Anda di halaman 1dari 7

Nama : Kurniawan Tricahyo Pamungkas

Kelas : S1 Akuntansi 2012A


NIM : 128694054
RESUME BAB III
KONSEP DAN PERAN PERILAKU ORGANISASI
A. Keterlibatan Peran Manajer
Manajer merupakan seseorang yang bekerja dengan orang lain guna
mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan pekerjaan untuk mencapai tujuan organisasi.
Peran manajer terletak pada kebutuhan akan koordinasi dan kendali dalam setiap
kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi guna perbaikan
Secara umum, manajer dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
(1) Manajer Tingkat Bawah (Lower Manajer)
Merupakan manajer di tingkatan paling bawah untuk mengelola pekerjaan
individu non-manajerial dalam produks atau penciptaan produk organisasi.
Manajer tingkat bawah meliputi penyelia, manajer lini, manajer kantor ata
bahkan mandor.
(2) .Manajer Tingkat Menengah (Middle Manajer)
Manajer tingkat menengah mengelola pekerjaan para manajer lini pertama
dan mempunyai sebutan seperti kepala bagian atau kepala biro, pemimpin
proyek, manajer pabrik atau manajer divisi.
(3) Manajer Tingkat Atas (Top Manajer)
Manajer tingkat atas bertanggungjawab atas pengambilan keputusan yang
mencakup seluruh organisasi dan menyusun rencana serta sasaran yang akan
Griffin

memengaruhi keseluruhan organisasi itu.


mendefinisikan manajemen sebagai

sebuah

proses

perencanaan,

pengorganisasian, pengoordinasian, dan pengendalian sumber daya untuk mencapai


sasaran (goals) secara efektif dan efisien. Efektif berarti tujuan dapat dicapai sesuai
dengan rencana, sementara efisien berarti tugas yang ada dilaksanakan secara benar,
terorganisasi, dan sesuai dengan jadwal.
Terdapat empat fungsi dasar manajemen diantaranya :
(1) Perencanaan
Mencakup proses merumuskan sasaran, menetapkan suatu strategi untuk
mencapai sasaran tersebut, dan menyusun rencana guna memadukan dan
mengoordinasikan sejumlah kegiatan.
(2) Pengorganisasian
Mencakup proses menentukan tugas yag harus dikerjakan, pihak yang harus
mengerjakannya, cara tugas-tugas itu akan dikelompokkan, hierarki
pelaporan, dan pada tingkatan apa keputusan harus diambil
(3) Kepemimpinan

Fungsi kepemimpinan merupakan kemampuan dan kesiapan sesorang


memengaruhi, membimbing, dan mengarahkan atau mengelola orang lain
agar mereka mau berbuat sesuatu demi tercapainya tujuan bersama.
(4) Pengendalian
Setelah sasaran ditentukan, rencana dirumuskan, pengaturan strukturnya
ditetapkan (fungsi organisasi), serta orang-orang dipekerjakan, dilatih, dan
diberikan motivasi, terdapat sejumlah evaluasi untuk mengetahui apakah
segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. Para manajer harus memantau dan
mengevaluasi kinerja organisasi dengan membandingkan kinerja aktual
terhadap sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.
Peran perilaku manajerial digolongkan menjadi :
(1) Peran Antar-Pribadi
Peran yang melibatkan orang dan tugas lain yang bersifat seremonial dan
simbolis.
(2) Peran Informasi
Tiga peran informasi meliputi pemantau, penyebar, dan juru bicara.
(3) Peran Keputusan
Peran ini mengenai pengambilan keputusan dalam menentukan pilihan atas
alternatif yang ada.
Berdasarkan penelitian Robert L. Kats, terdapat tiga keahlian atau kompetensi
mutlak yang wajib dimiliki oleh seorang manajer yaitu :
(1) Keahlian Teknikal
Mencakup pengetahuan dan keahlian dalam bidang khusus seperti
perekayasaan, komputer, akuntansi dan pabrikasi. Keahlian ini lebih
diutamakan untuk manajer pada tingkatan paling bawah karena mereka
berhadapan langsung denga karyawan.
(2) Keahlian Tentang Orang
Keahlian tentang orang meliputi kemampuan bekerjasama dengan baik
dengan orang lain secara peroranagan ataupun kelompok. Mereka dituntut
untuk memiliki kemampuan dalam berkomunikasi, memberi motivasi,
memimpin dan menimbulkan antusiasme serta kepercayaan. Keahlian ini
penting untuk semua tingkatan manajemen.
(3) Keahlian Konseptual
Keahlian konseptual merupakan keahlian dimana manajer dituntut untuk
berpikir dan berkonsep tentang situasi keseluruhan organisasi dan melakukan
penyesuaian terkait lingkungan organisasi berada.
Dengan demikian akan terbentuk karakteristik manajer yang sesuai dan menentukan
perilaku organisasi untuk mencapai tujuan organisasi bauk jangka panjang maupun
jangka pendek.
B. Beberapa Hal Penting Dalam Organisasi

(1) Teori Peran


Peran merupakan komponen perilaku nyata yang disebut norma. Aspek
penting dari teori peran adalah identitas dan perilaku sosial. Posisi seseorang
yan menduduki jabatan tertentu dalam suatu organisasi formal atau suatu
kelompok informal membawa pola perilaku bersama yang diharapkan.
(2) Struktur Sosial
Pola teladan dari berbagai bagian subsistem yang beroperasi dikenal sabgai
struktur sistem. Memasukkan struktur sosial yang mengacu pada hubungan
yang dipolakan antara berbagai subsistem sosial dan individu memungkinkan
struktur tersebut untuk dapat berfungsi dalam masyarakat, orgaanisasi sosial
atau kelompok sosial.
(3) Budaya
Budaya merupakan norma-norma dan nilai-nilai yang mengarahkan perilaku
anggota organisasi. Setiap anggota akan berperilaku sesuai dengan budaya
yang berlaku agar diterima di lingkungan tersebut. Budaya dapat dibagi
menjadi tiga faktor mendasar :
1) Faktor struktural, seperti umur dan sejarah perusahaan, tempat
operasi serta lokasi geografis perusaahaan dalam satu jenis industri.
2) Faktor politis, ditentukan oleh distribusi kekuasaan dan cara
pengambilan keputusan manajerial.
3) Faktor emosional, mencakup pemikiran kolektif, kebiasaan, sikap,
perasaa, dan pola-pola perilaku.
Mempekerjakan individu yang nilai-nilainya tidak selaras dengan nilai-nilai
organisasi yang telah ada akan cenderung menghasilkan karyawan yang
kurang memiliki motivasi dan komitmen, serta yang tidak akan terpuaskan
oleh pekerjaan mereka maupun organisasi tersebut.
(4) Komitmen Organisasi
Komitmen organisasi merupakan tingkat smapai sejauh apa seorang
karyawan memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan-tujuannya
sertaa berniat mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi tersebut
(Loyalitas). Komitmen organisasi akan terbangun bila setiap individu
mengembangkan tiga sikap berikut :
1) Identifikasi, yaitu pemahaman dan penghayatan tujuan organisasi.
2) Keterlibatan, yaitu perasaan terlibat dalam suatu pekerjaan atau
perasaan bahwa pekerjaan tersebut menyenangkan.
3) Loyalitas, yaitu perasaan bahwa organisasi adalah tempat tinggal dan
tempat bekerjanya.
Selain itu adapula tiga komponen utama mengenai komitmen organisasi
sebagai berikut :

1) Komitmen afektif
Terjadi apabila karyawan ingin menjadi bagian dari organisasi karena
ikatan emosional atau psikologis terhadap organisasi. Mereka akan
sukarela melakukan pekerjaan tambahan dan memberikan saran-saran
bagi perbaikan serta kemajuan organisasi.
2) Komitmen kontinu
Muncul apabila karyawan tetap bertahan pada suatu organisasi karena
ia merasa membutuhkan organisasi tersebut baik dari segi ekonomi
(gaji) atau dari segi lainnya yang memberikan keuntungan.
3) Komitmen normatif
Timbul akibat sikap karyawan yang sadar bahwa ia berkewajiban
untuk tinggal di organisasi tersebut sebagai komitmen yang telah
dibuatnya.
Mengingat pentingnya loyalitas seorang karyawan bagi perusahaan, banyak
perusahaan yang melakukan langkah-langkah berikut untuk menjaga
loyalitas karyawannya :
1) Memberikan kompensasi (upah,gaji, dan tunjangan) yang menarik
atau bahkan kompetitif bila dibandingkan dengan perusahaan lain.
2) Membuat kondisi kerja yang nyaman dan menyediakan fasilitas kerja
yang baik.
3) Memberikan tugas atau pekerjaan yang menantang dan menarik.
4) Mempraktikkan manajemen terbuka dan manajemen partisipatif
5) Memperhatikan persoalan yang dianggap penting oleh karyawan dan
menjaga keadilan perlakuan terhadap karyawan dalam perusahaan.
(5) Konflik Peran
Konflik peran timbul ketidaksesuaian antara kode etik profesi dengan sistem
pengendalian perusahaan. Apabila seorang profesional bertindak sesuai
dengan kode etik, maka ia akan merasa tidak berperan sebagai karyawan
yang baik bagi perusahaan. Sebaliknya apabila ia bertindak sesuai dengan
prosedur yang ditentukan oleh perusahaan, maka ia akan merasa telah
bertindak secara tidak profesional. Kondisi seperti inilah yang disebut
konflik peran.
(6) Konflik Kepentingan
Menurut prinsip manajemen yang dikemukakan oleh Henry Fayol (1914),
yakni prinsip no. 6, kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok harus
tunduk pada kepentingan organisasi secara keseluruhan.
C. Perubahan Pada Tingkat Individu
Pada tingkat individu, manajer dan karyawan perlu mempelajari bagaimana cara
bekerja dengan orang-orang yang mungkin memiliki perbedaan dengan diri mereka

dalam berbagai dimensi. Berikut hal-hal yang menyebabkan terjadinya perubahan pada
tingkat individu :
(1) Perbedaan individu
Karakteristik individu berupa kepribadian, persepsi, nilai dan sikap awalnya
utuh ketika masuk organisasi, tetapi setelah adanya penyesesuaian terhadap
budaya organisasi akan berdampak nyata terhadap perilaku individu yang
bersangkutan.
(2) Motivasi
Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan untuk individu dalam mencapai
keinginannya. Motivasi akan terdorong karena keinginan untuk hidup,
memiliki sesuatu, memiliki kekuasaan dan adanya pengakuan atas dirinya.
(3) Pemberdayaan
Pemberdayaan berarti manajer sedang menempatkan orang yang dianggap
sesuai untuk suatu pekerjaan.faktor utama dalam pemberdayaan adalah
permintaan konsumen akan suatu produk yang berkualitas. Untuk
melaksanakan

pemberdayaan

organisasi

biasanya

menyusun

serta

menentukan visi dan misi organisasi.


(4) Berperilaku etis
Etika merupakan norma atau standar perilaku yang berfungsi sebagai
petunjuk moral apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan
ketika berinteraksi dengan orang lain. Kode etik harus dipenuhi dan ditaati
oleh setiap profesi yang memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat
untuk memperoleh kepercayaan yang luas.
D. Perubahan Pada Tingkat Kelompok
Peilaku orang ketika berada dalam suatu organisasi akan berbeda dengan
perilakunya ketika sebagai individu. Ada dua hal yang menyebabkan terjadinya
perubahan pada tingkat kelompok yaitu bekerja dengan yang lainnya dan perbedaan
kekuatan kerja
E. Perubahan Pada Tingkat Organisasi
Berikut faktor-faktor lain yang membatasi perilaku individu dengan perilaku
kelompok :
(1) Produktivitas
Produktivitas menggambarkan pencapaian tujuan apakah sudah efektif dan
efisien. Efektif berarti melakukan hal yang benar, efisien berarti melakukan
sesuatu dengan benar.
(2) Pengembangan efektivitas karyawan
Perilaku kewarganegaraan organisatoris

(PKO)

digunakan

untuk

mendeskripsikan kebebasan perilaku karyawan yang bukan merupakan


perilaku sehari-hari saat bekerja. Hal ini akan mendorong terciptanya suasana

yang nyaman bagi karyawan dan menolong anggota yang lain untuk sukarela
melakukan pekerjaan ekstra dan menghindari konflik yang tidak perlu.
(3) Mengelola dan bekerja dalam dunia multikultural
Melalui internet, batasan nasional yang menghalangi interaksi antara satu
negara ke negara lain sudah mulai hilang secara perlahan. Hal ini akan
menciptakan kondisi dimana persaingan antara organisasi akan semakin luas.
(4) Fleksibilitas
Fleksibilitas dapat diartikan perusahaan memerlukan pengembangan sistem
desentralisasi yang mengutamakan pelimpahan wewenang dan tanggung
jawab secara berjenjang. Alasan dibtuhkannya desentralisasi antara lain :
1) Desentralisasi membebaskan manajemen puncak untuk fokus pada
keputusan strategis jangka panjang.
2) Desentralisasi memungkinkan organisasi untuk dapat merespon
secara efektif akan masalah yang ada berdasarkan informasi yang
paling baik.
3) Desentralisasi mampu menangani semua informasi rumit yang
diperlukan untuk membuat keputusan optimal.
4) Desentralisasi menyediakan dasar pelatihan yang baik bagi
manajemen puncak di masa depan.
5) Desentralisasi memenuhi kebutuhan

akan

otonomi

sehingga

merupakan suatu alasan motivasional yang kuat bagi manajer.


F. Dasar Motivasional Organisasi
Kompleksitas masalah motivasional dalam realitas organisasional terkait dengan
bagaimana organisasi mampu menarik orang-orang untuk masuk ke dalam organisasi,
menjaganya agar tetap berada dalam sistem, memastikan reliabilitas kinerja sistem, dan
menambahkan stimulasi sebagai fasilitas dalam pencapaian tujuan organisasi. Anggota
yang memadai harus dijaga pada periode minimum untuk tetap berada dalam sistem
supaya sistem dapat bekerja secara optimum. Penentuan peranan anggota dilakukan
secara jelas oleh pempinan dengan protokol yang benar untuk memenuhi kualitas
kinerja minimum. Tindakan yang bersifat inovatif dan spontan sangat dibutuhkan oleh
organisasi untuk menjaga kinerja tetap berada dalam koridor yang tetap meskipun
melenceng dari perencanaan awal. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antar
divisi atau bagian dalam organisasi supaya kondisi optimum dalam mencapai tujuan
tetap terjaga. Mendorong anggota untuk memberikan saran kreatif bagi perbaikan
perusahaan akan menciptakan kondisi organisasi yang lebih efektif dalam menghadapi
permasalahan yang muncul. Menciptakan iklim atau suasana yang kondusif bagi
masayrakat yang ada disekitar lingkungan organisasi akan dapat memecahkan masalah

terkait dengan tanggung jawab sosial, sehingga hal ini akan berdampak positif bagi
image organisasi di mata masyrakat.
G. Tipe Pola Motivasional
Kesesuaian membenuk suatu dasar motivasional yang signifikan bagi tipe perilaku
organisasional tertentu. Ketika orang-orang masuk ke sebuah sistem, maka mereka
harus mematuhi aturan yang sah. Sebagai balas jasa atas keanggotaan suau individu
pada organisasi, imbalan sistem instrumental telah dipersiapkan untuk setiap anggota
yang masuk dalam sistem. Hal ini akan menimbulkan kepuasan anggota baik dari segi
pekerjaan maupun balas jasa yang diterima untuk mendorongnya berekspresi dalam
mencapai tujuan organisasi.
H. Konsekuensi dan Syarat Pola Motivasional
Dampak utama kepatuhan terhadap aturan sah organisasi adalah muncul kinerja
peran yang andal. Supaya lebih efektif ada tigal hal yang perlu diperhitungkan, yaitu :
(1) Ketepatan dan relevansi
Aturan sah dijalankan oleh anggota hanya ketika berada di lingkungan
organisasi. Sehingga ketika anggota sudah berada diranah kehidupan
individu, aturan atau norma tersebut akan ditinggalkan karena tidak relevan.
(2) Kejelasan
Ketika terdapat interpretasi yang berbeda atas aturan yang berlaku akan
menyebabkan munculnya keraguan anggota untuk menaatinya serta muncul
konflik dalam diri organisasi tersebut. Untuk itu kejelasan dan tidak
bermakna gandanya suatu aturan akan menyebabkan motivasi anggota akan
lebih menyatu dalam satu unit dan tidak ada perbedaan penafsiran yang
berbeda.
(3) Penegakan
Hukuman bagi pelanggar aturan sangat dibutuhkan organisasi untuk menjaga
anggotanya tetap bekerja sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Selain itu, imbalan sistem akan membuat efektif anggota dalam bekerja. Motivasi
dalam bentuk upah, gaji atau tunjangan dirasa lebih bijak karena hal itu akan
disesuaikan dengan kinerja dan senioritas. Terlebih lagi, orang akan merasa adil jika
dalam satu kelompok tunjangannya sama.
Referensi :
Lubis, Arfan Ikhsan. 2014. Akuntansi Keperilakuan. Jakarta:Salemba Empat