Anda di halaman 1dari 54

Metode Penelitian Uji Klinik

Fitofarmaka

Atina Hussaana
Bagian Farmakologi
FK Unissula

A prospective study comparing the effect &


value of intervention(s) against control in
human beings (Friedman, Furberg & DeMets,
1996).
A controlled experiment having a clinical event
as an outcome measure and done in a clinic or
clinical setting and involving persons having a
specific disease or health condition (Meinert,
1996).
A clinical trial is an experiment testing medical
treatments on human participants (Piantadosi,
1997).

The term clinical trials may be applied to


any form of planned experiment which
involves patients and is designed to
elucidate the most appropriate
treatment of future patients with a given
medical condition (Pocock, 1984).

Hakekatnva UKOT = UKOM


Tapi ada masalah khas dalam perkembangan OT.
Setiap UK merupakan penelitian yang khas, yang
berbeda menurut :

obat, tujuan, disain, parameter pengukuran,


pelaksanaan, penyulit, analisis, publikasi.
Bagaimana melakukan UKOT?
Referensi : buku uji klinik & FDA Guidelines for
Clinical Trials mengenai design & pelaksanaannya.

UKOT (Uji klinik Obat tradisional)


Untuk dapat menjadi fitofarmaka
OT/obat herbal harus dibuktikan khasiat &
keamanannya melalui uji klinik.
Seperti obat moderen, desain uji klinik baku
emas (gold standard) utk OT :

uji klinik berpembanding dengan alokasi


acak dan tersamar ganda (randomized
double-blind controlled clinical trial)

Uji klinik pada manusia hanya dapat dilakukan


apabila OT/obat herbal tersebut telah terbukti
aman dan berkhasiat pada uji preklinik.

Uji klinik OT (seperti halnya dengan uji klinik


obat moderen), maka prinsip etik uji klinik harus
dipenuhi.
Sukarelawan harus mendapat keterangan yang
jelas mengenai penelitian dan memberikan
informed-consent sebelum penelitian dilakukan.
Standardisasi sediaan merupakan hal yang
penting untuk dapat menimbulkan efek yang
terulangkan (reproducible).

UKOT dibagi empat fase yaitu:

Fase I : dilakukan pada sukarelawan sehat, untuk


menguji keamanan dan tolerabilitas OT
Fase II awal: dilakukan pada pasien dalam jumlah
terbatas, tanpa pembanding
Fase II akhir: dilakukan pada pasien jumlah
terbatas, dengan pembanding
Fase III : uji klinik definitif
Fase IV : pasca pemasaran,untuk mengamati efek
samping yang jarang atau yang lambat timbulnya

KEKHUSUSAN UKOT
Untuk obat tradisional (OT) yang sudah lama
beredar luas di masyarakat dan tidak
menunjukkan efek samping yang merugikan,
setelah mengalami uji preklinik dapat langsung
dilakukan uji klinik dengan pembanding.
Untuk OT yang belum digunakan secara luas
harus melalui uji klinik pendahuluan (fase I dan II)
guna mengetahui tolerabilitas pasien terhadap
obat tradisional tersebut.

Berbeda dengan uji klinik obat modern, dosis yang


digunakan umumnya berdasarkan dosis empiris
tidak didasarkan dose-ranging study.
Kesulitan yang dihadapi
adalah dalam melakukan pembandingan secara
tersamar dengan plasebo atau obat standar. Obat
tradisional mungkin mempunyai rasa atau bau
khusus sehingga sulit untuk dibuat tersamar.

Saat ini belum banyak uji klinik OT di Indonesia


meskipun nampaknya cenderung meningkat dalam
5 tahun belakangan ini.

Kurangnya uji klinik yang dilakukan terhadap


obat tradisional al. karena:
1. Besarnya biaya yang dibutuhkan untuk
melakukan uji klinik
2. Uji klinik hanya dapat dilakukan bila obat
tradisional telah terbukti berkhasiat dan aman
pada uji preklinik
3. Perlunya standardisasi bahan yang diuji
4. Sulitnya menentukan dosis yang tepat karena
penentuan dosis berdasarkan dosis empiris,
selain itu kandungan kimia tanaman tergantung
pada banyak faktor.
5. Kekuatiran produsen akan hasil yang negatif
terutama bagi produk yang telah laku di pasaran

Memilih disain uji klinik


Disain uji klinik merupakan deskripsi bagaimana uji
klinik akan dilaksanakan dengan memilih dari
berbagai jenis pilihan, supaya memperoleh
rencana yang cocok dengan tujuan penelitiannya.
Disain dapat ditentukan dari berbagai kombinasi ,
sehingga dapat menjawab pertanyaan studi secara
optimal

Tabel 1. Clinical Trial Design Aspects


(dari: Textbook of Pharmaceutical Medicine : 240)

Membuat disain uji klinik yang berbobot perlu


pendekatan multidisiplin
metode penelitian, farmakologi klinik,
pengetahuan penyakit yang akan diteliti dan
pengelolaannya, prinsip statistik, serta dasar-dasar
uji klinik.

Kapan plasebo dipakai?


Untuk dapat mengukur hasil terapeutik suatu
obat baru dapat dilakukan pembandingan dengan
plasebo atau obat standar.
Obat standar : obat yang diakui sebagai yang
terbaik padawaktu ini.
Pilihan antara menggunakan obat standar atau
plasebo, atau keduanya, tergantung dari :
penyakitnya, obat yang sekarang digunakan,
relevansi metode penelitiannya, dan tujuan uji
klinik

Pemakaian plasebo merupakan teknik untuk dapat


mencapai 3 hal
(WHO TRS 1975: Guidelines for Evaluation of Drugs
in Man : 48)

1. Membedakan efek suggestability, personality,


attitude, anticipation, yang ada pada penderita,
dokter, dan observer.
Bias ini akan menambah atau mengurangi
efektivitas obat sebenarnya atau mengubah
persepsi efek samping, yang sebenarnya tidak ada
hubungannya dengan obatnya sendiri.

2. Plasebo merupakan kontrol terhadap


perubahan yang ditimbulkan oleh penyakitnya
sendiri dalam hubungannya dengan waktu.

Perjalanan penyakit keluhan memuncak. Lalu


seringkali mereda secara alamiah bisa dipersepsi
sebagai efek penyembuhan obat
3. Plasebo dapat menghindarkan konklusi positif/
negatif palsu.
Plasebo terutama diperlukan untuk menunjukkan
efektivitas. Sekali efektivitas suatu obat sudah
dibuktikan secara meyakinkan (mungkin lebih dari
1 x) melalui plasebo, maka studi lain tidak
diharuskan lagi memakai plasebo.

Plasebo digunakan dalam situasi :

1. Jika tidak terdapat obat standar yang diakui.


2. Pengobatan standar yang ada ternyata
memang tidak efektif, meragukan/ tidak
terbukti.
3. Obat yang akan diuji merupakan obat dengan
mekanisme / cara pemberian baru.
4. Pengobatan standar tidak cocok sebagai
pembanding (perbedaan cara pemberian,
dosis, dsb).

5. Respons hanya dapat diukur sebagai parameter


subyektif.
6. Reaksi plasebo cukup besar (diare, influenza,
sariawan, perdarahan hidung, dan sebagainya).

Kriteria di mana sebaiknya plasebo tidak


dipakai :
I. Tidak etis untuk tidak mengobati dengan obat
aktif, jika ini efektif. Misal : pada tuberkulosis.
2. Tidak praktis untuk membandingkan cara
pemberian iv dan oral, kecuali dapat
digunakan double dummy technique dg baik.
3. Respons plasebo sudah diketahui, dan
hendak menguji respons terhadap berbagai
dosis.

Observasi Klinik Jamu


(Dasar ilmiah Terapi Jamu di pelayanan
kedokteran) :

Untuk memenuhi ketentuan umum bahwa setiap


TO dan OT yang akan digunakan dalam yankes
harus memenuhi persyaratan mutu dan memiliki
bukti ilmiah atas khasiat dan keamanannya.
Didukung 4 pilar : ketersediaan informasi EBM,
ketersediaan sumber bh baku terstandarisasi,
adanya regulasi penggunaan TO dan OT dalam
yankes, upaya promosi kpd masyarakat dan
stakeholder.

ALUR PIKIR DALAM GRAND STRATEGY SAINTIFIKASI JAMU

Peta Ethnomedicine di Indonesia


(Base line data)

Khasiat promotif
dan preventif

Paradigma sehat

Khasiat Kuratif

Khasiat Rehabilitaif
/ Paliatif

Paradigma sakit

Paradigma sehat
dan Paradigma
sakit

Didapatkannya Bukti Ilmiah Tentang Manfaat Jamu


Pengintegrasian Obat Tradisional (Jamu) dalam Pelayanan Kesehatan
Formal
21

ISU PENGEMBANGAN OBAT ASLI


INDONESIA (JAMU)
Bagaimana menjadikan jamu (obat asli Indonesia)
menjadi tuan rumah di negeri sendiri?
Pencarian evidence (bukti) agar obat asli Indonesia
(Jamu) dapat dipakai oleh sistem pelayanan
kesehatan formal
PROGRAM SAINTIFIKASI JAMU

22

PerMenkes No. 003 tahun 2010:


Saintifikasi Jamu
Pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian
berbasis pelayanan kesehatan (dual system)
Strategi memasukkan obat tradisional /jamu
dalam pelayanan kesehatan (kedokteran)
Dimensi praktik penggunaan jamu dalam
konteks penelitian (ada instrumen khusus)

PerMenkes No. 003 Tahun 2003: sebagai upaya terobosan untuk


memasukkan jamu dalam pelayanan kedokteran (agar tidak
23
menyalahi UU Praktik Kedokteran)

Tujuan Saintifikasi Jamu


(pasal 2)
1. Memberikan evidence Base penggunaan
jamu secara empiris melaluin penelitian
berbasis pelayanan kesehatan
2. Mendorong terbentuknya jejaring dokter
atau dokter gigi dan tenaga kesehatan
lainnya sebagai peneliti

Tujuan Saintifikasi Jamu


(pasal 2)
3.Meningkatkan kegiatan penelitian kualitatif
terhadap pasien dengan penggunaan jamu.
4.Meningkatkan penyediaan jamu yang aman,
berkhasiat nyata yang teruji secara ilmiah dan
dimanfaatkan secara luas baik untuk
pengobatan sendiri maupun dalam fasilitas
pelayanan kesehatan.

Syarat jamu dalam penelitian berbasis


pelayanan kesehatan jamu (pasal 4)
1. Aman

2. Berkhasiat (berdasarkan data empiris.)


3.

Memenuhi persyaratan mutu

Fasilitas pelayanan kesehatan untuk SJ


(pasal 7)
KLINIK B2P2TO2 T Tawangmangu
Klinik jamu (tipe A-Tipe B)
Sentra Pengembangan dan Penerapa
Pengobatan Tradisional (SP3T)
BKTM
Rumah Sakit yang ditetapkan

Syarat Klinik Saintifikasi Jamu tipe A


(pasal 8):
1. SDM: Dokter (koordinator)
Asisten Apoteker
Nakes komlemeter lain
Administrator
2. Fasilitas: ruang periksa. Ruang Pendaftaran,
Ruang lab, Griya Jamu, ruang diskus,i
ruang tunggu

Klinik Tipe B

(pasal 8)

Tenaga :
1. Dokter sebagai penanggung jawab
2. Nakes komplementer alternatif sesuai
kebutuhan
3. D3 Pengobat tradisional
Sarana : peralatan medis, peralatan jamu, ruang
tunggu, ruang pendftaran, ruang periksa, peracikan
jamu

Syarat dokter yang memberikan


pelayanan jamu (pasal 11 - 15):
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

STR
SIP
SBR TPKA
ST-TPKA
Ada Informed Consent
Ada medical record
Kegiatan penelitian mendapat etical
clearance

KOMNAS JAMU
Bertugas : melakukan pembinaan dan
peningkatan saintifikasi jamu

Isolasi bahan
aktif

Obat
modern

Yankes
formal

Yankestradkom

TANAMAN
OBAT

Formula Jamu
terpilih

Jamu
(tradisional)

SaintIfikasi
Jamu

Binwas
Yankestradkom

Jamu
Saintifik

Yankes
tradisional

PENGEMBANGAN TANAMAN OBAT (JAMU)


32

GRAND STRATEGY PENGEMBANGAN JAMU

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN JAMU

R&D

Kebijakan
nasional dan
kerangka
regulasi

Mensinergikan pengobatan tradisional (jamu) dengan sistem


pelayanan kesehatan nasional
UU, PP, PerMenkes, KepMenkes

Penyediaan
bahan baku yg
berkualitas

Bekerjasama dg Kemtan & Kemhut untuk standarisasi


penyediaan bahan baku (penanaman, panen, pengolahan
paska panen)

Keamanan,
mutu, dan
manfaat
(efikasi)

Litbang terkait penyediaan bahan baku (standarisasi


penanaman, panen, dan pengolahan)
Litbang terkait keamanan, mutu, dan efikasi (manfaat) jamu
dalam upaya promotif, preventif, kuratif, dan paliatif
(etnomedicine, uji preklinik dan uji klinik jamu)

Akses

Menjamin ketersediaan tanaman obat dan jamu, khususnya


obat herbal (jamu) esensial
Memasukkan jamu dalam formularium RS (obat Jamkesmas??)

Penggunaan
rasional

Mengembangkan pedoman pengobatan jamu (Formularium


Jamu)
Pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan tentang
pengobatan jamu
33

Menjamin keamanan, mutu, dan manfaat


(efikasi)
Saintifikasi Jamu
Pemetaan etnobotani-medis
Litbang budidaya, panen, paska panen
standarisasi mulai hulu s/d hilir
Kajian tentang kebijakan dan regulasi obat
tradisional (jamu)
Litbang tentang keamanan, mutu, dan manfaat
(efikasi jamu melalui uji klinik)
Litbang aspek sosiobudaya jamu body of
knowledge Jamu
34

Menjamin Kesinambungan Penyediaan


bahan baku jamu yg berkualitas
1. Bekerjasama dengan Kementerian Pertanian dan

Kementerian Kehutanan untuk standarisasi proses


penyediaan bahan baku (penanaman, panen,
pengolahan paska panen)
2. Pendidikan dan pelatihan kepada petani tentang
penanaman, panen, dan pengolahan paska panen
3. Pemberdayaan petani untuk menanam Tanaman
Obat sebagai alternatif peningkatan ekonomi
keluarga
4. Pengembangan Kelembagaan: Koperasi, Gapoktan
dan Klaster
35

Menjamin akses masyarakat terhadap jamu


yang bermutu, berkhasiat, dan aman
Pengembangan Klinik Saintifikasi Jamu di Puskesmas dan RS

(Pemerintah dan swasta)


Pengembangan TOGA di tingkat rumah tangga untuk

pertolongan pertama (self medication) pada penyakit ringan


(common diseases) dan pemeliharaan kesehatan
pedoman
Pembinaan produsen jamu tentang Cara Pembuatan Jamu

yang Baik (GMP)


36

Mendorong penggunaan obat tradisional


(Jamu) yang rasional
Mewajibkan provider menggunakan jamu yang

berkualitas
Penyusunan Vademecum Herbal dan Formularium
Jamu
Diklat kepada dokter spesialis, dokter umum, dokter
puskesmas tentang pelayanan obat tradisional
(jamu)
Pelatihan Battra dan masyarakat tentang
penggunaan jamu, khususnya promotif, preventif,
kuratif sederhana
37

Jumlah Bahan yg digunakan


Ada 80 Tanaman obat
yang telah digunakan
dalam klinik saintifikasi
jamu

Jumlah spesies tanaman


yang diindikasikan
berkhasiat obat ada +
30.000 spesies TO

Agar Jamu berkhasiat

Tepat ukuran (dosis)


Tepat waktu penggunaan
Tepat cara penggunaan
Tepat pemilihan bahan/ramuan
Tepat telaah informasi
Sesuai dengan indikasi penyakit tertentu

KESESUAIAN BAHAN PENYUSUN RAMUAN


DENGAN INDIKASI
PENDEKATAN EMPIRIS : Hasil survei etnobotani, tercantum
dalam literatur tradisional seperti Serat Centini, Jamu
Pusaka Kraton, Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang
PENDEKATAN KHEMOTAKSONOMI : Bahwa berbagai
spesies dalam satu familia memiliki kemungkinan
kandungan kimia yang mirip strukturnya, contoh : alkaloid
tropan pada Solanaceae, kurkuminoid pada Zingiberaceae
PENDEKATAN HOLISTIK : Bahan aktif utama, bahsiaan
aktif pendukung khasiat, bahan pensuspensi, stabilisator,
corrigen saporis, corrigen odoris, corrigen coloris

FORMULASI DAN KEAMANAN RAMUAN


KESESUAIAN BAHAN PENYUSUN RAMUAN DENGAN INDIKASI :
Pendekatan empiris, pendekatan khemotaksonomi,study
literatur, pendekatan holistik
BAHAN BERBAHAYA HARUS DIHINDARI/ HATI2 : Kandungan
aktif berefek keras, dosis terapi dekat dengan dosis toksis
KONTRAINDIKASI HARUS DIHINDARI : Kontraindikasi dalam
satu bahan tunggal, kontraindikasi dalam ramuan
Kelembak ( antakinon rhein--- lancar BAB, secang (tanin--- anti
diare)

RUANG LINGKUP BAHAN BAKU JAMU


SIMPLISIA
Tumbuhan : kumis kucing, jahe, camomile, ky manis
Hewan : kuda laut, tangkur buaya, empedu ular
Mineral : belerang, kapur sirih, emas
EKSTRAK (Sari tanaman yang masih kasar)
EKSTRAK TERPURIFIKASI (fraksi flavonoid, kurkuminoid,
minyak atsiri, VCO)
ISOLAT AKTIF (kafein, piperin, kurkumin, rutin, eugenol)

Kriteria Bahan Jamu


1. Ramuan :
Ramuan Simplisia ? ------- umum
Ramuan serbuk ------------- seduhan
Ramuan Ekstrak ? ---------- industri
2. Promotif dan Preventif Wellness ? Stamina ?
Immunostimulan ?
Anti-Oksidan ?
Hepatoprotektor ?
Sehat / Bugar / Awet Muda / Awet Ayu ??
Anti masuk angin, kembung, antiflatulent....
stamina

Kriteria Bahan Jamu


3. Ramuan sederhana vs kompleks ?
Sederhana (maks. 5):
Kunir-Asem (Kunyit-Asam)
Beras-Kencur
Babakan-Pule
Cabe Puyang
Sinom
Paitan , dll
Kompleks (> 5):
Tolak Angin (Sidomuncul), Singkir Angin (Nyonya Meneer) dkk
Pria Sehat (Nyonya Meneer)
Sehat Pria (Sidomuncul)
Galian Singset
dll

Tolak Angin :

Amomi fructus ( kapulaga )


Foeniculli fructus ( adas )
Isorae fructus ( kayu ulet )
Myristicae semen ( pala )
Burmanni cortex ( manis jangan )
Centellae herba ( pegagan )
Caryophilli folium (daun cengkeh)
Parkiae semen ( kedawung )
Oryza sativa ( beras )
Menthae arvensitis herba ( daun poko )
Zingiberis rhizoma ( jahe )
Usnae thallus ( kayu angin )

Anti-inflamasi,
penghangat
Anti-inflamasi, antimikroba

Anti-inflamasi, nafsu
makan
Anti-tumor, tonik
Tonik, obat luka
Anti-bakteri, anti-virus
Meningkatkan imunitas
Anti-virus, penghangat

Ramuan Jamu
Ramuan Dasar
R/Temu lawak
Kunyit

5 gr
3 gr

Meniran
4 gr
Ramuan dasar sebagai pendukung bahan formula
utama, yang bersifat analgetik, antiinflamasi dan
imunomodulator.

Anti asam urat


R/Kayu secang
5 gr
Daun tempuyung
3 gr
Daun kepel
3 gr
Secang : flavonoid kuat --- oksidator kuat
menghambat batu urat hmbt xantin oksidase
Tempuyung : Flavonoid dan coumarin hmbt xantin
oksidase
Ion2 Na dan K ... Ikatan dg batu uric seny garam --mudah larut --- keluarkan ( ion kalium --- diuretik
kuat)
Kepel uji pre --- turunkan kdr as urat

Anti kolesterol
R/Daun jati londo 5 gr
Daun kemuning 5 gr
Kelembak 3 gr
Jati londo :
muscilago --- mengembang di perut hambat absorsi
Alkaloid --- enzim lipase--- molekul besar
Kemuning : efek menurunkan berat badan --- ekskresi
kolesterol
Kelembak : antrakinon rhein --- laksan efek defekasi -- BAB lancar

Hipertensi
R/ Seledri
Kumis kucing
pegagan

5 g
3 g
3 g

Seledri Flavonoid Apiin dan Apigenin Vasodilator


Tekanan darah turun
Kumis kucing Flavonoid polimetoksi: sinensetin,
isosinensetin; garam kalium; dan inositol Diuretika
Penurunan tekanan darah
Pegagan vasodilatator, anti penegentalan darah
perlancar peredaran darah.

Anti diabet
R1/

Daun sambiloto
Salam
Bratrawali

Sambiloto : andrografolid
Bratawali : insulin alami

5 gr
3 gr
5 gr

SEDIAAN JAMU

SIMPLISIA (2 - 7 gram) tiap bahan


SERBUK (2 - 7 gram)
EKSTRAK (50 - 1000 miligram)
Dosis pemakaian sekali minum

PENYIAPAN RAMUAN
1. Bahan ditimbang satu persatu sesuai dosis
dalam penggunaan sehari
2. Dimasukkan dalam wadah plastik ( 8 buah
untuk satu resep)
3. Dikukan pengepresan
4. Dimasukkan dalam wadah pengemas
ramuan

CARA PEMAKAIAN
1. Didihkan 5 gelas airgelas
2. Masukkan 1 kemasan ramuan jamu
3. Tunggu selama 15 menit ( sampai air terisa 2
gelas dengan nyala api kecil dengan sesekali
diaduk)
4. Diamkan hingga hangat/ dingin ( tetap tutup
rapat)
5. Saringlah dan minum 2 x 1 gelas tiap hari.