Anda di halaman 1dari 16

SUPERKONDUKTOR

1. Pengertian Superkonduktor
Superkonduktor merupakan bahan material yang memiliki hambatan listrik
bernilai nol pada suhu yang sangat rendah. Artinya superkonduktor dapat menghantarkan
arus walaupun tanpa adanya sumber tegangan. Karakteristik dari bahan Superkonduktor
adalah medan magnet dalam superkonduktor bernilai nol dan mengalami efek meissner.
Resistivitas suatu bahan bernilai nol jika dibawah suhu kritisnya.

Gambar 1. Grafik hubungan antara resistivitas terhadap suhu


2. Sifat Kelistrikan Superkonduktor
Bahan logam tersusun dari kisi-kisi dan basis serta elektron bebas.
Ketika medan listrik diberikan pada bahan, elektron akan mendapat
percepatan. Medan listrik akan menghamburkan elektron ke segala arah
dan menumbuk atom-atom pada kisi. Hal ini menyebabkan adanya
hambatan listrik pada logam konduktor.

Gambar 2. Keadaan normal atom kisi pada logam


Pada bahan superkonduktor terjadi juga interaksi antara electron dengan inti atom.
Namun elektron dapat melewati inti tanpa mengalami hambatan dari atom kisi. Efek ini dapat
dijelaskan oleh Teori BCS. Ketika elektron melewati kisi, inti yang bermuatan positif
menarik elektron yang bermuatan negatif dan mengakibatkan elektron bergetar.

Gambar 3. Keadaan superkonduktor atom kisi pada logam


Jika ada dua buah elektron yang melewati kisi, elektron kedua akan mendekati
elektron pertama karena gaya tarik dari inti atom-atom kisi lebih besar. Gaya ini melebihi
gaya tolak-menolak antar elektron sehingga kedua elektron bergerak berpasangan. Pasangan
ini disebut Cooper Pairs. Efek ini dapat dijelaskan dengan istilah Phonons. Ketika elektron
pertama pada Cooper Pairs melewati inti atom kisi. Elektron yang mendekati inti atom kisi
akan bergetar dan memancarkan Phonon. Sedangkan elektron lainnya menyerap Phonon.
Pertukaran Phonon ini mengakibatkan gaya tarik menarik antar elektron. Pasangan elektron
ini akan melalu kisi tanpa gangguan dengan kata lain tanpa hambatan.
3. Sifat Kemagnetan Superkonduktor
Jika sebuah superkonduktor ditempatkan pada medan magnet maka
tidak akan ada medan magnet dalam superkonduktor. Hal ini terjadi
karena superkonduktor menghasilkan medan magnet dalam bahan yang
berlawanan arah dengan medan magnet luar yang diberikan. Efek yang
sama dapat diamati jika medan magnet diberikan pada bahan dalam suhu
normal kemudian didinginkan sampai menjadi superkonduktor. Pada suhu
kritis, medan magnet akan ditolak. Efek ini dinamakan Efek Meissner.

4. Sifat Quantum Superkonduktor


Teori dasar Quantum untuk superkonduktor dirumuskan melalui tulisan Bardeen,
Cooper dan Schriefer pada tahun 1957. Teori dinamakan teori BCS. Teori BCS
menjelaskan bahwa:
Interaksi tarik menarik antara elektron dapat menyebabkan keadaan dasar terpisah

dengan keadaan tereksitasi oleh energi gap.


Interaksi antara elektron, elektron dan kisi menyebabkan adanya energi gap yang
diamati. Mekanisme interaksi yang tidak langsung ini terjadi ketika satu elektron

berinteraksi dengan kisi dan merusaknya. Elektron kedua memanfaatkan keuntungan


dari deformasi kisi. Kedua elektron ini beronteraksi melalui deformasi kisi.

London Penetration Depth merupakan konsekuensi dari Teori BCS.

5. Efek Meissner
Ketika superkonduktor ditempatkan di medan magnet luar yang lemah, medan
magnet akan menembus superkonduktor pada jarak yang sangat kecil dan dinamakan
London Penetration Depth. Pada bahan superkonduktor umumnya London Penetration
Depth sekitar 100 nm. Setelah itu medan magnet bernilai nol. Peristiwa ini dinamakan
Efek Meissner dan merupakan karakteristik dari superkonduktor. Efek Meissner adalah
efek dimana superkonduktor menghasilkan medan magnet.
Efek Meissner ini sangat kuat sehingga sebuah magnet dapat melayang karena
ditolak oleh superkonduktor. Medan magnet ini juga tidak boleh terlalu besar. Apabila
medan magnetnya terlalu besar, maka efek Meissner ini akan hilang dan material akan
kehilangan sifat superkonduktivitasnya.

Gambar 4. Efek Meissner


6. Suhu dan Medan Magnet Kritis
Suhu kritis adalah suhu yang membatasi antara sifat konduktor dan
superkonduktor. Jika suhu suatu bahan dinaikan, maka getaran elektron akan bertambah
sehingga banyak Phonons yang dipancarkan. Ketika mencapai suhu kritis tertentu, maka
Phonons akan memecahkan Cooper Pairs dan bahan kembali ke keadaan normal. Contoh
grafik Hambatan terhadap suhu pada bahan YBa2Cu3O7 sebagai berikut,

Gambar 5. Grafik hambatan terhadap suhu


Medan magnet kritis adalah batas kuatnya medan magnet sehingga bahan
superkonduktor memiliki medan magnet. Jika medan magnet yang diberikan pada bahan
superkonduktor, maka bahan superkonduktor tak akan mengalami efek meissner lagi.
7. Tipe-tipe Superkonduktor
Superkonduktor tipe I
Pasangan elektron bergerak sepanjang terowongan penarik yang dibentuk ion-ion
logam yang bermuatan positif. Akibat dari adanya pembentukan pasangan dan tarikan
ini arus listrik akan bergerak dengan merata dan superkonduktivitas akan terjadi.
Superkonduktor yang berkelakuan seperti ini disebut superkonduktor jenis pertama
yang secara fisik ditandai dengan efek Meissner, yakni gejala penolakan medan

magnet luar (asalkan kuat medannya tidak terlalu tinggi) oleh superkonduktor.
Superkonduktor tipe II
Tipe ini akan menolak medan magnet yang diberikan. Namun perubahan sifat
kemagnetan tidak tiba-tiba tetapi secara bertahap. Pada suhu kritis, maka bahan akan
kembali ke keadaan semula. Superkonduktor Tipe II memiliki suhu kritis yang lebih
tinggi dari superkonduktor tipe I.

8. Kelompok Superkonduktor
Superkonduktor bersuhu kritis rendah
Superkonduktor jenis ini memiliki suhu kritis lebih kecil dari 23 K.
Superkonduktor jenis ini sudah ditinggalkan karena biaya yang mahal

untuk mendinginkan bahan.


Superkonduktor bersuhu kritis tinggi
Superkonduktor jenis ini memiliki suhu kritis lebih besar dari 78 K.
Superkonduktor jenis ini merupakan bahan yang sedang dikembangkan

sehingga diharapkan memperoleh superkonduktor pada suhu kamar


sehingga lebih ekonomis.

9. Suhu Pemadaman
Suhu pemadaman merupakan batas suhu untuk merusak sifat
superkonduktor. Artinya pada suhu ini superkonduktor akan rusak.

Pada grafik diatas dapat kita lihat bahwasanya makin tinggi suhu yang diberikan
pada bahan superkonduktor, maka struktur Kristal superkonduktor tidak lagi berbentuk
ortorombik. Maka dengan adanya perubahan struktur kristal superkonduktor, suatu bahan
akan kehilangan sifat superkonduktornya.

Grafik diatas menunjukan hubungan antara suhu kritis dengan suhu


bahan

superkonduktor.

Jika

suhu

yang

diberikan

pada

bahan

superkonduktor makin besar, maka suhu kritis bahan akan mendekati nilai
nol kelvin.

10. Aplikasi Superkonduktor


Kabel listrik
Dengan menggunakan bahan superkonduktor, maka energi listrik tidak
akan mengalami disipasi karena hambatan pada bahan superkonduktor

bernilai nol. Maka penggunaan energi listrik akan semakin hemat.


Alat transportasi

Penggunaan superkonduktor dalam bidang transportasi adalah Kereta


Listrik super cepat yang dikenal dengan sebutan Magnetik Levitation
(MAGLEV).

ZEOLIT

Mineral zeolit banyak ditemukan di alam sebagai batuan sedimen vulkano. Penyusunan
utama zeolit adalah mordenit dan klipnotilonit dalam berbagai variasi komposisi. Umumnya,
struktur zeolit adalah suatu polimer anorganik berbentuk tetrahedral unit TO 4, dimana T
adalah ion Si4+ atau Al3+ dengan atom O berada diantara dua atom T.

Gambar 6 Struktur zeolit


Zeolit adalah mineral kristal alumina silikat berpori terhidrat yang mempunyai struktur
kerangka tiga dimensi terbentuk dari tetrahedral [SiO 4]4- dan [AlO4]5-. Kedua tetrahedral di
atas dihubungkan oleh atom-atom oksigen, menghasilkan struktur tiga dimensi terbuka dan
berongga yang didalamnya diisi oleh atom-atom logam biasanya logam-logam alkali atau
alkali tanah dan molekul air yang dapat bergerak bebas dan bertindak sebagai counter ion
yang dapat dipertukarkan dengan kation-kation lainnya, sifat-sifat inilah yang mendasari
zeolit sebagai penukar kation. Berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia zeolit tersebut zeolit
dapat dimanfaatkan sebagai penukar ion, penyaring molekuler, adsorben dan katalis.

Gambar 7 Struktur dasar ikatan SiO2 dan AlO2 dari zeolit


Struktur zeolit memiliki rumus umum Mx/n [(AlO2)x(SiO2)y].wH2O, dimana M adalah
kation alkali atau alkali tanah, n adalah jumlah valensi kation, w adalah banyaknya molekul
air per satuan unit sel, x dan y adalah angka total tetrahedral per satuan unit sel, dan nisbah

y/x biasanya bernilai 1 sampai 5, meskipun ditemukan juga zeolit dengan nisbah y/x antara
10 sampai 100.
Zeolit alam terbentuk karena adanya proses kimia dan fisika yang kompleks dari
batuan-batuan yang mengalami berbagai macam perubahan di alam. Komponen utamanya
adalah silika dan alumina. Di samping komponen utama ini, zeolit juga mengandung berbagai
unsur minor, antara lain Na, K, Ca, Mg, dan Fe. Zeolit alam memiliki beberapa kelemahan,
diantaranya mengandung banyak pengotor seperti Na, K, Ca, Mg dan Fe serta kristalinitasnya
kurang baik. Pada zeolit alam, adanya molekul air dalam pori dan oksida bebas di permukaan
dapat menutupi pori-pori atau situs aktif dari zeolit sehingga dapat menurunkan kapasitas
adsorpsi maupun sifat katalisis dari zeolit tersebut.
Zeolit sintetik adalah zeolit yang dibuat secara rekayasa yang sedemikian rupa sehingga
didapatkan karakter yang lebih baik dari zeolit alam. Prinsip dasar produksi zeolit sintetik
adalah komponennya yang terdiri dari silika dan alumina, sehingga dapat disintesis dari
berbagai bahan baku yang mengandung kedua komponen di atas. Komponen minor dalam
zeolit juga dapat ditambahkan dengan mudah menggunakan senyawa murni, sehingga zeolit
sintetik memiliki komposisi yang tetap dengan tingkat kemurnian yang tinggi.

Skematika Pembentukan Struktur Zeolit


Struktur zeolit yang merupakan senyawa aluminosilikat dapat dijabarkan seperti pada
gambar di bawah.

Tetrahedral SiO4 dan AlO4 saling berhubungan pada sudut-sudut

tetrahedralnya untuk membentuk Al, Si framework tiga dimensi yang berpori. Kation-kation
alkali monovalen atau divalen menempati posisinya di dalam pori-pori. Kehadiran kationkation ini akan menetralkan muatan zeolit. Sebagian pori ditempati atau diisi oleh molekulmolekul air

Skematika Tetrahedral Pembentuk Struktur Zeolit

Skematika Pembetuktan Struktur Zeolit Tiga Dimensi

Karakteristik-Sifat-Sifat Zeolit
Sifat Dehidrasi
Zeolit mempunyai sifat dehidrasi yaitu melepaskan molekul H2O apabila dipanaskan.
Pada umumnya struktur kerangka zeolit akan menyusut. Tetapi kerangka dasarnya tidak
mengalami perubahan secara nyata. Molekul H 2O dapat dikeluarkan secara reversibel. Pada
pori-porinya terdapat kation-kation dan atau molekul air. Bila kation-kation dan atau molekul
air tersebut dikeluarkan dari pori dengan perlakuan tertentu maka zeolit akan meninggalkan
pori yang kosong.
Aktivasi zeolit alam dapat dilakukan secara fisika maupun kimia. Secara fisika,
aktivasi dapat dilakukan dengan pemanasan pada suhu 300-400 oC dengan udara panas atau
dengan sistem vakum untuk melepaskan molekul air. Sedangkan aktivasi secara kimia
dilakukan melalui pencucian zeolit dengan larutan Na2EDTA atau asam-asam anorganik
seperti HF, HCl dan H2SO4 untuk menghilangkan oksida-oksida pengotor yang menutupi
permukaan pori.

Gambar 8 Pemanasan Zeolit Terhidrasi Untuk Menjadikan Zeolit Terdehidrasi

Sifat Penyerapan, Adsorben


Zeolit mempunyai kapasitas yang tinggi sebagai penyerap (adsorben). Mekanisme
adsorpsi yang mungkin terjadi adalah adsorpsi fisika (melibatkan gaya Van der Walls),
adsorpsi kimia (melibatkan gaya elektrostatik), ikatan hidrogen dan pembentukan kompleks
koordinasi. Molekul atau zat yang dijerap akan menempati posisi pori. Daya serap
(absorbansi) zeolit tergantung dari jumlah pori dan luas permukaan. Molekul-molekul dengan
ukuran lebih kecil dari pori yang mampu terjerap oleh zeolit.

Sifat Pertukaran Ion


Kation-kation pada pori berperan sebagai penetral muatan zeolit. Kation-kation ini dapat
bergerak bebas sehingga dapat dengan mudah terjadi pertukaran ion. Mekanisme pertukaran
kation tergantung pada ukuran, muatan dan jenis zeolitnya.

Gambar 9 Pertukaran Ion Pada Zeolit


Larutan atau air yang mengandung ion-ion Ca2+ dilewatkan dalam Zeolite-Na teraktivasi. Ion
Ca2+ dalam larutan atau air akan mengganti ion-ion Na + yang ada dalam pori-pori Zeolit-Na.
Ion-ion Na+ akan lepas ke dalam larutan atau air. Pada akhirnya konsentrasi Ion Ca 2+ dalam
larutan atu air akan berkurang.
Reaksi pertukaran ion-ionnya dapat dijelaskan sebagi berikut:
Z-Na + CaCl2

->

Z-Na = Zeolit-Natrium
Z-Ca = Zeolit-Natrium

Z-Ca + 2 NaCl

ELEKTRONIK DARI KARBON


Carbon Nanotube (CNT)
1. Pengertian
Carbon nanotube (CNT) adalah satu rantai atom karbon yang berikatan secara
heksagonal berbentuk silinder tabung yang berdiameter 1-2 nanometer. Silinder tabung
CNT ini memiliki panjang beberapa puluh mikrometer dengan ujung- ujungnya memiliki
tutup seperti layaknya pil obat. Struktur CNT mirip dengan fullerene. Bedanya, atomatom karbon pada fullerene membentuk struktur seperti bola, sedangkan CNT berbentuk
silinder yang tiap ujungnya ditutup oleh atom-atom karbon yang berbentuk setengah
struktur fullerene.

Gambar 10 struktur tiga dimensi CNT


Berdasarkan jumlah dindingnya, CNT secara umum dapat dikelompokkan
menjadi dua macam, yaitu CNT berdinding tunggal (single-walled CNT atau SWNT) dan
CNT berdinding banyak (multi-walled CNT atau MWNT). Sifat-sifat CNT yang luar
biasa itu kemudian dapat diturunkan secara spesifik dengan menganalisis lembaran
penyusun dinding tersebut, yaitu graphene (grafit berbentuk lembaran) yang digulung
menjadi silinder.Ada banyak cara untuk menggulung lembaran graphene menjadi sebuah
CNT, persis seperti ketika kita ingin menggulung selembar kertas. Arah dari
penggulungan lembaran tersebut akan menentukan arah ikatan heksagonal pada CNT,
yang kemudian sangat menentukan sifat listrik CNT dengan geometri tersebut. Untuk
mengkarakterisasi sebuah CNT dengan geometri tertentu, diberikan parameter bilangan
bulat (n, m), yang disebut dengan vektor chiral. Panjang dari vektor chiral ini akan
menjadi keliling CNT, yaitu bagian panah vektor harus bertemu dengan bagian ekornya
ketika diputar menjadi lingkaran. Silinder yang dibentuk dikarakterisasi berdasarkan
diameter dan sudut kiralnya (chiral angle), atau oleh nilai indeks (n,m) (Gambar 1).
Struktur CNT bernilai indeks (n,0) disebut struktur zigzag. Jika nilai indeksnya (n,n),

strukturnya disebut struktur armchair. Struktur- struktur lainnya disebut struktur


intermediate (antara zigzag dan armchair).

2. Sifat CNT
CNT merupakan bahan seperti fiber namun memiliki kemampuan yang jauh lebih unggul
karena memiliki sifat-sifat yang sangat menakjubkan, yaitu:
Konduktivitas listrik lebih tinggi daripada tembaga
Konduktivitas panas lebih tinggi daripda berlian
Daya tahan terhadap temperatur tinggi
Lebih ringan daripada aluminium
Sifat elektronik dapat diatur (superkonduktor, semikonduktor dan insulator)
Modulus young dan kekuiatan regang yang tinggi
Keras, kuat tetapi mudah dibengkokkan

Mempunyai fleksibilitas yang tinggi

3. Karakterisasi CNT
a. Reaktifitas kimia
Reaktifitas kimia CNT akan meningkat sebanding dengan kenaikan arah kurvatur
permukaan karbon nanotube. Oleh karena itu, reaktifitas kimia pada bagian dinding

karbon nanotube akan sangat berbeda dengan bagian ujungnya. Diameter karbon
nanotube yang lebih kecil akan meningkatkan reaktivitas.
b. Sifat listrik dan konduktivitas elektrik
Karbon nanotube dengan diameter yang lebih kecil dapat menjadi semi
konduktor

atau menjadi metalik tergantung pada vektor khiral. Perbedaan

konduktifitas ini disebabkan oleh struktur molekul. Berdasarkan teori zat padat, para
fisikawan berhasil memperoleh fakta bahwa CNT memiliki kelakuan listrik yang
ganda, yaitu sebagai logam atau semikonduktor. Jika (nm)/3 merupakan bilangan
bulat, maka CNT bersifat logam, sedangkan jika (nm)/3 bukan bilangan bulat, maka
CNT bersifat semikonduktor. Menarik sekali karena ternyata kemampuan hantaran
listrik CNT, apakah sebagai logam atau semikonduktor, hanya bergantung pada
geometrinya.

Gambar geometri CNT


Keunikan sifat listrik CNT pada dasarnya merupakan turunan sifat dari struktur
elektronik yang tidak biasa dari graphene dengan ikatan karbon sp2. Graphene
memiliki keadaan yang mampu menghantarkan listrik dengan tingkat energi yang ada
di perbatasan struktur elektronik. Keadaan ini biasa disebut zero bandgap
semiconductor atau semimetal karena bersifat logam (konduktor) pada arah tertentu
dan semikonduktor pada arah lainnya.

c. Kekuatan mekanik
Karbon nanotube mempunyai modulus Young yang sangat besar pada arah aksialnya.
Nanotube menjadi sangat fleksibel karena ukurannya yang panjang. Karbon nanotube
sangat potensial untuk aplikasi material komposit sesuai dengan kebutuhan.
4. Teknik Pembuatan CNT
a. Pancaran elektroda

Dilakukan dengan melewatkan uap di antara dua elektroda karbon yang umumnya
menghasilkan CNT impuritas yang tinggi.

b. Teknik pencahayaan laser (laser ablation)


Dapat menghasilkan karbon nanotube yang bersih namun mahal

c. Chemical Vapour Deposition (CVD)


Metode ini merupakan metode yang paling mudah dilakukan, namun impuritas yang
dihasilkan cukup rendah. Impuritas dapat diminimalkan dengan proses purifikasi
karbon nanotube. Sintesis karbon nanotube CVD umumnya terbagi menjadi dua
tahap, yaitu preparasi katalis dan sintesis nanotube sesungguhnya. Katalis disiapkan
dengan memercikkan logam transisi ke dalam substrat. Selanjutnya dengan proses
penggoresan

senyawa

kimia

atau

proses

thermal

annealing

menyebabkan

pembentukkan inti partikel katalis. Temperatur sintesis CNT dengan proses CVD
umumnya 650900 C dengan yield sekitar 30%. Metode CVD ini pun ada beragam
lagi macamnya, misalnya thermal CVD dan plasma CVD. Dengan teknik ini dapat
dihasilkan beberapa perangkat elektronik secara langsung, misalnya transistor efek
medan (field effect transistor). Karbon nanotube akan terbentuk jika parameterparemeter proses tetap terjaga.

d. Spray-pyrolysis

Sintesis dilakukan dengan menggunakan sumber karbon berupa benzena, xylena,


toluena, cyclohexanae, cyclohexanone, n-hexane, n-heptane, n-octane dan nphentane. Sedangkan katalis yang bisa digunakan adalah metallocene (ferrocene,
cobaltocene, dan niclelocene) namun hasilnya menunjukkan bahwa diameter hasil
sintesis yang didapatkan masih cukup besar yaitu di atas 100 nm. Sintesis dengan
menggunakan metode ini dilakukan pada temperatur 900 C.
5. Metode Karakterisasi
a. Scanning tunneling microscopy (STM)
b. Scanning Electron Microscopy (SEM)
c. Transmission Electron Microscopy (TEM)
d. Raman Spectroscopy
6. Aplikasi CNT
CNT dengan doping nitrogen untuk sel bahan bakar yang murah
Sebagai baterai kertas
Memori Nonvolatile berbasis CNT dengan lapisan OksidaNitridaOksida sebagai
Charge Trap