Anda di halaman 1dari 10

TUGAS KULIAH GEOLOGI BATUBARA

Proses-proses Syn Depositional dan Post Depositional serta Kaitanya dengan


Proses dan Geometri Batubara

Disusun Oleh :
Miftah Mukifin Ali
111.130.031

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2015

SYN DEPOSITIONAL ( Proses Selama Batubara Terbentuk )


Secara umum sedimen pembawa batubara diendapkan mulai dari tepi
hingga tengah cekungan, sedangkan struktur geologi sangat berpengaruh terhadap
akumulasi sedimen dan jumlah suplai material rombakan yang diperlukan guna
mengetahui

runtunan

lapisan

batubara,

sebaran

dan

ciri

lingkungan

pengendapanya. Efek diagenesa selama akumulasi sedimen berlangsung bisa


menyebabkan deformasi struktur (pensesaran dan perlipatan), seperti gaya tekan
ke arah bawah terhadap semua lapisan sedimen dan batubara
Batubara terbentuk dari endapan organik yaitu sisa sisa tumbuhan
tumbuhan yang terjadi selama beberapa ratus juta tahun yang lalu yang
mengalami pengubahan melalui proses pembatubaraan. Ada 2 teori yang
menerangkan terjadinya batubara yaitu :
a. Teori In-situ : Batubara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari
hutan dimana batubara tersebut terbentuk. Batubara yang terbentuk sesuai
dengan teori in-situ lazimnya terjadi di hutan basah dan berawa, sehingga
pohon-pohon di hutan tersebut pada saat mati dan roboh, langsung
tenggelam ke dalam rawa tersebut, dan sisa tumbuhan tersebut tidak
mengalami pembusukan secara sempurna, dan akhirnya menjadi fosil
tumbuhan yang membentuk sedimen organik.
b. Teori Drift : Batubara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari
hutan yang bukan di tempat dimana batubara tersebut terbentuk. Batubara
yang terbentuk sesuai dengan teori drift biasanya terjadi di delta-delta,
mempunyai ciri-ciri lapisan batubara tipis, tidak menerus (splitting),
banyak lapisannya (multiple seam), banyak pengotor (kandungan abu
cenderung tinggi). Proses pembentukan batubara terdiri dari dua tahap
yaitu

tahap

biokimia

(penggambutan)

dan

tahap

geokimia

(pembatubaraan)
Tahap penggambutan (peatification) adalah tahap dimana sisa-sisa
tumbuhan yang terakumulasi tersimpan dalam kondisi bebas oksigen (anaerobik)
di daerah rawa dengan sistem pengeringan yang buruk dan selalu tergenang air

pada kedalaman 0,5 10 meter. Material tumbuhan yang busuk ini melepaskan
unsur H, N, O, dan C dalam bentuk senyawa CO2, H2O, dan NH3 untuk menjadi
humus. Selanjutnya oleh bakteri anaerobik dan fungi diubah menjadi gambut.
Tahap pembatubaraan (coalification) merupakan gabungan proses biologi,
kimia, dan fisika yang terjadi karena pengaruh pembebanan dari sedimen yang
menutupinya, temperatur, tekanan, dan waktu terhadap komponen organik dari
gambut. Pada tahap ini prosentase karbon akan meningkat, sedangkan prosentase
hidrogen dan oksigen akan berkurang (Fischer, 1927, op cit Susilawati 1992).
Proses ini akan menghasilkan batubara dalam berbagai tingkat kematangan
material organiknya mulai dari lignit, sub bituminus, bituminus, semi antrasit,
antrasit, hingga meta antrasit.
SYN-RIFT COAL DEPOSITION
Berhubungan dgn fluviatil-locustrin deposite, menandakan jenis ini engan
daya kalori tinggi, belerang rendah ( <1% ) tetapi tumbuhan sebagai material
variable yang biasanya lentikular/ membatasi luas batas samping penurunan =
suplay material.
SYN-OROGENIC REGRESSIVE COAL
Biasanya terjadi pada back arc basin. Penurunan ( subsidence ) lebih cepat
dibandingkan suplay material yang masuk. Hal ini ditandai dgn lpisan yang tipis
dibawah permukaan.

POST DEPOSITIONAL ( Proses Setelah Batubara Terbentuk )


Struktur geologi yang dihasilkan dari post-depositional adalah : kekar,
sesar, dan lipatan. Kehadiran mineral presipitasi seperti gypsum juga merupakan
hasil post-depositional.
a. SESAR
Sesar normal sebagai produk tegasan utama vertikal hasil gaya
gravitasi,sesar normal umum dijumpai di lapisan batubara yaitu di bagian
sayapsayap lipatan, pergeserannya dapat mencapai beberapa meter. Sesar dapat
menyebabkan seretan (drag) sepanjang bidang patahan, sehingga batuan

sekelilingnya juga bergeser sepanjang arah pergeseran dari sesar tersebut. Apabila
berupa sesar besar (major fault) maka sesar tersebut dapat menggeser seluruh
lapisan batuan dan batubara hingga beberapa meter, dimana zona sesar tersebut
berupa bidang hancuran dan bisa terlihat di high wall tambang batubara terbuka.
Zona hancuran dari zona sesar tersebut dapat dilihat, salah satunya di Binungan
Blok 7, PIT K. high wall. Pembentukan sesar normal dalam skala besar
disebabkan oleh gaya tension yang tertarik karena regangan (rifting) di
continental crust, searah dengan sesar-sesar normal yang terjadi secara di lokal
area, sesar normal skala besar tersebut membentuk struktur geologi half grabben.

Sesar
b. LIPATAN

Batubara dalam susunan runtunan lapisan umumnya terlipat menjadi


beberapa jenis lipatan. Kendala di lapangan adalah pembuktian bahwa dip
tersebut adalah true dip atau apparent dip harus hati-hati, demikian juga adanya
dissected terrain dip bisa nampak di sisi lembah. Hal ini kemungkinan bukan
sebagai true dip perlapisan tetapi refleksi tinggian stuktural secara lokal,
umumnya berupa tepi cekungan yang tidak stabil, menyebabkan terjadi
pergerakan massa sedimen berbentuk slumping dan terlihat seperti perlapisan
atau lipatan, dengan demikian kemiringan dip lapisan tampak sangat curam. Gaya
kompresi terhadap lapisan batubara selama perlipatan menghasilkan lipatan
antiklin landai disertai adanya thrust sepanjang tonjolan Coal (nose) dari lipatan
tersebut, bentuk seperti ini adalah jenis antiklin queue. Lapisan bisa mengalami
penipisan di bagian tengah (pinch out) sepanjang sayap lipatan fold limb dan
terlihat seperti aliran sepanjang sumbu antiklin. Peristiwa tersebut kira-kira

berasal dari 2 arah normal antara satu dengan lainnya, batubara tersebut
terkonsentrasi sehingga membentuk struktur pepper-pot, gambaran umum seperti
ini hanya dijumpai di daerah tektonik kuat, sehingga mengalami deformasi yang
intensif.

Lipatan

Kualitas dan Geometri Batubara


Definisi Geometri
a. Geometri adalah cabang Matematika yang pertama kali diperkenalkan oleh
Thales (624-547 SM) yang berkenaan dengan relasi ruang. Dari
pengalaman, atau intuisi, kita mencirikan ruang dengan kualitas
fundamental tertentu, yang disebut aksioma dalam geometri. Aksioma
demikian tidak berlaku terhadap pembuktian, tetapi dapat digunakan
bersama dengan definisi matematika untuk titik, garis lurus, kurva,
permukaan dan ruang untuk menggambarkan kesimpulan logis.
b. Geometri dalam aplikasinya diartikan sebagai suatu gambaran ataupun
model yang mengandung unsur unsur seperti titik, garis, arah,
kemiringan, , volume, bentuk dalam tampialan 2 dimensi ( 2D ) maupun 3
dimensi ( 3D ).
Parameter Geometri Batubara
Parameter geometri lapisan batubara meliputi :
a. Ketebalan
Ketebalan lapisan batubara berhubungan langsung dengan perhitungan
cadangan, perencanaan produksi, sistem panambangan dan umur tambang.
Karenanya, maka faktor pengendali terjadinya arah perubahan ketebalan,
penipisan, pembajian, splitting dan kapan terjadinya perlu diketahui. Apakah
etrjadi selama proses pengendapan, antara lain akibat perbedaan kecepatan
akumulasi batubara, perbedaan morfologi dasar cekungan, hadirnya channel, sesar
dan proses karst atau terjadi setelah pengendapan, antara lain karena sesar atau
erosi permukaan. Pengertian tebal perlu dijelaskan, apakah tebal tersebut termasuk
parting (gross coal thickness), tebal lapisan batubara tidak termasuk parting (net
coal thickness) atau tebal lapisan batubara yang dapat ditambang (mineable
thickness).
b. Kemiringan
Dianjurkan pengukuran kedudukan lapisan batubara menggunakan
kompas dengan metode dip direction, sekaligus harus mempertimbangkan

kedudukan lapisan batuan yang mengapitnya. Pengertian kemiringan, selain


besarnya kemiringan lapisan juga masih perlu dijelaskan :
a. Apakah pola kemiringan lapisan batubara tersebut bersifat menerus dan sama
besarnya sepanjang cross strike maupun on strike atau hanya bersifat setempat.
b. Apakah pola kemiringan lapisan batubara tersebut membentuk pola linier, pola
lengkung atau pola luasan (areal).
c. Mengenai faktor-faktor pengendalinya.
c. Pola sebaran lapisan batubara
Faktor pengendalinya harus diketahui, yaitu apakah dikendalikan oleh
struktur lipatan (antiklin, sinklin, menunjam), homoklin, struktur sesar dengan
pola tertentu atau dengan pensesaran kuat. Karena Pola sebaran lapisan batubara
akan berpengaruh pada penentuan batas perhitungan cadangan dan pembagian
blok penambangan.
d. Kemenerusan lapisan batubara
Faktor pengendalinya adalah jarak dan apakah kemenerusannya dibatasi
oleh proses pengendapan dan split, sesar,, intrusi atau erosi. Contoh pada split,
kemenerusan lapisan batubara dapat terbelah oleh bentuk membaji dari sedimen,
bukan batubara. Berdasarkan penyebabnya dapat karena proses sedimentasi
(autosedimentational split) atau tektonik yang ditunjukkan oleh perbedaan
penurunan dasar cekungan yang mencolok akibat sesar (Warbroke, 1981 dalam
Diessel, 1992).
e. Keteraturan lapisan batubara
Faktor pengendalinya adalah pola kedudukan lapisan batubara (jurus dan
kemiringan), artinya :
1. Apakah pola lapisan batubara di permukaan menunjukkan pola teratur
(garis menerus yang lurus, melengkung pada elevasi yang hampir sama)
atau membentuk pola tidak teratur (garis yang tidak menerus, melengkung
pada elevasi yang tidak sama).
2. Apakah bidang lapisan batubara membentuk bidang permukaan yang
hampir rata, bergelombang lemah atau bergelombang.
3. Juga harus dipahami factor pengendali keteraturan lapisan batubara.

f. Bentuk lapisan batubara


Bentuk lapisan batubara adalah perbandingan antara tebal lapisan batubara
dan kemenerusannya, apakah termasuk kategori bentuk melembar, membaji,
melensa, atau bongkah.
g. Floor dan roof
Kontak

batubara

dengan

roof

merupakan

fungsi

dari

proses

pengendapannya. Pada kontak yang tegas menunjukkan proses pengendapan


berlangsung secara tiba-tiba, sebaliknya jika proses pengendapan lambat
kontaknya akan terlihat berangsur kandungan karbonannya. Roof banyak
mengandung fosil sehingga baik untuk korelasi.
Litologi pada floor lebih bervariasi seperti serpih, batulempung, batulanau,
batupasir, batugamping atau soil yang umumnya lebih massif. Bila berupa
seatearth (merupakan istilah umum untuk batuan berbutir kasar maupun halus
yang mengandung akar tumbuhan dalam posisi tumbuh dan berada di bawah
lapisan batubara) umumnya mengandung bekas akar tumbuhan, berwarna abu-abu
cerah sampai coklat, plastis, merupakan tanah purbatempat tumbuhan hidup, tidak
mengandung alkali, kandungan kalsium dan besi rendah. Terjadi karena proses
perlindian oleh air yang jenuh asam humik dari pembusukan tanaman.
h. Cleat
Cleat adalah kekar didalam lapisan batubara, khusunya pada batubara
bituminous yang ditunjukkan oleh serangkaian kekar yang sejajar. Adanya cleat
dapat disebabkan beberapa faktor :

mekanisme pengendapan

petrografi batubara

derajat batubara

tektonik (struktur geologi)

aktifitas penambangan

Menurut

Jeremic,

1986

dalam

Kuncoro,

2007

berdasarkan

ganesanya

membedakan cleat menjadi tiga jenis, yaitu :


1. Endogenous cleat dibentuk oleh gaya internal akibat pengeringan atau
penyusutan material organic. Umumnya tegak lurus bidang perlapisan
sehingga bidang kekar cenderung membagi lapisan batubara menjadi
fragmen-fragmen tipis yang tabular.
2. Exogenic cleat dibentuk oleh gaya eksternal yang berhubungan dengan
kejadian tektonik. Mekanismenya tergantung pada karakteristik struktur
dari lapisan pembawa batubara. Cleat ini terorientasi pada arah tegasan
utama dan terdiri dari dua pasang kekar yang saling membentuk sudut.
3. Included cleat bersifat lokal akibat proses penambangan dengan adanya
perpindahan beban kedalam struktur tambang. Frekuensi included cleat
tergantung pada tata letak tambang dan macam teknologi penambangan
yang digunakan.
Terjadinya cleat ada hubungannya dengan pola kekar pada lapisan pembawa
batubara, sehingga dapat digunakan untuk menghubungkan pola cleat dengan
struktur geologi dari suatu daerah.
Orientasi Parameter Geometri
Menurut Jeremic (1985) dalam Kuncoro (2000), parameter geometri lapisan
batubara berdasarkan hubungan dengan dapatnya suatu lapisan batubara
ditambang dan kestabilannya meliputi :
1.

Ketebalan

lapisan

batubara

- Sangat tipis, jika tebalnya < 0,5 m - Tipis, jika tebalnya 0,5-1,5 m Sedang, jika tebalnya 1.5-3,5 m - Tebal, jika tebalnya 3.4-25 m - Sangat
tebal, jika tebalnya sgt 25 m.
2.

Kemiringan lapisan batuan :


- Lapisan horizontal
- Lapisan landai, jika kemiringannya < 250
- Lapisan miring, jika kemiringannya antara 250-450
- lapisan miring curam, jika kemiringannya antara 450-750
- vertical

3. Pola kedudukan lapisan batubara/sebarannya :


- Teratur
- Tidak teratur
4. Kemenerusan batubara :
- Ratusan meter
- Ribuan meter 5-10 km
- Menerus sampai lebih dari 200 km
Pemahaman

geometri

lapisan

batubara

hanya

akan

diperoleh

jika

hubungannya dengan lapisan batuan yang berasosiasi ( lingkungan pengendapan )


diperhitungkan bersamaan dengan proses tektonik yang mempengaruhi daerah
tersebut. (Kuncoro 2000).