Anda di halaman 1dari 3

STENOSIS AORTA

I.

Definisi
A. Pengurangan ukuran katup orifisium dianggap merupakan stenosis aorta.
B. Pengurangan anulus katup sendiri sebagai bagian kurang berkembangnya
keseluruhan jantung kiri, bisa menyebabkan kesulitan serius dalam masa
bayi.
C. Tetapi pada orang dewasa, stenosis selalu disertai dengan kelainan katup.
II. Gambaran umum
A. Obstruksi aliran keluar ventrikel kiri terlazim karena penyakit pada tingkat
daun katup aorta, tetapi kadang-kadang bisa karena konstriksi aorta
asenden (stenosis supravalvular) atau anulus atau saluran fibrosa di dalam
ventrikel kiri tepat di bawah daun aorta (stenosis subvalvular).
B. Keparahan obstruksi bervariasi besar sekali dan menentukan luas respons
kompensasi, gejala dan terapi.
C. Presentasi klinik, pemeriksaan laboratorium dan penatalaksanaan akan
dibagi semaunya dalam tiga kategori, ringan, sedang dan parah, walaupun
kelainan ini sebenarnya suatu spektrum yang kontinu.
III. Etiologi
A. Katup bikuspid kongenital
1. Dalam populasi umum, prevalensi 1-2%; 50-80% jika ada koarktasio.
2. Stenosis bisa parah saat lahir dan menyebabkan kesulitan serius
selama masa bayi atau kanak-kanak, tetapi lebih lazim stenosis ini
ringan pada masa bayi dan kanak-kanak.
3. Tetapi dengan berlalunya waktu, obstruksi cenderung meningkat,
sehingga stenosis sedang timbul selama dasawarsa kehidupan ketiga
dan keempat, serta stenosis parah timbul selama dasawarsa kelima
atau setelah itu.
4. Peningkatan lambat ini pada keparahan stenosis disebabkan oleh
sklerosis progresif, penebalan dan kemudian klasifikasi katup, sehingga
ada pengurangan progresif dalam orifisium.
5. Kelainan ini terlihat pada wanita sekitar dua kali sesering pada pria.
B. Orifisium sentral stenosis aorta kongenital pada puncak kubah; kuspid
diganti oleh membran berbentuk kubah, fibrosa yang liat.
C. Stenosis aorta pada orang tua
1. Kadang-kadang daun katup aorta trikuspid yang normal bisa menjadi
kaku dan menyebabkan stenosis, tetapi lebih sering dalam katup
bikuspid.
2. Stenosis timbul pada dasawarsa kedelapan dan kesembilan kehidupan
dan jarang menjadi parah.
D. Demam reumatik
1. Satu-satunya penyebab lain dari stenosis aorta adalah demam
reumatik.
2. Dengan proses ini, keparahan stenosis juga cenderung berlanjut pelanpelan.
3. Kemudian katup yang terobstruksi tidak dibedakan dari stadium akhir
kelainan katup kongenital.
IV. Patofisiologi
Obstruksi aliran keluar ventrikel kiri memerlukan perkembangan tekanan
ventrikel kiri yang lebih tinggi untuk mempertahankan tekanan arteri sistemik
yang normal. Perbedaan antara tekanan sistolik ventrikel kiri dan aorta

dinamai sebagai perbedaan katup aorta. Tekanan ventrikel kiri yang tinggi
disertai dengan hipertrofi massa ventrikel kiri. Untuk membentuk tekanan
sistolik ventrikel kiri yang lebih tinggi, maka tekanan akhir diastolik
ditingkatkan.
A. Jika tidak dihilangkan, maka stenosis aorta yang parah bisa menyebabkan
dekompensasi ventrikel disertai dilatasi ventrikel, dan tekanan diastolik
jelas meningkat.
B. Keadaan demikian disertai dengan peningkatan tekanan vena pulmonalis
dan atrium kiri serta perkembangan kongesti paru.
C. Tekanan tinggi yang ditimbulkan oleh ventrikel kiri disertai dengan
peningkatan kebutuhan oksigen dari sel otot jantung sendiri.
D. Kebutuhan peningkatan ini bisa memainkan peranan dalam sindrom angina
pektoris, yang bisa timbul dengan atau tanpa penyakit arteri koronia
penyerta.
E. Pembentukan parut dan klasifikasi daun aorta kemudian meluas sampai
anulus katup dan bahkan ke dalam jaringan jantung yang mengelilingi.
F. Keterlibatan bagian sistem hantaran jantung yang berdekatan sangat
penting.
V. Gejala
A. Tidak ada gejala selama beberapa waktu, sewaktu stenosis aorta ringan
atau sedang dan pasien bisa sama sekali tidak menyadari bahwa ia
menderita kelainan jantung.
B. Tetapi sewaktu obstruksi menjadi parah, pasien bisa menderita:
1. Sinkop
2. Angina pektoris karena gerak
3. Payah jantung kongesti
4. Kombinasi dari semua atau apapun dari ini.
C. Tidak ada yang spesifik tentang apapun dari penyajian ini, dan inni
diperlukan untuk mempertimbangkan stenosis aorta bila timbul gejala
apapun.
D. Juga perlu mempertimbangkan sebab lain yang mungkin dari gejala ini
pada pasien dengan tanda stenosis aorta. Sebagai contoh, penyakit
jantung koroner bisa merupakan penyebab gejala ini serta stenosis sorta
hanya ringan dan kebetulan.
E. Blok atrioventrikularis (AV) sering terlihat pada stenosis aorta berkalsifikasi
dan bisa merupakan penyebab sinkop pada pasien ini.
VI. Tanda
Tanda stenosis aorta bervariasi menurut keparahan obstruksi.
A. Stenosis aorta yang ringan
1. Dengan stenosis aorta ringan, seperti dalam masa kanak-kanak dan
adolesen, satu-satunya gambaran bisa click ejeksi keras yang terdengar
pada apeks, dan bising sistolik dini yang singkat.
2. Bunyi kedua aorta biasanya keras dan terbaik didengar pada daerah
aorta.
B. Stenosis aorta sedang
1. Dengan berkembangnya obstruksi sedang, bising menjadi lebih keras
dan lebih lama.
2. Suara ini paling keras terdengar pada daerah aorta, dan dapat
diteruskan ke fossa supraklavikula, pembuluh darah karotis, dan apeks
jantung.

3. Bising ini kasar, tetapi akhirnya tepat sebelum bunyi kedua aorta, yang
dipertahankan baik.
4. Click ejeksi juga dipertahankan.
5. Mulai saat ini, obstruksi mulai mengubah sifat denyut arteri secara
bermakna
6. Biasanya ada shudder pada upstroke, dan upstroke sedikit memanjang.
7. Impuls apeks masih normal, tetapi lebih sering agak diperpanjang dan
bahu presistolik (gelombang )
C. Stenosis aorta yang parah
1. Dengan berlalunya waktu, stenosis menjadi parah, katup menebal dan
berkalsifikasi parah.
2. Bunyi ejeksi tidak lagi ada, dan bunyi kedua aorta jelas berkurang atau
tidak ada.
3. Bising bisa samar sampai sangat keras, tetapi akan selalu lama dan
terdengar sepanjang sistole.
4. Pada daerah aorta, bising biasanya kasar, tetapi bisa mengandung
sejumlah komponen musik.
5. Bising bisa samar pada pasien dengan peningkatan diameter dada
anterior-posterior atau pengurangan curah jantung.
6. Pada orang tua dengan dada tong dan distres parah karena payah
jantung, bising bisa samar dan bahkan terlewatkan.
7. Pada pasien ini, penting mendengar bising aorta dalam insisura
suprasternalis juga untuk mencari tanda lain stenosis aorta yang
digambarkan di bawah.
8. Bising stenosis aorta biasanya dihantarkan dengan baik ke apeks
jantung, dimana bisa mempunyai kualitas murni atau musik.
9. Karena bunyi bising begitu berbeda pada basis dan apeks, maka tidak
mengherankan bahwa pasienini sering dirasakan secara keliru
menderita stenosis aorta dan regurgitasi mitral.
10.Bunyi jantung keempat terdengar mendahului bunyi jantung pertama
pada apeks, tetapi irama gallop bisa sulit dilihat.
11.Bila interval dari mulainya QRS sampai puncak bising sistolik lebih dari
90 mdet, maka ada stenosis aorta valvular yang parah.
12.Dengan stenosis aorta yang parah, maka denyut karotis parvus et
tardius diserta bahu anarkrotik dini dan shudder mediosistolik.
13.Kualitas kelainan ditandai oleh upstroke panjang dan sangat lambat
dengan atau tanpa shudder samar