Anda di halaman 1dari 41

INTERAKSI OBAT-OBAT

KARDIOVASKULAR

ANTIARITMIA
Aritmia : gangguan laju & ritme jantung disebabkan penyakit atau
pemakaian obat-obat tertentu.
Penggolongan :
Kelas I : pemblok kanal na (kuinidin, prokainamid, disopiramid, dsb)
Kelas II : pemblok reseptor -adrenergik (propanolol, timolol,
metoprolol, dsb)
Kelas III : pemblok kanal K & memperpanjang depolarisasi
(amiodaron, sotalol, bretilium, ibutilid)
Kelas IV : pemblok kanal kalsium (verapamil, diltiazem)

Interaksi kuinidin
Obat-obat yang menginduksi enzim hepatik (
fenobarbital, fenitoin) memperpendek durasi
aksi kuinidin karena peningkatan laju
metabolisme.
Kuinidin meningkatkan kadar serum digoxin
(menurunkan klirens, volume distribusi dan
afinitas digoxin terhadap reseptor jaringan) dan
digitoxin (dengan menurunkan total klirens
digitoxin)

Interaksi flekainid

Simetidin mengurangi klirens flekainid total


sebesar 13-27% dan memperpanjang waktu
paro eliminasi pada orang sehat.
Pemberian flekainid bersama digoksin
meningkatkan kadar digoksin
Pemberian bersama propanolol menaikkan
kadar plasma keduanya.

Interaksi lidokain

Beta bloker dapat mengurangi aliran darah hati


pada penderita jantung dan akan menyebabkan
penurunan kecepatan metabolisme lidokain
sehingga meningkatkan kadar plasma.
Obat-obat yang bersifat basa dapat menggeser
lidokain dari ikatannya dengan asam -1glikoprotein.
Kadar lidokain plasma meningkat pada pasien yang
diterapi simetidin, sehingga selama pemberian
simetidin perlu penyesuaian dosis lidokain.
Lidokain dapat memperkuat efek suksinilkolin

Interaksi amiodaron

Amiodaron menghambat aktivitas enzim hepatik mengurangi


metabolisme antikoagulan, antiaritmia lain, fenitoin dan
siklosporin.
Kadar flekainid meningkat hingga 60% pada pemakaian bersama
dengan amiodaron, karena penurunan metabolisme dan/atau
klirens renal dari flekainid.
Kadar kuinidin meningkat hingga 60% pada pemakaian bersama
dengan amiodaron, karena penurunan metabolisme dan/atau
klirens renal dari kuinidin, juga penggeseran kuinidin dari
ikatannya dengan protein.
Kadar prokainamid meningkat hingga 55% pada pemakaian
bersama dengan amiodaron, diduga karena penurunan
metabolisme dan/atau klirens renal dari prokainamid.

Interaksi amiodaron

Pemakaian amiodaron bersama beta bloker atau


pemblok kanal Ca akan menyebabkan bradikardi
dan sinus arrest.
Amiodaron meningkatkan kadar plasma digoxin.
Pemakaian bersama amiodaron dengan kumarin
atau warfarin menyebabkan peningkatan waktu
pembekuan darah, sehingga perlu penurunan dosis
antikoagulan.
Pemakaian bersama amiodaron dengan fenitoin
bisa menimbulkan toksisitas fenitoin karena
pengurangan metabolisme fenitoin.

PENGHAMBAT RESEPTOR ADRENERGIK

. Penghambat reseptor adrenergik (beta


bloker)
Antagonis -adrenergik mempu berikatan dengan
reseptor adrenergik-, sehingga dapat menggeser
ikatan reseptor ini dengan senyawa-senyawa
endogen seperti epinefrin dan norepinefrin. Beta
bloker secara luas digunakan untuk terapi bermacam
penyakit kardiovaskular seperti angina pektoris,
hipertensi, infark miokardial akut, gagal jantung
karena disfungsi sistol atau diastol dan terapi aritmia.
Contoh dari beta bloker antara lain propanolol,
metoprolol, atenolol, pindololm dll.

Interaksi beta bloker


Penurunan absorpsi
Absorpsi propanolol diturunkan oleh antasida dan
kolestiramin (juga kolestipol) minum propanolol 1 jam
sebelum obat-obat tersebut.
Perubahan metabolisme
Simetidin menghambat enzim sitokrom menurunkan
metabolisme propanolol peningkatan kadar plasma .
Obat-obat lain yang poten menghambat enzim ini sehingga
menghambat metabolisme propanolo adalah kuinidin,
propafenon, klorpromazin, flekainid, fluoksetin dan
antidepresan trisiklik. Sebaliknya propanolol juga
menghambat metabolisme hepatik dan meningkatkan kadar
plasma obat-obat lain (flekainid, lidokain, nifedipin) melalui
penurunan aliran darah ke hati.

Obat

Efek yang dihasilkan

Pengatasan

Absorpsi
Aluminium

Penurunan adsorpsi -bloker dan Menghindari kombinasi Al


penurunan efek terapetik
dan -bloker

Klosetiramin,
kolestipol

Penurunan adsorpsi -bloker dan Menghindari


kombinasi
penurunan efek terapetik
kolestiramin dan -bloker

Metabolisme
Simetidin

Memperpanjang
propanolol

waktu

Aminofilin

Inhibisi metabolisme propanolol Observasi respon pasien

Lidokain

Pretreatment dengan propanolol Kombinasi harus dengan


meningkatkan kadar lidokain perngawasan, gunakan dosis
dan toksisitas potensialnya
lidokain lebih rendah

Rifampisin

Peningkatan
bloker

metabolisme

paro Kombinasi
harus dengan
pengawasan

- Observasi respon pasien

Interaksi farmakodinamik
Ca
channel Potensiasi
bradikardi, Hindari kombinasi ini
inhibitor
miodepresi dan hipotensi
(verapamil,
diltiazem)
Amiodaron

Dapat
arrest

menginduksi

cardiac Kombinasi harus dengan


pengawasan

Glikosida
digitalis

Potensiasi bradikardi

Observasi respon pasien

Fenitoin

Adisi efek depresan jantung

Fenitoin
diberikan
dengan pengawasan

Kuinidin

Adisi efek depresan jantung

Observasi respon pasien

Antidepresan
trisiklik

Menghambat efek inotropik Observasi respon pasien


negatif dan kronotropik dari bloker

iv

Klonidin

Hipertensi
klonidin

pada

Levodopa

Antagonis
efek
hipotensi Monitor perubahan respon
levodopa dan inotropik positif

Metildopa

Hipertensi

Monitor terhadap hipertensi

Fenilpropanolam Hipertensi
in

Monitor terhadap hipertensi

Indometasin

Penghambtan
antihipertensi

Fenotiazin

Efek hipotensi aditif

Antidiabet oral

Peningkatan
hipertensi

penghentian Monitor respon hipertensi,


hentikan -bloker sebelum
klonidin

respon Observasi respon pasien


Monitor perubahan respon,
terutama pada fenotiazin
dosis tinggi
hipogliemi, Monitor perubahan respon
diabetik

Penghambat reseptor adrenergik


bloker)

(alfa

Hanya 1-bloker yang berguna untuk terapi


hipertensi.
Contoh : prazosin, terazosin, doksazosin,
bunazosin
1-bloker bekerja menghambat reseptor 1 di
pembuluh darah terhadap efek vasokonstriksi
NE dan E terjadi dilatasi arteriol dan vena.

Penghambat reseptor adrenergik (alfabloker)


Golongan obat ini efektif menurunkan tekanan
darah secara akut tapi efeknya didapat dari
peningaktan cardiac output sehingga banyak
efek sampingnya. Obat-obat alfa-bloker yang
selektif adalah prazosin, terazosin, dan
doxazosin (yang efeknya paling panjang)
adalah kelompok antihipertensi yang juga
mempunyai efek menurunkan kolesterol LDL
(low density lipoprotein) dan meningkatkan
kadar HDL.

Penghambat reseptor adrenergik (alfabloker)


Golongan obat ini efektif menurunkan tekanan
darah secara akut tapi efeknya didapat dari
peningaktan cardiac output sehingga banyak
efek sampingnya. Obat-obat alfa-bloker yang
selektif adalah prazosin, terazosin, dan
doxazosin (yang efeknya paling panjang)
adalah kelompok antihipertensi yang juga
mempunyai efek menurunkan kolesterol LDL
(low density lipoprotein) dan meningkatkan
kadar HDL.

Interaksi alfa-bloker
Doxazosin tidak menunjukkan interaksi pada pemakaian
bersama dengan obat-obat lain seperti AINS (asetaminofen,
aspirin, ibuprofen, indometasin), antibiotik (eritromisin,
trimetoprim-sulfametoksazol, amoksisilin), antihistamin
(klorfeniramin), kortikosteroid obat kardiovaskular (atenolol,
HCT, propanolol), obat saluran cerna (antasid), obat
hipoglikemik dan endokrin, sedativ dan trankuiliser
(diazepam).
Kombinasi dengan antihipertensi lain (-bloker, pemblok kanal
Ca, diuretik, penghambat ACE) dapat menyebabkan efek adisi
penurunan tekanan darah. Efek hipotensif prazosin meningkat
bila digunakan bersama alkohol atau antipsikotik.

VASODILATOR
Penghambat kanal kalsium

Penghambat kanal Ca sudah digunakan


secara luas untuk terapi hipertensi, angina,
aritmia dan gangguan jantung lain.
Penghambat kanal Ca digolongkan menjadi 2
yaitu dihidropiridin (israpidin, felodipin,
nifedipin, dll) dan verapamil dan diltiazem.

Interaksi obat
Dihidropiridin
Penginduksi sitokrom P450 3A :
antikonvulsan (fenitoin, fenobarbital,
karbamazepin) meningkatkan metabolisme
lintas pertama dan menurunkan
bioavailabilitas dihidropiridin. Sebaliknya
ketokonazol, eritromisin, klaritromisin,
simetidin menghambat enzim sitokrom ini
meningkatkan bioavailabilitas dihidropiridin.

Verapamil
Penghambat atau penginduksi sitokrom P450 3A
meningkatkan atau menurunkan bioavailabilitas verapamil.
Sebaliknya verapamil juga dapat menghambat enzim ini,
sehingga pemakaian bersama dengan obat-obat lain yang
dimetabolisme oleh sitokrom ini memerlukan monitoring
khusus. Contoh obat yang berinteraksi dengan verapamil
adalah siklosporin, dioxin, digitoxin, kuinidin, terfenadin dan
sebagain besar dihidropiridin.
Verapamil juga dapat menggeser digitalis dari ikatan dengan
protein sehingga meningkatkan kadar digitalis bebas dan
dapat terjadi toksisitas.

Penghambat ACE (ACE inhibitor)


Penghambat ACE mengambat secara spesifik enzim
konversi yang memutuskan ikatan peptidildipeptida
pada angiotensin I sehingga tidak terbentuk
angiotensin II. Karena angiotensin II tidak terbentuk
sedangkan angiotensin I tidak aktif maka terjadi
kelumpuhan/kegagalan sistem renin-angiotensin
sehingga hilanglah efek endogen dari angiotensin II
yaitu vasokonstriksi dan stimulan sintesis aldosteron.
Contoh obat-obat penghambat ACE adalah kaptopril,
enalapril, lisinopril, dll.

Interaksi
Antasid menurunkan absorpsi saluran cerna
kaptopril jika digunakan bersama.
Penghambat ACE meningkatkan aktivitas antidiaber
oral termasuk golongan gliburid dan biguanid,
sehingga bisa terjadi hipoglikemia
Kaptopril dapat meningkatkan efek obat-obat
antihipertensi dan diuretik bila diberikan bersama,
dimana peningkatan efek ini dapat dihambat oleh
indometasin dan AINS lain.

Interaksi
Kadar serum digoxin meningkat 15-30% pada pasien gagal
jantung yang menerima kaptopril dan digoxin bersamasama. Tetapi hiperkalemia yang diinduksi kaptopril dapat
menghentikan peningkatan kadar digoxin sehingga secara
klinis pemakaian bersama kedua obat ini tidak
menunjukkan efek samping berarti.
Probenesid menurunkan klirens renal kaptopril
menyebabkan kadar serum yang lebih tinggi, sehingga bisa
terjadi hipotensi.
Kaptopril menurunkan ekskresi renal litium menyebabkan
toksisitas litium.

Antagonis reseptor AT1


Antagonis reseptor AT1 adalah pemblok katan
angiotensin II dengan reseptor tipe (AT1).
Blokade reseptor ini menurunkan tekanan
darah dan kadar plasma aldosteron. Contoh
golongan ini adalah losartan, valsartan,
irbesartan, candesartan, dll.

Interaksi

Losartan adalah suatu prodrug yang menjadi bentuk aktif


setelah dimetabolisme di hati oleh isoenzim sitokrom P450
C9 dan 3A. Obat-obat yang menghambat enzim sitokrom
P450 C9 (fluvastatin, fluvoxamin, metronidazol, ritonavir)
dan sitokrom P450 3A dapat menghambat konversi losartan
menjadi bentuk aktifnya sehingga mengurangi
efektivitasnya.
Irbesartan dimetabolisme di hati oleh sitokrom P450 C9.
Obat-obat yang menginduksi enzim ini akan meningkatkan
metabolisme dan menurunkan efektivitas irbesartan.
Valsartan dan eprosartan tidak membutuhkan aktivasi dan
tidak dimetabolisme secara signifikan sehingga resiko
interaksi obat kecil.

DIGITALIS

Mekanisme kerja :

Sifat farmakodinamik utama inotropik positif, yaitu


meningkatkan kontraksi miokardium.
Pada penderita yang mengalami gangguan fungsi sistolik,
efek ini akan menyebabkan peningkatan curah jantung
sehingga tekanan darah vena berkurang, ukuran jantung
mengecil, dan refleks takikardi yang merupakan kompensasi
jantung diperlambat.
Efek inotropik positif digitalis didasarkan atas 2 mekanisme,
yaitu
a. penghambatan enzim Na+K+adenosin trifosfatase (NaKATPase) yang terikat di membran sel miokard dan berperan
dalam mekanisme pompa Na+, dan
b. peningkatan arus masuk lambat (slow inward current)
Ca+ ke intrasel pada potensial aksi.

Interaksi farmakokinetik
kolestiramin, kolestipol, kaolin-pektin menurunkan
absorpsi digoksin. Pisahkan pemakaian.
Metoklopramid mengurangi absorpsi tablet
digoksin
Amiodaron mengurangi klirens digoksin dan dapat
menyebabkan efek aditif terhadap denyut jantung.
Sebaiknya dosis digoksin dikurangi 50% bila
diberikan bersama amiodaron
Siklosporin meningkatkan kadar plasma digoksin,
disebabkan oleh pengurangan klirens renal.
Eritromisin, klaritromisin dan tetrasiklin dapat
meningkatkan kadar plasma digoksin.

Interaksi farmakokinetik

Indometasin meningkatkan kadar plasma dan toksisitas


digoksin.
Itrakonazol meningkatkan kadar plasma digoksin.
Neomisin menurunkan absorpsi digoksin
Propafenon meningkatkan kadar plasma digoksin.
Propiltiourasil meningkatkan kadar plasma digoksin
dengan cara mengurangi homon tiroid
Kuinidin (perhatikan juga hidroksiklorokuin dan kuinin)
meningkatkan kadar plasma digoksin, karena menggeser
digitalis dari ikatannya di jaringan.

Interaksi farmakokinetik

Rifampisin dan senyawa-senyawa antkonvulsan (fenitoin,


fenobarbital, karbamazepin) mengurangi absorpsi
digoksin.
Spironolakton dapat meningkatkan kadar plasma
digoksin (dengan menurunkan klirens), tapi dapat juga
menurunkan efek inotropik digoksin. Perlu dilakukan
monitor ketat pada kombinasi kedua obat ini.
Sulfasalazin menurunkan absorpsi digoksin
Obat-obat penginduksi enzim metabolisme hati
(fenlbutazon, fenobarbital, fenitoin, rifamoisin, dll)
mempercepat metabolisme digitoksin.

Interaksi farmakodinamik

Amilorid mengurangi respon inotropik digoksin


Senyawa beta bloker (mis. Propanolol) memberikan
efek aditid pada denyut jantung
Suksinilkolin meningkatkan resiko aritmia
Verapamil dan diltiazem meningkatkan kadar
serum digoksin
Obat-obat yang menyebabkan hipokalemia
(diuretik loop dan tiazid, amfoterisin B) dapat
mempotensiasi toksisitas digoksin.

Diuretik
Diuretik bekerja dengan mengurangi
reabsorpsi NaCl di tempat-tempat yang
berbeda di nefron, sehingga meningkatkan
ekskresi natrium, klorida dan air. Diuretik
dikelompokkan menjadi 3 golongan
berdasarkan tempat kerjanya :

Diuretik

Diuretik tiazida
Diuretik kuat
Diuretik hemat kalium

Diuretik tiazida
Tempat kerja utama : di hulu tubuli distal.
Mekanisme kerjanya : penghambatan
reabsorpsi NaCl.
Contoh hidroklorotiazida,
bendroflumetiazid, klortalidon, indapamid.

INTERAKSI TIAZID
HCT memberikan efek aditif bila diberikan
bersama obat antihipertensi atau diuretik lain,
sehingga perlu penyesuaian dosis.
HCT menginduksi gangguan elektrolit
(hipokalemia, hipomagnesia, hiperkalsemia),
dimana pada pasien yang diterapi digoksin
dapat menyebabkan terjadi toksisitas digoksin
(aritmia fatal).
HCT bila diberikan bersama senyawa lain
penyebab hipokalemia dapat memperparah
kondisi hipokalemia.

Interaksi Tiazida
Diuretik tiazida menurunkan klirens litium
sehingga dapat meningkatkan kadar
plasmanya.
HCT menurunkan efek hipoglikemik obat
antidiabet oral.
HCT menurunkan klirens amantadin
sehingga meningkatkan kadar plasma dan
resiko toksisitasnya.

Interaksi Tiazida
AINS menurunkan aktivitas diuretik dan
antihipertensi melalui penghambatan
biosintesis prostaglandin renal.
Kolestiramin dan kolestipol dapat berikatan
dengan obat-obat yang bersifat asam
termasuk diuretik tiazid di saluran cerna
sehingga menurunkan absorpsi diuretik
tiazid.

Diuretik kuat
Tempat kerja utama : loop of Henle
Mekanisme kerjanya : melalui penghambatan
terhadap transport elektrolit Na, K danCl.
Merupakan antihipertensi yang lebih efektif
dibanding tiazid untuk hipertensi dengan gangguan
fungsi ginjal atau gagal jantung.
Efek samping hampir sama dengan tiazid kecuali
tidak menyebabkan hiperkalsemia.
Contoh : furosemid

Interaksi

Interaksi dengan vasodilator terutama


penghambat ACE (enalapril, kaptopril).
Furosemid menurunkan volume darah sirkulasi,
sehingga keseimbangan air dan elektroalit
dalam darah harus distabilkan dulu sebelum
ditambah vasodilator.
Bronkodilator teofilin dapat mencapai kadar
yang tinggi dalam darah bila dikombinasi
dengan furosemid sehingga dosis teofilin harus
dikurangi.
Diuretik loop dapat menginduksi toksisitas
jantung karena digitalis.

INTERAKSI
Furosemid dapat menggeser ikatan protein
plasma warfarin dan klofibrat sehingga
meningkatkan kadar plasma obat-obat ini.
Diuretik loop mengurangi klirens renal litium dan
meningkatkan kadar plasma.
Diuretik loop meningkatkan toksisitas renal
golongan sefalosporin
Furosemid meningkatkan toksisitas telinga dan
jantung antibiotik aminoglikosida (amikasin,
gentamisin, dsb),

Diuretik hemat kalium


Tempat kerja utama : di hilir tubuli distal
dan duktus koligentes daerah korteks
Mekanisme kerjanya : penghambatan
reabsorpsi Na dan sekresi K dengan jalan
antagonisme kompetitif (spironolakton)
atau secara langsung (triamteren dan
amilorid).

Diuretik hemat kalium


Merupakan diuretik lemah kombinasi
dengan diuretik lain untuk mencegah atau
mengurangi efek samping hipokalemia.
Menyebabkan hiperkalemia, terutama
pada penderita dengan gangguan fungsi
ginjal, atau bila dikombinasi dengan
penghambat ACE, suplemen kalium atau
AINS.