Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama
: Tn. D
Umur
: 37 tahun
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Suku/Bangsa
: Bugis/Indonesia
RM
: 159612
Agama
: Islam
Pekerjaan
: Tentara
Alamat
: Kodam 3/D7/5
Tgl. Pemeriksaan : 25 Februari 2016
Rumah Sakit
: Poliklinik Mata RSUD Kota Makassar
Dokter Pemeriksa : dr. M
ANAMNESIS
Keluhan Utama: Mata kanan merah
Anamnesis Terpimpin:
Dialami sejak 4 hari yang lalu, awalnya terasa gatal kemudian memerah.
Pasien juga mengeluh sangat silau jika melihat cahaya. Rasa mengganjal (+),
nyeri (+), air mata berlebih (+), riwayat mata berpasir (+), kotoran mata berlebih
(-), kelilipan (+). Pasien juga mengeluh kurang jelas melihat pada mata kanan.
Riwayat menggunakan kacamata (-). Riwayat trauma (-). Riwayat
pengobatan dengan oxytetracyclin salep mata tapi tak ada perbaikan.
Riwayat Penyakit Dahulu:
a Umum:
- Hipertensi (-)
- Diabetes Mellitus (-)
- Alergi (-)
b

Mata
- Riwayat sakit mata sebelumnya (-)
- Riwayat operasi mata (-)
- Riwayat trauma mata sebelumnya (-)

Riwayat Penyakit Keluarga:


-

Hipertensi (+)
Diabetes Melitus (-)

PEMERIKSAAN FISIK

STATUS GENERALIS
Keadaan umum
: tampak sakit ringan
Kesadaran
: Compos Mentis
Tekanan darah
: 110/70 mmHg
Pernapasan
: 20 x/menit
Suhu
: 36,2C
Nadi
: 82 x/menit
Kepala
: Normocephali
Mulut
: Bibir lembap, mukosa mulut lembap
THT
: Tidak ada deviasi septum nasi, MAE lapang, faring
tidak hiperemis. Tonsil T3- T4, tenang, uvula di
tengah
: Simetris, Retraksi (-)
: BJ I-II Reguler ,Murni, Murmur (-) Gallop (-)
: SN vesikuler Rh -/- Wh -/: Datar, Simetris , Nyeri tekan (-) , Bising usus

Thoraks
Jantung
Paru
Abdomen

normal.
: Tidak ada kelainan deformitas, pustule (-) vesikel

Ekstremitas

(-), edema -/STATUS OPHTALMOLOGIS


OD

OS

Infiltrat
KETERANGAN
1 VISUS
Visus
Koreksi
Addisi
Distansi pupil
Kacamata Lama
2

OD
20/50
-

OS
20/25
-

KEDUDUKAN BOLA MATA

Eksoftalmos
Enoftalmos

Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada

Deviasi
Gerakan Bola Mata
3

Tidak ada
Normal ke semua arah

Tidak ada
Normal ke semua arah

PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR

Edema
Tidak ada
Nyeri tekan
Tidak ada
Ektropion
Tidak ada
Entropion
Tidak ada
Blefarospasme
Tidak ada
Trikiasis
Tidak ada
Sikatriks
Tidak ada
Ptosis
Tidak ada
4 KONJUNGTIVA SUPERIOR DAN INFERIOR

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Hiperemis
Krepitasi
Folikel
Papil
Sikatriks
Hordeolum
Kalazion
Korpus alienum

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

KONJUNGTIVA BULBI

Sekret
Injeksi Konjungtiva
Injeksi Siliar
Pendarahan Subkonjungtiva
Pterigium
Pinguekula
Nevus Pigmentosus
Kista Dermoid
6

Tidak ada
Ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

SKLERA

Warna
Ikterik
7

Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Putih
Tidak Ada

Putih
Tidak ada

KORNEA

Kejernihan
Permukaan
Ukuran
Sensibilitas
Infiltrat
Keratik Presipitat
Sikatriks
Ulkus
Perforasi
Arcus senilis
Edema
8

Jernih
Rata
11 mm
Refleks Kornea (-)
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Jernih
Rata
11 mm
Baik
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

BILIK MATA DEPAN

Kedalaman
Kejernihan
Hifema
Hipopion

Sedang
Jernih
Tidak ada
Tidak ada

Sedang
Jernih
Tidak ada
Tidak ada

Warna

Coklat

Coklat

Kripte

Jelas

Jelas

Sinekia

Tidak ada

Tidak ada

Koloboma

Tidak ada

Tidak ada

IRIS

10 PUPIL
Letak
Bentuk
Ukuran
Refleks Cahaya Langsung
Refleks Cahaya Tak Langsung

Di tengah
Bulat
3 mm
+
+

Di tengah
Bulat
3 mm
+
+

11 LENSA
Kejernihan
Letak

Jernih
Di tengah

Jernih
Di tengah

Shadow test

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Jernih

Jernih

Tegas
Orange
2:3
0.4
+
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tegas
Orange
2:3
0.4
+
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Normal/palpasi
-

ada
Tidak ada
Normal/palpasi
-

12 BADAN KACA
Kejernihan
13 FUNDUS OKULI
Batas
Warna
Ekskavasio
Rasio Arteri :Vena
C/D Ratio
Reflex Makula
Eksudat
Perdarahan
Sikatriks
Ablasio
14 PALPASI
Nyeri Tekan
Massa Tumor
Tensi Okuli
Tonometri Schiotz
PEMERIKSAAN PENUNJANG
-

Slitlamp
Uji fluoresein

RESUME
Seorang laki-laki berumur 37 tahun datang ke poliklinik mata RSUD Kota
Makassar dengan keluhan mata kanan merah. Dialami sejak 4 hari yang lalu.
Terasa gatal kemudian memerah. Pasien juga mengeluh sangat silau jika melihat
cahaya. Rasa mengganjal (+), nyeri (+), air mata berlebih (+), riwayat mata
berpasir (+), kotoran mata berlebih (-), kelilipan (+). Pasien juga mengeluh kurang
jelas melihat pada mata kanan.

Riwayat HT (-). Riwayat DM tidak diketahui. Riwayat menggunakan


kacamata (-). Riwayat trauma (-). Riwayat pengobatan dengan oxytetracyclin
salep mata tapi tak ada perbaikan.
Pada pemeriksaan visus didapatkanVOD : 20/50 VOS : 20/25
SLOD : Konjungtiva hiperemis (+), injeksi perikornea (+), injeksi konjungtiva
(+), kornea ada infiltrat, edema (+), BMD dalam, detail lain sulit dievaluasi.
DIAGNOSIS
OD Keratitis Pungtata
DD/ Ulkus kornea
Uveitis
Konjungtivitis
TERAPI

Terapi topikal
Vigamox ED 6 x 1 gtt OD

Terapi oral
Na. diklofenak 2 x 50 mg

PROGNOSIS
1.Quo ad vitam
2.Quo ad sanationem
3.Quo ad visam

: bonam
: bonam
: bonam

4.Quo ad kosmeticum

: bonam

DISKUSI
Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi radang pada
kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh. Keratitis biasanya
diklasifikasikan dalam lapis yang terkena seperti keratitis superfisial dan profunda
atau interstisial. Akibat terjadinya kekeruhan pada media kornea ini, maka tajam
penglihatan akan menurun. Mata akan merah yang terjadi akibat injeksi pembuluh

darah perikorneal yang dalam atau injeksi siliar. Gejala yang ditimbulkan berupa
fotofobia, lakrimasi, dan blefarospasme yang dikenal dengan trias keratitis.
Keratitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus selain itu dapat juga
disebabkan faktor lain seperti mata kering, keracunan obat, alergi, idiopatik
ataupun radiasi sinar ultraviolet. Komplikasi dari keratitis dapat menyebabkan
sikatriks keratitis (berupa nebula, makula ataupun leukoma), iridosiklitis, dan
descematokele.
Keratitis dapat di diagnosis banding dengan konjungtivitis, iridosiklitis,
uveitis dan ulkus kornea. Pada konjungtivitis terdapat gejala berupa mata merah,
bengkak, sakit, panas, gatal serta ada sekret, perbedaannya adalah pada
konjungtivitis tidak terdapat infiltrat seperti pada keratitis.
Ulkus kornea juga dapat di diagnosis banding dengan keratitis yaitu
dengan tes fluoresens. Dimana akan memberikan hasil positif pada ulkus kornea
dengan adanya defek pada semua lapisan kornea.
Iridosiklitis merupakan peradangan iris dan badan siliar yang dapat
berjalan akut ataupun kronis. Pada iridosiklitis mata merah, visus juga berkurang,
iris keruh, warna kabur, kecoklatan, serta pupil miosis.
Pasien ini didiagnosa dengan keratitis pungtata berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisis. Dari anamnesis didapatkan keluhan berupa mata merah dengan
penurunan visus, mata merah tersebut merupakan tanda adanya sebuah proses
inflamasi di mata dan gejala penurunan visus disebabkan oleh karena kornea
merupakan salah satu media refrakta, sehingga jika terdapat kekeruhan pada
kornea maka akan memberikan gejala berupa penurunan visus disebabkan oleh
karena adanya defek pada kornea sehingga menghalangi refleksi cahaya yang
masuk ke media refrakta. Pasien juga mengeluhkan kadang-kadang mata terasa
nyeri, berair dan sering silau jika melihat cahaya, Gejala nyeri terjadi oleh karena
kornea memiliki banyak serabut saraf yang tidak bermielin sehingga setiap lesi
pada kornea baik luar maupun dalam akan memberikan rasa sakit dan rasa sakit
ini diperhebat oleh adanya gesekan palpebra pada kornea. Dari pemeriksaan fisik,
pada inspeksi didapatkan berupa kemerahan pada konjungtiva dan lakrimasi

berlebihan. Gejala belfarospasme, fotofobia dan lakrimasi tersebut dikenal dengan


nama trias keratitis.
Pada pemeriksaan fisis didapatkan :

Pemeriksaan visus:

VOD : 20/50

VOS : 20/25
SLOD : Konjungtiva hiperemis (+), injeksi perikornea (+), injeksi
konjungtiva (+), di kornea ada infiltrat, edema (+), BMD dalam, detail lain
sulit dievaluasi.
Keratitis merupakan infeksi pada kornea yang bisa disebabkan oleh
bakteri, virus, jamur atau penyebab lainnya. Injeksi konjungtiva dapat terjadi
akibat pengaruh infeksi jaringan konjungtiva. Injeksi perikornea atau injeksi siliar
dapat terjadi akibat radang pada kornea, pada kasusnya ini akibat adanya
keratitsis.
Hasil pemeriksaan diatas mendukung untuk didiagnosis sebagai suatu
keratitis. Pada penatalaksanaan diberikan farmakoterapi berupa obat topikal
maupun oral. Obat topikal berupa obat tetes mata Vigamox

yang berisi

Moxifloxacin HCl dan Na. diklofenak sebagai obat anti inflamasi. Anjuran
pemeriksaan kultur dan sensitivitas serta KOH untuk membantu menegakkan
diagnosis mikroorganisme penyebab dari keratitis serta mengetahui resistensi
obatobat yang diberikan.

KERATITIS
I. PENDAHULUAN
Kornea adalah salah satu media refrakta sehingga manusia dapat melihat.
Seorang ahli mata dapat melihat struktur dalam mata karena kornea bersifat jernih
dan memiliki daya bias sebesar 43D. Kornea memiliki mekanisme protektif
terhadap lingkungan maupun paparan patogen (virus, amuba, bakteri dan jamur).
Ketika patogen berhasil masuk dan membuat defek epitelial di kornea, maka
jaringan braditropik kornea akan merespon patogen spesifik dengan peradangan
pada kornea (keratitis).1
Keratitis merupakan peradangan pada kornea. Keratitis dapat terletak
superfisial maupun profunda. Keratitis superfisial tidak akan meninggalkan parut
ketika masa penyembuhan, sedangkan keratitis profunda dapat meninggalkan
parut yang mengganggu penglihatan ketika masa penyembuhan. Keratitis dapat

disebabkan oleh berbagai hal seperti infeksi, mata kering yang disebabkan oleh
gangguan kelopak mata atau kurangnya air mata, pajanan terhadap sinar yang
terlalu terang, reaksi alergi terhadap iritan, dan defisiensi vitamin A. Keratitis
dapat terjadi pada dewasa maupun anak. Mata yang kering dapat menurunkan
mekanisme pertahanan kornea sehingga mengakibatkan keratitis. Gejala dan tanda
keratitis diantaranya ialah mata merah, hiperlakrimasi, nyeri, penurunan visus,
serta fotofobia.
Keratitis akan memberikan gejala seperti rasa nyeri, fotofobia, dan adanya
secret yang purulen yang biasa terdapat pada keratitis herpetika. Penyebab
keratitis 90% disebabkan oleh bakteri, jenis bakteri seperti Staphylococcus aureus,
Staphylococcus epidermidis, Stapylococcus aeroginosa, dan Moarxella. Penyebab
lain bisa karena virus, jamur, dan mikro organisme lainnya.1

II. ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA


II. 1. Anatomi Kornea

Gambar 1. Anatomi kornea

10

Kornea merupakan jaringan yang avaskular, bersifat transparan, berukuran


11-12 mm horizontal dan 10-11 mm vertikal, serta memiliki indeks refraksi 1,37.
Kornea memberikan kontribusi 74 % atau setara dengan 43,25 dioptri (D) dari
total 58,60 kekuatan dioptri mata manusia. Kornea juga merupakan sumber
astigmatisme pada sistem optik. Dalam nutrisinya, kornea bergantung pada difusi
glukosa dari aqueus humor dan oksigen yang berdifusi melalui lapisan air mata.
Sebagai tambahan, kornea perifer disuplai oksigen dari sirkulasi limbus. Kornea
adalah salah satu organ tubuh yang memiliki densitas ujung-ujung saraf terbanyak
dan sensitifitasnya adalah 100 kali jika dibandingkan dengan konjungtiva. Kornea
dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus,
saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus yang berjalan suprakoroid, masuk
ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepas selubung
Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan.
Sensasi dingin oleh Bulbus Krause ditemukan pada daerah limbus 3
Kornea dalam bahasa latin cornum artinya seperti tanduk, merupakan
selaput bening mata, bagian dari mata yang bersifat tembus cahaya, merupakan
lapis dari jaringan yang menutup bola mata sebelah depan, dari anterior ke
posterior, kornea mempunyai lima lapisan yang terdiri atas: 4,5
1.

Epitel
-

Tebalnya 50 um, terdiri atas lim lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling
tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal, dan sel gepeng

Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke
depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel
gepeng. Sel basal berkaitan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel
polygonal di depannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini
menghambat pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang merupakan
barrier.

Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya.


Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.

Epitel berasal dari ectoderm permukaan

11

2.

Membrana Bowman
-

Terletak di bawah membrane basal epitel kornea yang merupakan kolagen


yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan
stroma

3.

Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi

Stroma
-

Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu
dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di
bagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat
kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan.
keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak
di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar
dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.

4.

Membrana Descemet
-

Membrane aselular;merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan


sel endotel dan merupakan membran basalnya.

5.

Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, tebal 40 um.

Endotel
-

Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, tebal 20-40 um.
Endotel melekat pada membrane descemett melalui hemidesmosom dan
zonula okluden.

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar
longus, saraf nasosiliar, saraf V saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke
dalam stroma kornea, menembus membrana Bowman melepaskan selubung
Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan
tanpa ada akhir saraf.Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah
limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam
waktu 3 bulan. Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan
system pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi
edema kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi.1

12

Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola
mata di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, di mana 40
dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea.
Transparansi kornea disebabkan oleh strukturnya yang seragam, avaskularitasnya,
dan deturgensinya.1
II.2 fisiologi kornea
Fungsi utama kornea adalah sebagai membrane protektif dan sebuah
jendela yang dilalui cahaya untuk mencapai retina. Transparansi kornea
dimungkinkan oleh sifatnya yang avaskuler, memiliki struktur yang uniform yang
sifat deturgescencenya. Transparansi stroma dibentuk oleh pengaturan fisis special
dari komponen-komponen fibril. Walaupun indeks refraksi dari masing-masing
fibril kolagen berbeda dari substansi infibrilar, diameter yang kecil (300 A) dari
fibril dan jarak yang kecil diantara mereka (300 A) mengakibatkan pemisahan dan
regularitas yang menyebabkan sedikit pembiasan cahaya dibandingkan dengan
inhomogenitas optikalnya. Sifat deturgescence di jaga dengan pompa bikarbonat
aktif dari endotel dan fungsi barbier dari epitel dan endotel. Kornea di jaga agar
tetap berada pada keadaan basah dengan kada air sebanyak 78%.6,7
Peran kornea dalam proses refraksi cahaya bagi penglihatan seseorang
sangatlah penting. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 43,25
dioptri dari total 58,6 kekuatan dioptri mata normal manusia, atau sekitar 74%
dari seluruh kekuatan dioptri mata normal. Hal ini mengakibatkan gangguan pada
kornea dapat memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam fungsi fisus
seseorang.8
Kornea merupakan struktur vital dari mata dan oleh karenanya kornea
sangat lah sensitif. Saraf saraf kornea masuk dari stroma kornea melalui
membrana bowman dan berakhir secara bebas diantara sel sel epithelial serta
tidak memiliki selebung myelin lagi sekitar 2 3 mm dari limbus ke sentral
kornea, sehingga menyebabkan sensitifitas yang tinggi pada kornea.7

13

Kornea menerima suplai sensoris dari bagian oftalmik nervus trigeminus.


Sensasi taktil yang terkecil pun dapat menyebabkan refleks penutupan mata.
Setiap

kerusakan

keratokonjungtivitis

pada

kornea

ultraviolet)

(erosi,

penetrasi

mengekspose

ujung

benda
saraf

asing

atau

sensorik

dan

menyebabkan nyeri yang intens disertai dengan refleks lakrimasi dan penutupan
bola mata involunter. Trias yang terdiri atas penutupan mata involunter
(blepharospasme), refleks lakrimasi (epiphora) dan nyeri selalu mengarahkan
kepada kemungkinan adanya cedera kornea.9
Seperti halnya lensa, sklera dan badan vitreous, kornea merupakan struktur
jaringan

yang

bradittrofik,

metabolismenya

lambat

dimana

ini

berarti

penyembuhannya juga lambat. Metabolisme kornea (asam amino dan glukosa)


diperoleh dari 3 sumber, yaitu :9

Difusi dari kapiler kapiler disekitarnya

Difusi dari humor aquous

Difusi dari film air mata


Tiga lapisan film air mata prekornea memastikan bahwa kornea tetap

lembut dan membantu nutrisi kornea. Tanpa film air mata, permukaan epitel akan
kasar dan pasien akan melihat gambaran yang kabur. Enzim lisosom yang terdapat
pada film air mata juga melindungi mata dari infeksi.4
III. ETIOLOGI
Infeksi keratitis adalah kondisi yang berpotensi membutakan yang dapat
menyebabkan kehilangan penglihatan yang parah jika tidak diobati pada tahap
awal. Jika pengobatan antimikroba yang tepat tertunda, hanya 50% dari mata
memperoleh pemulihan visual yang baik. Hal ini dapat disebabkan oleh bakteri,
virus, jamur, protozoa, dan parasit. Faktor risiko umum untuk infeksi keratitis
meliputi trauma okular, memakai lensa kontak, riwayat operasi mata sebelumnya,
mata kering, gangguan sensasional kornea, penggunaan kronis steroid topikal, dan
imunosupresi sistemik. Patogen umum termasuk Staphylococcus aureus,

14

koagulase-negatif Staphylococcus, Pseudomonas aeruginosa, Streptococcus


pneumonia, dan spesies Serratia. Mayoritas kasus yang ditemukan di masyarakat
adalah keratitis bakteri yang teratasi dengan pengobatan empirik dan tidak
memerlukan kultur bakteri. Apusan kornea untuk kultur dan tes sensitivitas
diindikasikan untuk ulkus kornea dengan ukuran yang besar, berlokasi di sentral
kornea, mencapai daerah stroma.8
Penyebab keratitis 90% disebabkan oleh bakteri, jenis bakteri seperti
Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Stapylococcus aeroginosa,
dan Moraxella. 9
Keratitis herpes simpleks merupakan peradangan pada kornea yang
disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks tipe I maupun tipe II. Herpes
Simpleks Virus (HSV) merupakan virus DNA rantai ganda yang termasuk ke
dalam famili herpesviridae.3,7 Mengandung 3 komponen pembentuk utama.
Bagian inti yang mengandung DNA virus, membran sel dan casid. Tegument
terletak di antara kapsid dan selubung serta berbagai protein yang dikirim ke
dalam sel yang terinfeksi selama fusi.
Keratitis acanthamoeba juga bisa menimbulkan gambaran dendritik.
Infeksi mata Acanthamoeba pada pemakai lensa kontak yang jarang namun serius,
dan mereka sering memulai karena penanganan yang tidak tepat lensa dan
kebersihan yang buruk. Erosi kornea berulang dan keratitis vaksinasi juga
memiliki gambaran dendritik.
IV. PATOFISIOLOGI
Terdapat beberapa kondisi yang dapat sebagai predisposisi terjadinya
inflamasi pada kornea seperti blefaritis, perubahan pada barrier epitel kornea (dry
eyes), penggunaan lensa kontak, lagopthalmos, gangguan paralitik, trauma dan
penggunaan preparat imunosupresif topical maupun sistemik.9
Kornea mendapatkan pemaparan konstan dari mikroba dan pengaruh
lingkungan, oleh sebab itu untuk melindunginya kornea memiliki beberapa
mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan tersebut termasuk refleks

15

berkedip, fungsi antimikroba film air mata (lisosim), epitel hidrofobik yang
membentuk barrier terhadap difusi serta kemampuan epitel untuk beregenerasi
secara cepat dan lengkap.9
Epitel adalah merupakan barrier yang efisien terhadap masuknya
mikroorganisme ke dalam kornea. Pada saat epitel mengalami trauma, struma
yang avaskuler dan lapisan bowman menjadi mudah untuk mengalami infeksi
dengan organisme yang bervariasi, termasuk bakteri, amoeba dan jamur.
Sreptokokus pneumonia adalah merupakan pathogen kornea bacterial, pathogenpatogen yang lain membutuhkan inokulasi yang berat atau pada host yang
immunocompromised untuk dapat menghasilkan sebuah infeksi di kornea.7
Ketika pathogen telah menginvasi jaringan kornea melalui lesi kornea
superfisial, beberapa rantai kejadian tipikal akan terjadi, mulai dari Lesi pada
kornea yang selanjutnya agen patogen akan menginvasi dan mengkolonisasi pada
daerah struma kornea respon tubuh berupa pelepasan antibodi yang akan
menginfiltrasi lokasi invasi agen pathogen. Hasilnya, akan tampak gambaran
opasitas pada kornea dan titik invasi pathogen akan membuka lebih luas dan
memberikan gambaran infiltrasi kornea. Iritasi dari bilik mata depan dengan
hipopion (umumnya berupa pus yang akan berakumulasi pada lantai dari bilik
mata depan) dan selanjutnya agen pathogen akan menginvasi seluruh kornea.
Hasilnya stroma akan mengalamii atropi dan melekat pada membarana descement
yang relatif kuat dan akan menghasilkan descematocele yang dimana hanya
membarana descement yang intak. Ketika penyakit semakin progresif, perforasi
dari membrane descement terjadi dan humor aquos akan keluar. Hal ini disebut
ulkus kornea perforate dan merupakan indikasi bagi intervensi bedah secepatnya.
Pasien akan menunjukkan gejala penurunan visus progresef dan bola mata akan
menjadi lunak.7
V. GEJALA KLINIS
Pada anamnesis pasien, bisa didapatkan beberapa gejala klinis pada pasien
yang terkait dengan perjalan penyakit keratitis herpetika. Pasien dapat

16

mengeluhkan adanya pengeluaran air mata berlebihan, fotofobia, penurunan visus,


sensasi benda asing, iritasi okuler dan blefarosspasma dan kadang juga di temukan
hypopion pada kamera anterior.4
Oleh karena kornea bersifat sebagai jendela mata dan merefraksikan
cahaya, lesi kornea sering kali mengakibatkan penglihatan menjadi kabur,
terutama ketika lesinya berada dibagian central.7
Pada keratitis pungtata superfisial didapatkan lesi kornea berupa lesi
epithelia multiple sebanyak 1 50 lesi (rata rata sekitar 20 lesi didapatkan). Lesi
epithelia yang didapatkan pada keratitis pungtata superfisial berupa kumpulan
bintik bintik kelabu yang berbentuk oval atau bulat dan cenderung berakumulasi
di daerah pupil. Opasitas pada kornea tersebut tidak tampak apabila di inspeksi
secara langsung, tetapi dapat dilihat dengan slitlamp ataupun loup setelah diberi
flouresent.7
Sensitifitas kornea umumnya normal atau hanya sedikit berkurang, tapi
tidak pernah menghilang sama sekali seperti pada keratitis herpes simpleks.
Walaupun umumnya respons konjungtiva tidak tampak pada pasien akan tetapi
reaksi minimal seperti injeksi konjungtiva bulbar dapat dilihat pada pasien.6
VI. KLASIFIKASI
Keratitis menurut lokasinya dapat dibagi menjadi:
1

Keratitis superfisial
Keratitis superfisial mengenai bagian epitel dan subepitel kornea. Keratitis
ini

dapatberbentuk

pungtata,

numular,

dendritik,geografik

dan

disciform.Bentuk-bentuk ini khas untuk menentukan etiologinya. Biasanya


tidak
2

meninggalkan parut.

Keratitis stroma
Keratitis ini mengenai lapisan stroma dan biasanya berbentuk disciform.

Keratitis profunda
Keratitis profunda mengenai stroma lapisan dalam dan endotel kornea dan
mempunyai bentuk yang tidak khas. Disfungsi endotel akan menyebabkan
munculnya edema kornea. Biasanya meninggalkan parut.

17

18

Keratitis dapat juga dibagi berdasar mikroorganisme penyebab infeksinya, bentuk


lesi, maupun etiologi lainnya. Di bawah ini adalah jenis-jenis keratitis berdasarkan
pembagian tersebut.
1. Keratitis Pungtata
Keratitis pungtata (KP) ialah keratitis yang terkumpul di daerah
membran Bowman, dengan infiltrat berbentuk bercak-bercak halus. KP dapat
disebabkan oleh moluskum kontangiosum, akne rosasea, herpes simpleks,
herpes zoster, blefaritis neuroparalitik, infeksi virus lainnya, traukoma, serta
trauma radiasi. KP biasanya terdapat bilateral dan berjalan kronis tanpa
terlihat gejala kelainan konjungtiva, ataupun tanda akut, yang sering terjadi
pada dewasa muda.

2. Keratitis Marginal
Keratitis marginal merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea
sejajar dengan limbus. Dapat disebabkan oleh penyakit infeksi lokal
konjungtiva, bersifat rekuren, biasanya terdapat pada pasien paruh baya
dengan

blefarokonjungtivitis.

Bila

tidak

diobati

dengan

baik

akan

mengakibatkan tukak kornea. Penderita akan mengeluh sakit, seperti kelilipan,


lakrimasi, disertai fotofobia berat. Pada mata akan terlihat blefarospasme pada
satu mata, injeksi konjungtiva, infiltrat atau ulkus yang memanjang, dangkal
unilateral dapat tunggal atau multipel, sering disertai neovaskularisasai dari
limbus. Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika sesuai penyebabnya dan
steroid dosis ringan.

19

3. Keratitis Interstisial
Keratitis yang ditemukan pada jaringan kornea yang lebih dalam.
Keratitis interstisial (KI) dapat terjadi akibat alergi atau infeksi spiroket ke
dalam stroma kornea, dan tuberkulosis. Pada keratitis interstisial akibat lues
kongenital didapatkan neovaskularisasi dalam, yang terlihat pada usia 5-20
tahun pada 80% pasien lues. KI merupakan keratitis nonsupuratif profunda
disertai dengan neovaskularisasi. Biasanya akan memberikan keluhan
fotofobia, lakrimasi, dan penurunan visus. Pada keratitis intertisial maka
keluhan bertahan seumur hidup.
Seluruh kornea keruh sehingga iris sukar dilihat, permukaan kornea
seperti permukaan kaca. Terdapat injeksi siliar disertai serbukan pembuluh ke
dalam sehingga memberikan gambaran merah kusam atau disebut juga
salmon patch dari Hutchinson. Seluruh kornea dapat berbentuk merah cerah.
Kelainan ini biasanya bilateral. Pengobatan tergantung penyebabnya. Pada
keratitis diberikan tetes mata sulfas atropin untuk mencegah sinekia akibat
terjadinya uveitis dan tetes mata kortikosteroid. Keratitis profunda dapat juga
terjadi akibat trauma sehingga mata terpajan pada kornea dengan daya tahan
rendah.

20

Keratitis Bakterial
Keratitis bakterial adalah suatu infeksi yang mengancam penglihatan,

bersifat progresif, serta terjadi destruksi kornea secara keseluruhan dalam 2448 jam pada jenis bakteri yang virulen. Ulkus kornea, pembentukan abses
stromal, edema kornea, dan peradangan segmen anterior merupakan
karakteristik dari penyakit ini.
Patofsiologi pada keratitis bakterial
Gangguan pada epitel kornea yang utuh, penyakit kelopak mata
kronik, trauma pemakaian kontak lensa dan abnormal tear film dapat
mengakibatkan masuknya mikroorganisme ke dalam stroma kornea, dimana
proliferasi serta pelepasan toksin dan enzim bakteri dapat mengakibatkan
destruksi dari kornea dan terbentuk ulkus. Proses infeksi dipengaruhi oleh
faktor virulensi dari bakteri. Pada fase awal, epitel dan stroma daerah yang
terinfeksi membengkak dan nekrosis, sel inflamasi akut (umumnya PMN)
mengelilingi area yang terinfeksi dan menyebabkan terbentuknya infiltrat.
Nekrosis dan penipisan dari kornea dapat menyebabkan parut kornea.
Penipisan yang berat dapat menyebabkan perforasi dan mengakibatkan
terjadinya endoftalmitis. Difusi dari produk peradangan (termasuk sitokin)
posterior merangsang sel inflamasi menuju bilik mata depan dan dapat
mengakibatkan hipopion.
Hal-hal yang dapat menyebabkan kerusakan epitel antara lain:
1

Pemakaian kontak lensa berlebihan

Kontaminasi solutio kontak lensa atau pengobatan tetes mata

21

Penurunan status imunologis sebagai akibat dari malnutrisi, alkohol, dan


diabetes

Penyakit permukaan okular yang terjadi apabila mekanisme pertahanan


tubuh melemah seperti pada keadaan penyakit kornea pasca herpes,
trauma, keratopati bulosa, pajanan kornea, mata kering, dan kehilangan
sensasi pada kornea

Defisiensi air mata

Malposisi dari kelopak mata yaitu entropion dengan trikiasis dan


lagoftalmus

Pemakaian steroid topikal

Organisme penyebab
Organisme

patogen

penyebab

keratitis

bakteri

diantaranya

Streptococcus, Pseudomonas, Enterobacteriaceae (termasuk Klebsiella,


Enterobacter, Serratia, dan Proteus), dan Staphylococcus sp.
Gejala klinis
Pasien dengan keratitis bakteri pada umumnya bersifat unilateral,
nyeri, fotofobia, hiperlakrimasi, dan terdapat penurunan fungsi penglihatan.
Anamnesis yang perlu dilakukan diantaranya riwayat pemakaian kontak lensa,
trauma, penurunan status imunologis, defisiensi air mata, penyakit kornea, dan
malposisi kelopak mata. Dapat ditemukan infiltrat stromal dan sekret kental
mukopurulen. Kornea edem, injeksi konjungtiva, dan pada kasus yang berat
dapat ditemukan hipopion. Tekanan intraokular dapat turun disebabkan
hipotonus badan siliar. Namun, pada umumnya tekanan intraokular meningkat
akibat sumbatan dari trabecular meshwork oleh sel peradangan. Kelopak mata
juga dapat edema.
Beberapa jenis bakteri memiliki respon kornea yang khas yaitu :
1

S. aureus dan S. pneumoniae pada umumnya memberikan gambaran oval,


kuning-putih, supurasi stroma yang padat dan opak dikelilingi kornea yang
jernih, serta menyebar dari fokus infeksi ke tengah kornea. Pada umumnya

22

muncul 24-48 jam setelah inokulasi pada kornea. Hipopion dapat terjadi.
Pada pemeriksaan Gram akan ditemukan diplokokus Gram positif.
2

Pseudomonas sp umumnya menghasilkan eksudat mukopurulen, nekrosis


liquefaktif yang difus, dan semi-opak ground-glass pada penampakan
stroma. Infeksi berkembang dengan cepat karena enzim proteolitik yang
diproduksi oleh Pseudomonas. Terasa nyeri, dan perforasi kornea dapat
terjadi dalam 48 jam. Pada pemeriksaan Gram akan ditemukan bakteri
batang Gram negatif

Enterobacteriaceae biasanya menyebabkan ulserasi dangkal, supurasi


pleomorfik abu-abu-putih dan diffuse stromal opalescence. Endotoksin
yang dihasilkan bakteri Gram-negatif dapat memberikan gambaran
infiltrat ring cornea.
Pada pemeriksaan oftalmologis dapat ditemukan ulserasi epitel,
infiltrat kornea tanpa kehilangan jaringan, peradangan supuratif stroma
dan padat, kehilangan jaringan stroma, dan edema stroma. Dapat juga
ditemukan peningkatan reaksi bilik mata depan dengan atau tanpa
hipopion, lipatan pada membran descemet, edema kelopak mata, sinekia
posterior, peradangan kornea fokal maupun difus, hiperemis konjungtiva,
dan eksudat mukopurulen.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang dapat membantu penegakkan
diagnosis adalah kultur mikroorganisme dengan pengambilan spesimen
dari ulkus, menggunakan spatula platinum dan ditempatkan pada agar
darah dan agar coklat. Pewarnaan menggunakan Gram, Giemsa, dan
pewarnaan tahan asam atau akridin orange.
Terapi
Terapi dimulai dengan antibiotik spektrum luas sebab infeksi
polimikrobial sering terjadi. Pemilihan regimen pengobatan dapat
menggunakan terapi kombinasi, aminoglikosida (gentamisin 1,5%,
tobramisin 1,5%) 1 tetes/jam, cefazolin fortifikasi 1 tetes/jam pada jam

23

bangun selama lima hari, dan sefalosporin (cefuroxim 5%) atau


monoterapi dengan fluoroquinolon seperti ciprofloksasin 0,3% 2 tetes/15
menit selama 6 jam diteruskan 2 tetes/30 menit selama 18 jam dan
kemudian di tapp off sesuai respon pengobatan. Monoterapi kurang
adekuat pada infeksi Streptococcus. Kombinasi terapi menggunakan
fluorokuinolon dan cefuroxim dapat disarankan pada anak. Perbaikan
kondisi terjadi pada 48 jam berikutnya.
Perawatan di rumah sakit dapat dilakukan bila kepatuhan pasien
kurang atau dibutuhkan perawatan malam hari pada kasus sulit. Apabila
hasil yang didapatkan cukup baik maka antibiotik topikal dapat diberikan
setiap dua jam. Apabila perbaikan yang terjadi dapat dipertahankan maka
tetes mata dapat diganti yang lebih rendah kadarnya atau dihentikan.
Pemberian tetes mata yang terlalu sering terutama aminoglikosida dapat
mengakibatkan keracunan konjungtiva dan kornea serta memperlambat
penyembuhan epitel. Ciprofloksasin dapat menyebabkan penumpukan
deposit kornea berwarna putih dan memperlambat penyembuhan.
Antibiotik diganti apabila organisme telah resisten dan infeksi bertambah
berat.
Siklopegik seperti atropin 1% dapat digunakan pada kedua mata
untuk mencegah sinekia posterior akibat uveitis anterior sekunder serta
mengurangi nyeri akibat spasme siliar. Kompres dingin dapat membantu
mengurangi peradangan.
Terapi steroid masih kontroversial, keuntungan penggunaan steroid
adalah mengurangi nekrosis pada stroma dan mengurangi parut yang
terjadi. Namun, steroid juga dapat memperpanjang infeksi. Terapi steroid
diindikasikan pada kultur yang steril dan terjadi perbaikan dengan
penggunaan steroid. Pada umumnya perbaikan terjadi 7-10 hari setelah
terapi dimulai

24

Keratitis viral
Gambaran keratitis pungtata dapat terjadi pada keratitis virus. Keratitis

terkumpul di daerah membran Bowman, serta bersifat bilateral dan kronis.


Keratitis Herpes Simplek
Keratitis herpes simplek terdiri atas dua bentuk : primer dan rekurens.
Infeksi okuler HSV pada pasien imunokompeten biasanya sembuh sendiri,
namun pada pasien imunokompromais perjalanan penyakitnya dapat
menahun. Infeksi virus aktif dapat timbul di dalam stroma, sel-sel endotel, dan
segmen anterior. Sebagian besar infeksi HSV pada kornea disebabkan HSV
tipe 1 (penyebab herpes labialis), tetapi beberapa kasus pada bayi dan dewasa
disebabkan HSV tipe 2. Lesi kornea kedua jenis ini tidak dapat dibedakan.
Kerokan dari lesi epitel dan cairan dari lesi kulit menunjukkan sel-sel raksasa
multinuklear.
Herpes simplek primer jarang ditemukan, bermanifestasi sebagai
blefarokonjungtivitis vesikuler, kadang kornea, dan umumnya pada anak
muda. Umumnya sembuh sendiri tanpa menimbulkan kerusakan yang berarti.
Serangan keratitis herpes jenis rekurens umumnya dipicu oleh demam,
pajanan berlebihan terhadap cahaya ultraviolet, trauma, stres psikis, awal
menstruasi, atau sumber imunosupresi lokal atau sistemik lain. Biasanya
unilateral dan sering terjadi pada pasien atopik.
Herpes simpleks terbagi dalam 2 bentuk yaitu epitelial dan stromal
berdasarkan mekanisme kerusakannya. Bentuk epitelial yang murni ialah
dendritik, dan stromal adalah diskiformis. Biasanya infeksi herpes simpleks
berupa campuran epitel dan stroma. Pada bentuk epitelial kerusakan terjadi
akibat pembelahan virus di dalam sel epitel sehingga terjadi kerusakan sel dan
terbentuk tukak kornea superfisial yang biasanya menetap lebih dari 1 tahun.
Sedangkan bentuk stromal diakibatkan reaksi imunologik tubuh terhadap virus
tetapi kemungkinan adanya penyakit virus aktif tidak dapat disingkirkan, dan dapat
sembuh sendiri setelah beberapa minggu sampai bulan. Antigen dan antibodi
bereaksi di dalam stroma kornea dan menarik sel leukosit dan sel radang lain.

25

Sel mengeluarkan bahan proteolitik untuk merusak antigen (virus) yang juga
akan merusak jaringan stromal di sekitarnya. Hal ini berkaitan dengan
pengobatan dimana pada bentuk epitelial dilakukan terhadap virus dan
pembelahannya, sedangkan pada keratitis stromal dilakukan pengobatan
menyerang virus dan reaksi radangnya.
Gejala pertama umumnya iritasi, fotofobia, lakrimasi, dan dapat terjadi
gangguan penglihatan. Karena anestesi kornea umumnya timbul pada awal
infeksi, gejala mungkin minimal. Ulserasi kornea kadang merupakan gejala
infeksi herpes rekuren. Lesi paling khas adalah ulkus dendritik, terdapat pada
epitel kornea, memiliki pola percabangan linear khas dengan tepian kabur,
memiliki bulbus-bulbus terminalis pada ujungnya. Ulserasi geografik adalah
penyakit dendritik menahun yang lesi dendritiknya berbentuk lebih lebar
dengan tepian ulkus tegas, serta sensasi kornea menurun. Pasien cenderung
kurang fotofobik daripada pasien dengan pasien infiltrat kornea non-herpetik.
Ulserasi umumnya jarang terjadi.
Terapi keratitis HSV bertujuan menghentikan replikasi virus di dalam
kornea dan memperkecil efek merusak respon radang.
1. Debridement: Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah debridement
epitelial, karena virus berlokasi di dalam epitel. Epitel terinfeksi mudah
dilepaskan. Debridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas khusus.
Obat sikloplegik seperti atropin 1% atau homatropin 5% diteteskan ke dalam
sakus konjungtiva, dan ditutup dengan sedikit tekanan. Pasien diperiksa setiap
hari dan diganti penutupnya sampai defek kornea sembuh, umumnya dalam 72
jam. Pengobatan tambahan dengan antivirus topikal mempercepat pemulihan
epitel. Terapi obat topikal tanpa debridement epitel pada keratitis epitel
memberi keuntungan karena tidak perlu ditutup, namun ada kemungkinan
pasien menghadapi keracunan obat.
2. Terapi obat: Agen anti-virus topikal yang dipakai pada keratitis herpes
adalah idoxuridine, trifluridine, vidarabine, dan acyclovir. Trifluridine dan
acyclovir efektif untuk penyakit stroma. Idoxuridine dan trifluridine sering

26

menimbulkan reaksi toksik. Acyclovir oral digunakan untuk penyakit herpes


mata berat. IDU merupakan obat antiviral yang murah, bersifat tidak stabil,
bekerja dengan menghambat sintesis DNA virus dan manusia sehingga
bersifat toksik untuk epitel normal dan tidak boleh dipergunakan lebih dari 2
minggu. Terdapat dalam larutan 1% dan diberikan setiap jam. Salep 0,5%
diberikan setiap 4 jam. Vidarabin sama dengan IDU, akan tetapi hanya
terdapat dalam bentuk salep. Trifluorotimidin (TFT) sama dengan IUD,
diberikan 1% setiap 4 jam. Acyclovir bersifat selektif terhadap sintesis DNA
virus. Dalam bentuk salep 3% yang diberikan setiap 4 jam. Sama efektif
dengan antivirus lain akan tetapi dengan efek samping yang minimal.
Replikasi virus dalam pasien imunokompeten umumnya sembuh
sendiri dan terjadi pembentukan parut minimal. Dalam hal ini penggunaan
kortikosteroid topikal tidak perlu, bahkan berpotensi sangat merusak. Sekali
dipakai kortikosteroid topikal, umumnya pasien terpaksa memakai obat itu
untuk mengendalikan episode keratitis berikutnya, dengan kemungkinan
terjadi virus yang tidak terkendali dan efek samping lain yang berhubungan
dengan steroid, seperti superinfeksi bakteri dan fungi, glaukoma, dan katarak.
Kortikosteroid topikal dapat pula mempermudah perlunakan kornea, yang
meningkatkan risiko perforasi kornea. Jika memang perlu pemakaian
kortikosteroid

topikal

karena

hebatnya

peradangan,

penting

sekali

ditambahkan obat antivirus secukupnya untuk mengendalikan replikasi virus.


3. Terapi bedah: Keratoplasti penetrans diindikasikan untuk rehabilitasi pada
parut kornea berat, namun hendaknya dilakukan beberapa bulan setelah
penyakit herpes non aktif. Pasca bedah, infeksi herpes rekurens dapat timbul
karena trauma bedah dan kortikosteroid topikal yang dipakai untuk mencegah
penolakan transplantasi kornea. Keratoplasti lamelar memiliki keuntungan
dibanding keratoplasti penetrans karena lebih kecil kemungkinan terjadi
penolakan transplant.
4. Pengendalian mekanisme pemicu: Aspirin dapat dipakai untuk mencegah
demam, pajanan berlebihan terhadap sinar matahari atau sinar ultraviolet dapat

27

dihindari, keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan stres psikis dapat


dikurangi.
Keratitis Virus Varicella-Zoster
Infeksi virus varicella-zoster (VZV) terjadi dalam 2 bentuk: primer
(varicella) dan rekurens (zoster). Manifestasi pada mata jarang terjadi pada
varicella akan tetapi sering pada zoster oftalmik. Pada varicella lesi mata
terdapat di kelopak dan tepian kelopak, jarang ada keratitis. Komplikasi
kornea pada zoster oftalmik diperkirakan timbul jika terdapat erupsi kulit di
daerah yang dipersarafi cabang nervus nasosiliaris. Biasanya herpes zoster
akan mengenai orang dengan usia lanjut.
Keratitis VZV mengenai stroma dan uvea anterior pada awalnya. Lesi
epitelnya keruh dan amorf. Kekeruhan stroma disebabkan oleh edema dan
sedikit infiltrat sel. Kehilangan sensasi kornea merupakan ciri mencolok dan
sering berlangsung berbulan-bulan setelah lesi kornea tampak sudah sembuh.
Uveitis yang timbul cenderung menetap. Skleritis dapat menjadi masalah berat
pada penyakit VZV mata.
Gejala yang terlihat pada mata adalah rasa sakit pada daerah yang
terkena dan badan berasa hangat. Penglihatan berkurang dan merah. Pada
kelopak akan terlihat vesikel serta pada kornea akan terlihat infiltrat. Vesikel
tersebar sesuai dengan dermatom yang dipersarafi saraf trigeminus dan dapat
progresif dengan terbentuknya jaringan parut. Daerah yang terkena tidak
melewati garis meridian.
Pengobatan biasanya tidak spesifik dan hanya simtomatik.
Acyclovir intravena dan oral telah dipakai dengan hasil baik untuk
mengobati herpes zoster oftalmik, khususnya pada pasien yang kekebalannya
terganggu. Dosis oralnya adalah 800 mg 5 kali sehari untuk 10-14 hari. Terapi
hendaknya dimulai 72 jam setelah timbulnya kemerahan (rash). Peran
antivirus topikal kurang meyakinkan. Kortikosteroid topikal mungkin
diperlukan untuk mengobati keratitis berat, uveitis, dan glaukoma sekunder.
Penggunaan kortikosteroid sistemik masih kontroversial. Terapi ini mungkin

28

diindikasikan untuk mengurangi insidens dan hebatnya neuralgia pasca


herpes, namun risiko komplikasi steroid cukup bermakna.
5

Keratitis fungal (Keratomikosis)


Biasanya diawali dengan kerusakan epitel kornea akibat ranting pohon,

daun, dan bagian dari tumbuhan. Jamur yang dapat mengakibatkan keratitis
ialah Fusarium, Candida, Cephalocepharium, dan Curvularia. Keratitis jamur
dapat terjadi akibat efek samping dari pemakaian antibiotik dan steroid yang
tidak tepat serta penyakit sistemik imunosupresif. Keratitis jamur sering
ditemukan di daerah pertanian, dengan didahului trauma kornea (umumnya
oleh kayu), dan terjadi pada individu sehat tanpa predisposisi penyakit mata.
Keluhan timbul setelah 5 hari-3 minggu setelah kejadian. Pasien akan
mengeluh sakit mata yang hebat, berair, dan silau. Pada awalnya akan terdapat
nyeri hebat, namun perlahan-lahan menghilang seiring dengan saraf kornea
yang rusak.
Pada mata akan terlihat infiltrat yang berhifa dan satelit bila terletak di
dalam stroma. Biasanya disertai dengan cincin endotel dengan plak tampak
bercabang-cabang dan lipatan membran descemet. Gejala khasnya adalah
ulkus putih-abu-abu tanpa batas yang jelas, lesi dikelilingi oleh infiltrat seperti
jari-jari. Keratitis kandida umumnya berkaitan dengan penyakit kornea kronik
atau imunokompromais. Didapatkan ulkus putih-kuning dengan supurasi padat
seperti keratitis bakteri.
Terdapat 2 tipe jamur yaitu molds dan ragi. Molds (filamen jamur)
terbagi atas septa (penyebab tersering keratitis jamur) dan non-septa. Mereka
menghasilkan koloni-koloni yang bergabung menjadi hifa. Ragi membentuk
pseudohifa. Penyebab tersering infeksi jamur adalah Fusarium, Aspergillus
(filamen jamur) dan Candida (ragi). Trauma organik adalah penyebab
tersering keratitis oleh jamur berfilamen, sedangkan imunosupresi atau
gangguan epitel kornea kronik umumnya menyebabkan keratitis jamur ragi.
Gangguan pertahanan kornea dapat menyebabkan infeksi Candida. Kolonisasi

29

fungi di stroma akan berlanjut menuju lapisan yang lebih dalam dan sulit
untuk mendapatkan spesimen untuk diagnostik dan tatalaksana.
Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan KOH 10% pada
kerokan kornea yang menunjukkan adanya hifa, dan kultur pada agar
saboroud. Diagnosis pada umumnya sulit ditegakkan dan sering terjadi
misdiagnosis dengan keratitis bakteri. Dokter dapat mempertimbangkan
diagnosis keratitis jamur apabila gejala memburuk dengan terapi antibiotik.
Tatalaksana keratitis jamur tidak mudah, hanya sebagian antijamur
yang bersifat fungistatik. Terapi antijamur membutuhkan sistem imunitas baik
dan waktu terapi cukup lama. Antijamur yang dapat digunakan adalah polyene
antibiotik (nistatin, amfoterisin B, natamisin); analog pirimidin (flusitosin);
imidazol

(klorteimazol,

mikonazol,

ketokonazol),

triazol

(flukonazol,

itrakonazol); dan perak sulfadiazin. Steroid dikontraindikasikan untuk keratitis


jamur. Untuk infeksi jamur filamen, natamisin adalah pilihan pertama.
Alternatif amfoterisin B dan flusitosin dapat digunakan untuk infeksi jamur
ragi. Pemilihan obat sesuai dengan patogen penyebab dapat dilihat pada tabel
1. Pemberian siklopegik disertai obat oral antiglaukoma diperlukan bila timbul
peningkatan tekanan intraokular. Bila tidak berhasil dapat dilakukan
keratoplasti. Penyulit yang terjadi adalah endoftalmitis.
6

Keratitis Acanthamoeba
Acanthamoeba adalah protozoa hidup-bebas yang terdapat di dalam air

tercemar yang mengandung bakteri dan materi organik. Infeksi kornea oleh
Acanthamoeba adalah komplikasi yang semakin dikenal pada pengguna soft
contact lens, khususnya bila memakai larutan garam buatan sendiri, berenang
di kolam renang, danau, atau air asin ketika menggunakan kontak lensa, dan
kurangnya higienis kontak lensa. Infeksi ini juga ditemukan pada bukan
pemakai lensa kontak, setelah terpapar pada air atau tanah tercemar.

30

Gejala awal adalah nyeri, kemerahan, dan fotofobia. Tanda klinik khas
adalah ulkus kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrat perineural. Keratitis
Acanthamoeba sering disalahdiagnosiskan sebagai keratitis herpes.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan kerokan dan biakan pada
media khusus. Biopsi kornea mungkin diperlukan. Sediaan histopatologik
menampakkan adanya bentuk amuba (kista atau trofozoit). Larutan dan kotak
lensa kontak harus dibiak. Sering bentuk amuba dapat ditemukan pada larutan
kotak penyimpan lensa kontak.
Terapi dengan obat umumnya dimulai dengan isetionate propamidine
topikal (larutan 1%) secara intensif dan tetes mata neomycin. Biquanide
polyhexamethylene (larutan 0,01-0,02%), dikombinasi dengan obat lain atau
sendiri, kini makin populer. Agen lain yang mungkin berguna adalah
paromomycin dan berbagai imidazole topikal dan oral seperti ketoconazole,
miconazole, dan itraconazole. Acanthamoeba spp mungkin menunjukkan
sensitivitas obat yang bervariasi dan dapat menjadi resisten. Kortikosteroid
topikal mungkin diperlukan untuk mengendalikan reaksi radang kornea.
Mungkin diperlukan keratoplasti pada penyakit yang telah lanjut atau
setelah resolusi dan terbentuknya parut untuk memulihkan penglihatan. Bila
amuba telah sampai di sklera maka terapi obat dan bedah tidak berguna lagi.
Tabel 1. Pilihan terapi medikamentosa sesuai organisme penyebab keratitis
Organisme
Pilihan pertama
Gram
positif Cefazolin
kokus

Pilihan kedua
Penisilin G

S.pneumoniae
Gram
positif Amikasin
batang

nocardia

sp,

actinomyses sp
Organisme gram Cefazolin
positif lain : kokus

Pilihan ketiga
Vancomisin atau
ceftazidim

Ciprofloksasin

Penisilin G

Vancomisin atau
ceftazidim

31

dan batang
Gram
negatif Ceftriakson
kokus
Gram

negatif Tobramisin

batang

gentamisin

Penisilin G

Cefazolin

atau

vancomisin
Polimiksin B atau

atau Ciprofloksasin

karbenisilin

pseudomonas
Gram
negatif Penisilin G

Gentamisin

Tobramisin

Seftazidim

Gentamisin

Amfoterisin B

karbenisilin
Nistatin,

batang

moraxella
Gram
negatif Tobramisin
batang lainnya
Yeast
like Natamisin
organism

candida sp
Hifa-like

mikonazol
Natamisin

organism = jamur
Kista, tropozoit = Propamidin
akantamuba

atau

Amfoterisin B
dan Propamidin

poliheksametilen

Mikonazol
atau Mikonazol

neomisisn

biguanid
7

Keratitis numularis
Keratitis dengan gambaran halo (infiltrat bundar berkelompok dengan

tepi berbatas tegas), sering ditemukan unilateral pada petani sawah.


8

Keratitis filamentosa
Keratitis yang disertai filamen mukoid, tidak diketahui penyebabnya

dan biasa menyertai penyakit lainnya seperti dry eyes syndrome, diabetes,
pasca bedah katarak, dan keracunan kornea oleh obat tertentu.
9

Keratitis alergi
Terdapat

keratokonjungtivitis

flikten

dan

keratitis

fasikularis.

Keratokonjungtivitis flikten merupakan radang pada konjungtiva dan kornea.


Terjadi karena reaksi imun pada jaringan yang sudah tersensitisasi oleh

32

antigen. Pada benjolan akan ditemukan adanya penimbunan sel limfoid dan
eosinofil. Pengobatan dilakukan dengan pemberian steroid. Keratitis
fasikularis merupakan keratitis dengan pembentukan pembuluh darah yang
menjalar dari limbus ke kornea. Jenis ini merupakan penampilan flikten yang
berjalan (wander phlycten) sambil membawa jalur pembuluh darah baru
sepanjang permukaan kornea.
10 Keratitis lagoftalmus
Keratitis akibat lagoftalmus sehingga terjadi kekeringan kornea.
Pengobatan dengan pemberian tetes air mata dan pencegahan infeksi sekunder.
11. Keratitis neuroparalitik
Keratitis akibat kelainan syaraf trigeminus sehingga kornea menjadi
anestesi dan kehilangn daya pertahanannya terhadap iritasi dari luar.
12. Keratokonus
Keratokonus merupakan penyakit degeneratif bilateral yang jarang.
Berkaitan dengan sindrom Down, dermatitis atopik, retinitis pigmentosa,
sindrom Marfan, dll. Terjadi perubahan pada membrana Bowman dengan
degenerasi keratosit, ruptur membran Descemet, dan parut linear superfisial
yang tidak teratur pada apeks konus yang terbentuk. Biasanya muncul mada
dekade kedua kehidupan. Tanda-tandanya meliputi keluhan pandangan kabur
dan kornea yang berbentuk konus.
VIII. DIAGNOSIS
Kecurigaan akan adanya keratitis pada pasien dapat timbul pada pasien
yang datang dengan trias keluhan keratitis yaitu gejala mata merah, rasa silau
(fotofobia) dan merasa kelilipan (blefarospasme). Adapun radang kornea ini
biasanya diklasifikasikan dalam lapisan kornea yang terkena, seperti keratitis

33

superfisial dan interstisial atau propunda. Keratitis superfisial termasuk lesi


inflamasi dari epitel kornea dan membrane bowman superfisial.6
Sangat penting untuk dilakukan penegakan diagnosis morfologis pada
pasien yang dicurigai dengan lesi kornea. Letak lesi di kornea dapat diperkirakan
dengan melihat tanda-tanda yang terdapat pada kornea. Pada keratitis epithelial,
perubahan epitel bervariasi secara luas mulai dari penebalan epitel, Punctate
Epitelial Erosion (PEE), dan lecet kornea untuk pseudodendrites. Dapat menjadi
reaksi traumatis sekunder dan alergi terhadap lensa kontak. Pada pewarnaan
fluorescein terutama terihat pada posisi pukul 3 dan pukul 9 kornea, edema ringan
dan vakuolasi hingga erosi, pembentukan filament maupun keratinisasi partial.
Pada keratitis stromal, respon struma kornea dapat berupa infiltrasi sel radang,
edema yang bermanifestasi kepada edema kornea yang awalnya bermula dari
stroma lalu ke epitel kornea.6,7
Periksa ketajaman visual dengan lensa kontak atau kacamata, jika pasien
tidak memiliki kacamata, gunakan lubang jarum dari occluder periksa pergerakan
lensa kontak dan defect kornea pada slit lamp. Minta pasien melepaskan lensa
kontak jika mampu, dapat menggunakan satu tetes proparacaine atau anestesi
topikal lain untuk membuka mata agar dapat diperiksa secara koperatif.7
Periksa reaktivitas pupil dengan senter, pemeriksaan slit lamp dengan
memperhatikan daerah konjungtiva bulbar dan palpebral untuk mencari setiap
papillae atau folikel, permukaan kornea untuk menyingkirkan ulkus kornea, dan
reaksi pada ruang anterior mata.7
Pemeriksaan fisis pada keluhan yang mengarahkan kecurigaan kepada
keratitis melalui inspeksi dengan pencahayaan adekuat. Larutan flouresent dapat
menggambarkan lesi epitel superfisial yang mungkin tidak dapat terlihat dengan
inspeksi biasa. Pemeriksaan biomikroskop (slit lamp) esensial dalam pemeriksaan
kornea, apabila tidak terdapat alat tersebut dapat digunakan sebuah loup dan
dengan iluminasi yang terang. Pemeriksaan harus melihat jalannya refleksi cahaya
sementara memindahkan cahaya dengan hati-hati ke seluruh kornea. Dengan cara
ini area yang kasar sebagai indikasi dari defek kornea dapat terlihat.7

34

Keratitis herpetikadisebabkan oleh herpes simpleks dan herpes zoster,


yang disebabkan oleh herpes simpleks dibagi dalam 2 bentuk yaitu epitelial dan
stromal. Hal yang murni epitelial adalah dendritik dan stromal adalah diskiformis.
Biasanya infeksi herpes simpleks ini berupa campuran epitel dan stroma.
Perbedaan

ini akibat mekanisme kerusakannya berbeda. Pada yang epitelial

kerusakan terjadi akibat pembelahan virus di dalam sel epitel, yang akan
mengakibatkan kerusakan sel dan membentuk tukak kornea superfisial. Stromal
diakibatkan reaksi imunologik tubuh pasien sendiri terhadap virus yang
menyerang. Antigen (virus) dan antibodi (pasien) bereaksi di dalam stroma kornea
dan menarik sel leukosit dan sel radang lainnya. Sel ini mengeluarkan bahan
proteolitik untuk merusak antigen(virus) yang juga akan merusak jaringan stromal
di sekitarnya.4
Pasien biasanya mengeluhkan adanya sensasi benda asing, fotofobia dan
air mata yang berlebihan. Lesi pungtata pada kornea dapat dimana saja tapi
biasanya pada daerah sentral. Daerah lesi biasanya meninggi dan berisi titik titik
berwarna abu abu yang kecil. Tidak adanya terapi spesifik untuk keadaan ini,
tergantung faktor penyebabnya.5
Floresensi topikal adalah merupakan larutan nontoksik dan water-soluble
yang tersedia dalam beberapa sediaan : dalam larutan 0,25% dengan zat anestetik
(benoxinate atau proparacaine), sebagai antiseptic (povidone-iodine), maupun
dalam zat pengawet sebagai tetes mata tanpa pengawet 2% dosis unit. Floresens
akan menempel pada defek epithelial pungtata maupun yang berbentuk
makroulseratif (positive stanining) dan dapat memberikan gambaran akan lesi
yang tidak bebrbekas melalui film air mata (negative staining). Floresens yang
terkumpul dalam sebuah defek epithelial akan mengalami difusi ke dalam strauma
kornea dan tampak dengan warna hijau pada kornea.2
IX. DIAGNOSIS BANDING
1. Ulkus kornea
Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea. Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak

35

ditemukan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel
radang. Dikenal dua bentuk ulkus kornea yaitu ulkus kornea sentral dan marginal
atau perifer.1
Penyebab ulkus kornea adalah bakteri, jamur, akantamuba, dan herpes
simpleks. Bakteri yang sering mengakibatkan ulkus kornea adalah Streptokokkus
alfa hemolitik, Streptokokkus aureus, Moraxella likuefasiens, Pseudomonas
aeruginosa, Nocardia asteroids, Alcaligenes sp., Streptokokkus beta hemolitik, dll.
Pada ulkus kornea yang disebabkan jamur dan bakteri akan terdapat defek epite
yang dikelilingi leukosit polimorfnuklear. Bila infeksi disebabkan virus, akan
terlihat reaksi hipersensitivitas disekitarnya.1
Gejala yang dapat menyertai adalah terdapat penipisan kornea, lipatan
descement reaksi jaringan uvea, berupa hipopion, hifema dan sinekia posterior.
Pemeriksaan laboratorium sangat berguna untuk membuat diagnosa kausa.
Pemeriksaan jamur dilakukan dengan sediaan hapus yang memakai larutan KOH.1
2. Uveitis
Uveitis merupakan penyakit yang mendadak berjalan selama 6-8 minggu, dan
pada dini biasanya sembuh hanya dengan tetes mata saja. Dibedakan dalam
bentuk granulomatosa dan non granulomatosa. Penyebab uveitis anterior akut
nongranulomatosa dapat oleh trauma, diare kronis, penyakit Reiter, Herpes
simpleks, sindrom Becher, pasca bedah, infeksi adenovirus, parotitis, influenza,
dan klamidia. Non granulomatosa uveitis anterior kronis disebabkan oleh artritis
reumatoid dan Fuchs heterokromik iridosiklitis. Gejala subjektif : rasa sakit,
terutama di bulbus oculi, sakitnya spontan atau pada penekanan di daerah badan
siliar; mata merah; sakit kepala di kening yang menjalar ke temporal; fotofobia,
lakrimasi; gangguan visus; sedangkan gejala objektifnya: palpebra bengkak;
injeksi konjungtiva dan injeksi siliar; kornea keruh karena edem dan keratik
presipitat; COA : dalamnya dapat normal, dapat pula dangkal, bila terdapat iris
bombe. Kalau terdapat sinekia posterior, COA menjadi dalam. Efek Tyndal (flare)
positif. Iris, suram, gambaran radier tidak nyata, karena pembuluh darah di iris

36

melebar sehingga gambaran kripti tidak nyata. Pupil, miosis akibat rangsang
proses peradangan pada otot sfingter pupil dan terdapatnya edema iris. Pupil
pinggirnya tidak teratur karena adanya sinekia posterior atau seklusio pupil. Dapat
pula pupil terisi membrane yang berwarna keputih-putihan yang disebut oklusi
pupil. Lensa dapat keruh. Badan kaca juga dapat menjadi keruh.
Diagnosis dapat ditentukan dengan adanya mata merah, sakit, fotofobia,
lakrimasi dan gangguan visus. Pada mata dapat ditemukan palpebra bengkak,
konjungtiva bulbi terdapat injeksi konjungtiva dan injeksi siliar, kornea terdapat
edema dan keratik presipitat, efek Tyndal positif, iris suram, pupil miosis, lensa
dan badan kaca keruh.
Pengobatan pada uveitis anterior adalah dengan steroid yang diberikan
pada siang hari bentuk tetes dan malam hari bentuk salep. Steroid sistemik bila
perlu diberikan dalam dosis tunggal seling sehari yang tinggi kemudian
diturunkan sampai dosis efektif. Pengobatan dengan sikloplegik untuk
mengurangi rasa sakit, melepas sinekia yang terjadi, memberi istirahat pada iris
yang meradang.
3. Konjungtivitis
Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir
yang menutupi belakang kelopak dan bola mata.Konjungtivitis menunjukkan
gejala yaitu hiperemi konjungtiva bulbi, lakrimasi, eksudat dengan secret yang
lebih nyata di pagi hari, pseudoptosis akibat kelopak membengkak dan mata
terasa seperti ada benda asing.
Ulkus kornea dapat diadiagnosis banding dengan konjungtivitis dilihat dari
gejala mata

merah yang terjadi.Pada konjungtivitis kornea masih jernih dan

terang sehingga tidakada gangguan visus yang berbeda dengan ulkus kornea
dimana terjadi kekeruhan lensa.
4. Keratomikosis

37

Keratomikosis merupakan suatu infeksi kornea oleh jamur.Biasanya


dimulai oleh suatu

ruda paksa pada kornea oleh ranting pohon, daun dan

bagian-bagian tumbuhan. Setelah beberapa hari pasien akan merasa sakit hebat
pada mata dan silau.1
Keratomikosis dapat didiagnosis banding dengan ulkus kornea karena
menujukkan

gambaran

yang

sama

pada

kornea.

Untuk

mendiagnosis

keratomikosis perlu dilakukan pemerikasaan KOH dimana diharapkan pada


kerokan kornea ditemukan adanya hifa.1
X. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Uji Fluoresein
Uji untuk melihat adanya defek pada epitel kornea. Caranya kertas
fluoresein dibasahi terlebih dahulu dengan garam fisiologis kemudian
diletakkan pada saccus konjungtiva inferior setelah terlebih dahulu
penderita diberi anestesi lokal. Penderita diminta menutup matanya selama
20 detik, kemudian kertas diangkat. Defek kornea akan terlihat berwarna
hijau sebagai uji fluoresein positif.
2. Uji Fistel
Uji untuk mengetahui letak dan adanya kebocoran kornea. Pada
konjungtiva inferior ditaruh kertas fluoresein. Bila terdapat fistel kornea
akan terlihat pengaliran cairan mata berwarna hijau.
3. Uji Placido
Untuk melihat kelengkungan kornea. Caranya dengan memakai papan
plasido yaitu papan dengan gambaran lingkaran konsentris putih hitam
yang

menghadap

pada

sumber

cahaya,

sedang

pasien

berdiri

membelakangi sumber cahaya. Melalui lubang di tengah dilihat gambaran


bayangan plasido pada kornea. Normal bayangan plasido pada kornea
berupa lingkaran konsentris.
4. Uji Sensibilitas Kornea
Uji untuk menilai fungsi saraf trigeminus kornea. Caranya dengan
meminta penderita melihat jauh ke depan, kemudian dirangsang dengan
kapas basah dari bagian lateral kornea. Bila terdapat refleks mengedip,
rasa sakit atau mata berair berarti fungsi saraf trigeminus dan fasial baik. 2

38

Diagnosis yang tepat dan pengobatan infeksi kornea sedini mungkin sangatlah
penting dalam menghindari penurunan penglihatan secara permanen. Diagnosis
dari setiap jenis infeksi keratitis pada dasarnya meliputi langkah-langkah berikut:1
1. Mengidentifikasi agen patogen dan tes sensitivitas. Hal ini dilakukan dengan
mengambil apusan dasar ulkus sebagai bahan sampel dan inokulasi media
kultur untuk bakteri dan fungi. Spesimen lensa kontak yang digunakan juga
harus diambil dan di kultur untuk memastikan sumber dari bakteri atau jamur.
2. Dilakukan pewarnaan dengan Gram dan Giemsa pada spesimen yang diambil
untuk mendeteksi bakteri.
3. Apabila dicurigai suatu infeksi virus, tes sensitivitas kornea dianjurkan
dimana hasil sensitivitasnya akan berkurang.
XI. PENATALAKSANAAN
Bertujuan menghentikan replikasi virus didalam kornea, sambil memperkecil efek
merusak akibat respon radang.
Debridement
Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah debridement epitelial,
karena virus berlokasi di dalam epitel. Debridement juga mengurangi beban
antigenik virus pada stroma kornea. Epitel sehat melekat erat pada kornea, namun
epitel terinfeksi mudah dilepaskan. Debridement dilakukan dengan aplikator
berujung kapas khusus. Yodium atau eter topikal tidak banyak manfaat dan dapat
menimbulkan keratitis kimiawi. Obat siklopegik seperti atropi 1 % atau
homatropin 5% diteteskan kedalam sakus konjugtiva, dan ditutup dengan sedikit
tekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya sampai defek
korneanya sembuh umumny adalah 72 jam. Pengobatan tambahan dengan anti
virus topikal mempercepat pemulihan epitel. Terapi obat topikal tanpa
debridement epitel pada keratitis epitel memberi keuntungan karena tidak perlu
ditutup, namun ada kemungkinan pasien menghadapi berbagai keracunan obat.2,3,9
Terapi obat

39

Pengobatan menggunakan agen antivirus baik oral maupun topikal efektif


untuk mengobati infeksi keratitis herpes simpleks. Agen antivirus yang dipakai
pada keratitis herpes antara lain :
Idoxuridine
Sering digunakan untuk infeksi pada epitel kornea. Infeksi yang
ditandai dengan timbulnya gambaran dendritik lebih memberikan respon
yang baik dengan menggunakan obat ini daripada infeksi pada stroma.
Idoxuridine merupakan analog dari thymidine. Obat ini menghambat
sintesis DNA virus dan manusia, sehingga toksik untuk epitel normal dan
tidak boleh digunakan lebih dari 2 minggu. Terdapat dalam larutan1% dan
diberikan setiap jam. Salep 0,5% diberikan setiap 4 jam. Resistensi
terhadap obat ini dilaporkan terdapat pada 1,5 4% kasus. Obat ini sering
menimbulkan efek samping antara lain keratitis pungtata, dermatitis
kontakta, konjungtivitis folikularis, dan oklusi pungtum lakrimalis.2,7,12
Vidarabine
Suatu turunan dari adenin yang cara kerjanya dengan menghambat
sintesis DNA virus pada tahap awal. Hanya terdapat dalam bentuk salep
3% yang diberikan lima kali sehari. Apabila tidak ada tanda perbaikan
setelah 7 hari pemakaian atau dalam 21 hari proses reepitelisasi tidak
sempurna maka pertimbangkan untuk memakai obat lain.
Trifluridine
Merupakan analog dari thymidine, menghambat DNA polymerase
virus. Trifluridine dapat berpenetrasi dengan baik melalui kornea dan lebih
manjur ( tingkat kesembuhan 95% dibandingkan dengan obat topikal yang
lain. Obat ini jauh lebih efektif untuk penyakit stroma daripada yang lain.
Terdapat dalam larutan 1% diberikan setiap 4 jam. Apabila tidak ada
respon setelah 7 14 hari pemakaian obat ini maka dapat dipertimbangkan
untuk menggunakan obat lain. Seperti Idoxuridine, obat ini sering
menimbulkan reaksi toksik.
Acyclovir
Obat ini merupakan derivat guanin. Di dalam sel yang terinfeksi
virus herpes, acyclovir mengalami fosforilasi menjadi bentuk aktif

40

acyclovir trifosfat, 30 100 kali lebih cepat dari pada di dalam sel yang
tidak terinfeksi. Acyclovir trifosfat bekerja sebagai penghambat dan
sebagai substrat dari herpes secified DNA polymerase sehigga mencegah
sintesis DNA dari virus lebih lanjut tapa mempengaruhi proses sel yang
normal.Acyclovir oral ada manfaatnya utuk pengobatan penyakit herpes
mata berat, khususnya pada orang atopik yang rentan terhadap penyakit
herpes mata dan kulit agresif ( aczema herpeticum ). Terdapat dalam betuk
tablet 400mg 5x/hari per oral, dan topikal dalam bentuk salep 3 % yang
diberikan tiap 4jam. Sama efektifnya dengan antivirus lain akan tetapi
dengan efek samping yang minimal. 3,10
Replikasi virus dalam pasien imunokompeten, khususnya bila
terbatas pada epitel kornea, umumnya sembuh sendiri dan pembentukan
parut minimal. Dalam hal ini penggunaan kortikosteroid topikal tidak
perlu, bahkan berpotensi sangat merusak. Kortikosteroid topikal dapat juga
mempermudah perlunakan kornea, yang meningkatkan risiko perforasi
kornea. Jika memang perlu memakai kortikosteroid topikal karena
hebatnya respon peradangan, penting sekali ditambahkan obat anti virus
secukupnya untuk mengendalikan replikasi virus.2,10
Bedah
Keratoplasti

penetrans

mungkin

diindentifikasi

untuk

rehabilitasi

penglihatan pasien yang mempunyai parut kornea berat, namun hendaknya


dilakukan beberapa bulan setelah penyakit herpes non aktif. Pasca bedah, infeksi
herpes rekurens dapat timbul karena trauma bedah dan kortikosteroid topikal yang
diperlukan untuk mencegah penolakan transplantasi kornea. Juga sulit dibedakan
penolakan transplantasi kornea dari penyakit stroma rekurens. 2
Perforasi kornea akibat penyakit herpes stroma atau superinfeksi bakteri
atau fungi mungkin memerlukan keratoplasti penetrans darurat. Pelekat jaringan
sianokrilat dapat dipakai secara efektif untuk menutup perfosi kecil dan graft
petak lamelar berhasil baik pada kasus tertentu. Keratoplasi lamelar memiliki

41

keuntungan dibanding keratoplasti penetrans karena lebih kecil kemungkinan


terjadi penolakan transparant. Lensa kontak lunak untuk terapi atau tarsorafi
mungkin diperlukan untuk pemulihan defek epitel yang terdapat pada keratitis
herpes simplek. 2
Berhenti memakai lensa kontak, jika dicurigai terjadi infeksi pada kornea, pasien
harus menjalani pemeriksaan menyeluruh oleh dokter mata sesegera mungkin
untuk menyingkirkan ulkus kornea. Jika tidak ada akses yang tepat ke dokter
mata: ambil apusan/smear dan kultur dari apusan ulkus dengan spatula kecil,
mulai antibiotik spektrum luas topikal dengan cakupan gram negatif seperti
fluorokuinolon (misalnya, ofloxacin atau ciprofloxacin) 6 sampai 8 kali per hari
dan cycloplegic tetes, jangan menggosok mata dan segera ke dokter mata.
Pengobatan empiris harus sesuai dengan anjuran dokter mata.7
Beberapa terapi yang dapat secara baik menangani keratitis pungtata
superfisial. Terapi suportif dengan lubrikans topikal seperti air mata artifisial
seringkali adekuat pada kasus-kasus yang ringan. Air mata artifisial dapat
mengurangi sisa produk inflamasi yang tertinggal pada reservoir air mata. Mereka
tidak hanya bekerja sebegai lubrikans, tapi juga sebagai agen pembersih, pembilas
dan dilusi dari film air mata serta sebagai agen pemoles dari epitel superfisial
untuk membentuk kembali microvillae dan menstabilkan lapisan mucin dari air
mata.7
Tergantung dari keparahan gejala pada pasien, air mata artifisial dengan
viskositas berbeda (dari tetes mata hingga jel viskositas tinggi) diresepkan pada
pasien dan diaplikasikan dengan frekuensi yang berbeda. Pada keratitis akibat
pemaparan (exposure keratitis ), jel atau krim dengan viskositas yang tinggi
digunakan karena waktu retensinya yang panjang.4
Prosedur collagen cross-linking (CXL) digunakan dalam pengobatan
infeksi keratitis hampir identik dengan standar protokol pengobatan keratoconus,
dengan penggunaannya setelah setelah penggunaan obat anestesi tetes mata,
jaringan epitel longgar dan epitel yang nekrosis di sekitar daerah infeksi diangkat
dari kornea. Tujuannya untuk menghilangkan epitel kornea agar terjadi penetrasi

42

riboflavin yang adekuat pada daeah kornea. Riboflavin (riboflavin / dekstran


solusi 0,5-0,1%) ditanamkan pada permukaan kornea dengan jangka waktu 20-30
menit pada interval dari 2-3 menit. Hal ini diikuti dengan pencahayaan kornea
menggunakan lampu UV-X, UV-A 365 nm, dengan radiasi 3.0mW/cm2 dan total
dosis 5,4 J/cm2.8
Antibiotik sistemik digunakan apabila terdapat ekstensi ke sklera akibat
infeksi atau didapatkan adanya ancaman perforasi pada pasien. Levofloxacin
maupun ofloxacin memiliki penetrasi aqueous dan vitreus yang baik dengan
pemberian oral. Tidak perlu untuk menangani pasien hingga seluruh lesi di kornea
hilang. Akan tetapi penanganan dilaksanakan hanya hingga pasien dapat mencapai
titik kenyamanan.4
Terapi pembedahan,

emergency

keratoplasty

diindikasikan

untuk

mengobati suatu descemetocele atau ulkus kornea perforasi pada daerah nekrosis
yang luas dan memerlukan flap konjungtiva untuk mempercepat penyembuhan.
Stenosis atau penyumbatan dari sistem lakrimal yang lebih rendah yang mungkin
mengganggu penyembuhan ulkus harus dikoreksi melalui pembedahan.1
Sesegera mungkin melakukan pemeriksaan tes bakteriologis dan tes
resistansi untuk mendapatkan hasil yang lebih dini, agar dokter segera melakukan
terapi empiris pada agen patogen. Pada keadaan keratitis yang tidak berespon
dengan pengobatan mungkin agen patogen tersebut belum diidentifikasi secara
positif, pasien tidak menggunakan antibiotik yang dianjurkan dokter, agen
patogen tersebut resisten terhadap antibiotik, ataukah keratitis ini tidak disebabkan
oleh bakteri, tetapi oleh salah satu patogen berikut: 1.Herpes simplex virus,
2.Jamur, 3. Acanthamoeba, atau agen patogen langkah seperti 4. Nocardia atau
mycobacteria.1
XII. KOMPLIKASI
Komplikasi keratitis herpetika dapat berupa :1
1. Hypopyon: sebagai proses perluasan pada kasus yang tidak diobati, jaringan
uveal anterior yang disusupi oleh limfosit, sel-sel plasma dan PMNLs
bermigrasi melalui iris ke kamera anterior.

43

2. Penyembuhan: membentuk jaringan parut atau sikatriks di lokasi


sebelumnya. Sikatriks yang dapat dibagi menjadi 3 yaitu nebula , macula
dan leukoma.

Leukoma : di stroma . Dengan mata telanjang bisa dilihat

Makula disubepitel. Dengan senter bisa dilihat

Nebula di epitel dengan slit lamp atau dengan lup bisa dilihat

3. Ulkus kornea
4. Descemetocoele: membran descemet yang tahan terhadap collagenolysis
dan mengalami perbaikan dengan pertumbuhan epitel kearah anterior
membran kornea, Kondisi ini lebih umum sebagai sekuel keratitis virus
5. Perforasi
XIII. PROGNOSIS
Dengan pengobatan dini yang memadai, banyak jenis keratitis dapat
sembuh dengan sedikit atau tanpa bekas luka sama sekali, secara umum prognosis
dari keratitis herpetika adalah baik jika tidak terdapat jaringan parut ataupun
vaskularisasi dari kornea. Sesuai dengan metode penanganan yang dilaksanakan
prognosis dalam hal visus pada pasien dengan keratitis herpetika sangat baik. Jika
infeksi mengenai bagian mata yang lain, terapi tambahan mesti dilakukan untuk
menyingkirkan infeksi.1,10
Prosedur bedah mungkin diperlukan untuk memperbaiki masalah keratitis
yang berhubungan dengan ketidak mampuan untuk benar-benar menutup kelopak
mata.10

44

DAFTAR PUSTAKA
1. Lang GK. Cornea. In : Lang GK. Ophthalmology A Short Textbook Atlas.
2nd edition. Stuttgart ; thieme ; 2007. p. 462-466.
2. James bruce, et all. Lecture note oftalmology. Edisi Kesembilan. Penerbit
erlangga 2006. h.67-69
3. K.Weng Sehu et all. Opthalmologic Pathology. Blackwell Publishing. UK.
2005. p.62.
4. Ilyas S. Anatomi dan Fisiologi Mata. Dalam : Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata.
Edisi ketiga. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 2008. h. 1-13
5. Schlote T, Rohrbach J, Grueb M, Mielke J. Pocket atlas of Ophtalmology.
Thieme. 2006. p. 97-99
6. Khaw PT, Shah P, Elkington AR. ABC of Eye Foutrth Edition. BMJ
Books. p. 17-19.
7. Tasman W, Jaeger EA. Duanes Ophtalmology. Lippincott Williams &
Wilkins Publishers. 2007
8. Chern KC. Emergency Ophtalmology a Rapid Treatment Guide. Mc
Graw-Hill. 2002.
9. Raymond L. M. Wong, R. A. Gangwani, LesterW. H. Yu, and Jimmy S. M.
Lai.

New

Treatments

for

Bacterial

Keratitis.

Department

of

Ophthalmology, Queen Mary Hospital, Hong Kong. 2012


10. Ann

M.

Keratitis,

Available,

at

URL

http://www.mdguidelines,com/keratitis. Accesed januari 31st, 2013

45