Anda di halaman 1dari 14

MOMENTUM SUDUT DAN HUKUM KEPLER

DISUSUN OLEH :

AJI SAPUTRA

120210102069

HILMAN ZULKIFLY H.

120210102101

LUSI MENTARI

120210102014

TRIA YULICAHYANI

120210102022

JURUSAN PMIPA-PROGRAM PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL RI


UNIVERSITAS JEMBER

2012

Vektor, Momentum Sudut pada Gerak


Benda Titik
Dalam gerak translasi kita mengenal momentum yang didefinisikan sebagai perkalian
antara massa dan percepatan p = m .v
Dalam gerak rotasi besaran yang analog dengan momentum ini adalah momentum
sudut.

Momentum sudut suatu partikel (benda titik) yang berputar terhadap suatu titik O
didefinsikan sebagai
L=rxp
p merupakan momentum partikel dan r adalah vektor posisi partikel.

Gambar 13.6

Arah momentum sudut dapat dicari dengan aturan tangan kanan ketika kita
mengepalkan keempat jari kita dari arah r kearah p maka arah ibu jari menunjukkan
momentum sudut L.

Z
L

O
r

Gambar 13.7

Gambar 13.7 Melukiskan gerakan sebuah partikel mengelilingi sebuah sumbu putar
dengan O sebagai pusat putaran. Momentum sudut terhadap titik O dapat ditulis :

L rxp

r p sin k
rmv sin( 90 o )k
rm(r )k
mr 2k

Atau jika hanya besarnya kita boleh tuliskan :

L=I

k merupakan vektor satuan arah sumbu z positif dan

merupakan vektor kecepatan

sudut. Arah kecepatan vektor sudut ditentukan sebagai berikut :

Jika partikel bergerak melingkar berlawanan dengan arah jarum jam dalam bidang xy
maka arah vektor kecepatan sudutnya adalah pada sumbu z positif tapi jika
gerakannya searah jarum jam vektor kecepan sudut searah sumbu z negative.

Catatan rumus momentum sudut terhadap titik O pada persamaan hanya berlaku
ketika titik O terletak pada bidang rotasi. Jiak tititk O tidak terletak pada bidang rotasi
seperti ditunjukkan oleh gambar 13.7. Maka arah momentum sudut tidak sejajar
dengan arah

Dan besar momentum sudut tidak sama dengan I

. Besar momentum sudut ini

dapat ditulis sbb :

L r ' p sin( 90 o )

r ' mr
mr 2
I

r'
r

r'
r

Pada pembahasan modul ini kita membatasai diri dengan hanya mendiskusikan soalsoal dimana vektor L sejajar dengan sumbu putar yaitu dimana rumus L = I

berlaku.

Rumus diatas dapat kita perluas untuk benda tegar, Benda tegar dapt kita anggap
sebagai kumpulan partikel-partikel jika benda tegar diputar terhadap sumbu maka
momentum sudut benda terhadap sumbu putar itu sama dengan jumlah momentum
sudut dari partikel-partikel benda tegar tersebut karena arah momentum sudut kita pilih
sejajar dengan arah sumbu putar maka kita boleh menuliskan.

L I ii
i

Dimana Ii adalah momen inersia tiap partikel karena


maka :

untuk setiap partikel sama

L Ii
i

I
Dengan I menyatakan momen inersia benda tegar yang diberikan pada tabel satuan
momentum sudut adalah kg.m2/s.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.blogberbagi.com/2012/05/hukum-kepler-i-ii-daniii.html#ixzz2AhYNWZxb

Hubungan Momentum Sudut dengan Torsi


Gaya F adalah turunan fungsi momentum linier p terhadap waktu, atau ditulis F =

dp
dt . Dari persamaan ini akan kita turunkan kaitan antara momentum sudut L
dengan momen gaya .
F=

dp
dt

d (mv)
dt

Kecepatan linier v = r, sehingga


F=

d (mr )
dt

Dengan mengalikan kedua ruas persamaan dengan r, kita peroleh


2

rF =

d (mr )
dt

Anda telah mengenal rF sebagai momen gaya dan m r


inersia I, sehingga
=

d (I )
dt

I adalah momentum sudut L, sehingga


=

dL
dt

sebagai momen

Persamaan tersebut menyatakan kaitan antara momentum sudut(L) dengan


momen gaya(). Momen gaya adalah turunan dari fungsi momentum sudut
terhadap waktu

Hukum Kekekalan Momentum Sudut


Pada benda yang melakukan gerak rotasi juga terdapat momentum yang disebut momentum
sudut. Momentum sudut didefinisikan sebagai perkalian antara momen inersia dan kecepatan
sudut. Secara matematis, ditulis sebagai berikut.
L = I
Dengan :
2
I = momen inersia ( kg. m )

= kecepatan sudut (rad/sekon)

Momentum sudut merupakan besaran vektor karena memiliki besar dan arah. Arah
momentum sudut dapat ditentukan dengan aturan tangan kanan, seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 1.

Gambar 1. Arah putaran keempat jari menunjukkan arah rotasi, sedangkan ibu jari
menunjukkan arah momentum sudut.
Apabila jari-jari benda yang melakukan gerak rotasi jauh lebih kecil dibandingkan dengan
jarak benda itu terhadap sumbu rotasi r, momentum sudut benda itu dinyatakan sebagai
momentum sudut partikel yang secara matematis dituliskan sebagai
L = mvr

Benda pejal bermassa m yang bergerak dengan kecepatan v pada lingkaran berjari-jari r.
Momentum sudutnya = mvr.
Bila vektor dan momentum saling sejajar maka momentum sudut benda adalah nol. Bila
antara vektor dan momentum saling tegak lurus maka besar momentum sudut adalah rmv.
Mari kita tinjau sebuah partikel bermassa m yang berotasi dengan jari-jari konstan r memiliki
kecepatan sudut . Kecepatan linear partikel adalah seperti pada Gambar (2)

Gambar 2. (a) Jika r sejajar p maka L=0.(b) jika r tegak lurus p maka nilai L maksimal =
rmv,(c) jika antara r dan p membentuk sudut maka L= rmv sin .
Momentum sudutnya adalah:

Arah momentum sudutnya ke arah sumbu z positif.


Besarnya momentum sudut adalah:

Tampak bahwa momentum sudut analog dengan momentum linear pada gerak rotasi,
kecepatan linear sama dengan kecepatan rotasi, massa sama dengan momen inersia. Jika
momen gaya luar sama dengan nol, berlaku Hukum Kekekalan Momentum Sudut, yaitu
momentum sudut awal akan sama besar dengan momentum sudut akhir. Secara matematis,
pernyataan tersebut ditulis sebagaiberikut.
Lawal = Lakhir
I11 + I22 = I11 + I22 .(3)
Dari Persamaan (3), dapat dilihat bahwa apabila I bertambah besar, akan semakin
kecil. Sebaliknya, apabila semakin besar maka I akan mengecil. Prinsip ini diaplikasikan
oleh pemain es skating dalam melakukan putaran (spinning). Saat akan memulai putaran

badan, pemain es skating merentangkan lengannya (momen inersia pemain akan semakin
besar karena jarak lengan dengan badan bertambah). Kemudian, ia merapatkan kedua
lengannya ke arah badan agar momen inersianya mengecil sehingga putaran badannya akan
semakin cepat (kecepatan sudutnya membesar).

Prinsip hukum kekekalan momentum sudut juga dipakai pada peloncat indah. Saat
peloncat meninggalkan papan memiliki laju sudut 0, terhadap sumbu horizontal yang
melalui pusat massanya, sehingga dia dapat memutar sebagian tubuhnya setengah lingkaran.
Jika ia ingin membuat putaran 3 kali setengah putaran, maka ia harus mempercepat laju sudut
sehingga menjadi 3 kali kelajuan sudut semula. Gaya yang bekerja pada peloncat berasal dari
gravitasi, tetapi gaya gravitasi tidak menyumbang torsi terhadap pusat massanya, maka
berlaku kekekalan momentum sudut. Agar laju sudutnya bertambah maka dia harus
memperkecil momen inersia menjadi 1/3 momen inersia mula-mula dengan cara menekuk
tangan dan kakinya ke arah pusat tubuhnya.

HUKUM KEPLER
Lebih dari setengah abad sebelum newton merumuskan tiga hukum tentang gerak dan hukum
gravitasi universal, seorang astronom berkebangsaan jerman Johanes Kepler (1571 1630)
telah menulis sejumlah teori tentang astronomi. Teori kepler ini sebagian terbentuk setelah
beberapa tahun ia menguji data yang dikumpulkan oleh Tycho Brahe (1546 1601) tentang
posisi planet dalam gerakannya melintasi langit. Pada tulisan kepler itu terdapat tiga teori
penting yang di sebut sebagai hukum kepler tentang gerak planet. Adapun inti hukum-hukum
kepler ini adalah sebagai berikut :
Hukum I kepler
setiap planet bergerak pada lintasan elips dengan matahari berada pada salah satu titik
fokusnya.
Elips adalah suatu kurva tertutup sedemikian sehingga jumlah jarak dari sembarang titik P
pada kurva ke kedua titik tetap (disebut titik fokus F1 dan F2) selalu tetap. Jadi, F1 P + F2 P
selalu sama untuk setiap titik P pada kurva
Hukum II kepler
setiap planet bergerak sedemikian sehingga jika suatu garis khayal di tarik dari matahari ke
planet tersebut akan menyapu daerah yang sama pada selang waktu yang sama.
Planet bergerak lebih cepat pada orbit yang lebih dekat dengan matahari.
Hukum III kepler
untuk setiap planet, kuadrat periode revolusinya berbanding lurus dengan pangkat tiga
jarak rata-ratanya dari matahari.
Andaikan dua planet mempunyai jarak rata-rata dari matahari R1 dan R2, sedangkan
periodenya, yaitu waktu yang diperlukan untuk satu kali mengelilingi matahari, berturut-turut
adalah T1 dan T2. Menurut hukum kepler, berlaku
T12/T22 = R13/R23
Newton dapat menunjukkan bahwa hukum kepler dapat diturunkan secara matematis dari
hukum gravitasi universal dan hukum geraknya.
Sekarang kita akan mencoba membuktikan hukum III kepler menggunakan hukum newton.
Kita akan membuktikan hukum tersebut untuk keadaan khusus di mana planet bergerak
melingkar. Sebagian besar orbit planet sesungguhnya hampir menyerupai lingkaran.
Andaikan sebuah planet bermasa m1 bergerak dengan kelajuan v1 mengelilingi matahari yang
massanya Mm. jika jarak antara planet dan matahari R1, maka
F = masp

Jika periode planet ini adalah T1, maka v1 = 2 R1/T1. Dengan demikian,
(persamaan 1)

Untuk planet kedua berlaku hal yang sama, yaitu;


(persamaan 2)

Dari kedua persamaan di atas dapat di simpulkan bahwa


(persamaan 3)

Contoh soal :
periode revolusi bumi mengelilingi matahari adalah satu tahun dan jarak bumi matahari
adalah 1,5 x 1011 m. jika periode revolusi planet mars mengelilingi matahari adalah 1,87
tahun, berapakah jarak mars dari matahari ?
Penyelesaian :
periode revolusi matahari : Tb = 1 tahun
jarak bumi matahari : Rb m = 1,5 x 1011 m
periode revolusi planet mars : Tm = 1,87 tahun
dengan menggunakan persamaan 3, di peroleh :
Jadi, jarak mars dari matahari adalah 2,28 x 1011 m.
Dengan menggunakan roket, sebuah satelit dapat di luncurkan dengan kelajuan tertentu
sehingga dapat mengorbit bumi. Jika kelajuannya terlalu tinggi, satelit tidak dapat ditahan
oleh gravitasi bumi dan lepas dari pengaruh gravitasi bumi. Dalam keadaan demikian, satelit
tidak akan kembali lagi. Sebaliknya, jika kelajuannya terlalu rendah, roket akan jatuh ke
bumi. Satelit biasanya di tempatkan pada orbit melingkar (atau hampir melingkar), sehingga
memerlukan kelajuan lepas landas minimum. Jika ada pertanyaan, apakah yang menahan
satelit sehingga tidak jatuh ke bumi ? jawabnya adalah kelajuannya yang tinggi. Untuk satelit

yang bergerak (hampir) melingkar, percepatannya adalah v2/R. percepatan tersebut di hasilkan
oleh gaya gravitasi yang berperan sebagai gaya sentripetal. Jadi, gerak satelit memenuhi
persamaan
Dengan m = massa satelit, M = massa bumi, v = kelajuan satelit, R = jarak satelit diukur dari
pusat bumi.
Sebagi contoh, satelit geosinkron yaitu satelit yang tetap berada di atas titik yang sama di
atas katulistiwa. Jadi kelajuan satelit geosinkron diatur sedemikan rupa sehingga satelit
tersebut mengelilingi bumi dengan periode yang sama dengan periode rotasi bumi, yaitu 24
jam. Satelit tersebut harus memiliki kelajuan sekita 3,070 km/jam, dan mengorbit pada
ketinggian 36000 km di atas permukaan bumi.