Anda di halaman 1dari 18

AUDIT LINGKUNGAN

Studi Kasus: PT. Barito Pasific Timber Tbk, dan PT. Binajaya
Roda Karya

MADYA AGASI
13314433

Institut Teknik Yogyakarta 2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Audit Lingkungan


Dalam dunia yang modern ini banyak akan permasalahan yang dihadapi setiap
pribadi atau organisasi, salah satu dari permasalahan tersebut adalah lingkungan
hidup. Permasalahan lingkungan hidup telah menjadi bagian dalam kehidupan
manusia, bahkan saat ini masalah lingkungan telah menjadi isu global dan penting
untuk dibicarakan karena menyangkut kepentingan seluruh umat manusia.
Dulu hutan-hutan di Indonesia masih rindang. Air yang mengalir di kali relatif jernih,
bahkan banyak orang di sekeliling kali menggunakannya, bukan hanya untuk
memasak dan mencuci, tetapi juga untuk diminum. Kini hutan rindang tak mudah
ditemukan lagi, sekalipun di Kalimantan dan Papua. Berbagai jenis tumbuhtumbuhan kian hari kian merana. Hutan dibabat dan tanahnya digali, karena di
dalam tanah terdapat tambang minyak, emas dan batu bara.
Tambang-tambang itu dijadikan sebagai salah satu obyek untuk dikuras, karena
dapat dijadikan salah satu indikator kemajuan perekonomian dan teknologi. Negara
berkembang seperti Indonesia ikut terjebak dengan teori itu. Tambang segera
diambil, meskipun dengan mengorbankan hutan-hutan yang rindang tersebut. Apa
yang terjadi kemudian? Hutan yang dulu rindang kini menjadi gundul. Kali yang dulu
mengalir dengan air bersih, kini hampir tidak ada lagi. Jika terdapat air mengalir,
itupun sudah tercampur dengan berbagai limbah yang mengandung kimia
membahayakan untuk kesehatan manusia. Bahkan tragisnya, di saat tambang
sudah dikuras, perekonomian tak beranjak maju, tetapi justru jumlah penduduk
miskin bertambah.
Oleh karena itulah audit lingkungan merupakan alat untuk memverifikasi secara
obyektif upaya manajemen lingkungan dan dapat membantu mencari langkahlangkah perbaikan untuk meningkatkan kinerja lingkungan, berdasarkan kriteria
yang telah ditetapkan. Audit lingkungan sebagai proses menentukan apakah semua
tingkat atau tingkat yang dipilih dari suatu organisasi menaati persyaratan
peraturan dan kebijakan serta standar internal yang merupakan suatu komponen
yang berkekuatan dari program manajemen lingkungan.
Audit lingkungan juga merupakan salah satu upaya proaktif perusahaan untuk
perlindungan lingkungan yang akan membantu meningkatkan kinerja operasional
perusahaan terhadap lingkungan, dan pada akhimya dapat meningkatkan citra
positif perusahaan. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan yang
melatar belakangi audit lingkungan sebagai dasar evaluasi. Yaitu evaluasi kinerja
perusahaan terhadap lingkungan disekitarnya, dengan demikian perusahaan akan
dinilai positif dari lembaga yang bersangkutan.
Latar belakang audit lingkungan menurut Kep. Men.LH 42/1994 :
1.

Setiap bidang usaha wajib memelihara kelestarian lingkungan.

2.

Audit lingkungan suatu perangkat pengelolaan lingkungan.

3.
Audit lingkungan dapat membantu menemukan penyelesaian masalah
lingkungan hidup.

1.2

Rumusan Masalah Audit Lingkungan

Audit lingkungan hidup mempunyai cakupan yang luas dalam pembahasannya.


Oleh karena itu kelompok kami sudah membatasi masalah yang akan dibahas
dengan rumusan masalah yaitu, Apa pengertian, manfaat, cara kerja dalam
manajemen serta pengaplikasian dari audit lingkungan?

1.3

Tujuan Audit Lingkungan

Dalam buku The Environmental Audit and Bussiness Strategy, a Total Quality
Approach (1992, hal 72 & 73), Grand Ledgerwood mengemukakan bahwa audit
lingkungan mempunyai 3 tujuan yang luas, yaitu :
a.

Ketaatan terhadap peraturan,

b.

Bantuan dalam akuisisi dan penjualan aktiva,

c.

Pengembangan korporat terhadap misi penghijauan.

BAB II
PEMBAHASAN
AUDIT LINGKUNGAN

2.1 Definisi dan Sifat Audit Lingkungan


2.1.1 Definisi Audit Lingkungan
Menurut Kep. Men.LH 42/1994, Audit lingkungan adalah suatu alat manajemen
yang meliputi evaluasi secara sistematik, terdokumentasi, periodik dan obyektif
tentang bagaimana suatu kinerja organisasi sistem manajemen dan peralatan
dengan tujuan menfasilitasi kontrol manajemen terhadap pelaksanaan upaya
pengendalian dampak lingkungan dan pengkajian pemanfaatan kebijakan usaha
atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan
lingkungan.

Beberapa definisi yang diberikan mengenai audit lingkungan adalah sebagai


berikut:

Menurut The International Chamber of Commerce 1989

Audit lingkungan merupakan pengujian yang sistematis dari interaksi antara setiap
operasi usaha dengan keadaan sekitarnya.

Rob Gray, Jan Bebbington dan Diane Walters

Dalam buku Accounting for the Enviroment (1993, hal 104) Audit lingkungan
merupakan suatu penilaian yang sistematis, objektif dan didokumentasikan
mengenai dampak dan aktivitas usaha anda terhadap lingkungan.

2.1.2 Sifat Audit Lingkungan


Apapun nama yang digunakan untuk mendeskripsikan suatu program audit
lingkungan -audit, review, surveillance, survey, assessment, evaluation,
atau appraisal- poin penting ialah program demikian mengaudit dan menelaah
status lingkungan dari fasilitas individual.
Salah satu perbedaan utama antara audit lingkungan dan tipe audit yang lain
adalah eksistensi dan ketiadaan standar. Terdapat sedikit standar untuk audit
lingkungan. Audit keuangan mempunyai standar yang disebarluaskan oleh badan
standar akuntansi yang berwenang. Perbedaan yang lain adalah jumlah sistem yang
ada. Sistem akuntansi keuangan yang rinci dan terkoordinasi yang berjalan dapat
menjadi sasaran audit keuangan. Namun, diluar hal-hal seperti data pengendalian
polusi, persetujuan dan MOU (Memorandum of Understanding), sacara tipikal
terdapat sedikit informasi lingkungan relative yang dapat diaudit.

2.6 Auditing sebagai Komponen dari Manajemen Lingkungan


Suatu sistem Manajemen Lingkungan merupakan metode untuk menuntun suatu
organisasi untuk mencapai dan mempertahankan kinerja sesuai dengan tujuan
yang telah ditetapkan dan sebagai tanggapan terhadap peraturan yang secara
konstan berubah, sosial, keuangan, ekonomi dan tekanan kompetitif, dan resiko
lingkungan. Apabila beroperasi secara efektif, suatu sistem manajaemen lingkungan
korporat memberikan manajemen dan dewan direksi pengetahuan, yaitu:
a. Perusahaan menaati hukum dan peraturan lingkungan.
b. Kebijakan dan prosedur secara jelas didefinisikan dan diumumkan ke seluruh
organisasi.
c.
Resiko korporat yang berasal dari resiko lingkungan dinyatakan dan berada
dibawah pengendalian.

d. Perusahaan mempunyai sumberdaya dan staff yang tepat untuk pekerjaan


lingkungan, menggunakan sumber daya tersebut, dan dapat mengendalikan masa
depan sumber daya tersebut.
Sistem manajemen lingkungan terdiri dari beberapa fungsi, yaitu:

Perencanaan

Menetapkan tujuan, menentukan kebijakan, mendefinisi prosedur, dan menetapkan


anggaran program.

Mengorganisasi

Menetapkan struktur organisasi, melukiskan peranan dan tanggung jawab,


menciptakan deskripsi posisi, menetapkan kualifikasi posisi dan melatih staff.

Menuntun dan Mengarahkan

Mengkoordinasi, memotivasi, menetapkan prioritas, mengembangkan standar


kinerja, mendelegasi dan mengelola perubahan.

Mengkomunikasikan

Mengembangkan dan mengimplementasikan saluran komunikasi yang efektif dalam


korporat, dalam divisi, dan dengan kelompok eksternal, termasuk pengatur apabila
sesuai.

Mengendalikan dan Menelaah

Mengukur hasil, menyatakan kinerja, mendiagnosis masalah, mengambil tindakan


korektif dan secara sengaja mencari cara-cara untuk belajar dari kesalahan masa
lalu serta dengan demikian menciptakan perbaikan dalam sistem.

2.7 Falsafah Manajemen Lingkungan Dasar


Menurut J. Ladd. Greno dan kawan-kawan, falsafah manajemen lingkungan dasar
dibedakan menjadi 3 hal seperti berikut,

Pemecahan Masalah

Fokus utamanya pada pemecahan masalah lingkungan yang segera dan paling
dikenal dan menghindari biaya yang tidak perlu, yang diakibatkan oleh staff yang
meningkat atau pengeluaran modal. Disini, sistem manajemen lingkungan
cenderung tidak formal, dan tanggung jawab untuk manajemen lingkungan
sebagian besar terletak pada pengacara, insinyur dan spesialis lain yang cenderung
memfokuskan pada masalah dan perhatian pabrik. Mereka cenderung hanya
menekankan hukum dan peraturan yang perlu yaitu apa yang tidak mempunyai
peluang untuk interprestasi dan resiko yang paling signifikan.

Mengelola ketaatan

Suatu perusahaan membangun suatu sistem yang lebih formal untuk mengelola
tingkat yang diinginkan atau tingkat ketaatan. Pergeseran ini dapat berasal dari
keinginan manajemen untuk mengelola dengan lebih baik mengenai apa yang
ditentukan oleh hukum atau kebijakan dan prosedur perusahaan. Fokus utama dari
sistem manajemen lingkungan, kesehatan, dan keamanan adalah mencapai dan
memelihara tingkat ketaatan yang diinginkan dengan berbagai persyaratan
peraturan. Disini program audit lingkungan cenderung memasukkan tidak hanya
penilaian masalah (dan mungkin praktik yang sehat), akan tetapi juga penentuan
dan/ atau verifikasi ketaatan yang dicapai.

Mengelola Kepastian Lingkungan

Falsafah manajemen dasar adalah bahwa resiko lingkungan yang potensial terhadap
perusahaan dan terhadap lingkungan harus dikelola. Tidak hanya resiko yang
berhubungan dengan ketaatan penting bagi perusahaan, akan tetapi juga resiko
lain yang belum dicakup oleh persyaratan peraturan atau standar eksternal yang
ada adalah penting. Fokus utamanya pada membangun sistem manajemen
lingkungan yang menekankan, melindungi sumber daya internal dan lingkungan
eksternal dari kerugian dengan mencari dan mengantisipasi resiko dan juga
mengelola resiko yang disebabkannya. Perusahaan pada program audit lingkungan
sering menilai kesesuian dari sistem manajemen lingkungan dan memverifikasi
efektifitasnya, selain menilai masalah dan memverifikasi ketaatan.

2.8

Auditing dalam Konteks Resiko Lingkungan

Salah satu pendekatan untuk membedakan tipe dari resiko lingkungan adalah
mengidentifikasi penyebab dari kondisi industri yang berisiko, yaitu :

Orang yang tidak secara penuh memahami peraturan dan prosedur.

Fasilitas fisik yang tidak secara memadai didesain.

Sistem manajemen yang terbatas dalam ruang lingkup dan tidak


lentur/fleksibel.

Prosedur yang tidak memadai

Kekuatan Eksternal

Tekanan internal yang bersaing

2.9 Sebab dan Manfaat Audit Lingkungan


2.9.1 Sebab audit lingkungan

Keinginan dari dewan direksi untuk mendapatkan kepastian bahwa perusahaan


bertanggungjawab dan secara memadai menangani lingkungannya.


Adanya inisiatif dari manajemen tingkat bawah atau menengah untuk
memperbaiki aktivitas pengelolaan lingkungan dan mengejar apa yang perusahaan
lain lakukan.

Dimotivasi oleh kejadian dari masalah atau kecelakaan lingkungan.

2.9.2 Manfaat audit lingkungan


a. Meningkatkan efektivitas manajemen lingkungan

Mengklarifikasi masalah yang mungkin sebaiknya diinterprestasikan


secara berkala pada fasilitas yang berbeda.

Mengembangkan suatu pendekatan yang lebih seragam untuk


mengelola aktivitas melalui pembagian informasi atau belajar dari
fasilitas yang lain.
b. Perasaan dari kesenangan dan keamanan yang meningkat

Ada kepastian bahwa identifikasi dan pendokumentasian status


ketaatan dari fasilitas individual.

Ada kepastian bahwa sistem pengendalian berjalan dan beroperasi


dengan tanggung jawab dan etis terpenuhi.

2.10

Tipe Audit

Menurut Grant Ledgerwood dan kawan-kawan (1992) tipe audit termasuk :


a. Audit korporat (Corporate audits), yang mempertimbangkan pekerjaan dari
korporasi secara keseluruhan.
b. Audit aktivitas (Activity audits), yang mempertimbangkan satu aktivitas dari
korporasi.
c. Audit tempat (site audits), yang mempertimbangkan satu instalasi tunggal.
d. Audit ketaatan (compliance audits), yang menguji ketaatan industry terhadap
lingkungan yang relevan dan standar keamanan.
e. Audit resiko (risk audits), yang memepertimbangkan keamanan, kesehatan,
operasional, resiko terhadap karyawan dan public.
f. Audit produksi (production audits), yang menelusuri energy dan/atau material
dari masuknya material tersebut kedalam perusahaan sampai keluar.
g. Audit akuisisi (acquisition atau divesture audits), yang menguji liabilitas
lingkungan yang dapat timbul dari aktivitas tersebut.

Namun secara luas, audit dapat dibagi dalam 2 kategori, yaitu:


a. Program pemeriksaan siklikal (cylical auditing programs), yaitu audit yang
terjadi dalam siklus kejadian yang dijadwalkan. Bentuk audit ini merupakan
produk sentral dari suatu unit lingkungan. Audit demikian dapat dilakukan
oleh spesialis dalam perusahaan atau kosultan luar.
b. Audit tunggal untuk maksud khusus (single audits for special purposes), audit
demikian lebih cocok dilakukan oleh konsultan luar.

2.11 Auditor Lingkungan


Audit laporan keuangan dilaksanakan oleh akutan yang berkualifikasi dan
disupervisi dengan memadai. Audit lingkungan biasanya diluar kompetensi akuntan
dan diharapakan bahwa audit lingkungan dilaksanakan oleh tim kecil yang
jumlahnya sekitar 3 atau 4 orang. Tim tersebut akan terdiri dari orang yang secara
teknis berkualifikasidari dalam atau luar perusahaan dengan seorang pemimpin
yang independen dari perusahaan. Orang berkualifikasi yang siap dan dapat
melaksanakan audit lingkungan adalah yang sudah berada dalam usaha dan auditor
lingkungan yang telah terdaftar dan terakreditasi.
Pasal 51 Ayat (2) UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup dinyatakan bahwa auditor lingkungan hidup wajib
memiliki sertifikat kompetensi auditor lingkungan hidup yang berlaku mulai tanggal
3 Oktober 2010. Kriteria untuk memperoleh sertifikasi auditor lingkungan hidup
meliputi kemampuan:
a. Memahami prinsip, metodologi, dan tata laksana audit lingkungan hidup
b. Melakukan audit lingkungan hidup yang meliputi tahap perencanaan,
pelaksanaan, pengambilan kesimpulan dan pelaporan;
c. Merumuskan rekomendasi langkah perbaikan sebagai tindak lanjut audit
lingkungan hidup.

2.12 Tahapan Pelaksanaan Audit Lingkungan


Tahapan pelaksanaan audit lingkungan adalah sebagai berikut :
a. Pendahuluan
Penerapan audit lingkungan akan tergantung kepada jenis audit yang
dilaksanakan, jenis usaha atau kegiatan dan pelaksanaan oleh tim auditor.
b. Pra-audit
Kegiatan pra-audit merupakan bagian yang penting dalam prosedur audit
lingkungan. Perencanaan yang baik pada tahap ini akan menentukan keberhasilan
pelaksanaan audit dan tindak lanjut audit tersebut.
Informasi yang diperlukan pada tahap ini meliputi informasi rinci mengenai
aktifitas di lapangan, status hukum, struktur organisasi, dan lingkup usaha atau
kegiatan yang akan diaudit. Aktifitas pra-audit juga meliputi pemilihan tata laksana
audit, penentuan tim auditor, dan pendanaan pelaksanaan kegiatan audit. Pada
saat ini, tujuan dan ruang lingkup audit harus telah disepakati.
c. Kegiatan Lapangan

Pertemuan pendahuluan

Tahap awal yang harus dilaksanakan oleh tim audit adalah mengadakan
pertemuan dengan pimpinan usaha atau kegiatan untuk mengkaji tujuan audit, tata
laksana, dan jadwal kegiatan audit.

Pemeriksaan lapangan

Pemeriksaan di lapangan dilaksanakan setelah pertemuan pendahuluan. Tim


audit akan mendapatkan gambaran tentang kegiatan usaha atau kegiatan yang
akan menjadi dasar penetapan areal kegiatan yang memerlukan perhatian secara
khusus. Dengan melaksanakan pemeriksaan lapangan, tim auditor dapat
menemukan hal-hal yang terkait erat dengan kegiatan audit namun belum
teridentifikasi dalam perencanaan.

Pengumpulan data

Data dan informasi yang dikumpullkan selama audit lingkungan akan mencakup
tata laksana audit, dokumentasi yang diberikan oleh pemilik usaha atau kegiatan,
catatan dan hasil pengamatan tim auditor, hasil sampling den pemantauan, fotofoto, rencana, peta, diagram, kertas kerja dan hal-hal lain yang berkaitan, Informasi
tersebut harus terdokumentasi dengan baik agar mudah ditelusuri kembali. Tujuan
utama pengumpulan data adalah untuk menunjang dan merupakan dasar bagi
pengujian hasil temuan audit lingkungan,

Pengujian

Prinsip utama audit lingkungan adalah bahwa informasi yang disajikan oleh tim
auditor telah diuji dan dikonfirmasikan. Dokumentasi yang dihasilkan oleh tim
auditor harus menunjang semua pernyataan, atau telah teruji melalui pengamatan
langsung oleh tim auditor. Dalam menguji hasil temuan audit, tim auditor harus
menjamin bahwa dokumen yang dihasilkan merupakan dokumen yang asli dan sah.
Oleh karena itu tata laksana audit harus menentukan tingkat pengujian data yang
dibutuhkan, atau harus ditentukan oleh tim auditor.

Evaluasi hasil temuan

Hasil temuan audit harus dievaluasi sesuai dengan tujuan audit dan tata
laksana yang telah disetujui untuk menjamin bahwa semua isu/masalah telah dikaji.
Dokumentasi penunjang harus dikaji secara teliti sehingga semua hasil temuan
telah ditunjang oleh data dan diuji secara tepat.

Pertemuan akhir

Setelah penelitian lapangan selesai, tim auditor harus memaparkan hasil


temuan pendahuluan dalam suatu pertemuan akhir secara resmi. Pertemuan ini
akan mendiskusikan berbagai hal yang belum terpecahkan atau informasi yang
belum tersedia. Tim auditor harus mengkaji hasil temuannya secara garis besar dan
menentukan waktu penyelesaian laporan akhir. Seluruh dakumentasi selama
penelitian harus dikembalikan kepada penanggung jawab usaha atau kegiatan.

d. Pasca Audit
Tim auditor akan menyusun laporan tertulis secara lengkap sebagai hasil
pelaksanaan audit lingkungan. Laporan tersebut juga mencakup pemaparan
tentang rencana tindak lanjut terhadap isu-isu lingkungan yang telah diidentifikasi.

2.13 Aktivitas Pra dan Setelah Audit


2.13.1 Aktivitas Pra Audit
Proses audit lingkungan dimulai dengan sejumlah aktivitas sebelum audit
ditempat aktual terjadi. Aktivitas-aktivitas tersebut yaitu pemilihan fasilitas yang
diaudit, jadwal dari fasilitas yang diaudit, pemilihan tim audit, pengembangan dari
suatu rencana audit, mendefinisikan ruang lingkup audit, pemilihan topik yang
prioritas untuk dimasukkan, memodivikasi program audit dan mengalokasi sumber
daya tim audit.
Audit ditempat aktual secara tipikal terdapat 5 langkah dasar, yaitu:
1. Memahami sistem dan prosedur manajemen internal
Pemahaman auditor biasanya dikumpulkan dari berbagai sumber, misalnya
diskusi staff, kesioner, kunjungan pabrik dan dalam kasus tertentu, suatu pengujian
verifikasi terbatas dilakukan untuk membantu mengkonfirmasikan pemahaman
awal auditor. Auditor biasanya mencatat pemahamannya dalam suatu bagan arus,
uraian naratif atau gabungan dari keduanya agar dapat mempunyai suatu deskripsi
yang tertulis. Tujuan dasar dalam langkah ini untuk memahami berbagai cara
memperhatikan lingkungan yang dikelola. Dalam kelanyakan organisasi, banyak
aspek dari sistem manajemen lingkungan internal tidak didokumentasikan secara
tertulis. Namun sistem manajemen yang terpilih dapat didokumentasikan dalam
detail yang cukup untuk memberikan suatu pemahaman dan prosedur-prosedur
dasar rencana.
2. Menilai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan
Auditor mencari indikator- indikator seperti tanggungjawab yang secara jelas
didefinisikan, suatu sistem otorisasi yang memadai, kesadaran dan kapabilitas
personil, dokumentasi dan pencatatan, serta verifikasi internal. Jika disain
manajemen lingkungan internal dinilai sehat (yaitu hasil yang diterima tercapai,
apabila sistem berfungsi seperti yang didisain), maka langkah audit berikutnya
dapat memfokuskan pada efektifitas yaitu disain diimplementasikan, dan
sejauhmana system dalam kenyataan telah dilaksanakan seperti yang dikehendaki.
Namun, apabila disain dari sistem intrenal tidak cukup sehat untuk memastikan
hasil yang dikehendaki, langkah audit berikutnya harus memfokuskan pada hasil
lingkungan daripada sistem manajemen internal.
3. Menyimpulkan bukti audit

Kelemahan-kelemahan yang dicurigai dalam sistem manajemen dikonfirmasi


dalam tahap ini, sistem yang tampak sehat diuji untuk membuktikan bahwa sistem
tersebut berfungsi sesuai dengan yang direncanakan dan digunakan secara
konsisten. Bukti audit dapat dikumpulkan melalui penyelidikan (seperti kuesioner
formal dan kuesioner tidak formal), pengamatan dan pengujian (seperti menelusuri
kembali data, memverifikasi jejal kertas). Tim audit harus mengidentifikasi dan
kemudian memverifikasi aktivitas tersebut dalam proses manajemen lingkungan
yang dapat memberikan pandangan secara mendalam mengenai fungsi sistem
secara keseluruhan. Bukti audit dapat berupa dalam bentuk fisik, dokumen atau
keadaan.
4. Menilai temuan audit
Pengamatan audit dan temuan dinilai, tujuannya dapat dimengerti dan
mengintegrasikan temuan-temuan dan observasi dari setiap anggota tim, kemudian
menentukan disposisi akhir temuan dan observasi akan dimasukkan ke dalam
laporan audit yang formal atau hanya membawa pada perhatian dari manajemen
fasilitas. Temuan audit dan observasi dapat diorganisasikan untuk menentuka
temuan yang umum, dapat mempunyai signifikasi yang lebih besar daripada bila
dipandang secara individual. Dalam menilai temuan audit, anggota tim khususnya
pemimpin tim, menentukan apakah bukti audit yang dimiliki cukup untuk
mendukung temuan audit.

5. Melaporkan temuan audit


Proses pelaporan audit lingkungan sering dimulai dengan diskusi yang tidak
formal antara auditor dan koordinator lingkungan fasilitas ketika penyimpanan
diketahui. Temuan lebih jauh akan diklarifikasi ketika audit sedang berlangsung dan
kemudian dilaporkan kepada manajemen fasilitas selama penyelesaian audit atau
konferensi penutupan. Selama pertemuan, tim audit mengkomunikasikan semua
temuan dan pengamatan yang diketahui selama audit dan menunjukkan item-item
mana yang akan muncul dalam laporan audit yang formal. Tujuan pengunaan
laporan audit mencakup memberikan informasi kepada manajemen, memprakarsai
tindakan korektif, dan menyediakan dokumentasi audit. Laporan audit memberikan
kaitan yang cukup untuk seluruh penelaahan yang dilakukan sehinggam kerangka
kerja manajemen yang ada dapat menentukan apa, apabila ada, tindakan-tindakan
yang diperlukan.

2.9.2 Aktivitas setelah audit (post audit activities)


Proses audit tidak hanya berakhir pada simpulan dari audit ditempat.
Pemimpin tim audit menyiapkan suatu laporan sementara mengenai temuan dan
observasi dalam dua minggu dari audit ditempat. Laporan sementara ini dapat
ditelaah oleh manajemen fasilitas, dan lain-lain sebelum suatu laporan akhir
diterbitkan.

Ketika laporan akhir disiapkan, proses perencanaan tindakan biasanya dimulai.


Proses mencangkup menentukan lokasi yang potensial, menyiapkan rekomendasi,
memberikan tanggung jawab untuk tindakan korektif dan menetapkan jadwal.
Langkah terakhir dalam proses audit secara keseluruhan dimulai dengan tindak
lanjut terhadap rencana tindakan untuk memastikan bahwa seluruh kekurangan
dalam kenyataannya telah diperbaiki.

2.14

Audit lingkungan di Indonesia

Sesuai dengan GBHN 1993, sistem yang dianut dalam pelaksanaan


pembangunan nasional adalah pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Pembangunan yang dilakukan untuk
memperhatikan kelestarian lingkungan.

mengolah

sumber daya

alam,

tetap

Jenis audit lingkungan berdasarkan Peraturan Nasional, yaitu :

Audit Lingkungan Wajib

Audit lingkungan adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh


penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan berdasarkan perintah Menteri
Lingkungan Hidup dan ketidakpatuhan penganggungjawab usaha dan atau kegiatan
terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup
yang terkait dengan kegiatan tersebut. (KEP-30/MENLH/2001).

Audit Lingkungan Sukarela

Audit lingkungan adalah suatu alat manajemen yang meliputi evaluasi secara
sistematik, terdokumentasi, periodik dan obyektif tentang bagaimana suatu kinerja
organisasi sistem manajemen dan peralatan dengan tujuan menfasilitasi kontrol
manajemen terhadap pelaksanaan upaya pengendalian dampak lingkungan dan
pengkajian pentaatan kebijakan usaha atau kegiatan terhadap peraturan
perundang-undangan
tentang
pengelolaan
lingkungan
hidup.
(KEP42/MENLH/111994).
Dasar hukum pelaksanaan audit lingkungan di Indonesia adalah UU RI Nomor
23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan KEPMEN LH Nomor KEP42 MENLH/11/1994 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan
ISO 14001 adalah standar lingkungan terhadap organisasi yang dinilai. Ini
menentukan persyaratan untuk EMS, yang menyediakan kerangka kerja bagi suatu
organisasi untuk mengendalikan dampak lingkungan dari kegiatan, produk dan jasa.
Standar lain untuk isu-isu lingkungan hidup adalah ISO 1OOO.
Ketika melihat audit lingkungan, kadang terpikir ini adalah sebuah ruang untuk
menjaga tetap berkualitasnya kondisi lingkungan hidup. Dalam pembelajaran,
terlihat jelas bahwa audit lingkungan hanya merupakan sebuah kesukarelaan.
Bahkan yang dibelajarkan adalah audit lingkungan dalam ISO 14000, bukan pada
audit lingkungan yang termaktub dalam perundang-undangan negeri ini.
Kementerian Lingkungan Hidup sendiri telah mengeluarkan turunan UU mengenai

audit lingkungan, yaitu KepMenLH No 30/2001 juga sebelumnya pada KepMenLH No


42/1994. Gaung Audit Lingkungan mulai menggema ketika WALHI (Wahana
Lingkungan Hidup Indonesia) berpendapat bahwa sistem AMDAL yang ada
sepatutnya dilengkapi dengan audit lingkungan. Namun kenyataannya masih
sangat sulit melihat terjadinya proses audit lingkungan terhadap pelaku usaha. Hal
ini juga lebih dikarenakan tidak ada kewajiban pelaku usaha untuk melakukan audit
lingkungan, yang ada hanyalah kesukarelaan. Dalam Standar Nasional Indonesia,
pedoman audit lingkungan telah diabolisi (tidak dipergunakan lagi). Diantaranya
adalah SNI 19-14010-1997 tentang Pedoman audit lingkungan Prinsip umum, SNI
19-14011-1997 tentang Pedoman untuk pengauditan lingkungan Prosedur audit
Pengauditan sistem manajemen lingkungan dan SNI 19-14012-1997 tentang
Pedoman audit untuk lingkungan Kriteria kualifikasi untuk auditor lingkungan.
Melihat tidak pentingnya audit lingkungan dalam tataran kebijakan, maka tidak
salah bila telah terjadi pengarahan negeri bencana ini ke arah ecosida, yang bisa
jadi terjadi tidak lebih dari 7 tahun lagi.
Audit lingkungan adalah proses jalan panjang yang harus dimulai dan
dikampayekan oleh semua pihak demi keselamatan umat manusia. Banyak
perusahaan di Indonesia yang telah melaksanakan aktivitas CSR (corporate social
responsibility/ pertanggungjawaban sosial perusahaan) di lapangan. Akan tetapi
belum banyak yang mengungkapkan aktivitas tersebut dalam sebuah laporan.
Hanya beberapa perusahaan yang telah mengungkapkan informasi lingkungan dan
tanggungjawab sosial di dalam laporan tahunan perusahaan. Beberapa di antaranya
membuat laporan CSR tersendiri, terpisah dari laporan tahunan. Dibandingkan
dengan negara lain, harus diakui bahwa perkembangan praktik laporan
keberlanjutan di Indonesia berjalan lambat. Jika penyusunan laporan keuangan
diwajibkan oleh Undang-undang Perseroan Terbatas, sedangkan untuk laporan
keberlanjutan belum ada ketentuan perundang-undangan yang mewajibkan
pembuatan laporan tersebut. Khusus untuk mewajibkan penyusunan laporan
keberlanjutan di Indonesia nampaknya masih perlu waktu, terutama kesiapan
dalam sistem pendukung seperti adanya standar pelaporan yang bisa diterima
secara umum dan ketersediaan tenaga yang berkompeten untuk menyusun laporan
tersebut, termasuk tenaga yang melakukan fungsi assurance.

STUDI KASUS
PT. Barito Pasific Timber Tbk, dan PT. Binajaya Roda Karya telah memperoleh
akreditasi ISO 14001, standar internasional untuk sistem manajemen lingkungan
(EMS). Akreditasi diberikan pada tanggal 20 maret 2000 dan berlaku selama 3
tahun dari tanggal tersebut sesuai dengan implementasi berkesinambungan yang
memuaskan dari sistem manajemen operator (BVQIISO 14001 Sertifikat 66596).
BVQI (Bureau Verlitas Quality Internasional) melaksanakan audit sertifikasi dan
akan terus melaksanakan audit-audit eksternal EMS pada interval 6 bulanan. Audit
berikut nya dijadwalkan pada bulan February 2001.
Sebagai bagian dari proses ISO 14001, perusahaan ini memperbaiki
penyelanggaraan lingkungan perusahaannya dan menyusun prosedur kerja untuk

mencapai tujuan ini. Juga sebagai bagian dari proses tersebut, perusahaan telah
melaksanakan dan akan terus melaksanakan audit internal untuk memastikan EMS
diimplementasikan secara efektif, untuk mengidentifikasi cara-cara yang menjamin
perbaikan yang berkesinambungan dari penyelenggaran lingkungan perusahaan.
Meskipun tinjauan lingkungan awal (Initial Environmental Review) yang
dilaksanakan sebagai bagian dari proses ISO 14001, departemen lingkungan
perusahaan mengeluarkan laporan foto yang memperinci contoh-contoh dari
kegiatan manajemen tidak baik yang mendapat perhatian selama pemeriksaan.
Laporan ini didistribusikan kepada kepala-kepala departemen dengan instruksi agar
memperbaiki keadaan ini. Audit internal dilaksanakan bulan Juli 2000 yang berlaku
sebagai mekanisme untuk menjamin bahwa semua perbaikan telah dilakukan dan
mengidentifikasi perbaikan yang masih belum selesai atau baru. Tujuannya adalah
untuk membuat laporan foto lanjutan berdasarkan audit bulan Juli. Tetapi sejauh ini
belum tercapai. Selama audit juga banyak contoh pelaksanaan manajemen tidak
bagus yang didapat dari laporan foto, ternyata masih dijumpai di lingkungan
perusahaan.
BVQI melaksanakan audit eksternal EMS selama bulan Agustus 2000,
danselama itu ada beberapa poin persoalan yang mendapat perhatian, yaitu:

Kontrol debu yang tidak layak,


Total Padatan Tersuspensi (TSS) di log pond masih terlalu tinggi. Rencanarencana kerja untuk mengurangi polusi log pond perlu diperbaiki,
Mengurangi limbah kayu dan memperbaiki tingkat pemulihan kayu di areal
utama yang memerlukan perbaikan segera, dan
Tidak adanya bukti pengawasan emisi cerobong asap, bau atau pengawasan
vibrasi.

Semenjak audit eksternal telah ada tinjauan internal dari persoalan-persoalan


ini, yang menghasilkan saran perbaikan dan mengidentifikasi orang-orang yang
bertanggung jawab melaksanakan perbaikan tersebut. Masih belum ada tindakan
sampai sekarang dan persoalan-persoalan ini masih terbuka.
Penerimaan ISO 14001 seharusnya dipandang sebagai langkah positif dalam
menjamin peningkatan penyelenggaraan lingkungan PT. Barito Pacific TimberTbk.
dan PT. Binajaya Roda karya. Namun demikian, yang harus dilaksanakan untuk
menjaga akreditasi adalah mengambil langkah untuk meningkatkan kegiatankegiatan manajemen di lapangan secara berkesinambungan,terutama di tempattempat dimana limbah kayu menjadi perhatian.
Temuan Audit :
1. Limbah Kayu
Limbah kayu merupakan persoalan kritis di PT. Barito Pacific Timber Tbk. dan
PT. Binajaya Roda karya, dan diidentifikasi BVQI sebagai salah satu dari persoalanpersoalan utama yang memerlukan perhatian melalui EMS ISO14001. Selama
tinjauan lapangan terdapat banyak buangan dari sumber alamiah, yaitu kayu,
selama proses produksi. Hal ini meliputi:

Kayu yang dibuang selama proses penggergajian dalam jumlah banyak,


Jumlah kayu gelondongan yang membusuk sebelum dipakai. Kebijakan
pertama datang, pertama diolah (first in first out) harusdiimplementasikan
agar kayu digunakan sebelum rusak,
Kerusakan kayu gelondongan karena kulit kayu dibiarkan melekat,
membiarkan vetebrata merusak log-log yang menyebabkan tingkat
pemulihan rendah,dan
Sejumlah besar produk akhir, terutama kayu papan, ditumpuk di
tempatterbuka dalam jangka waktu yang lama dan kemungkinan tidak bisa
dijual.

Kebanyakan kulit kayu dan beberapa limbah kayu lain saat ini dibuang ketanah
rawa untuk mereklamasi tanah tersebut. Areal ini kelihatannya tidakmemiliki
tumbuhan dan dari segi estetika tidaklah menarik. Selain itu, areal-areal yang
sebelumnya dipakai untuk pembuangan limbah kayu nampaknya tidak berregenerasi dengan cepat, dan pembakaran secara bebas menimbulkan persoalan
kualitas udara.
2. Air
Fasilitas perusahaan PT. Barito Pacific Timber Tbk. dan PT. Binajaya Roda karya
letaknya berdekatan dengan sejumlah anak sungai. Di sebelah timur, pabrik
berbatasan dengan, dan menggunakan, sungai Barito. Di sebelah utara adalah
sungai Andjir Soebardjo. Handil Sungai Barito, anak sungai kecil dari sungai Barito,
mengalir ke arah timur laut dari pabrik. Areal pabrik dan daerah luar kotadi
sekelilingnya rendah letaknya dan mudah kebanjiran.
Kepada auditor menunjukkan keseimbangan air semua areal pengolahan pabrik
(kecuali penggergajian yang tidak menggunakan air dalam aktifitasnya).
Keseimbangan air menunjukkan bahwa sebagian air pengolahan dipompa dari
sungai Barito.
Staf lapangan menunjukkan bahwa mereka tidak menemukan adanya
kontaminasi air permukaan yang berhubungan dengan pabrik. Namun demikian,
selama tinjauan ke lokasi tercatat adanya kontaminasi hidrokarbon sungai Barito di
sekitar log pond dan areal penggergajian. Lapisan minyak dipermukaan air berasal
dari derek, rel conveyor dan chainsaw tarik. Terdapat sejumlah minyak dan pelumas
di bawah peralatan ini, yang tidak mempunyai tempat pengeringan lain selain log
pond dan sungai.
Sungai Barito juga dipakai para staf untuk mandi dan mencuci. Sabun dan
deterjen
akan
mengkontaminasi
sungai.
Selain
itu,
di
sungai
juga
ditemukansampah. Tidak jelas dari mana asalnya, bisa saja berasal dari lokasilokasi lain.
3. Kualitas Udara
Debu merupakan persoalan diberbagai lokasi, tetapi yang terparah terdapat
diareal pembuatan particle board dan pabrik kayu lapis. Tidak ada pengawasan
debu yang dilaksanakan saat ini, walaupun debu membahayakan lingkungan dan

kesehatan serta keamanan. Selain itu, bahan kimia yang digunakan dalam proses
pembuatan lem dan penggunaan lem, baik di pabrik kayu lapis atau diareal
pembuatan particle board menimbulkan persoalan kualitas udara.
Sejumlah cerobong asap di lapangan berhubungan dengan ketel yang
menjalankan diesel, pembakaran limbah kayu dan debu gergajian, dan juga tempat
pembakaran buangan limbah. Cerobong-cerobong ini menghasilkan asap pencemar
dalam jumlah yang besar dan karenanya memerlukan pengawasan. Program
pengawasan cerobong asap telah tertinggal oleh program EMS saat audit. Tetapi
pada rapat selanjutnya dengan staf lapangan (tanggal 19 Oktober2000) program
pengawasan cerobong asap direkomendasikan pada tanggal 11Oktober 2000.
Pengawasan dilakukan oleh BPPI tetapi hasilnya belum tersedia.
Areal luas yang sebelumnya digunakan sebagai lahan penimbunan kulit kayu
dan limbah kayu, sebagai bagian dari upaya reklamasi sebagian tanah rawa
dilokasi, dibakar. Aktifitas ini menyebarkan banyak asap ke atmosfer.
BVQI mencatat tidak ada pengawasan vibrasi atau bau yang dilaksanakan saat
ini. Perusahaan mengalami kesulitan dalam mengorganisasi pengawasan karena
hanya dua organisasi di Indonesia yang dianggap mampu melakukan monitoring
jenis ini. Organisasi-organisai ini didekati dan diminta untuk melaksanakan
pengawasan tersebut pada tanggal 20 Oktober 2000. Tanggal itu telah berlalu
tetapi monitoring tersebut tidak pernah dilaksanakan.
Rekomendasi :
1. Limbah kayu
Manajemen seharusnya menanggapi persoalan limbah kayu sebagai sesuatu
yang bersifat mendesak karena hal ini merupakan persoalan yang berhubungan
langsung dengan kelangsungan akreditasi ISP 14001. Hal ini harus menggabungkan
tinjauan menyeluruh dari rata-rata pemerolehan kayu berdasarkan semua proses
dari saat kedatangan kayu sampai pada pengolahan akhir, dan juga keefektifan
mesin pengolahan yang digunakan. Hasil-hasil tinjauan ini bisa dipakai untuk
mengidentifikasikan areal-areal yang mempunyai buangan terbesar dan bisa
dipakai untuk meningkatkan rata-rata pemerolehan.
Distribusi kayu harus juga diperhatikan, karena sejumlah besar kayu olahan di
lapangan nampaknya ditimbun dalam jangka waktu lama, yang terbuka bagi
elemen-elemen tersebut. Akibatnya, tumpukan-tumpukan ini akan berkurang
nilainya.
2. Air
- Pengujian Kualitas Air di Saluran Air
Pengujian kualitas air di saluran air permukaan dekat areal-areal pemrosesan
menunjukkan tingkat polutan yang meninggi. Persoalan ini memerlukan perhatian
segera untuk mengembalikan tingkatan tersebut ke batas-batas yang
diperbolehkan. Sebagai alternatif, air limbah dari parit-parit penampungan ini harus

menjadi bagian dari sistem drainase yang tertutup dan dialihkan ke pusat
pengolahan limbah cair di lapangan untuk perlakuan.
- Pemeliharaan Saluran Air Permukaan
Saluran air permukaan di lokasi pabrik diketahui memiliki kotoran dan lapisan
berminyak di beberapa tempat. Saluran-saluran ini langsung berhubungan ke
sungai Barito dan mudah kebanjiran. Dimana saluran ini ditutup, penutup betonnya
harus diperbaiki, dan langkah-langkah lanjutan harus diambil untuk menjamin
bahwa saluran-saluran ini tidak tercemar. Jika terdapat polusi di saluran-saluran ini,
air limbah harus dipindah dan diolah di pusat pengolahan air limbah.
3. Kualitas udara

Debu

Debu dipandang sebagai masalah di lapangan, baik selama audit ini dan
selama audit BVQI. Direkomendasikan agar pengawasan debu dilaksanakan dengan
mengimplementasikan prosedur-prosedur pengurangan emisi debu di udara

Pengawasan Kualitas Udara

Pengawasan kualitas udara harus dilaksanakan dan hasilnya ditindaklanjuti


seperti yang ditentukan, dengan mengurangi jumlah bahan kimia yang dilepaskan
ke atmosfer, terutama formalin.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Secara ringkas Audit Lingkungan adalah sistim evaluasi yang dilakukan secara
sistematis dan obyektif terhadap pengelolaan dampak yang ada maupun potensial
dampak dari kegiatan suatu organisasi atas lingkungan yang juga berpengaruh
terhadap kinerja suatu organisasi. Apa yang dievaluasi biasanya termasuk
pengelolaan lingkungan dari organisasi itu, pentaatan terhadap peraturan dalam
pengelolaan lingkungan seperti emisi ke udara, pembuangan ke air, pengelolaan
limbahnya, sistim dokumentasi, pelaporan, indikator kinerja, sistim tanggap darurat
termasuk pula tanggung jawab manajemen, komunikasi dan kursus-kursus yang
diberikan kepada staffnya.
Manfaat yang dapat diperoleh suatu perusahaan dari kegiatan audit
lingkungan adalah (BAPEDAL, 1994) :

Mengidentifikasi resiko lingkungan


Menjadi dasar bagi pelaksanaan kebijakan pengelolaan lingkungan atau
upaya penyempurnaan rencana yang ada.

Menghindari kerugian finansial seperti penutupan/ pemberhentian suatu


usaha atau kegiatan atau pembatasan oleh pemerintah, atau publikasi yang
merugikan akibat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tidak baik.
Mencegah tekanan sanksi hukum terhadap suatu usaha atau kegiatan atau
terhadap pimpinannya berdasarkan pada peraturan perundangundaangan
yang berlaku.
Membuktikan pelaksanaan pengelolaan lingkungan apabila dibutuhkan dalam
proses pengadilan.
Meningkatkan kepedulian pimpinan/ penanggung jawab dan staf suatu badan
usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan kegiatannya terhadap kebijakan
dan tanggung jawab lingkungan.
Mengidentifikasi kemungkinan penghematan biaya melalui upaya konservasi
energi dan pengurangan, pemakaian ulang dan daur ulang limbah.

Saran

Agar audit lingkungan dapat berjalan dengan efektif, setidaknya ada lima
elemen penting yang harus diperhatikan. Pertama diperlukan komitmen dari
perusahaan itu agar mau terbuka dan jujur dalam memberikan data. Hal di atas
agak riskan mengingat pengusaha biasanya enggan untuk membuka 'jati dirinya'
karena persaingan bisnis misalnya. Kedua, adanya Auditor yang mandiri yang tidak
mempunyai kepentingan apapun akan fasilitas yang sedang diaudit. Ini penting
untuk menjaga keobyektifan penilaian, kemandirian auditor harus pula dijaga agar
tidak terpengaruh oleh situasi atau tekanan lainnya ketika mereka melakukan
kunjungan lapangan. Verifikasi prosedur dan pengukuran kinerja, merupakan dua
hal berikutnya dari elemen Audit Lingkungan. Hal ini penting dilakukan agar ada
kepastian bahwa informasi yang didapat memang benar-benar akurat. Terakhir,
harus ada mekanisme tindak lanjut dari rekomendasi yang didapat selama Audit
Lingkungan. Jika tidak, maka usaha Audit Lingkungan yang telah dilakukan menjadi
sia-sia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Amin Widjaja Tunggal. 2007. Dasar-Dasar Audit Manajemen.


Harvarindo.
2. http://renalkrenz.blogspot.com/2010/03/audit-lingkungan.html
3. http://novaoshiin.blogspot.com/2011/06/audit-lingkungan.html
4. http://industri10ikhwan.blog.mercubuana.ac.id/
5. http://grhoback.blogspot.com/2010/05/audit-lingkungan.html
6. www.iaiglobal.or.id/data/referensi/ai_edisi_03.pdf

Jakarta: