramaian kuda lumping
mencapai puncak ketika para pemain tampak kesurupan. Dalam keadaan tanpa
sadar, mereka melakukan hal-hal yang tidak wajar. Seperti memakan ayam hiduphidup atau beling (pecahan kaca). Hanya pawang yang nantinya dapat
menghentikan segala atraksi tersebut, seperti hal memulainya. Para pemain kuda
lumping dituntun untuk berbaring di atas tikar. Selanjutnya, pawang menyelimuti
seluruh tubuh mereka dengan selembar kain. Setelah membacakan mantra, para
pemain kuda lumping itu kembali sadar sediakala dan seolah tak pernah terjadi
apa-apa.
Tari Jaipong, merupakan kesenian lainnya yang terdapat di Ujung Berung
Kawasan sekitar Wana Wisata Batu Kuda. Tari jaipong meskipun termasuk kreasi
tari yang relatif baru, namun perkembangannya cukup diminati di Desa Cibiru,
Wetan ini. Tari Jaipong adalah seni tari yang berasal dari Jawa Barat, yang
diciptakan oleh seniman asal Bandung yaitu Gugum Gumbira disekitar tahun
1960. Jaipong yang berkembang di Desa Cibiru ini sebelumnya seperti ketuk tilu,
kliningan serta ronggeng.

48

Gambar 29 Tari Jaipong

Sumber : www.google.com
Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang
melatarbelakangi terbentuknya tari pergaulan ini. Di kawasan perkotaan Priangan
misalnya, pada masyarakat elite, tari pergaulan dipengaruhi dansa Ball Room dari
Barat. Sementara pada kesenian rakyat, tari pergaulan dipengaruhi tradisi lokal.
Pertunjukan tari-tari pergaulan tradisional tak lepas dari keberadaan ronggeng dan
pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan
upacara, tetapi untuk hiburan atau cara bergaul. Keberadaan ronggeng dalam seni
pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran.
Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda,
diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan
rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra
yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong.
Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang
baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.
Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran
(penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub)
beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai
Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang)
dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa
pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk
Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet
cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran
diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih
menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak
bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada
gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar
tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah
Tayuban dan Pencak Silat.
Tarian ini mulai dikenal luas sejak 1970-an. Kemunculan tarian karya
Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang
karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama
Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari

49

segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer
dengan sebutan Jaipongan.
Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap
para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang
sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan
oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari
Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat
tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini
dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan
nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat,
misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara).
Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris,
semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin
dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola)
seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak
dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah
ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang.
Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2)
Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola),
biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden
tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan
dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer
uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan
yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).
Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an,
di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari,
Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari
Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan
yang handal.
Panjat Pisang, salah satu dari sekian banyak permainan rakyat untuk
memeriahkan hari kemerdekaan itu adalah perlombaan panjat batang pisang yang
rutin diadakan oleh warga masyarakat Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi,
Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Konon, perlombaan ini adalah perkembangan
dari lomba panjat pinang yang sampai sekarang masih dimainkan oleh masyarakat
di daerah lain. Strategi adaptasi untuk mensiasati semakin langka dan mahalnya
pohon pinang membuat warga di daerah tersebut beralih menggunakan pohon
pisang yang relatif masih banyak dijumpai.
Pemain Permainan panjat batang pisang dapat dikategorikan sebagai
permainan remaja dan dewasa yang umumnya dilakukan oleh laki-laki berusia 15-23 tahun. Jumlah pemainnya antara 6--8 orang dalam bentuk kelompok dengan
anggota maksimal 2 orang. Selain pemain, lomba panjat pisang juga
menggunakan wasit untuk mengawasi jalannya perlombaan dan menetapkan
pemenang.

50

Gambar 30 Permainan Panjat Batang Pisang

Tempat dan Peralatan Permainan Perlombaan panjat batang pisang tidak


membutuhkan tempat (lapangan) yang luas. Ia dapat dimainkan di mana saja,
asalkan di atas tanah. Jadi, dapat di sawah yang telah selesai panen, di tanah
lapang, atau di areal perladangan. Luas arena permainan panjat pisang ini hanya
sepanjang 4--5 meter dan lebar sekitar 3--4 meter. Peralatan yang digunakan
diantaranya adalah: (1) tiga batang bambu yang relatif lurus dan sudah tua dengan
panjang masing-masing sekitar 10 meter; (2) sebuah batang pohon pisang
berdiameter sekitar 20--30 sentimeter yang daun dan kulit luarnya telah dikupas;
(3) seutas tambang berdiameter sekitar 5 sentimeter dan panjang 5 meter; (4) oli
bekas untuk melumuri batang pisang agar licin; (5) ember dan gayung untuk
membasahi tubuh pemain agar tetap licin ketika memanjat; (6) tali rafia, bilahbilah bambu tipis, paku, plastik; dan (7) hadiah-hadiah yang akan diperebutkan,
seperti: uang, sandal jepit, air mineral, pakaian, makanan ringan, sepatu, sepeda
dan lain sebagainya, bergantung dari dana yang dimiliki oleh panitia lomba.
Sedangkan cara membuatnya adalah sebagai berikut. Mula-mula tiga batang
bambu yang relatif lurus itu didirikan dan diujungnya diikat menjadi satu
sehingga membentuk segitiga sama kaki. Selanjutnya, pada bagian ujung bambu
yang menyatu digantungkan batang pohon pisang yang sebelumnya telah dilumuri
oli agar licin dan ujungnya dipasangi bilah-bilah bambu yang dibuat sedemikian
rupa hingga berbentuk lingkaran. Lingkaran yang terbuat dari bilahan bambu
itulah yang nantinya menjadi target para pemain karena digantungi berbagai
macam hadiah dari panitia perlombaan. Selanjutnya, pada bagian bawah batang
pohon pisang yang menggantung sekitar 20 sentimeter di atas tanah (seperti
sansak tinju) dibuat lubang sedalam 30--40 sentimeter dan diberi air.
Aturan Permainan Aturan dalam permainan ini tergolong mudah, yaitu
sebuah regu akan diberi waktu sekitar dua menit untuk dapat mencapai puncak
batang pisang dan mengambil hadiahnya. Apabila suatu regu berhasil atau tidak
berhasil mencapai puncak batang pisang, maka setelah waktu yang diberikan
selesai mereka harus digantikan oleh regu yang lainnya. Begitu seterusnya hingga
seluruh hadiah yang digantungkan pada puncak batang pisang tidak ada yang
tersisa lagi.

51

Jalannya Permainan Permainan panjat pisang diawali dengan pengundian


untuk menentukan regu mana yang akan memulai. Cara menentukannya mirip
seperti menuliskan nama-nama regu yang akan bermain dalam secarik kertas kecil
lalu digulung dan dimasukkan ke dalam botol atau gelas kemudian dikocok. Regu
yang gulungan kertasnya pertama keluar dari botol akan mendapat giliran pertama
untuk bermain, sedangkan regu lainnya sesuai dengan urutan kertas yang keluar
selanjutnya.
Setelah proses pengundian selesai, maka regu pertama yang terdiri dari dua
orang akan segera memasuki arena permainan. Orang pertama yang biasanya
berbadan lebih besar akan berjongkok dekat batang pisang, sedangkan orang
kedua akan berdiri di atas pundaknya sambil memegang batang pisang.
Selanjutnya orang pertama akan berdiri secara perlahan, sementara kawannya
akan berusaha sekuat tenaga untuk memanjat batang pisang yang sangat licin
karena telah diberi oli. Setiap regu akan diberi waktu sekitar dua menit untuk
dapat mencapai puncak batang pisang dan mengambil hadiahnya. Apabila suatu
regu berhasil atau tidak berhasil mencapai puncak batang pisang, maka setelah
waktu yang diberikan selesai mereka harus digantikan oleh regu yang lainnya.
Begitu seterusnya hingga seluruh hadiah yang digantungkan pada puncak batang
pisang tidak ada yang tersisa lagi.
Nilai Budaya Nilai yang terkandung dalam permainan yang disebut sebagai
panjat pisang ini adalah: kerja keras, kerja sama, dan sportivitas. Nilai kerja keras
tercermin dari semangat para pemain untuk dapat mencapai puncak batang pisang
dan mengambil hadiahnya. Nilai kerja sama tercermin dari kekompakan para
pemain ketika sedang bermain. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari
sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan,
tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada.
Seni Degung adalah suatu seni karawitan Sunda yang menggunakan
perangkat gamelan berlaras degung (lebih umum berlaras pelog). Pada umumnya
gamelan ini terdiri atas saron, panerus, bonang, jengglong, gong, kendang, goong,
serta suling.
4.2.7 Peralatan Hidup
Peralatan atau perlengkapan hidup yang digunakan masyarakat sekitar
seperti pakaian sudah terpengaruh oleh budaya modern. Akan tetapi sebagian
masyarakat memiliki profesi sebagai pengerajin perlatan dapur seperti panci dan
alat-alat dapur lainnya. Sehingga penduduk sekitarpun sudah menggunakan alatalat yang cukup modern. Walaupun masih ada sebagian masyarakat yang
menggunakan kompor dengan menggunakan kayu bakar. Sehingga masih ada
masyarakat yang mengambil kayu bakar dari Kawasan Wana Wisata Batu Kuda.
Peralatan hidup lainya seperti senjata atau alat yang sering digunakan
masyarakat untuk melindungi diri yaitu golok. Sedangkan untuk alat transportasi
sudah menggunakan motor ataupun sepeda dan sudah cukup berkembang dan
dimanfaatkan sebagai sarana yang efektif untuk kegiatan sehari-hari masyrakat.

52

Gambar 31 Golok Sebagai Peralatan Hidup Memotong Kayu Bakat

4.2.8 Kuliner
Wana wisata batu kuda, pada umumnya ialah sama dengan pedesaan yang
lainya, masyarakat sekitar memiliki jenis kuliner yang sama namun berpotensi
untuk dijadikan keunggulan dari kawasan tersebut. Beberapa jenis kuliner yang
dapat di unggulkan adalah, Susu murnni, serta olahanya berupa permen, juga
olahan dari jeruk bali, seperti kalua (olahan kulit jeruk bali), ikan bakar, ayam
bakar serta pepes (Pais).

Gambar 32 Pais Lauk (Makanan Khas Sekitar)

Susu murni berasal dari sebagian masyarakat yang berprofesi sebagai


peternak sapi dan mengolah hasil ternaknya tersebut hingga dijual dipasaran.
Sedangkan untuk jeruk bali, dikawasan memang memiliki potensi pengembangan
tanaman jeruk bali karena tanaman ini cukup melimpah disepanjang rumah
penduduk.
Pengembangan terhadap kuliner juga dapat dilakukan oleh masyarakat
dengan beberapa pertimbangan yang harus dilakukan. Akan tetapi jika dilakukan

53

pengembangan terhadap wisata kuliner yang sudah ada, cukup memungkinkan


sebagai peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar.
4.2.9 Material Heritage
Masyarakat sekitar batu kuda memiliki potensi berupa material heritage.
Material heritage tersebut berupa perumahan warga yang masih berbentuk rumah
panggung, kerajinan dari bahan almunium dan besi, serta beberapa kerajinan yang
dibuat dari bahan anyaman dan hiasan. Dikawasan wana wisata batu kuda juga
memiliki beberapa peninggalan-peninggalan, yang di percaya sebagai bekas
peninggalan prabu siliwangi, diantaranya adalah batu kuda, batu kursi, batu
tumpeng, batu ampar, dan batu keraton.
Batu Kuda merupakan kuda yang dipercaya sebagai tunganggan Prabu
Layang Kusuma. Sedangkan Batu Kursi merupakan tempat yang dikeramatkan
sebagai tempat singgah dari Prabu Layang Kusuma tersebut. Adapun Batu Kraton
yang sering digunakan sebagai tempat berjiarah masyarakat sekitar yang
dipercaya akan memberikan kebaikan untuk mereka.
4.3 Sumberdaya dan Potensi Wisata Non Alami
Wana wisata ini terdiri dari hutan tanaman campuan (pinus, kaliandra dan
cemara). Sumber air yang ada berupa mata air yang saat ini dimanfaatkan untuk
keperluan pengunjung dan masyarakat sekitar kawasan. Potensi visual lanserkap
didalam kawasan yang cukup menarik adalah hutan tanaman campuran dan hutan
alam, batu kuda (batu yang mirip kuda), hutan pegunungan dan udara pegunungan
yang sejuk. Wana wisata ini digunakan untuk harian dengan kegiatan yang dapat
dilakukan antara lain adalah mendaki gunung, piknik dan lintas alam.

Gambar 33 Objek Dari Kawasan

Sebagai obyek wisata Batu kuda sudah lama dikenal orang paling tidak oleh
penduduk Bandung Utara yang sebelumnya mengenal Batu kuda sebagai tempat
untuk mencari kayu bakar. Dahulu akibat penebangan liar hutan disekitar Batu
kuda yang dulu lebar kini tinggal kenangan. Bahkan penebangan hutan yang tidak
sesuai dengan aturan itu, wilayah Ujung Berung kini masih sering terendam air
akibat banjir bendang dari kaki gunung Manglayang.

54

Batu-batuan diantaranya bernama Batu Tumpeng, Batu Lamunan, Batu


pasir Jirak, Pasir Kitumbak, curug kecapi, curug Cilengkrang dan curug
pamujaan. Dibatu-batuan dan tempat itulah acapkali digunakan sebagai tempat
pemujaan dan sesaji Leuit, Batu Semar, Batu Keraton, Batu Ampar, Batu Korsi
dan Batu.
4.4

Manajemen Pengelolaan Kawasan atau Obyek Wisata

Kawasan wana wisata Batu Kuda memiliki manajemen pengelolaan yang


agar dalam pelaksanaannya berjalan dengan baik, maka dimulai dengan adanya
sejarah pengelolaan hingga struktur organisasi pengelolaan yang mengatur sistem
pengelolaan Wana Wisata Batu Kuda. Hal ini dimaksud untuk mencapai maksud
dan tujuan kawasan Wana Wisata Batu Kuda sebagai suatu kawasan yang
dimanfaatkan sebagai kawasan wisata alam. Manajemen pengelolaan Wana
Wisata Batu Kuda diantaranya sebagai berikut
4.4.1 Kebijakan dan Peraturan Pengelola
Kebijakan yang diberikan terkait dengan hubungan antara pengelola dengan
organisasi masyarakat yang membantu dalam kegiatan pengelolaan kawasan
Wana Wisata Batu Kuda atau yang disebut juga sebagai LMDH (lembaga
masyarakat desa hutan) yang telah memberikan kewenangan untuk masyarakat
dalam memperoleh hasil hutan non-kayu seperti penyadapan getah pohon pinus,
berkebun kopi di dalam kawasan dan berdagang di dalam kawasan, serta
mengambil rumput untuk keperluan pakan ternak agar dapat lebih bermanfaat
bagi masyarakat sekitar ataupun dapat menghasilkan keuntungan untuk pengelola
sebagai salah satu sumber penghasilan yang tetap. Keuntungan yang diperoleh
masyarakat sekitar kawasan Wana Wisata Batu Kuda dari kebijakan - kebijakan
yang telah ada diantaranya meningkatkan sumber ekonomi masyarakat dan
mengurangi jumlah remaja pengangguran yang ada di dalam masyarakat sekitar,
selain itu keuntungan bagi pengelola yang diperoleh sekaligus dari kebijakan
yang dibuat oleh pengelola untuk masyarakat yang telah mengikuti kebijakan
diantaranya seperti mendapatkan saluran sumber penghasilan
lain dari
keuntungan penjualan tiket masuk kawasan dan komunikasi yang baik dari
kerjasama antara masyarakat dan pengelola yang saling menguntungkan. Pihak
perhutani memberikan kebebasan kepada masyarakat sekitar untuk menanam
tanaman yang nantinya akan bermanfaat bagi masyarakat sendiri di sekitar
kawasan wisata batu kuda.

Gambar 34 Seminar Dengan ADM KPH Bandung Utara Mengenai Pengelolaan

55

Beberapa peraturan yang diberlakukan untuk masyarakat yang berkaitan


dengan kebijakan kebijakan yang telah disepakati bersama oleh masyarakat
dengan pengelola diantaranya adalah tidak dibolehkannya mengambil kayu untuk
keperluan bahan bakar atau sampai menebang serta merusak tumbuhan kayu yang
tumbuh di dalam kawasan, serta tidak dibenarkannya terjadi kebocoran penjualan
tiket untuk masyarat sekitar yang datang untuk berwisata dengan tidak membayar
tiket masuk kawasan Wana Wisata Batu Kuda.
Kebijakan tersebut tidak semuanya berjalan baik karena terdapat beberapa
masyarakat yang menggunakan kebijakan sebagai cara mengeksploitasi flora
maupun fauna pada kawasan secara berlebihan. Adapun kebijakan lainnya seperti
kebijakan dalam memberikan aliran listrik kepada masyarakat yang berkontribusi
langsung dengan pengelolaan kawasan yaitu contonya masyarakat yang berjualan
dan diberikan fasilitas warung serta listrik yang dipungut biaya sesuai dengan
kemampuan ekonomi masyarakat tersebut. Namun kebijakan tersebut melihat
kondisi ekonomi masyarakat apakah warung yang mereka miliki ramai pembeli
atau tidak, jika tidak pengelola memberikan kelonggaran untuk masyarakat tidak
membayar kontribusi listrik yang mereka gunakan dari pihak pengelola perhutani.
Wana Wisata Batu Kuda merupakan kawasan wisata yang terdapat di
Bandung Utara yang memiliki fungsi dan peranan sebagai tempat untuk
berekreasi, berkemah, serta untuk kepentingan konservasi. Keberadaan Wana
Wisata Batu Kuda digunakan sebagai tempat dengan tujuan konservasi sekaligus
tempat untuk berwisata ini memiliki beberapa kebijakan dan peraturan dalam hal
pengelolaan kawasan. Dengan adanya pemberlakuan kebijakan dan peraturan
diharapkan agar dapat mengatur jalannya pengelolaan atau mengatur manajemen
pengelolaan serta menjaga keseimbangan pengelolaan di Wana Wisata Batu Kuda
yang memungkinkan adanya turut campur beberapa pihak eksternal yang dapat
memberikan pengaruh terhadap kegiatan pengelolaan dan berjalannya kegiatan
operasional pengelolaan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Kebijakan
peraturan yang mengatur jalannya pengelolaan atau manajemen kawasan Wana
Wisata diantaranya terkait dengan dasar peraturan yang mengatur jalannya sistem
kepengelolaan, diantaranya diatur dalam :
a. Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam No.
SK. 192/IV-Set/HO/2006 tanggal 13 November 2006.
b. Keputusan Direksi Perum Perhutani No. 169/Kpts/Dir/2012 Tentang Lokasi
Wana Wisata Perum Perhutani.
c. Undang-undang No. 41 tahun 1999 Tentang Kehutanan Pasal 26 dengan
isinya
1. Pemanfaatan hutan lindung dapat berupa pemanfaatan kawasan,
pemanfaatan jasa lingkungan, dan pemungutan hasil hutan bukan kayu.
2. Pemanfaatan hutan lindung dilaksanakan melalui pemberian izin usaha
pemanfaatan kawasan, izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan, dan izin
pemungutan hasil hutan bukan kayu.
4.4.2 Visi dan Misi Pengelolaan
Kawasan Wana Wisata Batu Kuda memiliki visi dan misi dalam
pengelolaan kawasan wisatanya namun visi dan misi yang ada di kawasan
mengikuti visi dan misi pihak perhutani. Visi perhutani yaitu menjadi pengelola

56

hutan lestari untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sedangkan misi


perhutani adalah sebagai berikut :
1.

2.

3.

Mengelola sumberdaya hutan dengan prinsip pengelolaan hutan lestari


berdasarkan karakteristik wilayah dan daya dukung Daerah Aliran Sungai
(DAS), meningkatkan manfaat hasil hutan kayu dan bukan kayu, ekowisata,
jasa lingkungan, ogroforestry serta potensi usaha berbasis kehutanan lainnya
guna menghasilkan keuntungan untuk menjamin pertumbuhan perusahaan
berkelanjutan.
Membangun dan mengembangkan perusahaan, organisasi serta sumberdaya
manusia perusahaan yang modern, profesional dan handal, memberdayakan
masyarakat desa hutan melalui pengembangan lembaga perekonomian
koperasi masyarakat desa hutan atau koperasipetani hutan.
Mendukung dan turut berperan serta dalam pembangunan wilayah secara
regional, serta memberikan kontribusi secara aktif dalam penyelesaian
masalah lingkunga regional nasional dan internasional.

4.4.3 Maksud dan Tujuan Pengelolaan


Perhutani memiliki maksud dan tujuan tertentu dalam mengelola Kawasan
Wana Wisata Batu Kuda. Mengambil dari pertimbangan bahwa kawasan
merupakan wilayah resapan dan sumber air bagi sebagian penduduk di wilayah
Desa Cikoneng, cinunuk, Cimekar dan Cileunyi Kulon. Keberadaan wilayah
tersebut dapat memberikan banyak manfaat sehingga dibutuhkannya pengelolaan
yang baik dari pihak perhutani.
Manfaat yang dapat ditimbulkan dari segi fungsi hidrologi, klimatologis,
biologis, geomorfologis, edukasi, tourism, dan segi ekonomi. Manfaat dari setiap
fungsi tersebut dapat dilihat pada Tabel 8
Tabel 8 Fungsi Kawasan Wana Wisata Batu Kuda
No
1

Fungsi
Hidrologi

2
3

Klimatologis
Biologis

Geomorfologis

Edukasi

Tourism

Ekonomi

Manfaat
Menyediakan cukup air tanah dan air permukaan bagi
kepentingan air minum dan MCK
Sebagai paru-paru bagi kabupaten dan kota Bandung
Tersedianya laboratorium alam yang menyediakan plasma
nutfah khas yang hanya terdapat di wilayah tersebut dan
kekayaan hewani lainnya
menangkal tersedianya erosi dan longsoran tanah yang
diakibatkan oleh teknik penggunaan lahan pertanian yang
tidak tepat
Tempat pembelajaran dan penempaan mental ideologi yang
mendukung program KBM di sekolah
Sebagai tempat refreshing dan relaksasi bagi warga yang
telah penat setelah melakukan aktivitas rutin selama satu
minggu penuh
Menambah ekonomi penduduk melalui atraksi dan
penjualan makanan dan produk khas bagi para wisatawan
yang berkunjung ke kawasan tersebut

57

Berdasarkan ke tujuh manfaat yang bisa diberikan kawasan terhadap


lingkungan di sekitar kawasan, pengelola dapat bekerjasama dengan instansi
lainnya yang berkaitan dan berkompeten dalam menguasai sumber-sumber
penghidupan masyarakat sekitar seperti sumber-sumber mata air yang terdapat di
sekitar Gunung Manglayang. Membuat aturan ketat dan sanksi berat serta
memperketat tingkar pengawasan bagi kelestarian hutan yang ada agar luasan
wilayahnya tidak bertambah sempit. Memperbaiki fasilitas prasarana jalan menuju
Wana Wisata sebagai akses masuk ke kawasan yang terlihat rusak parah,
berlubang. Mempertimbangkan aspek what to see, what to do and what to buy
agar wana wisata memiliki daya tarik yang tinggi. Serta menindka tegas bagi para
pelaku yang melakukan perusakan alam lingkungan Gunung Manglayang dengan
hukum yang ada.
4.4.4 Status dan Kepemilikan dalam Pengelolaan
Status kepemilikan Wana Wisata Batu Kuda dibawah pengelolaan Perhutani
yang berdasarkan SK Direksi No. 169/Kpts/Dir/2012 tanggal 19 Maret 2012
perihal lokasi Wana Wisata Perum Perhutani yang merupakan revisi dari SK
Direksi No. 300/Kpts/Dir/2007 perihal Wilayah Wana Wisata Perum Perhutani.
Berdasarkan SK tersebut tercantum lokasi-lokasi wana wisata yang dikelola
KBM/KPH yang sudah ditetapkan Direksi sebagai wilayah wana wisata Perum
Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten. Keputusan Direksi Perum Perhutani
No. 169 /Kpts/Dir/2012 tentang lokasi Wana Wisata Perum Perhutani. Direktur
utama Perum Perhutani. Pada SK tersebut menimbang bahwa sejalan dengan
perkembangan usaha pariwisata alam dan jasa lingkungan diperlukan penetapan
kembali lokasi wisata di wilayah Perum Perhutani serta wilayah Wana Wisata
tersebut perlu disesuaikan dan dipertimbangkan.
Status Kepemilikan Perhutani dalam pengelolaan Wana Wisata Batu Kuda
ini berkaitan dengan Undang-undang Nomer 5 Tahun 1990, Undang-Undang
Nomer 41 Tahun 1999, Peraturan Pemerintah Nomer 72 Tahun 2010, Keputusan
Menteri Negara BUMN Nomer. Kep- 170/MBU/2011, Keputusan Direksi Perum
Perhutani Nomer.987/Kpts/Dir/2007 dan Keputusan Direksi Perum Perhutani
Nomer. 565/Kpts/Dir/2011.
Hal yang harus diperhatikan yaitu mengenai Surat Kepala Perum Perhutani
Unit I Jawa Tengah Nomer/361/043.7/Insar/I tanggal 14 Maret 201, Surat Kepala
Perum Perhutani Unit III Jawa Barat Nomer.604/043.7/Insar/III tanggal 28
Oktober 2010, Surat Kepala Biro Perencanaan Unit II Jawa Timur Nomer
07/043.7/PJU/Um/Ren Ush/II tanggal 25 Januari 2012 , Surat Direksi Nomer
408/043.7/EJULA-SAR/Dir tanggal 11 Juli 2011 yang diputuskan dan ditetapkan
bahwa lokasi Wisata Perum Perhutani yang meliputi : Nama Lokasi, Lokasi, Luas,
diatur sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini. Dengan
ditetapkannya Keputusan ini maka Keputusan Direksi Perum Perhutani Nomer :
300/Kpts/Dir/2007 tentang Wilayah Wana Wisata Perum Perhutani dinyatakan
tidak berlaku.
4.4.5 Organisasi Pengelolaan
Kawasan Wana Wisata Batu Kuda di bawah pengelolaan Perhutani. Stuktur
Organisasi bertujuan mempermudah suatu tugas atau bagian dalam setiap

58

perusahaan untuk keberhasilan perusahaan tersebut. Struktur Organisasi yang


mengelola kawasan Wana Wisata Batu Kuda adalah sebagai berikut:
Kesatuan Pemangkuan
Hutan (KPH)
Administratur

Bagian Kesatuan Pemangkuan


Hutan (BKPH)

Asisten Perum Perhutani

Kepala Resort Polisi Hutan


(KRPH)
Kepala Resort

Mandor Wisata

Petugas Tiket
(LMDH)

Gambar 35 Struktur Organisasi

Petugas Parkir
(LMDH)

59

4.4.6 Pengelolaan Prasarana, Sarana, dan Fasilitas


Pada umumnya kondisi fasilitas yang terdapat pada Wana Wisata Batu
Kuda dalam keadaan baik dan beberapa fasilitas masih dapat difungsikan, namun
pada beberapa fasilitas seperti MCK, mushola dan warung memiliki kondisi yang
cenderung tidak cukup baik bahkan pada kondisi fasilitas mushola keadaanya
sangat memprihatinkan dan tergolong fasilitas yang membahayakan jiwa
pengunjung ataupun pengguna lainnya baik untuk pengelola ataupun masyarakat
yang ingin menggunakannya, hal ini terlihat dari kondisi atap atau langit langit
dari bangunan mushola tersebut terlihat rapuh dan sudah terlihat seperti ingin
runtuh karena kayu kayunya sudah lapuk. Untuk kesinambungan fungsi dari
masing-masing fasilitas yang ada perlu adanya pemeliharaan yang memadai dari
pihak pengelola agar memberikan kenyamanan bagi para pengunjung karena
untuk sarana dan fasilitas wisata belum terdapat pengelolaan khusus dalam
perawatannya. Kondisi dari mushola di kawasan dapat terlihat pada gambar
berikut.

Gambar 36 Keadaan Fasilitas Mushola di Wana Wisata Batu Kuda

Pada semua fasilitas yang terdapat pada kawasan Wana Wisata Batu Kuda
merupakan tanggung jawab dari mandor wisata yang berada pada kawasan wisata
tersebut. Upaya yang dilakukan oleh penanggung jawab semua fasilitas wisata ini
diantaranya membersihkan MCK pada waktu - waktu tertentu. Penanggung jawab
fasilitas ini melakuan kegiatan seperti membersihkan sampah-sampah yang berada
di dalam dan sekitar MCK, seperti bekas pemakaian tissue oleh pengunjung.
Pengelolaan Prasarana, sarana dan fasilitas di kawasan Wana Wisata batu
kuda belum berjalan dengan baik. Cara mengelola beberapa fasilitas seperti jalan
setapak, tempat duduk, mushola, tempat sampah, gazebo masih kurang
diperhatikan oleh pihak pengelola.
Permasalahan yang terjadi dengan pengelolaan sarana, prasarana serta
fasilitas yaitu adanya pungutan biaya oleh masyarakat yang turut berperan dalam
pengelolaan kepda pengunjung dalam penggunaan fasilitas. Seharusnya biaya
tersebut dipotong oleh uang pengelolaan fasilitas, akan tetapi yang terjadi yaitu
uang yang seharusnya diutamakan untuk merawat sarana,prasarana dan fasilitas

60

langsung masuk kedalam upah masyarakat. Padahal tidak sedikit masyarakat


yang turut menggunakan fasilitas wisata tersbut
4.4.7 Kerjasama dengan Pihak Lain
Pihak pengelola memiliki banyak kerjasama dengan pihak lain dalam
berbagai bidang masing-masing. Bentuk kerjasama yang dilakukan pengelola
berhubungan dengan kawasan wisata dan juga berhubungan dengan sumberdaya
alam yang ada di dalam kawasan wisata. Kerjasama yang dilakukan dari pihak
pengelola dan pihak lainnya telah disetujui secara bersama walaupun terdapat
sebagian kerjasama yang hanya dibuat secara lisan tidak melalui tulisan. Banyak
pihak yang menjalin kerjasama dengan pengelola seperti pemerintah daerah,
Lembaga Masyarakat dalam Hutan (LMDH), pemerintah daerah, koperasi, dan
asuransi.
Bentuk kerjasama yang dilakukan pihak pengelola dalam bidang
pemanfaatan air kawasan hutan dengan PT. Wijaya Karya dan PT. Nuawanah Al
Masoem. Kerjasama dalam pemanfaatan air dengan pihak PT. Wijaya Karya
digunakan untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga, seperti pengairan untuk
perumahan-perumahan yang letaknya 20 km dari sumber mata air. Sedangkan
kerjasama yang dilakukan dengan pihak PT. Nuawanah Al Masoem telah terjalin
selama 8 tahun hingga sekarang, kerjasama dimulai pada bulan Juli tahun 2004
hingga sekarang kerjasama masih terjalin, pengairan dari sumber mata air sejauh 7
km yang digunakan untuk air mineral atau air dalam kemasan.

Gambar 37 Air Minum Perhutani Kerjasama Bersama Al Masoem

Bentuk kerjasama lainnya yang dilakukan pihak perhutani yaitu


pemanfaatan jasa lingkungan untuk pengelolaan wisata bekerjasama dengan
Lembaga Masyarakat dalam Hutan (LMDH). Masyarakat memiliki peran penting
dalam membantu peningkatan kualitas kawasan wisata. Bentuk kerjasama antara
pihak perhutani dan LMDH dengan melibatkan masyrakat sekitar dalam
pengelolaan seperti petugas tiket ataupun parkir dan bisa juga menjadi guide bagi
pengunjung yang ingin melakukan kegiatan mendaki Gunung Manglayang.
Kerjasama lainnya dengan LMDH terlihat dari kompensasi yang didapatkan desa
sekitar kawasan mendapatkan keuntung Rp 500,00 setiap penjualan satu tiket

61

kawasan wisata batu kuda. Kerjasama lainnya seperti pendirian warung-warung


kecil di dalam kawasan wisata.

Gambar 38 Pengelolaan Ticketing Oleh Pihak LMDH

Kerjasama yang dijalin pihak perhutani dengan pihak lainnya yaitu bentuk
kerjasama asuransi keselamatan dengan pihak PT Asuransi Bhakti Bhayangkara.
Kerjasama tersebut terjalin untuk menjamin keselamatan setiap pengunjung yang
datang. Kerjasama tersebut terlihat dari harga tiket masuk, dimana Kawasan
Wisata Batu Kuda memiliki dua tiket yang berbeda, tiket pertama yaitu tiket
memasuki wisata dan tiket kedua khusus untuk pengunjung yang melakukan
kegiatan berkemah. Biaya asuransi yang dikeluarkan pun berbeda. Bagi
pengunjung yang melakukan kegiatan berkemah dikenakan biaya sebesar Rp
250,00 yang disisihkan untuk dana asuransi keselamatan. Bagi setiap pengunjung
mendapatkan dana asuransi sebesar Rp 10.000.000,00 apabila terjadi sesuatu hal
yang tidak diinginkan.

Gambar 39 Tanda Masuk Camping Ground di Batu Kuda

Pihak pengelola yaitu Pihak Perhutani melakukan kerjasama dalam berbagai


bidang dengan tujuan tertentu. Selain untuk memanfaatkan sumberdaya alam yang

62

ada di dalam kawasan tersebut, kerjasama yang dilakukan guna untuk mendukung
kelancaran kegiatan wisata yang dilakukan di dalam Kawasan Wisata Batu Kuda.
Selain itu juga guna untuk membantu masyarakat sekitar dalam segi ekonomi agar
taraf hidup masyarakat bisa meningkat dengan adanya kawasan wisata tersebut di
desa mereka.
4.5

Kegiatan Pengelolaan Kawasan atau Obyek Wisata

Kegiatan pengelolaan yang dapat dilakukan di wana wisata Batu Kuda yaitu
seperti merawat fasilitas yang tersedia, contohnya yaitu membersihkan toilet,
MCK, musola dan pos jaga atau pos tiketing. Kegiatan tersebut cukup bermanfaat
bagi pengunjung, masyarakat maupun pengelola kawasan dan obyek wisata yang
ada. Umumnya kegiatan tersebut tidak berjalan setiap hari.
4.5.1 Pengelolaan Parkir
Pengelolaan parkir pada kawasan Batu kuda di tangani langsung oleh
masyarakat sekitar. Lahan parkir tersebut berada tepat setelah pintu masuk
kawasan, selain itu pengunjung dapat memarkirkan kendaraan mereka dengan
tarif normal sekitar Rp. 1000 . Biaya parkir tersebut merupakan biaya yang
disalurkan langsung kepada masyarakat dan tidak ada potongan untuk perhutani.
Terlihat dari pengelolaanya, tempat parkir ini tidak cukup luas, akan tetapi
mampu menampung mobil dan motor. Seharusnya lahan parkir ini digunakan
lebih efektif lagi. Seperti dipisahnya parkiran motor dan mobil sehingga lebih
tertata dan mudah di jangkau.

Gambar 40 Pengeloaan Parkir

Masyarakat yang mengelola parkir seharusnya diberikan pakaian atau


seragam yang layak dikawasan sehingga mencirikan bahwa masyarakat tersebut
adalah petugas parkir. Kemampuan berbahasa yang baik juga sangat diharapkan
oleh pengunjung ketika masyarakat tersebut melayani pengunjung saat
memarkirkan kendaraan mereka.

63

4.5.2 Pengelolaan Ticketing


Kawasan Batu Kuda memiliki bagian ticketing yang terletak pada pintu
masuk utama dan berdekatan dengan gazebo. Pengelolaan ticketing ini di kelola
oleh masyarakat sekitar kawasan yang merupakan bapak Kepala RT setempat.
Biaya tiket masuk bagi pengunjung Batu Kuda yaitu Rp. 3.000 sedangkan biaya
untuk kegiatan kemping Rp. 5000. Dana tersebut disalurkan langsung kepada
pehutani sebesar Rp. 2500 dan Rp.500 diberikan kepada masyarakat yang ikut
terlibat dalam pengelolaan di wana wisata Batu Kuda.

Gambar 41 Kegiatan Ticketing

Permasalahan yang terjadi pada pengelolaan ticketing yaitu terkadang


terdapat beberapa oknum pengunjung yang masuk menerobos tanpa membeli tiket
terlebih dahulu. Saran yang diberikan untuk pengelola tiket sebaiknya lebih
waspada dan memberikan sangsi atau teguran keras bagi pengunjung yang tidak
membeli tiket.
4.5.3 Pengelolaan Fasilitas Wisata
Kawasan wisata tentunya harus memiliki sarana dan prasarana serta fasilitas
yang dapat menunjang kenyamanan serta berjalannya kegiatan wisata bagi para
pengunjung agar lebih optimal. Selain itu, pengelolaan mengenai fasilitas wisata
oleh pengelolapun harus dimaksimalkan agar dapat lebih memberikan kepuasan
dan kenyamanan bagi setiap pengunjung yang akan memanfaatkan fasilitas wisata
di suatu kawasan. Sarana, prasarana dan fasilitas yang ada pada kawasan Wana
Wisata Batu Kuda dapat dilihat pada Tabel 9
Tabel 9 Kondisi Fasilitas Wisata

No.
1.
2.

Jenis Fasilitas
Areal Parkir
Warung kopi

Jumlah
1
3

3.

Loket Karcis

Keterangan
Kondisi baik, berfungsi
Kondisi baik, 2 unit berfungsi dan 1 tidak
berfungsi
Kondisi baik, 1 berfungsi

4.
5.

Mushola
MCK

1
2

Kondisi kurang baik, berfungsi


Kondisi kurang baik, 1 unit berfungsi

64

6.
7.
8.

tempat sampah
Bumi perkemahan
Track kendaraan roda dua
(Motorcross)
9.
Track sepeda gunung (Downhill)
Sumber : Data Primer, 2012

4
2
1

Kondisi baik, semua berfungsi


Kondisi baik, berfungsi
Kondisi baik, berfungsi

Kondisi baik, berfungsi

Kawasan wisata batu kuda merupakan kawasan wisata yang sedang dalam
tahap pengembangan. Segala sesuatu yang berada ataupun yang dilakukan di
kawasan masih perlu perbaikan untuk menuju ke tingkat yang lebih tinggi lagi,
terutama dalam pengelolaan fasilitas yang telah ada. Banyak pengunjung yang
telah mengetahui ataupun telah berkunjung ke kawasan namun dalam tingkat
kepuasan pengunjung belum mendapatkan kepuasan yang maksimal.
Pengelola telah menyediakan berbagai faslitas dalam menunjang kegiatan
yang dilakukan oleh pengunjung. Fasilitas yang telah disediakan di kawasan yaitu
MCK, mushola, shelter, basecamp, warung, tempat parkir, loket tiket, tempat
sampah, tempat duduk, jalan setapak, camping ground, gapura dan papan nama.
Namun sangat disayangkan fasilitas yang ada di dalam kawasan belum cukup
memenuhi kepuasan para pengunjung yang datang.
MCK. Fasilitas MCK merupakan hal yang sangat penting dalam kegiatan
wisata karena tidak dapat diprediksi pengunjung bisa kapan saja sangat
membutuhkan fasilitas MCK. Fasilitas tersebut digunakan tidak hanya
pengunjung namun pengelola dan masyrakat lokal yang bertugaspun bisa
menggunakan fasilitas selama 24 jam. MCK di kawasan telah dibagi berdasarkan
gender dan hanya terdapat satu bangunan MCK dengan dibagi menjadi empat
pintu masing-masing gender. MCK terletak di dekat bangunan mushola, beberapa
meter dari gapura pintu masuk kawasan. Kekurangan yang ditemukan dari
fasilitas MCK yaitu kurangnya jumlah bangunan MCK yang disediakan oleh
pengelola kawasan, bagi pengunjung yang melakukan kegiatan berkemah di zona
padang akan sangat sulit mengakses MCK yang jaraknya jauh dari lokasi.
Kebersihan dan perawatan fasilitas MCK juga menjadi permasalahan dalam
tingkat kepuasan pengunjung.

Gambar 42 Fasilitas MCK di Batu Kuda

Mushola disediakan bagi pengunjung muslim yang ingin melakukan ibadah.


Bangunan mushola disediakan hanya satu bangunan oleh pengelola. Letaknya

65

strategis dekat dengan MCK sehingga mempermudah pengunjung untuk


mengambil air wudhu. Mushola memiliki luas 3 x 3 meter yang mampu
menampung 10 pengunjung di dalamnya ketika shalat. Terdapat kekurangan yang
dapat menyembabkan timbulnya potensi berbahaya bagi pengunjung yang
melakukan shalat, bangunan mushola pondasinya sudah tidak begitu kuat dan
atapnya pun terlihat rapuh. Letak mushola yang juga menjadi bahaya karena
pintunya langsung menghadap ke jurang.

Gambar 43 Fasilitas Mushola di Batu Kuda

Loket Karcis. Fasilitas Loket terdapat dua bangunan, satu berada di depan
dan satunya terdapat di dekat tempat parkir. Dua bangunan tersebut tidak
semuanya dimanfaatkan, hanya satu bangunan loket karcis saja yang digunakan
yaitu loket di pintu masuk kawasan wisata. Bangunan loket terbuat dari bambu
dan atapnya terbuat dari jerami daun kelapa, untuk perawatannya bangunan loket
sudah diajukan untuk perbaikan bangunannya dan dibuat lebih besar dan lebih
nyaman untuk para penjaga tiket. Pengelola membutuhkan waktu tiga bulan ke
depan untuk memulai renovasi perawatan fasilitas loket karcis.

Gambar 44 Fasilitas Loket Karcis di Batu Kuda


( a. Loket Karci Depan ; b. Loket Karcis dekat tempat parkir)

Warung. Warung yang terdapat di kawasan sebanyak 3 warung yang


terletak tidak jauh dari pintu masuk kawasan. Wisatawan dapat menikmati
berbagai macam rasa mie dan kopi instant di warung tersebut. Bangunan warung
terbuat dari bilik bambu dan pengelola memberikan kebijakan pembukaan warung
oleh masyarakat lokal dengan tetap menjaga kebersihan sekitar warung.

66

Penempatan lokasi setiap warung pihak pengelola yang mengatur sehingga


letaknya teratur dan tertata rapi antara warung satu dengan yang lainnya.

Gambar 45 Fasilitas Warung di Batu Kuda

Tempat Sampah. Fasilitas tempat sampah disediakan pengelola berjumlah


3 buah dengan dua tipe yang berbeda. Tipe pertama dibuat dari bahan bambu yang
dibentuk persegi panjang ke atas dan tipe kedua merupakan tempat sampah
permanen yang dibuat dari bahan semen dan hanya berjumlah satu buah tempat
sampah permanen saja. Letaknya yang sangat tidak strategis yang hanya terletak
di dekat-dekat warung saja namun pada camping ground hanya tersedia satu
tempat sampah permanen dan hanya terletak di area blok loji saja sedangkan
camping ground lainnya tidak diberikan tempat sampah permanen.

(a)

(b)
Gambar 46 Fasilitas Tempat sampah
(a. Tempat Sampah Permanen ; b. Tempat Sampah Bambu )

Tempat duduk disediakan oleh para pengelola sebanyak 5 buah dengan dua
tipe. Tipe pertama yaitu terbuat dari batang pohon yang bulat dan dibelah dua,
sehingga membentuk setengah lingkaran dan dihaluskan dan tipe kedua yaitu
tempat duduk terbuat dari bahan bambu yang disusun sehingga bisa diduduki oleh
wisatawan. Tempat duduk tipe kedua merupakan tempat duduk yang bisa
menimbulkan potensi bahaya bagi wisatawan, dengan batang yang licin dan
permukaan tidak rata karena berbentuk setengah lingkaran, akan membuat
wisatawan jatuh ketika mendudukinya.

67

Gambar 47 Fasilitas Tempat Sampah di Batu Kuda


(a. Tempat duduk bambu ; b. Tempat duduk kayu)

Basecamp. Pengelola juga menyediakan fasilitas basecamp. Basecamp


terletak di dekat tempat parkir dan memiliki luas 3 x 9 meter. Basecamp selain
digunakan untuk beristirahat para pengelola namun digunakan juga sebagai
tempat informasi dan penyewaan peralatan berkemah. Namun sangat disayangkan
tempat tersebut tidak dirawat dengan baik sehingga membuat semua ruangan
sangat berdebu dan juga tidak berfungsi sesuai dengan manfaatnya.

Gambar 48 Fasilitas Basecamp di Batu Kuda

Shelter. Setiap shelter tersedia di warung-warung masyarakat. Fasilitas


tersebut memiliki ukuran 3 x 3 meter yang terbuat dari bilik bambu. Namun
kurangnya jumlah shelter yang terletak di camping ground, untuk mengatasi
kemungkinan hujan yang datang dengan tiba-tiba, karena jarak antara camping
ground dan shelter berjauhan.

68

Gambar 49 Fasilitas Shelter di Batu Kuda

Jalan Setapak. Pengelola menyediakan jalan setapak dengan dua tipe yang
berada di sepanjang jalur kawasan. Tipe pertama yaitu jalan setapak yang diberi
bebatuan dengan tujuan agar jalan tidak becek dan tidak membuat mobil ataupun
motor tergelincir melewatinya, jalan setapak ini terletak disepanjang jalan dari
loket karcis menuju tempat parkir. Jalan setapak yang kedua yaitu jalan setapak
yang sengaja dibuat alami beralaskan tanah. Terdapat potensi bahaya dengan tipe
jalan setapak yang kedua, ektika hujan turun dan membuat jalan tersebut licin
sangat membahayakan wisatawan ketika berjalan di tempat yang terjal, terlebih
lagi terdapat jalan setapk yang pinggirnya langsung menuju jurang tanpa
diberikan pagar pembatas ataupun tali.

Gambar 50 Fasilitas Jalan Setapak di Batu Kuda


(a. Jalan setapak berbatu ; b. Jalan setapak tanah)

Kawasan wisata batu kuda merupakan kawasan wisata yang berpotensi.


Sangat disayangkan fasilitas yang ada tidak menunjang kenyamanan, keselamatan
dan keamanan para wisatawan. Kepekaan terhadap potensi bahaya yang bisa
ditimbulkan darai kualitas fasilitas sangat perlu diperhatikan agar kegiatan wisata
dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan keinginan para pengelola.

69

4.5.4 Pengelolaan Kebersihan dan MCK


Wana Wisata Batu kuda memiliki dua bangunan untuk MCK sekaligus
untuk tempat wudhu untuk pengunjung. Bangunan ini berada pada satu titik areal
yang berada bersebelahan tidak jauh dengan mushola namun memiliki jarak
sekitar 3 meter. Letak dari keberadaan toilet ini ditempatkan dilokasi tidak jauh
dengan pintu masuk kedalam kawasan. Sistem pengelolaan kebersihan yang
diterapkan di Wana Wisata Batu Kuda yaitu melibatkan mandor wisata yang
bertugas yang ikut serta dalam menjaga kawasan dan fasilitas fasilitas yang ada.
Fasilitas MCK yang terdapat di kawasan dapat terlihat pada gambar.

Gambar 51 Pemanfaatan Air Bersih di Batu Kuda

Pengelolaan kebersihan MCK dilakukan dengan cara membersihkan sampah


yang ada dan membersihkan toilet secara bersih. Pengelolaan MCK dan toilet
yang terdapat pada Wana Wisata Batu Kuda kurang berjalan dengan baik.
Permasalahan yang terjadi seperti kurangnya kesadaran pihak LMDH yang
seharusnya
membantu memperbaiki atau merawat fasilitas jarang sekali
dilakukan sehingga mengakibatkan kurang berjalan dengan maksimal mengenai
pengelolaan yang terfokus pada kebersihan kawasan wisata diakibatkan oleh
kualitas sumberdaya manusia yang berada di kawasan wisata tersebut.
Mengingat keterbatasan jumlah SDM yang ada, hal ini juga mengakibatkan
pengelolaan kebersihan di kawasan tidak berjalan dengan optimal sehingga dapat
dikatakan beberapa fasilitas pendukung seperti MCK pun terbilang tidak terawat
dengan baik. Berikut beberapa permasalahan-permasalahan lainnya yang terdapat
di kawasan yang sering terjadi dari segi kebersihan seperti kurangnya SDM yang
tersedia pada kawasan. Kurangnya koordinasi antara pegawai satu dengan yang
lainnya. Kurangnya rasa kesadaran pengunjung dalam menjaga kebersihan, serta
keterbatasan peralatan untuk menunjang kebersihan pada kawasan WanaWisata
Batu Kuda tersebut
4.5.5 Pengelolaan Distribusi dan Sirkulasi Pengunjung
Kawasan Wana Wisata Batu Kuda dalam pengelolaan distribusi dan
sirkulasi pengunjung belum berjalan dengan baik. Distribusi pengunjung dari
tempat tinggal menuju kawasan wisata masih sangat rumit untuk mengakses

70

lokasi wisata. Belum terdapatnya suatu trayek angkutan umum dan papan-papan
penunjuk arah menuju kawasan. Penyaluran-penyaluran kerjasama dengan pihak
lain belum dikelola sama sekali untuk dimanfaatkan sebagai media promosi,
Kawasan Wana Wisata Batu Kuda dalam pengelolaan sirkulasi pengunjung
saat berada di dalam kawasan juga belum dikelola dengan baik. Pengelola hanya
menyediakan satu jalur untuk masuk dan keluarnya pengunjung menuju suatu
lokasi ataupun obyek di dalam kawasan wisata. Terdapat banyak jalur yang
bercabang menuju suatu obyek dan lokasi namun sangat disayangkan belum
adanya pembeda antara jalan masuk dan jalan keluar. Kawasan wisata tersebut
dibanjiri banyak pengunjung ketika weekend, terutama pengunjung yang
melakukan kegiatan camping. Hal tersebut bisa menjadi suatu permasalahan jika
dilihat dari segi sirkulasi pengunjung yang akan menyebabkan terjadinya
penumpukan pengunjung dalam satu titik jalur tersebut.

Gambar 52 Gerbang Masuk Kawasan

Jalur yang telah ada di kawasan wisata dibuat dengan tujuan mempermudah
pengunjung menuju suatu obyek atau lokasi namun pengelola tidak memikirkan
untuk membimbing pengunjung dan memberi arahan harus kemana dahulu
pengunjung melalui jalur sirkulasi. Jika pengelola memperbaiki jalur sirkulasi
pengunjung dengan cara membuat jalur baru sehingga pengunjung mengetahui
obyek apa yang harus mereka datangi terlebih dahulu dan sampai akhir maka pada
saat weekend hal yang menjadi permasalahan tidak akan muncul lagi.
4.5.6 Pengelolaan Sumberdaya Manusia
Masyarakat sekitar merupakan salah satu sumberdaya manusia yang dapat
dimanfaatkan oleh pihak pengelola untuk ikut membatu dalam proses kegitan
pengelolaan kawasan Wana Wisata Batu Kuda. LMDH atau disebut sebagai
lembaga masyarakat desa hutan telah ditetapkan sebagai salah satu SDM yang
diberikan kewenangan untuk membantu serta menunjang proses pengelolaan di
dalam kawasan, tetapi dari pihak pengelola belum di adakannya kegiatan
penyuluhan atau proses peningkatan kualitas LMDH itu sendiri. LMDH
merupakan organisasi di dalam masyarakat sekitar hutan yang bergerak dalam
kegiatan pemanfaatan serta menjaga kelestarian hutan alam yang ada. LMDH
ikut bekerjasama dengan pengelola dalam merawat dan menjaga keamanan

71

lingkungan alam sekitar. LMDH melibatkan organisasi masyarakat remaja atau


disebut juga sebagai karang taruna untuk membantu proses kegiatan pengelolaan
di dalam kawasan wana wisata. Kurangnya kualitas LMDH yang ada serta tidak
adanya penyuluhan yang diberikan bagi mereka menjadikan kesan kawasan
Wana Wisata Batu Kuda tidak diperhatikan oleh pihak perhutani.
4.5.7 Pengelolaan Sumberdaya Alam
Kawasan wisata batu kuda merupakan kawasan yang berpotensi dilihat dari
sumber daya alam yang dimiliki kawasan dan sekitarnya. Begitu banyak flora,
fauna dan gejala alam yang hidup di dalamnya berikut juga di hutan lindung.
Berbagai tumbuhan dan suara burung-burung yang hidup semakin membuat
suasana di dalam kawasan nyaman dan sejuk, sehingga para wisatawanpun betah
untuk berlama-lama di kawasan wisata batu kuda.
Kawasan wisata batu kuda secara keseluruhan tanaman yang tumbuh di
dalamnya merupakan tumbuhan yang sengaja di tanam oleh pengelola kawasan.
Tumbuhan yang mendominasi di kawasan
yaitu pinus, secara bertahap
ditambahkan di sisi lainnya dalam kawasan. Selain pohon pinus terdapat tanamantanaman yang hasilnya dapat diambil yaitu tanaman buah serta bunga. Tanaman
buah tersebut seperti nangka, pisang, kopi arabica, dan jambu biji.

Gambar 53 Tanaman Mendominasi di Batu Kuda


(Pinus / Pinus merkusi)

Tanaman tersebut akan diperbanyak di setiap sisi kawasan yang masih


kosong. Pembedaan tahun tanam dengan cara dibuatnya blok-blok tanam. Semua
tanaman dalam satu blok ditanam secara bersamaan. Salah satu contoh blok yang
telah ada seperti blok timur 35A, LBC, blok tersebut merupakan blok campuran
yang tidak hanya pinus ditanam di dalamnya namun tumbuhan lainnya yaitu
suren, mahoni, dan ekaliptus. Tanaman yang ditanam di kawasan semuanya dapat
dimanfaatkan. Pengelola memanfaatkan hasilnya dengan cara pinus diambil
getahnya dan tanaman buahpun apabila telah berbuah banyak akan dimanfaatkan
hasilnya oleh pengelola kawasan.s

72

(a)

(b)
Gambar 54 Tanaman Buah di Batu Kuda
(a. Pohon Nangka ; b. Pisang)

Tidak hanya flora yang berada di dalam kawasan wisata batu kuda namun
fauna juga banyak terdapat di dalam kawasan. Sebagian besar fauna yang berada
di dalam kawasan wisata merupakan fauna yang tidak membahayakan wisatawan.
Pengelola telah mengantisipasi dengan cara fauna liar yang dapat membahayakan
wisatawan agar tidak bisa masuk ke dalam kawasan dengan mencukupi
makanannya dan biasanya hewan liar tersebut berada di kawasan hutan lindung
yang jaraknya jauh dari kawasan wisata.
Fauna yang terdapat di dalam kawasan merupakan fauna yang tidak
membahayakan wisatawan. Beragam burung dapat ditemukan di kawasan
tersebut, dengan hanya mendengarkan suaranya para wisatawan bisa membedakan
antara burung satu dan burung lainnya. Burung muncul pada saat pagi hari sampai
menjelang siang hari kicauan burung masih bisa dinikmati di lokasi. Selain
burung terdapat juga serangga seperti nyamuk, lalat, kupu-kupu, semut dan lebah.
Terdapat juga hewan melatah seperti cacing dan binatang kaki seribu.

(a)

(b)

(c)

Gambar 55 Fauna di Batu Kuda, (a) Semut, (b) Belalang, (c) Kaki Seribu

Fauna liar yang berada di sana seperti anjing, ular dan babi hutan. Hewanhewan tersebut tidak akan masuk ke dalam kawasan wisata karena jaraknya yang
jauh menuju kawasan wisata. Selain ular dan babi hutan terdapat juga trenggiling,

73

apabila orang yang beruntung dapat melihat hewan ini melintas di lokasi tracking
atau saat mendaki gunung Manglayang.

Gambar 56 Fauna di Batu Kuda (Anjing)

Sumberdaya alam tidak hanya meliputi flora dan fauna saja, namun gejala
alam termasuk ke dalamnya. Banyak terdapat gejala alam yang berada di dalam
kawasan. Gejala alam selain semakin memperindah kawasan namun juga dapat
berpotensi bahaya bagi wisatawan yang ada. Gejala alam yang berada di kawasan
wisata batu kuda yaitu hamparan tanaman pinus, jurang dan aliran sungai kecil
yang mengalir dan airnya dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

Gambar 57 Gejala Alam di Batu Kuda (Jurang)

Jurang ataupun tanah yang terjal jiika dilihat dari bawah sangat indah
menambah lanskap namun dapat terjadi potensi berbahaya jika wisatawan berada
di atas jurang tersebut, potensi bahaya yang dapat timbul seperti tanah longsor
ataupun wisatawan yang terpeleset. Hamparan tanaman pinus bila dilihat secara
langsung tidak terlihat potensi bahaya yang akan timbul namun jika angin yang
kencang datang bisa menyebabkan kemungkinan tumbangnya pohon pinus yang

74

sudah tua. Para pengelola belum memiliki solusi untuk permasalahan tersebut
atau bahkan pengelola tidak memikirkan potensi bahaya yang dapat ditimbulkan
oleh gejala alam yang terdapat di kawasan sehingga untuk solusipun belum
ditemukan titik temu yang baik untuk menyelesaikannya.
4.5.8 Pengelolaan Keamanan dan Keselamatan
Kawasan wisata ataupun kawasan konservasi harus memiliki petugas
keamanan dan keselamatan agar memberikan kenyamanan kepada pengunjung
yang melakukan kegiatan wisata ataupun untuk kepentingan pendidikan.Hal ini
perlu dilakukan pengelola agar pelayanan yang diberikan kepada para pengunjung
kawasan menjadi maksimal. Para petugas keamanan di kawasan Wana Wisata
Batu Kuda ini diketuai oleh bapak Aang selaku menjabat sebagai mandor wisata
dari pihak Perum Perhutani dan juga merangkap sebagai petugas Polhut pada
kawasan tersebut. Pada kawasan Wana Wisata Batu Kuda hanya terdapat satu
pegawai dan dibantu oleh masyarakat sekitar yang disebut sebagai LMDH
(lembaga masyarakat desa hutan) yang membantu dalam melakukan
pekerjaannya. Keamanan kawasan dilakukan dengan cara bekerja bersama antara
pengelola dan pihak masyarakat secara rutin yang dilakukan setiap hari, terutama
pada saat pengunjung ramai. Pengelolaan keamanan pada area perkemahan
dilakukan dengan cara melihat, menegur pengunjung yang melakukan hal yang
tidak sewajarnya atau tidak boleh dilakukan. Pengelolaan keamanan pada kegiatan
berkemah lebih diperhatikan pada malam hari karena untuk menghilangkan halhal yang tidak sewajarnya.
Pengelolaan keamanan yang dilakukan oleh pihak pengelola yaitu dari loket
atau pintu masuk utama, area perkemahan, jalur kendaraan dengan rute
mengelilingi hutan pinus dan cemara dan kembali lagi menuju tempat awal
dilakukannya kegiatan pemantauan pengunjung tersebut. Pengamanan yang
dilakukan untuk pengunjung dalam menikmati objek di kawasan yang ada yaitu
seperti kegiatan mengamati pesona alam dengan memantau dan memberikan
safety procedure agar tidak terjadi kesalahan dan kecelakaan pada kegiatan
tersebut seperti tidak berada di daerah yang dapat mengakibatkan pengunjung
tergelincir atau terjatuh karena berada di daerah yang tinggi dengan tingkat
kemiringan yang cukup berbahaya.
Pengelolaan keamanan dari kegiatan tersebut, dalam hal ini pihak pengelola
melakukan observasi terlebih dahulu mengenai medan yang akan ditempuh oleh
para pengunjung yang akan melakukan kegiatan mengamati pesona alam di
kawasan. Pengelolaan keamanan lainnya adalah dengan memberikan instruksi
kepada pengunjung mengenai jalur yang akan ditempuh. Pengelolaan keamanan
disekitar fasilitas yang sering digunakan oleh pengunjung yaitu dengan
memberikan himbauan agar tetap menjaga fasilitas tersebut. Adanya pengelolaan
ticketing memiliki beberapa bagian dari asuransi yaitu asuransi kecelakaan untuk
menjamin keselamatan pengunjung selama melakukan kegiatan wisata. Biaya dari
asuransi kecelakaan ini sebesar Rp. 250,00.
Pengelolaan yang terdapat pada kawasan Wana Wisata Batu Kuda sendiri
memiliki beberapa permasalahan keamanan berupa pencurian hasil hutan kayu di
beberapa titik kawasan. Kasus yang paling tinggi adalah pencurian kayu bakar
untuk kebutuhan masyarakat. Pengelolaan pengamanan kawasan dari kegiatan
pencurian oleh beberapa masyarakat dapat dilakukan dengan kegiatan patroli.

75

Pelaksanaan penjagaan / patroli dan pengamanan fisik kawasan secara regular


dengan jadwal kegiatan dan penugasan petugas mandor wisata yang teratur seperti
patroli yang dilakukan sebulan sekali. Selain itu mensosialisasikan peraturan
dengan adanya program penyuluhan serta pelaksanaan kegiatan penyuluhan dan
laporan evaluasi dan hasil pelaksanaan penyuluhan untuk sosialisasi peraturan
pengelolaan kawasan wisata kepada pengunjung, masyarakat sekitar maupun
masyarakat luas.
4.6

Permasalahan Pengelolaan

Banyak permasalahan yang ditemukan dalam pengelolaan di Kawasan


Wisata Batu Kuda. Dari segala aspek pengelolaan terdapat permasalahan yang
timbul karena kurang baiknya pengelolaan dari pihak perhutani terhadap kawasan.
Hal tersebut timbul diakibatkan kurangnya perhatian untuk mengembangkan
kawasan menjadi lebih baik lagi. Permasalahan-permasalahan yang ada di
kawasan dari segi pengelolaan ticketing, fasilitas, kegiatan wisata, kebersihan,
keamanan dan keselamatan, distribusi dan sirkulasi pengunjung serta kurangnya
kualitas kinerja dari pihak LMDH.
Dilihat dari permasalahan pengelolaan ticketing terdapat masalah yang
timbul dikarenakan kurang ketat dan tegasnya penjagaan loket karcis. Terdapat
pengunjung yang tidak membayar karcis dan langsung saja masuk tanpa berhenti
di loket karcis. Penjaga dari pihak pengelola ataupun LMDH tidak memproses
masalah tersebut dan membiarkan saja hal tersebut terjadi. Selain itu juga banyak
LMDH yang mengajak rekan ataupun temannya untuk mendatangi kawasan
wisata namun mereka membebaskan dari biaya tiket dikarenakan pengunjung
tersebut merupakan teman dari LMDH tersebut. Jika masalah tersebut terus terjadi
akan mengakibatkan kerugian pengelolaan tiket. Kurangnya pengawasan dan
mental para petugas dalam pengawasan serta tidak adanya fasilitas portal sebagai
pembatas masuknya kawasan yang menyebabkan permasalah tersebut terjadi.
Solusi tepat dalam mengatasi permasalahan di atas dengan memberikan suatu
pendidikan melalui training kepada petugas agar memenuhi standar pelayanan
wisata.
Pengelolaan dari segi fasilitas menjadi permasalahan besar bagi
kenyamanan para pengunjung. Banyak fasilitas yang kurang memadai dan
jumlahnya kurang untuk memenuhi kebutuhan dalam kegiatan wisata. Perawatan
setiap fasilitas tidak dijaga dan dirawat sehingga tidak memadai untuk digunakan
oleh pengunjung. Fasilitas yang tidak terawat tersebut dapat menyebabkan
timbulnya potensi bahaya yang bisa mencelakai siapapun yang menggunakan
fasilitas tersebut. Fasilitas MCK dan Mushola sangat terlihat tidak terawat bagian
dinding banyak terdapat retak dan atap mushola banyak genting yang sudah lepas
dan memiliki potensi bahaya ketika pengunjung sedang menggunakan fasilitas
tersebut. Perbaikan dan perawatan fasilitas perlu dilakukan. Fasilitas seharusnya
secara berkala dilakukan untuk perawatan agar fasilitas yang ada kualitasnya tidak
terbengkalai begitu saja.

76

Gambar 58 Kerusakan Fasilitas Akibat Corat-Coret

Permasalah lainnya bisa timbul dari segi pengelolaan kegiatan wisata.


Kegiatan wisata yang ada bukan berasal dari kawasan wisata namun tergantung
dari pengunjung yang datang, kegiatan wisata apa yang diinginkan setiap
pengunjung. Kegiatan yang telah dikelola dengan baik hanya berkemah yang
fasilitas dari camping ground hingga penyediaan tempat sewa peralatan seperti
tenda hingga tiket khusus telah ada di kawasan. Namun kegiatan lainnya seperti
bersepeda, tracking ataupun mendaki gunung merupakan kegiatan yang sering
dilakukan pengunjung tetapi pengelola sama sekali belum menyediakan sarana
terhadap kegiatan tersebut. Bersepeda tidak asing lagi dilakukan di kawasan
tersebut, yang menjadi permasalahan adalah track sepeda melewati jalan setapak
yang ada di kawasan, hal tersebut menjadi suatu kondisi yang runyam dan
membuat pengunjung yang berjalan kaki menjadi terhambat dan terganggu.
Kegiatan tracking dan mendaki gunung merupakan kegiatan yang berisiko tinggi,
namun pengelola belum menyediakan suatu sarana agar kegiatan tersebut berjalan
dengan lancar dan aman, setiap pengunjung mendapatkan asuransi keselamatan
namun tidak terdapat asuransi khusus untuk kegiatan tracking dan mendaki
gunung yang merupakan suatu kegiatan yang harus mendapatkan perhatian lebih
dari segi keselamatan dan keamanan para pengunjung yang melakukannya.
Permasalahan juga timbul dari segi kebersihan, keamanan dan keselamatan.
Pengelola tidak menyediakan petugas kebersihan dan keamanan di Kawasan
Wisata Batu Kuda. Sehingga petugas yang menjadi loket memiliki tugas ganda
yang dibantu oleh LMDH yang membuat petugas tidak fokus dengan tugas yang
menjadi kewajibannya. Kebersihan hanya dilakukan satu kali seminggu setiap hari
selasa dan fasilitas keamananpun digabung dengan loket karcis. Bagi pengunjung
yang membutuhkan petugas keamanan akan kebingungan mencari dimana tempat
petugas.
Distribusi dan sirkulasi pengunjung juga menjadi permasalahan yang ada di
kawasan. Pada saat weekend akan terjadi penumpukan di satu titik jalur karena
jalur hanya terdapat satu yaitu jalur untuk masuk dan keluar dalam satu jalur yang
sama. Hal tersebut dapat mengganggu kelancaran pengunjung ketika menuju ke
suatu lokasi yang ada di dalam kawasan wisata. Selain itu juga permasalahan
timbul akibat kinerja petugas LMDH yang tidak memenuhi syarat seorang petugas

77

yang baik. Petugas dari LMDH menggunakan pakaian seadaanya sehingga image
yang ditangkap oleh pengunjung buruk ketika mereka melihat petugas tersebut
berdandan seperti seorang pereman yang membuat para pengunjung takut dan
segan untuk mendekat. Jika masalah tersebut terjadi terus menerus akan membuat
image kawasan juga menjadi tidak baik dimata para pengunjung.
4.7

Kuesioner Pengunjung atau Wisatawan

Pengunjung merupakan elemen terpenting dalam setiap tempat wisata,


karena pengunjung yang datang memberikan kontribusi langsung dalam
pencapaian tujuan tempat wisata tersebut. Kawasan Wana Wisata Batu Kuda
memiliki objek wisata yang belum begitu banyak dan berkembang, namun
pemandangan alam dan kesejukan lokasi memberikan daya tarik tersendiri bagi
pengunjung sehingga cukup banyak pengunjung yang mendatangi lokasi pada
hari-hari tertentu khusunya saat weekend atau sabtu minggu.

Gambar 59 Wawancara Kuesioner Pengunjung

Para pengunjung biasanya datang ke kawasan secara beramai-ramai baik itu


dengan keluarga maupun teman-temannya untuk berekreasi maupun berwisata
menikmati udara yang sejuk dan pemandanganya yang indah. Ada juga
mahasiswa yang datang untuk melakukan penelitian serta beberapa pengunjung
sering melakukan kegiatan bermalam di bumi perkemahan yang tersedia.
Penilaian yang dapat dilakukan untuk mengetahui karakteristik pengunjung,
kualitas pelayanan terhadap pengunjung, evaluasi kondisi sarana dan prasarana
serta fsilitas, evaluasi kepuasan pengunjung, data pengunjung dapat dilihat dari
pembahasan dibawah ini
4.7.1 Kualitas pelayanan terhadap pengunjung
Pengunjung adalah pelaku objek wisata yang seharusnya mendapatkan
kualitas atau pelayanan yang baik dari tempat wisata. Kualitas pelayanan Wana
Wisata Batu Kuda terhadap pengunjung belum berjalan dengan baik karena dalam
pengelolaannya, Wana Wisata batu kuda ini banyak melibatkan masyarakat
sekitar yang belum diberikan arahan sesuai untuk memberikan pelayanan terhadap
pengunjung. Contohnya saat pelayanan tiketing yang terkadang masyarakat dalam
memberikan pelayanannya sering bergerombol sehingga memberikan rasa takut

78

kepada pengunjung yang datang, walaupun masyarakat setempat menunjukan


sikap keramah-tamahanya akan tetapi penampilan mereka kurang tertata dengan
baik.
Saran dan masukan bagi pengelola sebaiknya bagi masyarakat yang ikut
terlibat dalam pengelolaan kawasan diberikan pelatihan secara rutin. Pelatihan
tersebut bertujuan agar masyarakat dapat mengerti bagai mana menjadi pengelola
yang baik dan mengetahui tata cara dalam pengelolaan atau memberikan
pelayanan kepada pengunjung dengan benar.
4.7.2

Evaluasi kondisi sarana dan prasarana serta fasilitas

Wana Wisata Batu Kuda merupakan memiliki kondisi sarana prasarana serta
fasilitas yang kurang memadai, seperti toilet yang terlihat kotor dan kurang
terawat serta dipungut biaya sebesar Rp. 1000. Biaya tersebut tidak dipotong oleh
biaya perawatan sarana prasarana maupun fasilitas sehingga manajemen dalam
penggunaan tidak berjalan dengan baik. Evaluasi sering diberikan oleh pihak
pengelola kepada masyarakat, namun pengelola masih berfikir ulang untuk
meningkatkan kondisi fasilitas, sarana dan prasarana yang membutuhkan biaya
cukup besar dan kerja sama dari pihak lain pun belum ada. Sehingga menyulitkan
pengelola dalam mengembangkan kondisi Wana Wisata Batu Kuda.
4.7.3 Sumber Informasi
Promosi yang dilakukan oleh Pengelola pada awalnya dalam
menginformasikan kawasan ini masih dari mulut ke mulut, namun seiring
berjalannya waktu promosi juga dilakukan baik dari media cetak dan media
elektro`nik. Berdasarkan hasil yang diperoleh mengenai nilai keefektifan
informasi melalui penyebaran kuisioner memiliki sumber informasi yang paling
efektif yaitu dari media teman/keluarga ataupun saudara.
Media lain yang dipakai dalam memberikan informasi adalah di Televisi
dimana wana wisata batu kuda pernah dijadikan syuting video clip lagu, selain itu
adapun Instansi tertentu, Koran,Majalah dan Surat kabar serta Leaflet dan Brosur,
akan tetapi penyebaran informasi tersebut dirasakan belum cukup efektif karena
penyebaran masih dilakukan disekitar kota Bandung.
4.7.4 Karakteristik Pengunjung atau Wisatawan
Berdasarkan hasil yang diperoleh mengenai karakteristik pengunjung, Wana
Wisata Batu Kuda terdiri dari beberapa karakteristik pengunjung yang berbedabeda dan lebih didominasi oleh laki-laki yaitu 62 % dan perempuan 38% dengan
rata-rata berstatus belum menikah dan berumur 10-20 thn sebanyak 42% .
KetiPengunjung yang berusia lebih dari 30 tahun keatas sekitar 36% dn sisanya
berumur dan melakukan kegiatan rekreasi bersama keluarga. Pengunjung yang
melakukan kegiatan wisata di Batu Kuda kebanyakan berasal dari daerah jakarta
dan sekitarnya.
Asal kedatangan pengunjung menuju kawasan ini banyak berasal dari
Bandung. Hal ini dikerenakan masih kurangnya promosi mengenai lokasi Wana
Wisata Batu Kuda sehingga yang mengetetahui lokasi hanya dari daerah Bandung
saja. Karakteristik pengunjung cukup penting sebagai evaluasi dalam mengetahui
nilai kepuasan pengunjung yang telah melakukan kegiatan wisata di Wana Wisata
Batu Kuda.

79

Lama kunjungan selama berwisata dari persentase terbanyak dan persentase


terendah adalah setengah hingga satu hari. Pengunjung yang mengunjungi objek
wisata kebanyakan rombongan 70% dan 6 % bersama keluarga serta bersama
teman sebanyak 24%. Rombongan yang datang yaitu berasal dari Asrama Yatim
kota Bandung, intensitas rombongan yang mendominasi karena melakukan
kegiatan bermalam.
Kunjungan

Jenis Kelamin

Teman
24%
Perem
puan
38%

Keluarga
6%

Lakilaki
62%
Gambar 60 Presentase Jumlah Kunjungan
Penduduk

Rombo
ngan
70%

Gambar 61 Presentase Jenis Kelamin

4.7.5 Motivasi Pengunjung atau Wisatawan


Pengunjung memiliki bermacam-macam motivasi pada suatu objek wisata.
Motivasi yang dimilki dilihat dari berbagai macam hal. Motivasi yang dilakukan
oleh pengunjung kebanyakan untuk rekreasi . Nilai kepuasan tersebut dengan
keterangan agak puas. Hal ini dapat dilihat dari pemandangan dan bentangan alam
yang alami sehingga pengunjung merasa nyaman untuk melakukan kegiatan
wisata di Wana Wisata Batu Kuda.
Alasan dengan persentase sedikit dapat dilihat dari motivasi kontak sosial
hal ini dikarenakan oleh beberapa pendapat antara lain kurangnya keamanan dan
banyaknya pelanggaran dalam berwisata. Kurangnya dalam segi keamanan yang
dimaksud yaitu kawasan Wana Wisata Batu Kuda kurang menyediakan tenaga
kerja yang khusus dalam keamanan dan keselamatan pengunjung, seperti untuk
melakukan pengawasan ketika pengunjung beraktivitas.
4.7.6 Persepsi Pengunjung atau Wisatawan
Pengunjung yang datang ke kawasan wisata alam Wana Wisata Batu Kuda
memiliki pandangan ataupun persepsi yang berbeda-beda serta memiliki kadar
kepuasan yang berbeda pula. Persepsi pengunjung tersebut dapat dilihat dengan
adanya berbagai kegiatan seperti :
a. Aktivitas Rekreasi
Aktivitas rekreasi yang paling banyak dilakukan pengunjung adalah
kegiatan bermalam dan bersepeda serta melihat pemandangan alam dan
menikmati suasana alami. Hal ini dikarenakan kawasan ini memberikan
pemandangan yang begitu indah. Aktivitas lainnya yang sesuai dengan keinginan
serta kebutuhan pengunjung dan memiliki nilai kepuasan sangat puas yaitu Fotofoto, outbound dan lainnya.
Selain berolahraga, mendaki gunung atau berkemah, juga terdapat track
motor ATP yang bisa disewa pengunjung, meski bila banyak peminat akantetapi

80

pengunjung harus sabar antri karena pengelola hanya memiliki 2 unit ATP.
Adapun, arena ketangkasan dan uji nyali outbond namun di sana tidak dilengkapi
fasilitas yang memadai. Kondisinya pun tidak terawat, seolah dibiarkan rusak.
Sedangkan, jembatan penyeberangan yang terbuat dari bambu untuk melintas
tebing, keadaannya rusak berat, tidak bisa digunakan, disfunction, dan tampaknya
belum ada pekerja yang berusaha memperbaiki.
Pengaruh yang cukup signifikan dari aktivitas rekreasi wisata yaitu
kebersihan lingkungan kurang diperhatikan dan membuat pengunjung tidak
merasa nyaman adalah seperti banyaknya sampah dari sisa-sisa makanan yang
berserakan dan terlihat kotor. Selain itu adanya sisa-sisa pembakaran api unggun
yang tidak dibereskan.
Sedangkan Fasilitas yang tersedia terlihat cukup memperihatinkan, hal ini
terlihat dengan adanya bentuk vandalisme oleh beberapa oknum pengunjung dan
kondisi fasilitas yang pada kenyataannya diperlukan perbaikan khusus. Adapun
pada fasilitas bermain anak yang dalam kondisinya kurang mendapat perawatan.
Kondisi yang seperti ini menjadi dasar ketidakpuasan dan kenyamanan
pengunjung.

Gambar 62 Kegiatan Wisata ( fun game )

b. Aspek Sumberdaya Manusia


Sumberdaya manusia harus mampu profesionalitas dalam melakukan dan
mengerjakan aspek yang terdapat dalam lingkup itu. Aspek sumberdaya wisata
harus berbasis edukatif dalam mengembangkan pemikiran yang rasionalitas.
Berdasarkan data yang didapatkan aspek sumberdaya terhadap pegawai ataupun
pengelola pada kawasan Wana Wisata Batu Kuda memiliki persentase tinggi yaitu
dengan nilai rata-rata puas.
c. Aspek Dampak Lingkungan
Kawasan Wana Wisata Batu kuda memiliki berbagai macam flora dan
fauna. Flora yang ada antara lain Rasamala, kaliandra, Pinus dan lainnya. Fauna
yang ada yaitu seperti Trenggiling, Luwak, Burung Kupu-kupu dan lainnya.
Keanekaragaman flora yang memiliki nilai persepsi yang paling bagus adalah
ketersediaan jenis-jenis flora yang cukup banyak. Dengan didominasi berbagai
flora, memberikan dampak yang cukup baik bagi lingkungan seperti menambah

81

keindahan estetika lingkungan, menambah kesuburan tanah, mengurangi polusi,


meingkatkan serapan air.
Aktivitas rekreasi wisata juga memberikan dampak bagi lingkungan seperti
aktifitas bersepedah atau ATP yang memberikan dampak terkikisnya tanah secara
tidak merata. Kegiatan api unggun selain merusak rumput, kegiatan ini juga
memberikan dampak pada pencemaran udara serta mengurangi estetika
lingkungan. Sedangkan untuk aktivitas berkemah memberikan dampak
pencemaran lingkungan bagi pengunjung yang membuang sampah sembarangan
saat melakukan aktivitas bermalam tersebut.

Gambar 63 Dampak Kegiatan Wisata (Sampah)

d. Infrastruktur dan Fasilitas


Infrastruktur dan fasilitas merupakan salah satu bagian dari pelengkap
jalannya kegiatan wisata. Hal ini merupakan suatu kesatuan karena berperan
penting dalam pelaksanaan secara terstruktur. Pada kawasan Wana Wisata Batu
Kuda terdapat berbagai macam infrastruktur dan fasilitas antara lainnya seperti
pos jaga, ticketing, mushola dan MCK. Infrastruktur dan fasilitas yang dianggap
kurang puas oleh pengunjung yaitu tempat sampah dan MCK dengan nilai karena
kondisinya yang kurng terawat dan untuk tempat sampah hanya tersedia sedikit.
4.8

Kuesioner Masyarakat

Masyarakat berperan penting dalam pengembangan kawasan wisata Batu


Kuda. Berikut keterangan berdasarkan data kuesioner yang di dapatkan dari
masyarakat lokal desa Cibiru Wetan dengan penyebaran 50 responden dari
masyarakat lokal.
4.8.1 Karakteristik Masyarakat
Penduduk Desa Cibiru Wetan berjumlah 11.336 jiwa, dengan jumlah Kepala
Keluarga (KK) 3.115. Jika dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, maka jumlah
perempuannya mencapai 7.721 jiwa (50,5%) dan penduduk berjenis kelamin lakilaki 5.615 jiwa (49,5%) (Potensi Desa Cibiru Wetan, ). Untuk ukuran sebuah
desa, jumlah penduduk Desa Cibiru Wetan tergolong besar. Salah satu faktor
penyebabnya adalah desa tersebut relatif dekat dengan pusat-pusat keramaian

82

(kota). Malahan, berbatasan dengan wilayah kota Bandung. Keberadaan desa yang
relatif tidak jauh dari pusat-pusat keramaian ini pada gilirannya membuat jumlah
penduduknya berkembang pesat, khususnya di sekitar Jalan Raya Cibiru, sehingga
penduduk yang bermukim di wilayah tersebut lebih padat ketimbang wilayahwilayah lainnya. Dengan perkataan lain, wilayah desa bagian bawah relatif padat
ketimbang wilayah bagian tengah dan bagian atas (lereng Gunung Manglayang),
karena disamping bagian tengah dan atas relatif jauh dari pusat keramaian, kedua
wilayah ini merupakan areal perladangan dan kawasan hutan lindung.

Gambar 64 Masyarakat Sekitar Kawasan

4.8.2 Persepsi Masyarakat


Sebagian besar masyarakat memiliki kehidupan sosial masyarakat biasa
saja, masyarakat saling berinteraksi satu sama lain, saling tolong menolong.
Namun hubungan harmonis terjadi dengan pihak pengelola. Di saat masyarakat
mengadakan suatu acara seperti perayaan hari besar para pengelola turut
memberikan kontribusinya kepada masyarakat.
Dengan adanya kawasan wisata di sekitar pemukiman masyarakat cukup
mempengaruhi budaya setempat dan keamanan tetap terjaga. Seperti masyarakat
yang berprofesi sebagai pedagang di sekitar kawasan merasa bahwa penjualannya
meningkat dan perekonomiaannya pun meningkat. Namun peningkatan tidak
besar selama 5 tahun kebelakang ini.
4.9

Kuesioner Pengelola

Pengelolaan Kawasan Wana Wisata Batu Kuda terdapat kekurangan dalam


SDM yang mengelola kawasan tersebut. Jumlah SDM dalam kegiatannya
memiliki peran ganda dalam tugasnya. Kuesioner pengelolaan disebarkan oleh
dua pengelola yang berada di kawasan tersebut.
4.9.1 Karakteristik Pengelola
Kuesioner disebarkan oleh dua pengelola Kawasan Wana Wisata Batu
Kuda. Pengelola pertama bertugas sebagai mandor wisata dan penjagatiket di

83

kawasan tersebut. Setiap informasi yang diberikan oleh kedua pengelola berbeda
sesuai dengan apa yang mereka ketahui tentang pengelolaan di kawasan tersebut.
Responden pertama yaitu laki-laki yang berusia 31 tahun, bernama Bapak
Entis Sutisna. Beliau memiliki statu telah menikah dengan seorang perempuan
yang asalnya juga sama dalam satu daerah yaitu Desa Cibiru Wetan. Pak Entis
Sutisna merupakan orang asli dari Desa Cibiru Wetan, kecamatan Cileunyi.
Beliau termnasuk ke dalam kategori keluarga yang kurang begitu mampu,
sehingga beliau hanya mampu melanjutkan sekolah sampai jenjang Sekolah
Menengah Pertama (SMP). Status jabatan yang beliau miliki saat bertugas di
dalam kawasan adalah sebagai sukarelawan dari masyarakat sekitar kawasan
sebagai penjaga tiket Kawasan Wana Wisata Batu Kuda.

Gambar 65 Kuisioner Pengelola

Responden kedua juga merupakan laki-laki yang berusia 39 tahun, bernama


Bapak Aang Kusnaya. Beliau memiliki status menikah dengan seorang
perempuan yang berasal dari desa tersebut. Pak Aang berasal dari daerah Ujung
Berung. Tingkat pendidikan terakhir yang ditempuh beliau sampaib SLA yang
berada di Ujung Berung. Jabatan yang diemban oleh beliau di kawasan tersebut
sebagai Polter dalam bidang keamanan hutan, beliau bertugas untuk menghandle
semua keamanan kawasan apabila terjadi pelanggaran seperti pencurian kayu
bakar yang dilakukan oleh masyarakat sekitar.
4.9.2 Persepsi Pengelola
Kawasan Wana Wisata Batu Kuda memberikan kontribusi yang sangat
besar baik dari pengelola ataupun masyarakat sekitar. Pengelola sangat
mendukung dengan adanya kawasan wisata tersebut, dari segi ekonomi para
petugas kawasan sangat terbantu dan pemanfaatan sumberdaya di kawasan dan
sekitarnya.
Setiap pengelola memiliki persepsi atau pendapat yang berbeda antara satu
dengan yang lainnya. Pengelola beranggapan kurangnya perhatian dari pengelola
pusat terhadap kawasan wisata yang sebenarnya sangat berpotensi menarik
banyak pengunjung untuk datang ke kawasan tersebut. Petugas kawasanpun
berharap untuk meningkatkan promosi dan banyak mencari sponsor untuk

84

meningkatkan kualitas kawasan agar menjadi lebih baik lagi. Petugaspun


memberikan pendapat untuk mengadakan suatu event besar yang ikut melibatkan
masyarakat sekitar sehingga event tersebut bisa menjadi salah satu daya tarik
untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisata di kawasan wisata Batu kuda.

Gambar 66 Pengelola Kawasan

Petugas kawasan sangat terbuka dengan banyaknya ataupun beragamnya


perilaku para pengunjung dan mencoba untuk dapat bersosialisasi dengan baik
kepada semua pengunjung. Sarana dan faslitas kawasan tidak cukup memenuhi
kenyamanan pengunjung sehingga petugas yang berada di kawasan banyak
mendapatkan kritikkan dari para pengunjung yang menggunakan fasilitas yang
mereka rasa kurang nyaman untuk digunakan. Semua kritik dan saran dari
pengunjung, petugas menerimanya dengan baik karena memang begitu kenyataan
keadaan fasilitas kawasan.
Petugas kawasan sangat yakin bahwa kawasan wisata tersebut sangat
bermanfaat baik untuk pemberdayaan alam maupun wisata. Saran yang diberikan
petugas kawasan kepada pengelola pusat untuk lebih memperhatikan perawatan
fasilitas dan pegelolaan kegiatan wisata selain dapat menarik perhatian
pengunjung juga mampu menambah pendapatan kawasan dari kegiatan tersebut.
4.9.3 Kinerja Pengelola
Pengelola dari pihak perhutani menyediakan petugas untuk berkerja di
Kawasan Wisata Batu Kuda. Pengelola menyediakan dua personil dalam bidang
keamanan yaitu Bapak Aang Kusnaya dan Bapak Imam. Sedangkan dari pihak
LMDH (Lembaga Masyarakat Daerah Hutan) terdapat sepuluh personil yang
membantu menjaga tiket dan parkir. LMDH dikerjakan karena telah terjalin suatu
kerjasama antara pihak perhutani dan masyarakat sekitar dan terdapat pembagian
keuntungan dari tiket sebesar Rp 500,00.
Para personil yang ditugaskan dari pihak LMDH merasa bahwa selama
bekerja mereka belum menemukan suatu kendala dalam melaksanakan tugas.
Satu personil dengan personil lainnya dapat bekerjasama dengan baik dan telah
terjalin suatu kekeluargaan yang erat sehingga ketika mengalami suatu masalah
mereka mampu mengatasinya sendiri. Evaluasi ataupun monitoring dilakukan

85

oleh pengelola pusat yaitu 1 minggu sekali untuk melihat kinerja dari pihak
LMDH.
Pihak Keamanan menemukan suatu kendala dalam kinerja menjalankan
tugas di Kawasan Wisata Batu Kuda. Kinerja antar pegawai kurang adanya
kedisiplinan satu dengan yang lainnya. Tugas mereka emban merupakan tugas
yang tidak ringan namun kinerja dalam bertugas kurang menunjukkan kecekatan
ketika patroli ke kawasan. Selain kendala tersebut pihak keamanan juga sering
menemukan kendala lainnya.
Kendala-kendala tersebut ditimbulkan dari
masyarakat sekitar yang tidak mematuhi peraturan yang dibuat oleh pihak
perhutani, walaupun sering dilakukan sosialitas terhadap keberadaan hutan
lindung dan hutan produksi tersebut dan para petugas melakukan pendekatan
kepada masyarakat namun tetap saja masih ada masyarakat sekitar yang
melanggar sehingga hasil akhir pelanggaran diberikan sanksi hukum dalam
menindal lanjutinya. Evaluasi dan monitoring dari pengelola pusat di Kawasan
Batu Kuda dilakukan satu minggu sekali dengan melihat semua kegiatan personil
yang ditugaskan.

Gambar 67 LMDH

Tugas pokok yang diberikan kepada pihak LMDH yaitu menjaga tiket dan
parkir kawasan wisata batu kuda dan terkadang juga LMDH membantu dalam
menjaga keamanan kawasan wisata. Sedangkan, tugas pokok dalam bidang
keamanan yaitu menjaga seluruh kawasan baik itu kawasan wisata ataupun
kawasan hutannya.
Pihak perhutani dalam meningkatkan kinerja para petugas baik petugas dari
perhutani dan dari pihak LMDH setiap minggunya diadakan suatu evaluasi.
Sistem pembagian kerja telah ditetapkan bahwa Perhutani dan LMDH melakukan
kerjasama dalam pengelolaan kawasan wisata. Sistem organisasi telah dibuat dan
berada di kantor Asisten Perhutani (Asper). Kebijakan dibuat oleh pihak perhutani
dalam berbagai aturan yang berkaitan dengan pemeliharaan dan pengelolaan
kawasan wisata beserta kawasan hutan , penerapannya pun dilaksanakan dari
pemimpin yaitu Asisten Perhutani. Pemeliharaan sarana dan fasilitas dilakukan
oleh LMDH dan perawatan dilakukan satu minggu sekali oleh LMDH. Pengelola

86

menyediakan fasilitas dalam menunjang kinerja para petugas di kawasan. Berikut


fasilitas yang disediakan untuk para petugas.
Tabel 10 Fasilitas Untuk Pengelola di Batu Kuda

No
1.
2.
3.
4.
5.

Fasilitas
Pondok Kerja
Jalan Patroli
Gudang
Loket Karcis
Pos Satpam

Jumlah
1
1
1
2
-

Keterangan
Basecamp
Berada di kawasan hutan
Berada satu bangunan dengan Basecamp
Satu berfungsi, satu tidak berfungsi
Merangkap dengan loket karcis

5.1. Perencanaan Program Ekowisata


Perancangan program ekowisata di Wana Wisata Batu Kuda dilaksanakan
berdasarkan pada sumberdaya potensial unggulan di Wana Wisata Batu Kuda.
Sumberdaya potensial unggulan tersebut didapatkan dari hasil penilaian potensi
wisata berdasarkan tujuh indikator penilaian potensi wisata yaitu keunikan,
kelangkaan, keindahan, seasonality, sensitivitas, aksesibilitas dan fungsi sosial
(Avenzora, 2008). Berdasarkan hasil penilaian tersebut, maka diperoleh potensi
unggulan Pulau Koloray berupa udara sejuk dan pemandangan.
Program ekowisata ini disusun berdasarkan perpaduan sumberdaya wisata
potensial dan atraksi wisata pendukung lainnya yang menarik untuk dikemas
menjadi suatu program wisata di Wana Wisata Batu Kuda.
Wana Wisata Batu Kuda memiliki sejumlah sarana dan prasarana yang
dapat dinilai sudah mendukung kegiatan pariwisata seperti fasilitas umum di
Wana Wisata Batu Kuda yang telah dibangun, akomodasi berupa homestay,
kelompok masyarakat pengrajin dan souvenir, serta sarana transportasi yang
memadai.
Institusi daerah, pemerintah desa dan masyarakat bersama-sama perlu
menambahkan papan penunjuk arah sehingga pengunjung akan lebih mudah
untuk mencapai lokasi tujuan kedatangannya. Fasilitas perlu dilakukan pengadaan
agar aktivitas wisata dapat berjalan dengan optimal. Metode penyusunan program
didasarkan pada sumberdaya potensial, sarana dan prasarana, pengunjung,
masyarakat, dan pengelola sehingga dapat dirancang program wisata harian,
bermalam.
5.1.1 Program Wisata Harian dan Menginap
Program wisata harian merupakan suatu bentuk rangkaian aktivitas wisata
yang dilaksanakan selama satu hari tanpa bermalam. Opsi program wisata harian
diantarannya Program Wisata Jelajah Desa Sekitar Batu Kuda.
Jelajah Desa Sekitar Batu Kuda
Program Jelajah Desa Sekitar Batu kuda, merupakan kegiatan ekowisata
Desa (Community Based Ecotourism), kegiatan ini dapat dilakukan satu hari
dengan menentukan kegiatan wisata yang akan dilakukan. Berikut adalah Alur
rancangan program Jelajah Desa Sekitar Batu Kuda :
Tema

: Ekowisata Desa

87

Tujuan
: Memperlihatkan Kehidupan Desa Yang tardisional serta
sederhana dan memperkenalkan kawasan wana wisata batu kuda
Sasaran

: Remaja Dan Dewasa (Wisnus Dan Wisman)

Lama Waktu

: Satu Hari (One Day Trip)

Jumlah Peserta

: 3-5 Orang

Tabel 11 Uraian Program Wana Wisata Batu KudaJelajah Desa Batu Kuda
No.
1.

Waktu
09.00 09.30

Kegiatan
Penyambutan

2.

09.30 10.30

3.

10.30 11.30

4.
5.

11.30 12.30
12.30 16.30

6.

16.30 17.30

Mengitari Sekitar
Batu Kuda
Melihat Pengrajin
Sekitar
Ishoma
Menanam dan
memerah sapi
Penutupan

Uraian Aktivitas
Tarian sambutan (Tari Jaipong), Welcome drink,
perkenalan
Berkeliling kawasan dengan menginterpretasikan
berbagai potensi Batu Kuda
Bermain berbagai permainan tradisional dan
berenang di Pantai
Istirahat, Shalat, dan Makan Siang di Pulau Koloray
Menanam beberapa tanaman lading, dan belajar
cara memerah susu sapi
Istirahat, bercerita tentang kesan, dan penutupan

Welcome Drink /
Perkenalan
Sejarah Batu Kuda

Menyimpan
Barang Di Cottage

Mengitari Sekitar
Kawasan Batu Kuda,
Sambil menginterpretasi
kawasan

Melihat Kegiatan
Pengrajin dan
proses pengolahan
masakan khas
daerah tersebut

Menikmati Kuliner,
berupa manisan
jeruk bali, susu
murni, dan makanan
berat berupa pepes
(pais)

Berjalan sekitar desa,


dan intrepretasi
kawasan , serta
mencoba kegiatan
menanam dan
memerah susu sapi

Pulang
Penyambutan. Program wisata Jelajah Sekitar Batu Kuda diawali
dengan penyambutan pengunjung di Desa Cikoneng. Pengunjung disambut oleh
masyarakat Batu Kuda dengan menggunakan Tarian Jaipong. Tari Jaipong
merupakan tari yang menggambarkan kecantikan wanita masyarakat Jawa Barat.
Tari ini memberikan dampak positif bagi pengunjung yang melihat karena Tari
Jaipong dapat meningkatkan semangat pengunjung. Kemudian pengunjung
dihidangkan welcome drink yaitu teh manis dan singkong rebus. Singkong rebus

88

merupakan makana khas masyarakat lampu adat sunda yang berada di Kawasan
Batu Kuda. Singkong rebus ialah makanan yang sederhana namun menjadi
menari akan kesederhanaanya.
Mengitari Kawasan
Aktivitas pertama yang akan dilakukan oleh
pengunjung dalam program wisata Jelajah Sekitar Batu Kuda yaitu mengitari
kawasan Wana Wisata Batu Kuda. Pengunjung akan didampingi oleh interpreter
selama mengikuti program dengan tujuan untuk menginterpretasikan berbagai
macam potensi wisata yang terdapat di Wana Wisata Batu Kuda sehingga
menimbulkan pemahaman tentang suatu obyek serta pengalaman berwisata yang
lebih menarik. Dalam kegiatan ini, pengunjung akan berjalan menelusuri jalan
setapak yang berda di kawasan sambil melihat dan diberi penjelasan tentang flora,
fauna, dan aktivitas masyarakat Wana Wisata Batu Kuda. Kegiatan ini Berakhir
di salah satu rumah juru kunci di sekitar kawasan.
Melihat Pengrajin Sekitar. Melihat pengrajin yang berada di sekitar
kawasan Wana Wisata Batu Kuda merupakan suatu kegiatan yang sangat
menyenangkan bagi pengunjung, kegiatan ini di sisi dengan memperkenalkan
bagaimana cara pengunjung dapat menjadi bagaian pengrajing, dengan cara
langsung merasakan bagaimana cara membuat suatu kerajinan baik itu dari
almunium dan kerajianan besi, ada juga bentuk kerajiana yang terbuat dari
anyaman yang memanfaatkan tanaman yang di keringkan, hsil olahan dari
masyrakat itu sendiri.
Ishoma.
Setelah aktivitas permainan tradisional dilakukan, maka
pengunjung beristirahat, shalat, dan makan siang. Menu makan siang adalah
masakan Pais dan sayur sladah bokor. Pais adalah ikan yang di pepes dengan
menggunakan daun pisang, dan menggunakan bahan-bahan tradisional serta
bumbu yang turun menurun.
Menanam Dan Memerah Susu Sapi. Kegiatan menanam dan memerah
susu sapi, erupakan suatu kegiatan yang utama dalam kawasan pedesaan di Batu
Kuda, kegiatan ini dapat menjadi suatu kegiatan yang membuat pengunjung
mengerti akan tata cara menanam dan mennernakkan satwa ternak. Kegiatan ini
diisi dengan menanam padi, dan memerah susu sapi, pengunjung akan merasakan
senasai yang luar biasa dengan langsung berinteraksi dengan satwa yang dia akan
hadapi.
Penutupan. Aktivitas menikmati manisan merupakan aktivitas terakhir
dalam program wisata Jelajah Sekitar Batu kuda. Pengunjung istirahat serta
bercerita tentang kesan dari pengalaman mengikuti Program Wisata Jelajah
Sekitar Batu kuda. Selanjutnya pengunjung dapat membeli souvenir khas Pulau
Batu kuda seperti anyaman, kerajinan, olahan susu sapi. Pengunjung akan
berpamitan dengan masyarakat Batu Kuda karena telah selesai mengikuti program
wisata Jelajah Sekitar Batu Kuda.
5.1.2 Jejak Batu kuda
Program wisata ini mengajak wisatawan untuk mengikuti segala aktivitas
masyrakat dan berwisata alam. Jenis wisata yang ditawarkan yaitu menginap
dengan durasi waktu 3 hari 2 malam. Alur program wisata ini adalah sebagai
berikut :
Tema
: Ekowisata Desa

89

Tujuan
Sasaran
Lama Waktu
Jumlah Peserta

:Memperkenalkan potensi wisata dan pola kehidupan


masyarakat desa
: Remaja Dan Dewasa (Wisnus Dan Wisman)
: Tiga Hari Dua Malam (3D2N)
: 5-10 Orang

Tabel 12 Uraian Program Wana Wisata Batu KudaJejak Batu Kuda


No.
1.

Waktu
Hari Ke 1
09.30 10.30

2.

10.30 11.30

3.
4.

11.30 12.30
12.30 16.30

5.

16.30 17.30

6.

17.30 18.00

Hari Ke 2
06.00 07.30

07.30 09.00

09.00 11.30

4
6

11.30 12.30
12.30 16.30

16.30 17.00

17.00 17.30

1.

Hari Ke 3
09.30 10.30

2.

10.30 11.30

3.

11.30 12.30

4.

12.30 16.30

5.

16.30 17.30

6.

17.30 18.00

Kegiatan
Penyambutan
Melihat pengrajin
almunium dan
besi
Ishoma
Memerah Susu
Sapi
Kembali Ke
Cottage
Makan Malam
Dan Istirahat
Sarapan Pagi Dan
Persiapan
Tracking Hutan
Menikmati Ikan
Bakar Dan
Manisan Jeruk
Bali
Isho
Ritual Ruwat
Kampung
Kembali Ke
Cottage
Makan Malam
Dan Istirahat
Sarapan Pagi Dan
Persiapan
Menaiki Puncak
Manglayang
Interpretasi
kawasan
manglayang
Ishoma, dan turun
kembali ke
cottage
Melihat Tarian
Jaipong Dan
Kesenian Benjang
Pentupan, Chek
Out

Uraian Aktivitas
Tarian sambutan (Tari Jaipong), Welcome drink,
perkenalan
Berkeliling desa dengan menginterpretasikan
berbagai potensi terutama mengenai keberadaan
pengrajin Besi dan Almunium
Istirahat, Shalat, dan Makan Siang

Menikmati suasana pagi serta sarapan dan


persiapan tracking di Hutan
Melakukan permainan tradisional bersama dengan
masyarakat

90

Hari Pertama
Penyambutan/
welcome
drink/ menuju
cotage

Melihat Kerajinan
Almunium dan
besi

Kembali Ke
Cotage

Makan malam di
iringi kesenian
tradisional
gamelan

Menikmati
Makanan
Pepes (pais)

Melihat
Proses
Memeras
Susu Sapi

Istirahat

Hari Kedua
Sarapan Pagi,
Bersiap
Untuk
Kegiatan
Kembali Ke
Cotage,
Makan
Malam,
Istirahat
Sarapan Pagi,
Bersiap
mendaki, bird
Watching
Kembali Ke
Cotage

Mengitari Hutan,
Dan Interpretasi
Kawasan

Menikmati Ikan
Bakar dan manisan
jeruk bali

(Tracking)

Melihat
Ritual Ruwat
Kampung

Hari Ketiga
Foto-foto diatas
puncak
manglayang

Melihat Tarian
Jaipong, dan
kesenian benjang

Interpretasi
Kawasan
Manglayang

Menikmati makan
siang dan
perbekalan di
puncak

Chek Out

Penyambutan. Program wisata Jelajah Sekitar Batu Kuda diawali


dengan penyambutan pengunjung di Desa Cikoneng. Pengunjung disambut oleh
masyarakat Batu Kuda dengan menggunakan Tarian Jaipong. Tari Jaipong
merupakan tari yang menggambarkan kecantikan wanita masyarakat Jawa Barat.
Tari ini memberikan dampak positif bagi pengunjung yang melihat karena Tari
Jaipong dapat meningkatkan semangat pengunjung. Kemudian pengunjung

91

dihidangkan welcome drink yaitu teh manis dan singkong rebus. Singkong rebus
merupakan makana khas masyarakat lampu adat sunda yang berada di Kawasan
Batu Kuda. Singkong rebus ialah makanan yang sederhana namun menjadi
menari akan kesederhanaanya.
Melihat Pengrajin Sekitar. Melihat pengrajin yang berada di sekitar
kawasan Wana Wisata Batu Kuda merupakan suatu kegiatan yang sangat
menyenangkan bagi pengunjung, kegiatan ini di sisi dengan memperkenalkan
bagaimana cara pengunjung dapat menjadi bagaian pengrajing, dengan cara
langsung merasakan bagaimana cara membuat suatu kerajinan baik itu dari
almunium dan kerajianan besi, ada juga bentuk kerajiana yang terbuat dari
anyaman yang memanfaatkan tanaman yang di keringkan, hsil olahan dari
masyrakat itu sendiri.
Ishoma.
Setelah aktivitas permainan tradisional dilakukan, maka
pengunjung beristirahat, shalat, dan makan siang. Menu makan siang adalah
masakan Pais dan sayur sladah bokor. Pais adalah ikan yang di pepes dengan
menggunakan daun pisang, dan menggunakan bahan-bahan tradisional serta
bumbu yang turun menurun.
Menanam Dan Memerah Susu Sapi. Kegiatan menanam dan memerah
susu sapi, erupakan suatu kegiatan yang utama dalam kawasan pedesaan di Batu
Kuda, kegiatan ini dapat menjadi suatu kegiatan yang membuat pengunjung
mengerti akan tata cara menanam dan mennernakkan satwa ternak. Kegiatan ini
diisi dengan menanam padi, dan memerah susu sapi, pengunjung akan merasakan
senasai yang luar biasa dengan langsung berinteraksi dengan satwa yang dia akan
hadapi.
Menaiki Puncak Manglayang. Kegiatan menaiki puncak manglayang
adalah suatu kegiatan yang membutuhkan konndisi fisik yang baik, pengunjung
akan di ajak menaiki gunung manglayang sambil mengitari hutan yang berada di
sekitarnya, pada saat sampainya di puncak pengunjung akan di berikan materi
mengenai kawasan yang berada di sekitar manglayang, pengunjung akan
disuguhkan pemandangan kota Bandung dari kejauahan, tentu ini akan membuat
pengunjung berdetak kagum akan suasan Kota Bandung yang ramai dan megah.
Melihat Kesenian Sekitar. Melihat kesenian sekitar, merupakan suatu
kegiatan yang baik untuk pengunjung, ini dikarenakan pengunjung dapat
mengetahui secara langsung budaya yang melekat di sekitar kawasan, kegiatan ini
di isi dengan pertunjukan pentas seni Tari Jaipong dan kesenian Benjang,
pengunjung tidak hanya dapat melihat pertunjukan namun dapat juga belajar
langsung dari kegiatan ini, dengan cara ikut langsung dalam setiap sesi kesenian
yang ditampilkan.
Melihat Ritual Ruwat Kampung. Ritual kampung merupakan kegiatan
yang sering ditampilkan oleh masyarakat adat setempat, kegiatan ini merupakan
kegiatan yang bertujuan untuk menyelamatkan kampung dari segala marabahaya
dan celaka yang akan datang ke kampung.
Kembali Ke Cottage. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang di isi penuh
didalam cottage, baik itu berbenah dan istirahat.
Makan Malam. Kegiatan makan malam merupakan suatu kegiatan yang
penting dalam program wisata ini, kegiatan ini menyuguhkan kekayaan kuliner
sekitar Batu Kuda. Kuliner yang disuguhkan seperti Pais yang merupakan
makanan khas sekitar.

92

Penutupan. Aktivitas menikmati manisan merupakan aktivitas terakhir


dalam program wisata Jelajah Sekitar Batu kuda. Pengunjung istirahat serta
bercerita tentang kesan dari pengalaman mengikuti Program Wisata Jelajah
Sekitar Batu kuda. Selanjutnya pengunjung dapat membeli souvenir khas Pulau
Batu kuda seperti anyaman, kerajinan, olahan susu sapi. Pengunjung akan
berpamitan dengan masyarakat Batu Kuda karena telah selesai mengikuti program
wisata Jelajah Sekitar Batu Kuda.
5.1.3 Rancangan Output
Rancangan output dapat digunakan sebagai media promosi sekaligus
pengenalan kawasan batu kuda. Rancangan output ini dapat berupa spanduk
ataupun banner, papan interpretasi, penamaan tumbuhan, serta penyedian booklet
kawasan wisata tersebut, ini bertujuan untuk memberikan informasi awal bagi
wisatawan yang akan melakukan kegiatan wisata.

93

Gambar 68 Rancangan Design Booklet

Sampul depan dibuat dengan menggabungkan beberapa foto yang kemudian


ditata dengan menggunakan software Adobe Photoshop CS3. Warna dasar yang
digunakan pada sampul depan merupakan warna dan gambar asli dari Wana
Wisata Batu Kuda sedangkan sampul belakang menggambarkan warna kebesaran
Perum Perhutani.

94

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Sumberdaya Wisata yang dimiliki oleh Wana Wisata batu Kuda memiliki
nilai jual yang tinggi apabila dikelola dengan baik, sumberdaya wisata tersebut
meliputi tiga pilar ekowisata seperti ekologi, ekonomi, social dan budaya.Program
wisata yang dirancang di Wana Wisata Batu Kuda didasari oleh penyebaran
kuisioner wisatawan masyarakat dan pengelola. Program wisata tersebut meliputi
program wisata harian dan menginap.
1.

2.

3.

4.

5.

Pengelolaan kawasan Wana Wisata Curug Naga didasarkan pada beberapa


peraturan perundangan sebagai landasan hukum pengelolaannya, serta
sistem pengelolaannya diatur oleh perjanjian kerjasama yang telah
ditentukan antar Perum Perhutani dengan Pihak Investor.
Wana Wisata Batu Kuda memiliki potensi dan sumberdaya wisata yang
potensial untuk dikembangkan. Keindahan alam yang terkait dengan pola
kehidupan dan budaya masyarakat pedesaan merupakan ciri khas potensi
wisata yang ada di Wana Wisata Batu Kuda. Potensi unggulan dari Wana
Wisata Batu Kuda berdasarkan penilaian potensi unggulan adalah
pemandangan dan udara sejuk. Namun demikian potensi-potensi di Wana
Wisata Batu Kuda belum secara baik dilakukan pengelolaan untuk menjaga
dan melestarikan potensi serta pemanfaatan untuk aktivitas ekowisata yang
berkelanjutan
Masyarakat disekitar Kawasan Wana Wisata Batu Kuda sudah merasakan
manfaat positif dalam memenuhi kebutuhan dasar berupa peningkatan
ekonomi dari adanya Wana Wisata Batu Kuda. Masyarakat sekitar sebagian
besar berpenghasilan dari berternak dan bertani, namun dengan adanya
kegiatan wisata ada sebagian masyrakat yang merasakan dampak postif,
masyarakat sekitar juga berpengharapan akan keamjuan ekowisata di W.W
Batu Kuda dapat dibenahi sehingga lebih baik dan lebih layak lagi.
Pengunjung Wana Wisata Batu Kuda didominasi oleh pengunjung laki-laki
berusia 21-30 tahun memiliki motivasi liburan keluarga atau berkemah serta
rekreasi dan berlibur Wana Wisata Batu Kuda. Pengunjung kurang puas
terhadap prasarana, sarana, dan fasilitas wisata yang terdapat di Wana
Wisata Batu Kuda seperti pada bidang transportasi, MCK, dan akomodasi.
Selain itu pengunjung yang datang ke Wana Wisata Batu Kuda memiliki
frekuensi yang jarang karena kurang promosi tentang potensi wisata Wana
Wisata Batu Kuda.
Masyarakat merasa terbantu dengan kegiatan ekowisata di Wana Wisata
Batu Kuda serta menyatakan siap dalam hal pengetahuan dan keterampilan,
ketertiban kegiatan wisata, keamanan dan keselamatan, keramahan,
kenyamanan bagi pengunjung, kebersihan. Namun masyarakat perlu
diberikan pelatihan tentang penataan kawasan terutama dalam
meningkatkan kebersihan serta institusi perlu membuat kebijakan tentang
strategi perencanaan ekowisata di Wana Wisata Batu Kuda dengan tepat dan
perlu terealisasikan.

95

6.

Perencanaan ekowisata di Wana Wisata Batu Kuda dibangun dengan


menggunakan konsep Ekowisata Wana Wisata Batu Kuda. Selain itu
dirancang program wisata dibuat berdasarkan pada potensi wisata, kondisi
prasarana, sarana, dan fasilitas penunjang kegiatan ekowisata, karakteristik,
motivasi, dan persepsi pengunjung, persepsi dan kesiapan masyarakat,
persepsi sehingga menghasilkan program wisata harian Jejak Batu Kuda,
Jelajah Batu Kuda, program wisata bermalam seperti Education Camp,
serta event tahunan Festival Batu Kuda. Media promosi booklet dibuat
berdasarkan pada potensi wisata pada Wana Wisata Batu Kuda. Program
wisata tersebut belum dapat berjalan dengan maksimal karena perlu adanya
peningkatan prasarana, sarana, dan fasilitas penunjang rekreasi yang terkait
dengan keamanan dan keselamatan pengunjung.

6.2 Saran
1. Pengelola sebaiknya tidak hanya membuat kerjasama dengan investor,
namun dengan kerjasama yang berkelanjutan dengan pemerintah setempat
tentu akan menumbuhkan kegiatan ekowisata, terutama membenahi
aksesibilitas menuju kawasan di Wana Wisata Batu Kuda.
2. Aksesibilitas menuju Wana Wisata Batu Kuda perlu dipermudah dengan
melakukan pengaturan terhadap transportasi regular dengan menggunakan
perahu masyarakat. Fasilitas kebersihan, MCK, fasilitas keselamatan
pengunjung, serta fasilitas wisata bahari perlu diadakan agar program wisata
dapat dilaksanakan secara efektif, aman, dan menyenangkan. Upaya
peningkatan frekuensi kunjungan wisatawan ke Wana Wisata Batu Kuda
perlu dipertimbangkan dalam strategi perencanaan promosi wisata
Kabupaten Wana Wisata Batu Kuda sehingga kegiatan wisata dapat
terselenggara dengan baik dan meningkatkan perekonomian masyarakat
3. Masyarakat local diharapkan terlibat langsung dalam pengembangan serta
menjalankan program wisata yang berada di kawasan Wana Wisata Batu
Kuda, ataupun dengan memberikan pelatihan langsung kepada masyarakat.
4. Memperbaiki fasilitas prasarana jalan menuju Wana Wisata sebagai akses
masuk bagi para wisatawan. Kondisi saat ini akses jalan masuk ke Wana
Wisata terlihat rusak parah, penuh lubang, terutama mulai jalan sebelah
timur Komplek Manglayang Regency, Komplek Bumi Langgeng Cinunuk,
dan Desa Cikoneng. Apabila kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, maka
wisatawan dari luar area Bandung Raya akan enggan masuk karena akses
yang sulit dan biaya transportasi yang semakin membengkak.
5. Mempertimbangkan aspek what to see, what to do, and what to buy agar
Wana Wisata Batu Kuda memiliki daya tawar yang tinggi pada dunia
pariwisata. Di imbangi dengan pembelajaran pelayan wisata yang baik serta
peningkatan kualitas SDM.
6. Pengelola perlu melakukan upaya nyata dalam menyediakan berbagai
sarana, prasarana, dan fasilitas untuk mendukung program wisata yang
dirancang serta memberikan pelayanan yang maksimal terhadap setiap
pengunjung yang datang ke Wana Wisata Batu Kuda, sehingga pengunjung
merasa aman, nyaman, dan senang dalam mengikuti program wisata di
Wana Wisata Batu Kuda.

96

LAMPIRAN
Karakteristik Pengunjung
Jenis Kelamin

Status
Kelompok Umur

Asal Kedatangan

Jumlah(Orang)

Persentase(%)

Laki-laki

31

62%

Perempuan

19

38%

Single

28

56%

Menikah

22

44%

11-20

21

42%

21-30

18

36%

31-40

16%

>50

6%

Bandung

38

76

Sukabumi

4%

Jakrta-Depok

14%

Lainnya

4%

SD

4%

SMP

10

20%

SMU

27

54%

Diploma

10%

Sarjana

12%

Keluarga

6%

Teman

12

12%

Rombongan

35

70%

<10

Cianjur
Bogor

Pendidikan Terakhir

Kunjungan

Lainnya