Anda di halaman 1dari 49

BANGUNAN PELIMPAH/

SPILLWAY

Bangunan pelimpah terbuka dengan ambang


tetap cocok untuk bendungan urugan.
Bagian-bagian bangunan pelimpah ini :
1. Saluran pengarah aliran.
3. Saluran peluncur
2. Saluran pengatur aliran
4. Saluran energi

Saluran Pengarah Aliran


Berfungsi sbg penuntun & pengarah aliran
senantiasa kondisi hidrolika baik.
Kecepatan masuk ke saluran pengarah < 4
m/det. Bila > 4 m/det aliran bersifat
helisoidal mengakibatkan beban hydrodinamis.
Lebar saluran semakin mengecil ke hilir.
Kedalaman dasar = (1/5) x tinggi rencana
limpasan di atas mercu ambang pelimpah.
Bentuk & dimensi disesuaikan dgn kondisi
topografi & hidrolika.
V

H
W

V4
m/det
W (1/5)
H

Saluran Pengatur Aliran


Sebagai pengatur kapasitas aliran (debit) air yang
melintasi bangunan pelimpah.
1. Type AMBANG BEBAS

D
h0 :
Ambang Persegi Empat
3

Ambang

3
Q
b
D2
1,704.C

3 2ZD b 16 Z 2 D 2 16 ZDb 9b 2
h0 :
Trapesium
10 Z

Q A.v0 C 2.g.h0 D h0 b Z D h0

Q = debit banjir rencana (m3/det).


D = kedalaman air tertinggi di dalam saluran pengarah aliran (m)
C = koefisien pengaliran masuk ke saluran pengarah ( penampang
setengah lingkaran = 1,00, penampang persegi empat C = 0,82)
Ho = tinggi penurunan permukaan air di dalam saluran pengarah
(m)
A = penampang basah di saluran pengarah (m 2).
vo = kecepatan rata-rata aliran di dalam saluran pengarah (m/det).
PROSES HITUNG
1. Ditentukan dulu kedalaman air tertinggi di saluran pengarah (D)
dan kemiringan saluran pengarah (Z = D cos )
2. Lebar ambang (b) dihitung (dgn cob banding)

2. Type BENDUNG PELIMPAH (OVER FLOW WEIR TYPE)

Q=C.Be.H3
/2

Q = debit
C = koefisien Limpasan
Be = lebar efektif meru bendung/pelimpah
H = total tinggi tekanan air di atas mercu bendung (h1 +
V2/2g) di saluran Pengarah aliran

Koefisien Limpasan
tergantung :
Kedalaman air di
dalam saluran
pengarah aliran
Kemiringan lereng
udik bendung
Tinggi air di atas
mercu bendung
Perbedaan antara
tinggi air rencana
pd saluran
pengatur aliran

Koefisisen pelimpah Rumus Iwasaki :


Cd = 2,2 0,0416 (Hd/W)0,99
C 1,60

1 2a h / H d
1 a h / H d

C = koefisien pelimpah
Cd = koefisien limpahan saat h = Hd

h = tinggi air di atas mercu bendung


Hd = tinggi tekanan rencana di atas mercu
bendung
W = tinggi bendung
a = konstanta ( saat h = Hd C = Cd pakai
rumus di atas)

Lebar efektif bendung : Be = B-2.


(n.Kp + Ka).H1

Koefisien Konstraksi
Pilar sesuai dengan
bentuk tumpuannya

Koefisien Konstraksi Pilar


sesuai dengan bentuk
depan masing-masing pilar

Saluran Transisi

Saluran setelah melewati pelimpah berbentuk


trapesium, sedangkan saluran peluncur berbentuk
empat persegi panjang memerlukan transisi.
Direncanakan agar tidak menimbulkan air terhenti
akibat back water
Menghindari aliran helisoidal diupayakn sesimetris.
Jiks memungkinksn : Uji Pemodelan Fisik.
Untuk banguna pelimpah yang relatif kecil
menyempit ke hilir dengan inklinasi 12o30 terhadap
sumbu peluncur. Tetapi kadang-kadang lokasi tidak
memungkinkan uji model fisik

RENCANA TEKNIS HIDROLIS


1. APABILA DI UJUNG UDIK
SALURAN TRANSISI TERJADI
ALIRAN SUB KRITIS & DI
UJUNG HILIR TERJADI ALIRAN
KRITIS

ve2
vc2 K ve2 vc2
de
dc

hm
2g
2g
2g

de = Kedalaman aliran masuk ke dalam saluran transisi


ve = kecepatan aliran masuk ke dalam saluran transisi
dc = Kedalaman kritis pada ujung hilir saluran transisi
vc = Kecepatan aliran kritis pada ujung hilir saluran transisi
K = koefisien kehilangan tinggi tekanan yang disebabkan oleh perubahan
penampang lintang saluran transisi (0,1-0,2)
hm = kehilangan total tinggi tekanan yang disebabkan oleh gesekan dll

2. APABILA DI UJUNG UDIK &


DI UJUNG HILIR TERJADI
ALIRAN KRITIS

vc21
vc21 K vc21 vc22
d c1
dc2

hm
2g
2g
2g

dc = kedalaman aliran kritis


vc = keceatan aliran kritis
hm = kehilangan total tinggi tekanan yang disebabkan oleh gesekan dll

KONDISI LAINNYA
Kondisi aliran sub kritis melalui ambang hilir saluran transisi
sampai jarak tertentu di saluran peluncur.
Kondisi aliran super kritis seluruh saluran transisi. (ALIRANNYA
SANGAT TIDAK STABIL)
Kondisi aliran super kritis di seluruh saluran transisi akan tetapi
mulai melimpah ke dalam saluran peluncur dengan kondisi aliran
sub kritis. (LONCATANLONCATAN HIDROLIS PADA UJUNG HILIR
SALURAN TRANSISI SERTA KONTROL HIDROLISNYA TIDAK TERATUR)

Saluran Peluncur
Agar air yang melimpah dari saluran pengatur mengalir
dengan lancar tanpa hambatan-hambatan hidrolis.
Agar konstruksi saluran peluncur cukup kokoh dan stabil
dalam menampung semua beban yang timbul.
Agar biaya konstruksi seekonomis mungkin.
YANG DIPERHATIKAN :
Layout selurus mungkin, bila lengkung radius besar.
Penampang melintang = persegiempat
Kemiringan dasar saluran pada udiknya berlereng landai
akan tetapi semakin ke hilir : curam (agar kecepatan
secara berangsur-angsur dapat ditingkatkan & kemudian
aliran berkecepatan tingi saat masuk kolam olak)

PERHITUNGAN 1 : COBA BANDING DGN


HUKUM KEKEKALAN ENERGI

z1 d1 hv1 z 2 d 2 hv 2 h L

z = elevasi dasar saluran pada suatu bidang vertikal


d = kedalaman air pada bidang tersebut
hv = tenggi tekanan kecepatan pada bidang tersebut
hL = kehilangan tinggi tekanan yang terjadi di antara dua buah bidang
yang ditentukan.

hv

El+d
+h
tinggi
eleva Tingg
tinggi
tekanan ratasi
i
tekan
gesekan rata
dasar tekan
an
pada
Sf
salur an
total
lereng
an total

Sf

titik
tinggi
kelili
penguk jarak lebar kedala penam kecep tekan
ng
jari-jari
uran penam salura man pang atan
an
basa hidrolis
pang
n
aliran basah alian kecep
h
atan

ht

El

PERHITUNGAN 1 : COBA BANDING


MEMPERHATIKAN ALIRAN DI DALAM SALURAN
PELUNCUR SEPANJANG l
Persamaan kekekalan energi
2
:
2
2
2
V2
V
n .V 2
1
xl1
4 3
2g 2g
R
he d1 l1 sin d 2
he

dan
he d1 l1 tan d 2

he = perebdaan elevasi permukaan air di bidang 1 dan bidang 2


v1 = kecepatan aliran air di bidang 1
v2= kecepatan aliran air di bidang 2
d1 = kedalaman air di bidang 1
d2 = kedalaman air di bidang 2
l1 = panjang lereng dasar di antara bidang 1 dan bidang 2
l = jarak horizontal antara kedua bidang tersebut
= sudut lereng dasar saluran
R = radius hidrolika rata-rata pada potongan saluran yang diambil
N = koefisien kekasaran

V1 V2
2

he=d
h1t=h
hf =
V=(V1+ R=R1+
l.sin 1+l.
v22
2
W
d
A
v
hv

l
h
n
.V
.l
V2 ) 2
R2 2
hv1+( sinR4/3
d2
10)
kehil
titik
ting
kehilan anga
leba
penguk
pena
gi kecepat
gan
n
Jaari2
uran jarak r kedala mpan kecep teka
an
energi timg
pena dasa
hidrolik R^(4/
man
g
atan nan aliran
tekana gi

mpa r
rata3)
aliran basa alian kece ratan
teka
ng salur
rata
h
pata rata
geseka nan
an
n
n
lainn
ya

KOLAM OLAK PEREDAM


ENERGI

Tipe kolam olak bergantung pada


energi air yang masuk, yang
dinyatakan dengan bilangan Froude,
dan pada bahan konstruksi kolam
olak

Pengelompokan Kolam Olak


Berdasarkan Bilangan Froude :
1.Untuk Fru 1,7 tidak diperlukan kolam olak;
. pada saluran tanah, bagian hilir harus dilindungi dari bahaya erosi;
. saluran pasangan batu atau beton tidak memerlukan lindungan
khusus.
2.Bila 1,7 < Fru 2,5 kolam olak untuk meredam energi secara
efektif.
. Umumnya kolam olak dengan ambang ujung mampu bekerja dengan
baik.
. Untuk penurunan muka air Z < 1,5 m dipakai bangunan terjun
tegak.
3.Jika 2,5 < Fru 4,5 paling sulit dalam memilih kolam olak yang
tepat. Loncatan air tidak terbentuk dengan baik dan menimbulkan
gelombang sampai jarak yang jauh di saluran. Cara mengatasinya :
. Mengusahakan olakan (turbulensi) yang tinggi atau menambah
intensitas pusaran dengan pemasangan blok depan kolam (berukuran
besar - tipe USBR tipe IV). Tetapi sebaiknya tidak merencanakan
kolam olak jika 2,5 < Fru < 4,5 dengan cara geometrinya diubah
memperbesar /memperkecil Fr dan memakai kolam dari kategori

Diagram Untuk Pemilihan Bangunan Peredam


Energi Di Saluran (Bos. Replogle and Clemments, 1984)

Kolam Loncat Air

Perhitungan Hidrolis secara grafis


Panjang kolam loncat air di sebelah hilir potongan U kurang
dari panjang loncatan tersebut akibat pemakaian ambang
ujung (end sill). Ambang pemantap aliran ini ditempatkan
jarak
Di pada
sebelah
hilir L
potongan
U.yTinggi
yang diperlukan untuk ambang
j = 5 (n +
2)
ujung ini sebagai fungsi bilangan Froude (Fru), kedalaman air masuk
(yu), dan fungsi kedalaman air hilir

Hubungan percobaan antara Fru, y2/y1 dan n/y2 untuk ambang


pendek (Foster dan Skrinde, 1950)

Perhitungan Hidrolis: bentuk ruang olak


persegi empat

Nilai nilai dasar loncat hidrolis


1. Perbedaan muka air dihulu dan di hilir ( Z ) = Y 2 /3
(Dimana tinggi muka air di ruang olak Y 2 dipengaruhi oleh besarnya
nilai Froude Number (Fr ) aliran masuk ).

2.

Untuk F1 = 1,7 sampai 5,5 ;maka Y2 =


( 1,1 - F12 ) Y2.
Untuk F1 = 5,5 sampai 11 ; maka Y2 =
0,85 Y2.
Untuk F1 = 11 sampai 17 ; maka Y2 =
Kehilangan
E
( 0,1 - F12 ) Yenergy:
2
E = E1 - E2 =

Y1 Y2
4.Y1.Y2

3. Efisiensi loncatan E2/E81.F= 1


2

4.F1 1
1
2
2
8.F1 2 F1

4. Tinggi loncatan air hj =Y2-Y1


4,5.Y 2
5. Panjang ruang olak LB=
Dimana :

F1.0,76

V1
. F1 = Froude number di udik loncatang.Yair
=
1

. V1 = Kecepatan Aliran di udik loncatan air


. Y1 = Tinggi Aliran di udik loncatan air

Kolam Olak untuk 2,5 Fr 4,5


Pendekatan : menambah bilangan Froude > 4,5
Fr

g. y

g. y 3

dengan menambah kecepatan (v) atau mengurangi kedalaman air (y) yang
bisa ditambah dengan mengurangi lebar bangunan (q = Q/B)

Bila pendekatan Fr > 4,5 tidak mungkin ; 2 tipe kolam


olak yang dapat dipakai :
1.Kolam olak USBR tipe IV, dilengkapi dengan blok muka yang
besar membantu memperkuat pusaran. Panjang kolam (L).
Kedalaman minimum air hilir = 1,1 . y d = y2 + n 1,1 yd
2.Kolam olak tipe-blok-halang (baffle-block-type basin).
Kelemahan : (1) semua benda yang mengapung dan
melayang dapat tersangkut menyebabkan meluapnya
kolam dan merusak blok blok halang. (2) Pembuatan blok
halang memerlukan beton tulangan.

Kolam olak USBR tipe IV

Kolam olak tipe-blok-halang

Kolam olak USBR tipe III (Untuk Bilangan Froude > 4,5)

loncatan airnya bisa mantap dan


peredaman energi dapat dicapai dengan
baik.
Apabila penggunaan blok halang dan blok
muka tidak layak (karena dibuat dari
pasangan batu) kolam harus direncana
sebagai kolam loncat air dengan ambang
ujung.
Kolam ini akan menjadi panjang tetapi
dangkal.

Kolam olak USBR tipe III.

Kolam Vlugter

khusus dikembangkan untuk bangunan terjun


disaluran irigasi.
Batas-batas yang diberikan untuk z/hc 0,5; 2,0
dan 15,0 (Fr = 1,0; 2,8 dan 12,8). (diambil
pada kedalaman z di bawah tinggi energi hulu)
beda tinggi energi z 4,50 m dan atau dalam
lantai ruang olak sampai mercu (D) 8 m.
Pertimbangan kondisi porositas tanah dilokasi
bendung dalam rangka pekerjaan pengeringan

Kolam Vlugter

Modifikasi Peredam Energi

tipe-tipe MDO dan MDS


Peredam energi tipe MDO : lantai datar, di ujung hilir
lantai dilengkapi dengan ambang hilir tipe gigi
ompong dan dilengkapi dengan rip rap.
Peredam energi tipe MDS : lantai datar, di ujung hilir
lantai dilengkapi dengan ambang hilir tipe gigi
ompong ditambah dengan bantalan air dan
dilengkapi dengan rip rap. (Bantalan air : ruang di
atas lantai untuk lapisan air sebagai bantalan
pencegah atau pengurangan daya bentur langsung
batu gelundung terhadap lantai dasar peredam
energi)

a) Tipe mercu bangunan terjun harus bentuk bulat


dengan satu atau dua jari-jari.
b) Permukaan tubuh bangunan terjun bagian hilir dibuat
miring dengan perbandingan kemiringan 1 : m atau
lebih tegak dari kemiringan 1:1
c) Tubuh bangunan terjun dan peredam energi harus
dilapisi dengan lapisan tahan aus;
d) Elevasi dasar sungai atau saluran di hilir tubuh
bangunan terjun yang ditentukan, dengan
memperhitungkan kemungkinan terjadinya degradasi
dasar sungai;
e) Elevasi muka air hilir bangunan terjun yang dihitung,
berdasarkan elevasi dasar sungai dengan kemungkinan
perubahan geometri badan sungai.
f) Tinggi air udik bangunan terjun dibatasi maksimum 4
meter;
g) Tinggi pembangunan terjunan (dihitung dari elevasi
mercu bangunan terjun sampai dengan elevasi dasar
sungai di hilir) maksimum 10 meter

Data awal yang harus ditentukan


terlebih dahulu
a)

Debit desain banjir dengan memperhitungkan tingkat


keamanan bangunan air terhadap bahaya banjir;
b) Debit desain penggerusan, dapat diambil sama dengan
debit alur penuh;
c) Lengkung debit sungai di hilir rencana bangunan terjun
berdasarkan data geometri-hidrometri-hidraulik morfologi
sungai.
Grafik-grafik untuk desain hidraulik bangunan terjun :
) Grafik pengaliran melalui mercu bangunan terjun dapat
dilihat dalam grafik MDO-1
) Grafik untuk mengetahui bahaya kavitasi di hilir mercu
bangunan terjun dapat dilihat dalam grafik MDO-1a
) Grafik untuk menentukan dimensi peredam energi tipe
MDO dan MDS dapat dilihat dalam grafik MDO-2 dan MDO-3

Grafik MDO 1a Penentuan bahaya kavitasi


di hilir mercu bangunan terjun

Grafik MDO 1 Pengaliran melalui mercu


bangunan terjun

Grafik MDO 2 Penentuan kedalaman lantai


peredam energi

Grafik MDO 3 Penentuan panjang lantai


peredam energi

Rimus-rumus yang digunakan


dalam desain hidraulik
1.debit desain persatuan lebar pelimpah:
.untuk bahaya banjir: qdf = Qdf/Bp
.untuk bahaya penggerusan: qdp = Qdp/Bp
2.dimensi radius mercu bangunan terjun = r, : 1.00 m r 3.00 m
3.tinggi dan elevasi muka air di udik bangunan terjun :
.Hudp dan Eludp
.Hudf dan Eludf
.Eludp = M + Hudp, untuk penggerusan
.Eludf = M + Hudf, untuk banjir
.Hudp dan Hudf dihitung dengan grafik MDO-1
4.tinggi terjun
.pada Qdf adalah Zdf = Hudf Hidf
.pada Qdp adalah Zdp = Hudp Hidp
.Hidf dan Hidp diperoleh dari grafik lengkung debit saluran

5.

parameter energi (E) untuk menentukan dimensi hidraulik


peredam energi tipe MDO dan MDS dihitung dengan:
. Edp = qdp/(g x Zdp3)1/2
6. kedalaman lantai peredam energi (Ds) dihitung dengan:
. Ds = (Ds) (Ds/Ds)
. Ds/Ds dicari dengan rafik MDO-2
7. panjang lantai dasar peredam energi (Ls) dihitung dengan:
. Ls = (Ds) (Ls/Ds)
. Ls/Ds dicari dengan grafik MDO-3
8. tinggi ambang hilir dihitung dengan:
. a = (0,2 a 0,3) Ds
9. Lebar ambang hilir dihitung:
. b = 2 x a
10. Elevasi Dekzerk tembok pangkal bangunan terjun ditentukan
dengan:
. EiDzu = M + Hudf + Fb ; untuk tembok pangkal udik
. EiDzi = M + Hidf + Fb ; untuk tembok pangkal hilir
. Fb diambil: 1.00 meter Fb 1.50 meter
11. Ujung tembok pangkal bangunan terjun tegak ke arah hilir (L pi)
ditempatkan lebih kurang ditengah-tengah panjang lantai
peredam energi:

12. Panjang tembok sayap hilir (Lsi) dihitung dari ujung hilir lantai
peredam energi diambil:
. Ls Lsi 1.5 Ls
. Tebing sungai yang tidak jauh dari tepi sisi lantai peredam
energi maka ujung hilir tembok sayap hilir dilengkungkan
masuk kedalam tebing sungai. Dan bagi tebing sungai yang
jauh dari tepi sisi lantai peredam energi maka ujung tembok
sayap hilir dilengkungkan balik ke udik sehingga tembok sayap
hilir berfungsi sebagai tembok pengarah arus hilir bangunan
terjun.
13. Panjang tembok pangkal bangunan terjun di bagian udik (L pu)
bagian yang tegak dihitung dari sumbu mercu bangunan terjun:
. 0.5 Ls Lpu Ls (15)
14. Panjang tembok sayap udik ditentukan:
. bagi tebing saluran yang tidak jauh dari sisi tembok pangkal
bangunan terjun, ujung tembok sayap udik dilengkungkan
masuk ke tebing dengan panjang total tembok pangkal
bangunan terjun ditambah sayap udik: 0.50 Ls Lsu 1.50 Ls
. bagi tebing Saluran yang jauh dari sisi tembok pangkal
bangunan terjun atau palung sungai di udik bangunan terjun
yang relatif jauh lebih lebar dibandingkan dengan lebar

15. kedalaman bantalan air pada tipe MDS ditentukan:


. S = Ds + (1.00 m sampai dengan 2.00 m)
KETERANGAN :
. Qdf = debit desain untuk bahaya banjir (m3/s)
. Qdp = debit desain untuk bahaya penggerusan (m3/s)
. Bp = lebar pelimpah (m)
. qdf = Qdf/Bp (m3/s/m)
. qdp = Qdp/Bp (m3/s/m)
. D2 = tinggi muka air sungai di hilir bangunan terjun dengan
dasar saluran terdegradasi (m)
. r = radius mercu bangunan terjun diambil antara 1.00 meter
sampai dengan 3.00 meter
. Hudf = tinggi air diatas mercu bangunan terjun pada debit
desain banjir (m)
. Hudp = tinggi air diatas mercu Bangunan terjun pada debit
desain penggerusan (m)
. Hidp = tinggi air dihilir bangunan terjun pada debit desain
penggerusan (m)
. Hidf = tinggi air dihilir bangunan terjun pada debit desain

Zdf = perbedaan elevasi muka air udik dan hilir pada debit
desain banjir (m)
Zdp = perbedaan elevasi muka air udik dan hilir pada debit
desain penggerusan (m)
Dzu = elevasi dekzerk tembok pangkal bangunan terjun
bagian udik (m)
Dzi = elevasi dekzerk tembok pangkal bangunan terjun
bagian hilir (m)
Fb = tinggi jagaan diambil antara 1.00 meter s/d 1.50 meter
E = parameter tidak berdimensi
Ls = panjang lantai peredam energi
Lb = jarak sumbu mercu bangunan terjun sampai
perpotongan bidang miring dengan lantai dasar bangunan
terjun (m)
Lpi = panjang tembok sayap hilir dari ujung hilir lantai
peredam energi ke hilir (m)
S = kedalaman bantalan air peredam energi tipe MDS (m)
Lpu = panjang tembok pangkal udik bangunan terjun dari
sumbu mercu bangunan terjun ke udik (m)

LANGKAH-LANGKAH Perhitungan dan penentuan


dimensi hidraulik tubuh bangunan terjun dan
peredam energinya
1. Hitung debit desain untuk bahaya banjir dan untuk bahaya
penggerusan;
2. Hitung lebar pelimpah bangunan terjun efektif;
3. Hitung debit desain persatuan lebar pelimpah;
4. Tentukan nilai radius mercu bangunan terjun, r;
5. Untuk nilai radius mercu bangunan terjun tersebut; periksa
kavitasi di bidang hilir tubuh bangunan terjun dengan bantuan
grafik MDO 1a, jika tekanan berada di daerah positif pemilihan
radius mercu bangunan terjun; diijinkan;
6. Jika tekanan berada di daerah negatif, tentukan nilai radius
mercu bangunan terjun yang lebih besar dan ulangi
pemeriksaan kavitasi sehingga tekanan berada di daerah
positif;
7. Hitung elevasi muka air udik bangunan terjun dengan bantuan
grafik MDO-1;
8. Hitung tinggi terjun bangunan terjun, Z;
9. Hitung parameter tidak berdimensi, E;
10.Hitung kedalaman lantai peredam energi,ds;

8.
9.

kemiringan dan kedalaman tembok pangkal bangunan terjun;


Tentukan tata letak, elevasi puncak, panjang, kemiringan dan
kedalaman tembok sayap hilir;
10. Tentukan tata letak, elevasi puncak, panjang, kemiringan dan
kedalaman tembok sayap udik;
11. Tentukan tata letak, elevasi puncak, panjang, kemiringan dan
kedalaman tembok pengarah arus;

Potongan memanjang bangunan terjun tetap dengan peredam energi tipe MDO

Potongan memanjang bangunan terjun tetap


dengan peredam energi tipe MDS

Hubungan antara keceparan rata-rata di atas ambang


ujung bangunan dan ukuran butir yang stabil

Contoh perhitungan
Elevasi mercu pelimpah = + 95 m
Elevasi permukaan max dalam waduk =
97 m
Debit max = 100 m3/det
P E 95 94 0,5
METODE USBR
Koefisien C H o
97 95
Kemiringan lereng udik 2/3 C = 2,127
L

Q
3

100
3

16,62m

2,127 x 2
Panjang Bendung CH
Tinggi tekanan total 97 94 = 3 m
Andaikan elv permukaan air di sal pengarah = 96,7 m d = 96,7 94
= 2,7 m
A = 2,7 x 16,62 = 44,87 m2.
V = Q/A = 100/44,87 = 2,23 m/det
Tekanan kecepatan hv = v2/2g = 0,25 m
tekanan total 2,7 + 0,25 = 2,95 < 3,0 m
Andaikan elv permukaai air di sal pengarah = 96,8m
d = 96,8 94 = 2,8 m; A = 2,8 x 16,62 = 46,54 m2
V = Q/A = 100/46,54 = 2,15 m/dt hv = 0,24 m
tekanan total di sal pengarah = 2,8+0,24 = 3,04 >3 m
2

Apabila perbedaan
kedalaman air = 10 cm,
didapat perbedaan tekanan
9 cm.
Dengan penambahan
tekanan 5 cm maka
kedalaman air = (10 x 5)/9
= 5,55 cm.
d = 2,7 + 0,055 = 2,76 m
dan hv = 0,24m
MENDAPATKAN PENAMPANG
LINTANG BENDUNG