Anda di halaman 1dari 2

Muhammad Darmawan

Ardiansyah/1112113000007

The Foreign Policy of Iran

Iran telah memainkan peran penting di kawasan Eropa dan Asia pada
masa perang dingin dengan cara mengakumulasi kepentingankepentingan strategisnya di wilayah tersebut, hal ini menjadikan Iran
sebagai salah satu negara yang memiliki peran penting. Hal di atas
berubah seiring terjadinya revolusi Iran yang terjadi pada tahun 1979. Iran
menjadi berbeda dari sebelumnya, sejak revolusi pecah yang dicetuskan
oleh kelompok koalisi, orang liberal, serta pasukan radikal Iran lekat
dengan label sebagai negara Islam sekaligus penentang dalam kancah
percaturan politik internasional.
Perang dingin menjadi salah satu sebab dari pola perubahan arah
kebijakan Iran selain dari perubahan internal serta perubahan kondisi
politik di kawasan tersebut. sebagai salah satu kekuatan yang sangat
diperhitungkan di wilayahnya, khususnya Timur Tengah dan Afrika Utara
serta menjadi salah satu pemain penting dalam sistem internasional, mau
tidak mau harus melakukan arah perubahan politik yang cukup signifikan
agar bisa mempertahankan perannya sebagai salah satu kekuatan di
kawasan tersebut.
Ketika revolusi Islam Iran terjadi, seluruh kekuatan negara tersebut
digunakan untuk mempertahankan pengaruh di kawasannya agar tidak
tergerus oleh kekuatan barat yang secara geopolitik ingin memperluas
pengaruhnya ke kawasan tersebut. Apabila kita lihat sekilas dapat
disimpulkan bahwa Iran adalah negara penentang terhadap dominasi
barat. Akan tetapi, pada kenyataannya secara ekonomi Iran pun tidak
dapat terlepas dari sistem ekonomi barat yang sarat dengan nilai-nilai
kapitalisnya. Iran telah memainkan peran geografis yang sangat strategis
di wilayahnya dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakan luar
negerinya. Secara geopolitik Iran berperan menyebarkan pengaruh Persia
di kawasan Asia, serta ikut berperan dalam persaingan di antara negaranegara barat yang notabene mempunyai kekuatan yang sangat besar
dalam berbagai hal. Dilihat dari perannya, Iran mempunyai hubungan
yang sangat komplek akibat dari perannya tersebut.
Julukan yang diberikan kepada Iran sebagai negara penentang tidak
dapat lepas dari trauma intervensi asing yang terjadi pada masa sebelum
revolusi. Hal ini menyebabkan seluruh lapisan masyarakat Iran baik elit
politik maupun masyarakat biasa secara tidak langsung telah
menanamkan kebencian yang sangat mendalam terhadap asing.
Intervensi asing dianggap sebagai penanggung jawab dari revolusi yang
terjadi di negara tersebut. Iran, sebagai aktor penting dalam dunia Islam,
membuat kebijakan luar negeri yang dapat dijadikan sebagai alasan
baginya dalam memperjuangkan posisinya sebagai aktor penting di
kawasannya. Iran memandang dirinya pantas sebagai pemimpin bagi
setidaknya kawasannya dilihat dari sejarahnya yang panjang serta letak
geografis yang sangat mendukung dalam mengatur kawasannya.
Peran Iran di wilayah tersebut menimbulkan ketegangan yang sangat
signifikan dengan negara-negara di sekitarnya, khususnya Arab Saudi.

Negara-negara di kawasan tersebut khawatir bahwa apabila tongkat


estafet kepemimpinan Islam jatuh ketangan Iran, maka akan
mengakibatkan munculnya indikasi terjadinya revolusi di negara-negara
kawasan tersebut. Dalam aspek ekonomi Iran sangat tergantung dengan
minyaknya serta hidrokarbon. Di era modern ini Iran sangat bergantung
pada sumber daya tersebut dalam mengembangkan industri ekonominya.
Hal tersebut juga turut ikut campur dalam mempengaruhi kebijakan luar
negerinya. Majlis mempunyai peran yang sangat penting dalam
penentuan arah kebijakan luar negeri Iran. Karena majlis menjadi
penasehat dari komite kebijakan luar negeri dalam menentukan arah luar
negeri negara tersebut. Peran penting lainnya dari majlis adalah
menyetujui setiap perjanjian, nota kesepakatan dalam setiap hubungan
luar negerinya.