Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Di era globalisasi ini ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran dan
kesehatan berkembang dengan pesat. Salah satunya adalah kemajuan dalam teknik
transplantasi organ. Transplantasi organ merupakan suatu teknologi medis untuk
penggantian organtubuh pasien yang tidak berfungsi dengan organ dari individu lain.

Sejak kesuksesan transplantasi yang pertama kali berupa ginjal dari donor kepada pasien
gagal ginjal pada tahun 1954, perkembangan di bidang transplantasi maju dengan pesat.
Kemajuan ilmu dan teknologi memungkinkan pengawetan organ, penemuan obatobatan anti penolakan yang semakin baik sehingga berbagai organ dan jaringan
dapatditransplantasikan. Dewasa ini bahkan sedang dilakukan uji klinis penggunaan
hewansebagai donor.
Dibalik kesuksesan dalam perkembangan transplantasi organ muncul berbagaimasalah.
Semakin meningkatnya pasien yang membutuhkan tranplantasi, penolakanorgan,
komplikasi pasca transplantasi, dan resiko yang mungkin timbul akibattransplantasi
telah memunculkan berbagai pertanyaan tentang etika, legalitas dankebijakan yang
menyangkut penggunaan teknologi itu.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Transplantasi Organ
2. Apa saja klasifikasi Transplantasi Organ
3. Apa penyebab Transplantasi Organ
4. Bagaimana tata cara Transplantasi Organ
5. Bagaimana pandangan agama islam mengenai Transplantasi Organ
6. Bagaimana aturan transplantasi Organ dari Segi Hukum
7. Bagaimana Transplantasi Organ dari dilihat dari Segi Etika dalam Medis

C. Tujuan
a. Tujuan Umum
Mengetahui praktek transplantasi organ di dunia pada umumnya dan praktek
transplantasi organ di Indonesia pada khususnya dilihat dari sudut dilema etik.
b. Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengertian transplantasi organ
2. Mengetahui klasifikasi transplantasi organ
3. Mengetahui penyebab transplantasi organ
4. Mengetahui tatacara transplantasi organ
5. Mengetahui aturan transplantasi organ dari Segi Hukum
6. Mengetahui pandangan agama mengenai transplantasi organ
7. Mengetahui transplantasi organ dari dilihat dari Segi Etika dalam Medis
D. Manfaat
1.

Bagi penulis :
Sebagai sarana memperluas wawasan mengenai transplantasi organ

2.

Bagi Pembaca :
Sebagai sarana mengetahui seputar transplantasi organ

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Transplantasi Organ
Transplantasi berasal dari bahasa Inggris yakni to transplant yang berarti to move
from one place to another artinya: berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain (Nyoman
Suwasti, 1994).
Di dalam PP No. 18 Tahun 1981 yang dimuat dalam LN 1981 No. 23 tentang Bedah
Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat atau Jaringan Organ Tubuh
Manusia, dirumuskan pengertian sebagai berikut: Transplantasi adalah rangkaian tindakan
kedokteran untuk pemindahan alat dan atau jaringan organ tubuh manusia yang berasal dari
tubuh sendiri atau tubuh orang lain dalam rangka pengobatan untuk menggantikan alat atau
jaringan organ tubuh yang tidak berfungsi dengan baik (Pasal 1 butir (f) PP No. 18 Tahun
1981.
Ratna Suprapti Samil mendefinisikan transplantasi sebagai: pemindahan suatu
jaringan atau organ tertentu dari suatu tempat ke tempat lain dengan kondisi tertentu.
Menurut Soekidjo Notoatmodjo, transplantasi adalah: tindakan medis untuk memindahkan
organ dan atau jaringan tubuh manusia kepada tubuh manusia yang lain atau tubuhnya
sendiri.
Transplantasi merupakan terapi pengganti yang merupakan upaya terbaik untuk
menolong pasien yang mengalami kegagalan organ tubuhnya dengan organ tubuh dirinya
sendiri atau organ tubuh orang lain. Di samping pertimbangan medis dan kesehatan,
tranplantasi juga harus mempertimbangkan dari segi non medis yakni agama, budaya, hukum,
kepercayaan dan sebagainya.
B. Klasifikasi Transplantasi Organ
Transplantasi ditinjau dari sudut si penerima, dapat dibedakan menjadi:
1. Autotransplantasi: pemindahan suatu jaringan atau organ ke tempat lain dalam tubuh
orang itu sendiri.
2. Homotransplantasi : pemindahan suatu jaringan atau organ dari tubuh seseorang ke
tubuh orang lain.
3. Heterotransplantasi : pemindahan organ atau jaringan dari satu spesies ke spesies lain.
4. Autograft

Transplantasi jaringan untuk orang yang sama. Kadang-kadang hal ini dilakukan
dengan jaringan surplus, atau jaringan yang dapat memperbarui, atau jaringan lebih
sangat dibutuhkan di tempat lain.
5. Allograft
Allograft adalah suatu transplantasi organ atau jaringan antara dua non-identik anggota
genetis yang sama. Sebagian besar jaringan manusia dan organ transplantasi yang
allografts. Karena perbedaan genetik antara organ dan penerima, penerima akan
mengidentifikasi organ sebagai benda asing dan berusaha untuk menghancurkannya,
menyebabkan .
6. Isograft
Sebuah subset dari allografts di mana organ atau jaringan yang ditransplantasikan dari
donor ke penerima yang identik secara genetis (seperti kembar identik). Isografts
dibedakan dari jenis lain transplantasi karena sementara mereka secara anatomi identik
dengan allografts, mereka tidak memicu imunologi.
7. Xenograft dan xenotransplantation
Transplantasi organ atau jaringan dari satu spesies yang lain. Sebuah contoh adalah
transplantasi katup jantung babi, yang cukup umum dan sukses. Contoh lain adalah
mencoba-primata (ikan primata non manusia)-transplantasi Piscine dari pulau kecil
yaitu pakreas.
8. Transplantasi Split
Kadang-kadang organ almarhum-donor, biasanya hati, dapat dibagi antara dua
penerima, terutama orang dewasa dan seorang anak. Ini bukan biasanya sebuah pilihan
yang diinginkan karena transplantasi organ secara keseluruhan lebih berhasil.
9. Transplantasi Domino
Operasi ini biasanya dilakukan pada pasien dengan karena kedua paru-paru perlu
diganti dan itu adalah operasi lebih mudah secara teknis untuk menggantikan jantung
dan paru-paru pada waktu yang sama. Sebagai jantung asli penerima biasanya sehat,
dapat dipindahkan ke orang lain yang membutuhkan transplantasi jantung.
(parsudi,2007).
Jika ditinjau dari sudut penyumbang atau donor alat dan atau jaringan tubuh, maka
transplantasi dapat dibedakan menjadi :
a. Transplantasi dengan donor hidup

Transplantasi dengan donor hidup adalah pemindahan jaringan atau organ tubuh
seseorang ke orang lain atau ke bagian lain dari tubuhnya sendiri tanpa mengancam
kesehatan. Donor hidup ini dilakukan pada jaringan atau organ yang bersifat regeneratif,
misalnya kulit, darah dan sumsum tulang, serta organ-organ yang berpasangan misalnya
ginjal.
b. Transplantasi dengan donor mati atau jenazah
Transplantasi dengan donor mati atau jenazah adalah pemindahan organ atau jaringan
dari tubuh jenazah ke tubuh orang lain yang masih hidup. Jenis organ yang biasanya
didonorkan adalah organ yang tidak memiliki kemampuan untuk regenerasi misalnya
jantung, kornea, ginjal dan pankreas.
C. Penyebab Transplantasi Organ
Ada dua komponen penting yang mendasari tindakan transplantasi, yaitu:
1. Eksplantasi : usaha mengambil jaringan atau organ manusia yang hiudp atau yang
sudah meninggal.
2. Implantasi : usaha menempatkan jaringan atau organ tubuh tersebut kepada bagian
tubuh sendiri atau tubuh orang lain.
Disamping itu, ada dua komponen penting yang menunjang keberhasilan tindakan
transplantasi, yaitu :
1. Adaptasi donasi, yaitu usaha dan kemampuan menyesuaikan diri orang hidup yang
diambil jaringan atau organ tubuhnya, secara biologis dan psikis, untuk hidup dengan
kekurangan jaringan atau organ. (anonim,2006)
2. Adaptasi resepien, yaitu usaha dan kemampuan diri dari penerima jaringan atau organ
tubuh baru sehingga tubuhnya dapat menerima atau menolak jaringan atau organ
tersebut, untuk berfungsi baik, mengganti yang sudah tidak dapat berfungsi lagi.
Organ atau jaringan tubuh yang akan dipindahkan dapat diambil dari donor yang
hidup atau dari jenazah orang baru meninggal dimana meninggal sendiri
didefinisikan kematian batang otak. Organ-organ yang diambil dari donor hidup
seperti : kulit, ginjal, sumsum tulang dan darah (tranfusi darah). Organ-organ yang
diambil dari jenazah adalah : jantung, hati, ginjal, kornea, pancreas, paru-paru dan
sel otak.

D. Tata Cara Transplantasi Ginjal


Persiapan untuk transplantasi ginjal dimulai jauh sebelum fase segera dilakukan
pembedahan. Persiapan ini termasuk pengkajian dari intervensi yang berkenaan denagan
tingkat ansietas pasien, pengetahuan tentang prosedur transplant dan status fisiologis. Pada
fase praoperasi segera, persiapan termasuk pemeriksaan darah lengkap, elektrokardiogram,
foto dada, dan dialysis dalam 24 jam pembedahan. Dialysis ini untuk mengembalikan kimia
darah ke kadar mendekati senormal mungkin, memperbaiki perubahan agergasi trombosit
yang ditimbulka oleh uremia, dan mengeluarka kelebihan cairan. Immunosupresi mungkin
diberikan sebelum pembedahan. Besarnya waktu yang tersedia untuk melengkapi persiapan
ini sangat ditentukan oleh sumber donor. Bila tersedia donor hidup, persiapan dapat dilakukan
seharian sebelum transplantasi, sementara dengan donor mayat semua persiapan harus selesai
dalam beberapa jam.
Prosedur bedah transplantasi ginjal biasanya membutuhkan waktu antara 3 sampai 6
jam. Ginjal baru ditempatkan pada rongga perut bagian bawah (dekat daerah panggul) agar
terlindung oleh tulang panggul. Pembuluh nadi (arteri) dan pembuluh darah balik (vena) dari
ginjal baru ini dihubungkan ke arteri dan vena tubuh. Dengan demikian, darah dapat
dialirkan ke ginjal sehat ini untuk disaring. Ureter (saluran kemih) dari ginjal baru
dihubungkan ke kandung kemih agar urin dapat dialirkan keluar.
Resipien transplan biasanya dirawat dalam area lengkap yang dirancang secara khusus
baik fase penyembuhan akut maupun pemulihan. Hal ini mengurangi pemindahan pasien,
menurunkan fragmentasi perawatan, dan menurunkan pemajanan terhadap infeksi bagi pasien
yang mengalami imunosupresi ini. Resipien transplant biasanya tidak sakit secara kritis dan
oleh karenanya sering kali tidak mempunyai criteria yang sesuai untuk diterima di area
perawtan kritis. Meskipun demikian, kadang-kadang pasien trasplan akan di rawat di area
perawatan kritis, terutama bila terjadi komplikasi selama fase pascaoperasi.
Kriteria Pemilihan untuk Transplantasi Ginjal:
1. Usia dievaluasi secara individual, meskipun resipien biasanya lebih muda dari 60
tahun. Mereka yang lebih tua dari 50 tahun mungkin akan beresiko mengalami
komplikasi. Anak-anak yang berusia lebih muda dari 5 tahun di pertimbangkan masuk
pada pusat pediatric.

2. Penyakit gastrointestinal, penyakit hati, dan infeksi akut atau kronik termasuk AIDS
harus tidak ada atau telah di obati. Pasien harus mempunyai motivasi untuk
transplantasi
E. Pengaturan Hukum Transplantasi
Di Indonesia pengaturan hukum transplantasi organ adalah dalam UU No. 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan dan PP No. 18/1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis,
serta Transplantasi Alat dan Jaringan Tubuh Manusia. PP ini merupakan pelaksanaan dari UU No.
9/1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan, yang telah dicabut.

F. Pandangan Agama Mengenai Transplantasi Organ


1. Transplantasi Organ dari Segi Agama Islam
Didalam syariat Islam terdapat 3 macam hukum mengenai transplantasi organ dan donor
organ ditinjau dari keadaan si pendonor. Adapun ketiga hukum tersebut, yaitu :
a. Transplantasi Organ Dari Donor Yang Masih Hidup
Dalam syara seseorang diperbolehkan pada saat hidupnya mendonorkan sebuah organ
tubuhnya atau lebih kepada orang lain yang membutuhkan organ yang disumbangkan
itu, seperti ginjal. Akan tetapi mendonorkan organ tunggal yang dapat mengakibatkan
kematian si pendonor, seperti mendonorkan jantung, hati dan otaknya. Maka hukumnya
tidak diperbolehkan, berdasarkan firman Allah SWT dalam Al Quran :
1) surat Al Baqorah ayat 195
dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan
2) An Nisa ayat 29
dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri
3) Al Maidah ayat 2
dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.
b. Transplantasi Organ dari Donor yang Sudah meninggal
Sebelum kita mempergunakan organ tubuh orang yang telah meninggal, kita harus
mendapatkan kejelasan hukum transplantasi organ dari donor tersebut. Adapun beberapa
hukum yang harus kita tahu, yaitu :

1. Dilakukan setelah memastikan bahwa si penyumbang ingin menyumbangkan


organnya setelah dia meninggal. Bisa dilakukan melalui surat wasiat atau
menandatangani kartu donor atau yang lainnya.
2. Jika terdapat kasus si penyumbang organ belum memberikan persetujuan terlebih
dahulu tentang menyumbangkan organnya ketika dia meninggal maka persetujuan
bisa dilimpahkan kepada pihak keluarga penyumbang terdekat yang dalam posisi
dapat membuat keputusan atas penyumbang.
3. Organ atau jaringan yang akan disumbangkan haruslah organ atau jaringan yang
ditentukan dapat menyelamatkan atau mempertahankan kualitas hidup manusia
lainnya.
4. Organ yang akan disumbangkan harus dipindahkan setelah dipastikan secara prosedur
medis bahwa si penyumbang organ telah meninggal dunia.
5. Organ tubuh yang akan disumbangkan bisa juga dari korban kecelakaan lalu lintas
yang identitasnya tidak diketahui tapi hal itu harus dilakukan dengan seizin hakim.
Seorang dokter atau seorang penguasa tidak berhak memanfaatkan salah satu
organ tubuh seseorang yang sudah meninggal untuk ditransplantasikan kepada orang
lain yang membutuhkannya.Adapun hukum kehormatan mayat dan penganiayaan terhadapnya, maka Allah SWT telah menetapkan bahwa mayat mempunyai kehormatan yang
wajib dipelihara sebagaimana kehormatan orang hidup. Dan Allah telah mengharamkan
pelanggaran terhadap kehormatan mayat sebagaimana pelanggaran terhadap kehormatan orang hidup. Allah menetapkan pula bahwa menganiaya mayat sama saja
dosanya dengan menganiaya orang hidup. Diriwayatkan dari Aisyah Ummul Muminin
RA bahwa Rasulullah SAW bersabda : Memecahkan tulang mayat itu sama dengan
memecahkan tulang orang hidup. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban).
Imam Ahmad meriwayatkan dari Amar bin Hazm Al Anshari RA, dia berkata,Rasulullah
pernah melihatku sedang bersandar pada sebuah kuburan. Maka beliau lalu bersabda :
Janganlah kamu menyakiti penghuni kubur itu ! Hadits-hadits di atas secara jelas
menunjukkan bahwa mayat mempunyai kehormatan sebagaimana orang hidup. Begitu pula
melanggar kehormatan dan menganiaya mayat adalah sama dengan melanggar kehormatan
dan menganiaya orang hidup.

E. Transplantasi Organ dari Segi Hukum


Dasar hukum dilaksanakannya transplantasi organ sebagai suatu terapi adalah Pasal
32 ayat (1), (2), (3) tentang hak pasien untuk memperoleh kesembuhan dengan pengobatan
dan perawatan atau cara lain yang dapat dipertanggungjawabkan :
Pasal 32 ayat (1) berbunyi: Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
diselenggarakan untuk mengembalikan status kesehatan akibat penyakit, mengembalikan
fungsi badan akibat cacat atau menghilangkan cacat.
Pasal 32 ayat (2) berbunyi: Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
dilakukan dengan pengobatan dan atau perawatan.
Pasal 32 ayat (3) berbunyi: Pengobatan dan atau perawatan dapat dilakukan berdasarkan ilmu
kedokteran dan ilmu keperawatan atau cara lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sedangkan untuk prosedur pelaksanaan Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan dan Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan
Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat atau Jaringan Tubuh Manusia.
Pada Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pelaksanaan
transplantasi diatur dalam Pasal 34 yang berbunyi:
Pasal 34 Ayat (1): Transplantasi organ dan atau jaringan tubuh hanya dapat dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di
sarana kesehatan tertentu.
Pasal 34 Ayat (2): Pengambilan organ dan atau jaringan tubuh dari seorang donor harus
memperhatikan kesehatan donor yang bersangkutan dan ada persetujuan donor dan ahli waris
atau keluarganya.
Pasal 34 Ayat (3): Ketentuan mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan
transplantasi sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dan Ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah.
G. Transplantasi Organ dari Segi Etika kedokteran
Jika ditinjau dari segi etika keperawatan, transplantasi organ akan menjadi suatu hal
yang salah jika dilakukan secara illegal. Hal ini menilik pada kode etik keperawatan, Pokok
etik 4 pasal 2 yang mengatur tentang hubungan perawat dengan teman sejawat. Pokok etik
tersebut berbunyi Perawat bertindak melindungi klien dan tenaga kesehatan yang
memberikan pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan illegal . Seorang
perawat dalam meeeenjalankan profesinya juga diwajibkan untuk tetap mengingat tentang
prinsip-prinsip etik, antara lain :

a. Otonomi (Autonomy)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan
mampu membuat keputusan sendiri. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap
seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional.
Otonomi. Jika dikaitkan dengan kasus transplantasi organ maka hal yang menjadi
pertimbangan adalah seseorang melakukan transplantasi tersebut tanpa adanya paksaan dari
pihak manapun dan tentu saja pasien diyakinkan bahwa keputusan yang diambilnya adalah
keputusan yang telah dipertimbangkan secara matang.
b. Berbuat baik (Beneficience)
Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan
pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan
peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan,
terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi.
c. Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang
menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam
prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar
praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
d. Tidak merugikan (Nonmaleficience)
Prinsip ini berarti dalam pelaksanaan transplantasi organ, harus diupayakan
semaksimal mungkin bahwa praktek yang dilaksanakan tidak menimbulkan bahaya/cedera
fisik dan psikologis pada klien.
e. Kejujuran (Veracity)
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi
pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk
meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan
seseorang untuk mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat,
komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang
ada, Kebenaran merupakan dasar dalam membangun hubungan saling percaya.

f. Menepati janji (Fidelity)


Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya
terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyimpan
rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang untuk mempertahankan
komitmen yang dibuatnya. Kesetiaan, menggambarkan kepatuhan perawat terhadap kode etik
yang menyatakan bahwa tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan
kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan dan meminimalkan penderitaan.
Dari prinsip-prinsip diatas berarti harus diperhatikan benar bahwa dalam memutuskan
untuk melakukan transplantasi organ harus disertai pertimbangan yang matang dan tidak ada
paksaan dari pihak manapun, adil bagi pihak pendonor maupun resipien, tidak meruguikan
pihak manapun serta berorientasi pada kemanusiaan.
Selain itu dalam praktek transplantasi organ juga tidak boleh melanggar nilai-nilai
dalam praktek perawat professional. Sebagai contoh nilai tersebut adalah, keyakinan bahwa
setiap individu adalah mulia dan berharga. Jika seorang perawat menjunjung tinggi nilai
tersebut dalam prakteknya, niscaya seorang perawat tidak akan begitu mudah membantu
melaksanakan praktek transplantasi organ hanya dengan motivasi komersiil.
Faktor Faktor Keberhasilan Pasien Transplantasi Ginjal
Dari yang telah dijabarkan diatas diketahui bahwa tingkat keberhasilan
transplantasi ginjal sangat tinggi, hal tersebut dipengaruhi dengan:
1. a.

Donor Keluarga, Lebih Berhasil. Resiko pasti akan ada dalam setiap tindakan

transplantasi. Dengan ditanamkan organ

baru, maka akan dianggap benda

asing oleh tubuh. Sistem imun membuat antibody

mencoba membunuh organ baru,

meski menguntungkan tubuh. Medikasi diberikan

agar system imun menerima

hasil tranplan dan bukan menganggapnya benda asing. Obat yang diberikan antara
lain cyclosporine, tacrolimus, azathioprine,

mycophenolate

mofetil, prednisone, OKT3, dan antithymocyte Ig (ATGAM).


2. Idealnya dalam mempersiapkan pasien untuk transplantasi ginjal sebaiknya dilakukan
jauh sebelum memulai program awal tindakan (inisisasi) terapi pengganti seperti
hemodialisis kronik (cuci darah).

3. Diketahuinya penyakit ginjal kronik tahap akhir sedini mungkin akan memudahkan
evaluasi perioperatif (sebelum operasi dan pengawasan pasien).
4. Setiap pasien dapat menetapkan dirinya siap mengikuti program transplantasi ginjal
sebagai terapi definitive dan bukan sekedar mendapatkan terapi pengganti seperti
hemodialisis kronik.
5. Adanya pertimbangan keberhasilan dengan cara pengukuran parameter harapan hidup
(berbagai aspek medis dan nonmedis) pasien dan parameter fungsi ginjal pasca
pembedahan.
Transplantasi Ginjal dinyatakan berhasil jika ginjal tersebut dapat bekerja sebagai
penyaring darah sebagaimana layaknya ginjal sehat sehingga tidak lagi memerlukan
tindakan Dialisis (cuci darah).
Tindakan pencegahan infeksi:

Mencuci tangan dengan bersih sebelum dan sesudah merawat pasien adalah cara
efektif untuk menurunkan organisme di lingkungan resipien.

Membersihkan kateter dan perineum sekitar meatus uretra dengan sabun dan air setiap
8 jam menurunkan infeksi traktus urinarius.

Mengganti selang intravena setiap hari demikian halnya bila terkontaminasi juga akan
menurunkan resiko sepsis

Mengganti balutan yang basah dengan sering akan menyingkirkan media yang sangat
baik untuk pertumbuhan organism.

Evaluasi Pasien Transplantasi:


Evaluasi pasien transplantasi ginjal mengenali factor-faktor yang mempengaruhi transplantasi
yaitu: factor resipien (penerima ginjal ), imunologi (kecocokan genetika darah) dan factor
persiapan sebelum dan sesudah transplantasi ginjal
Dari factor-faktor diatas adalah menjelaskan tentang hal-hal yang wajib dipahami resipien
antara lain informasi menyeluruh mengenai transplantasi ginjal dan masalah-masalah yang

terkait seperrti menfaat dan resiko dan komplikasi. Selain itu juga mengetahui informasi
terkini mengenai reaksi rejeksi (penolakan) jika hal tersebut terjadi. Pada akhir proses
edukasi sebaiknya resipien juga mendapatkan pemahaman mengenai perubahan kesehatan
pada masa yang akan datang guna mendapatkan pengertian dan kenyamanan pasca
transplantasi ginjal. Aspek lain seperti aspek medis yang relevan terhadap perawatan pasca
operasi dan evaluasi imunologi akan dibicarakan kemudian.
Sampai saat ini pesiapan transplantasi ginjal dilakukan di pusat-pusat transplantasi ginjal
dengan tim lengkap. Pada masa yang akan datang, akan semakin bertambah seiring
kebutuhan transplantasi yang meningkat dengan tetap mempertimbangkan aspek legal yang
berlaku di Indonesia. Kendala lain yang dihadapi adalah biaya yng cukup besar dan donor
jenazah yang belum mendapat dukungan sepenuhnya dari masyarakat.
Evaluasi rutin dan persiapan meliputi :

Penggolongan ABO

Typing ( pencocokan ) Jaringan

Riwayat transfuse

Tes kulit untuk Tuberkulosis

Screaning Hepatitis

Screaning HIV

Pemeriksaan fungsi Hepar

Hitung leukosit dan trombosit 3 X

Pemberian vaksin Pneumovak bila pasien tidak pernah menerimanya

Foto thoraks

Evaluasi gigi untuk meyingkirkan adanya infeksi

Pemeriksaan Ginekologi

Riwayat social, review motifasi pasien, dan kemampuan untuk mengikuti regimen
pasca operasi, kemungkinan evaluasi Psikologikal

Pemberian terapi imunnosupresi


Ginjal yang ditransplasikan merupakan antigen asing yang ditanam pada resipien. Akhirnya,
tubuh resipien akan mengenali ginjal sebagai antigan asing dan menggerakan system
perlawanan untuk mencoba membebaskan diri dari benda asing ini. Oleh karenanya terapi
imunosupresi diperlukan untuk menekan respon imun sehingga memungkinkan penerimaan
organ yang ditanam, paling sering dengan tipe jaringn yang sedikit berbeda sebagian dari
yang dimiliki resipien kesulitan dari terapi ini adalah dalam pemberian supresi yang cukup
untuk mencegah penolakan tanpa menyebabkan resipien sangat rentan terhadap infeksi
oportunistik. Biasanya obat yang diberikan untuk mengontrol respon imun antara lain Metil
Prednisolon, Prednison, Azatioprin, siklosporin dll.
1. VI.

Kendala Kendala Transplantasi Ginjal

2. Pendonor. Untuk pendonor, tidak ada yang perlu dikhawatirkan hidup dengan satu
ginjal. Tidak ada yang perlu ditakutkan dengan menjadi donor karena setiap orang
bisa tetap hidup normal dengan satu ginjal, Keterbatasan donor menjadi salah satu
penyebab transplantasi sulit dilakukan. Jumlah donor di Indonesia masih sangat kecil,
hanya 15 donor ginjal per tahunnya, dibandingkan dengan 2.000 kasus baru penyakit
ginjal kronik tahap akhir per tahunnya.
Biaya. Kendala lain untuk melakukan transplantasi ginjal adalah dari sisi biaya.
Cukup banyak pasien yang tidak memiliki biaya transplantasi, meski sudah ada keluarga yang
mau menjadi donor. Namun menurut Dr. Indrawati Sukadis, Koordinator Tim Transplantasi
Ginjal RS Cikini, biaya transplantasi ginjal di dalam negeri lebih rendah dibandingkan di luar
negeri. Subsidi biaya operasi transplantasi dan sebagian obat imunosupresif dari ASKES
meringankan beban biaya transplantasi, ujarnya. Indrawati mendapatkan kesimpulan
tersebut dari penelitian yang dilakukan bersama koleganya dengan mewawancarai 20 pasien
pasca transplantasi ginjal antara tahun 1996 hingga 2006. Sebanyak 15 pasien menjalani
transplantasi di dalam negeri (10 orang di RS Cikini dan 5 pasien dari rumah sakit lainnya),

dan 5 pasien menjalani transolantasi di luar negeri yaitu China dan Singapore. Data yang
dicatat adalah total biaya transplantasi ginjal termasuk biaya persiapan, perawatan
preoperative, operative, dan pasca operative, lama perawatan, dan summer donor. Namun
tidak termasuk obat imunosupresif, obat induksi, obat kegawatan, dan HD bila diperlukan.
G. Transplantasi Organ dari Segi Norma Masyarakat
Beberapa pihak yang ikut terlibat dalam usaha transplantasi adalah donor hidup,
jenazah dan donor mati, keluarga dan ahli waris, resipien, dokter dan pelaksana lain, dan
masyarakat. Hubungan pihak-pihak itu dengan masalah etik dan moral dalam transplatasi
adalah :
1.

Donor Hidup
Adalah orang memberikan jaringan atau organnya kepada orang lain (resipien).

Sebelum memutuskan untuk menjadi donor, seseorang harus mengetahui dan mengerti resiko
yang dihadapi, baik di bidang medis, pembedaan maupun resiko untuk pembedahannya lebih
lanjut sebagai kekurangan jaringan atau organ yang telah dipindahkan.
2.

Jenazah dan Donor Mati


Adalah orang yang semasa hidupnya telah mengizinkan atau berniat dengan sungguh-

sungguh untuk memberikan jaringan atau organ tubuhnya kepada yang memerlukan apabila
ia telah meninggal.
3.

Keluarga donor dan ahli waris


Kesepakatan keluarga donor dan resipien sangat diperlukan untuk menciptakan saling

pengertian dan menghindari konflik semaksimal mungkin ataupun tekanan psikis dan emosi
di kemudian hari. Dari keluarga resipien sebenarnya hanya dituntut suatu pengargaan kepada
donor dan keluarganya dengan tulus. Alangkah baiknya apabila dibuat suatu ketentuan untuk
mencegah timbulnya rasa tidak puas kedua belah pihak.
4.

Dokter dan tenaga pelaksana lain


Untuk melakukan suatu transplantasi, tim pelaksana harus mendapat persetujuan dari

donor, resipien, maupun keluarga kedua belah pihak. Ia wajib menerangkan hal-hal yang
mungkin akan terjadi setelah dilakukan transplantasi sehingga gangguan psikologis dan
emosi di kemudian hari dapat dihindarkan. Tanggung jawab tim pelaksana adalah menolong
pasien dan mengembangkan ilmu pengetahuan untuk umat manusia. Dengan demikian, dalam
melaksanakan tugas, tim pelaksana hendaknya tidak dipengaruhi oleh pertimbanganpertimbangan kepentingan pribadi.
5.

Masyarakat

Secara tidak sengaja masyarakat turut menentukan perkembangan transplantasi.


Kerjasama tim pelaksana dengan para cendekiawan, pemuka masyarakat, atau pemuka agama
diperlukan untuk mendidik masyarakat agar lebih memahami maksud dan tujuan luhur usaha
transplantasi. Dengan adanya pengertian ini kemungkinan penyediaan organ yang segera
diperlukan, atas tujuan luhur akan terpenuhi.