Anda di halaman 1dari 13

CANINE TRANSMISSIBLE VENEREAL SARCOMA

DISUSUN OLEH :

ANITAWATI UMAR
SUCI NURFITRIANI
TRINI PURNAMASARI
A. RIANTI RHASINTA
NUR FADILLAH HERMAN
ANNITA VURY NURJUNITAR
RISMAYANI
INRIYANI SARI
SILVANA. A
JANNE LORENS
MULIANI
ANDI HASRAWATI

PROGRAMSTUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang selalu melimpahkan
karunia-Nya. Dan telah memberikan kesehatan kepada kelompok kami sehingga kami dapat
menyelesaikan sebuah tugas makalah dari matakuliah Ilmu Bedah Khusus Veteriner I, dengan
judul makalah, yaitu Canine Transmissible Venereal Sarcoma.
Dalam makalah kami, akan membahas mengenai pengertian dari penyakit yang menjadi
judul kami tersebut. Dalam makalah ini juga akan kami bahas mengenai prosedur
pemeriksaannya, mulai dari pemeriksaan klinisnya sampai kepada pemeriksaan lanjutannya
berupa pemeriksaan atau uji laboratorium terhadap penyakit tersebut.
Dengan demikian, kami sangat mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian makalah ini. Kami juga sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun demi kepentingan bersama untuk menambah informasi kita sebagai calon
dokter hewan sehingga akan berguna dalam pemeriksaan kasus seperti ini nantinya.

Makassar, 22 Maret 2015

Kelompok 4

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN PENULISAN
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A.
B.
C.
D.
E.
F.

ETIOLOGI
DISTRIBUSI
PATOGENESA
DIAGNOSA
PROGNOSA
PENGOBATAN

BAB III. PENUTUP


A. KESIMPULAN
B. SARAN

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Tumor adalah adanya suatu pertumbuhan yang tidak terkendali pada suatu jaringan
dalam tubuh individu atau suatu massa jaringan yang abnormal dimana pertumbuhannya
berlebihan dan tidak terkoordinasi dengan jaringan normal disekitarnya. Neoplasma dapat dibagi
menjadi dua bagian yaitu benigna (tumor tenang) dan maligna (tumor ganas). Ciri-ciri
tumor benigna antara lain tumbuh lambang, tidak mengilfitrasi, menyerupai jaringan asal, sel-sel
normal, tidak menyebar ke lokasi jauh, hanya membunuh jika merusak fungsi fital. Sedangkan
ciri-ciri tumor maligna antara lain tumbuh cepat, menginfiltrasi, merbeda dari jaringan asal, selsel abnormal, menyebar ke lokasi jauh serta selalu membunuh jika tidak diobati. Kasus yang
diambil merupakan jenis tumor ganas sesuai hasil pemeriksaan histopatologi.
Venereal sarcoma pada anjing ditemukan pada preputium yang membungkus penis
sehingga penis mengalami atropi. Neoplasma pada penis dan mukosa preputium termasuk di
dalamnya transmissible venereal tumor (TVT), squamous cell carcinoma, hemangiosarcoma dan
papilloma. Permukaan atau massa yang abnormal dapat diamati dengan pemeriksaan fisik.
Penanganan venereal sarcoma dengan melakukan eksisi (pengangkatan) secara total.
Penanganan venereal sarcoma dengan pengangkatan total tumor termasuk pencegahan
kemungkinan sel tumor bermetastasis (pertumbuhan sekunder) ke tempat lain dapat dilakukan
dengan tindakan pembedahan dan pengobatannya disertai dengan kemotherapi dan mempunyai
prognosa jelek.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka telah didapatkan beberapa rumusan
masalah yang akan dibahas pada bab selanjutnya, yaitu :

Apa agen penyebab atau etiologi dari penyakit Canine Transmissible Venereal

Sarcoma?
Bagaimana distribusi dari penyakit Canine Transmissible Venereal Sarcoma?
Bagaimana perkembangan atau patogenesa dari penyakit Canine Transmissible Venereal

Sarcoma?
Bagaimana cara untuk mengetahui diagnose dari penyakit Canine Transmissible

Venereal Sarcoma?
Bagaimana cara pengobatan atau tindakan terapi apa saja yang dapat dilakukan untuk
mengobati penyakit Canine Transmissible Venereal Sarcoma?

C. TUJUAN PENULISAN
Adapuntujuan penulisan dari makalah ini berdasarkan dari uraian latar belakang dan
rumusan masalah di atas adalah :

Untuk mengetahui dan memahami agen penyebab atau etiologi dari penyakit Canine

Transmissible Venereal Sarcoma


Untuk mengetahui dan memahami cara distribusi dari penyakit Canine Transmissible

Venereal Sarcoma
Untuk mengetahui dan memahami perkembangan penyakit atau patogenesa dari Canine

Transmissible Venereal Sarcoma


Untuk mengetahui dan memahami cara mendiagnosa dari gejala yang ditimbulkan

penyakit Canine Transmissible Venereal Sarcoma


Untuk mengetahui dan memahami cara pengobatan atau tindakan terapi apa saja yang
dapat dilakukan untuk mengobati Canine Transmissible Venereal Sarcoma

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. ETIOLOGI
Pada 1876 Nowinsky berhasil mentransplantasi tumor dari satu anjing ke anjing yang
lainnya dengan cara menjiplak tumor yang telah dipotong pada mukosa genital diskarifikasi
anjing rentan. Penggunaan kekerasan bersamaan dengan coitus pada anjing membuat kedua jenis

kelamin rentan terhadap cedera genital dan rentan terhadap transplantasi sel tumor (Feldman,
1929). Pertumbuhan umumnya tumbuh antara 2 sampai 6 bulan setelah perkawinan. Tumor juga
dapat ditransimisi ketika anjing pertama yang rentan menjilat genitalia anjing yang terkena
kemudian menjilat genitalianya sendiri.
Secara eksperimen, Karlson and Mann (1952) telah sukses menerima tumor selama 40
generasi anjing selama 17tahun. Dari 564 anjing yang terlibat, 68% mengembangkan tumor dan
tidak ada perubahan dalam histopatologi tumor selama perjalanan tersebut. Transmisi tumor
kelamin terjadi hanya dengan transplantasi sel tumor yang layak dan bukan oleh virus yang
mengubah sel-sel dalam berbagai hots yang rentan. Tumor tidak dapat diproduksi dengan sel
yang telah dibekukan, dipanaskan, diobati dengan gliserin atau kering, dan telah dilaporkan
bahwa filtrat bebas sel tidak ditransimisikan.
Partikel virus onkogenik belum pernah ditemukan di sel-sel tumor dengan menggunakan
mikroskop elektron. Walaupun beberapa autor menyatakan transmisi dengan filtrasi sel bebas
dan partikel tipe C telah dilaporkan bersamaan dengan tumor ini, yang dapat dikatakan bahwa
agennya mungkin berasal dari retrovirus tipe C.
Pada kasus venereal sarcoma, penyebabnya juga dapat berupa faktor hormonal.
Penyebaran tumor karena faktor hormonal, yaitu produksi androgen yang tinggi dari korteks
adrenal. Produksi hormon androgen ini produksi hormon testoteron yang bertanggung jawab
memanisfestasikan libido. Jadi meskipun anjing sudah dikastrasi masih dapat melakukan koitus.
Venereal sarcoma pada anjing dapat disebabkan karena tumor terimplantasi pada mukosa
kelamin pada saat koitus.
B. DISTRIBUSI
CTVS telah dilaporkan dari banyak negara didunia. Penyakit ini sebagian besar terlihat
pada anjing yang aktif secara seksual di daerah atau negara tropis dan subtropis, terutama di
kota-kota dan wilayah pedesaan di Amerika Serikat bagian selatan, Tengah dan Amerika Selatan,
Eropa Tenggara, Irlandia, Jepang, Cina, Timur Jauh, Timur Tengah dan sebagian Afrika. Di
Jepang, tumor ini adalah tumor yang paling umum pada anjing. Hal ini umum di selatan-barat
Perancis, di mana ia muncul dalam bentuk enzootik di beberapa daerah, tetapi tidak diketahui di
Swedia dan langka di Denmark dan Inggris

Dalam satu laporan, 1% dari anjing dewasa dirawat di Rumah Sakit Universitas di
Kabete, Kenya memiliki CTVs. Kondisi ini enzootik di Puerto Rico dan di Bahama, di mana itu
adalah tumor yang paling umum dari anjing. Hal ini umum di Papua Nugini. Di India, tumor ini
merupakan tumor yang umum terjadi di peternakan anjing akibat perkembangbiakan yang tidak
terkontrol. Prevalensi CTVS di Punjab sebesar 23.5% sampai 28.6% dari total pasien tumor pada
anjing.
C. PATOGENESA
TVT pada anjing pertama

kali

ditemukan oleh

Novinsky tahun1876

yang

didemonstrasikan bahwa tumor dapat ditransplantasikan di host yang memungkinkan ke yang


lain dengan inokulasi dengan sel-sel tumor beberapa ahli menganggap bahwa neoplasma ini
disebabkan oleh agen virus akan tetapi tumor tidak secara konsisten bias ditransmisikan oleh sel
ekstrak bebas dan partikel virus onkogenik yang belum pernah terlihat sebelumnya pada sel
tumor dengan mikroskop electron.
Gejala klinis bervariasi tergantung lokasi tumor. Pada anjing dengan lesi daerah genital
biasanya diikuti dengan hemoragi pada jantan. Lesi biasanya terdapat pada gland penis, mukosa
preputium atau pada glandula bulbus. Masa tumor kadang-kadang dari protrude hingga prepuce.
Dan phimosis bias timbul sehingga komplikasi lendir yang keluar biasanya dikelirukan dengan
urethritis, cystitis, atau prostatitis. Biasanya pada jantan ditemukan tumor dengan ukuran besar
pada limfonodus daerah yang terserang.
Anjing betina penampakan tumor sama dengan anjing jantan dan biasanya terdapat pada
vestibula dan atau caudal vagina, melintang sampai ke vulva dan kadang-kadang menyebabkan
defor pada daerah perineal. Harus diwaspadai adanya lendir hemoragi pada daerah vulva yang
bias menyebabkan anemia permanen. Lendir ini bisa memancing pejantan dan keadaan betina
seperti ini sering dikelirukan dengan estrus. Kadang-kadang TVT terdapat di uterus. Pada kasus
ini lokalisasi di luar genital, diagnosis klinik lebih sukar dilakuakn karena TVT disebabkan oleh
gejala-gejala yang tergantung pada lokasi anatomi tumor. Contohnya : Sneezing, epifora,
halitosis, tooth loss, exopthalmus, skin bumps, depormasi parsial atau oral yang diikuti dengan
pembesaran limfonodus pada daerah tersebut. Sitologi exvoliatif vaginal merupakan salah satu
cara diagnose TVT pada betina.

Gejala TVT secara umum ialah adanya bentukan seperti cauliflower kemerahan. Biasanya
pada daerah genital. Secara makroskopis, bentuknya beragam. Ada yang kecil maupun besar,
lunak maupun keras, abu-abu hingga kemerahan, bentukan nodular maupun papillary di penis
ataupun lapisan permukaan preputium. Dapat terjadi juga pada glans penis, kadang pada bagian
dalam penis bahkan scrotum dan daerah perineal. Pada anjing betina biasanya terpencil, dapat
ditemukan pada seluruh bagian mukosa vagina, sering pula menyebar hingga ke vestibula hingga
labia. Ukurannya bervariasi dari nodular kecil hingga besar hingga menyebar ke lumen
vulvovagina atau menjulur hingga diantara labia. Kedua kelamin sering terjadi perubahan yang
regresif hingga mudah berdarah hingga keluar leleran purulent dari preputium maupun vagina.
Consensus akhir-akhir ini menunjukkan bahwa sel-sel abnormal neoplasma merupakan
vector transmisinya. Pemindahan dan transplantasi sel neoplastik selama kontak fisik bias
menjadi mode transmisi ke mukosa genital dan juga menjadi nasa mukosa oral selama pelekatan
atau penempelan organ genital secara respektif.
TVT juga bisa berkembang dengan lambat dan tidak terprediksi bertahun-tahun jadi
invasive dan kadang-kadang menjadi tipe malignan dan bermetastasis. Metastasis dilaporkan
kurang dari 5-17% dari total kasus. Metastasis ditemukan pada jaringan subkutan kulit,
limfonodus, mata, tonsil, hati, limfa, mukosa mulut, hypofisis, peritoneum, otak dan sumsum
tulang. Walaupun remisi spontan pernah ditemukan pada transpalantasi percobaan tetapi tidak
terjadi pada kasus yang terjadi secara alami.
Tipe-tipe sel berbeda ditemukan pada fase-fase pertumbuhan tumor. Tumor pada
perkembangan progresif ditemukan berbentuk bulat dengan mikrovili dengan berepitel transisi
ke bentuk fusiformis. Untuk lebih lanjutnya tumor ditemukan dengan angka tinggi pada limfosit
T. Diperkirakan sebagai substansi yang disekresikan oleh limfosit berinfiltrasi dan menyebabkan
regresi tumor dengan induksi pembelahan seluler.

D. DIAGNOSA
Diagnose bisa ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik dan sediaan histology dimana
ditemukan sel-sel tumor dengan metode swab, aspirasi dengan jarum atau preparat jenuh tumor.

Ditandai dengan adanya sejumlah aberasi dan secara morfologi terdapat kromosom yang sesuai
dengan sel TVT. Jumlah kromosom normal pada sel somatic anjing adalah 78 dimana terdapat 2
kromosom acrosentrik.
Pada TVT ditemukan 58-59 kromosom dengan 13-17 metasentrik dan 42 kromosom
akrosentrik. Salah satu yang diderita oleh penderita TVT adalah berkembangnya polisitemia.
Kemudain bisa didiagnosis tapi masih butuh kepastian. Pada anjing TVT berkembang secara
progresif dalam beberapa bulan kemudian akan regresi secara spontan. Inserasi secara LINE
ditemukan secara spesifik dan konstan pada akhir ke 5 dan sel TVT berupa C-Mys gen.
E. PROGNOSIS
Pemeriksaan imunologikal bias di hemonstrasikan dimana antigenic TVT pada anjing dan
respon imun melawan tumor melalui peranan yang utama dalam determinasi penyebab penyakit.
Pada anjing dewasa sel tumor regresi secara spontan setelah mengalami perkembangan imunitas
tumor mencegah secara sukses. Kebalikannya, sel tumor tumbuh menjadi ulserasi dan metastasis
pada induk semang yang tidak kompeten secara imunologis. Metastasis pernah dilaporkan pada
beberapa kasus. Kebiasaan biologis anjing dengan TVT bias dikurangi dengan AgNOR pada inti
dari sel TVT.
F. PENGOBATAN
Tujuan utama dari pengobatan tumor menyembuhkan dengan eksisi bedah, radioterapi,
imunoterapi dan / atau kemoterapi. Insiden yang tinggi regresi dalam kondisi alami menunjukkan
bahwa harus hati-hati digunakan dalam menafsirkan efek dari setiap agen terapeutik.
Eksisi Bedah
Bedah tidak praktis dalam kasus umum CTVs. Jika tumor dioperasi, eksisi electrosurgical
atau pengobatan cryosurgical yang diinginkan karena tumor ini mudah dipindahkan ke luka
bedah ketika menggunakan metode operasi tradisional. Selanjutnya, kekambuhan setelah operasi
tradisional tidak jarang dan tercatat pada 22% ; 68%, 12%, 38% Pandey dan 18% kasus.
Kekambuhan sangat minim ketika pengebirian atau ovario-histerektomi dilakukan
bersama dengan kemoterapi. Vaksin autogenous ditambah dengan levamisol juga dapat
digunakan untuk mencegah kekambuhan tumor berikut bedah eksisi. Selama operasi pada anjing

jantan, perawatan harus dilakukan agar tidak merusak uretra penis. Jika uretra terlibat maka
harus dilakukan pemasangan cateter hingga sembuh.
Radioterapi
Terapi radiasi telah dilaporkan efeknya terhadap CTVs tetapi memerlukan imobilisasi
kimia anjing selama radioterapi, dengan personel khusus dan peralatan. Thrall (1982)
menerapkan dosis 10 Gy (1000 rad) di masing-masing perlakuan dan memperoleh regresi
lengkap dalam banyak kasus berikut 1 sampai 3 perawatan.
Imunoterapi
Bentuk yang umum dari CTVS dapat diobati dengan transfusi darah atau serum dari
hewan pulih atau homogenat tumor dapat digunakan sebagai Vaksin asli,

tetapi hasilnya

variabel. Beebe dan Tracy (1907) racun bakteri digunakan untuk mengobati kasus CTVS.
Hasilnya relatif memuaskan diperoleh dari suspensi Chromobacterium prodigiosum sendiri atau
kombinasi dengan organisme lain. Carteaud (1965) dan Bennett dan rekan (1975) juga
mengklaim efek positif terlihat dari suntik racun bakteri.
Kemoterapi
Agen antimitosis, seperti siklofosfamid, metotreksat, vinkristin, vinblastin atau
doxorubicin, adalah agen kemoterapi yang digunakan untuk mengobati tumor ini. Kemoterapi
dari CTVs telah dicoba menggunakan siklofosfamid, metotreksat, siklofosfamid dan prednisone,
vinblastin dengan siklofosfamid atau metho-trexate dan vincristine dan doxorubicin, namun
respon yang bervariasi. Lawrence dan John (1977) menggunakan kombinasi kemoterapi dengan
cyclophosphamide, methotrexate dan vincristine untuk mencegah metastasis dari tumor setelah
operasi.
Namun, kombinasi kemoterapi dapat menghasilkan tingkat yang memuaskan dari
penggunaan siklofosfamid, metotreksat dan vincristine dalam kasus klinis CTVs tanpa efek
utama sakit atau kekambuhan (McAfee dan McAfee, 1977;. Brown et al, 1980; Das et al, 1991a.;
Hoque et al., 1995). Remisi lengkap dan berkelanjutan dari tumor, termasuk pertumbuhan
metastasis ekstragenital, diamati. Wasecki dan Mazur (1977) dan Singh dan rekan (1996)
mengamati pemulihan hampir selesai menggunakan vinblastine intravena pada tingkat 0,1 mg /

kg berat badan pada 4 sampai 6 kali di interval mingguan. Efek samping, seperti anoreksia,
muntah atau diare, yang ditemukan setelah dimulainya pengobatan. Calvert dan rekan (1982)
mengamati lengkap pengampunan tumor di anjing yang telah gagal untuk menanggapi
vincristine, setelah lanjut pengobatan dengan doxorubicin diberikan secara intravena dengan
dosis 30 mg luas permukaan / m2 tiga kali pada interval mingguan. Calvert dan rekan (1982),
Tuntivonich (1983), Idowu (1984), Das dan collea-gues (1991b), Maiti dan rekan (1995) dan
Singh dan rekan (1997) menemukan bahwa vincristine sulfat sebesar 0,025 mg / kg berat badan
secara intravena pada mingguan interval 3 sampai 4 kali adalah yang paling eective, aman dan
nyaman chemother- Agen apeutic, memberikan waktu hidup yang lebih baik bahkan pada pasien
CTVs dengan ekstragenital metastasis. Dengan demikian, akan terlihat bahwa CTVs dapat
dianggap sebagai neoplasma setuju untuk kemoterapi dengan vincristine sulfat saja. Tanggapan
yang lebih baik dilaporkan ke vincristine obat tunggal atau vinblastin daripada kemoterapi
kombinasi mungkin karena ada yang kurang mielosupresi (Theilen dan Madewell, 1987), tidak
ada sinergi berlawanan (Bender dan Hamel, 1991), non-pengembangan perlawanan terhadap
obat antineoplastik (Kanem dan Winick, 1988) dan tidak ada imunosupresi oleh methotrexate
(Horton, 1990).

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
TVT merupakan neoplasma yang paling prevalensi pada genital eksternal anjing di
daerah tropis dan subtropics. Etiologi dari transplantasi sel dari anjing yang terinfeksi. Biasanya
pemilik menemukan adanya lendir hemoragi. Diagnosis berdasarkan tipe fisik dan temuan
sitologikal. Penggunaan vincristine IV secara mingguan merupakan pengobatan paling efektif
dan praktis. Penelitian lebih lanjut pada kelompok anjing yang lebih besar sulit untuk melakukan

investigasi terhadap perubahan kualitas semen selama pengobatan dengan vincristine dan efek
jangka panjang pada spermatogenesis dan fertilitas, dokter hewan dan pemilik harus
mempertimbangkan keuntungan juga seimbangan untuk pasien dan ketertarikan untuk
menjadikan hewan tersebut untuk tujuan breeding. Imun medulasi atau terapi imun sekarang ini
valid sebelum pengobatan klinis.
B. SARAN
Diharapkan agar lebih banyak membaca referensi sebelum mengomentari makalah ini
guna memperlancar dengan istilah-istilah baru.

DAFTAR PUSTAKA
Boscos C.M. and H.N. Vervedis. 2004. Canine TVT Clinical Findings, Diagnosis and
Teatment. 29th Word Congress The World Small Animal Veterinary

ssisiation.

Rhodes, Greece. http//www.google.com.


Dharma, D.M.N. dan A.A.G. Putra. 1997. Penyidikan Penyakit Hewan. C.V. Bali Media
Adhikarsa. Denpasar.
Dharmawan, N. S. 2002. Pengantar Patologi Klinik Veteriner.Universitas Udayana. Denpasar.

Fossum, Theresa Welch, Cheryl S. Hedlund, Donald A. Hulse, Ann L. Johnson, Howard B. Seim,
Michael D. Willard, Gwendolyn L. Carroll. 1997. Small Animal Surgery. Von Hoffman
Press, Inc. United States of America.
Martins, M.I.M., F.F.D. Souza and C. Gubelo. 2005. Canine Transmissible Venereal Tumor.
Etiology, Pathology, Diagnosis and Treatment. International Veterinary Information
Service, Ithaca N Yhttp://www.ivis.org.
Mayer, K., J.V. Lacroix and H.P. Hoskins. 1959. Canine Surgery 4th ed., American Veterinary
Publications, Inc
Spector, W. D. and T. D. Spector. 1993. Pengantar Patologi Umum (An Introduction to General
Pathology) Edisi ketiga. Penerjemah Soetjipto, Harsono, Amelia Hana dan Pudji Astuti.
Gadjah Mada University Press. Yokyakarta
Sudisma, I.G.N., I.G.A.G. Putra Pemayun, A.A.G. Jaya Warditha, I.W. Gorda. 2006. Ilmu Bedah
Veteriner dan Teknik Operasi. Pelawa Sari. Denpasar
Tella, M., O.O. Ajala. and V.O. Taiwo. 2004. Complete Regression of Transmissible
Venereal Tumour (TVT) in Nigerian Mongrel Dogs with Vincristine Sulphate
Cemotherapy. African Journal of Biomedical Research, Vol. 7 ;133 138.
Source :http://www.bioline.org.br/md

Ibadan.