Anda di halaman 1dari 13

KONTRIBUSI PROGRAM DESA MANDIRI PANGAN

DALAM MEREDUKSI KEMISKINAN


DI KABUPATEN JOMBANG
CONTRIBUTION OF FOOD SELF-RELIANCE VILLAGE PROGRAM
IN REDUCING POVERTY AT JOMBANG REGENCY
Fitri Dyah Retnaningsih1 , Sitti Bulkis2, Darmawan Salman2
1

Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jombang


2
Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin

Alamat Korespondensi:
Kantor Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
Jalan Wakhid Hasyim No. 49
Kabupaten Jombang Jawa Timur
Email: fitriretnaningsih@gmail.com
Hp. 08123014322

Abstrak
Program desa mandiri pangan merupakan salah satu salah satu upaya untuk mengatasi masalah kerawanan
pangan dan kemiskinan telah dilaksanakan di Kabupaten Jombang sejak tahun 2010. Tujuan penelitian ini adalah
menganalisis pelaksanaan program desa mandiri pangan di Desa Gedongombo Kecamatan Ploso Kabupaten
Jombang, mengkaji kontribusi program desa mandiri pangan terhadap tingkat ketahanan pangan dan kemiskinan
pada rumah tangga miskin pada desa penerima program desa mandiri pangan dengan desa yang tidak menerima
program desa mandiri pangan dan memberikan rumusan arah strategi dan rancangan program untuk
keberlanjutan desa mandiri pangan di Kabupaten Jombang. Penelitian ini dilakukan di Desa Gedongombo
Kecamatan Ploso dan Desa Sidokaton Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang. Pengumpulan data dilakukan
melalui observasi, wawancara, survei institusional dan studi literatur. Data diteliti dengan pendekatan kualitatif
dengan metode analisis yaitu analisis deskriptif kualitatif dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pertama, pelaksanaan Program Desa Mandiri Pangan di Desa Gedongombo Kecamatan Ploso
Kabupaten Jombang sudah berjalan dengan relatif baik dan telah sesuai dengan pedoman. Kedua, rumah
tangga kedua desa tahan pangan dan tidak ada yang miskin, namun tingkat ketahanan pangan rumah tangga desa
penerima program desa mandiri pangan lebih tinggi dan berada jauh diatas garis kemiskinan jika dibandingkan
dengan rumah tangga bukan penerima program desa mandiri pangan. Ketiga, rancangan strategi bagi
keberlanjutan Program Desa Mandiri Pangan yang diprioritaskan adalah menerbitkan regulasi melalui peraturan
Bupati agar desa tersebut dibina untuk mengembangkan usaha, menjalin kemitraan dengan lembaga-lembaga
permodalan dalam rangka memperkuat usaha, memfasilitasi pengembangan usaha pangan segar, pangan olahan
dan pangan siap saji berbasis sumberdaya lokal dan mengoptimalkan diversifikasi pangan berbasis sumber daya
lokal.
Kata kunci: desa mandiri pangan, kemiskinan, ketahanan pangan

Abstract
Food self-reliance village program is one part of efforts to tackle the problem of food insecurity and poverty in
Jombang has been implemented since 2010. The research aimed at analyzing the implementation of food selfreliance village program at Gedongombo Village, Ploso District, Jombang Regency, studying the contribution of
the food self-reliance village program on food resistance and poverty levels on the poor households in the rural
beneficiaries of the food self-reliance village program and the villagers which did not receive the food selfreliance village program and giving the strategy direction formulation and program design for the food selfreliance village sustainability at Jombang Regency.This research was carried out at the Gedongombo Village,
Ploso District and Sidokaton Village, Kudu District, Jombang Regency. Data collection was conducted through
an observation, interview, institutional survey and literature study. The data were investigated by the qualitative
approach with the analysis method of the qualitative descriptive analysis and SWOT analysis. The research
result indicates that first, the implementation of the food self-reliance village program at Gedongombo Village,
Ploso District, Jombang Regency has run relatively well and has been suitable with the guidelines. Second, the
households in both villages are secured food and no poor families, however, the households food security level
of the rural beneficiaries of the food self-reliance village program is much higher and were well above the
poverty line compared with the households on non- beneficiaries of the food self-reliance village program.
Third, the design of the strategy for sustainability of the food self-reliance village program priority is by issuing
the regulations through the Regents regulations in order that the villages are established to develop business, to
build the partnership the financial institutions in the frame to strengthen business, facilitate the fresh food
business development, local resources based processed food and fast food and to optimize the local resources
based food diversification.
Key words: food self-reliance village, poverty, food security

PENDAHULUAN
Fokus pembangunan saat ini diarahkan pada penanganan masalah kerawanan pangan
dan kemiskinan dengan jalan meningkatkan ketahanan pangan. Wilayah terkecil yaitu di desa
merupakan fokus utama dalam perwujudan pemenuhan pangan sebagai basis kegiatan
pertanian. Basis pembangunan perdesaan bertujuan mewujudkan ketahanan pangan dalam
satu wilayah dengan keterpaduan sarana dan prasarana dalam aspek ketersediaan, distribusi
dan konsumsi pangan untuk mencukupi dan mewujudkan ketahanan pangan rumah tangga.
Permasalahan dan tantangan dalam pembangunan ketahanan pangan secara umum
menyangkut pertambahan penduduk, semakin terbatasnya sumber daya alam dan beralih
fungsinya lahan pertanian, masih terbatasnya prasarana dan sarana usaha dibidang pangan,
semakin ketatnya persaingan pasar dengan produk impor, serta besarnya proporsi penduduk
miskin.
Berdasarkan data dari BPS tahun 2013, diperoleh data tentang jumlah penduduk miskin
di Indonesia dua tahun terakhir. Pada bulan Maret 2013, jumlah penduduk miskin di
Indonesia mencapai 28,07 juta orang (11,37 persen), berkurang sebesar 0,52 juta orang
dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2012 yang sebesar 28,59 juta orang
(11,66 persen). Jumlah penduduk miskin sebesar 28, 07 juta tersebut terdiri dari 10,33 juta
orang di perkotaan, sementara di daerah perdesaan 17,74 juta orang pada Maret 2013.
Besarnya kemiskinan di pedesaan karena sebagian besar penduduknya mengantungkan
pekerjaannya sebagai petani, padahal sebagian besar dari mereka merupakan petani penggarap
bukan pemilik lahan.
Sedangkan salah satu upaya untuk mengatasi masalah kerawanan pangan dan
kemiskinan di pedesaan adalah melalui Program Desa Mandiri Pangan. Desa mandiri pangan
adalah desa yang masyarakatnya mempunyai kemampuan untuk mewujudkan ketahanan
pangan dan gizi sehingga dapat menjalani hidup sehat dan produktif dari hari kehari, melalui
pengembangan sistem ketahanan pangan yang meliputi subsistem ketersediaan, subsistem
distribusi, dan subsistem konsumsi dengan memanfaatkan sumberdaya setempat secara
berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui proses pemberdayaan masyarakat untuk
mengenali potensi dan kemampuannya, mencari alternatif peluang dan pemecahan masalah
serta mampu mengambil keputusan untuk memanfaatkan sumberdaya alam secara efisien dan
berkelanjutan sehingga tercapai kemandirian.
Kegiatan desa mandiri pangan merupakan: (1) salah satu strategi untuk mempercepat
pembangunan di perdesaan, khususnya dalam memantapkan ketahanan pangan; (2) kegiatan
lintas sektor yang dalam pelaksanaannya memerlukan keterlibatan dan sinergitas antar

instansi dan stakeholder terkait; dan (3) wujud integrasi pengembangan program
pembangunan dari pusat, propinsi, dan kabupaten di pedesaan. Kegiatan desa mandiri pangan
dilaksanakan di desa-desa terpilih yang mempunyai rumah tangga miskin dan beresiko rawan
pangan dan gizi, dengan dasar pemilihannya adalah FIA 2005/FSVA 2009 dan Desa rawan
pangan, dengan jumlah RTM (Rumah Tangga Miskin) lebih dari 30 % dari jumlah kepala
keluarga berdasarkan hasil survey Data Dasar Rumah Tangga (DDRT).
Pemerintah Kabupaten Jombang mulai melaksanakan Program Desa Mandiri Pangan
pada tahun 2010. Yaitu di Desa Gedongombo Kecamatan Ploso dan Desa Gebang Bunder
Kecamatan Plandaan. Kemudian pada tahun 2011 ditambah lagi dengan Desa Pandanblole
Kecamatan Ploso. Tahun 2012 ada penambahan desa untuk program desa mandiri pangan
yaitu Desa Genengjasem dan 2013 di Desa Munungkerep Kecamatan Kabuh.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan dalam kaitannya dengan program desa
mandiri pangan antara lain penelitian yang dilakukan oleh Zuchainah (2009) di Bantul dan
Buhadi (2011) di Klaten menunjukkan hasil bahwa Program Aksi Desa Mandiri Pangan
berhasil meningkatkan status ketahanan pangan masyarakat, namun belum signifikan
menurunkan kemiskinan. Berdasarkan kedua penelitian diatas, kirannya perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut di Kabupaten Jombang, agar dapat diketahui dampak Program Desa
Mandiri Pangan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mereduksi kemiskinan.
Berdasarkan uraian permasalahan tersebut di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk
menganalisa pelaksanaan program desa mandiri pangan di Desa Gedongombo Kecamatan
Ploso Kabupaten Jombang, mengkaji kontribusi program desa mandiri pangan terhadap
tingkat ketahanan pangan dan kemiskinan pada rumah tangga miskin desa yang menerima
program desa mandiri pangan dengan desa yang tidak menerima desa mandiri pangan dan
memberikan rumusan arah strategi dan rancangan program untuk keberlanjutan desa mandiri
pangan di Kabupaten Jombang.

METODE
Lokasi dan Rancangan Penelitian
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis dalam bentuk
deskriptif dan SWOT. Analisis deskriptif dimaksudkan untuk mendeskripsikan secara naratif
tentang pelaksanaan program desa mandiri pangan dan kontribusi program desa mandiri
pangan terhadap tingkat ketahanan pangan dan kemiskinan. Sedangkan analisis SWOT
digunakan untuk memberikan rumusan arah strategi dan rancangan program untuk
keberlanjutan program desa mandiri pangan di Kabupaten Jombang. Penelitian dilakukan

pada bulan November-Desember 2013 di Desa Gedongombo Kecamatan Ploso Kabupaten


Jombang yang merupakan tempat dilaksanakannya program desa mandiri pangan dan Desa
Sidokaton Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang sebagai desa pembanding yang tidak
mendapatkan program desa mandiri pangan.
Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, yakni data primer dan data sekunder,
dengan teknik pengumpulan data : a) Observasi, b) Wawancara mendalam (in depth
interview), c) Studi institusional dan d) studi literatur. Data Sekunder yang dibutuh
diantaranya peta rawan pangan Kabupaten Jombang, data dasar desa, profil desa dan laporan
penggunaan dana bantuan sosial. Data sekunder ini digunakan untuk melengkapi data yang
diperoleh melalui wawancara.
Analisis Data
Dalam penelitian kualitatif ini, informan ditentukan menggunakan cara purposive
sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan menentukan kriteria-kriteria khusus
terhadap sampel yang dipilih. Informan dipilih dengan pertimbangan bahwa orang-orang
tersebut mempunyai informasi dan pengetahuan yang luas tentang program desa mandiri
pangan dan pelaksanaanya. Kemudian data tersebut dianalisis dengan metode analisis : a)
Analisis deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan program desa
mandiri pangan dan kontribusi program desa mandiri pangan terhadap tingkat ketahanan pangan
dan kemiskinan, b) Analisis SWOT sebagai suatu proses merinci keadaan lingkungan internal
dan eksternal guna mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program desa
mandiri pangan ke dalam kategori strengths, weaknesses, opportunities, threats sebagai dasar
untuk menentukan rumusan arah strategi dan rancangan program untuk keberlanjutan
program desa mandiri pangan di Kabupaten Jombang

HASIL PENELITIAN
Pelaksanaan Program Desa Mandiri Pangan di Desa Gedongombo
Tahapan pelaksanaan program desa mandiri pangan telah berlangsung secara logis dan
sistematis sesuai dengan pedoman umum, yang dimulai dari sosialisasi desa mandiri pangan,
penyusunan data dasar desa, penyusunan perencanaan pembangunan desa partisipatif
kemudian dilanjutkan dengan pendampingan, pelatihan, pembentukan kelompok fasilitator
dan pemberdayaan kelompok afinitas dan tahapan ini dijalankan dengan sebesar mungkin
melibatkan masyarakat kedalam proses pelaksanaan. program desa mandiri pangan di Desa
Gedongombo belum sepenuhnya dalam tahap kemandirian, karena masih banyak kegiatan

yang belum berhasil dilaksanakan. Diantaranya adalah belum adanya usaha produktif yang
memanfaatkan sumber daya lokal, belum adanya jaringan usaha dan distribusi produk dengan
mitra usaha. Selain itu usaha diversifikasi pangan dan produk sulit dilakukan, karena
keterbatasan lahan dan sulitnya jaringan pemasaran. Yang berhasil sampai dengan tahap
kemandirian ini adalah bergulirnya dana bantuan sosial untuk menambah modal usaha bagi
kelompok afinitas dan tersedianya sarana dan prasarana pendukung program.
Kontribusi Program Desa Mandiri Pangan Terhadap Tingkat Ketahanan Pangan dan
Kemiskinan Kelompok
Berdasarkan Analisis Skor Diversifikasi Pangan (SDP) yang dapat dilihat pada tabel 1,
masyarakat Desa Gedongombo lebih tahan pangan daripada masyarakat Desa Sidokaton,
karena ragama pangannya lebih banyak. Skor Diversifikasi Pangan (SDP) tersebar dari skor 2
sampai dengan 8 dan persentase terbesar adalah skor 7 baik pada Desa Gedongombo maupun
Desa Sidokaton. Berdasarkan data sebaran SDP, rumah tangga yang termasuk kategori tahan
pangan (jika SDP 5) sebanyak 100 persen pada Desa Gedongombo dan Desa Sidokaton.
Sedangkan jumlah rumah tangga yang termasuk kategori tidak tahan pangan (jika SDP < 5)
pada kedua desa tidak ada. Dengan demikian secara umum pada kedua desa itu, jumlah rumah
tangga yang termasuk dalam kategori tahan pangan sebanyak 100 persen, tidak ada rumah
tangga yang termasuk dalam rumah tangga tidak tahan pangan.
Ketersediaan pangan pangan dapat dilihat pada tabel 2. Dari tabel tersebut dapat
diketahui bahwa ketersediaan pangan warga Desa Gedongombo dan Sidokaton sebagian besar
dipenuhi dengan membeli, karena mereka kebanyakan tidak mempunyai sawah sehingga
mempunyai produksi pangan yang rendah. Desa Sidokaton lebih dekat dengan pasar daripada
Desa Gedongombo, tetapi untuk pendapatan masyarakat Desa Gedongombo lebih besar
daripada pendapatan masyarakat Desa Sidokaton, sebab sebagian besar masyarakat
Gedongombo mempunyai usaha sendiri diluar usaha tani. Ketersediaan pangan rumah tangga
di pedesaan pada umumnya bersumber dari hasil produksi usaha tani dan pembelian. Pada
rumah tangga dengan produksi usaha tani tinggi, ketersediaan pangan dipenuhi dari hasil
produksinya sendiri, sementara rumah tangga dengan jumlah produksi rendah ketersediaan
pangannya dipenuhi dari produksi sendiri serta membeli dari pasar. Pada Desa Gedongombo,
ketersediaan pangannya sebagian besar cukup tinggi, meskipun tidak mempunyai lahan
mereka memenuhi ketersediaan pangannya dengan membeli. Sedangkan Desa Sidokaton yang
pekerjaan utama penduduknya adalah buruh tani, ketersediaan pangannya adalah sendang dan
rendah disebabkan karena penguasaan sumber daya lahan yang sempit, sehingga produksi
padi yang dihasilkan sedikit.

Seperti yang dilihat pada tabel 3, rata-rata konsumsi energi jika dilihat dari indikator
kecukupan energi sebesar 2000 kkal/kapita/hari, baik Desa Gedongombo maupun Desa
Sidokaton sudah memenuhi kecukupan energi, tetapi kecukupan energi Desa Gedongombo
lebih tinggi dibandingkan di Desa Sidokaton. Konsumsi energi terbesar berada pada
karbohidrat, oleh sebab itu dengan memperbanyak karbohidrat maka akan diperoleh sumber
energi yang tinggi. Kecukupan energi pada rumah tangga Desa Gedongombo dan Desa
Sidokaton disebabkan oleh adanya kestabilan ekonomi dari penerimaan yang diperoleh, yang
berimbas pada tingkat kecukupan energi rumah tangga dikarenakan daya beli masyarakat
terhadap bahan pangan dan keanekaragaman bahan pangan.
Sementara itu untuk konsumsi protein, jika dilihat dari indikator kecukupan protein
sebesar 50 gram/kapita/hari rata-rata penduduk Desa Gedongombo dan Desa Sidokaton
mengkonsumsi protein lebih dari cukup, tetapi penduduk Desa Sidokaton tingkat konsumsi
protein hewaninya kurang. Karena tingkat pengetahuan akan gizi dan ketidakmampuan untuk
memenuhi protein, menjadikan tingkat konsumsi protein Desa Sidokaton lebih rendah
daripada Desa Gedongombo. Kalau untuk kebutuhan protein nabati, Desa Sidokaton yang
merupakan daerah penghasil sayuran dapat terpernuhi meskipun tidak seberapa, tetapi untuk
memenuhi protein hewani mereka kesulitan untuk memperolehnya. Protein hewani dipenuhi
dengan membeli, karena sebagian besar dari mereka tidak mempunyai hewan ternak atau
peliharaan.
Untuk mengetahui kontribusi program desa mandiri pangan dalam mereduksi
kemiskinan, dilakukan dengan mengetahui tingkat pendapatan dan pengeluaran (daya beli)
rumah tangga. Indikator kemiskinan yang digunakan menggunakan ukuran kemiskinan yang
dikeluarkan oleh BPS Kabupaten Jombang yaitu pengeluaran per kapita per bulan sebesar
Rp.253.273,00. Pendapatan rumah tangga di pedesaan pada umumnya bersumber dari usaha
tani dan luar usaha tani. Pendapatan rumah tangga pada Desa Gedongombo lebih besar jika
dibandingkan dengan Desa Sidokaton, seperti yang terlihat pada tabel 4. Pendapatan
masyarakat Desa Gedongombo lebih besar daripada pendapatan masyarakat Desa Sidokaton.
Pengeluaran (daya beli) masyarakat tergantung pada pendapatan yang dimiliki, semakin besar
pendapatan semakin besar pengeluaran. Tetapi pengeluaran untuk konsumsi menjadi lebih
sedikit jika pendapatannya besar. Rumah tangga yang mempunyai pendapatan relatif tinggi,
jumlah konsumsi pangan lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik disbanding dengan
rumah tangga yang berpendapatan rendah dimana jumlah konsumsi pangan lebih sedikit dan
kualitas yang kurang baik.

Arah Strategi dan Rancangan Program Bagi Keberlanjutan Program Desa Mandiri
Pangan
Rancangan strategi bagi keberlanjutan Program Desa Mandiri Pangan di Kabupaten
Jombang berdasarkan hasil Analisis SWOT lebih di prioritaskan pada kombinasi antara
Strenght-Opotunity (SO) yaitu memaksimalkan kekuatan dan memanfaatkan peluang yang
ada tanpa mengabaikan strategi strategi yang lain. Strategi yang di prioritaskan adalah a)
menerbitkan regulasi melalui peraturan Bupati agar desa tersebut dibina untuk
mengembangkan usaha; b) menjalin kemitraan dengan lembaga-lembaga permodalan dalam
rangka memperkuat usaha; c) memfasilitasi pengembangan usaha pangan segar, pangan
olahan dan pangan siap saji berbasis sumberdaya lokal; dan d) mengoptimalkan diversifikasi
pangan berbasis sumber daya lokal.

PEMBAHASAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa program desa mandiri pangan mampu meningkatkan
pendapatan rumah tangga kelompok afinitas melalui penyaluran bantuan sosial dan pelatihan.
Dengan adanya peningkatan pendapatan tentu saja ketahanan pangan rumah tangga akan
meningkat sehingga kemiskinan dapat dikurangi. Hasil analisis SWOT menunjukan bahwa
posisi strategi pelaksanaan program Desa Mandiri Pangan di Kabupaten Jombang, pada
pemetaan analisis lingkungan strategis (lingkungan internal dan eksternal) berada pada
kuadran pertama (I) atau pada posisi progresive atau pada posisi strategi S-O. Hal ini
memberikan indikasi bahwa peluang strategi strategi pelaksanaan program Desa Mandiri
Pangan berada dalam keadaan sangat menguntungkan, dimana selain memiliki kekuatan yang
lebih besar dari kelemahan juga memiliki peluang yang lebih besar dari pada ancaman yang
ada.
Mengacu pada pedoman umum Program Desa Mandiri Pangan maka secara kontekstual
keberadaan program ini dianggap sesuai untuk menjawab permasalahan yang ada di
masyarakat (Jamal, H, 2010) . Sebagai justifikasi terhadap pernyataan diatas paling tidak ada
tiga hal yang dapat dijadikan alasan. Pertama, dari hasil pengamatan lapangan ternyata
program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan bagi masyarakat
kurang mampu (rawan pangan) masih sangat dibutuhkan. Melihat kondisi masyarakat di
sejumlah lokasi program, dengan berbagai keterbatasannya (SDA, SDM dan prasarana
penunjang), maka peran Program Desa Mandiri Pangan menjadi sangat strategis. Kedua,
dijadikannya rumah tangga miskin sebagai kelompok sasaran peserta program. Hal ini sejalan
dengan pemikiran bahwa terdapat hubungan yang erat antara tingkat penghasilan dengan

ketahanan pangan tingkat rumah tangga. Ketiga, menggunakan pendekatan pemberdayaan


masyarakat agar peserta program dapat mengenali potensi dan sumberdaya yang mereka
miliki sehingga mampu mengatasi masalah dan menolong dirinya sendiri, agar dihasilkan
program yang berkelanjutan (sustainable). Hal ini diperlukan untuk menghindari terulangnya
berbagai kasus program pemerintah yang berkaitan dengan peningkatan ketahanan pangan
yang ternyata tidak mampu berjalan secara berkelanjutan karena kurangnya aspek
pemberdayaan masyarakat (Jamal, E, 2008).
Ketahanan pangan dihasilkan oleh suatu sistem ketahanan pangan yang terdiri tiga
subsistem, yaitu: (1) ketersediaan pangan dalam jumlah dan jenis yang cukup untuk seluruh
masyarakat, (2) distribusi pangan yang lancar dan merata, dan (3) keterjangkauan pangan
setiap individu yang memenuhi kecukupan gizi dan kaidah kesehatan. Permasalahan dalam
mencapai ketahanan pangan adalah ketidakseimbangan antara ketersediaan dengan
keterjangkauan. Ketersediaan pangan ditinjau dari kuantitas produksi, baik karena kemajuan
teknologi maupun bertambahnya luas panen. Keterjangkauan tercermin dari jumlah dan jenis
pangan yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Data konsumsi pangan secara riil dapat
menunjukkan kemampuan rumah tangga dalam mengakses pangan dan menggambarkan
tingkat kecukupan pangan dalam rumah tangga. Perkembangan tingkat konsumsi pangan
secara implisit juga merefleksikan tingkat pendapatan atau daya beli masyarakat terhadap
pangan. Tingkat kecukupan pangan antara lain dapat diindikasikan dari pemenuhan kebutuhan
energi dan protein. Pola konsumsi yang relatif sama antar individu, antar waktu, dan antar
daerah, mengakibatkan adanya masa-masa defisit dan lokasi-lokasi defisit pangan.
Mekanisme pasar dan distribusi pangan antar lokasi serta antar waktu dengan mengandalkan
stok akan berpengaruh pada keseimbangan antara ketersediaan dan keterjangkauan, serta
pada harga yang terjadi di pasar. Faktor keseimbangan yang terefleksi pada harga sangat
berkaitan dengan daya beli rumah tangga terhadap pangan. Dengan demikian, meskipun
komoditas pangan tersedia di pasar, namun apabila harga terlalu tinggi dan tidak terjangkau
daya beli rumah tangga, maka rumah tangga tidak akan dapat mengakses pangan yang
tersedia.
Ketersediaan pangan adalah jumlah stok pangan utama (beras) yang tersedia dalam
rumah tangga. Masalah yang menghambat ketersediaan pangan adalah kurangnya
produktivitas lahan. Hal ini semakin nyata apabila dikaitkan dengan semakin menyempitnya
luas areal panen yang diakibatkan oleh faktor konversi lahan secara terus menerus. Konversi
tersebut dalam bentuk penggunaan lahan persawahan pertanian menjadi lahan non-pertanian,
seperti untuk perumahan, sarana dan prasanan yang lain. Pengalihan fungsi lahan dari fungsi

pertanian menjadi fungsi bangunan menjadi penyebab utama berkurangnya lahan pertanian,
yang selanjutnya berdampak pada menurunnya produksi pangan khususnya beras, sementara
jumlah penduduk terus meningkat signifikan. Faktor penyebab lain adalah perubahan iklim
global yang cenderung destruktif terhadap tanaman padi seperti, serangan wereng secara
mendadak serta curah hujan yang terlalu tinggi dan terus menerus. Pangan lokal atau pangan
tradisional dapat berperan sebagai survival strategi bagi masyarakat golongan ekonomi lemah
dalam sistem ketahanan pangan. Pola pangan tradisional dapat menjadi pelengkap makanan
pokok selain beras. Adanya penggunaan bahan lokal yang biasanya lebih terjamin
ketersediaanya sebagai makanan pokok yang murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat
setempat, berdampat pada penambahan pendapatan riil rumah tangga (Lestari, dkk., 2007).
Faktor yang berpengaruh nyata terhadap tingkat kecukupan gizi rumah tangga pada
masyarakat kelompok mandiri pangan menurut Bambang, dkk. (2012) adalah tingkat
pendidikan kepala rumah tangga, tanggungan keluarga, harga bahan pangan dominan dan
ketersedian bahan pangan. Berbicara mengenai mutu pangan, maka keamanan pangan
merupakan syarat mutu pangan yang baik. Tidak ada artinya berbicara cita rasa dan nilai gizi
atau sifat fungsional yang baik jika produk pangan tersebut tidak aman untuk dikonsumsi
(Hariyadi, 2010). Konsumsi pangan dengan gizi yang cukup dan seimbang merupakan salah
satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan intelegensia manusia. Jumlah dan
kualitas konsumsi pangan dan gizi dalam rumah tangga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi,
pengetahuan dan budaya masayarakat. Faktor-faktor yang sangat mempengaruhi konsumsi
pangan adalah jenis, jumlah produksi dan ketersediaan pangan. Untuk tingkat konsumsi
(Rangkuti, P., 2009), lebih banyak ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pangan yang
dikonsumsi. Kualitas pangan mencerminkan adanya zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh yang
terdapat dalam bahan pangan, sedangkan kuantitas pangan mencerminkan jumlah setiap gizi
dalam suatu bahan pangan. Untuk mencapai keadaan gizi yang baik, maka unsur kualitas dan
kuantitas harus dapat terpenuhi.
Menurut Hidayat, dkk. (2011) kemampuan rumah tangga miskin dalam memenuhi
kebutuhan

keuangan sesudah

mengikuti

Program Desa Mandiri Pangan lebih

baik

dibandingkan dengan kemampuan rumah tangga miskin dalam memenuhi kebutuhan


keuangan sebelum mengikuti program tersebut. Dengan kata lain bahwa program desa
mandiri pangan mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga miskin yang menjadi sasaran
program. Dengan pendapatan yang meningkat, maka kebutuhan akan konsumsi pangan akan
terpenuhi. Hal ini sesuai dengan pendapat (Darwis, dkk, 2011) yang menyatakan bahwa
meningkatnya pendapatan akan memperbesar kecenderungan untuk menambah atau

memperbesar kuantitas paket kombinasi pangan yang dibelinya. Pada rumah tangga yang
tingkat pendapatan per kapitanya tinggi (tidak miskin), konsumsi energi (kal/kap/hari) lebih
tinggi pula jika dibandingkan dengan rumah tangga dengan pendapatan per kapita sedang dan
rendah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rumah tangga yang mempunyai pendapatan
relatif tinggi, jumlah konsumsi pangan lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik
dibandingkan dengan rumah tangga yang mempunyai pendapatan lebih rendah dimana jumlah
konsumsi lebih sedikit dengan kualitas yang kurang baik.

KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian sebagaimana diuraikan sebelumnya, maka
dapat disimpulkan bahwa Pelaksanaan Program Desa Mandiri Pangan di Desa Gedongombo
Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang sudah berjalan dengan relatif baik dan telah sesuai
dengan pedoman. Tingkat ketahanan pangan pada Desa Gedongombo dan Desa Sidokaton,
keduanya merupakan desa yang tahan pangan, tetapi Desa Gedongombo sebagai desa
penerima program desa mandiri pangan mempunyai tingkat ketahanan pangan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan Desa Sidokaton yang tidak menerima program. Sedangkan
tingkat kemiskinan dilihat dari garis kemiskinan BPS menunjukkan bahwa Desa
Gedongombo dan Desa Sidokaton sama-sama berada diatas garis kemiskinan, namun rumah
tangga Desa Gedongombo sebagai penerima program desa mandiri pangan berada jauh lebih
tinggi diatas garis kemiskinan daripada rumah tangga di Desa Sidokaton. Rancangan strategi
bagi keberlanjutan Program Desa Mandiri Pangan di prioritaskan pada menerbitkan regulasi
melalui peraturan Bupati agar desa tersebut dibina untuk mengembangkan usaha; menjalin
kemitraan dengan lembaga-lembaga permodalan dalam rangka memperkuat usaha;
memfasilitasi pengembangan usaha pangan segar, pangan olahan dan pangan siap saji
berbasis sumberdaya lokal; dan mengoptimalkan diversifikasi pangan berbasis sumber daya
lokal.
Sedangkan untuk sarannya adalah diperlukan tambahan anggaran untuk pembinaan
lebih lanjut desa yang telah melalui tahap kemandirian, penambahan pihak yang dilibatkan
dan peningkatan kinerja Dewan Ketahanan Pangan yang bertanggung jawab dalam
pelaksanaan program desa mandiri pangan, agar benar-benar berorientasi pada tujuan
program.

DAFTAR PUSTAKA
Bambang, J.S., Nabiu, M & Sugiarti, S. (2012). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat
Kecukupan Gizi Mandiri Pangan Di Desa Barat Wetan Kecamatan Kabawetan
Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu. Jurnal Agribis Vol. IV No. 1 Januari
2012: 23-34
Buhadi. (2011). Program Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Klaten Kasus: Program
Aksi Desa Mandiri Pangan di Kecamatan Bayat, Kecamatan Gantiwarno (Tesis).
Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Darwanto, Dwidjono H. (2005). Ketahanan Pangan Berbasis Produksi dan Kesejahteraan
Petani. Ilmu Pertanian Vol. 12 No.2: 152-164.
Darwis, V., & Rusastra, W. (2011). Optimalisasi Pemberdayaan Masyarakat Desa Melalui
Sinergi Program PUAP dengan Desa Mandiri Pangan. Jurnal Analisis Kebijakan
Pertanian, Volume 9, No.2, Juni 2011: 125-142.
Hariyadi, P. (2010). Penguatan Industri Penghasil Nilai Tambah Berbasis Potensi Lokal,
Peranan Teknologi Pangan Untuk Kemandirian Pangan. Jurnal Pangan, Volume 19,
No. 4, Desember 2010: 295-301.
Hidayat, K & Nugraha, J.P. (2011). Program Aksi Desa Mandiri Pangan: proses pelaksanaan
dan dampaknya terhadap kondisi Sosial Ekonomi Rumahtangga Miskin di Desa
Tamanasri, Kabupaten Pacitan. HABITAT Volume XXII, No. 2, Bulan Agustus
2011: 84-97
Jamal, E. (2008). Kajian Kritis Terhadap Pelaksanaan Pembangunan Pedesaan di Indonesia.
Jurnal Forum Penelitian Agro Ekonomi, Volume 26, No.2, Desember 2008: 92-102.
Jamal, H. (2010). Kinerja Program Aksi Desa Mandiri Pangan Di Provinsi Jambi. Jurnal
Binapraja Vol. II nomor 2, Juni 2010: 25-37.
Lestari, P.A.S., Maksum, M., & Widodo, K.H. 2007. Peran Makanan Tradisional Berbahan
Baku Ubi Kayu Terhadap Sistem Ketahanan Pangan di Tinjau dari Perspektif
Ekonomi Rumah Tangga. Jurnal AGRITECH, Vol.27, No.1, Maret, 2007.
Rangkuti, P. (2009). Strategi Komunikasi Membangun Kemandirian Pangan. Jurnal Litbang
Pertanian, Volume, 28, No.2, Mei 2009 .
Zuchainah, S. (2009). Evaluasi Program Aksi Desa Mandiri Pangan di Kabupaten Bantul
(Tesis). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

LAMPIRAN
Tabel 1. Sebaran rumah tangga berdasarkan Skor Diversifikasi Pangan pada Desa
Gedongombo dan Desa Sidokaton
Skor
Jumlah Rumah Tangga (%)
Diversifikasi
Desa Gedongombo
Desa Sidokaton
Pangan
2
0 (0%)
0 (0%)
3
0 (0%)
0 (0%)
4
0 (0%)
0 (0%)
5
0 (0%)
3 (12%)
6
4 (16%)
10 (40%)
7
17(68%)
12 (48%)
8
4 (16%)
0 (0%)
Total
25 (100)
25 (100)
Sumber: Data primer diolah, 2013

Tabel 2. Tingkat ketersediaan pangan rumah tangga pada Desa Gedongombo dan Desa
Sidokaton
Tingkat Ketersediaan
Jumlah Rumah Tangga (%)
Pangan
Desa Gedongombo
Desa Sidokaton
(Kal/kap/hari)
Rendah (<1700)
2 (8)
10 (40)
Sedang (1700-1950)
5 (20)
12 (48)
Tinggi (>1950)
18 (72)
3 (12)
Total
25 (100)
25 (100)
Sumber: Data primer diolah, 2013
Tabel 3. Sebaran rumah tangga berdasarkan persentase konsumsi energi dan protein
Konsumsi
Energi
(Kkal/kap/hari)
Gedongombo
2260
Sidokaton
2160
Sumber: Data primer diolah, 2013
Nama Desa

Protein (Gram/Kap/Hari)
Nabati

Hewani

Total

50.5
40,5

20
12,5

70,5
53

Tabel 4. Tingkat pendapatan dan pengeluaran per kapita per bulan


Pendapatan dan Pengeluaran
Usaha Tani
Luar Usaha Tani
Total
Konsumsi
Pengeluaran Luar Konsumsi
Total
Sumber: Data primer diolah, 2013
Pendapatan

Rata-rata (Rp/Kap/Bln)
Desa Gedongombo
Desa Sidokaton
467.000,00
425.000,00
433.800,00
135.600,00
900.800,00
560.600,00
439.800,00
447.600,00
194.800,00
94.600,00
634.600,00
542.200,00