Anda di halaman 1dari 27

STUDI KEMANTAPAN MODEL LERENG PASIR HOMOGEN DENGAN

MENGGUNAKAN UJI SENTRIFUGAL

RANCANGAN TUGAS AKHIR

Oleh :
Bob Andrea Lingga
12108055

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2012

BAB I............................................................................................................................1
PENDAHULUAN........................................................................................................1
1.1

Latar Belakang.................................................................................................1

1.2

Tujuan................................................................................................................2

1.3

Batasan Masalah...............................................................................................2

1.4

Manfaat Penelitian...........................................................................................2

1.5

Metodologi.........................................................................................................3

1.6

Sistematika Penulisan.......................................................................................3

BAB II...........................................................................................................................6
DASAR TEORI............................................................................................................6
2.1

Jenis Longsoran................................................................................................6

2.1.1

Longsoran Bidang (Plane Failure)..................................................................7

2.1.2

Longsoran Guling (Toppling Failure).............................................................8

2.1.3

Longsoran Baji (Wedge Failure).....................................................................8

2.1.4

Longsoran Busur (Circular Failure)................................................................9

2.2

Faktor Faktor yang Mempengaruhi Kemantapan Lereng......................10

2.2.1

Longsoran Akibat Gravitasi..........................................................................12

2.2.2

Longsoran Akibat Percepatan Gaya Luar.....................................................13

2.3

Getaran Bumi..................................................................................................14

2.4

Pengaruh Getaran Terhadap Lereng............................................................16

2.5

Pemodelan Fisik Sentrifugal..........................................................................17

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dunia pertambangan tidak dapat lepas dari faktor geoteknik, salah satu permasalahan
yang terjadi akibat faktor geoteknik ini adalah kematapan lereng tambang. Selama
masih ada aktivitas manusia yang berhubungan dengan penggalian dan penimbunan
pada tambang terbuka misalnya, kemantapan lereng mulai dari lereng kerja (working
slope) maupun lereng akhir (final slope) akan selalu dianalisis dan dijaga
kemantapannya. hal ini dilakukan karena setiap lereng tambang memiliki potensi
longsor yang dapat menimbulkan kecelakaan, kematian dan pada akhirnya dapat
mengganggu proses produksi yang mengakibatkan kerugian.
Masalah kemantapan lereng dalam operasi penambangan dapat ditemukan pada
penggalian tambang terbuka (open pit maupun open cut), bendungan bendungan
cadangan air kerja, di tempat timbunan bahan buangan (tailing disposal) dan tempat
penimbunan bijih (stockyard). Semua lereng yang dibentuk untuk kepentingan
kegiatan-kegiatan di atas harus dibuat sedemikian rupa sehingga stabil. Oleh karena
itu suatu analisis kemantapan lereng menjadi sangat penting untuk mencegah
terjadinya bencana kecelakaan ataupun gangguan terhadap kelancaran produksi.
Analisis suatu kemantapan lereng dapat dilakukan dengan berbagai metoda seperti
kesetimbangan batas, finite element dan metoda numerik lainnya. Tetapi untuk
merepresentasi keadaan lapangan akan lebih baik jika dilakukan usaha-usaha guna
memodelkan lereng dengan meniru faktor-faktor yang mempengaruhi kemantapan
lereng tersebut seperti kenyataan dilapangan. Usaha permodelan ini disebut metode
permodelan fisik.

1.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
Mempelajari pengaruh dan perilaku jenis dan kondisi material, dimensi dan
percepatan sentrifugal terhadap kestabilan lereng dengan menggunakan alat
sentrifugal.
Dengan analisis dimensi, dapat menggambarkan kestabilan lereng sebenarnya melalui
pemodelan lereng skala kecil secara fisik khususnya dengan uji sentrifugal.

1.3 Batasan Masalah


Beberapa batasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Penelitian menggunakan contoh campuran pasir tanah.
2. Material dianggap kontinu, homogen dan tanpa perlapisan.
3. Material pembentuk lereng didekati dengan sifat fisik dan sifat mekanik
material tanah.
4. Pemadatan material pembentuk lereng dilakukan secara konvensional dan
diasumsikan homogen.
5. Percepatan model hanya dihasilkan dari percepatan sentrifugal.
6. Longsoran yang terjadi diasumsikan berupa longsoran busur.

1.4 Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini dapat dijadikan sarana penelitian dan pembuktian teori teori
keruntuhan lereng pada skala kecil secara fisik khususnya dengan uji sentrifugal yang
diharapkan dapat dijadikan acuan untuk menganalisa lereng yang sesungguhnya.
Hasil penilitian ini diharapkan dapat menjadi perintis pemodelan kestabilan lereng
tambang dengan menggunakan alat sentrifugal di Indonesia. Hasil penelitian ini juga
dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran di lingkungan Program Studi Teknik
Pertambangan, Khususnya Laboratorium Geomekanika dan Peralatan Tambang,
FTTM-ITB.

1.5 Metodologi
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Studi literatur mengenai pemodelan fisik lereng dan publikasi terkait.


Pengujian sifat fisik material.
Pengujian sifat mekanik dari material.
Melakukan perhitungan kecepatan dan percepatan yang akan diberikan alat
sentifugal kepada model dengan persamaan gerak melingkar.
Melakukan pengujian kemantapan lereng pasir tanah untuk berbagai kondisi,
geometri dan percepatan sentrifugal.
Melakukan perhitungan longsoran, volume longsoran dan massa longsoran
dari material pada model lereng.
Melakukan analisis, pengolahan data dan pembahasan.
Menarik kesimpulan dan saran.

Langkah-langkah penelitian juga dapat dilihat pada diagram alir penelitian, pada
Gambar 1.1

1.6 Sistematika Penulisan


Dalam penyusunan laporan tugas akhir ini, penulis membagi laporan ke dalam
beberapa bagian, yaitu :
BAB I Pendahualuan
Bab ini membahas mengenai latar belakang penilitian, tujuan dan manfaat penelitian,
batasan masalah, metodologi penelitian, serta sistematika penulisan yang digunakan
dalam penelitian.
BAB II Dasar Teori
Bab ini menjelaskan mengenai teori teori yang relevan dengan penelitian dan
dijadikan penulis sebagai rujukan.
BAB III Eksperimentasi
Bab ini menjelaskan bagaimana langkah langkah mendapatkan data yang
diperlukan dalam penelitian, hingga mekanisme pengujian dapat dilakukan. Sehingga

didapat data kemiringan lereng akhir, volume longsoran dan massa longsoran yang
akan dibahas pada bab berikutnya.
BAB IV Data dan Pembahasan
Bab ini menampilkan data data yang menjabarkan hubungan setiap percepatan
sentrifugal terhadap setiap kondisi dan geometrid an dimensi lereng dengan
kemiringan akhir lereng setelah pengujian, volume longsoran dan massa longsoran.
BAB V Kesimpulan dan Saran
Berisikan tentang kesimpulan dan saran dari seluruh aktivitas penelitian tugas akhir
serta analisis data yang telah dilakukan yang diharapkan dapat menjawab tujuan dari
penelitian ini.

Studi literatur

Pemilihan Material dan Uji Analisa


Coba Alat
Pengukuran
Kondisi dan Geometri
Model Parameter Mekanik

Uji Sifat Fisik

Penentuan Kecepatan, Percepatan


Uji Sifat Mekanik Analisa Dimensi
Penentuan Kadar Air,
Ketinggian, Kemiringan Model Lereng

= Densitas
C = Kohesi
= Berat Jenis
= Sudut Gesek Dalam
w = Kadar Air

Pemodelan Fisik dan Pengujian Mekanik

Analisa dan Pembahasan Data Hasil Penelitian

Kesimpulan dan Saran

Gambar 1.1 Diagram Alir Penelitian

BAB II
DASAR TEORI

Setiap material berbentuk lereng yang bertahan di alam sampai saat ini berada dalam
keadaan stabil. Hal ini dikarenakan distribusi tegangan pada material tersebut berada
dalam keadaan setimbang. Jika kesetimbangan tersebut terganggu, dimana gaya
pengganggunya (gaya luar ditambah gaya penggerak) lebih besar daripada gaya
penahannya maka secara otomatis material akan mencari kesetimbangannya yang
baru dengan mengurangi beban, terutama dalam bentuk longsoran sehingga pada
bentuk akhir gaya penahannya minimal menjadi sama dengan gaya penggeraknya.
Lereng stabil memiliki komponen gaya penahan yang lebih besar daripada komponen
gaya penggerak yang dimilikinya. Faktor keamanan (FK) adalah perbandiingan atara
gaya penahan terhadap gaya penggerak dan dikatakan stabil apabila FK lebih besar 1,
dimana FK didefinisikan sebagai :
FK =

2.1

Gaya Penahan
Gaya Pengganggu

Jenis Longsoran
Suatu longsoran akan terjadi bila resultan gaya penggerak lebih besar daripada
resultan gaya penahan yang dimilikinya. Longsoran ini bisa berupa rotasi atau
translasi yang tergantung pada keadaan material serta strukturnya. Jika luncurannya
berupa rotasi, maka biasanya akan menghasilkan longsoran busur atau lingkaran.
Tetapi bila gerakan ini berupa translasi, maka akan menghasilkan longsoran bidang.
Gabungan kedua gerakan ini akan menghasilkan longsoran bidang dan busur. Jenis
longsoran yang mungkin terjadi pada lereng antara lain :

Longsoran bidang (Plane Failure)


Longsoran guling (Toppling Failure)
Longsoran baji (Wedge Failure)

2.1.1

Longsoran busur (Circular Failure)

Longsoran Bidang (Plane Failure)


longsoran bidang ini, bila dibandingkan dengan longsoran baji (akan dibahas
selanjutnya) relatif jarang terjadi. namun bila kondisi yang menunjang terjadinya
longsoran bidang terpenuhi, maka longsoran yang akan terjadi mungkin akan lebih
besar secara volume daripada longsoran baji.

Gambar 2.1 Longsoran Bidang


longsoran bidang seperti tampak pada gambar dapat terjadi jika persyaratan berikut
terpenuhi :
1. jurus (strike) bidang luncur sejajar atau hampir sejajar terhadap jurus bidang
permukaan lereng (perbedaan maksimum 200).
2. kemiringan bidang luncur harus lebih kecil daripada kemiringan bidang
permukaan lereng.
3. kemiringan bidang luncur lebih besar daripada sudut geser dalam.
4. terdapat bidang bebas yang merupakan batas lateral dari massa batuan atau
tanah yang longsor.

2.1.2

Longsoran Guling (Toppling Failure)


longsoran guling umumnya terjadi pada lereng yang terjal dan pada batuan yang
keras dimana struktur bidang lemahnya berbentuk kolom. longsoran jenis ini terjadi
apabila bidang-bidang lemah yang ada berlawanan dengan kemiringan lereng.
longsoran guling pada blok fleksibel terjadi jika :
1. > 900 + , dimana adalah kemiringan bidang lemah, adalah sudut
geser dalam dan adalah kemiringan lereng.
2. perbedaan maksimal jurus (strike) dari kekar (joint) dengan jurus lereng
(slope) adalah 300.

Gambar 2.2 Longsoran Guling

2.1.3

Longsoran Baji (Wedge Failure)


longsoran baji terjadi bila terdapat dua bidang lemah atau lebih, berpotongan
sedemikian rupa sehingga membentuk baji terhadap lereng. longsoran baji ini dapat
dibedakan menjadi dua tipe longsoran yaitu longsoran tunggal (single sliding) dan
longsoran ganda (double sliding).

Gambar 2.3 Longsoran Baji


untuk longsoran tunggal, luncuran terjadi pada salah satu bidang, sedangkan untuk
longsoran ganda luncuran terjadi pada perpotongan kedua bidang.
longsoran baji tersebut akan terjadi bila memenuhi syarat sebagai berikut :
1. kemiringan garis potong kedua bidang lemah harus lebih kecil daripada
kemiringan lereng.
2. sudut garis potong bidang lemah harus lebih besar daripada sudut geser
dalamnya.

2.1.4

Longsoran Busur (Circular Failure)


longsoran busur umumnya terjadi pada material yang bersifat lepas (loose material
seperti material tanah. sesuai dengan namanya, bidang longsorannya berbentuk busur.
batuan hancur yang terdapat pada suatu daerah penimbunan dengan dimensi besar
akan cenderung longsor dalam bentuk busur lingkaran (Hoek & Bray, 1981). pada
longsoran busur yang terjadi pada daerah timbunan, biasanya faktor struktur geologi
tidak terlalu berpengaruh pada kestabilan lereng timbunan bergantung pada
karakteristik material, dimensi lereng serta kondisi air tanah yang ada serta faktor luar
yang mempengaruhi kestabilan lereng pada lereng timbunan.

Gambar 2.4 Longsoran Busur

2.2

Faktor Faktor yang Mempengaruhi Kemantapan Lereng


Kemantapan suatu lereng (alami maupun hasil kerja manusia) dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Faktor yang perlu diperhatikan dalam menganalisis kemantapan
suatu lereng adalah sebagai berikut :
a. Penyebaran batuan atau tanah
Macam batuan atau tanah yang terdapat di daerah penyelidikan harus
diketahui, demikian juga penyebaran serta hubungan antar batuan. Ini perlu
dilakukan karena sifat-sifat fisik dan mekanik suatu batuan atau tanah berbeda
yang satu dengan lain sehingga kekuatan menahan bebannya sendiri juga
berbeda.
b. Relief permukaan bumi
Faktor ini mempengaruhi laju erosi dan pengendapan serta juga menentukan
arah aliran air permukaan dan air tanah. Untuk daerah yang curam, kecepatan
aliran air permukaan tinggi dan menyebabkan pengikisan lebih intensif
dibandingkan pada daerah yang landai. Karena erosi yang intensif, banyak
dijumpai singkapan batuan dan ini menyebabkan pelapukan yang lebih cepat.
Batuan lapuk mempunyai kekuatan yang rendah sehingga kemantapan lereng
menjadi berkurang.
c. Struktur geologi

d.

e.

f.

g.

Struktur geologi yang perlu dicatat disini adalah sesar, kekar, bidang
perlapisan, perlipatan, ketidakselarasan dan sebagainya. Ini merupakan hal
yang penting dalam analisis kemantapan lerengkarena struktur ini merupakan
bidang lemah di dalam suatu massa batuan dan dapat menurunkan
kemantapan lereng.
Iklim
Iklim berpengaruh terhadap kemantapan lereng karena iklim mempengaruhi
perubahan temperature. Temperature yang cepat sekali berubah dalam waktu
yang singkat akan mempercepat proses pelapukan batuan. Untuk daerah tropis
pelapukan lebih cepat dibandingkan dengan daerah dingin. Oleh karena itu
singkapan batuan pada lereng daerah tropis akan lebih cepat lapuk dan ini
mengakibatkan lereng mudah longsor.
Geometri lereng
Geometri lereng mencakup tinggi lereng dan sudut kemiringan lereng. Lereng
yang terlalu tinggi akan menjadi penyebab tidak mantap dan cenderung lebih
mudahnya longsor dibandingkan lereng yang tidak terlalu tinggi bila susunan
batuannya sama. Demikian juga dengan sudut lereng, lereng akan menjadi
kurang mantap jika kemiringannya besar.
Air tanah
Muka air tanah yang dangkal menjadikan lereng sebagian besar basah dan
batuannya mempunyai kandungan air yang tinggi. Batuan dengan kandungan
air yang tinggi, kekuatannya menjadi rendah sehingga lereng lebih mudah
longsor. Selain itu, air yang terkandung pada batuan akan menambah beban
batuan tersebut. (cari buku geoteknik tanah)
Gaya luar
Gaya luar dapat mempengaruhi kemantapan suatu lereng. Gaya ini berupa
getaran-getaran yang berasal dari sumber yang berbeda di dekat lereng
tersebut. Getaran ini misalnya ditimbulkan oleh peledakan, lalu lintas
kendaraan dan lain-lain.

Sementara itu menurut Terzaghi (Craig, 1976), beberapa faktor yang mempengaruhi
kemantapan lereng adalah sebagai berikut :
1. Faktor eksternal
a. Perubahan geometri lereng : pemotongan kaki lereng dan perubahan
sudut kemiringan lereng.
b. Pembebasan pembebanan : erosi, penggalian.
c. Pembebanan penambahan material, penambahan tinggi lereng.
d. Shock dan vibrasi : peledakan dan gempa bumi.

e. Perubahan kelakuan air hujan dan tekanan pori.


2. Faktor internal
a. Ekspansi rekahan (fissuring).
b. Pelapukan.
c. Rembesan air (seepage) dan pemipaan (pipping).
Pada penelitian ini akan diamati parameter-parameter keruntuhan pada lereng terkait
yang diakibatkan oleh geometri lereng dan gaya-gaya luar (dalam hal ini getaran
gempa, ledakan dsb) yang diterangkan dengan penurunan rumus sebagai berikut.

2.2.1

cos

Longsoran Akibat Gravitasi

sinsuatu
massa seberat W berada di atas suatu bidang miring membentuk sudut
Jika

terhadap horizontal dan berada dalam keadaan setimbang, maka bekerja komponen
gaya-gaya seperti tertera pada gambar berikut :

Gambar 2.5 Longsoran Akibat Gravitasi


Kuat geser sebagai penahan gelincir balok dapat didefinisikan sebagai :
= +n tan ......................................................................................................(1)

Tegangan normal dapat dinyatakan sebagai :


n=

cos
........................................................................................................(2)
A

A adalah luas permukaan dasar bidang longsor.

Dengan menstubtitusikan persamaan (1) dan persamaan (2) diperoleh :


= +
m.a sin

Jika

cos
tan
.............................................................................................(3)
A

F= . A

maka gaya penahan F adalah :

F= A + ( cos ) tan .......................................................................................(4)


Berdasarkan hokum kesetimbangan batas, besar gaya penahan sebanding dengan
m.agaya penggerak, maka :
besar
sin = A + ( cos ) tan ................................................................................(5)
m.a cos

Jika tidak terdapat kohesi yang bekerja pada dasar balok, ( =0 ) , maka kondisi
kesetimbangan dapat disederhanakan menjadi :
= ....................................................................................................................(6)

2.2.2

Longsoran Akibat Percepatan Gaya Luar

Jika suatu bidang miring yang membentuk sudut terhadap horizontal mengalami
percepatan gaya luar (gempa, getaran peledakan, dsb) juga berarah horizontal, maka
bekerja komponen gaya-gaya seperti tertera pada gambar berikut :
sin

cos

Gambar 2.5 Longsoran Akibat Percepatan Gaya Luar Pada Lereng

Gaya penggerak yang bekerja pada massa batuan yang akan longsor dapat dituliskan
sebagai :
F penggera k =mgsin +ma cos .......................................................................(7)
Sedangkan besarnya gaya normal yang bekerja pada bidang longsor dapat dituliskan
sebagai :
F normal=mg cos masin .............................................................................(8)
Sehingga besarnya gaya penahan menajdi :
F penahan= A+ ( mg cos masin ) tan .......................................................(9)
a adalah percepatan horizontal.

Dari persamaan (7) dan (9) dapat dilihat bahwa penambahan gaya penggerak dan
pengurangan gaya penahan pada permukaan longsor akan dikontrol oleh besarnya
percepatan horizontal dan besarnya kemiringan bidang longsor terhadap bidang
horizontal.
Newmark (1965) mengemukakan persamaan untuk memperkirakan percepatan kritis,
yaitu :
a kritis=( Fk statis1 ) . g . sin ...........................................................................(10)
a kritis=percepatan kritis yang menyebabkanl ereng longsor
Fk statis=faktor keamananberdasarkan perhitungan statis
g= percepatan gravitasi
=sudut kemiringan lereng

Dari rumus di atas dapat disimpulkan bahwa ada keterkaitan antara faktor keamanan
terhadap kemiringan lereng, yaitu dengan semakin besarnya sudut lereng () akan
dapat merendahkan nilai faktor keamanan statis.

2.3

Getaran Bumi
Getaran tanah diakibatkan adanya medan tegangan dinamik disekitarnya. Medan
tegangan menghasilkan deformasi elastic yang merambat menjauh dari sumbernya
(peledakan, pergerakan lempeng dsb, Jaeger & Cook, 1979). Getaran tanah (geound
vibration) terjadi pada daerah elastic yang akan menimbulkan gelombang elastic
yangdikenal juga sebai gelombang seismik.

Gambar 2.6 Klasifikasi Gelombang Seismik


Gelombang seismic dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Gelombang Badan (body wave) adalah gelombang yang merambat melalui
massa batuan, menembus ke bagian dalam dari massa batuan. Gelombang
badan dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
a. Gelombang Longitudinal (compression wave/ P-wave)
Gelombang longitudinal adalah jenis gelombang yang menghasilkan
pemadatan (kompresi) dan pemuaian (dilatasi) pada arah yang sama
dengan arah perambatan gelombang.

Gambar 2.7 Gelombang Longitudinal (JKMRC, 1996)


b. Gelombang Transversal (shear wave/ S-wave)
Gelombang transversal adalah gleombang melintang (transversal)
yang bergetar tegak lurus pada arah perambatan gelombang.

Gambar 2.8 Gelombang Transversal (JKMRC, 1996)


2. Gelombang Permukaan adalah gelombang yang merambat di atas permukaan
batuan tetapi tidak menembus batuan. Ada dua macam gelombang permukaan,
yaitu :
a. Gelombang love yaitu gelombang mempunyai gerakan seperti
gelombang transversal yang terpolarisasi secara horizontal.
b. Gelombang Rayleigh yaitu gelombang yang gerakan partikel
berputar mundur dan vertical terhadap arah perambatan gelombang
vertical.

Gambar 2.9 Gelombang Love (kiri) dan Gelombang Rayleigh (kanan) (JKMRC,
1996)

2.4

Pengaruh Getaran Terhadap Lereng


Gempa, peledakan atau getaran lainnya dapat memacu bencana longsoran baik
longsoran kecil maupun longsoran besar. Pengaruh gempa adalah kompleks dimana
dapat meningkatkan teganyan gesernya dan di lain pihak menurunkan kuat gesernya.
Percepatan horizontal yang dihasilkan oleh gempa dapat merubah kondisi tegangan
tegangan material lereng. Keadaan tersebut sesuai dengan prinsip inersia suatu benda
dimana jika benda tersebut diberi gangguan mekanik atau gaya, maka benda tersebut
akan memiliki kecenderungan yang kuat untuk mempertahankan keadaan awalnya.
Maka untuk mendiamkan benda yang sedang bergerak dibutuhkan perlambatan,
demikian pula sebaliknya. Pada saat benda mengalami percepatan atau perlambatan
dalam hal ini lereng tambang, lereng tersebut akan mengalami sebuah perilaku fisik
berupa penyesuaian yang diinterpretasikan sebagai deformasi atau bahkan
keruntuhan.

2.5

Gerak Melingkar

v
v
ar centri
acentrifug
s

petal

al

Gambar 2.10 Ilustrasi Gerak Melingkar


Suatu benda yang bergerak mengelilingi sumbu dalam lintasan melingkar disebut
gerak melingkar. Ketika bergerak melingkar, aka nada sudut yang dibentuk oleh
vector jari-jari yang menghubungkan dua posisi benda yang berbeda dalam lintasan
melingkar tersebut. Satuan-satuan yang digunakan untuk menyatakan besaran sudut
misalnya derajat (0) dan radian. Dimana untuk masing-masing satu putaran penuh
dinyatakan :
0

1 putaran=360 =2 radia n ..............................................................................(11)


Hubungan antara sudut tempuh () dengan busur lingkaran yang ditempuh (s) :
Jika sudut tempuh satu putaran 2

radian, maka panjang busur yang ditempuh

adalah keliling lingkaran :


keliling lingkaran=2 R ....................................................................................(12)
Dimana R adalah jari-jari lintasan lingkaran.
Jika sudut tempuh satu putaran radian, maka panjang busur yang ditempuh adalah s.
dengan demikian :
2 /=2 R/ s ....................................................................................................(13)

Sehingga :
s=R .................................................................................................................(14)
Waktu yang diperlukan benda untuk melakukan satu kali putaran penuh dinamakan
periode dan dilambangkan dengan T, seperti berikut :
T=

t
n ...................................................................................................................(15)

Dimana n adalah jumlah putaran dan t adalah total waktu benda berputar sampai diam
dalam sekon atau detik.

Sedangkan jumlah putaran yang dilakukan benda dalam satuan waktu disebut
frekuensi (f). dengan demikian dapat dirumuskan sebagai berikut :
f=

n
t ....................................................................................................................(16)

Satuan frekuensi adalah cyclus per second atau 1/s atau Hertz (Hz).
Sehingga hubungan periode dan frekuensi menjadi:
1
f

T=

atau

f=

1
T ............................................................................................(17)

Benda yang bergerak dalam lintasan melingkar menempuh busur lingkaran s dalam
selang waktu tertentu t. bila perubahan busur lingkaran yang ditempuh sama tiap
selang waktu yang sama, maka gerak melingkar semacam ini disebut gerak melingkar
beraturan.
Kelajuan tangensial (besar dari keceparan tangensial) atau sering disebut dengan
kelajuan linier dirumuskan dengan :
v=

s
t

................................................................................................................(18)

Arah vector kecepatan tangensial selalu tegak lurus dengan arah vector jari-jari
dengan arah gerak benda.
Sudut yang ditempuh benda dalam selang waktu tertentu dinamakan kelajuan anguler
atau kecepatan sudut benda dan pada gerak melingkar beraturan selalu sama dalam
selang waktu yang sama, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut :
=

t ................................................................................................................(19)

Apabila sudut yang ditempuh benda dalam satu periode waktu t=T
=2

adalah

radian, maka kelajuan anguler dalam gerak melingkar beraturan

dirumuskan :

2
=2 f
.....................................................................................................(20)
T

Hubungan antara kelajuan tangensial dengan kelajuan anguler dapat ditentukan dari :
s
=
R
..........................................................................................................(21)
t t
Atau dapat disederhanakan jadi :
v = R ................................................................................................................(22)
Dalam gerak melingkar beraturan selalu memiliki kelajuan anguler konstan.
Perubahan kecepatan anguler tiap satuan waktu dinamakan dengan percepatan
anguler ()
=

t ...............................................................................................................(23)

Jika gerak melingkar beraturan sama dengan nol maka =0 .


Jika bernilai positif dan tidak sama dengan nol maka > 0 , artinya terjadi
gerak melingkar dipercepat beraturan.
Jika bernilai negatif dan tidak sama dengan nol maka < 0 , artinya terjadi
gerak melingkar diperlambat beraturan.
Percepatan linier atau tangensial diperoleh dengan membagi perubahan kecepatan
linier dengan selang waktu.
a=

v
t ................................................................................................................(24)

Jika v gerak melingkar beraturan sama dengan nol maka a=0 .

Jika v bernilai positif dan tidak sama dengan nol maka a>0 , artinya terjadi
gerak melingkar dipercepat beraturan.
Jika v bernilai negatif dan tidak sama dengan nol maka a<0 , artinya terjadi
gerak melingkar diperlambat beraturan.
Karena v = R

maka akan diperoleh hubungan antara percepatan sudut dan

percepatan linier yaitu :


a= R ..................................................................................................................(25)

Pada gerak melingkar berubah beraturan kecepatan sudut awal ( 0 ) pada t=0 ,

tidak sama dengan kecepatan sudut akhir ( t ) pada t , hubungan antara


keduanya dapat dirumuskan sebagai berikut :
t = 0 + t

..........................................................................................................(26)

0 =0
Sedangkan sudut akhir ( ) yang ditempuh dengan asumsi sudut awal
dapat dirumuskan dengan :
1
=0 t+ t 2
......................................................................................................(27)
2
Dan terdapat juga percepatan sentripetal mengarah menuju pusat yang dialami benda,
akan lebih lengkap dibahas pada subbab berikutnya.

2.6

Pemodelan Fisik Lereng dengan Uji Sentrifugal


Sebuah model fisik (paling sering disebut hanya sebagai model, namun dalam
pengertian ini dibedakan dari model konseptual) adalah salinan fisik lebih kecil atau
lebih besar dari suatu objek. Tujuan dari model fisik pada skala yang lebih kecil
mungkin memiliki gambaran yang lebih baik, untuk tujuan pengujian sebagai

instrument eksperimen. Tujuan dari model fisik pada skala yang lebih besar mungkin
untuk melihat struktur hal-hal yang biasanya terlalu kecil untuk diteliti dengan benar.
Pada penelitian ini akan diamati parameter-parameter keruntuhan pada lereng terkait
yang diakibatkan oleh gaya sentrifugal yang diterangkan dengan penurunan rumus
sebagai berikut.
Jika suatu benda bermassa M ditempatkan pada lengan alat sentrifugal sejauh R meter
dari pusat rotasi, dan alat akan berputar pada kecepatan angular sebesar rad/detik.
maka benda akan mengalami gaya-gaya yang disebut pseudo forces. Contohnya
adalah gaya sentrifugal dan ceriolis force.
Ketika rotasi konstan, maka akan ada percepatan sentripetal yang arahnya menuju
pusat (Fundamental of Physics, Halliday and Resnick, 1981) :
2

A= R ..............................................................................................................(28)
Percepatan sentripetal bersama massa benda menghasilkan gaya sentripetal.
Selama keadaan ini berlangsung, akan ada juga gaya yang besarnya sama dengan
gaya sentripetal terapi arahnya berlawanan. Gaya tersebut adalah gaya sentrifugal,
inilah yang disebut pseudo force.
Selain itu, benda tersebut juga memiliki angular momentum :
L=m R

...........................................................................................................(29)

Sekarang jika benda tersebut bergerak radial dengan jarak R dari pusat rotasi, angular
momentumnya juga berubah menjadi :
dL d
dR
= m R2=2m =2 m R v R
..............................................................(30)
dt dx
dt
Dengan

vR

adalah kecepatan benda dalam arah radial.

Perubahan angular momentum menyebabkan torsinya menjadi :


T =FCR R=

dL
=2 m R v R
.................................................................................(31)
dt

FCR

adalah Coriolis force, yang arahnya tangensial lintasan benda atau searah

dengan kecepatan tangensial benda.


Tetapi dalam uji sentrifugal untuk kestabilan lereng, lereng yang ditahan oleh lengan
ayun tidak mengalami gerak radial selama diputar

( dRdt =0)

, sehingga Coriolis

F =0
force ( CR ) dan dapat diabaikan (tidak mempengaruhi gaya sentrifugalnya).

BAB III
EKSPERIMENTASI

Eksperimentasi dilakukan di Laboratorium Geomekanik Teknik Pertambangan ITB.


Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), Intitut Teknologi Bandung
(ITB). Laboratorium Mekanika Tanah Teknik Sipil ITB. Fakultas Teknik Sipil dan
Lingkungan (FTSL), Institut Teknologi Bandung (ITB). Dan Laboratorium
Pengolahan Bahan Galian Teknik Matalurgi ITB. Fakultas Teknik Pertambangan dan
Perminyakan (FTTM), Institut Teknologi Bandung (ITB).
Penelitian berupa pemodelan fisik sebuah lereng tambang dengan material pasir tanah
-20 mesh yang dipadatkan dengan berbagai ukuran dimensi dan kemiringan yang
disesuaikan. Lalu lereng ditempatkan pada sebuah lengan ayun dengan arah lereng
berlawanan dengan pusat lengan ayun (pusat putaran). Diputar sehingga lereng
mengalami gaya sentrifugal yang selelu searah dengan muka lereng. Gaya sentrifugal
ini dianggap sebagai resultan gaya akibat getaran gempa model gelombang-P
(primer).

as
Gambar 3.1 Ilustrasi Bentuk Pengujian Lereng

Perhitungan dari parameter mekanik percepatan model dihitung menggunakan


instrument pengukur dengan bekerja sama dengan mahasiswa Jurusan Elektro,
Fakultas Teknik Informatika dan Elektro, Intitut Teknologi Bandung (ITB).