Anda di halaman 1dari 1

PENENTUAN POSISI OBJEK DI DASAR LAUT

Rizal Trytama Sukirno Putra


15112088
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Teknik Geodesi dan Geomatika, Institut Teknologi Bandung
rizaltrytama@yahoo.co.id

Penentuan posisi objek di dasar laut dapat dilakukan dengan Conventional Depth Echo Sounder
dimana kedalaman dasar laut dapat dihitung dari perbedaan waktu antara pengiriman dan penerimaan
pulsa suara. Pengukuran ini menggunakan Side-Scan Sonar. Penentuan posisi tersebut menggunakan
alat Single-beam Echo Sounder dan Multi-Beam Echo Sounder. Perbedaan keduanya yaitu MultiBeam Echosounder merupakan alat untuk menentukan kedalaman air dengan cakupan area dasar laut
yang luas, sedangkan Single-Beam Echo sounder untuk area yang kurang luas.
Peta dasar laut yang lengkap dan rinci ini dapat digunakan untuk menunjang penginterpretasian
struktur geologi bawah dasar laut dan kemudian dapat digunakan untuk menentukan dan mencari
posisi objek di bawah laut, seperti mineral bawah dasar laut, pencarian kapal-kapal karam di dasar
laut, penentuan jalur pipa dan kabel di bawah dasar laut, dan lain sebagainya.
Teknik pengukuran akustik diatas tersebut, dibutuhkan transceiver dan transponder untuk mengirim
dan menerima sinyal akustik untuk pengukuran jarak dan arah. Jarak antara kedua alat tsb. disebut
baseline. Dengan prinsip ini, terdapat 3 jenis kategori berdasarkan baseline yaitu: Long Baseline
(LBL), Short Baseline (SBL), dan Ultra-Short baseline (USBL).
Selain itu, pada penentuan navigasi dan posisi kapal selam di bawah laut adalah dengan cara
kombinasi dari dua sistem yang dapat menghitung posisi kapal, yaitu dead reckoning dan inertial
navigation. Pada penentuan posisi di bawah kedalaman laut, kapal selam memasang kedua sistem
tersebut pada periskopnya yang dapat menentukan posisi kapal selam tersebut
Dead reckoning merupakan proses menghitung posisi suatu benda, khususnya di laut, dengan
memperkirakan arah dan jarak yang ditempuh bukan dengan menggunakan landmark, pengamatan
astronomi, atau metode navigasi elektronik. Dead reckoning menggunakan titik awal tetap dan
kemudian menambahkan kecepatan dan arah kapal untuk menentukan posisi saat ini. Posisi tersebut
diperoleh dari gyrocompass kapal. Gyrocompass ini adalah sebuah roda berputar pada sumbu yang
gravitasi akan selalu kembali ke plumb-nya (penentuan posisi horizontal atau vertikal kapal selam).
Inertial Navigation System merupakan sumber posisi yang diperkirakan, memanfaatkan akselerasi,
deselerasi, dan pitch and roll untuk komputasi. Untuk memperhitungkan faktor arus, pasang surut,
dan tidak kemudi lurus, navigator menggunakan informasi tambahan yang dikumpulkan dari sistem
bimbingan inersia yang mengumpulkan data tentang gaya yang bekerja pada kapal. Jika arus
mendorong kapal , atau terjadi perubahan dalam kecepatan, atau ada perubahan tentu saja kecil,
sistem bimbingan inersia akan mengumpulkan data bahwa untuk navigator untuk digunakan dalam
menyesuaikan perhitungan posisi yang diprediksikan oleh dead reckoning.
Referensi :
http://usnavymuseum.org/Education_LP0017.asp (diakses tanggal 27 Maret 2014 pukul 05.01)
http://www.navy.mil/navydata/cno/n87/faq.html (diakses tanggal 27 Maret 2014 pukul 05.17)