Anda di halaman 1dari 15

Pendahuluan

Gastroenteritis atau penyakit diare adalah penyakit yang terjadi


akibat adanya peradangan pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh infeksi
(Cakrawardi et. al,2009). Penyakit ini ditandai dengan gejalanya terutama diare,
muntah atau keduanya dan dapat juga disertai dengan demam, nyeri abdomen dan
anoreksia (Elliott J. E., 2007). Secara global, setiap tahun diperkirakan dua juta
kasus gastroenteritis yang terjadi di kalangan anak berumur kurang dari lima
tahun. Walaupun penyakit ini seharusnya dapat diturunkan dengan pencegahan,
namun penyakit ini tetap menyerang anak terutamanya yang berumur kurang dari
dua tahun. Selain menyebabkan jumlah kematian yang tinggi di kalangan anak,
penyakit gastroenteritis juga menimbulkan beban kepada ibu bapa dari segi biaya
pengobatan dan waktu. Penyakit ini terutama disebabkan oleh makanan dan
minuman yang terkontaminasi akibat akses kebersihan yang buruk (Howidi et. al,
2012).
Gastroenteritis atau penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan
mortalitasnya yang masih tinggi. Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit
Diare, Departemen Kesehatan (Depkes) dari tahun 2000 sehingga tahun 2010
terlihat kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 incidence rate penyakit
diare 301/1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374/1000 penduduk, tahun
2006 naik menjadi 423/1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000
penduduk. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), studi
mortalitas dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke tahun diketahui bahwa diare
masih menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia. Penyebab utama
kematian karena diare perlu tatalaksana yang cepat dan tepat (Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia,2011). 2
Biasanya gastroenteritis dapat pulih sendiri tanpa terapi. Penatalaksanaan

kasus gastroenteritis mempunyai tujuan mengembalikan cairan yang hilang akibat


diare. Kegagalan dalam pengobatan gastroenteritis dapat menyebabkan infeksi
berulang atau gejala berulang dan bahkan timbulnya resistensi. Untuk
menanggulangi masalah resistensi tersebut, WHO telah merekomendasikan
pengobatan gastroenteritis berdasarkan penyebabnya. Terapi antibiotik
diindikasikan untuk gastroenteritis yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Hal ini
karena antibiotik merupakan obat andalan untuk terapi infeksi bakteri. Namun,
ketepatan dosis dan lama pemberian antibiotik adalah sangat penting agar tidak
terjadi resistensi bakteri dan infeksi berulang (Cakrawardi et. al, 2009). Resistensi
antibiotik di kalangan bakteri enterik dapat menimbulkan implikasi buruk karena
dapat mengancam nyawa dan menyebabkan penyakit yang lebih serius (A
Elmanama et al., 2013).
Sebuah studi di Makassar pada tahun 2009 pernah meneliti tentang pola
penggunaan antibiotik pada pasien anak dengan gastroenteritis, namun belum ada
lagi penelitian yang meneliti tentang hubungan antara ketepatan dosis dan lama
pemberian antibiotik dengan lama perawatan pada pasien anak dengan
gastroenteritis.
Pengertian Gastroenteritis
Gastroenteritis adalah peradangan pada mukosa membran lambung dan
usus halus yang ditandai dengan gejala diare, mual, muntah dan demam ringan
disertai hilangnya nafsu makan dan rasa tidak enak di perut.
Diare adalah suatu gejala penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan
bentuk dan konsistensi dari tinja yang melembek sampai mencair dan
bertambahnya frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari. Diare juga
merupakan penyebab penting dari gizi buruk, akibatnya tubuh tidak dapat
memanfaatkan makanan dengan efektif.
Diare akut adalah diare yang timbul secara mendadak dan bisa

berlangsung terus sampai beberapa hari dan biasanya kurang dari 2 minggu yang
disebabkan oleh infeksi usus.
2Epidemiologi Gastroenteritis
Distribusi
a. Distribusi Berdasarkan Orang
Gastroenteritis merupakan salah satu penyakit infeksi yang terjadi
diseluruh dunia. Gastroenteritis sering terjadi pada bayi yang berumur 0-12 bulan
atau dibawah satu tahun, Kejadian gastroenteritis pada laki-laki hampir sama
dengan perempuan. Gastroenteritis lebih sering terjadi pada anak-anak dan lansia
disebabkan daya tahan tubuh yang lemah dan mudah mengalami dehidrasi.
Universitas Sumatera UtaraGastroenteritis biasanya terjadi pada masyarakat yang
berpendidikan rendah dan
berpendapatan rendah, hal ini dikaitkan dengan tingkat kesehatan yang kurang.
b. Distribusi Berdasarkan Tempat
Gastroenteritis merupakan salah satu penyebab kematian bayi di daerah
tropis. Di negara yang sedang berkembang, kejadian gastroenteritis lebih tinggi
pada penduduk perkotaan yang padat dan kumuh. Sedangkan di negara maju
dengan tingkat pendidikan dan kesehatan tinggi, kejadian gastroenteritis jauh
lebih rendah. Hal ini erat kaitannya dengan kurangnya pencemaran minuman pada
anak dan sebagian lagi dikarenakan faktor pencegahan imunologik dari ASI.
c. Distribusi Berdasarkan Waktu
Di negara-negara yang beriklim empat musim, gastroenteritis yang
disebabkan oleh bakteri sering terjadi pada musim panas, sedangkan yang
disebabkan oleh virus terjadi pada musim dingin. Di Indonesia, gastroenteritis
yang disebabkan oleh rotavirus dapat terjadi sepanjang tahun, dengan puncak
kejadian pada pertengahan musim kemarau (Juli-Agustus), sedangkan yang
disebabkan oleh bakteri puncaknya pada pertengahan musim hujan (JanuariFebruari).

Frekuensi
Gastroenteritis merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada
bayi dan anak-anak di negara berkembang. Menurut Centers of Disease and
Prevention (CDC) terdapat 1,3 miliar kasus gastroenteritis dan 3,2 juta kematian
setiap tahunnya pada bayi dan balita. Secara keseluruhan anak mengalami ratarata 3,3 kasus
gastroenteritis pertahun dan terdapat lebih dari 9 episode
Sekitar 80% bayi dan balita disebabkan oleh dehidrasi sebagai akibat
kehilangan cairan elektrolit melalui tinjanya. Menurut laporan Departemen
Kesehatan Indonesia setiap anak mengalami gastroenteritis (diare) 1,6-2 kali
setahun. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilaksanakan dibeberapa
Propinsi di Indonesia pada tahun 2011, melaporkan bahwa angka nasional
prevalensi klinis gastroenteritis sebesar 9,0%, dengan rentang 4,2%-18,9%.
Beberapa provinsi mempunyai prevalensi gastroenteritis diatas angka nasional
(9%) di 14 provinsi, prevalensi tertinggi di NAD sebesar 18,9% dan terendah di
DI Yogyakarta sebesar 4,2%.
13
Pada tahun 2010 terdapat 318 penderita gastroenteritis yang dirawat inap
di RSUD Puri Husada Tembilahan dengan dehidrasi ringan sebanyak 98 orang,
dehidrasi sedang sebanyak 148 orang dan dehidrasi berat sebanyak 72 orang.
Determinan
a. Penjamu
Beberapa faktor risiko pada penjamu (host) yang dapat meningkatkan
kerentanan penjamu terhadap kuman penyebab gastroenteritis antara lain :
a.1 Tidak mendapat ASI sampai usia 2 tahun. ASI mengandung antibodi yang
dapat melindungi terhadap kuman penyebab gastroenteritis.
a.2 Malnutrisi dan BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah).Beratnya penyakit,
lamanya diare dan risiko kematian karena gastroenteritis meningkat pada

bayi yang mengalami gangguan gizi dan BBLR.


a.3 Imunodefisiensi (penurunan kekebalan tubuh).
Universitas Sumatera Utaraa.4 Campak ; Gastroenteritis sering terjadi dan berakibat pada
bayi atau anakanak yang sedang menderita campak dalam 4 minggu terakhir. Hal ini
akibat penurunan kekebalan tubuh penderita.
b. Agen (Agent)
Penyakit gastroenteritis dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara
lain:
b.1 Faktor infeksi
Agent penyebab infeksi saluran pencernaan (gastroenteritis) meliputi :
Bakteri : Escherchia coli, Salmonella typhi, Salmonella paratyphi,
Shigella dysentrie, Shigella flexneri, Vibrio cholera, Vibrio eltor, Vibrio
parahemolyticus, Clostridium perfringens, Campilobacter staphylococcus
sp, Coccidiosis. Virus : Rotavirus, Norwalkvirus, Adenovirus, dan
Norovirus. Parasit dan protozoa : Entamoeba histolitica, Giardia lamblia,
Taenia solium, Taenia saginata, Oxyorus vermicularis, S. srercoralis.
Jamur : Candidiasis, Candida albicans, Zygomycosis, dan Coccidio
idomycosis.
b.2 Faktor non infeksi
a. Faktor malabsorbsi.
Faktor malabsorbsi seperti : malabsorbsi karbohidrat, disakarida
(intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi
glukosa, fruktosa dan galaktosa), malabsorbsi lemak, malabsorbsi
protein. Pada bayi dan anak-anak adalah intoleransi laktosa.
b. Faktor makanan.
Universitas Sumatera Utaraseperti makanan basi / yang tercemar, makanan laut yang
terkontaminasi dengan racun kimia, makanan beracun, dan alergi

makanan.
c. Efek samping penggunaan obat.
misalnya obat antasid yang mengandung magnesium dalam jumlah
besar, antibiotik, obat-obat anti kanker, dan obat pencahar.
c. Lingkungan (Environment)
Gastroenteritis merupakan penyakit yang berbasis lingkungan.
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap terjadinya gastroenteritis. Dua
faktor yang dominan terhadap terjadinya gastroenteritis adalah sarana air bersih
dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan perilaku
manusia yang tidak sehat.
Adapun masalah lingkungan hidup di Indonesia yang menjadi penyebab
gastroenteritis antara lain :
1. Kurangnya penyediaan air minum yang bersih dan memenuhi syarat
kesehatan.
2 Kurangnya sarana pembuangan kotoran yang bersih dan sehat.
3 Keadaan rumah yang pada umumnya tidak sehat.
.4 Higiene perorangan dan sanitasi makanan yang buruk.
5 Belum ditanganinya higiene dan sanitasi industri secara intensif.
6 Kurangnya usaha pengawasan dan pencegahan terhadap pencegahan
lingkungan.
7 Pembuangan limbah di daerah pemukiman yang kurang baik.
Universitas Sumatera Utara2.3. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala gastroenteritis pada bayi secara umum antara lain: nafsu
makan berkurang, mulut kering, kadang-kadang demam, produksi air kemihnya
berkurang, merasa haus, berat badan menurun, anak menjadi cengeng, sering
menangis dan gelisah, dan mengalami gangguan minum. Gejala muntah dapat
terjadi sebelum atau sesudah diare disebabkan oleh lambung yang meradang dan

akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Pada bayi penderita
gastroenteritis biasanya warna muntah seperti warna susu, tinja cair dan disertai
lendir. Warna tinja makin lama berubah menjadi kehijau-hijauan karena
bercampur dengan empedu.
Bila penderita telah kehilangan cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi
mulai tampak. Secara umum gejala dan tanda dehidrasi pada anak antara lain:
mengantuk, tampak kehausan yang luar biasa, kulit, bibir, dan lidah kering, saliva
menjadi kental, mata dan ubun-ubun cekung, warna kulit pucat (sianosis), turgor
kulit berkurang, ekstremitas dingin, air kemih berkurang, gelisah, kadang-kadang
kejang kemudian syok, asidosis dan pernafasan kuszmaull (pernafasan yang cepat
dan dalam), pada keadaan yang luar biasa anak terlihat kurang merespon keadaan
sekitarnya atau disebut juga dengan apatis.
Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi :
a. Dehidrasi ringan (bila terjadi penurunan berat badan 2,5-<5% dengan gejala
berupa :
1 Keadaan umum baik dan sadar.
2 Mata normal dan air mata tidak ada.
3 Mulut dan lidah basah.
4 Tidak merasa haus dan bisa minum.
a.5 Turgor kulit normal (cubitan kulit cepat kembali).
b. Dehidrasi sedang (bila terjadi penurunan berat badan 5-10%) dengan gejala
berupa :
1 Kencing sedikit, nafsu makan berkurang.
2 Gelisah dan mengantuk, aktifitas menurun.
3 Mata dan ubun-ubun cekung.
4 Mulut dan lidah kering.
5 Nadi lebih cepat dari normal.

6 Turgor kurang (cubitan kulit lambat kembali).


c. Dehidrasi berat (bila terjadi penurunan berat badan >10%) dengan gejala fisik
berupa :
1 Tidak kencing dan tidak ada nafsu makan.
2 Sangat lemah hingga kesadaran menurun.
3 Mata dan ubun-ubun sangat cekung.
4 Bibir dan lidah sangat kering.
5 Nadi sangat cepat.
Komplikasi
Sebagai akibat dari kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat
terjadi berbagai macam komplikasi seperti :
a. Gangguan keseimbangan asam basa yaitu elektrolit, terutama natrium dan
kalium yang ikut hilang bersama dengan hilangnya cairan tubuh dan dapat
menyebabkan dehidrasi.
b. Hipokalemia adalah keadaan kadar kalium dalam darah yang rendah, yaitu
dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia (denyut jantung
lambat), perubahan pada elektrokardiogram.
c. Hypoglikemia (keadaan kadar glukosa darah yang rendah).
Gejala hypoglikemi akan muncul jika kadar glukosa darah sampai 40 mg%
pada bayi disertai lemas apatis, peka rangsang, tremor berkeringat, pucat,
syok,dan kejang. Pada anak dan bayi dengan gizi yang cukup baik,
hypoglikemia jarang terjadi, lebih sering terjadi pada bayi atau anak yang
sebelumnya sudah menderita KKP (Kekurangan Kalori Protein), hal ini terjadi
karena persediaan glikogen dalam hati terganggu dan adanya gangguan
absorbsi glukosa.
d. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi laktase karena kerusakan
vili mukosa usus halus.

e. Gangguan gizi sewaktu anak menderita diare, sering terjadi gangguan gizi
dengan akibat terjadinya penurunan berat badan dalam waktu yang singkat. Hal
ini disebabkan karena: makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut
dan memberikan air teh saja, walaupun susu diteruskan sering diberi dengan
pengenceran, dan diberikan dalam jangka waktu yang lama, makanan yang
diberikan tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya
hiperperistaltik usus.
Universitas Sumatera Utaraf. Gangguan sirkulasi terjadi karena gangguan sirkulasi darah
berupa renjatan
(shock) hipovolemik yang selanjutnya dapat mengakibatkan perdarahan dalam
otak, dan kesadaran menurun.
Pencegahan Gastroenteritis
Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini dilakukan pada masa pre-patogenesis
dengan tujuan menghilangkan faktor risiko terhadap gastroenteritis. Sasaran pada
pencegahan ini adalah orang sehat sehingga diharapkan tidak menderita sakit.
Adapun kegiatan yang dilakukan pada pencegahan tingkat pertama ini antara lain :
a. Health Promotion
Kegiatan health promotion (promosi kesehatan) dalam upaya mencegah
terjadinya gastroenteritis dapat berupa :
1 Pemberian ASI
Pada waktu lahir sampai beberapa bulan sesudahnya, bayi belum dapat
membentuk kekebalan sendiri secara sempurna. ASI merupakan substansi bahan
yang hidup dengan kompleksitas biologis yang luas mampu memberikan daya
perlindungan baik secara aktif maupun melalui pengaturan imunologis. ASI
memberikan zat-zat kekebalan yang belum dibuat oleh bayi tersebut. Sehingga
bayi yang minum ASI lebih jarang sakit, terutama pada awal kehidupannya.

Dengan adanya komponen-komponen zat anti infeksi yang terkandung


dalam ASI, maka bayi yang diberikan ASI akan terlindung dari berbagai macam
infeksi baik yang disebabkan oleh bakteri, virus, parasit dan antigen lainnya. ASI
Universitas Sumatera Utaramerupakan faktor penting dalam mencegah terjadinya
gastroenteritis. Berikan ASI
selama 6 bulan pertama kemudian berikan ASI bersama makanan lain sampai
paling kurang anak berusia satu atau dua tahun.
2 Makanan Pendamping ASI
Makanan pendamping ASI diberikan setelah anak berusia diatas 6 bulan.
Pemberian makanan pendamping ASI yang terlalu dini dikhawatirkan dapat
mengganggu sistem pencernaan bayi, karena pembentukan organ tubuh bayi
belum sempurna. Pada tahap awal sebaiknya berikan makanan yang lunak.
Tujuan pemberian makanan pendamping ASI adalah :
1) Melengkapi zat-zat gizi yang kurang yang terdapat dalam ASI.
2) Mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima berbagai macam
makanan dengan berbagai rasa dan tekstur.
3) Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan.
4) Melakukan adaptasi terhadap makanan yang mengandung kadar energi
yang tinggi.
Perilaku yang tidak baik saat pemberian makanan pendamping ASI dapat
menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya gastroenteritis. Ada beberapa hal
yang penting agar pemberian makanan pendamping ASI lebih baik antara lain :
1) Perkenalkan makanan lunak setelah anak berumur 6 bulan sambil tetap
memberikan ASI. Setelah anak berumur satu tahun berikan semua
makanan yang dimasak dengan baik sebanyak 4 6 kali sehari dan
teruskan pemberian ASI bila masih memungkinkan sampai anak berusia 2
tahun.

Universitas Sumatera Utara2) Tambahkan minyak, lemak dan gula kedalam nasi atau bubur
untuk energi.
Tambahkan hasil olahan susu, telur, daging, ikan, kacang-kacangan, buahbuahan , dan
sayuran berwarna hijau kedalam makanannya.
3) Cuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak, serta
suapi anak dengan sendok yang bersih.
4) Masak atau rebus makanan dengan benar, simpan sisanya pada tempat
yang dingin dan panaskan dengan benar sebelum diberikan kepada anak.
3 Penggunaan Air Bersih
Gastroenteritis merupakan penyakit yang salah satu cara penularannya
melalui air, jadi untuk mencegah terjadinya gastroenteritis adalah dengan
penggunaan air yang bersih. Air minum sebaiknya dimasak terlebih dahulu hingga
mendidih.
4 Membuang Tinja Bayi Secara Benar
Banyak orang yang beranggapan bahwa tinja bayi tidak berbahaya. Hal ini
tidak benar karena tinja bayi dapat pula menularkan penyakit pada anak-anak dan
orang tuanya. Yang harus diperhatikan adalah tinja bayi dibuang kejamban, bila
tidak ada jamban tinja dibuang ke lubang kemudian ditimbun

5 Mencuci Tangan
Mencuci tangan juga merupakan cara untuk mencegah terjadinya
gastroenteritis. Tangan sebaiknya dicuci dengan sabun segera setelah
membersihkan anak ketika buang air besar, dan mencuci tangan baik dilakukan
sebelum makan dan sesudah buang air besar.
. pesific Protection
Kegiatan Spesific Protection (perlindungan spesifik) dalam upaya
mencegah terjadinya gastroenteritis pada bayi dapat berupa pemberian imunisasi
campak. Diare sering timbul menyertai campak, sehingga pemberian imunisasi

campak juga dapat mencegah diare. Oleh karena itu beri anak imunisasi campak
segera setelah anak berumur 9 bulan. Diare sering terjadi dan berakibat berat pada
anak-anak yang sedang menderita campak dalam 4 minggu terakhir.
Pencegahan Sekunder
Pencegahan Sekunder atau pencegahan tingkat kedua ini diberikan pada
masa patogenesis dengan tujuan mencegah kehilangan banyak cairan. Sasaran
pada pencegahan ini adalah penderita gastroenteritis yang diharapkan agar tidak
terjadi dehidrasi yang berkelanjutan. Kegiatan yang dapat dilakukan pada
pencegahan ini berupa Early Diagnosis and Prompt Treatment yaitu diagnosa dan
pengobatan secepatnya.
Pengobatan pertama yang dapat dilakukan pada penderita gastroenteritis
adalah memberikan cairan oralit secepatnya untuk mencegah kehilangan banyak
cairan. Sementara pemberian obat-obatan yang berkhasiat menghentikan diare
secara cepat justru akan memperburuk keadaan karena akan menyebabkan
terkumpulnya cairan di usus dan akan menyebabkan terjadinya perlipatgandaan
kuman.
Keluhan utama yang sering dialami oleh penderita gastroenteritis adalah
adanya muntah, dan demam. Hal ini dapat berakibat terjadinya dehidrasi dan
penurunan berat badan sampai akhirnya terjadi gangguan gizi pada bayi.
Universitas Sumatera UtaraPada umumnya penatalaksanaan gastroenteritis di rumah sakit
ditujukan
untuk mengobati dehidrasi dan menggantikan cairan yang hilang melalui tinja,
dengan atau tanpa muntah, yaitu dengan cara rehidrasi :
1. Pemberian Oralit.
Segera apabila gejala dehidrasi sudah mulai timbul, dengan takaran oralit; 1
bungkus oralit 200 cc dimasukkan kedalam 1 gelas air di aduk sampai larut,
kemudian diberikan sedikit demi sedikit dengan sendok. Jika muntah berikan satu

sendok oralit, tunggu 5-10 menit dan lanjutkan lagi sedikit demi sedikit.
2. Pemberian cairan intravena / infus
Pemberian cairan intravena dilakukan apa bila terjadi penurunan berat
badan lebih dari 10%, dan diberikan 50-200 ml/kgBB/24 jam, Bolus dalam satu
jam (NaCl atau RL). Semua anak yang mendapatkan cairan infus diukur berat
badannya, 6-8 jam setelah pemberian cairan.
3. Pemberian obat antibiotik
Pemberian obat-obatan yang dilakukan dalam penatalaksanaan pada bayi
gastroenteritis adalah memberikan pengobatan yang tepat terhadap penyebab
gastroenteritis dan diberikan setelah mengetahui penyebab yang pasti. Jika
penyebabnya berasal dari infeksi diberikan antibiotik, dan jika tidak berasal dari
infeksi, antibiotik juga dapat diberikan jika pada pemeriksaan laboratorium dapat
ditemukan bakteri patogen. Antibiotik dapat diberikan dengan memperhatikan
umur, perjalanan penyakit, sifatnya dan sebagainya.

Prinsip penatalaksanaan penderita gastroenteritis adalah :


a. Mencegah terjadinya dehidrasi
Mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan dengan memberikan
minum lebih banyak atau cairan pengganti seperti air tajin, kuah sayur
dan air sup.
b. Mengobati dehidrasi
Bila terjadi dehidrasi, pengobatan yang cepat dan tepat adalah pemberian oralit.
Bila terjadi dehidrasi berat, penderita harus segera diberi cairan intravena
Ringer Laktat sebelum dilanjutkan terapi oral.
c. Memberikan makanan
Anak yang masih diberikan ASI jangan dihentikan, justru dianjurkan agar lebih
sering diberi ASI. Sangat penting untuk tetap memberikan nutrisi yang cukup

selama diare terutama anak dengan gizi kurang, karena pulihnya mukosa usus
tergantung dari nutrisi yang cukup.
Berdasarkan penilaian derajat dehidrasi, maka penatalaksanaan
gastroenteritis dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Gastroenteritis / diare dengan dehidrasi ringan
Pada keadaan ini dapat di tangani oleh ibu atau kader kesehatan dengan cara
memberikan oralit dan makanan cair seperti air tajin, sup dan kuah sayur.
Kebutuhan cairan dan elektrolit pada dehidrasi ringan sebanyak 180 ml/kg.
Universitas Sumatera Utarab. Gastroenteritis / diare dengan dehidrasi sedang
pada keadaan ini perawatan dan pengobatan penderita sebaiknya didampingi
oleh petugas kesehatan. Berikan oralit sesuai dengan dosis yang dianjurkan.
Kebutuhan cairan dan elektrolit pada dehidrasi sedang sebanyak 220 ml/kg.
c. Gastroenteritis / diare dengan dehidrasi berat
Pada keadaan ini penderita harus segera di infus karena sudah mengalami
banyak kekurangan cairan sementara kesadarannya sudah menurun, cairan
yang diberikan adalah Ringer Laktat melalui intravena.
Bila kesadaran penderita mulai membaik maka segera berikan oralit.
Kebutuhan cairan dan elektrolit pada dehidrasi berat sebesar 260 ml/kg.
Pemberian obat-obatan yang berkhasiat menghentikan diare secara cepat justru
akan memperburuk keadaan karena akan menyebabkan terkumpulnya cairan di
usus dan akan menyebabkan terjadinya berlipatgandaan kuman.

Pencegahan Tertier
Pencegahan tingkat ketiga ini bertujuan untuk mencegah terjadinya
komplikasi dan kematian akibat dehidrasi. Kegiatan yang dapat dilakukan pada
pencegahan tingkat ketiga ini adalah berupa Limitation of Ability (pembatasan
kecacatan) dan Rehabilitation (rehabilitasi). Salah satu upaya yang dapat

dilakukan adalah tetap memberikan nutrisi pada anak agar daya tahan tubuh anak
tidak berkurang guna mencegah munculnya penyakit lain.

Kerangka Konsep
KARAKTERISTIK BAYI
PENDERITA GASTROENTERITIS
1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Pekerjaan orang tua
4. Status gizi
5. Keluhan utama
6. Derajat dehidrasi
7. Komplikasi
8. Penatalaksanaan
9. Lama rawatan rata-rata
10. Keadaan sewaktu pulang