Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS

ODS Konjungtivitis Viral

Pembimbing / Penguji :

Dr. Djoko Heru S, Sp. M

Disusun oleh:

Sharania Manivannan
11.2014.182

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU PENYAKIT MATA
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS
PERIODE 25 MEI 2015- 27 JUNI 2015
1

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk Jakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS KASUS MINI-CX ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
RS MARDI RAHAYU, KUDUS, JAWA TENGAH
PERIODE 25 MEI 2015 27 JUN 2015

Nama : Sharania Manivannan

Tandatangan

Nim : 11-2014-182
............................................
Dr Pembimbing / Penguji : Dr Djoko Heru Sp.M

............................................
.

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Agama
Pekerjaan
Tanggal pemeriksaan
Pemeriksa
Moderator

II.

: Ny. R
: 41 tahun
: Islam
: Guru
: 30 Mei 2015
: Sharania Manivannan
: Dr Djoko Heru Sp.M

PEMERIKSAAN SUBJEKTIF
Auto anamnesis tanggal : 30 Mei 2015, jam 13.00 WIB
Keluhan utama
Mata kanan dan kiri terasa sakit sejak 5 hari yang lalu.
Keluhan tambahan
Mata kanan dan kiri terasa kemeng, berair terus, penglihatan kabur dan mengeluh
sakit kepala sejak 5 hari yang lalu.
Riwayat penyakit sekarang
2

Lima hari SMRS pasien mengaku kedua mata terasa sakit dan kemeng. Pasien
mengaku kedua mata kelihatan merah di bagian tepi mata terus menerus
sepanjang hari. Selain merah, pasien mengaku matanya merasa perih dan tidak
tahan dengan cahaya matahari. Apabila terkena cahaya matahari saat kerja atau di
luar rumah, mata terasa silau. Pasien juga mengaku matanya sering berair dan
terasa sakit kepala.
Pasien sering bekerja di luar ruangan dan harus berkontak dengan banyak
orang. Pasien mengaku mata perih mengganggu pasien bekerja. Pasien juga sering
menaiki motor tanpa menggunakan kaca mata. Demam, pusing, dan gatal
disangkal oleh pasien.
Satu hari SMRS kedua mata pasien bertambah merah dan nyeri di bagian tepi
mata. Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama tidak ada.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mempunyai masalah mata sebelum ini. Riwayat sakit
berat dan sistemik juga disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat jantung, hipertensi, Diabetes Mellitus, stroke tidak ada.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum
Tanda Vital
Tekanan darah
Nadi
Respiration rate
Suhu
Kepala
Telinga
Hidung
Tenggorokkan
Thoraks,
Jantung
Paru
Abdomen
Ekstremitas

: Tampak sakit ringan


: 110/80 mmHg
: 96x/menit
: 22x/menit
: 36,8 C
: Normocepali, rambut hitam, distribusi merata
: Normotia, serumen (-), secret (-)
: Deviasi septum (-), secret (-)
: Tonsil T1/T2 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis
: BJ I-II regular, gallop (-), murmur (-)
: vesikuler, wheezing -/-, ronki -/: Nyeri tekan (-), bising usus (+) 6x/menit, supel.
: tampak sikatriks di lengan bawah kiri dan kaki bawah

kanan akral hangat, udem -/-.

STATUS OPHTHALMOLOGIS

OD

Injeksi konjungtiva

OS

Injeksi konjungtiva
Injeksi konjungtiva

OD
20/45
Tidak dikoreksi
Gerak bola mata normal.
Enopthalmus (-)
Exopthalmus (-)
Strabismus (-)
Nyeri tekan (-)
Edema (+)
Hiperemis (-)
Trikiasis (-)
Blefarospasme (-)
Lagopthalmus (-)
Ektropion (-)
Entropion (-)
Tampak hiperemis (+)
Edem (-)
Injeksi konjungtiva (+)
Injeksi siliar (-)
Bangunan patologis (-)
Infiltrat (-)
Kemosis (-)
Sekret mukus (+ )
Hordeolum (-)
Kalazion (-)
Normal, warna putih
Nyeri tekan (-)
Bulat, jernih
Edem (-)
Infiltrat (-)
Sikatrik (-)
Jernih
Kedalaman cukup
Hipopion (-)
Hifema (-)
Kripta (-)
Warna coklat

Injeksi konjungtiva

PEMERIKSAAN
Visus
Koreksi
Bulbus Oculi

Palpebra

Conjungtiva

Sclera
Kornea

Camera Oculi Anterior

OS
20/45
Tidak dikoreksi
Gerak bola mata normal.
Enopthalmus (-)
Exopthalmus (-)
Strabismus (-)
Nyeri tekan (-)
Edema (+)
Hiperemis (-)
Trikiasis (-)
Blefarospasme (-)
Lagopthalmus (-)
Ektropion (-)
Entropion (-)
Tampak hiperemis (+)
Edem (-)
Injeksi konjungtiva (+)
Injeksi siliar (-)
Bangunan patologis (-)
Infiltrat (-)
Kemosis (-)
Sekret mukus ( +)
Hordeolum (-)
Kalazion (-)
Normal, warna putih
Nyeri tekan (-)
Bulat, jernih
Edem (-)
Infiltrat (-)
Sikatrik (-)
Jernih
Kedalaman cukup
Hipopion (-)
Hifema (-)
Kripta (-)
Warna coklat
4

Edema (-)
Sinekia (-)
Atrofi (-)
Reguler
Letak sentral, tampak

Iris

Pupil

jernih
Diameter 3 mm
Refleks pupil L/TL : (+/
+)
Jernih
Jernih
Positif
C/D ratio 0,3. Eksudasi - ,

Lensa
Vitreus
Fundus Refleks
Retina

Edema (-)
Sinekia (-)
Atrofi (-)
Reguler
Letak sentral, tampak
jernih
Diameter 3 mm
Refleks pupil L/TL : (+/
+)
Jernih
Jernih
Positif
C/D ratio 0,3. Eksudasi - ,

arteri : vena = 2:3,

arteri : vena = 2:3,

perdarahan - ,

perdarahan - ,

neovaskularisasi - ,

neovaskularisasi - ,

eksudasi -

Normal
Normal

eksudasi -

Tekanan Intra Okuler


Sistem Lakrimasi

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Dilakukan pemeriksaan slit lamp.

V.

RESUME

Normal
Normal

Subjektif
- Seorang perempuan dengan keluhan kedua mata merah dan perih sepanjang
-

hari
Mata terasa silau dan berair
Penglihatan kabur dan terasa sakit kepala

Objektif
Pada pemeriksaan ophthalmologi didapati:
OD
- Visus: 20/45
- Palpebra: edema (+)
- Konjungtiva: tampak hiperemis (+), injeksi konjungtiva (+), secret mukus (+)
- Pupil: Reguler, letak sentral, tampak jernih, diameter 3 mm, refleks pupil L/TL
OS

(+/+).
Lensa: Jernih
Vitreus jernih.
Reflex fundus: positif.
Tekanan Intra Okular : normal.

Visus: 20/45
Palpebra: edema(+)
Konjungtiva: tampak hiperemis (+), injeksi konjungtiva (+), secret mukus (+)
Pupil: Reguler, letak sentral, tampak jernih, diameter 3 mm, refleks pupil L/TL

(+/+).
Lensa: Jernih
Vitreus jernih.
Reflex fundus: positif.
Tekanan Intra Okular : normal.

VI.

DIAGNOSIS BANDING
1. ODS Konjungtivitis et causa Viral
2. ODS Konjungtivitis Allergika
3. ODS Konjungtivitis Bakterial

VII.

DIAGNOSIS KERJA
ODS Konjungtivitis et causa Viral
Dasar Diagnosis:
Anamnesis:
- Pasien mengaku kedua mata merah dan perih.
- Tidak tahan dengan cahaya matahari.
- Pasien mengaku matanya sering berair.
- Demam, pusing, dan gatal disangkal oleh pasien.

VIII. PENATALAKSANAAN
Non-medika Mentosa
- Hindari terpapar langsung sinar matahari, debu dan angin dengan memakai
-

kaca mata.
Kompres mata dengan air dingin
Menggunakan air mata buatan (artifial tears)

Medica Mentosa
- Aciclovir 3%
- Gentamicin 5mg/ml
- Paracetamol 500 mg
IX.

zalf mata
drops
p.o.

PROGNOSIS
Ad Vitam
Ad Functionam
Ad Sanationam
Ad Cosmetikum

X.

5x/ hari
6x1 tetes
3x500mg
OD
Dubia ad bonam
Dubia ad bonam
Dubia ad bonam
Dubia ad bonam

OS
Dubia ad bonam
Dubia ad bonam
Dubia ad bonam
Dubia ad bonam

USUL

Sekiranya ada kelainan visus, tidak dikoreksi dahulu. Tunggu sehingga sakit

sembuh.
- kontrol 5 hari setelah pengobatan.
SARAN
- Memakai obat sesuai aturan dan instruksi dari dokter.
- Hindari mata terpapar cahaya matahari secara langsung dan angin dengan

XI.

memakai kaca mata hitam.


Menjaga hygiene mata.
Tidak menggaruk mata serta mencuci tangan setelah memegang mata
Tidak memakai handuk bersamaan.

Tinjauan Pustaka

Konjungtivitis Viral
Pendahuluan
Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva yang disebabkan oleh virus,
bakteri, jamur, parasit, alergi, iritasi, alergi, bahan kimia, maupun karena suatu penyakit
idiopatik. Konjungtivitis viral akut merupakan penyakit yang umum dan merupakan selflimited disease. ini dapat disebabkan oleh adenovirus, enterovirus, ataupun virus herpes
simpleks. Gambaran umum dari konjungtivitis viral yaitu mata merasa seperti ada benda
asing, hiperemi konjungtiva bulbi, lakrimasi, pseudoptosis, kemosis, hipertrofi papil, folikel,
membran dan pseudomembran, granulasi, flikten, adenopati preaurikular.1 Pada tinjauan
pustaka ini akan dibahas mengenai konjungtivitis viral akut.
Definisi
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva atau radang selaput lender yang menutupi
belakang kelopak dan bola mata, yang ditandai dengan hiperemi konjungtiva bulbi (injeksi
konjungtiva), lakrimasi, eksudat, edema palpebra, hipertrofi papil, folikel, membran,
pseudomembran, granulasi, flikten, mata merasa seperti benda asing, dan adenopati
preaurikular. Konjungtivitis dibedakan menjadi 2 bentuk yaitu:

Konjungtivitis akut, onset mendadak, durasi kurang dari 4 minggu


7

Konjungtivitis kronik, durasi lebih dari 4 minggu.

Etiologi
Penyebab konjungtivitis dapat dibedakan berdasarkan 2 kategori besar, yaitu:
a) Infeksius
Bakteri, seperti Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Staphylococcus
aureus, Neisseria meningitidis
Virus, seperti jenis adenovirus, virus herpes simpleks tipe 1 dan tipe 2, picornavirus
(enterovirus dan virus coxsackie)
Parasit, seperti Ascaris lumbricoides
Fungi, seperti Coccidioides immitis, Candida Sp.
b) Non-infeksius
Iritasi persisten, seperti mata kering karena kekurangan air mata
Alergi terhadap suatu bahan tertentu, seperti serbuk sari
Bahan kimia atau iritan seperti asap, sinar ultraviolet, angin
Tidak jelas, seperti sindrom Steven-Johnson dan psoriasis5
Berdasarkan kasus di atas, terdapatnya riwayat kontak dengan orang yang memiliki keluhan
serupa mengindikasikan suatu penyakit yang infeksius. Sekret mata yang berupa air disertai
adanya folikel, demam subfebris, limfadenopati preaurikular dan onset penyakit 5 hari yang
lalu lebih mempertegas bahwa penyakit tersebut merupakan konjungtivitis folikular viral
akut.
Konjungtivitis folikular viral akut dapat disebabkan oleh beberapa jenis virus, antara lain:

Adenovirus tipe 3 dan 7 dan serotipe lain yang menyebabkan demam


faringkokonjungtivitis

Adenovirus tipe 8 dan 19 yang menyebabkan keratokonjungtivitis epidemi

Virus herpes simpleks yang menyebabkan konjungtivitis herpetik

Enterovirus tipe 70, (atau lebih jarang) virus coxsackievirus tipe A24 (kedua jenis ni
merupakan family picornaviridae) yang menyebabkan konjungtivitis hemoragik akut

Konjungtivitis folikular viral kronik dapat disebabkan oleh beberapa jenis virus antara lain:

Virus moluskum kontagiosum yang menyebabkan konjungtivitis moluskum


kontagiosum

Virus varicella-zooster yang menyebabkan konjungtivitis herpetik dan konjungtivitis


varisela-zoster

Virus Morbili/measles/campak yang menyebabkan keratokonjungtivitis campak1,3

Epidemiologi dan Faktor Risiko


Konjungtivitis viral adalah penyakit mata yang umum di Amerika Serikat dan seluruh
dunia. Karena sangat umum, dan karena banyak kasus tidak mendapatkan perhatian medis,
keakuratan statistik frekuensi dari penyakit ini tidak tersedia. Infeksi virus seringkali terjadi
pada epidemi dalam keluarga, sekolah, kantor, dan organisasi militer. Konjungtivitis viral
tidak mempunyai predileksi jenis kelamin, dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan dengan
perbandingan yang sama. Konjungtivitis viral dapat mengenai semua umur, tergantung dari
etiologi virus penyebab. Biasanya, adenovirus menyerang pasien usia 20-40 tahun. Virus
herpes simpleks dan infeksi varisela-zoster primer biasanya mengenai anak kecil dan bayi.
Herpes zoster oftalmikus berasal dari reaktivasi infeksi laten virus varisela-zoster dan dapat
muncul pada semua usia. Khasnya, picornavirus menyerang anak-anak dan dewasa muda
yang kelas sosioekonominya rendah. Epidemi tersebar melalui rute mata-tangan-mata.6,7
Virus masuk ke mata melalui benda-benda yang terkontaminasi, seperti tangan,
waslap/handuk, kosmetik, lensa kontak, bulu mata palsu, air yang terkontaminasi. Karena itu
risiko konjungtivitis ada pada orang yang jarang mencuci tangan, sering mengucek mata,
menggunakan lensa kontak, menggunakan peralatan pribadi seperti handuk secara bersamasama, berenang, dan menggunakan kosmetik mata.8
Patofisiologi
Konjungtiva merupakan lapisan mukosa yang melapisi permukaan palpebra bagian dalam
dan sclera. Lapisan konjungtiva dari luar ke dalam adalah:

Epitel konjungtiva, terdiri dari epitel superficial yang mengandung sel goblet yang
menghasilkan musin yang menyusun lapisan terdalam dari air mata, dan epitel basal.

Stroma konjungtiva, terdiri dari lapisan adenoid yang mengandung jaringan limfoid,
dan lapisan fibrosa yang terdiri dari jaringan ikat, yang di atas tarsus jaringan ini
padat dan di tempat lain jaringan ini longgar.
9

Kelenjar pada konjungtiva terdiri atas kelenjar Krause dan kelenjar Wolfring yang
menyerupai kelenjar air mata. Pembuluh darah pada konjungtiva berasal dari a.siliaris
posterior dan a.palpebralis. Pembuluh darah yang memperdarahi konjungtiva adalah
a.konjungtiva posterior dan a.siliar anterior. Syaraf pada palpebra berasal dari n.oftalmikus
(cabang n.trigeminus). Pembuluh limfe palpebra sangat banyak.9
Infeksi konjungtivitis terjadi karena turunnya daya tahan tubuh hospes dan adanya
kontaminasi eksternal. Epitel yang menutupi bagian yang terpajan dari sclera dan konjungtiva
merupakan rute masuknya beberapa virus. Infeksi konjungtivitis virus diperkirakan
disebabkan oleh droplet atau transfer langsung dari jari ke permukaan konjungtiva palpebra.
Setelah masa inkubasi yang kurang lebih antara 5-12 hari, penyakit akan memasuki fase akut.
Baik infeksi bakteri atau virus menginisiasi kaskade inflamasi leukosit atau limfositik yang
menarik sel darah merah dan sel darah putih ke area tersebut. Sel darah putih ini mencapai
permukaan konjungtiva dan berakumulasi di sana melalui kapiler yang telah berdilatasi dan
sangat permeabel.10 Tanda-tanda inflamasi pada konjungtivitis antara lain:

Hiperemia dan injeksi konjungtiva: karena pelebaran a.konjungtiva posterior, dari


bagian perifer konjungtiva bulbi menuju kornea dan ikut bergerak apabila konjungtiva
bulbi digerakkan. Warna merah cerah mengindikasikan konjungtivitis bakterialis dan
warna merah muda mengindikasikan konjungtivitis alergik. Hiperemia tanpa infiltrasi
selular mengindikasikan iritasi oleh penyebab fisik, seperti angin, sinar matahari,
asap, dll., tetapi kadang-kadang dapat terjadi dengan penyakit yang berkaitan dengan
instabilitas vascular seperti acne rosacea.

Lakrimasi: air mata yang keluar berlebihan sebagai hasil dari sensasi adanya benda
asing, rasa terbakar, dan gatal.3

Sekret: sekret mukopurulen, purulen, dan hiperpurulen pada infeksi bakteri, air dan
serous pada infeksi virus. Pada infeksi bakteri atau klamidia, palpebra biasanya sulit
dibuka karena sekret yang lengket.1

Pseudoptosis : terjadi akibat kelopak yang membengkak, biasa terdapat pada trakoma
dan keratokonjungtivitis epidemik.

10

Hipertrofi papil: merupakan reaksi konjungtiva non spesifik yang terjadi karena
konjungtiva terikat ke dasar tarsus atau limbus oleh fibril-fibril. Ketika seberkas
pembuluh darah yang membentuk substansi papilla (bersama-sama dengan unsurunsur selular dan eksudat) mencapai membran dasar epithelium, bercabang-cabang
dari papilla seperti jari-jari dalam kerangka paying. Eksudat dari proses inflamasi
berakumulasi diantara fibril-fibril, menumpuk di konjungtiva menjadi timbunan. Pada
penyakit nekrosis seperti trakoma, eksudat dapat diganti oleh jaringan granulasi atau
jaringan ikat. Papil yang merah mengindikasikan infeksi klamidia atau bakteri. Papil
raksasa yang disebut juga papil cobblestone biasa terdapat pada keratokonjungtivitis
kernel karena gambarannya yang padat, permukaannya rata, polygonal, dan warnanya
merah muda. Jika terdapat pada tarsus superior, keratokonjungtivitis vernal dan
konjungtivitis papil raksasa diasosiasikan dengan senstitivitas akibat pemakaian lensa
kontak, sedangkan pada tarsus inferior dicurigai keratokonjungtivitis atopic.

Kemosis: edema konjungtiva mata, sangat memperkuat konjungtivitis akut alergik


tapi dapat terjadi juga pada infeksi akut gonokokal atau mengingokokal dan
khususnya pada konjungtivitis adenovirus. Kemosis pada konjungtiva bulbi terlihat
pada pasien dengan trichinosis.

Folikel: folikel terdiri dari hyperplasia limfoid fokal di dalam lapisan limfoid
konjungtiva dan biasanya mengandung inti germinal. Secara klinis, folikel bentuknya
bulat, avaskular dengan struktur putih atau abu-abu. Folikel paling banyak terlihat
pada kasus konjungtivitis viral, pada semua kasus konjungtivitis klamidia kecuali
konjungtivitis inklusi neonatal, pada beberapa kasus konjungtivitis parasit, dan
beberapa kasus konjungtivitis toksik karena pengobatan topikal seperti idoxuridine,
dipivefrin, dan miotikum. Folikel pada fornix inferior dan pada tepi tarsus mempunyai
nilai diagnostic yang terbatas, tapi ketika folikel terdapat pada tarsus, khususnya
tarsus superior, konjungtivitis klamidia, viral, atau toksik harus dicurigai.

Pseudomembran

dan

membran:

merupakan

hasil

dari

proses

eksudatif.

Pseudomembran merupakan bekuan di permukaan epithel, dan ketika diangkat, epitel


tetap intak. Membran merupakan bekuan di seluruh epitel, dan jika diangkat akan
terjadi perdarahan. Pseudomembran dan membran dapat bersama-sama dengan
keratokonjungtivitis epidemik, konjungtivitis herpes simpleks primer, diftheri,
11

cicatricial pemphigoid, dan eritema multiforme mayor. Dapat juga terjadi pada
chemical burns, khususnya alkali burns.

Granuloma: selalu mengenai stroma dan paling sering akibat kalazion. Penyebab
lainnya

yaitu

sarcoidosis,

koksidioidomikosis.

sifilis,

Sindrom

cat-scratch

okuloglandular

disease

Parinaud

dan

jarangnya

termasuk

granuloma

konjungtiva dan limfadenopati preaurikular yang mencolok, dan penyakit ini


membutuhkan biopsi untuk menegakkan diagnosis.3

Flikten: merupakan tonjolan berupa serbukan sel-sel radang kronik di bawah epitel
konjungtiva atau kornea, berupa suatu mikro-abses, dimana permukaan epitel
mengalami nekrosis. Warna flikten keputih-putihan, padat dengan permukaan yang
tidak rata. Di sekitarnya diikuti pembuluh-pembuluh darah. Flikten umumnya kecil,
tetapi sering pula lebih besar dari 1 mm. Di atas flikten tidak terdapat pembuluh
darah. Flikten paling sering didapatkan di limbus.5

Adenopati preaurikular: merupakan tanda penting konjungtivitis. Terlihatnya


pembesaran kelenjar limfe preaurikular terdapat pada sindrom okuloglandular
Parinaud, dan jarang pada keratokonjungtivitis epidemik. Nodus limfe preaurikular
yang besar atau kecil dan sedikit lunak tedapat pada konjungtivitis herpes simpleks
primer, keratokonjungtivitis epidemik, konjungtivitis inklusi, dan trakoma. Nodus
limfe

preaurikuler

faringokonjungtivitis

yang
dan

kecil

tapi

tidak

konjungtivitis

lunak

hemoragik

terdapat
akut.

pada

demam

Kadang-kadang,

limfadenopati preaurikular dapat dilihat pada anak-anak dengan infeksi kelenjar


meibom.

Manifestasi Klinis
Secara umum, gejala penting dari konjungtivitis adalah adanya rasa benda asing di
mata, rasa tercakar atau terbakar, rasa penuh di sekitar mata, gatal, dan fotofobia. Adanya
gejala ini diasosiasikan dengan pembengkakan dan hipertrofi papil yang normalnya
bersamaan dengan hiperemia konjungtiva. Jika ada rasa sakit, mungkin kornea juga terkena.
Manifestasi pada konjungtivitis folikular viral akut
12

1) Demam faringkonjungtivitis
Demam faringokonjungtivitis ditandai dengan demam 38.3-40 oC yang berakhir 4-5 hari,
faringitis dengan keterlibatan khas jaringan limfoid faring, dan konjungtivitis folikular pada
satu atau kedua mata.7 Folikel sering sangat mencolok pada konjungtiva dan mukosa faring.
Penyakit ini dapat unilateral atau bilateral. Injeksi dan lakrimasi sering terjadi, dan dapat
terjadi keratitis epitel superficial transien dan kadang-kadang opasitas subepitelial.
Limfadenopati preaurikular yang tidak lunak merupakan karakteristiknya. Sindrom ini dapat
tidak lengkap, hanya satu atau dua dari tanda kardinal. (demam, faringitis, dan
konjungtivitis).

2) Keratokonjungtivitis epidemik
Keratokonjungtivitis epidemik biasanya bilateral. Onsetnya sering dimulai hanya pada satu
mata, dan mata yang pertama akan lebih parah. Terdapat injeksi konjungtiva, nyeri moderat,
lakrimasi, diikuti 5-14 hari fotofobia, keratitis epithelial, dan opasitas subepitel. Sensasi
kornea normal. Limfadenopati preaurikular yang lunak merupakan karakteristiknya. Edema
palpebra, kemosis, hiperemia konjungtiva menandai fase akut, dengan folikel dan perdarahan
subkonjungtiva sering terjadi dalam 48 jam. Pseudomembran (dan kadang-kadang membran)
dapat muncul dan diikuti oleh scar yang rata atau pembentukan simblefaron.
Konjungtivitisnya akan bertahan sampai 3-4 minggu seringkali. Opasitas subepitelial
difokuskan di kornea sentral, dan dapat bertahan beberapa bulan tapi dapat sembuh tanpa
scar. Keratokonjungtivitis epidemik pada orang dewasa terbatas hanya pada mata eksternal,
tapi pada anak-anak mungkin terjadi gejala sistemik infeksi virus seperti demam, sakit
tenggorokan, otitis media, dan diare.

3) Konjungtivitis herpes simpleks


Konjungtivitis herpes simpleks, biasanya penyakit pada anak-anak kecil, ditandai
dengan injeksi unilateral, iritasi, discharge mukoid, nyeri, dan fotofobia ringan. Keadaan ini
terjadi selama infeksi primer HSV atau selama episode rekuren dari herpes okular. Penyakit
ini sering diasosiasikan dengan keratitis herpes simpleks, dimana kornea menunjukkan lesi
epithelial diskret yang biasanya bersatu untuk membentuk ulkus yang bercabang epitel single
13

atau multipel (dendritik). Terdapat folikel, atau jarangnya, pseudomembranosa pada


konjungtivitisnya. (pasien yang menerima antiviral topikal dapat berkembang menjadi
konjungtivitis folikular yang dapat dibedakan karena konjungtivitis folikular herpetik
onsetnya akut).
Vesikel herpetik kadang-kadang dapat muncul pada kelopak dan tepi kelopak,
diasosiasikan dengan edema palpebra yang berat. Biasanya ada nodus kecil kelenjar limfe
preaurikular yang lunak. Jika konjungtivitisnya folikular, reaksi inflamasi yang predominan
adalah mononuclear, tapi jika pseudomembranosa, reaksi predominannya polimorfonuklear.
Ditemukannya sel epitel multinuclear raksasa mempunyai nilai diagnostik. Diagnosis
dikesankan oleh adanya vesikel herpes pada kelopak mata, diagnosis ditegakkan dengan
isolasi virus. Konjungtivitis herpes simpleks dapat bertahan sampai 2-3 minggu, dan jika
pseudomembranosa dapat menyisakan bekas garis atau scar dan gangguan penglihatan.
Komplikasi mencakup ikut terkenanya kornea dan adanya vesikel di kulit. Walaupun herpes
virus tipe 1 merupakan penyebab mayor kasus-kasus pada mata, tipe 2 adalah penyebab
umum pada bayi baru lahir dan jarang pada dewasa.
Pada bayi baru lahir, mungkin terdapat penyakit yang menyeluruh seperti ensefalitis,
korioretinitis, hepatitis, dll. Setiap infeksi HSV pada bayi baru lahir harus diobati dengan
antiviral sistemik (asiklovir) dan di monitor di rumah sakit.

4) Konjungtivitis hemoragik akut


Penyakit ini mempunyai karakterisik masa inkubasi yang pendek (4-48 jam) dan
penyakitnya berlangsung selama 5-7 hari. Tanda dan gejala umumnya yaitu sakit/nyeri,
fotofobia, terasa ada benda asing, lakrimasi yang banyak, hiperemi, edema palpebra, dan
perdarahan subkonjungtiva. Kadang-kadang kemosis juga terjadi. Perdarahan subkonjungtiva
biasanya difus, tapi dapat punctata saat onset, dimulai dari konjungtiva bulbi superior dan
menyebar ke inferior. Kebanyakan pasien mengalami limfadenopati preaurikular, folikel pada
konjungtiva, dan keratitis epithelial. Uveitis anterior pernah dilaporkan; demam, malaise, dan
mialgia di seluruh tubuh telah diobservasi pada 25% kasus; dan paralisis motorik di
ekstremitas bawah juga terjadi pada kasus yang jarang di India dan Jepang.3

14

Penatalaksanaan
Penyakit ini dapat sembuh sendiri sehingga pengobatan hanya simptomatik.
a) Medikamentosa
Untuk demam dapat diberikan parasetamol oral (tablet atau sirup) dengan dosis untuk
anak usia 6-12 tahun yaitu 150-300 mg/kali dengan maksimum 1.2 g/hari, diberikan 3
kali sehari selama 3 hari. Pengobatan antibiotika spektrum luas, sulfasetamid dapat
dipergunakan untuk mencegah infeksi sekunder. Sulfasetamid dapat diberikan dalam
bentuk tetes mata 10% (atau salep mata 10%), diberikan 4 kali sehari 1-2 tetes pada
masing-masing mata. Jika memberikan golongan sulfonamide, pastikan tidak ada
alergi terhadap sulfa. Bila ada alergi sulfa, dapat digunakan tetes mata gentamisin
0.3% (atau salep mata 0.3%) setiap delapan jam. 11 Prednisolon 0.5% empat kali sehari
diperlukan

untuk

konjungtivitis

adenovirus

yang

terdapat

membran

atau

pseudomembran. 1,4
b) Non-medikamentosa
Dapat diberikan kompres untuk demam. 4
Komplikasi
Komplikasi meliputi keratitis punctata dengan infiltrat subepitelial, superinfeksi
bakteri, ulserasi kornea dengan keratokonjungtivitis dan infeksi kronik. Keratitis epitelial
dapat menyertai konjungtivitis viral. Erosi epitelial punctata yang diwarnai dengan fluoresein
umumnya diasosiasikan dengan keratitis viral. Pada kasus infeksi adenoviral, Kelainan pada
stromal dapat sampai bulanan hingga tahunan. Pada kasus seperti ini, infiltrat di subepitelial
dapat menyebabkan reaksi antigen antibodi. Jika mengenai axis visual dapat menyebabkan
penurunan penglihatan dan atau penglihatan kabur/buram.
Prognosis
Kebanyakan kasus konjungtivitis viral adalah akut, benign, dan self-limited, walaupun
infeksi kronik pernah dilaporkan. Sekuele jangka panjang pada mata tidak lazim. Infeksi
biasanya sembuh spontan dalam 2-4 minggu. Infiltrat subepitelial dapat berlangsung sampai
beberapa bulan, dan jika mengenai axis visual dapat menyebabkan penurunan penglihatan
dan atau penglihatan kabur/buram. 6
Preventif
15

Tindakan preventif yang penting adalah menjaga kebersihan untuk mencegah penularan
penyakit ini, antara lain:

Cuci tangan sesering mungkin. Jangan menyentuh atau menggosok mata.

Jangan menggunakan handuk/waslap/selimut bersana-sama dengan orang lain.

Hindari berenang di kolam renang jika sedang menderita konjungtivitis

Jangan pernah menggunakan obat mata yang diresepkan untuk orang lain.

Jangan menggunakan lensa kontak selama gejala masih ada8

Kesimpulan
Konjungtivitis viral akut merupakan suatu self-limited disease yang menular, yang
ditandai dengan mata merasa seperti ada benda asing, hiperemi konjungtiva bulbi, lakrimasi,
pseudoptosis, kemosis, hipertrofi papil, folikel, membran dan pseudomembran, granulasi,
flikten, adenopati preaurikular. Penyakit ini dapat dicegah penularannya dengan menjaga
kebersihan dan menghindari kontak tangan dengan mata.

Daftar Pustaka
1. Ilyas, S., Yulianti, S.R. Ilmu penyakit mata. Edisi ke-4. Cetakan ke-1. Jakarta: Balai
Penerbit FK UI; 2006.h.35-6, 109-48.
2. Bickley, Lynn S. Buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan Bates. Edisi ke-8.
Jakarta; EGC; 2009.h.147-57.
3. Riordan-Eva, P., Whitches, J.P. [editor]. Vaughan & asburys oftalmologi umum
[terjemahan]. Edisi ke-17. Jakarta: EGC; 2009.h.97-124.
4. Kanski, J.J., Bowling, B. Clinical ophthalmology: a systematic approach [e-book].
Edisi ke-7. China: Elsevier Saunders; 2011.
5. Ilyas, S., Mailangkay, H.H.B.,Taim, H., Saman, R.R., Simarmata, K, Widodo, P.S.
[editor]. Ilmu penyakit mata untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran. Jakarta:
CV Sagung Seto; 2002.h.91-106.
6. Scott, I.U. Viral conjunctivitis. Edisi 20 September 2011. Diunduh dari:
http://emedicine.medscape.com/article/1191370-overview#showall, 9 Maret 2012
7. Kliegman, Behrman, Jenson, Stanton. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke- 18.
USA: Elsevier Saunders; 2007.h.1115-6, 1458-9.

16

8. McKesson Health Solutions LLC. Viral or bacterial conjunctivitis. Edisi 2003.


Diunduh dari: http://www.cumc.columbia.edu/student/health/pdf/C/Conjunctivitis.pdf
, 9 Maret 2012.
9. Morosidi, S.A., Paliyama, M.F. Ilmu penyakit mata. Jakarta: FK Ukrida; 2011.h.14.
10. Patophysiology of acute conjunctivitis. Edisi 21 Juli 2011. Diunduh dari:
http://bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/68/basics/pathophysiology.html,
12 maret 2012.
11. Genrich, J.L., Chan, P.D. Pediatric drug reference: dosages, side effects, and drug

interactions [e-book]. USA: Current Clinical Strategies Publishing; 2004.h.35.

17