Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami kirimkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Dampak
Positif Dan Negatif Penenggelaman Kapal Pencuri Ikan Di Indonesia ini dengan baik meskipun
banyak kekurangan di dalamnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak
ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Pekanbaru,04 Oktober 2015

Penyusun

Daftar isi
KATA
PENGANTAR..................................................................................................................
..
DAFTAR
ISI................................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN.............................................................................................................
..
BAB II PEMBAHASAN
A. Dampak Positif Penenggelaman Kapal Asing Pencuri
Ikan........................................
B. Dampak Negatif Penenggelaman Kapal Asing Pencuri
Ikan......................................

C. Peraturan Mengenai Penenggelaman Kapal Asing Pencuri


Ikan.......................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.........................................................................................................
........
B. Saran..................................................................................................................
........

DAFTAR
PUSTAKA..................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
Pemerintah Indonesia melalui diplomasi harus dapat mendorong
pengakuan internasional bahwa pencurian ikan di perairan Indonesia
merupakan tindak sebuah kejahatan luar biasa atau "extra ordinary crimes".
"Pencurian ikan memenuhi syarat untuk disebut sebagai kejahatan luar biasa
karena terjadi secara terstruktur, sistematis, dan masif di perairan kita," kata
Ketua Dewan Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia M Riza
Damanik dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (11/12).
UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 2004
tentang Perikanan (selanjutnya disebut UU Perikanan) Pasal 69 ayat (4)
menyatakan Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) penyidik dan/atau pengawas perikanan dapat melakukan tindakan khusus
berupa pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan yang
berbendera asing berdasarkan bukti permulaan yang cukup.
Selain itu, langkah lainnya adalah mengambil kesempatan tersebut
guna membentuk Tim Satuan Tugas Pemberantasan Pencurian Ikan, namun
semua langkah itu dinilai masih belum betul-betul tuntas."Langkah-langkah
itu belumlah cukup mengingat Presiden Jokowi mengatakan, setidaknya
5.400 kapal asing yg masuk dan mencuri sumber daya laut kita," katanya. Ia
juga mengingatkan kejadian pencurian ikan dari berbagai negara itu bukan
hanya satu-dua kali saja, tetapi berlangsung secara terus-menerus dalam
jangka waktu 20 tahun terakhir. Apalagi, ujar dia, biaya penenggalaman
kapal juga dinilai memerlukan ongkos yang mahal yang saat ini hanya
dibebankan kepada Indonesia, lagi pula sekitar 30 persen pencurian ikan di
lautan global terjadi di kawasan perairan Indonesia.
Sementara itu, Kepala Bidang Riset dan Monitoring Indonesia For
Global Justice (IGJ), Rachmi Hertanti menegaskan, pemerintah harus dapat
meletakkan keseriusan dengan menyadarkan bahwa kejahatan pencurian
ikan adalah kejahatan sistematis yg melibatkan banyak negara."Harus

diletakkan bahwa (pemberantasan pencurian ikan) ini kewajiban universal..


Butuh komitmen negara-negara lainnya," kata Rachmi Hertanti. Rachmi
menegaskan pencurian ikan merupakan kejahatan yang melibatkan tidak
hanya satu negara, melainkan lintas negara dan terorganisir. Ia menjelaskan
kejahatan lintas negara yang terorganisir oleh masyarakat internasional
dianggap sebagai kejahatan yang membahayakan kedaulatan, keamanan
dan stabilitas baik nasional maupun internasional serta bertentangan dengan
rasa keadilan masyarakat.

BAB II PEMBAHASAN
A. Dampak Positif Penenggelaman Kapal Asing
Dampak positif dari penenggelaman kapal asing pencuri ikan ini
mulai dirasakan oleh Indonesia dengan stok ikan di pasar lokal
meningkat. "Pendapatan nelayan naik, ikan di pasar lokal banyak,
harga juga tidak terlalu mahal, sebelumnya ikan mahal barang tidak
ada, ekspor juga meningkat di Bali ekspor tuna naik 80%,". Selain itu ,
penenggelaman kapal asing juga berdampak pada munculnya lubuklubuk ikan dikarenakan kapal yang tadinya ditenggelamkan menjadi
tempat bertelur dan rumah bagi ikan sehingga nelayan bisa
merasakan berbagai keuntungan mulai dari ikan yang berlimpah, dan
mudahnya untuk mendapatkan ikan.
Selain keuntungan yang diperoleh oleh nelayan sendiri,
terkhususnya bagi Indonesia juga mendapatkan keringanan dari
Amerika yang membebaskan bea ekspor produk perikanan, setelah
gencar melakukan kampanye pemberantasan illegal fishing dan juga
program perikanan yang berkelanjutan.

B. Dampak Negatif Penenggelaman Kapal Asing

Dampak negatif dari penenggelaman kapal asing tak hanya


dirasakan masyarakat nelayan ,melainkan juga global. Hal ini
dikarenakan sampah kapal yang ditenggelamkan menjadi salah satu
penyebab terjadinya pencemaran lingkungan mulai dari tumpahnya
minyak kapal saat ditenggelamkan sehingga berdampak rusaknya
ekosistem laut, dan berserakannya bagian bagian kapal yang telah
dibakar atau diledakkan, terutama bagian kapal yang terbuat dari
plastik. penenggelaman kapal juga dapat mengurangi keindahan
pantai karena keberadaan tumpukan kerangka kapal dan barangbarang yang terapung akibat pembakaran atau pengeboman kapal.
Dan juga dapat menyebabkan terganggunya pariwisata air karena
bangkai kapal merusak keindahan laut karena menjadi sampah di laut.
Penenggelaman kapal asing dimata internasional dipandang sebagai
tindakan sewenang-wenang sehingga hal ini mendapat kecaman dari
beberapa Negara. Tak jarang juga berdampak pada rusaknya
hubungan antar Negara.
Selain itu, biaya penenggalaman kapal juga dinilai memerlukan
ongkos yang mahal yang saat ini hanya dibebankan kepada Indonesia,
dimana Indonesia yang saat ini menanggung
semua beban biaya
penenggelaman kapal asing.

C. Peraturan Mengenai Penenggelaman Kapal Asing


Tindakan menenggelamkan kapal tidak menyalahi hukum Indonesia.
UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan (selanjutnya disebut UU Perikanan) Pasal 69 ayat (4) menyatakan
Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) penyidik
dan/atau pengawas perikanan dapat melakukan tindakan khusus berupa
pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan yang berbendera
asing berdasarkan bukti permulaan yang cukup. Penjelasan Pasal 69 ayat (4)
menyatakan yang dimaksud dengan bukti permulaan yang cukup adalah
bukti permulaan untuk menduga adanya tindak pidana di bidang perikanan
oleh kapal perikanan berbendera asing, misalnya kapal perikanan berbendera
asing tidak memiliki SIPI dan SIKPI, serta nyata-nyata menangkap dan/atau
mengangkut ikan ketika memasuki wilayah pengelolaan perikanan Negara
Republik Indonesia.

ketentuan hukum internasional terakhir tentang kelautan hanya


Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Hukum Laut (United Nations
Convention on the Law of the Sea/ UNCLOS) 1982. Dan sudah diratifikasi
dengan Undang-Undang No. 17 Tahun 1985. UNCLOS diberlakukan pada
tahun 1994 dan telah diratifikasi lebih dari 60 negara. Baik UU No. 17/ 1985
dan UNCLOS 1982 menjadi dasar hukum dan muatan materi dalam UU
Perikanan. Jika Pasal 69 ayat (4) UU Perikanan tidak sesuai dengan UNCLOS
1982 sudah lama Pasal ini dicabut. Untuk diketahui Pasal 69 ayat (4) lahir
pada tahun 2009 yang mengubah ketentuan UU No. 31 tahun 2004.
Sebelumnya atau pada tahun 2004, ketentuan tentang dapat melakukan
tindakan khusus berupa pembakaran dan/atau penenggelaman kapal tidak
ditemukan. Baru lahir setelah UU 31/2004 direvisi oleh UU 45/2009.
Salah satu contoh masuknya ketentuan hukum internasional (baca:
UNCLOS 1982) dalam UU Perikanan dapat dilihat pada Pasal 102. Pasal 102
mengikuti aturan yang tertera dalam Article 73 clause (3) UNCLOS yang
menyatakan bahwa hukuman yang dijatuhkan negara pantai terhadap tindak
pidana di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif tidak boleh mencakup
pengurungan (hukuman badan). Coastal State penalties for violations of
fisheries laws and regulations in the exclusive economic zone may not include
imprisonment, in the absence of agreements to the contrary by the States
concerned, or any other form of corporal punishment.
Oleh karena itu warga negara asing yang tertangkap melakukan illegal
fishing dan dikenakan dakwaan Pasal 69 ayat (4) dengan ancaman pidana
penjara paling lama 6 (enam) tahun, tetap tidak berlaku. Kecuali Pemerintah
Indonesia telah melakukan perjanjian bilateral sebelumnya dengan negara
bersangkutan. Para nelayan asing itu, hanya dapat dikenakan pidana denda
paling banyak Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah). Selebihnya
manusianya dideportasi.

Jika berbicara adakah hukum internasional yang melarang suatu alat


negara membakar atau menenggelamkan kapal asing, dapat dilihat
perbandingan ini. Pada 15 Juni 2008, Otoritas keamanan Australia membakar
sebuah kapal nelayan Indonesia asal Merauke setelah tertangkap tangan
sedang menangkap ikan kakap di perairan laut Arafura. Kapal 'Ramlan-07'
dengan enam orang awak ini dianggap sudah masuk wilayah Australia.
Sebelumnya Otoritas keamanan Australia telah membakar puluhan kapal
nelayan asal Indonesia. Dan 253 nelayan ditahan otoritas Australia di Pusat
Penahanan Darwin (sumber). Menteri Kehakiman Australia, David Johnston,
mengatakan operasi tersebut menunjukkan hasil usaha pemerintahnya
dalam menghadapi pencurian ikan. Jika para nakhoda enam kapal ikan
Indonesia itu terbukti mencari ikan secara ilegal, mereka dan pemilik kapal

kehilangan enam kapal sebab Australia memiliki kebijakan membakar kapalkapal nelayan asing jika para pemilik tidak bersedia membayar denda.
Lebih tragis lagi pada tahun 1993, sekitar 160 kapal nelayan asal
Kalimantan, Nusatenggara dan Sulawesi dibakar di wilayah Brom, Australia.
Saat itu para nelayan Indonesia protes karena Otoritas keamanan Australia
membakar kapal sementara bendera Indonesia masih berkibar di atas kapal.
Akibatnya, setelah para nelayan pulang ke Indonesia, mereka ganti
membakar bendera Australia di Jakarta (sumber)
Indonesia, sebagai negara yang menjunjung tinggi hukum, tindakan
main hakim sendiri jelas tidak bisa dibenarkan, baik yang terjadi di
masyarakat kita maupun terkait hubungan internasional dengan negara lain.
Kita boleh geram karena banyaknya kapal-kapal asing yang mencuri ikan di
perairan kita. Namun kitapun harus intropeksi sejauh mana para penegak
hukum, baik polisi, tentara, kejaksaan, maupun hakim telah melaksanakan
tugasnya dengan baik. Daripada kita bom kapal-kapal asing tersebut, lebih
baik diburu dan ditangkap, kemudian dibawa ke pengadilan. Nelayannya
ditahan dan kapalnya disita, itulah proses hukum yang adil. Hanya
masalahnya, bagaimana proses hukum di pengadilan dapat berlangsung
dengan cepat. Dan yang penting juga, jangan ada kongkalikong diantara
nelayan asing dengan penegak hukum kita.

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN
Penenggelaman kapal asing tidak bertentangan dengan uu , hal ini
sesuai dengan UU No . 45 Tahun 2009 tentang Perikanan pasal 69 ayat (4),
yang menyatakan dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) penyidik dan/atau pengawas perikanan dapat melakukan tindakan

khusus berupa pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan yang


berbendera asing berdasarkan bukti permulaan yang cukup.
Namun,penenggelaman kapal ikan ilegal itu lebih banyak merugikan
Indonesia.Selain bisa merusak hubungan antarnegara, ada beberapa akibat
yang perlu dipertimbangkan pemerintah sebelum melakukan penenggelaman
kapal.
B. SARAN
Saran kami sebagai penulis kepada pemerintah supaya kebijakan Yang
diambil perlu dikaji ulang, termasuk pelaksanaan penegakan dan
pengawasan hukum bidang perikanan dengan melakukan penutuhan atau
scraping kapal asing tersebut dari pada melakukan penenggelaman.
Pemerintah juga harus tahu bahwa Kelebihan kapal nelayan asing yang
memiliki kecepatan dan kelengkapan peralatan sebenarnya dapat digunakan
oleh nelayan Indonesia untuk meningkatkan produksi tangkapan ikan.
Dengan
berbagai
pertimbangan
itu,
pemerintah
perlu
mempertimbangkan segi kemanfaatan kebijakan penenggelaman kapal asing
tersebut dalam upaya penegakan hukum perikanan di wilayah Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/14/12/11/ngexzl-menteri-susiperikanan-tangkap-harus-dikuasai-pribumi
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/08/150812_indonesia_kapal

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/11/18/nf8pjn-nelayan-kapalpencuri-jangan-dibom-mending-untuk-nelayan-saja
http://finance.detik.com/read/2014/11/17/170438/2750693/4/menteri-susi-mintakapal-asing-pencuri-ikan-dibakar-ini-kata-panglima-tni